Orang Kaya Belum Tentu Bahagia

Hari ini saya bertemu dengan teman lama. Sebut saja namanya Cato.

Saya mengenal Cato saat usia kami sama-sama remaja. Dia dulu saya kenal sebagai anak cowok yang pendiam dan pemalu. Tampangnya tidak jelek, tapi karena dia pendiam dan pemalu, ia dulu kurang dipandang oleh cewek-cewek di lingkungan kami.

Waktu berlalu, tahun berganti. Saya lihat dari postingan media sosial Cato dia kini sudah sukses. Dia kaya raya. Punya perusahaan sendiri. Mobil mewahnya ada lebih dari satu. Punya motor Ducati. Tergabung di sebuah klub mobil mewah. Penampilannya kini perlente. Handphonenya yang tercanggih masa kini. Jam tangannya seharga ratusan juta. Sepatunya kulit asli yang branded. Begitu juga sabuk pinggangnya.

Saya kagum dan ikut senang dengan keberhasilan Cato. FYI, saya tidak pernah iri dengan kesuksesan orang-orang pekerja keras semacam Cato. Justru saya ikut bangga akan keberhasilannya. Kayak seneng aja gitu bisa ngomong ke orang “Eh dia itu temen gw, lho”. (Padahal kontribusi gw apeeeee di hidup dia? Hahahahaha)

Singkat cerita, saya ada urusan yang berhubungan dengan bisnis milik Cato. Maka saya undang dia untuk meeting sekaligus kenalan dengan rekan kerja saya. Setelah sekian lama nggak ngobrol dengan Cato, saya jadi makin kagum dengan dia.

Soalnya di balik penampilannya yang kini perlente, ternyata Cato masih ringan tangan untuk membantu, nggak pelit berbagi ilmunya, dan tetap tidak berubah sikapnya terhadap teman lama. Ya…kan ada ya orang yang begitu terkenal atau tajir dikit, langsung shombong atau jaga jarak aja gitu. Pengennya dianggap ‘bos’ di kalangan teman-teman lamanya. Sedangkan Cato, justru titelnya sebagai ‘CEO’ dia gunakan secara maksimal untuk membantu teman.

Wah, tambah salut saya sama nih orang. Udah tajir melintir, nggak sombong pula. “Dia pasti hidupnya bahagia. Gimana ya caranya bisa setajir dia?” batin saya.

Beneran bahagia? SALAH BESAR, SODARA-SODARI!

Seusai obrolan bisnis panjang lebar, kami mulai menceritakan hal-hal yang lain. Entah bagaimana, akhirnya sampailah kami membicarakan kesulitan dari pekerjaan masing-masing. Cato lalu mengungkapkan kalau pekerjaannya ini membuat ia sering dikirimin santet.

“Serius lo, To?” tanya saya terkejut.

“Iyah!” jawabnya.

“Yang lo rasain apa emang?”

“Gw jadi orang yang blank aja gitu. Gw jadi nggak bisa kerja. Gw jadi kayak nggak paham apapun.”

Cato kemudian menjelaskan duduk awalnya ia disantet. Intinya ia ditipu oleh kenalan lamanya. Kenalan lamanya ini ingin membawa kabur uangnya. Namun sebelum ia bawa kabur, ia kirim santet dulu ke Cato agar ia nggak bisa mikir.

“Pas sadar duit gw dibawa kabur ama dia, gw tuh tetap ngerasanya ‘ya udah deh gak papa’. Gw sadar duit gw dibawa kabur ama dia, tapi gw kayak nggak mau nindak ini orang. Akhirnya ada temen gw yang bisa ‘ngelihat’ bilang kalau gw ini emang ‘dikirim sesuatu’ sama pelaku. Terus si temen gw yang bisa ‘ngelihat’ ini kirimin gw penangkalnya. Kayaknya dikirimin tengah malam tuh ama dia. Soalnya tahu-tahu gw kebangun jam 2 pagi, terus langsung kayak kebuka aja gitu mata gw. Gw kayak baru bener-bener sadar kalau duit gw dibawa kabur. Tengah malam itu juga gw baru marah dan ngamuk.”

Saya hanya bisa terdiam tidak habis percaya. “Kerjaan lo pasti susah banget ya, To”.

“Iya dis. Kerjaan kayak gw ini banyak yang nggak suka. Ada aja yang iri. Atau kalau ada yang kalah tender ama gw, dia kesel jadi ngirim yang aneh-aneh. Ada aja deh. Kata temen gw yang bisa ‘ngeliat’ itu, muka gw ini di mata dia udah banyak bekas cakarannya. Udah banyak yang berusaha ngirim ke gw”.

