Review: Sophie’s Choice

Category: Movies
Genre: Drama
Rate: 4 out of 5

Image result for sophie's choice movie poster

Film ini berlatar setelah perang dunia kedua, dilihat dari kacamata Stingo (Peter MacNicol). Ia adalah seorang pemuda desa yang mencoba peruntungannya untuk menjadi penulis di kota besar New York. Ia ngekost di wilayah Brooklyn. Di situlah ia bertemu dengan Sophie (Meryl Streep) dan kekasihnya Nathan (Kevin Kline). Sophie yang berdarah Polandia adalah salah satu penyintas kamp konsenstrasi Auschwitz, Austria. Sedangkan Nathan adalah seorang ahli biologi di perusahaan Pfizer.
Pasangan kekasih itu sering mengalami pasang surut. Sophie yang begitu menghamba cintanya Nathan, sedangkan Nathan suka curiga nggak jelas karena kecantikan Sophie. Meskipun begitu, mereka menjadi teman baik Stingo. Mereka berbagi banyak kisah dan merayakan banyak hal bersama-sama. Sampailah Stingo tahu sebuah kebenaran tentang Nathan. Hal itu menjelaskan segala insekuritas Nathan terhadap Sophie. Hal itu juga yang membuat Nathan bisa tiba-tiba sangat cemburu nggak jelas dengan Stingo dan mengancam akan membunuhnya. Dalam upaya mereka menghindari Nathan, Sophie kemudian menceritakan Stingo sebuah rahasia terdalamnya yang membuat ia terluka batin sampai sekarang.

Yang saya suka dari film ini:
+ Ini adalah film yang membuat Mertyl Streep mendapatkan piala Oscar pertamanya. EMANG KEREN BANGET SIH AKTINGNYA! Dia jadi cewek Polandia dengan aksen yang meyakinkan. Pada saat adegan yang membuat dia terluka batin pun kita bisa melihat kepedihan tak terperi yang mengerikan dari ekspresi wajahnya. Haduh, na’udzubillah mindzaliq deh saya berada di posisi Sophie saat itu.
+ Kevin Kline waktu muda ganteng, ya!
+ Bagian sedihnya] itu sedih bangeeet T_T. Kesedihannya relate banget dengan saya yang…. (aduh, takut spoiler)
+ Suka banget dengan warna film produksi 1980-an. Warnanya terang, hangat, dan jelas.

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Peter MacNicol kok terasa kurang pas aja di sini, ya? Muka dia itu bukan muka pemain drama. Mukanya kocak sih…
– Meskipun aktingnya Meryl Streep keren parah, tapi dia terlihat kurang cantik untuk jadi cewek yang diperebutkan semua orang. Karakternya dibangun sebagai cewek yang kecantikannya memukau. Padahal mah biasa ae…
Meryl Streep memang bukan pilihan utama sang sutrdara, sih. Pilihan lainnya ada yang lebih kece-kece emang. Tapi konon Meryl sampai berlutut mohon-mohon biar dia dapat perannya. Dan hasilnya memang nggak bohong, sih.

Saya menonton film ini di Netflix. Ini dia trailernya…

Iklan

“Kita Obrolin ya”

“Aku sebel kalau berantem ama kamu. Berantem sama kamu tuh ga enak.”

“Aku juga…”

“Aku bisa aja tadi nurutin ego aku. Biarin aja kita diem-dieman. Tapi aku ingat, kita udah nikah 5 tahun. Masa makin lama nikah makin begitu? Hal-hal kayak begini yang nanti bikin keselnya akumulatif. Nanti jadi krisis. Nanti kita lupa kenapa awalnya kita berantem, tapi keselnya diingat terus…..
Kita obrolin ya. Abis itu baikan.”

“Iya”

Bahagia Dari Diri Sendiri (oh, so cheesy)

“Lo bikin buku dong, Dis. Tulisan lo itu lucu. Gw selalu nungguin tulisan lo.”

“Lo kenapa nggak jadi penyiar radio sih, Dis? Lo itu rame. Terus lo itu juga lucu.”

“Kok nggak nulis lagi, Dis? Gw suka sama tulisan lo.”

Itu adalah beberapa omongan teman-teman dekat yang kenal saya sejak lama. Ciyeee seneng dong?

Sayangnya, saya nggak merasa senang sama sekali. Nggak bete sih, cuma rasanya jadi beban.

