blog

Kadaluarsa Pertemanan

Photo by Eric Nopanen on Unsplash

Umur saya sudah 35 tahun dan saya akhirnya bisa ikhlas menerima lapang dada bahwa teman-teman saya memang semakin sedikit.

Teman yang dulu akrab dan diajak ngobrol setiap hari, sekarang hanya sesekali aja.
Teman yang dulu akrab di dunia nyata, kini hanya sebatas sesekali menyapa di dunia maya.
Teman yang dulu tempat curhat, kini diingat untuk kerjaan semata.
Teman yang dulu berisik banget di grup chat, sekarang segan saling berkomentar.
Teman yang dulu saya anggap sebagai mentor, malah sekarang ketahuan belangnya. Sampai akhirnya saya merasa lebih baik memutus kontak saja.

Apa yang terjadi? Di mana salahnya?

Nggak ada yang salah, sih. Life happens. Kami terpisahkan jarak. Terpisahkan waktu. Masing-masing punya kehidupan baru sampai lupa sama yang terdahulu.
Begitu teringat dengan keakraban yang dulu, tiba-tiba pengen menghubungi rasanya malu.
Saling berasumsi kalau kita sibuk, mengobrol sebentar via telepon akan dianggap menyita waktu.
Tiba-tiba menghubungi teman lama malah dikira ada maunya. Padahal hanya ingin menanyakan kabar semata.
Bagi pertemanan lawan jenis yang sudah berkeluarga, menghubungi tanpa ada maksud apa-apa hanya akan menuai curiga dari pasangannya.

Semakin tua, pertemanan akan semakin rumit. Ketulusan pertemanan jadi langka. Karena kini semuanya terasa transaksional. Ngobrol dengan teman lama rasanya jadi percuma kalau ‘lo nggak bisa kasih gue apa-apa’ (entah itu materi, koneksi, atau secuil ilmu).

Kalau Anda kira bahwa media sosial akan mempermudah kontak dengan teman lama, ternyata itu tidak sepenuhnya benar. Kehidupan baik yang mereka tampilkan akan membuat Anda segan menghubungi. Media sosial membuat Anda rendah diri untuk ‘berteman’ dengan dia yang sedang berada di puncak kehidupan. Media sosial membuat Anda jadi membandingkan diri, ujung-ujungnya iri.
Sedangkan jika teman Anda di media sosialnya terlihat dalam masa kehidupan yang buruk, Anda pun jadi segan untuk menghubungi. Karena takut rasa peduli yang Anda miliki akan disalahartikan sebagai kepo (ingin ikut campur).
Di situlah saya merasa media sosial adalah media yang tidak tepat untuk mempertahankan pertemanan.

Lalu apa yang bisa kita lakukan agar hal itu tidak terjadi?
Kayaknya sih nggak ada. Karena ini adalah salah satu fase dalam hidup. Kehidupan melakukan seleksi alam terhadap lingkaran pertemanan kita.
Jadi yang bisa kita lakukan hanya ikhlas menerima. Dulu saya sudah pernah mencoba melawan takdir tersebut dengan memaksakan ‘keakraban’ karena saya tidak rela kehilangan teman. Akhirnya yang saya dapat malah kekecewaan. Jadi ya sudah, ikhlaskan saja. Anggap saja pertemanan Anda dengan dia sudah habis masa berlakunya. Kadaluarsa.

Tapi nggak usah sedih lama-lama. Dalam proses ikhlas itu hidup juga mengantarkan kembali ke teman-teman yang memang berarti untuk Anda. Itu saya rasakan sendiri. Lingkaran pertemanan saya diperkecil oleh kehidupan. Namun lingkaran kecil ini tidak perlu diragukan lagi ketulusannya.

Di lingkaran kecil ini, saya masih bebas jadi diri sendiri. Manusia-manusia di dalamnya bisa membuat saya tidak pernah menua. Kami semua ‘bocah’ yang lepas berbicara tanpa perlu dianggap orang gila.
Di lingkaran kecil ini, kami tidak saling kontak setiap hari. Tapi akan selalu ada kapanpun jika dibutuhkan.
Di lingkaran kecil ini, orang-orangnya adalah yang berani menegur jika ada yang berbuat salah tanpa perlu takut dijauhi.
Di lingkaran kecil ini, kami tidak keberatan jika dihubungi hanya saat sedang susah. Karena justru di situlah kami merasa saling berguna. Bukan perkara bisa dapat apa, melainkan bisa memberi apa.