Saya jadi agak sedih dengar ceritanya. Soalnya pekerjaan Cato ini halal, tapi udah kerja halal pun masih ada aja orang yang nggak suka sampe segitunya.

Keinginan saya untuk menjadi horangkayah seperti Cato seketika sirna.

Saya masih hidup di rumah ngontrak. Masih belum punya mobil apalagi rumah hasil jerih payah sendiri. Kemana-mana motoran sama Si Punk Rock dan Kriby. Tapi saya punya kemewahan yang tidak dimiliki semua orang. Yaitu ketenangan hidup.

Alhamdulillah hidup saya tenang karena punya suami yang baik banget dan anak yang cantik dan menggemaskan.
Alhamdulillah kami sehat-sehat semua dan semoga akan sehat-sehat terus selamanya. AMIEN.
Alhamdulillah duit di rekening bank selalu ada, meski suka tiris dipertengahan bulan.
Alhamdulillah punya suami yang suka ngajak ketawa bareng ketika saldo rekening tinggal sekali narik lagi.
Alhamdulillah ternyata hidup saya udah cukup dengan segini doang. (Terima kasih ya Allah karena telah memberikan hamba rezeki yang bentuknya tidak melulu uang ataupun materi.)

Saya tetap salut dengan kerja keras Cato. Saya tetap kagum dengan pencapaian Cato. Tapi dari kemewahan yang ia miliki, ada stres yang mengikuti. Saya nggak yakin saya bisa mengatur stres jika saya berada di posisi Cato.

Di era media sosial seperti saat ini, kita memang akan mudah sekali termakan ‘rayuan’ kemewahan. Seolah-olah kemewahan dan kekayaan adalah tujuan hidup. Namun kalau berkaca dari cerita Cato, ternyata kemewahan yang ia dapat secara nyata dan halal aja, nggak jadi jaminan kebahagiaan.

Berkat ‘cerita seram’ Cato saya jadi sadar harus men-setting ulang tolok ukur kesuksesan hidup seseorang.

Sekian cerita saya kali ini. Semoga bermanfaat.

NB: FYI, ini kelanjutan kisah uang Cato yang dibawa kabur itu.
Jadi Cato nggak mau lapor ke pihak berwajib karena menurutnya hanya akan menghabiskan uang. Maka yang ia lakukan adalah menyebarkan perbuatan si pelaku ke seluruh orang yang berhubungan dengan si pelaku. Akhirnya si pelaku malu sendiri karena ruang geraknya kini terbatas akibat cibiran masyarakat. Si pelaku pun pindah ke Bandung untuk menghindari malu.

Tapi ada kisah bahagianya juga, lho. Kata Cato, uangnya yang dibawa kabur tidak lama kembali lagi dari rezeki yang datang entah dari mana aja. Kata Cato, ia memberikan sisa uang yang ia punya untuk membelikan hadiah mobil baru ke orang tuanya. Berkat doa orang tuanya, uang Cato yang hilang kembali lagi tanpa makan waktu lama.

Jadi tips jadi horangkayah ala Cato adalah: terus bahagiakan orang tua, terus menolong sesama. Insya Allah rezekinya mengalir nggak putus.

Saatnya Bercerita Tentang Kesehatan Mental

Cerita nggak ya….

Bingung juga mau mulai ceritanya dari mana…

Ya udahlah, saya coba tulis aja apa yang ada di pikiran saya. Kalau terkesannya meracau nggak jelas dan jadi cerita kemana-mana, mohon maaf sebelumnya ya.

Jadi saya itu mengidap salah satu dari masalah mental. Nama masalah mentalnya apa, saya nggak tahu pasti. Soalnya saya nggak melanjutkan terapinya karena satu dan lain hal. Gejalanya adalah SELALU nggak merasa berharga, terus kejadian lama yang membuat malu (versi saya, padahal buat orang lain kayaknya biasa aja) terus-menerus keputar di otak tanpa tahu cara untuk menghentikannya. Karena kejadian memalukan/nggak nge-enakinnya muter terus di kepala, ujung-ujungnya saya merasa nggak berharga. Ditambah kita sekarang ini hidup di era media sosial yang sangat mudah membuat hidup kita ini nggak berharga karena kita nggak secantik mereka, nggak sekaya mereka, nggak sepopuler mereka-mereka yang ada di Instagram.