Oke, ini mungkin udah saatnya saya mencurahkan isi hati saya yang terdalam. Saya merasa diri saya sudah berubah. Entah bagaimana, tiba-tiba kelucuan saya dalam memandang hidup sedikit demi sedikit menguap secara pasti.

Awalnya saya nggak sadar kalau ia sudah menguap. Yang saya sadar adalah saya sibuk dengan pekerjaan, ngurus anak, ngurus rumah. Saya buka laptop ya hanya untuk bekerja. Kalau ada waktu luang, saya habiskan untuk nonton Youtube atau Netflix. Netflix, sih. Netflix is the best so far.

Hasrat untuk menulis menghilang karena tertelan lelah. Waktu itu saya pikir ini adalah fase writer’s block folbek dong kakaaaak, lalu di-block ama penulisnya. Begitu kan writer’s block? BUKAN!
Jadi ya sudah nunggu mood nulisnya datang aja.

Tahu-tahu saya jadi orang yang gampang tersinggungan. Saya sering merasa tertinggal atau ditinggal oleh teman-teman dekat saya. Sehingga satu per satu saya jadi ghosting mereka.

Tahu ghosting nggak? Saya juga baru tahu arti dari istilah itu kemarin sih. Jadi ghosting itu adalah mendadak menghilang atau memotong komunikasi dengan orang. Beberapa bulan terakhir ini saya tanpa sadar jadi sering ghosting orang. Dari berhenti komunikasi dengan orang-orang yang saya anggap dekat, sampai saya unfollow/unfriend semua akun media sosial mereka.

Saat itu saya merasa marah. Saya merasa ‘Adis yang baik, ramah, ceria, lucu’ ini seperti dianggap remeh. Hanya dicari saat dibutuhkan. Selebihnya, “Ah si Adis anaknya baik. Jadi dia nggak akan tersinggungan.”
Oooh gitu. Oke, bhay *unfollow semua akun medsos dan block nomor WhatsAppnya*

Lalu tersadar lah saya sekarang kalau teman saya semakin sedikit. Saya nggak punya teman di kantor. Karena memang saya jadi jaga jarak dengan mereka. Saya malas langsung beramah-ramah dengan orang yang saya baru kenal. Saya bahkan susah mencari bahan obrolan dengan orang!—-> Hal ini sangat-sangat-SANGAT tidak pernah terjadi sebelumnya. Saya adalah orang yang selalu punya bahan obrolan. Saya selalu bisa ngobrol dengan orang baru.

Saya berubah.

Image result for ksatria baja hitam berubah
No! Bukan berubah yang kayak gini. BUKAN!

Tapi kenapa saya berubah? Apa yang menyebabkan ini semua? Andaikan saya bisa menjadikan masalah rumah tangga sebagai alasannya, tapi (alhamdulillah) rumah tangga saya dengan Si Punk Rock baik-baik aja. Kriby juga alhamdulillah baik-baik aja.

Kalau saya mau coba berkontemplasi sambil menulis tulisan ini, kayaknya saya berubah itu karena………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………… eh sabar dong. Saya kan lagi mikir ini. ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………… Kayaknya saya berubah itu karena rasa kecewa. Saya kecewa dengan diri saya sendiri karena nggak menjadi orang yang saya harapkan.

Memangnya kamu berharap jadi apa, Dis?

Jadi ini lho

Image result for kim kardashian

Kim Kardashian????

Kenapa? Kenapa? Ada yang salah?
Ya udah kalau nggak boleh, saya mau jadi seperti ini aja…

Image result for kim jong un
Kim Jong Un

Kenapa? Nggak boleh juga? Jadi Kim Kardashian nggak boleh. Jadi Kim Jong Un pun nggak boleh. Jadi apa yang boleh?????? Susah sekali sih menyenangkan netizen ini.

Udah ah, lupakan aja netizen yang banyak mau ini. Kembali fokus ke masalah saya aja.*Ghosting semua netizen. Lah satu dunia gue ghosting dong? Terus yang baca blognya siapa??*

Kalian punya harapan apa dalam hidup? Saya punya beberapa harapan dalam hidup. Yaitu:
-Jadi Kim Kardashian
-Jadi Kim Jong Un
-Mencapai di titik puncak tertentu di dalam karir
-Jadi ibu yang bisa dibanggakan sama anak (berhubungan sama karir sih)
-Punya rumah yang asri di kawasan favorit saya

Nah, sayangnya sampai di titik ini saya belum mencapai itu semua. Secara karir, saya merasa masih begitu-begitu aja. Belum mencapai di titik yang saya harapkan. Bahkan sepertinya saya menjauh dari titik tersebut.

