Review: Unsane (2018)

Film Unsane lumayan bikin saya menebak-nebak mana realita yang sebenarnya.

Alkisah seorang perempuan bernama Sawyer Valentini (Claire Foy) baru pindah ke sebuah kota baru dengan pekerjaan barunya. Sawyer sebenarnya pindah ke kota tersebut karena kabur dari masa lalunya yang bikin trauma. Sawyer tidak ada masalah dengan pekerjaannya, namun ia selalu merasa ‘masa lalu’nya selalu mengejarnya. Ditambah ia juga belum memiliki teman di kota tersebut.
Karena merasa tertekan, akhirnya Sawyer menghadap ke psikiater untuk memulihkan dirinya. Begitu ia keluar dari ruang klinik psikiater, ia ditahan untuk tidak pulang. Ia digiring ke ruang klinik lainnya, lalu ‘dipaksa’ untuk rawat inap selama seminggu di bangsal rumah sakit khusus pasien gangguan jiwa. Apakah benar Sawyer tidak sehat jiwanya? Apakah ‘trauma masa lalu’ Sawyer beneran ada?

Yang saya suka dari film ini:
+ Film ini menggiring saya untuk terus menebak sampai apa yang sebenarnya terjadi pada Sawyer. Apakah ia beneran ‘sakit’ atau ia ‘disakitkan’? Cara ia membangun suspense-nya bagus.
+ Akting Claire Foy apik. Claire Foy namanya melambung saat ia memerankan sang ratu muda di serial The Crown season 1. Sedangkan di film ini ia memerankan Sawyer seorang perempuan Amerika. Ia berhasil membuat kita lupa dengan Claire Foy di serial The Crown. Hilang sudah semua keratuan Inggrisnya. Hilang blaaaas.
+ Gloomy-nya dapat banget. Suasana gloomy ini yang berkontribusi banyak dalam membuat saya menebak-nebak ‘apakah benar Sawyer sakit’?

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Film ini dibuat pakai iPhone ya gaes. Walaupun teknik ini yang membuat film ini mendapat pujian, tapi saya sih kurang menikmatinya kalau dari gambar. Kayak ngaruh ke sound dan terasa statis aja gitu. Warnanya juga kurang cakep jadinya.

Tapi sekarang kita jadi tahu kalau kita semua bisa bikin film hanya dengan iPhone.
Pakai iPhone yang asli yang gaes. Selalu beli dari penjual resmi, ya.

-Meski akting Claire Foy ciamik, tapi beberapa kali dia kayak keserimpet ngeluarin logat Inggrisnya.
-Si antagonisnya klise banget karena susah dikalahin. Udah diberantemin, eh bangun lagi. Udah kabur jauh, eh muncul lagi. Set dah, penjahat apa debt collector lu?

Rate: 3,8 out of 5
Saya nonton film ini di Mola TV

Ini trailernya…

Review: The Voyeurs (2021)

Film The Voyeurs mengajarkan kita kalau ngintipin tetangga itu memang berbahaya gaes.

Alkisah ada sepasang kekasih yang baru aja memutuskan untuk tinggal bareng (astagfirullah, kumpul kebo!). Mereka adalah Pippa (Sydney Sweeney) dan Thomas (Justice Smith). Apartemen baru mereka luas dengan jendela yang besar-besar. Dari jendela besar itu, mereka bisa melihat ke apartemen tetangga di gedung seberang. Di seberang sana tinggal lah pasangan ganteng dan cantik, Seb (Ben Hardy) dan Julia (Natasha Liu Bordizzo).
Awalnya Pippa dan Thomas tidak sengaja dan iseng-iseng aja melihat tingkah laku tetangganya yang terpampang nyata dari jendela mereka. Namun lama-lama Pippa jadi agak terobsesi menonton tingkah laku tetangganya. Sampailah Pippa melihat Seb tidur dengan banyak wanita lain ketika Julia sedang keluar rumah. Pippa kemudian memutuskan untuk memberitahukan Julia tentang kelakuan Seb. Larangan dari Thomas tidak diindahkannya. Dan benar saja, kini malah Pippa yang tertimpa masalah yang tidak ia duga-duga sebelumnya.

