Jadi Model Itu Susah

(Repost dari blog yang lama: 17 November 2010)

Tanggal 6-12 November lalu kantor gw menggelar ajang fashion terbesar di Indonesia. Yaitu Jakarta Fashion Week (JFW). Karena itu acara kantor, maka banyak banget karyawan yang terlibat di acara tersebut. Gw salah satunya.

Karena gw nggak tahu banyak soal fashion, maka gw pun dicemplungkan sebagai orang backstage. Tempat dimana orang nggak banyak melihat kehadiran gw, si buluk-dekil-rambut ga ditata di salon-dan make upnya berlebihan ini. (Gw bukan sok merendahkan diri. Tapi kalau lo hadir di ajang itu dan melihat penampilan gw, maka lo akan setuju dengan apa yang gw deskripsikan. Soalnya semua orang yang hadir saat itu cuantik-cuantik dan guanteng-guanteng semua! Dan mereka berdandan poll untuk hadir di acara tersebut.)
Tapi mau bagaimana pun muka ini, gw senang berada di backstage. Selain gw jadi nggak perlu repot mikirin bagaimana tampang gw, di backstage juga AC-nya lebih dingin. Jadi adeeeem…..  ~__~ (Nggak relevan ya?)

Tugas gw sebagai backstage crew antara lain:
-Memastikan semua peralatan yang akan naik ke atas panggung lengkap.
-Memastikan semua orang yang akan tampil di panggung lengkap dan stand by
-Memberi aba-aba kepada orang yang akan tampil di panggung untuk naik ke atas panggung
-Misuh-misuh
-Bergunjing kalau ada yang bersikap nyebelin
-Berkhayal dan bertanya-tanya jam berapa gue boleh pulang
Eh, eh ,eh, tiga poin terakhir itu nggak termasuk, deng. Tapi gw juga nggak berani memastikan apakah hal itu tidak benar terjadi di backstage. Oke, mari kita segera alihkan topik!

Selama seminggu acara berlangsung, gw kebagian bertugas selama tiga hari:
-Sabtu, 6 November 2010-Opening Jakarta Fashion Week. Dimana salah satu rangkaian acaranya adalah dibuka oleh dengan pukulan rebana biang oleh Bang Foke, sang Gubernur DKI Jakarta. Dan gara-gara itu gw harus nyari rebana biang malam-malam demi dipukul 5-6 kali oleh Bang Foke. Hadeeeeeeeeh….. -__-!

-Senin, 8 November 2010-Cita Tenun Indonesia. Dimana ada 10 disainer Indonesia yang menggarap kain tenun Indonesia menjadi sebuah rancangan yang keren. Gw yang selama ini buta sama fashion jadi tahu dan kenal sama beberapa disainer yang terlibat. Seperti Deny Wirawan, Oscar Lawalata, Chossy Latu, Sebastian Gunawan, Priyo, Stefanus Hamy, Raden Sirait, dan lain-lain. O iya, rancangan favorit gw malam itu adalah Chossy Latu!

-Rabu, 10 November 2010-30 Tahun Ghea Panggabean berkarya. Itu adalah backstage teramai dan terribet yang pernah gw alami. Dan gw jadi melihat sendiri apa yang selama ini orang bilang tentang Mama Ghea dan anak kembarnya. Mereka canggih! Namun ribet luar biasa.

Nah, selama tiga hari bertugas itu, gw jadi tahu kalau menjadi model itu tidak gampang sama sekali sodara-sodara! Pekerjaan mereka, para perempuan tinggi semampai nan langsing itu adalah pekerjaan yang berat! Gw melihat langsung cara mereka bekerja. Dan inilah kesimpulan yang gue dapat…
-Model harus stand by paling pagi!
JFW yang digelar di mall Pacific Place itu baru buka pada pukul 10 pagi. Tapi panitia JFW udah stand by dari jam 6 pagi. Bagaimana dengan para model? Mereka pun harus hadir di jam yang sama. Untuk apa? Untuk latihan blocking.
Dalam keadaan mall masih gelap gulita, mereka hadir dengan pakaian stylish dan kacamata hitam yang besar. Untuk apakah kacamata hitam itu? Untuk menutupi mata yang masih ngantuk, tentunya! Gw yang saat itu hanya bertugas mengawasi jalannya latihan blocking doang, nguantuuuknya edan-edanan. Apalagi mereka yang dipaksa jalan dalam keadaan nyawa setengah nyambung!
Beberapa diantara mereka bahkan bawa boneka yang berukuran sedang di tiap latihan mereka pagi-pagi itu. Untuk apa? Untuk mereka gunain sebagai bantal dan curi-curi waktu tidur. Lo tau ga mereka tidurnya di mana? Mereka tidur ngampar aja di bangku-bangku penonton atau nggak di lantai ruang make up. Pokoknya kalau ada spot nganggur dikit, mereka pake buat tidur. Padahal selama ini gw pikir mereka adalah cewek-cewek yang high maintenance, lho. Ternyata kalau stamina sudah berbicara, tempat kosong mana pun akan tampak sebagai surga yang bisa dijadikan sebagai alas tidur.