Pengen jadi ibu yang dibanggakan sama anak, tapi saya ngerasa kayak nggak punya pencapaian apapun yang bisa dibanggain sama bocah kesayangan.

Pengen punya rumah, tapi sampai sekarang rumahnya nggak terbeli. Sedangkan harga rumahnya “besok harga naik” melulu.

Lalu saya diam-diam stres. Saya merasa gagal. Merasa nggak berguna. Malu dan tersinggungan sama orang. Ngerasa kayaknya semua orang itu ngomongin ‘ketidakberhasilan’ saya. (Siape elu diomongin orang? Dih, gw kan Kim Kardashian!)

Intinya sih saya ke-GR-an aja kalau dunia itu nge-judge saya. Untung saya langsung ngerasa bahwa kayaknya masalahnya ada di saya. Saya coba lagi lihat sekitar dan hidup saya dengan lebih jelas *pake kacamata*.

Saya memang secara karir belum sampai di titik yang saya inginkan. Tapi saya punya pekerjaan, kan? Sedangkan ada beberapa teman saya sesama ibu punya anak yang desperate mencari kerja tapi tak kunjung ketemu. Sampai-sampai mereka rela menerima kerjaan apapun meski nggak nyambung sama pendidikan S1 mereka. Bahkan ada yang menerima kerjaan kelas buruh.
Ya tapi begitulah jadi ibu. Kami rela melakukan apapun demi keberlangsungan hidup anak kami. Tidak peduli apa kata orang, yang penting anak kami bisa hidup cukup.

Lalu di sinilah saya memikirkan apa kata orang tentang pencapaian karir saya yang belum kesampaian…. Padahal punya karir kayak saya begini aja mungkin udah sebuah pencapaian untuk teman-teman yang saya sebut tadi.

Begitu juga dengan pemikiran saya yang merasa jadi ibu yang gagal bikin anak saya bangga.
Eh please deh Dis, anak lo itu baru berumur 4 tahun. Bagi dia yang penting emaknya ada di rumah buat diajak main. Emang tolok ukur ‘ibu yang membanggakan’ itu kayak gimana sih? Jadi menteri perempuan yang keputusannya menentukan arah hidup orang banyak gitu, ya? Atau ada di TV buat pidato buka sidang paripurna DPR. Lah, emangnya saya ini Ceu Popong apah?

Image result for ceu popong
Mana paluna euweuh?

Mengenai punya rumah…
Saya pengen banget punya rumah yang asri, strategis, sejuk, dan aman. Tapi semua rumah kepengenan saya harganya milyaran (yah, maklumlah selera saya mahalan punya). Sedangkan rumah yang di bawah 500 juta adanya di ujung rural semua. Terlalu lelah dan terlalu lama kami habiskan di jalan hanya untuk menjemput rezeki di Jakarta kalau harus berangkat dari sana. Kapan ketemu sama anaknya kalau habis waktu di jalan?

Tapi…. Kalau dipikir-pikir lagi, sekarang setelah saya pindah kontrakan yang best buy ini, tempat tinggal saya juga asri, strategis, sejuk, dan insya Allah aman kok. Memang bukan rumah sendiri. Tapi yang punya kontrakan ini orangnya baik. Dia juga nggak mata duitan. Buktinya dia kasih kami harga miring hanya karena di mata dia kami orang baik dan bertanggung jawab (ciyeee). Eh tapi beneran. Sebelumnya yang tinggal di kontrakan kami ini bayarnya lebih besar. Tapi dia bikin berisik tetangga, akhirnya diusir. Pas kami datang menujukkan minat, dia langsung kasih harga murah karena kami adalah keluarga kecil dan di matanya terlihat bertanggung jawab

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
-Surah Ar-Rahman-

Kini semuanya terlihat jelas. Rupanya masalah saya selama ini adalah karena nggak pakai kacamata, makanya saya nggak melihat dengan jelas.

Oke gini…gini…
Yang saya dapat simpulkan adalah, selama ini saya stres karena saya menempatkan kebahagiaan saya di standar pandangan orang lain. Bahwa saya sudah harus super keren di karir, bahwa saya harus jadi ibu yang tanpa cela di mata anak saya (FYI, anak saya sudah melihat banyak cela saya. Tapi dia tetap sayang dan mencari saya, karena saya ibunya. Mengutip omongan teman saya, Amelia Virginia, anak di bawah umur 5 tahun itu mencintai ibunya tanpa pamrih. So chill, okay.)

