Diposkan pada blog

Muka Bapaknya Banget!

Beginilah tadi reaksi dokter THT pas lihat muka Kriby…
Dokter: Wah, anaknya muka bapaknya banget!

Si Punk Rock: Iya, mukanya saya banget ya, dok.

Dokter: Iya, tapi bagusan muka ibunya.

Alhamdulillah, parasqu sudah THT certified. – with Wahyu

View on Path

Iklan
Diposkan pada blog

Mendingan Nggak Usah Punya Anak, Deh

Saya dibuat terbengong-bengong dalam sebuah acara kumpul keluarga.

Ini semua karena saya menyaksikan sendiri bagaimana seorang ibu ‘cuek’ dengan anak-anaknya. Sebut saja nama perempuan itu Parjini (bukan nama sebenarnya). Pada saat saya sampai di acara tersebut, saya bertegur sapa riang dengan Parjini. Maklumlah udah lama nggak ketemu, yekan.

Setelah menyapa dan berkeliling salam sana-sini, Parjini menghilang. Tapi saya masih melihat kedua anaknya asyik bermain. Apakah Parjini punya bakat menghilang ala Jini Oh Jini? Entahlah…
Tapi kemudian diketahuilah kalau Parjini sedang tidur. Hoo… Dia mungkin lelah. Yo wis…

Sampailah jam makan siang. Saya bersantap dengan hidangan yang ada sambil terus mengawasi Kriby yang terlalu asyik bermain. Saya kemudian menyadari bahwa seorang sepupu saya yang baik hati sedang mengejar-ngejar kedua anak Parjini untuk menyuapi makan siang.

Di situ untuk pertama kalinya saya merasa ada kejanggalan. Kenapa bukan Parjini yang menyuapi anak-anaknya? Dia memang lagi tidur, sih. Tapi kenapa tidak dibangunkan saja?

Tidak lama Parjini bangun. Dia keluar kamar dengan roll rambut masih menempel di dahi namun sudah berpakaian rapi. Saya makin merasa janggal ketika ibu Parjini yang juga hadir menyindir dia secara halus. “Parjini, anak-anakmu belum makan siang, lho”

“Biasanya mereka makan sendiri, hehehe…” jawab Parjini cengengesan. Lalu ia pergi mengambil hidangan untuk dia makan sendiri.

Akhirnya pertahanan diri saya untuk ber-positive thinking runtuh ketika tak lama seusai makan Parjini pamit kepada semua yang hadir secara terburu-buru. Ketika kami bertanya, ‘mau ke mana?’, Parjini menjawab “Mau ketemu-teman-teman di GI. Daaah”. Parjini pergi sendirian meninggalkan kedua anak-anaknya bersama kami para saudaranya demi hang out. Suami Parjini tidak ikutan sih, tapi saya menyaksikan sendiri bagaimana dia juga sama tidak berguna / tidak pahamnya dalam mengurus anak.

Sepeninggal Parjini saya kembali menyaksikan kepontang-pantingan sepupu saya yang baik hati dalam mengurus kedua anak Parjini. Perlu diketahui anak-anak Parjini ini tidak nakal, namun mereka anak-anak yang aktif. Ditambah dengan berkumpulnya banyak anak-anak yang seumuran mereka membuat kedua anak itu lebih aktif dari biasanya lantaran senang gara-gara ada banyak teman main. Perlu diketahui juga sepupu saya yang baik hati itu sendiri punya dua orang juga. Yang kecil masih bayi pula. Maka wajarlah ketika saya mendengar keluhan frustasi darinya yang tidak terima kerepotannya bertambah. “Parjini kenapa sih nggak mau ngurusin anaknya?” kesalnya.

Saya akhirnya bertanya kepada dia, sebenarnya apa yang terjadi dengan Parjini? Menurut sepupu saya yang baik hati, Parjini itu memang tidak suka anak kecil. Parjini kerja di pusat kota, sedangkan rumahnya di Depok. Itu membuat dia harus berangkat kerja setelah solat subuh dan sampai rumah lagi di atas jam 9 malam. Ditambah dia punya fisik yang lemah, dia gampang sekali jatuh lemas. Itulah yang membuat ia suka tidak punya energi lagi untuk mengurus anak.

Alasan sontoloyo macam apa itu? pikir saya.

Semua alasan itu tidak masuk akal di benak saya. Soalnya setelah saya menjadi ibu, saya merasakan dan juga melihat sendiri bagaimana seorang perempuan jadi punya kekuatan lebih demi anaknya. Saya punya teman yang ‘manja’ dan sangat takut dengan rasa sakit, namun ia bisa menahan rasa sakitnya melahirkan normal semata-mata demi anaknya. Saya melihat salah satu kerabat saya yang sangat jijikan dengan segala hal, namun begitu ia punya anak dia dengan cekatan mengganti popok kotoran anaknya dengan ceria.