Pertama kali saya terapi itu pas tahun 2018 kalau nggak salah.

Eh tunggu, baiknya saya ceritakan dulu akar permasalahan saya bisa jadi kena masalah mental ini. Akar permasalahan saya adalah keluarga, terutama perlakuan dari almarhumah ibu saya. Ibu saya adalah orang yang sangat-sangat-SANGAT dominan. Maaf ya saya nggak bisa menceritakan perlakuannya secara spesifik.

Singkat cerita, perlakuan ibu saya itu membuat saya mengidap masalah mental ini. Trauma masa kecil akan berpengaruh sampai dewasa itu memang benar adanya, sodara-sodara. Saya bukti nyatanya.

Pernah ada masanya saya segitu nggak tahannya dengan perlakuan ibu, saya berharap saya segera mati. Saya sudah sering memikirkan bunuh diri, tapi saya nggak punya keberanian untuk melakukannya. Meski begitu, kalau sampai waktunya saya akan bunuh diri, saya sudah tahu metode apa yang akan saya gunakan, bagaimana setting ruangannya, sampai lagu pengiring untuk menguatkan mental saya mengakhiri nyawa. Lucu ya? Saya tuh perempuan yang nggak pernah punya konsep dream wedding, tapi saya punya konsep dream suicide ūüėÄ

Masalah mental itu saya sembunyikan bertahun-tahun. Saya tutup dengan pribadi ceria yang cenderung quirky. Sehingga orang tahunya saya adalah orang yang nggak pernah ‘susah’. Ketawa terus. Ngbanyol terus.

Sampailah saya melahirkan si Kriby. Seperti yang kalian ketahui, mengurus anak itu sangat melelahkan. Apalagi kalau kita mengurus sendiri tanpa bantuan nanny/suster. Ada masa-masa saya frustasi karena kelelahan dan akhirnya saya melampiaskan kemarahan saya ke Kriby. Tanpa sadar saya telah berubah menjadi ibu saya. Saya menjadi monster yang mewariskan luka pada anak saya. Saya tidak ingin anak saya mengalami hal yang sama. Saya harus berubah. Tapi gimana caranya?

Akhirnya saya pendam lagi, pendam lagi, pendam lagi sambil sebisanya saya mengontrol emosi dan ucapan saya ke Kriby. Sampai akhirnya pada tahun 2018 saya berhenti dari sebuah pekerjaan yang saya sangat suka pekerjaannya. Tapi bosnya gila. Bos saya kala itu perempuan yang dominan nggak jelas, insecure parah, playing victim, dan suka mempermalukan hasil kerja kami di hadapan klien. Saya jadi merasa seperti berhubungan lagi dengan sosok ibu saya versi kantoran. Tentu saja karyawannya banyak yang tidak betah. Bahkan beberapa di antara kami mengalami masalah kesehatan seperti asam lambung rajin naik karena teror dominasi yang begitu menekan. Saya sendiri selama kerja hitungan bulan sama bos gila itu, pernah beberapa kali dada kiri saya sakit mendadak kayak ditusuk dan nggak bisa membuat saya nafas. Kalau saya nafas, sakitnya akan tambah menusuk. Jadi saya harus diam selama beberapa detik sampai serangannya mereda sendiri.
Saya kira itulah yang dinamakan serangan jantung. Saya langsung menghadap dokter spesialis jantung. Kata dokter, jantung saya sehat-sehat aja. Tapi saya maksa diperiksa secara menyeluruh. Saya kemudian disuruh cek jantung yang pakai lari di treadmil. Hasil diagnosisnya tetap sama: jantung saya baik-baik aja.
Si dokter kemudian menyimpulkan kalau mungkin itu gas lambung yang naik pada saat stres dan menusuk ke arah jantung. Jadi saya harus kelola stres saya.

Di situ saya kepikiran untuk resign, karena sadar kalau si bos gila itu nggak baik untuk kesehatan mental dan fisik saya. Sempat ada keraguan karena saya butuh uangnya, tapi sampailah satu kejadian yang memang menurut saya sudah keterlaluan, saya kemudian memutuskan untuk resign. Si bos gila tentu saja setelah itu playing victim karena merasa dia adalah korban ‘pengkhianatan karyawan’nya. Saya kemudian memutuskan untuk ngeblock semua chat dan medsos si bos demi kesehatan mental saya.