Makanya mulai sekarang saya mau berusaha menempatkan standar kabahagiaan hidup saya melalu hidup saya sendiri. Berambisi boleh, tapi kalau ambisinya bikin stres dan jadi nggak punya teman, mungkin itu arogansi.

Semoga dengan blog yang saya tulis untuk berdamai dengan diri sendiri ini bikin saya tambah sering menulis. Menulis yang dari hati. Yang bisa menginspirasi. Yang bisa bikin orang jadi lebih baik sama diri. Atau seenggaknya bikin menceriakan hari. Yang bikin ketawa-ketiwi. Yang…. yang apalagi ya? Ya udah sik, emang segitu aja nggak cukup apah?

Susah banget sih menyenangkan netizen.

That’s My Husband

Ngobrol sama teman baru.

Teman: Oh, lo istrinya Wahyu (Si Punk Rock) yang dulu kerja di XX, ya?

Saya: Iya.

Teman: Aku dulu pernah sekantor sama dia. Aku ingat, dia pernah nasehatin anak-anak kantor supaya jangan suka bunuhin nyamuk di kantor.

Saya: Oh ya? Kenapa nggak boleh gitu?

Teman: Katanya nanti teman-teman nyamuknya datang buat ngelayat.

Yep, that’s my husband…

Aragorn Bernyanyi

Nonton Lord Of The Rings: The Return of King untuk kesekian kalinya di tivi.

Sesaat Aragorn dilantik jadi raja Gondor, ia pun bernyanyi di hadapan rakyatnya.

Saya: Tuh sayang, pas Aragorn jadi raja, dia langsung nyanyi. Kamu tahu nggak kenapa dia langsung nyanyi begitu?

Si Punk Rock: Kenapa emangnya?

Saya: Karena dia raja dangdut.

Si Punk Rock: *mau ketawa tapi ditahan karena gengsi*

Review: Bird Box

Category: Movies
Genre: Thriller, Horror
Rate: 4,5 out of 5

Film ini dibuka dengan Malorie (Sandra Bullock) yang sedang mewanti-wanti dua orang anak kecil agar tidak membuka penutup matanya. Kalau mereka sampai membukanya, mereka akan mati.

Film kemudian mundur ke beberapa tahun sebelumnya dimana saat itu Malorie sedang hamil. Ia akan pergi memeriksakan kehamilannya ke rumah sakit bersama kakaknya. Sepulang dari rumah sakit, ia melihat keanehan yang berubah jadi kekacauan. Semua orang sepertinya berlari ketakutan menghindari sesuatu. Yang tidak dapat menghindar, malah akan tercenung lalu menyakiti dirinya sendiri sampai meninggal. Kakak Malorie menjadi salah satu korban di antaranya.

Malorie berhasil selamat dan masuk ke rumah salah satu warga yang selamat lainnya. Namun upaya mereka untuk terus hidup dan menghindari malapetaka di luar sana tidak menjamin kalau mereka akan terus selamat. Satu hal yang pasti, mereka akan terus selamat kalau menutup mata mereka.

Yang saya suka dari film ini:
-Filmnya menegangkan! Banyak unsur horor dan thriller yang bikin kita terus penasaran bagaimana mereka akan dapat terus hidup.
-Adegan orang gilanya serem banget!
-Konflik dan jalan keluarnya manusiawi dan realistis. Kita nggak dikasih celah untuk komen ‘kenapa nggak gini aja sih?’ atau ‘Yaelaaah…. Udah tahu kalau penjahatnya di situ, ngapain ke sana coba?’
-Penokohannya bagus dan nggak biasa
-Akting Sandra Bullock oke!
-Suka deh dengan tokoh yang diperankan John Malkovich
Vivien Lyra Blair pemeran Girl imut dan cantiiik bangeeet >_<
-Suka juga dengan bagaimana film ini menceritakan transformasi Malorie menjadi ‘ibu yang sesungguhnya’ secara pelan dan tanpa banyak penjelasan melalui dialog.

Yang saya nggak suka dari film ini:
-Ada beberapa adegan yang menyangkut anak-anak yang bikin kita gemes-resah-bete pas nonton. Tapi ya….namanya juga anak-anak yekan.
-Saya sebagai ibu berdoa agar saya dan anak-anak saya jangan sampai berada di posisi itu. Gimana coba harus nyelametin diri tapi nggak boleh ngelihat?

