review

Review: Revenge

Category: Movies
Genre: Thriller, Gore
Rate: 3,5 out 5

Image result for revenge movie 2018

Film ini mengisahkan tentang cewek simpanan bernama Jen (Matilda Anna Ingrid Lutz). Ia diajak gadunnya ke sebuah villa mewah namun terpencil di sebuah gurun. Rupanya Jen tidak sendirian sama gadunnya doang. Sang gadun, Richard (Kevin Jenssens), juga mengajak dua temannya.
Acara kumpul-kumpul bareng yang tadinya menyenangkan berubah begitu Richard pergi sebentar dari villa tersebut. Jen diperkosa oleh salah satu temannya Richard. Begitu Richard kembali, Jen langsung minta untuk pulang. Jen sampai mengancam akan mengadukan hubungan mereka ke istri Richard jika ia tidak dipulangkan saat itu juga. Hal itu memicu emosi Richard. Richard kemudian mendorong Jen ke jurang dan meninggalkan ia untuk mati di gurun. Yang Richard dan teman-temannya tidak tahu adalah Jen tidak mati di sana.

Yang saya suka dari film ini:
+ Konsistensi make up dan set serta lokasinya juara!
+ Aktingnya oke-oke, walaupun saya belum pernah melihat mereka sebelumnya.
+ Darahnya buanyaaaaaak. Blood! Blood! Blood everywhere!
+ Warna darahnya juga bagus kayak asli
+ Alurnya realistis

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Cara survive Jen nggak masuk akal. Nggak pakai makan dan minum gitu?
– Meskipun alurnya realistis, tapi ada beberapa hal yang nggak masuk logika. Contohnya, setelah terluka kayak gitu, emang darahnya nggak abis apa? Lemes pun nggak? Yang boneng lu!

Film ini tidak saya sarankan untuk ditonton oleh anak dibawah 17 tahun, ya.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya…

Iklan
review

Review: The Perfection

Category: Movies
Genre: Thriller
Rate: 4 out of 5

Image result for the perfection

Film dibuka dengan meninggalnya ibunda Charlotte (Allison Williams) yang telah lama sakit. Dulunya Charlotte adalah pemain cello sangat berbakat. Sayangnya ia harus mengentikan studi cellonya demi merawat ibunya yang sakit. Nah, sepeninggal ibunya, Charlotte menghubungi kembali guru cellonya, Anton (Steven Weber). Anton kemudian mengundang ia ke China menghadiri konser cello Lizzie (Logan Browning) yang juga anak didik Anton.
Seusai konser Charlotte banyak berbincang dengan Lizzie. Mereka kemudian jadi sangat akrab dalam semalam. Keesokan harinya Lizzie mengajak Charlotte untuk ikut dalam liburannya keliling China. Sayangnya semua tidak berjalan dengan semestinya….

Yang saya suka dengan film ini:
+ Ini film alurnya nggak ketebak. Banyak banget twist-nya. Sinopsis yang saya tulis di atas pun bisa jadi menyesatkan karena ceritanya nggak gitu doang pemirsah…
+ Aktingnya oke-oke. Terutama aktingnya Logan Browning
+ Pecinta thriller kayaknya nggak akan kecewa nonton film ini. Suspense dan menegangkannya dapat pas.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Ada beberapa bagian yang nggak masuk akal atau nggak runut ama cerita. Tapi nggak sampai tahap ganggu, sih.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya…

review

Review: The Invitation

Category: Movies

Genre: Thriller

Rate: 4 out 5

Film ini mengisahkan tentang Will (Logan Marshall-Green) yang diundang untuk reuni makan malam di rumah mantan istrinya. Will dan mantan istrinya, Eden (Tammy Blanchard), berpisah sejak anak mereka meninggal. Mereka satu sama lain depresi karena berduka, lalu Eden memutuskan untuk berpisah dengan Will sejak bertemu David (Michiel Huisman) di sebuah perkumpulan konseling. Eden dan David kemudian menghilang selama dua tahun ke Meksiko. Begitu mereka kembali, Eden dan David mengundang teman-teman lamanya untuk reuni di rumah lama mereka. Will menyambut undagan itu dengan datang bersama pacar barunya Kira (Emayatzy COrinealdi).