Tidak sampai satu tahun kemudian saya dengar kalau perusahaan itu tutup. Saya yakin si bos pasti playing victim lagi dengan menyalahkan pandemi. Padahal semua karyawannya dan mungkin kliennya juga tahu kalau perusahaannya tutup karena kelicikan dan ketidakberesan si bos dalam mengelola usahanya. (Oiya, saya belum cerita ya kalau dia juga licik? Iya, banyak orang yang pernah kerja sama dengan si bos mengakui kalau mereka melihat kelicikan di bisnisnya).

Setelah saya resign dan tinggal di rumah, saya pikir kesehatan mental saya akan membaik. Ternyata tidak semudah itu, Ferguso. Karena setelah dari perusahaan itu, saya masih mendapat kabar-kabar yang kurang enak. Terutama saat saya tidak diundang untuk launching produk yang saya bantu garap. Bisa dikatakan 60-70% produk itu dikenal di pasaran adalah berkat andil tangan saya sendiri. Jadi begitu saya melihat di medsos kalau produk itu sudah launching tanpa saya diberitahu, saya sedihnya bukan main. Tapi tentu saja, saya pendam.

Lalu kesehatan mental saya kena dampak lagi lantaran kekhawatiran diri saya karena tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Yah… Namanya juga selama ini rumah tangga saya terbiasa dengan dua pintu penghasilan dari saya dan suami, tapi sekarang cuma ada satu pemasukan dari suami saya aja. Saya stres, padahal suami Si Punk Rock nggak pernah sekalipun memaksa saya untuk terus bekerja. Dia malah selalu mendukung apapun keputusan saya. Namun gelombang merasa tidak berguna saya datang lagi. Lama-lama gelombangnya makin besar dan makin menggulung sampai saya merasa tidak tahan lagi.

Saya memutuskan untuk ke mendaftar ke psikiater di rumah sakit dekat tempat tinggal saya. Saya ke sana diam-diam tanpa diketahui Si Punk Rock, padahal selama ini saya selalu cerita semuanya ke Si Punk Rock.
Kenapa saya tidak cerita? Karena saya malu, saya takut dia jadi menyesal menikahi istri yang bermasalah, saya takut dianggap lebay ‘yaelah gitu doang dipikirin’. Jadi lebih baik saya pendam aja sendiri.

Sesampainya saya di ruang psikiater itu, saya menghabiskan waktu sejam hanya untuk menangis sambil berusaha bercerita apa yang ada di pikiran saya. Si psikiater mengatakan kalau saya derpresi akut. Si prikiater juga menjelaskan kalau itulah penyebab saya tidak lagi mengerjakan hobi (hobi saya ngeblog, FYI. Jadi sekarang Anda tahu, kalau blog ini jarang update, maka saya sedang berada di episode kesehatan mental yang tidak baik).

Si psikiater mengatakan saya harus ikut terapi untuk beberapa kali pertemuan. Ia kemudian meresepkan saya obat penenang untuk saya minum selama seminggu. Saya keluar dari ruang psikiatri itu dengan perasaan agak lega dan siap untuk pasang tampang ceria ke hadapan dunia lagi. Sampailah saya harus bayar biaya konsul dengan psikiater itu….

HAPAH??????? 750 RIBU HANYA UNTUK NANGIS-NANGIS DOANG??????

Obatnya berapa ya kira-kira? Saya ke apotek rumah sakit, lalu…

HA???? 7 PIL DOANG HARGANYA 300-AN RIBU????? Kok jadi orang depresi itu mahal banget sih???????

Di situ gelombang pemikiran negatif saya mulai menghantam lagi. Saya nggak kuat, pertahanan saya pecah, saya akhirnya mengabari Si Punk Rock dan menceritakan semuanya. Dia terpana karena dia tidak pernah tahu kalau selama ini diam-diam pikiran saya berkecamuk segitunya. Dia kemudian menemani saya ke apotek di Blok M Square yang terkenal menjual obat-obatan dengan harga murah.

Apotek di Blok M Square itu dikelola oleh seorang bapak-bapak chinese yang ngomongnya suka nyablak. Kadang suka lucu kalau melihat tingkah beliau itu. Begitu si bapak itu membaca resep saya, dia dengan gaya nyablaknya langsung mengembalikan resep saya “Waduh, gak jual kita obat beginian!”

Mungkin waktu itu mental saya segitu down-nya, sampai-sampai perlakuan bapak apoteker itu sangat menusuk hati saya. Saya tahu dia tidak berniat buruk, cuma yang saya tangkap waktu itu adalah “Wah obat buat orang gila nih. Gak jual gw obat buat orang gila.” Jadi saya down lagi, tapi saya pendam.