Film ini tidak tersedia di bioskop dan hanya bisa ditonton di Netflix.

Ini trailernya…

Nonton Guns N’ Roses Nggak?

Minggu lalu Si Punk Rock ditawarin tiket konser Guns N’ Roses (GnR) gratis dari kantornya. 

“Anak-anak kantor aku dapat tiket gratis GnR, nih. Kamu mau nonton nggak?”

“Sama kamu atau nggak?”

“Iya, sama aku.”

“………………………………….. Terus Kriby siapa yang jagain?”

“Hm…. Iya juga, ya. Ya udah ntar aku tanyain orang kantor lagi, deh.”

Sepekan berlalu. Tau-tau udah tanggal 8 November aja, yang tak lain dan tak bukan adalah hari H konser GnR. Kami benar-benar lupa soal konser itu. Jatah tiket gratis kami pun udah dikasih ke teman kantor Si Punk Rock yang lainnya. Ya udahlah….

Begitu buka medsos agak iri-iri-takut ga update-merasa ditinggal oleh khalayak ramai-gimana gitu pas lihat banyak orang yang posting soal GnR. Ya udahlah, kami emang pada dasarnya nggak pengen, buktinya aja kami bisa lupa soal tanggal main konsernya. Kalau beneran suka GnR mah pasti ga akan lupa dong.

Taro handphone. Lupakan crowd GnR itu. Lebih baik saya kembali ke crowd yang ini…

My kind of crowd(ed bed)

Si Punk Rock jadi bisa pulang lebih cepat karena teman-teman kantornya nggak cerewet minta revisi ini-itu karena pada ke konser GnR. Kami jadi bisa leha-leha nemenin si Kriby nonton Zootopia untuk ke-735247 kalinya. 

Yah namanya juga udah punya anak, yekan.
Punya anak tuh nggak bikin lo ketinggalan trend / hype, kok. Tapi lo jadi lebih bisa memerioritaskan hal-hal yang lebih penting.
Lo nggak sepenuhnya berubah. Tapi iya sih lo jadi banyak berkompromi.
Karena lo jadi sadar apapun yang lo kejar di luar sana nggak sepadan dengan ngorbanin anak lo.

 

Yoklah kita saksikan GnR menyanyikan Sweet Child O’ Mine via Youtube aja. Siyap digoyaaang? O A O EEEE…

 

KDRT (Ku Dengar Ribut Tetangga)

Kemarin gw dengar tetangga gw berantem sama suaminya. Dia teriak-teriak, ada bunyi bak-buk, lalu nangis.

Pas dia keluar kontrakan sambil nangis, gw teriakin, “Mbak, kamu dipukulin?”

“Nggak”, sambil nangis ngeloyor pergi.

“Kalau dipukulin bilang saya, ya! Biar kita lapor polisi.”

Lalu suaminya keluar terus bilang, “Lapor aja! Sembarangan kalau ngomong”.

“Jangan sembarangan pukulin anak orang juga dong!”

Gw lalu diskusi ama Si Punk Rock: perlukah kita lapor RT?

Jawabannya: perlu.
Karena ini bukan pertama kalinya kita melihat suaminya bertindak kayak begitu. Meski nggak sering, tapi tetap aja ini bukan pertama kalinya. Dicurigai akan berulang.

Malamnya kami pun lapor RT. Sang RT berterima kasih kami mau ngelapor karena itu termasuk udah mengganggu lingkungan.
Gw dan Si Punk Rock bukan permasalahin gangguan suaranya, melainkan kefatalan tindakan si suami kalau nggak ada yang negur. Apalagi dia bertindak kayak begitu di depan anak-anaknya.

Malamnya gw tidur dengan nggak nyenyak. Jujur gw takut kalau tindakan ngelapor ke RT itu akan bikin si suami makin marah. Dia seperti memang temperamen. Gw takut kalau dia bakal ikutan marah ama gw dan berniat jahat ama keluarga gw.

Tapi kalo gw diemin keluarganya dipukulin begitu kok gw nggak tega ya…

Kalau gw membiarkan, gw juga akan ikut dosa membiarkan orang lain teraniaya nggak sih?
Kalau gw di posisi itu, gw akan berharap akan ada orang yang ikut membantu agar keadaan lebih baik, ya nggak sih?