Jadi jika nanti lingkaran pertemanan Anda terus mengecil, ya sudah ikhlaskan saja. Karena mereka hanya manusia yang telah habis masa berlakunya untuk terlibat di kehidupan kita.

blog

Waktu Masak Miyeok-guk.

Waktu itu saya coba masak sup rumput laut Korea atau yang biasa disebut dengan Miyeok-guk.

Miyeok-guk buatan saya

Si Punk Rock mencoba. Reaksi pertama dia, “Amis…”.

“Masa, sih?” kata saya. Memang agak bau air laut sih dari rumput lautnya. Mungkin bagi beberapa orang bau laut itu kayak amis.

Tapi Si Punk Rock nggak menjawab apa-apa lagi. Dia teruskan makan sampai semangkok penuh yang saya hidangkan buat dia habis.

Setelah dia makan, Si Punk Rock berkata, “Kamu memang kayaknya dulu itu terlahir sebagai kucing. Sukanya yang amis-amis. Sushi lah, tuna kaleng lah, sekarang sup bau amis.”

“Emang amis banget, ya? Aku sih nggak ngerasa amis…”

“Makanya kamu kayak kucing”.

“Tapi kok kamu makannya abis?”

“Because I love you”.

“Alah…Padahal terpaksa karena nggak ada makanan lain, tuh”.

“Nggak. Because I love you,” katanya mempertegas ucapan sebelumnya.

Yes, I know. And thank you for keep on loving me. Sebagai gantinya, mulai sekarang saya nggak akan masak Miyeok-guk lagi. Kenapa? Because I love you too, Si Punk Rock.

blog

Perjalanan, Bukan Pengorbanan

Kemarin dengar ceramah pengajian ibu-ibu via toa masjid. Si ibu-ibu penceramahnya bilang…

“Yang namanya hidup harus berkorban. Kayak kita jadi ibu, kita berkorban tenaga dan waktu, sampai lupa urus diri, lupa dandan.

Begitu anak udah gede dan bisa urus diri sendiri, kita mau dandan eh udah peyot. Mau didandanin kayak gimana juga, tetap aja peyotnya keliatan. Ya itulah namanya berkorban.”

Bener juga sih…

Saya akhir-akhir ini belanja skin care lebih banyak dari biasanya. Biasanya malas maskeran, sekarang tiap mampir toko kosmetik, pasti nenteng satu sheet mask.

Lagi trend micellar water, beli!

Lagi banyak review bagus soal face mist, beli!

Dari dulu saya memang suka kosmetik sih, tapi dulu nggak kesetanan kayak sekarang.

Kalau dipikir-pikir, ya kayaknya saya “kurang menerima” penuaan yang terlihat jelas dari muka saya.

Dulu nggak punya kantung mata, sekarang nempel terus tuh kantong kayak daki.

Dulu pake cukup pake satu pelembab udah keliatan seger. Sekarang sebelum keluar rumah minimal harus pakai empat macam krim (essence-serum-moisturizer-sunblock).

Dulu pakai lipstik dan eyeliner doang ke kondangan udah manglingi banget. Sekarang pake full make up pake belajar contouring segala, hasilnya malah bikin orang pangling yang nggak ngenalin “Krili, what happen to your face?”

THIS IS MAKE UP, MADER FADER!

Tapi ya, emang umur bertambah. Metabolisme, stamina, pola makan, pola tidur, pola pikir, pola hidup semua berubah. Sejak punya anak, tanpa sadar saya jadi orang yang pertama kali bangun sekaligus yang tidur paling akhir di rumah. Saya lebih banyak memperhatikan muka anak saya ketimbang melihat wajah sendiri kaca. Tubuh pun menua.

Inilah yang dimaksud oleh ibu-ibu penceramah itu. Pengorbanan.

Tapi saya teringat omongan Ari Sihasale ketika ditanya gimana rasanya harus berkorban demi cinta?—–>berhubungan dengan kisah asmaranya dengan Nia Zulkarnaen.

Jawaban dia: jangan berkorban. Lakuin aja, jangan dirasa sebagai pengorbanan.