Saya coba ke apotek lainnya di sekitaran Blok M Square, akhirnya ketemu apotek yang menjual obat tersebut tapi data diri saya dicatat. Soalnya itu bukan obat yang bisa dijual sembarangan karena takut disalahgunakan.

Seminggu kemudian, hari-hari saya terasa membaik berkat obat itu. Pikiran saya yang biasanya berisik dengan kritik diri sendiri yang bertubi-tubi, seketika hening. Saya ingat, waktu itu saya bisa duduk seharian di kamar meghadap jendela tanpa memikirkan apa-apa. Buat orang yang pikirannya selalu berkecamuk seperti saya, masa-masa seperti itu sungguh langka. Si Punk Rock di kantor, Kriby di sekolah, cuma ada saya di kamar dengan pemikiran yang kosong menikmati hari berlalu tanpa beban pikiran apapun.

Setelah obatnya habis, harusnya itu adalah jadwal saya menghadap si prikiater lagi. Tapi saya urungkan karena nggak kuat bayar hahahahaha. Saat itu saya tidak punya penghasilan dan saya nggak tega minta Si Punk Rock untuk membiayai pengobatan ‘otak ga beres’ saya. Biarlah uangnya dipakai untuk yang lebih penting dulu, seperti sekolah si Kriby dan biaya-biaya rumah tangga lainnya. Kesehatan mental saya sepertinya masih bisa ditunggu. Tokh, saat itu saya sudah merasa membaik.

Untuk beberapa lama kesehatan mental saya tidak terlalu mengganggu. Perasaan suka merasa tidak bergunanya suka datang dan pergi, tapi masih bisa saya tahan. Perasaan suka pengen nangis mendadak karena merasa nggak bergunanya juga masih bisa saya sembunyikan, baik dari Si Punk Rock sekalipun. Pikiran buruk yang selalu menghujat diri sendiri ini pun masih suka datang dan pergi, tapi masih bisa saya tahan. Saya jago menahanlah pokoknya.

Hodor! Hold the door! (fansnya Game Of Thrones pasti paham)

Lalu datanglah pandemi Covid The Bitch ini. Seperti sebagian besar pekerja lainnya di dunia ini, saya jadi merasakan yang namanya work from home (WFH). Oiya, saat itu saya sudah mendapat pekerjaan baru di sebuah startup. Saya jadi menghadapi rutinitas zoom meeting yang nggak putus. Di situ saya kembali merasakan kelelahan mental. Saya merasa harus menghadap lagi ke psikiater. Tapi nggak berani tatap muka ke rumah sakit takut Covid dan semacam nggak rela juga ngabisin duit 700an ribu buat nangis doang.

Untungnya ketemulah saya dengan psikolog online dari Ibunda.id. Harga konselingnya terjangkau, cuma sekitar 200 ribuan per sesi. Masih masuk akal lah. Itung-itung kayak konsul sama dokter spesialis yang harganya juga segituan.

Pas konseling di Ibunda.id itu saya mengulang nangis yang sama. Tapi kali ini sudah lebih teratur mau ngomong apa dan udah bisa mikir mau nanya apa aja sama si psikolog. Si psikolog bilang kalau saya itu punya emotional distress.

Emotional distress adalah keadaan tidak menyenangkan yang dapat mengakibatkan berbagai kerugian, umumnya ditandai dengan gejala depresi dan/atau kecemasan. Terdapat beberapa variabel anti-stres yang terbukti mampu mengurangi emotional distress, dua di antaranya adalah self-esteem dan locus of control.

Jurnal Universitas Tarumanegara oleh Lukas Juliyanto, P. Tommy Y. S. Suyasa

Kalau baca definisi di atas, saya merasa wajar kena emotional distress, karena self-esteem saya rendah (ingat kan kalau saya selalu merasa nggak berharga?) dan locus of control alias kendali saya terhadap situasi yang sedang saya hadapi juga rendah. Pantesaaaaan!

Si psikolog mengatakan kalau permasalahan yang saya hadapi ini bisa ‘sembuh’ kalau saya mau ikut terapi. Tapi sayangnya psikolog itu nggak bisa kasih terapi obat. Hanya psikiater yang bisa kasih saya terapi yang saya butuhkan. (FYI, psikolog dan psikiater itu beda. Psikiater itu bisa dibilang dokter di bidang kejiwaan. Sedangkan psikolog itu non dokter yang mendalami perilaku dan perasaan seseorang.)