Yang saya suka dari film ini:
-Ada banyak plot twist di film ini. Jadi alurnya lumayan susah ditebak. Apalagi endingnya!
-Senang akhirnya bisa melihat akting Sydney Sweeney sebagai cewek ceria. Sebelumnya saya melihat dia sebagai cewek depresi atau sad girl mulu.
-Pengambilan gambarnya bagus. Serasa menonton kehidupan tetangga dari jendela sendiri. Saya juga jadi kepengin punya teropong yang digunakan Pippa buat ngintipin tetangganya. Mau saya pake buat lihat-lihat awan aja (yeah riiight!). Kalau mau beliin saya teropong, silakan klik link ini ya gaes: teropong keren wuiwuiwuiiii
-Akting Ben Hardy dan Natasha Lio Bordizzo juga oke. Sebagai pasangan yang kita lihat dari jarak jauh doang dan tanpa suara, kita bisa memahami konflik yang mereka alami.
-Film ini banyak adegan erotisnya, hehehehe

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Ini pertama kalinya saya menonton Justice Smith. Ternyata suaranya Justice Smith itu ngebass BANGET ya. Jadi di menit-menit awal nonton, saya ampe ngirain ini aktor lagi becanda atau gimana ya? Suara ngebassnya itu kayak orang lagi sok-sok niruin suara ngebass. Kayak orang lagi ngenyek gitu, lho. TAPI TERNYATA ITU SUARA ASLI!
-Film ini terselip adegan erotis di sana-sini. Jadi mohon untuk tidak ditonton bersama anak di bawah umur, ya.

Rate: 4 out of 5
Saya nonton film ini di Prime Video.

Ini trailernya…

Review: The Swarm (2020)

Penyuka film thriller monster/hewan, pasti suka dengan film The Swarm ini.

Alkisah hiduplah seorang single mom bernama Virgine Hebrard (Suliane Brahim). Ia hidup di perdesaan Perancis dengan dua orang anaknya yang beranjak remaja. Virgine punya peternakan belalang yang menjadi sumber penghasilan utama keluarganya. Belalang ini bisa diolah jadi tepung berprotein tinggi dan juga pakan bebek.
Namun kini usaha Virgine mengalami penurunan. Ia nggak bisa mengejar permintaan pasar karena belalangnya tidak berkembang biak sebanyak yang seharusnya. Di tengah kefrustrasiannya Virgine tanpa sengaja menemukan cara membuat belalangnya bereproduksi lebih banyak dan lebih cepat. Yaitu dengan memberi pakan darah. Dari situlah jiwa haus darah Virgine mulai muncul…

Yang saya suka dari film ini:
+ Membangun konfliknya bagus. Kita jadi paham dengan permasalahan masing-masing tokoh
+ Pemandangan pedesaan Perancis itu bagus ya. Tapi saya memang selalu suka alam pedesaaan Eropa, sih. Jadi kayaknya poin ini terlalu subyektif hahaha
+ Saya selalu suka dengan perfilman Perancis yang nggak mengedepankan perempuan cantik dan seksi untuk jadi tokoh utama yang disukai atau menghalangi si tokoh utama mendapatkan cinta. Sejauh ini penggambaran tokoh perempuan di sinema Perancis selalu beragam dan nggak mematok standar kecantikan tertentu. Hal ini membuat kisah dan penggambarannya jadi terasa nyata.
+ Scoringnya oke lah…
+Banyak pengambilan gambar belalangnya yang bagus banget. Sampai bikin saya mikir, ini belalang beneran nggak ya?

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Kurang serem sih sejujurnya. Mungkin karena saya penyuka horor hantu kali ya. Jadi thriller-thriller semacam ini terasa datar aja aja di ane.
-Ini tuh tipe-tipe film hening minim dialog khas festival sih. Jadi mungkin akan terasa bosan dan lamban.
-Endingnya gitu doang -_-

Film ini saya tonton di Netflix.
Rate: 3 out of 5

Ini trailernya…

#film #reviewfilm #reviewTheSwarm #reviewnetflix #reviewKrili #thriller #TheSwarm #filmPerancis #Krilianeh

Review: The Terror (2018)

The Terror itu nama sebuah kapal lho, ya. Tapi serial ini emang penuh dengan teror sih…

Serial ini berdasarkan kisah nyata tentang ekspedisi Kapten Franklin atau yang biasa disebut dengan Franklin’s Expedition.