-Model itu harus rela rambut dan mukanya disiksa.
Maksud kata disiksa ini adalah mau diapain aja. Mau didandanin super tebal atau pun super aneh, mereka ga boleh protes. Karena memang udah konsepnya begitu. Mereka tinggal nurut aja. Dan make upnya itu tebal-te
bal, lho. Melebihi tebalnya make up kawinan! Kebayang ga tuh diperlukan berapa banyak kapas untuk menghapus itu semua.
  Belum lagi rambut! Kalau selama ini cewek-cewek suka ngeluh rambutnya sakit karena disasak pas jadi pagarayu untuk nikahan, bayangkan kalau lo mengalami itu tiap hari! Dan dalam kasus JFW, mereka mengalami perubahan rambut dan make up hampir setiap dua jam! Karena tiap disainer pengin dandanan yang beda-beda.
Gw melihat sendiri bagaimana satu org model dari rambutnya di sanggul, terus show berikutnya rambutnya dikeriting kemudian disasak tinggi acak-acakan kayak orang gila. Dan mereka hanya bisa pasrah rambutnya mau diapain. O iya, nggak sedikit juga gw melihat mereka ‘disiksa’ sambil merem tidur. Dandan mereka itu lama, lho. Jadi lumayanlah nyuri waktu tidur sambil di-make up.

-Semua baju dan sepatu keren yang mereka pakai itu semu.
Kalau selama ini kita suka iri sama model-model itu karena bisa pakai baju keren dan sepatu cantik, percayalah itu semua tidak sekeren yang kita sangka! Gw bukan bilang kalau baju atau sepatu disainer itu nggak keren ya. Cuma baju dan sepatu disainer itu belum tentu nyaman. Bisa dikarenakan karena ukurannya yang kurang pas dengan si model, bisa juga memang pada dasarnya baju itu dibuat dari bahan yang nggak nyaman dan berat!!!!
Waktu itu gw lihat ada disainer yang memakaikan si model baju seperti jaring yang tiap sulamannya ada lonceng segede bakso. Si model ampe minta izin melepas baju itu dan baru akan memakainya didetik-detik ia akan naik ke runway. Udah berat, bajunya ribet pula!
Dan sepatu! Di backstage beberapa kali gw diminta hansaplast oleh beberapa model. Karena kaki mereka lecet-lecet oleh sepatu-sepatu itu. Malah ada beberapa model yang di atas panggung jalannya luwes dan mukanya cantik nan anggun saat di runway, ternyata lagi nahan sakit karena kakinya keram atau lecetnya mulai berdarah. Hssssssss….. >_<

-Mereka harus tahan nafsu makan
Bagi gw yang tukang makan, ini adalah bagian yang paling dan amat sangat susah! Bayangkan men, manusia itu bekerja dan banting tulang cari duit itu ujung-ujungnya buat cari makan, kan? Nah, para model ini, ketika udah punya duit untuk makan, malah nggak boleh makan. Ironis, kan?
Model Indonesia memang nggak sekurus model-model luar negeri, sih. Cuma tetap aja mereka harus mempertahankan kelangsingannya yang proporsional. Selama JFW gw melihat langsung bagaimana para model itu irit makan. Ketika dikasih konsumsi ayam goreng McDonalds plus nasi, mereka nggak makan kulit ayam dan nasinya. Padahal itu bagian enaknya! Ada juga yang bawa bekal salad. Salad enak, sih. Tapi apa nikmatnya salad tanpa dressing yang creamy nan melimpah? Dan tentu saja mereka nggak boleh makan itu!
Eh, tapi ada juga sih model yang bandel makan banyak (walau tetap aja nggak sebanyak gw, hehehe). Tapi ujung-ujungnya gw lihat mereka merokok di backstage. Dan dari cara mereka merokok, gw bisa lihat kalau mereka sepertinya kurang menikmati ritual menghisap asap itu. Di situ gw sadar bahwasanya mereka merokok biar cepat kurus. Haduh….haduh… kasihan bener sih mereka.
Tapi kalaupun gw ada di posisi mereka, sepertinya gw akan melakukan hal yang sama. Soalnya, kayaknya gw udah nggak ada waktu lagi deh buat olahraga kalau jadwal gw sepadat datang jam 6 pagi pulang jam 10 malam. Terus kalau gw nggak makan banyak, stamina gw bakal drop, kan? Kalau stamina drop atau sakit, gimana mau catwalk? Kalau nggak catwalk, ga ada job dong? Kalau nggak ada job, nggak ada duit dong?

Sejak mendapati fakta-fakta itu, gw bertekad untuk tidak menggampangkan pekerjaan seorang model. Bagi gw, hidup dalam lingkungan fashion yang terus-menerus menghakimi kita dari tampilan luar itu aja udah kejam. Apalagi kalau harus tersiksa untuk terlihat cantik. Jadi tekanan yang mereka dapat itu benar-benar lahir-batin. I know beauty is pain. But I didn’t know that beauty can be such a torture!

Salut untuk kalian para model!!!

Foto: Dok. Mbah Gugel

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Fashion is not my thing. 

-Cukup sekali aja gw ikutan terlibat di JFW. Nggak kuat pak! Nggak kuat! *lambai-lambai tangan ke kamera*

-Meskipun begitu, gw sampai sekarang masih salut dengan para model. Mereka ituorang-orang yang hebat karena kerjaannya menyiksa (menurut gw). Gw salut dengan para model.

 

Bagaimana menurut Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s