Memasuki rumah lama yang pernah Will huni bersama Eden dan mendiang anak mereka membuat emosi Will lumayan campur aduk. Namun lama-kelamaan Will merasa ada sesuatu yang aneh dengan reuni tersebut. Terutama dengan Eden dan David. Will tak habis pikir bagaimana mereka sepulang dari Meksiko bisa begitu bahagia, lapang dada, dan tak tersisa kesedihan pun dalam diri Eden dan David. Will juga semakin curiga saat David memutarkan video kegiatan perkumpulan mereka di Meksiko dengan mengunci seluruh rumah tersebut. Ada yang tidak beres….

 

Yang saya suka dari film ini:

-Aktingnya Logan Marshall-Green ciamik! Dia bisa menggambarkan kesedihan kehilangan dengan muka yang lempeng.

-Penulisan naskah film ini keren!

-Tokohnya beragam dan memperkuat cerita.

-Michiel Huisman itu ganteng banget ya….hhhh…

-Tokoh Claire diperankan dengan sangat baik oleh Marieh Delfino

-Endingnya oke dan cukup wuaw.

-Poster filmnya bagus. Poster film kan memang ada beberapa versi, ya. Tapi versi yang saya taruh di sini menurut saya keren. Hipster tapi tetap dark. Beda banget sama poster film thriller yang berdarah-darah atau seram yang malah jadi norak.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Logan Marshall-Green kalau nggak pakai kumis dan jenggot hipsternya nggak kece

-Ada satu tokoh yang tidak terjelaskan. Sebenarnya doi itu siapa, sih?

-Tokoh Eden agak ganggu. Agak kelamr-klemer minta ditampar.

-Usaha keragaman ras dalam film ini agak terkesan maksa, menurut saya. Masih dalam upaya memerangi #OscarSoWhite kah?

 

Ini tarilernya…

review

Review: Crimson Peak

Category: Movies

Genre: Horror, Thriller

Rate: 3 out of 5

Film ini dibuka dengan adegan Edith Cushing (Mia Wasikowska) kecil mengantar jenazah ibunya ke pemakaman. Setelah itu ia didatangi oleh hantu yang mengatakan agar ia waspada terhadap Crimson Peak. Tahun berganti, Edith yang sudah menjadi seorang gadis itu sedang memulai kariernya untuk menjadi penulis novel. Tanpa sengaja ia berkenalan dengan Thomas Sharpe (Tom Hiddleston), seorang penambang yang sedang ada janji temu dengan ayah Edith untuk menawarkan kerja sama. Edith dan Thomas tidak dapat menutupi ketertarikan mereka masing-masing. Namun Ayah Edith yang merupakan seorang pengusaha sukses punya perasaan tidak enak terhadap Thomas. Ia pun mengirim detektif swasta untuk mencari tahu latar belakang Thomas. Benar saja, ada sesuatu yang tidak beres dengan Thomas dan kakaknya, Lucille Sharpe (Jessica Chastain). Sambil memberikan selembar cek, ayah Edith lalu menyuruh Thomas dan Lucille pergi dari kehidupan mereka. Tetapi setelah itu ayah Edith dibunuh. Edith yang terpukul kemudian menerima pinangan Thomas, lalu mereka pindah ke Inggris ke rumah Thomas dan Lucille dibesarkan. Sesampainya Edith di rumah yang menyeramkan dan banyak yang rusak itu, ia mulai didatangi oleh hantu-hantu yang nampaknya berusaha memberikan peringatan kepadanya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

 

Yang saya suka dari film ini:

-Saya nonton film ini karena sutradaranya Guillermo del Toro. Sejak nonton Pan’s Labyrinth, saya jadi penasaran dengan karya-karya beliau.

-Beberapa adegan sadis dan ngilu khas Guillermo masih berhasil bikin lumayan gilu.

-Darahnya kayak beneran.

-Akting Mia, Tom, dan Jessica masih ciamik.

-Baju-bajunya lumayan niat dan ada beberapa yang bagus.