Begini kisahnya…
Pada tahun 1845 Kapten Franklin (Ciaran Hinds) diutus melakukan ekspedisi laut untuk mencari jalur dagang baru lewat samudera Arktik. Jika ekspedisi ini berhasil, nama Kerajaan Inggris akan tersohor karena mencatat sejarah dunia karena telah menemukan jalur potong yang lebih cepat untuk perdagangan antara benua barat ke benua timur.
Maka berangkatlah Kapten Franklin bersama 129 orang petugas dan awak kapal. Ia memboyong dua buah kapal tercanggih pada masa itu, HMS Erebus dan HMS Terror. Seluruh kru kapal adalah orang-orang yang terlatih dan berkepala dingin. Persediaan makan mereka banyak dan aman untuk beberapa tahun ke depan. Terlebih, mereka bisa dikatakan orang-orang pertama yang menggunakan makanan kaleng yang merupakan penemuan mutakhir pada masa itu.
Tapi alam tidak bisa diprediksi. Kapal mereka tertahan di tengah laut yang membeku karena dinginnya iklim Arktik. Ini saatnya mereka harus putar otak mencari pertolongan rescue, sembari bertahan hidup menghadapi teror dari monster yang ingin memangsa mereka. Meskipun sejarah telah mencatat kalau mereka tidak akan pernah kembali lagi…

Yang saya suka dari serial ini:
+ Set dan lokasinya niat! Mereka melakukan riset agar set dan lokasinya menyerupai kapal asli Erebus dan Terror.

Dari green screen begini….
Jadi kayak kapal beneran gitu. Edan lah…

+ Aktingnya Tobias Menzies dan Jared Harris keren parah! Tobias Menzies sih yang saya suka banget. Aktingnya nggak pernah sama di serial manapun. Tapi selalu bagus! Fixed lah saya jatuh cinta sama Akang Tobi—-> panggilan saya untuk Tobias Menzies. Mulai sekarang, nama Tobias Menzies akan selalu masuk di watchlist saya.

Akang Tobi, aku padamu, kang! *kecup-kecup manja*

+ Serial ini tokohnya banyak. Tapi semua proporsinya pas.
+ Saya mendapat banyak pelajaran dari serial ini. Di antaranya adalah, tentang pentingnya anak buah mematuhi perintah atasan di militer, tentang pentingnya berkepala dingin bahkan saat terdesak sekalipun, tentang upaya bertahan hidup, tentang pentingnya percaya sama sains ketimbang hal-hal mistis, banyak lah pelajarannya….
+ Serial ini nggak perlu menggembar-gemborkan heroisme ala Hollywood. Tapi di serial ini kita bisa melihat sendiri bahwa pahlawan sejati itu bekerja dalam diam dan tidak membutuhkan penghargaan.
+ Posternya bagus! Sangat menggambarkan teror yang mencekam.

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Serial ini banyak banget mengambil fakta-fakta dari sejarah. Tapi jadi kecewa begitu perkara monster jadi mengambil peran yang cukup besar di serial ini. Padahal tanpa monster itu pun udah terasa mencekamnya. Karena sesungguhnya yang paling jahat dan kejam itu adalah manusia, bukan makhluk lain.
– Endingnya tuh kayak mau menyenangkan hati penonton. Padahal menurut sejarah endingnya tragis. Harusnya sih endingnya jadi apa adanya aja, menurut saya.

Saya nonton serial ini di Prime Video.
Rate: 4 out of 5

Ini trailernya…


Review: Nocturne (2020)

Film Nocturne menjelaskan dengan gamblang kalau terlalu sama itu justru hanya menimbulkan iri dan dengki.

Alkisah hiduplah saudari kembar Juliet (Sydney Sweeney) dan Vivian (Madison Iseman). Keduanya punya bakat musik piano. Mereka sama-sama sekolah di SMK khusus seni. Namun sayangnya jalan hidup mereka mulai berbeda. Vivian yang periang dan sudah punya pacar diterima kuliah di universitas musik ternama Julliard. Sedangkan Juliet ditolak. Tidak peduli seberapa lama Juliet mengurung dirinya untuk berlatih, ia tidak pernah bisa menyamai keterampilan Vivian dalam bermain piano.

Sampailah pada suatu hari Juliet menemukan buku catatan musik milik murid yang beberapa waktu lalu bunuh diri di sekolah tersebut. Makin Juliet mendalami buku catatan itu, secara perlahan tapi pasti hidupnya mulai berubah menjadi Vivian yang selama ini ia irikan. Ternyata buku itu adalah gerbang untuk melakukan perjanjian dengan setan.

