
Waktu itu ada seorang teman yang cerita masa-masa dia pernah berselingkuh. Dia sebut satu-persatu nama selingkuhannya. Si ini, si itu, si A, si B, dan seterusnya. Lalu dia akhiri dengan bertanya seperti ini ke saya: “Kalau elo, nggak punya banyak fase dalam hidup lo ya?”
Hah, fase? Perselingkuhan itu sebuah fase gitu?
Saya yang masih mempunyai sifat people pleaser yang agak kuat ini, berusaha menjawab dengan baik-baik walaupun sebenarnya saya tersinggung. Saya jawab gini: “Tidak. Karena gw nggak suka berpetualang dan gw nggak mau pusing hehehe…”
Setelah menjawab itu rasa tersinggung saya masih nggak reda. Saya mencoba menelaah perasaan saya sendiri kenapa saya tersinggung ya? Mungkin kah karena bagi dia selingkuh itu hanya fase? Mungkin juga karena dia menyamaratakan bahwa semua orang pasti mengalami ‘fase’ seperti itu?
Entah lah. Yang pasti saya tersinggung. Tapi selayaknya orang udah dewasa, maka kita telen aja deh tersinggung itu demi menjaga hubungan baik yekan.
Keesokan harinya saya nemenin teman saya yang lainnya syuting. Seperti yang kita ketahui, proses syuting itu makan waktu luamaaaaa banget. Jadi bisa dikatakan setengah hari hanya dihabiskan untuk menunggu di-take.
Untungnya teman-teman cast-nya pada ramah dan seru buat diajak ngobrol. Salah satunya Pak Ado (bukan nama sebenarnya). Di proses menunggu syuting yang luamaaa itu, Pak Ado bercerita tentang masa lalunya.
Dia itu dulu nakal banget. Dia peminum alkohol berat sampai ditahap candu. Dia juga pemakai narkoba untuk rekreasi. Dia juga suka selingkuh sana-sini. Protes istrinya tidak ia gubris. Sampai akhirnya rumah tangganya hancur. Ia tidak diperbolehkan untuk bertemu-anak-anaknya lagi.
Hal ini bukannya membuat ia jera, malah membuat ia makin gencar untuk nakal. Nothing to lose. Ia menjadikan alkohol dan narkoba sebagai pelariannya. Ia bahkan sudah pernah over dosis narkoba sampai dibawa ke rumah sakit. Apakah ia kapok? Kapok pakai narkoba jenis tertentu sih iya. Tapi minum alkohol tetap lanjut. Sampai suatu hari ia ngak bisa bangun dari tempat tidur karena komplikasi alkohol. Ia dilarikan lagi ke rumah sakit. Baru deh dia tobat berhenti minum alkohol.
Sejak itu Pak Ado mulai menata hidupnya kembali. Ia berhenti dari semua narkoba dan alkohol. Ia mulai mendekatkan diri kembali ke agama. Kini ia sudah menikah kembali dan bahagia dengan istri barunya.
“Itulah fase (hidup),” kata Pak Ado mengakhiri ceritanya.
Saya agak terhenyak pas Pak Ado mengatakan itu. Berbeda dengan sikap saya pada teman saya sebelumya, saya justru setuju sekali definisi fase dari Pak Ado ini.
Apa yang berbeda antara ‘fase’ teman saya dengan ‘fase’nya Pak Ado ini? Mereka sama-sama bikin dosa, tapi kenapa fasenya Pak Ado terasa pas sedangkan fasenya teman saya malah bikin tersinggung? Apakah saya ini Gen Z yang dikit-dikit ‘take it personal‘?
Saya langsung menyadari perbedaan signifikan dari fase dari kedua orang tersebut. Fasenya teman saya itu terkesan untuk mengglorifikasi dosa masa lalu. Sedangkan fasenya Pak Ado adalah untuk pembelajaran dari masa lalu.
Fasenya teman saya itu tanpa rasa penyesalan karena semuanya dia anggap hanya permainan. Sedangkan fasenya Pak Ado penuh harap pengampunan agar diterima lagi sebagai manusia yang baik di mata Tuhan.
Yang satu dikasih fase dosa hanya untuk ditertawakan saja. Sedangkan yang satu lagi dikasih fase dosa untuk jadi bahan menata kehidupannya.
Perbedaan yang paling signifikan dari mereka berdua adalah, teman saya masih egois karena tidak merasa ada yang salah dari perbuatannya. Sedangkan Pak Ado pernah egois karena dia kini sudah sadar kalau perbuatannya salah.
Sekarang pertanyaannya adalah sedalam apa dosa yang akan kita selami ketika kita mengikuti egoisme diri? Apakah dosa itu nanti akan kita daulat sebagai fase bermain atau fase perbaikan diri?






Comment