Intinya dia nggak menghitung pengorbanannya. Dia lakuin semuanya dengan ikhlas, akhirnya si pegorbanan itu rasanya jadi sebuah perjalanan aja.

Seperti saya yang sedang sebuah perjalanan atau petualangan dalam membesarkan anak dengan baik. Ini pengorbanan perjalanan. Dalam perjalanan ini saya menua. Kulit wajah saya tidak akan kembali muda. Tapi nggak apa-apa. Karena memang saya sudah melewati masa muda saya. Sekarang saatnya mempersiapkan anak saya untuk menjalani masa mudanya dengan baik.

blog

Review: How Do You Know

Category: Movies
Genre: Romantic, Comedy
Rate: 4 out of 5

Image result for how do you know poster

Selayaknya film romantic comedy lainnya, film ini mengisahkan tentang dua orang manusia. Lisa (Reese Witherspoon) dan George (Paul Rudd). Lisa adalah mantan atlet timnas softball. Ia baru saja dirumahkan karena ia dianggap sudah terlalu tua untuk ukuran atltet. Sedangkan George adalah seorang pengusaha yang mewarisi perusahaan bapaknya. Namun ia baru saja dituntut karena penipuan saham yang tidak pernah ia lakukan.
Singkat cerita keduanya bertemu dengan keruwetan pemikiran masing-masing. Situasi dibuat tambah ngejelimet pas Lisa diajak untuk tinggal bersama dengan pacarnya yang seorang atlet timnas baseball. Padahal George suka banget dengan Lisa, namun dia lagi menunggu untuk kasusnya mereda sebelum ia berani mengajak Lisa kencan secara serius.

Yang saya suka dari film ini:
+ Kalau melihat rating IMDB, film ini skornya nggak bagus-bagus amat. Tapi saya suka banget dengan film ini. Soalnya jalan ceritanya realistis banget. Terutama tentang cewek yang galau, berusaha nyari teman, berusaha membuat apa yang ada di depan mata berhasil tanpa harus kehilangan jati dirinya.
+ Dari dulu saya nggak pernah melihat Reese Witherspoon itu cantik. Tapi di film ini ia memerankan perempuan cerdas dengan karakter kuat membuat ia terlihat memesona dan pantas diperebutkan. Jadi cewek memang harus kayak gitu!
+ Suka dengan karakter sweet-o’on-playboynya Matty (Owen Wilson) yang jadi pacarnya Lisa. Dialog akhirnya dia pun jadi mengena di hati mengingat karakternya kayak begitu.
+ Paul Rudd aktingnya oke untuk jadi cowok yang pikirannya mumet sekaligus sedang jatuh cinta. Semuanya bisa terbaca jelas dari mimik wajahnya.
+ Banyak dialog tentang kehidupan dan cinta yang oke banget!

Yang saya nggak suka dari film ini:
-Banyak adegan yang berusaha lucu, tapi nggak kena. Mungkin itulah kenapa ratingnya di IMDB nggak oke.
-Peran Jack Nicholson so-so. Nggak perlu seorang Jack Nicholson untuk peran itu juga nggak apa-apa sih sebenarnya.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya…


blog

Review: Sophie’s Choice

Category: Movies
Genre: Drama
Rate: 4 out of 5

Image result for sophie's choice movie poster

Film ini berlatar setelah perang dunia kedua, dilihat dari kacamata Stingo (Peter MacNicol). Ia adalah seorang pemuda desa yang mencoba peruntungannya untuk menjadi penulis di kota besar New York. Ia ngekost di wilayah Brooklyn. Di situlah ia bertemu dengan Sophie (Meryl Streep) dan kekasihnya Nathan (Kevin Kline). Sophie yang berdarah Polandia adalah salah satu penyintas kamp konsenstrasi Auschwitz, Austria. Sedangkan Nathan adalah seorang ahli biologi di perusahaan Pfizer.
Pasangan kekasih itu sering mengalami pasang surut. Sophie yang begitu menghamba cintanya Nathan, sedangkan Nathan suka curiga nggak jelas karena kecantikan Sophie. Meskipun begitu, mereka menjadi teman baik Stingo. Mereka berbagi banyak kisah dan merayakan banyak hal bersama-sama. Sampailah Stingo tahu sebuah kebenaran tentang Nathan. Hal itu menjelaskan segala insekuritas Nathan terhadap Sophie. Hal itu juga yang membuat Nathan bisa tiba-tiba sangat cemburu nggak jelas dengan Stingo dan mengancam akan membunuhnya. Dalam upaya mereka menghindari Nathan, Sophie kemudian menceritakan Stingo sebuah rahasia terdalamnya yang membuat ia terluka batin sampai sekarang.