Yang saya suka dengan film ini:
+ Akting dan raut muka Sydney Sweeney memang cocok untuk jadi anak iri dan frustasi.
+ Konflik batin dan siblings rivalry yang ditampilkan di film ini relatable banget.
+ Alur ceritanya bagus. Bagian seremnya sedikit, tapi sekalinya muncul terasa serem banget.
+ Film ini nggak perlu nunjukin sosok menyeramkan untuk bisa membuat kita merinding. Setelah nonton film ini, kayaknya saya akan agak-agak takut lihat cahaya oranye selain dari matahari.
+ Tokoh Dr. Cask yang diperankan Ivan Shaw ganteng euy!
+ Posternya bagus!
+ Berhubung ini film tentang anak sekolah musik, jadi banyak lagu klasik enak buat didengar.

Yang saya suka dari film ini:
– Muka Sydney Sweeney dan Madison Iseman nggak mirip woi buat jadi anak kembar.

Rate: 4 out of 5
Film ini saya tonton di Prime Video.

Ini trailernya…

Review: The Occupant (2020)

Setelah menonton The Occupant, saya jadi berkesimpulan film Spanyol itu pada bagus-bagus ya, gaes…

Film Spanyol ini mengisahkan tentang Javier Muñoz (Javier Gutiérrez) seorang bos periklanan yang baru saja kehilangan pekerjaannya. Ia sekarang ke sana kemari untuk interview sana-sini. Tapi tidak ada yang memberikan respon yang menggembirakan. Karena tidak ada pemasukan, ia sekeluarga terpaksa pindah dari apartemen mewah ke apartemen kecil di kawasan nggak elit. Mobil BMW-nya juga terpaksa dijual.
Suatu hari Javier kangen dengan apartemen lamanya. Sambil menunggu mobilnya laku, ia kendarai mobil BMWnya untuk melihat apartemen lamanya dari kejauhan. Rupanya apartemen itu sudah ditempati oleh keluarga baru. Diam-diam muncul ide tidak baik di benak Javier. Ia sepertinya tahu cara mendapatkan hidup enak seperti yang dulu pernah ia jalani.

Yang saya suka dari film ini:
+ Film ini membangun misteri cara berpikir Javier dengan apik. Kita baru benar-benar paham apa maksud Javier di akhir cerita.
+ Setuju dengan salah satu reviewer yang mengatakan kalau film ini memberikan contoh nyata tentang toxic fragile masculinity. Dimana pria yang merasa gagal sebagai lelaki akan berusaha berbuat apapun demi merasa jadi ‘lelaki’ kembali.
+ Ada Mario Casas yang gantengnya nggak santai. Tampang dia tuh kayak gabungan Nick Jonas sama Jason Mamoa.

Mario…

+ Spanyol itu bagus ya. Semoga akan ada rezeki untuk bisa liburan ke sana. Tentunya setelah corona slompret ini berakhir.
+ Jalan ceritanya lumayan nggak ketebak deh nih film. Twist-nya nggak cuma satu.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Terlepas dari akting Javier Gutiérrez yang oke, cuma entah kenapa postur tubuhnya yang nggak tinggi lumayan membuat ia terlihat ‘gubrak’ gitu. Jadi karakternya yang dibangun sebagai pria diam namun bermuslihat itu malah bikin saya pengen toyor kepalanya sambil bilang ‘mau apa sih lu, cil? Ganggu hidup orang aja lu’.
– Suara Mario Casas itu kayak nggak pas ama tampangnya.
– Alurnya agak lambat dan kita dibuat menebak-nebak terus. Mungkin kalau orang yang nggak sabar akan merasa kalau film ini membosankan.

Rate: 4 out of 5
Saya nonton film ini di Netflix.

Ini trailernya…

Review: Revenge

Category: Movies
Genre: Thriller, Gore
Rate: 3,5 out 5

Image result for revenge movie 2018

Film ini mengisahkan tentang cewek simpanan bernama Jen (Matilda Anna Ingrid Lutz). Ia diajak gadunnya ke sebuah villa mewah namun terpencil di sebuah gurun. Rupanya Jen tidak sendirian sama gadunnya doang. Sang gadun, Richard (Kevin Jenssens), juga mengajak dua temannya.
Acara kumpul-kumpul bareng yang tadinya menyenangkan berubah begitu Richard pergi sebentar dari villa tersebut. Jen diperkosa oleh salah satu temannya Richard. Begitu Richard kembali, Jen langsung minta untuk pulang. Jen sampai mengancam akan mengadukan hubungan mereka ke istri Richard jika ia tidak dipulangkan saat itu juga. Hal itu memicu emosi Richard. Richard kemudian mendorong Jen ke jurang dan meninggalkan ia untuk mati di gurun. Yang Richard dan teman-temannya tidak tahu adalah Jen tidak mati di sana.