-Tata rambut Edith di film ini baguuuuuus banget. Pengen deh nyoba rambutnya disanggul begitu.

-Dari film ini saya jadi mengerti kenapa banyak cewek yang suka nan tergila-gila dengan Tom Hiddleston. Saya juga jadi lumayan naksir ama badan tinggi bidang doi.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Jalan ceritanya ketebak

-Hantunya nggak nyeremin. Awalnya sih iya, lama-lama biasa aja.

-Saya mulai curiga kalau Mia Wasikowska itu kayaknya nggak suka adegan ciuman deh. Abis ciumnya kayak dingin dan mikir gitu.

-Nggak ada adegan yang bikin gemes atau ketakutan greget gitu. Lebih serem trailernya.

-Film ini mengandung adegan sadis ya. Jadi sebaiknya tidak ditonton oleh anak kecil ya.

Review ini juga bisa dibaca via Line @ymg2576q

Ini trailernya…

 

 

menceritakan tentang Edith  putri tunggal pengusaha Carter Cushing (Jim Beaver). Edith sedang memulai karier menulis novelnya ketika ia bertemu . Saat itu Thomas yang merupakan  Thomas tertarik dengan tulisan Edith, mereka pun saling menjalin

review

Review: Train To Busan

Category: Movies

Genre: Thriller

Rate: 4 out of 5

Film asal Korea ini dibuka dengan beberapa adegan mengenai sebuah kebocoran di sebuah pabrik. Sang bos perusahaan, yakni Seok Woo (Yoo Gong) sedang sibuk menghadapi penurunan saham perusahaan  sejak berita kebocoran itu menyebar. Di waktu bersamaan ia juga harus menghadapi omelan mantan istrinya karena ia selalu lupa tentang ulang tahun putri mereka. Ditambah anak mereka ingin merayakan ulang tahunnya bersama ibunya di Busan. Maka keesokan subuhnya, Seok Woo dan putrinya berangkat ke stasiun kereta api untuk mengantar putrinya ke Busan. Tapi sesuatu yang aneh sedang terjadi. Satu persatu penumpang kereta itu berubah menjadi zombi setelah digigit oleh penderita wabah misterius. Mereka pun harus bisa bertahan hidup dan mati untuk mencapai Busan.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Penokohannya bagus, realistis, dan variatif.

-Aktingnya oke-oke semua!

-Tokoh favorit saya yang berhasil bikin terharu seorang calon bapak yang berjuang mati-matian.  Apalagi pas lihat tampang mesem-mesem bahagianya saat menyelamatkan sang istri di toilet gerbong kereta. Tokoh ini diperankan oleh Dong-seok Ma.

-Saya juga sangat suka dengan alurnya yang realistis. Film ini nggak memberi kita celah untuk nyeletuk-nyeletuk gemes karena kebodohan salah satu peran.

-Film ini menegangkan. Film ini juga menceritakan dengan baik sifat asli manusia dalam upaya bertahan hidup.

-Make up zombienya lumayan oke

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Ada satu tokoh nenek-nenek, tapi kelihatan banget sebenarnya dia masih muda. Dia didandani jadi tua aja. Sayangnya make upnya kelihatan bohongnya.

-Lama-lama darah yang nempel di baju para tokoh kok jadi warna oren ya -__-!

-Nggak sesedih yang orang bilang. Banyak yang mengaku menangis pas nonton film ini. Saya biasa-biasa aja tuh. Adegan akhirnya yang mungkin diniatkan jadi paling sedih dan mengharukan juga saya hadapi dengan lempeng ajah.

-Banyak adegan menyeramkan nan mengerikan. Jadi sebaiknya jangan ajak anak kecil nonton film ini ya.