Intinya, saya harus balik lagi ke psikiater. Tapi dompetku menjerit. Ditambah saya baru aja kena PHK Covid gelombang tiga dari kantor terakhir. Ya sudahlah, bismillah saya nggak kumat hahahaha

Kalau ditanya bagaimana kondisi saya saat ini, saya bisa jawab dengan lantang: alhamdulillah saya baik-baik saja. Saya memang belum lama ini kehilangan pekerjaan saya, tapi berada di perusahaan yang kondisinya sudah tidak sehat juga buat apa? Pengurangan-pengurangan karyawan yang mereka lakukan di gelombang-gelombang sebelumnya membuat saya jadi dapat load pekerjaan yang sudah jauh dari bidang saya. Tapi saya tetap harus mengerjakan karena SDMnya udah pada nggak ada.

Jadi begitu akhirnya kena giliran saya yang harus di-let go ama perusahaan, saya justru merasakan kelegaan yang luar biasa. Terutama lega banget karena nggak ada lagi zoom meeting yang nggak putus sampai jam 11 malam. Saya jadi bisa merasakan rumah saya memang RUMAH, bukan lagi tempat kerja. Saya jadi bisa masak lagi, padahal selama WFH setahun kemarin buat masak mie instan aja rasanya susah banget nyari waktunya. Oiya, selama WFH setahun kemarin, Kriby jadi tambah kurus, lho. Karena dia makannya nggak variatif karena terpaksa beli makanan terus. Ironis sekali, bukan? Saat ibunya ada di rumah untuk WFH, anak justru tambah kurus karena ibunya nggak punya alokasi waktu buat masak.

Dari segi keuangan yang dulu menjadi salah satu beban pikiran saya, kini alhamdulillah pekerjaan Si Punk Rock masih baik-baik saja. Karena saya lebih rajin masak, alhamdulillah keuangan kami jadi lebih tertata. Masak sendiri itu memang jauh lebih hemat, ya.

Alhamdulillah saya saat ini baik-baik saja. Alhamdulillah….
Kalau pun suatu hari penyakit mental saya kumat, saya merasa aman karena saya bisa menghadap ke Ibunda.id itu kapanpun. Meski tidak menyembuhkan secara total, tapi mengetahui bahwa ada wadah yang bersedia menolong, bagi saya itu sudah lebih dari cukup. Setelah bertahun-tahun saya memendam semuanya sendiri, punya tempat mengadu itu rasanya sangat melegakan.

Blog ini adalah salah satu bukti nyata kalau saat ini saya baik-baik saja. Sudah terlalu lama blog ini saya cuekin. Dulu ngeblog adalah salah satu wadah/hobi saya untuk relaksasi. Lalu saya hilang minat. Saya kira waktu itu saya lagi malas menulis aja, eh ternyata itu depresi hahaha.
Kini saya bertekad untuk kembali aktif untuk ngeblog. Saya akan berusaha untuk mengisi blog ini dengan berbagai review film dan tulisan-tulisan lainnya. Mudah-mudahan blog ini bisa membawa manfaat untuk banyak orang.

Oiya, saya mau mengucapkan terima kasih secara khusus pada Riani Sovana. Riani adalah teman saya, seorang penyanyi yang juga hidup dengan masalah kesehatan mental. Ada satu postingan Instagram Riani yang begitu membuka mata saya. Ini postingannya. Baca captionnya. Agak panjang emang…

Part 1
Part 2
Part 3-end

Postingan ini begitu menguatkan saya untuk berani menuliskan blog ini. Dari Riani saya jadi tahu betul kalau orang-orang yang beneran punya masalah mental tuh justru akan diam-diam aja. Karena kami tuh malu dan kami ingin hidup kami baik-baik aja. Nggak akan tuh koar-koar di social media cari perhatian kalau dia punya masalah mental lalu minta semua masalah yang dia perbuat dimaklumi. Itu mah glorifikasi bocah-bocah jaman sekarang aja biar dianggap ‘beda’ dan kenakalannya dimaklumi.

Ingat Marshanda dengan video-video aneh dulu? Ada nggak di video itu dia bilang ‘gw ini punya mental health. Maklumi gw’. Nggak ada kan? Beda banget sama beberapa influencer hits zaman now yang tiap kenakalannya dihujat, langsung bawa-bawa mental health biar dikasihani, dimaafkan lalu dimaklumi. Please deh, kalau lo beneran ada mental health, lo justru akan mati-matian meyakinkan orang kalau lo baik-baik aja. Bukan malah minta pemakluman.