Yang saya suka dari film ini:
+ Konsistensi make up dan set serta lokasinya juara!
+ Aktingnya oke-oke, walaupun saya belum pernah melihat mereka sebelumnya.
+ Darahnya buanyaaaaaak. Blood! Blood! Blood everywhere!
+ Warna darahnya juga bagus kayak asli
+ Alurnya realistis

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Cara survive Jen nggak masuk akal. Nggak pakai makan dan minum gitu?
– Meskipun alurnya realistis, tapi ada beberapa hal yang nggak masuk logika. Contohnya, setelah terluka kayak gitu, emang darahnya nggak abis apa? Lemes pun nggak? Yang boneng lu!

Film ini tidak saya sarankan untuk ditonton oleh anak dibawah 17 tahun, ya.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya…

Review: The Perfection

Category: Movies
Genre: Thriller
Rate: 4 out of 5

Image result for the perfection

Film dibuka dengan meninggalnya ibunda Charlotte (Allison Williams) yang telah lama sakit. Dulunya Charlotte adalah pemain cello sangat berbakat. Sayangnya ia harus mengentikan studi cellonya demi merawat ibunya yang sakit. Nah, sepeninggal ibunya, Charlotte menghubungi kembali guru cellonya, Anton (Steven Weber). Anton kemudian mengundang ia ke China menghadiri konser cello Lizzie (Logan Browning) yang juga anak didik Anton.
Seusai konser Charlotte banyak berbincang dengan Lizzie. Mereka kemudian jadi sangat akrab dalam semalam. Keesokan harinya Lizzie mengajak Charlotte untuk ikut dalam liburannya keliling China. Sayangnya semua tidak berjalan dengan semestinya….

Yang saya suka dengan film ini:
+ Ini film alurnya nggak ketebak. Banyak banget twist-nya. Sinopsis yang saya tulis di atas pun bisa jadi menyesatkan karena ceritanya nggak gitu doang pemirsah…
+ Aktingnya oke-oke. Terutama aktingnya Logan Browning
+ Pecinta thriller kayaknya nggak akan kecewa nonton film ini. Suspense dan menegangkannya dapat pas.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Ada beberapa bagian yang nggak masuk akal atau nggak runut ama cerita. Tapi nggak sampai tahap ganggu, sih.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya…

Review: The Invitation

Category: Movies

Genre: Thriller

Rate: 4 out 5

Film ini mengisahkan tentang Will (Logan Marshall-Green) yang diundang untuk reuni makan malam di rumah mantan istrinya. Will dan mantan istrinya, Eden (Tammy Blanchard), berpisah sejak anak mereka meninggal. Mereka satu sama lain depresi karena berduka, lalu Eden memutuskan untuk berpisah dengan Will sejak bertemu David (Michiel Huisman) di sebuah perkumpulan konseling. Eden dan David kemudian menghilang selama dua tahun ke Meksiko. Begitu mereka kembali, Eden dan David mengundang teman-teman lamanya untuk reuni di rumah lama mereka. Will menyambut undagan itu dengan datang bersama pacar barunya Kira (Emayatzy COrinealdi).

Memasuki rumah lama yang pernah Will huni bersama Eden dan mendiang anak mereka membuat emosi Will lumayan campur aduk. Namun lama-kelamaan Will merasa ada sesuatu yang aneh dengan reuni tersebut. Terutama dengan Eden dan David. Will tak habis pikir bagaimana mereka sepulang dari Meksiko bisa begitu bahagia, lapang dada, dan tak tersisa kesedihan pun dalam diri Eden dan David. Will juga semakin curiga saat David memutarkan video kegiatan perkumpulan mereka di Meksiko dengan mengunci seluruh rumah tersebut. Ada yang tidak beres….

 

Yang saya suka dari film ini:

-Aktingnya Logan Marshall-Green ciamik! Dia bisa menggambarkan kesedihan kehilangan dengan muka yang lempeng.