Maka wajarlah jika saya berkesimpulan bahwa apa yang terjadi pada Parjini ini sebenarnya adalah masalah faktor keinginan. Menurut saya perempuan-perempuan seperti Parjini itu sebenarnya tidak ingin punya anak. Namun ia ‘dipaksa’ untuk punya anak karena tuntutan masyarakat. Bahwa setelah menikah itu HARUS punya anak. Masyarakat Indonesia itu sangat memandang hina pada perempuan yang tidak ingin punya anak.

Saya kemudian jatuh iba dengan Parjini. Pasti tekanan masyarakat begitu kuat sehingga jalan keluarnya adalah menuruti tekanan tersebut. Menolak atau melawan paradigma itu adalah sebuah dosa besar dan langsung mendapat cap ‘perempuan durhaka’.

Tapi lihatlah dampak dari kemanutan Parjini pada tekanan masyarakat terhadap tumbuh kembang anak-anaknya. Untung aja anak-anak Parjini itu diasuh oleh tangan yang tepat (oleh ibunya Parjini dan terkadang sepupu saya yang baik hati). Biasakah Anda bayangkan kalau anak-anak itu diurus oleh orang-orang yang salah? Dapat dipastikan bahwa anak-anak Parjini akan tumbuh jadi manusia-manusia yang tidak baik.

Kalau Anda pikir bahwa perempuan-perempuan seperti Parjini itu ada sedikit, Anda salah besar. Saya sendiri kenal ada empat orang perempuan yang tidak ingin punya anak seperti Parjini. Cuma dua orang diantara mereka yang berani terang-terangan menyatakan tidak ingin punya anak alias childfree. Salah satu yang terang-terangan tidak mau punya anak itu justru seorang perempuan berhijab lebar pula. Dan menariknya adalah dia sangat sayang dengan anak kecil, apalagi sama Kriby beeeuh sayang banget dia. Namun ia jelas-jelas mengatakan bahwa ia tidak ingin menjadi ibu. “Gue mau jadi tante aja, gue nggak mau jadi ibu,” ujarnya suatu hari pada saya.

Dua perempuan lainnya yang diam-diam tidak mau punya anak tingkah lakunya tidak jauh berbeda dengan Parjini. Yang satu malah pernah curhat ke saudaranya dengan kekesalan mendalam bahwa ia ingin menggugurkan anak kedua yang tengah ia kandung kala itu. Tentu saja tindakannya ditentang oleh pihak keluarga yang tidak mengerti keresahannya. Pada akhirnya ia melahirkan anak keduanya, namun keduanya tumbuh jadi anak yang tidak dekat dengan ibunya. Sepertinya anak-anak itu bisa merasakan ada hawa penolakan dari ibunya.

Yang satunya lagi sejak suami pertamanya meninggal dunia, dengan tanpa merasa bersalah ia menyerahkan anak-anaknya ke pihak kerabat dari almarhum suami untuk diurus. Sedangkan ia menikah lagi dengan lelaki baru.

Saya yakin pasti Anda agak gatal pengen berkomentar ‘ishh, ibu macam apa itu’ ke mereka. Namun coba ingat lagi, apakah mereka atau kita (perempuan) pernah ditanya “kamu mau punya anak tidak?” Saya yakin jawabannya adalah tidak. Ditanya “Nanti mau punya anak berapa?” sih sering.

Tindakan para ibu-ibu yang cuek dengan anaknya memang tidak dapat dibenarkan. Anak-anak itu berhak mendapatkan kasih sayang yang pantas. Mereka juga kan nggak pernah minta dilahirkan.

Namun sebelum kita menghakimi, cobalah untuk berpikir lebih netral. Kalau Anda salah satu orang yang suka berbasa-basi, “Anaknya udah berapa?” “Udah isi belum?” “Kapan nambah adik lagi?” maka Anda ikut andil mencetak para ibu yang cuek sama anaknya.

Saya adalah seorang ibu dan saya senang jadi ibu. Tapi saya mendukung perempuan-perempuan yang memutuskan untuk childfree. Kalau Anda (perempuan) memang tidak ingin punya anak, (entah karena malas ribet, nggak mau bentuk tubuh berubah, pengen berkarir lebih tinggi, takut miskin karena pengeluaran untuk anak itu gede banget, dan berbagai alasan lainnya) maka ungkapkan dan perjuangkanlah!