Buktinya lihat aja tuh postingan Riani, postingannya nggak berbau minta dikasihani, justru ia ingin ngasih tahu ke orang kalau dia udah kuat. Karena bagi penyandang masalah kesehatan mental itu, kami ingin dilihatnya kuat, normal, dan baik-baik aja. Kami justru nggak pengen nambah-nambahin depresi dengan dikasihani.

Terima kasih ya Riani udah bikin postingan itu. Berkat postingan itu, saya jadi berani untuk posting blog ini. Saya harap blog saya yang ini bisa juga jadi menguatkan kalian di luar sana yang mempunyai masalah kesehatan mental tapi malu untuk mencari bantuan. Yuk, ke psikolog atau ke psikiater. Mengutip omongan psikolog dari Ibunda.id…

Di dunia psikologi, kami menyebut kumat itu sebagai ‘episode’. Akan ada masanya kamu selalu kedatangan episode itu. Sekarang tinggal bagaimana caranya kamu menghadapi saat episode itu datang.

Yuk, bisa yuk ūüôā

Foto header: Sandy Sims dari Unsplash

Baikan Yuk

Beberapa waktu yang lalu saya dan Si Punk Rock ‘berantem’. Kami tuh tipe pasangan yang berantenya diem-dieman.

Perkaranya apa? Sepele banget. Intinya sih kami lapar hahahaha…

Kami sama-sama belum makan, tapi sama-sama sibuk juga dengan pekerjaan masing-masing. Lalu kami sama-sama saling mengandalkan satu sama lain untuk menyiapkan makanan, entah itu masak ataupun beli di luar. Saya pikir, Si Punk Rock akan pergi beli makanan di luar. Si Punk Rock pikir, saya akan masak. Ya gitu deh, kurang komunikasi, tahu-tahu pecahlah Perang Bubat.

Singkat cerita, kami diem-dieman semalaman. Besok paginya juga masih diem-dieman.
Terus pas agak siang, Si Punk Rock pergi nggak pamit. Bawa motor entah ke mana.

Akhir-akhir ini memang Si Punk Rock kalau lagi sebel atau marah suka pergi mencari kegiatan di luar rumah. Sedih sih sebenarnya ditinggal pergi tanpa dipamitin. Saya kan khawatir kalau dia kenapa-kenapa di jalan. Tapi ya udahlah mau gimana… Makin bertambahnya usia pernikahan, kita harus makin banyak menoleransikan kebiasaan dan sifat pasangan.

Setengah jam kemudian Si Punk Rock balik. Saya lihat dia nenteng kopi Tuku. Oooh dia keluar beli kopi ternyata. Memang persediaan kopi suci dia udah habis sih. Yo wiss lah, yang penting dia udah pulang.

Tahu-tahu dia nyodorin ini lengkap dengan tulisannya….

“Baikan yuk”. Lengkap dengan logo ‘peace’.

Si Punk Rock beliin minuman saya, Es Cokelat Animo! Tentu saja saya langsung luluh. Saya ini perempuan mandiri yang pekerja keras, cerdas, dan tahan banting. Tapi kalau udah disogok makanan, saya manut. Simple. Nggak usah diperdebatkan lagi hal-hal prinsipil seperti ini ya.

Tapi terlepas saya disogok, berantem sama Si Punk Rock itu emang nggak enak tau. Si Punk Rock itu bukan sekadar suami, melainkan dia itu juga sahabat terbaik saya. Saya apa-apa ceritanya ke dia. Kalau nemu hal seru apa, saya pasti pengennya cerita langsung ke Si Punk Rock. Makanya kalau berantem diem-dieman sama Si Punk Rock itu rasanya nggak enak banget. Saya jadi kehilangan tempat bercerita dan mengadu.

Makasih ya Punk Rock buat sogokan dan uluran perdamaiannya. ILY

Gimana Rasanya?

Saya lagi ikutan sebuah jaringan skin care yang alhamdulillah memang cocok di kulit saya.
Katanya masker mud mask dari skin care ini bagus banget buat kulit yang jerawatan dan berminyak. Tapi kulit saya ini kering dan jarang jerawatan. Pengen nyobain masker yang hits banget itu. Tapi saya nggak bisa pakai. Gimana dong?