-Penulisan naskah film ini keren!

-Tokohnya beragam dan memperkuat cerita.

-Michiel Huisman itu ganteng banget ya….hhhh…

-Tokoh Claire diperankan dengan sangat baik oleh Marieh Delfino

-Endingnya oke dan cukup wuaw.

-Poster filmnya bagus. Poster film kan memang ada beberapa versi, ya. Tapi versi yang saya taruh di sini menurut saya keren. Hipster tapi tetap dark. Beda banget sama poster film thriller yang berdarah-darah atau seram yang malah jadi norak.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Logan Marshall-Green kalau nggak pakai kumis dan jenggot hipsternya nggak kece

-Ada satu tokoh yang tidak terjelaskan. Sebenarnya doi itu siapa, sih?

-Tokoh Eden agak ganggu. Agak kelamr-klemer minta ditampar.

-Usaha keragaman ras dalam film ini agak terkesan maksa, menurut saya. Masih dalam upaya memerangi #OscarSoWhite kah?

 

Ini tarilernya…

Review: Crimson Peak

Category: Movies

Genre: Horror, Thriller

Rate: 3 out of 5

Film ini dibuka dengan adegan Edith Cushing (Mia Wasikowska) kecil mengantar jenazah ibunya ke pemakaman. Setelah itu ia didatangi oleh hantu yang mengatakan agar ia waspada terhadap Crimson Peak. Tahun berganti, Edith yang sudah menjadi seorang gadis itu sedang memulai kariernya untuk menjadi penulis novel. Tanpa sengaja ia berkenalan dengan Thomas Sharpe (Tom Hiddleston), seorang penambang yang sedang ada janji temu dengan ayah Edith untuk menawarkan kerja sama. Edith dan Thomas tidak dapat menutupi ketertarikan mereka masing-masing. Namun Ayah Edith yang merupakan seorang pengusaha sukses punya perasaan tidak enak terhadap Thomas. Ia pun mengirim detektif swasta untuk mencari tahu latar belakang Thomas. Benar saja, ada sesuatu yang tidak beres dengan Thomas dan kakaknya, Lucille Sharpe (Jessica Chastain). Sambil memberikan selembar cek, ayah Edith lalu menyuruh Thomas dan Lucille pergi dari kehidupan mereka. Tetapi setelah itu ayah Edith dibunuh. Edith yang terpukul kemudian menerima pinangan Thomas, lalu mereka pindah ke Inggris ke rumah Thomas dan Lucille dibesarkan. Sesampainya Edith di rumah yang menyeramkan dan banyak yang rusak itu, ia mulai didatangi oleh hantu-hantu yang nampaknya berusaha memberikan peringatan kepadanya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

 

Yang saya suka dari film ini:

-Saya nonton film ini karena sutradaranya Guillermo del Toro. Sejak nonton Pan’s Labyrinth, saya jadi penasaran dengan karya-karya beliau.

-Beberapa adegan sadis dan ngilu khas Guillermo masih berhasil bikin lumayan gilu.

-Darahnya kayak beneran.

-Akting Mia, Tom, dan Jessica masih ciamik.

-Baju-bajunya lumayan niat dan ada beberapa yang bagus.

-Tata rambut Edith di film ini baguuuuuus banget. Pengen deh nyoba rambutnya disanggul begitu.

-Dari film ini saya jadi mengerti kenapa banyak cewek yang suka nan tergila-gila dengan Tom Hiddleston. Saya juga jadi lumayan naksir ama badan tinggi bidang doi.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Jalan ceritanya ketebak

-Hantunya nggak nyeremin. Awalnya sih iya, lama-lama biasa aja.

-Saya mulai curiga kalau Mia Wasikowska itu kayaknya nggak suka adegan ciuman deh. Abis ciumnya kayak dingin dan mikir gitu.

-Nggak ada adegan yang bikin gemes atau ketakutan greget gitu. Lebih serem trailernya.

-Film ini mengandung adegan sadis ya. Jadi sebaiknya tidak ditonton oleh anak kecil ya.

Review ini juga bisa dibaca via Line @ymg2576q

Ini trailernya…

 

 

menceritakan tentang Edith  putri tunggal pengusaha Carter Cushing (Jim Beaver). Edith sedang memulai karier menulis novelnya ketika ia bertemu . Saat itu Thomas yang merupakan  Thomas tertarik dengan tulisan Edith, mereka pun saling menjalin