Yang saya suka dari film ini:
+ Ini adalah film yang membuat Mertyl Streep mendapatkan piala Oscar pertamanya. EMANG KEREN BANGET SIH AKTINGNYA! Dia jadi cewek Polandia dengan aksen yang meyakinkan. Pada saat adegan yang membuat dia terluka batin pun kita bisa melihat kepedihan tak terperi yang mengerikan dari ekspresi wajahnya. Haduh, na’udzubillah mindzaliq deh saya berada di posisi Sophie saat itu.
+ Kevin Kline waktu muda ganteng, ya!
+ Bagian sedihnya] itu sedih bangeeet T_T. Kesedihannya relate banget dengan saya yang…. (aduh, takut spoiler)
+ Suka banget dengan warna film produksi 1980-an. Warnanya terang, hangat, dan jelas.

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Peter MacNicol kok terasa kurang pas aja di sini, ya? Muka dia itu bukan muka pemain drama. Mukanya kocak sih…
– Meskipun aktingnya Meryl Streep keren parah, tapi dia terlihat kurang cantik untuk jadi cewek yang diperebutkan semua orang. Karakternya dibangun sebagai cewek yang kecantikannya memukau. Padahal mah biasa ae…
Meryl Streep memang bukan pilihan utama sang sutrdara, sih. Pilihan lainnya ada yang lebih kece-kece emang. Tapi konon Meryl sampai berlutut mohon-mohon biar dia dapat perannya. Dan hasilnya memang nggak bohong, sih.

Saya menonton film ini di Netflix. Ini dia trailernya…

blog

“Kita Obrolin ya”

“Aku sebel kalau berantem ama kamu. Berantem sama kamu tuh ga enak.”

“Aku juga…”

“Aku bisa aja tadi nurutin ego aku. Biarin aja kita diem-dieman. Tapi aku ingat, kita udah nikah 5 tahun. Masa makin lama nikah makin begitu? Hal-hal kayak begini yang nanti bikin keselnya akumulatif. Nanti jadi krisis. Nanti kita lupa kenapa awalnya kita berantem, tapi keselnya diingat terus…..
Kita obrolin ya. Abis itu baikan.”

“Iya”

blog

Bahagia Dari Diri Sendiri (oh, so cheesy)

“Lo bikin buku dong, Dis. Tulisan lo itu lucu. Gw selalu nungguin tulisan lo.”

“Lo kenapa nggak jadi penyiar radio sih, Dis? Lo itu rame. Terus lo itu juga lucu.”

“Kok nggak nulis lagi, Dis? Gw suka sama tulisan lo.”

Itu adalah beberapa omongan teman-teman dekat yang kenal saya sejak lama. Ciyeee seneng dong?

Sayangnya, saya nggak merasa senang sama sekali. Nggak bete sih, cuma rasanya jadi beban.

Oke, ini mungkin udah saatnya saya mencurahkan isi hati saya yang terdalam. Saya merasa diri saya sudah berubah. Entah bagaimana, tiba-tiba kelucuan saya dalam memandang hidup sedikit demi sedikit menguap secara pasti.

Awalnya saya nggak sadar kalau ia sudah menguap. Yang saya sadar adalah saya sibuk dengan pekerjaan, ngurus anak, ngurus rumah. Saya buka laptop ya hanya untuk bekerja. Kalau ada waktu luang, saya habiskan untuk nonton Youtube atau Netflix. Netflix, sih. Netflix is the best so far.

Hasrat untuk menulis menghilang karena tertelan lelah. Waktu itu saya pikir ini adalah fase writer’s block folbek dong kakaaaak, lalu di-block ama penulisnya. Begitu kan writer’s block? BUKAN!
Jadi ya sudah nunggu mood nulisnya datang aja.

Tahu-tahu saya jadi orang yang gampang tersinggungan. Saya sering merasa tertinggal atau ditinggal oleh teman-teman dekat saya. Sehingga satu per satu saya jadi ghosting mereka.