Mendingan Anda tidak usah punya anak, daripada terpaksa punya anak tapi tidak ingin mengurusnya. Dengan begitu Anda tidak perlu mencetak manusia-manusia yang sedih, terluka batin, dan tumbuh jadi manusia yang tidak baik.

Tidak usah pikirkan apa kata orang kalau Anda tidak ingin punya anak. Karena begitu Anda punya anak pun, omongan usil orang pasti ada aja. Yang mungkin perlu Anda pikirkan adalah bagaimana kalau keputusan Anda untuk childfree tidak sejalan dengan keinginan pasangan Anda? Di situlah komunikasi dan kompromi dalam hubungan Anda diuji. Ingat, berkomitmen itu adalah berkompromi. Namun jika sikap childfree Anda memang tidak bisa dikompromikan, jangan bertahan dalam hubungan itu karena ‘aku tidak bisa hidup tanpa dia (pasangan)’. Soalnya yang biasanya terjadi adalah lingkaran setan pertengkaran tentang topik yang sama atau ujung-ujungnya Anda mengalah dengan menuruti pasangan untuk punya anak. Lalu bertambahlah populasi anak-anak yang dicuekin ibunya lagi.

Anak itu anugerah karena ada begitu banyak kebahagiaan yang hadir dari mereka.

Tapi anak itu juga amanah. Dikatakan ‘amanah’ karena membesarkan anak itu memang tidak gampang. Maka pikirkanlah baik-baik sebelum punya anak.

Khusus untuk Anda kaum Adam, jika pasangan atau calon pasangan Anda adalah perempuan yang childfree, maka hormatilah. Hormatilah keputusannya karena itu adalah badannya. Perempuan berhak menentukan apa yang seharusnya terjadi pada badannya.

Kalau sikap childfree ini tidak sejalan dengan keinginan Anda, maka tolong jangan paksa kaum Hawa. Silakan pergi baik-baik untuk cari perempuan lain yang sepaham dengan Anda. Karena Anda berhak untuk bahagia menjadi ayah seperti sama berhak bahagianya seorang perempuan yang memutuskan untuk childfree.

Diposkan pada blog

Salahkan Gravitasi

Si Punk Rock cerita soal temannya yang baru hitungan bulan menikah sekarang lagi proses cerai.

Si Punk Rock: Makanya kalau nikah itu komunikasinya harus bagus. Setelah itu komprominya harus gede. Kayak aku pas nikah ama kamu. Aku kaget lho ternyata kamu itu lemarinya berantakan banget. Tapi akhirnya aku berkompromi.

Gw: Makasih ya sayang. Tapi kalau soal lemariku, itu semua terjadi karena ada gaya gravitasi, lho. Tanpa ada gravitasi, isi lemariku nggak akan kayak begitu. Jadi bisa dikatakan perkara rumah tangga yang satu ini disebabkan oleh Isaac Newton.

SPR: …………

 

Moral: Perempuan itu tidak selalu benar. Tapi argumentasi akan terasa benar jika mengutip fakta ilmiah di sana-sini.

I love you sayang 😘 – with Wahyu

View on Path

Diposkan pada blog

Asal-Muasal Perang Bubat

Abis COD-an beli make up Korea.

Gw: Tadi yang jual nawarin beli produk make up lainnya.

Si Punk Rock: Terus kamu mau?

Gw: Pengen, sih. Tadi dia jual masker Line muka Brown. Lucu, sih. Tapi nggak, deh.

SPR: Kenapa nggak?

Gw: Karena produk kosmetik Korea itu cocoknya buat yang kulit putih gitu. Biar kita jadi keliatan kayak boneka. Kulit aku kan nggak putih, jadi nggak cocok buat jadi boneka gitu.

SPR: Tapi kan jenis boneka ada banyak. Ada boneka voodoo…

Lalu terjadilah Perang Bubat. – with Wahyu

View on Path

Diposkan pada blog

Logika Kaum Pria

Tadi Kriby aduk-aduk minuman pakai sedotan.
Gw: Nak, jangan diaduk terus. Nanti tumpah, lho.

Kriby bodo amat dan tetep aduk-aduk.

Si Punk Rock: Nak, minumnya jangan diaduk-aduk. Nanti dia pusing.

Ya, begitulah sains membuktikan kalau pria itu makhluk yang berpikir dengan logika. – with Wahyu

View on Path

Diposkan pada blog

Tangan

Seberapa sering anakmu meminta kamu meletakkan handphone yang kamu pegang lalu bermain dengannya?

Kriby mulai sering melakukan hal itu. Dia butuh kedua tangan saya untuk menggenggam tangannya selama ia melompat-lompat di kasur. Maklumlah, Kriby belum terlalu lancar loncat-loncat sendiri di kasur.