Bismillah deh… Gw hanya niat membantu biar nggak ada orang yang teraniaya lagi.

 

Review: Loving Pablo

Category: Movies

Genre: Drama

Rate: 4 out of 5

Film ini merupakan berdasarkan kisah nyata. Pablo Escobar (Javier Bardem) merupakan bandar narkoba nomor satu di Kolombia. Selayaknya bandar narkoba kelas kakap lainnya, ia dengan mudahnya lolos dari segala hukum karena pandai menyogok sana-sini. Kekayaan Pablo? Wah, jangan ditanya. Uang Pablo begitu melimpah.

Dari pesta-pesta mewah yang ia gelar, Pablo pun berkenalan dengan Virginia Vallejo (Penelope Cruz). Virginia yang tak lain adalah seorang jurnalis cantik terpincut dengan kebaikan hati Pablo yang hendak membangun Kolombia ke arah yang lebih baik. Tidak peduli walau dananya berasal dari uang haram.

Begitu bisnis narkobanya menyebar dan berkembang pesat di Amerika Serikat, kepolisian negeri Paman Sam itu pun bertekad untuk menghentikan bisnis haram Pablo. Segala cara mereka gunakan untuk menghentikan bisnis busuk Pablo. Namun klan bisnis Pablo sangat kuat dan erat. Mereka pun mencoba mendekati Virginia untuk membuka pintu menuju Pablo.

Yang saya suka dari film ini:

-Suka dengan aktingnya Javier Bardem yang bisa berubah dari cowok baik, kebapakan, kemudian jadi bos bisnis haram yang berdarah dingin.

-Penelope Cruz cantik dan luwes di film ini

-Alurnya enak.

-Saya jadi dapat pengetahuan baru tentang sosok Pablo Escobar yang tersohor di zamannya. Juga jadi mengerti kegilaan yang bisa dilakukan oleh manusia kalau udah kebanyakan duit. Banyak adegan di film ini yang  bikin saya geleng-geleng kepala.

-Kostum serta set dan lokasi tahun 80-annya bagus.

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Javier Bardem kayaknya pakai kostum karet palsu biar keliatan buncit ala Pablo Escobar yang asli.

Ini trailernya…

Review: Breakfast at Tiffany

Category: Movies

Genre: Romantic Comedy

Rate: 4 out of 5

Film yang diproduksi pada tahun 1961 ini menceritakan tentang Holly Golightly (Audrey Hepburn). Ia adalah seorang perempuan sosialita yang matre. Tujuan hidupnya adalah menikahi lelaki kaya agar hidup enak bergelimpangan harta. Lalu ia berkenalanlah dengan Paul Varjak (George Peppard). Paul adalah seorang penulis yang sedang mentok karya. Ia kini menggantungkan hidupnya sebagai lelaki simpanan seorang perempuan kaya. Holly tanpa sengaja mengetahui status Paul sebagai simpanan. Mereka kemudian berteman. Namun lama-lama Paul jatuh cinta dengan pembawaan Holly yang riang, polos, namun ceroboh. Akankah kedua orang yang bergantung dengan harta orang lain ini bersatu?

 

Yang saya suka dari film ini:

-Audrey Hepburn itu memang cantik banget, ya! Ia juga membawakan tokoh Holly Golightly ini dengan pas. Kita dengan mudahnya dibuat jatuh cinta dengan Holly yang ceria, ngeselin tapi polos. Pantesan tokoh Holly Golightly ini fenomenal dan dikenang sepanjang masa. Adegan pas dia nyanyi La Vie En Rose juga cantik banget.

Audrey Hepburn sebagai Holly pas nyanyi La Vie En Rose

-Bajunya bagus-baguuuuuuus! Saya memang selalu suka dengan fashion tahun 1950-an, sih. Tapi kayaknya ini nggak ada hubungannya dengan selera saya. Karena emang baju-baju yang dipakai Holly bagus-bagus semua!

-Ceritanya masih sangat relevan dengan zaman sekarang.

-New York itu baguuuus yaaaaaaa!

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Akting Mickey Rooney sebagai Mr. Yunioshi terkesan maksa

-Endingnya gitu aja. Yah, tapi emang khas film zaman itu ending yang begitu doang udah dianggap cukup, sih.

-Adegan ciumannya juga sinetron banget. Terus dingin pula ciumannya. Nggak ada keliatan jatuh cintanya sama sekali. Plah!

 

Ini trailernya….