Tahu ghosting nggak? Saya juga baru tahu arti dari istilah itu kemarin sih. Jadi ghosting itu adalah mendadak menghilang atau memotong komunikasi dengan orang. Beberapa bulan terakhir ini saya tanpa sadar jadi sering ghosting orang. Dari berhenti komunikasi dengan orang-orang yang saya anggap dekat, sampai saya unfollow/unfriend semua akun media sosial mereka.

Saat itu saya merasa marah. Saya merasa ‘Adis yang baik, ramah, ceria, lucu’ ini seperti dianggap remeh. Hanya dicari saat dibutuhkan. Selebihnya, “Ah si Adis anaknya baik. Jadi dia nggak akan tersinggungan.”
Oooh gitu. Oke, bhay *unfollow semua akun medsos dan block nomor WhatsAppnya*

Lalu tersadar lah saya sekarang kalau teman saya semakin sedikit. Saya nggak punya teman di kantor. Karena memang saya jadi jaga jarak dengan mereka. Saya malas langsung beramah-ramah dengan orang yang saya baru kenal. Saya bahkan susah mencari bahan obrolan dengan orang!—-> Hal ini sangat-sangat-SANGAT tidak pernah terjadi sebelumnya. Saya adalah orang yang selalu punya bahan obrolan. Saya selalu bisa ngobrol dengan orang baru.

Saya berubah.

Image result for ksatria baja hitam berubah
No! Bukan berubah yang kayak gini. BUKAN!

Tapi kenapa saya berubah? Apa yang menyebabkan ini semua? Andaikan saya bisa menjadikan masalah rumah tangga sebagai alasannya, tapi (alhamdulillah) rumah tangga saya dengan Si Punk Rock baik-baik aja. Kriby juga alhamdulillah baik-baik aja.

Kalau saya mau coba berkontemplasi sambil menulis tulisan ini, kayaknya saya berubah itu karena………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………… eh sabar dong. Saya kan lagi mikir ini. ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………… Kayaknya saya berubah itu karena rasa kecewa. Saya kecewa dengan diri saya sendiri karena nggak menjadi orang yang saya harapkan.

Memangnya kamu berharap jadi apa, Dis?

Jadi ini lho

Image result for kim kardashian

Kim Kardashian????

Kenapa? Kenapa? Ada yang salah?
Ya udah kalau nggak boleh, saya mau jadi seperti ini aja…

Image result for kim jong un
Kim Jong Un

Kenapa? Nggak boleh juga? Jadi Kim Kardashian nggak boleh. Jadi Kim Jong Un pun nggak boleh. Jadi apa yang boleh?????? Susah sekali sih menyenangkan netizen ini.

Udah ah, lupakan aja netizen yang banyak mau ini. Kembali fokus ke masalah saya aja.*Ghosting semua netizen. Lah satu dunia gue ghosting dong? Terus yang baca blognya siapa??*

Kalian punya harapan apa dalam hidup? Saya punya beberapa harapan dalam hidup. Yaitu:
-Jadi Kim Kardashian
-Jadi Kim Jong Un
-Mencapai di titik puncak tertentu di dalam karir
-Jadi ibu yang bisa dibanggakan sama anak (berhubungan sama karir sih)
-Punya rumah yang asri di kawasan favorit saya

Nah, sayangnya sampai di titik ini saya belum mencapai itu semua. Secara karir, saya merasa masih begitu-begitu aja. Belum mencapai di titik yang saya harapkan. Bahkan sepertinya saya menjauh dari titik tersebut.

Pengen jadi ibu yang dibanggakan sama anak, tapi saya ngerasa kayak nggak punya pencapaian apapun yang bisa dibanggain sama bocah kesayangan.

Pengen punya rumah, tapi sampai sekarang rumahnya nggak terbeli. Sedangkan harga rumahnya “besok harga naik” melulu.

Lalu saya diam-diam stres. Saya merasa gagal. Merasa nggak berguna. Malu dan tersinggungan sama orang. Ngerasa kayaknya semua orang itu ngomongin ‘ketidakberhasilan’ saya. (Siape elu diomongin orang? Dih, gw kan Kim Kardashian!)

Intinya sih saya ke-GR-an aja kalau dunia itu nge-judge saya. Untung saya langsung ngerasa bahwa kayaknya masalahnya ada di saya. Saya coba lagi lihat sekitar dan hidup saya dengan lebih jelas *pake kacamata*.