Selama memegangi kedua tangannya ketika ia melompat-lompat dengan girang, saya bisa melihat di matanya bahwa ia senang bukan main. Terlihat juga kalau ia begitu sayang sama saya. Bagi dia, saya adalah dunianya. Makanya ia meminta atensi saya secara penuh untuk melihat dia melakukan berbagai hal yang sering kali kita anggap remeh.

“Bunda! Bunda! Liat! Liat!”

Karena tingkah lakunya sering saya anggap remeh, tak jarang saya hanya memperhatikan sekilas lalu balik lagi menatap handphone yang saya pegang.

“Instagram gosip lagi seru, nih. Di grup WhatsApp juga lagi ngobrol seru. Bentar ya, nak,” batin saya sambil menatap handphone lekat-lekat.

Padahal handphone ini sudah saya pegang, tatap, dan cari-cari sejak saya bangun pagi sampai tidur lagi. Handphone ini saya bawa kemana-mana. Sedangkan Kriby saya hanya bertemu di pagi hari saat hendak berangkat bekerja dan malam hari sepulang saya dari kantor. Di frekuensi saya yang sangat sedikit bertemu Kriby itu, kenapa saya masih mendistraksikan diri dengan handphone, ya?

Maafin Bunda ya, nak. Bunda sadar apa pun yang ada di handphone ini tidak lebih penting dari kamu.

Wahai kaum ibu di era digital, taruhlah handphonemu, lalu genggamlah tangan anakmu.

(Foto: Izin nyomot dari sini)
Diposkan pada blog

This Guy…

Gw: Anak-anak kantor ngajakin nongkrong di Kopi Kalyan.

Si Punk Rock: Ya udah, pergi gih.

Gw: Aku pengen, sih. Tapi nggak usah, deh. Kasian Kriby.

SPR: Udah pergi aja. Aku anterin. Kriby biar aku yang jemput

Gw: *bimbang*

SPR: Udah pergi aja. Kamu dulu hampir 2,5 tahun di rumah terus ngurus Kriby. Sekarang kamu punya teman-teman yang asyik. Ya udah, pergilah. Yang penting aku tahu kamu perginya sama teman-teman yang beres. Bukan ama anak-anak yang suka tung-turung-tung-tung *sambil meniru gaya orang dugem*

This guy…
This guy worth the wait and worth every heartbreak which leads me to him.

Alhamdulillah.

View on Path

Diposkan pada blog

Gara-Gara Sup Ayam

Jadi begini ya sodara-sodara….

Kemarin Si Punk Rock sakit demam. Saya masakinlah sup ayam.
Alhamdulillah hari ini Si Punk Rock badannya mendingan. Lalu dia merasa bersalah karena menurut dia ‘I’m sorry I’ve ruined our weekend’. Maka dari itu dia suruhlah saya pergi me time sendirian.

Ya udah, tadi saya pergi jalan-jalan ke Blok M. Makan di restoran Jepang favorit, dilanjutkan dengan pijat. Eh siapa sangka abis makan, ATM saya hilang. Pijatnya pun batal.

Setelah minta surat kehilangan ke kantor polisi endebre-endebre, saya memutuskan untuk pulang saja.

Sampe rumah, saya ceritakan detil me time saya ke Si Punk Rock. Reaksi dia…
“Jadi me time kamu fail dong?”

“Ya udah nggak apa-apa.”

“Kamu pergi lagi gih. Nonton kek ato cari tempat pijat dekat sini.”

“Tapi… Masa aku pergi terus?”

“Udah pergi aja sekarang. Kalau nggak ntar kesorean. Pergi sana me time. Biar Aruna ama aku.”

Maka di sinilah saya sedang ber-creambath ria.

Kesimpulan dari kisah ini adalah: jika suamimu demam, segera masak sup ayam. Insya Allah berhadiah jalan-jalan. – at Johnny Andrean Salon Cinere Mall with Wahyu

See on Path

Diposkan pada blog

Kalau Jatuh Cinta, Dunia Serasa Milik Berdua

Tadi pulang dari jalan-jalan kami naik Uber.

Terus entah bagaimana, saya baru nyadar kalau saya dan Si Punk Rock itu nggak pernah ciuman di taksi. Dari jaman pacaran ampe sekarang nikah kami nggak pernah ciuman di taksi.

Mungkin karena kami memang dari dulu sampe sekarang adalah anak motoran kali ya. Naik taksi sih untuk acara tertentu aja.

TAPI YA, kami itu pernah makan bubur ayam di taksi premium burung perak.

Saya rasa itu adalah salah bukti nyata kami atas ungkapan ‘kalau jatuh cinta, dunia serasa milik berdua. Yang lain ngontrak’. – with Wahyu

View on Path