Review ini juga dapat dibaca via Line @ymg2576q 

Ini trailernya…

review

Review: Afflicted

Category: Movies

Genre: Thriller, Horor

Rate: 3 out of 5

Film mockumentary ini mengisahkan dua orang sahabat yang ingin berkeliling dunia.Mereka akan merekam semua perjalanan mereka lalu diposting ke internet. Sehingga seluruh dunia bisa mengikuti perjalanan mereka. Cliff (Cliff Prowse) bertugas sebagai kameraman dan Derek (Derek Lee) bertugas sebagai host. Perjalanan nekat ini dilakukan karena Derek mendapat kabar kalau ada yang salah dengan kepalanya, sehingga ia bisa sewaktu-waktu meninggal dunia. Mengetahui kabar tersebut, ia malah makin ingin mewujudkan mimpinya untuk berkeliling dunia dan Cliff akan selalu mendampinginya. Awalnya perjalanan mereka begitu menyenangkan dan seru. Sampailah mereka di Paris, Derek berkenalan dengan seorang gadis bernama Audrey (Baya Rehaz). Mereka menghabiskan malam berdua. Namun Cliff terkejut saat menemukan Derek di kamar hotelnya dengan tidak sadarkan diri dan bersimbah darah. Derek tidak mati, ia hanya pingsan dan tidak dapat mengingat apa yang terjadi pada dirinya sebelumnya. Mereka pun melanjutkan perjalanan ke Italia. Tetapi ada sesuatu yang berubah pada Derek…

Yang saya suka dari film ini:

-Film ini mockumentary. Diperankan oleh mereka sendiri. Aktingnya Derek dan Cliff oke banget untuk orang yang nggak punya banyak pengalaman akting.

-Make upnya baguuuuus! Terutama untuk efek-efek darahnya.

-Jalan ceritanya juga oke.

-Set dan lokasinya bagus. Jadi beneran terlihat seperti kisah nyata.

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Aktingnya Baya Rehaz kurang oke, menurut saya. Pengen sok seram dan misterius tapi malah jadi kayak mbak-mbak alay.

-Film ini banyak adegan sadis berdarah-darah ya. Jadi jangan ajak anak kecil untuk nonton film ini ya.

Ini trailernya…

Review film ini bisa dibaca via Line @ymg2576q (pakai ‘@’). 

review

Review: Green Room

Category: Movies

Genre: Thriller, Slasher

Rate: 4 out of 5

Film ini mengisahkan tentang sebuah band punk yang sedang mengadakan tour DIY (do it yourself). Dengan uang yang minim, sampailah mereka di sebuah gig kecil di Portland. Ternyata bar tempat mereka manggung adalah sarangnya neo-nazi skin head yang rasis. Sesudah mereka turun panggung, barang-barang mereka sudah dipersiapkan panitia di luar kamar tunggu anak band. Sambil mengangkut barang-barang, lalu berbasa-basi bilang terima kasih kepada panitia acara, salah satu anggota band mereka teringat sedang nge-charge handphone di dalam kamar tunggu anak band. Salah satu dari mereka pun nyelonong masuk begitu saja ke kamar tersebut untuk mengambilkan handphone tersebut. Siapa sangka ia akan melihat sebuah pembunuhan yang baru saja terjadi. Mereka pun dipaksa masuk lagi ke kamar tersebut. Dikurung untuk menunggu mati oleh anak-anak neo-nazi skin head.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Kunci dari film thriller itu alur cerita. Alur cerita film ini oke. Bikin kita jadi tegang.

-Semua jalan keluar atau solusi dari film ini realistis.

-Akhirnya saya bisa nonton akting Anton Yelchin sebelum jadi almarhum. Sayang sekali ia meninggal muda. Padahal aktingnya menjanjikan.

Patrick Stewart kharismatik yaaa!

-Aktingnya Imogen Poots oke banget!

-Set dan lokasi bagus!

-Beberapa gambar juga sedap dipandang mata.

-Ini kan film slasher ya. Jadi banyak adegan sadis berdarah-darah yang bikin ngilu. Ini menandakan kalau make upnya juga keren.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Rambutnya Imogen Poots ganggu. Iya sih itu emang potongan rambut anak punk-skin head. Tapi saya merasa yang dia pake itu wig. Dan keliatannya wig itu gatal. Pengen garuk rasanya.

-Ingat, film ini banyak adegan kekerasannya. Jadi jangan ajak anak di bawah usia 18 tahun untuk nonton film ini ya. Berbahaya.

 

Ini trailernya…