Saya memang secara karir belum sampai di titik yang saya inginkan. Tapi saya punya pekerjaan, kan? Sedangkan ada beberapa teman saya sesama ibu punya anak yang desperate mencari kerja tapi tak kunjung ketemu. Sampai-sampai mereka rela menerima kerjaan apapun meski nggak nyambung sama pendidikan S1 mereka. Bahkan ada yang menerima kerjaan kelas buruh.
Ya tapi begitulah jadi ibu. Kami rela melakukan apapun demi keberlangsungan hidup anak kami. Tidak peduli apa kata orang, yang penting anak kami bisa hidup cukup.

Lalu di sinilah saya memikirkan apa kata orang tentang pencapaian karir saya yang belum kesampaian…. Padahal punya karir kayak saya begini aja mungkin udah sebuah pencapaian untuk teman-teman yang saya sebut tadi.

Begitu juga dengan pemikiran saya yang merasa jadi ibu yang gagal bikin anak saya bangga.
Eh please deh Dis, anak lo itu baru berumur 4 tahun. Bagi dia yang penting emaknya ada di rumah buat diajak main. Emang tolok ukur ‘ibu yang membanggakan’ itu kayak gimana sih? Jadi menteri perempuan yang keputusannya menentukan arah hidup orang banyak gitu, ya? Atau ada di TV buat pidato buka sidang paripurna DPR. Lah, emangnya saya ini Ceu Popong apah?

Image result for ceu popong
Mana paluna euweuh?

Mengenai punya rumah…
Saya pengen banget punya rumah yang asri, strategis, sejuk, dan aman. Tapi semua rumah kepengenan saya harganya milyaran (yah, maklumlah selera saya mahalan punya). Sedangkan rumah yang di bawah 500 juta adanya di ujung rural semua. Terlalu lelah dan terlalu lama kami habiskan di jalan hanya untuk menjemput rezeki di Jakarta kalau harus berangkat dari sana. Kapan ketemu sama anaknya kalau habis waktu di jalan?

Tapi…. Kalau dipikir-pikir lagi, sekarang setelah saya pindah kontrakan yang best buy ini, tempat tinggal saya juga asri, strategis, sejuk, dan insya Allah aman kok. Memang bukan rumah sendiri. Tapi yang punya kontrakan ini orangnya baik. Dia juga nggak mata duitan. Buktinya dia kasih kami harga miring hanya karena di mata dia kami orang baik dan bertanggung jawab (ciyeee). Eh tapi beneran. Sebelumnya yang tinggal di kontrakan kami ini bayarnya lebih besar. Tapi dia bikin berisik tetangga, akhirnya diusir. Pas kami datang menujukkan minat, dia langsung kasih harga murah karena kami adalah keluarga kecil dan di matanya terlihat bertanggung jawab

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
-Surah Ar-Rahman-

Kini semuanya terlihat jelas. Rupanya masalah saya selama ini adalah karena nggak pakai kacamata, makanya saya nggak melihat dengan jelas.

Oke gini…gini…
Yang saya dapat simpulkan adalah, selama ini saya stres karena saya menempatkan kebahagiaan saya di standar pandangan orang lain. Bahwa saya sudah harus super keren di karir, bahwa saya harus jadi ibu yang tanpa cela di mata anak saya (FYI, anak saya sudah melihat banyak cela saya. Tapi dia tetap sayang dan mencari saya, karena saya ibunya. Mengutip omongan teman saya, Amelia Virginia, anak di bawah umur 5 tahun itu mencintai ibunya tanpa pamrih. So chill, okay.)

Makanya mulai sekarang saya mau berusaha menempatkan standar kabahagiaan hidup saya melalu hidup saya sendiri. Berambisi boleh, tapi kalau ambisinya bikin stres dan jadi nggak punya teman, mungkin itu arogansi.

Semoga dengan blog yang saya tulis untuk berdamai dengan diri sendiri ini bikin saya tambah sering menulis. Menulis yang dari hati. Yang bisa menginspirasi. Yang bisa bikin orang jadi lebih baik sama diri. Atau seenggaknya bikin menceriakan hari. Yang bikin ketawa-ketiwi. Yang…. yang apalagi ya? Ya udah sik, emang segitu aja nggak cukup apah?

Susah banget sih menyenangkan netizen.