Eh Si Punk Rock kan kulitnya berminyak dan gampang banget jerawatan. Suruh dia pake ah…

“Sayang, kamu cobain pake masker mud mask ini, ya. Biar aku tahu hasilnya. Jadi kalau aku promosiin ke orang, aku beneran tahu hasilnya. Nggak ngarang-ngarang”.

“Okeh…”

“Asyik! Aku pakein, ya”.

Setelah 15 menit pakai masker, Si Punk Rock bilas maskernya.

“Gimana rasanya? Enakan, nggak? Terasa lebih halus, nggak? Lebih kencang, nggak?”

“Rasanya? Rasanya itu…..seperti dirawat oleh istriku.”

Waktu Masak Miyeok-guk.

Waktu itu saya coba masak sup rumput laut Korea atau yang biasa disebut dengan Miyeok-guk.

Miyeok-guk buatan saya

Si Punk Rock mencoba. Reaksi pertama dia, “Amis…”.

“Masa, sih?” kata saya. Memang agak bau air laut sih dari rumput lautnya. Mungkin bagi beberapa orang bau laut itu kayak amis.

Tapi Si Punk Rock nggak menjawab apa-apa lagi. Dia teruskan makan sampai semangkok penuh yang saya hidangkan buat dia habis.

Setelah dia makan, Si Punk Rock berkata, “Kamu memang kayaknya dulu itu terlahir sebagai kucing. Sukanya yang amis-amis. Sushi lah, tuna kaleng lah, sekarang sup bau amis.”

“Emang amis banget, ya? Aku sih nggak ngerasa amis…”

“Makanya kamu kayak kucing”.

“Tapi kok kamu makannya abis?”

“Because I love you”.

“Alah…Padahal terpaksa karena nggak ada makanan lain, tuh”.

“Nggak. Because I love you,” katanya mempertegas ucapan sebelumnya.

Yes, I know. And thank you for keep on loving me. Sebagai gantinya, mulai sekarang saya nggak akan masak Miyeok-guk lagi. Kenapa? Because I love you too, Si Punk Rock.

Aragorn Bernyanyi

Nonton Lord Of The Rings: The Return of King untuk kesekian kalinya di tivi.

Sesaat Aragorn dilantik jadi raja Gondor, ia pun bernyanyi di hadapan rakyatnya.

Saya: Tuh sayang, pas Aragorn jadi raja, dia langsung nyanyi. Kamu tahu nggak kenapa dia langsung nyanyi begitu?

Si Punk Rock: Kenapa emangnya?

Saya: Karena dia raja dangdut.

Si Punk Rock: *mau ketawa tapi ditahan karena gengsi*

Nonton Guns N’ Roses Nggak?

Minggu lalu Si Punk Rock ditawarin tiket konser Guns N’ Roses (GnR) gratis dari kantornya.¬†

“Anak-anak kantor aku dapat tiket gratis GnR, nih. Kamu mau nonton nggak?”

“Sama kamu atau nggak?”

“Iya, sama aku.”

“………………………………….. Terus Kriby siapa yang jagain?”

“Hm…. Iya juga, ya. Ya udah ntar aku tanyain orang kantor lagi, deh.”

Sepekan berlalu. Tau-tau udah tanggal 8 November aja, yang tak lain dan tak bukan adalah hari H konser GnR. Kami benar-benar lupa soal konser itu. Jatah tiket gratis kami pun udah dikasih ke teman kantor Si Punk Rock yang lainnya. Ya udahlah….

Begitu buka medsos agak iri-iri-takut ga update-merasa ditinggal oleh khalayak ramai-gimana gitu pas lihat banyak orang yang posting soal GnR. Ya udahlah, kami emang pada dasarnya nggak pengen, buktinya aja kami bisa lupa soal tanggal main konsernya. Kalau beneran suka GnR mah pasti ga akan lupa dong.

Taro handphone. Lupakan crowd GnR itu. Lebih baik saya kembali ke crowd yang ini…

My kind of crowd(ed bed)

Si Punk Rock jadi bisa pulang lebih cepat karena teman-teman kantornya nggak cerewet minta revisi ini-itu karena pada ke konser GnR. Kami jadi bisa leha-leha nemenin si Kriby nonton Zootopia untuk ke-735247 kalinya. 

Yah namanya juga udah punya anak, yekan.
Punya anak tuh nggak bikin lo ketinggalan trend / hype, kok. Tapi lo jadi lebih bisa memerioritaskan hal-hal yang lebih penting.
Lo nggak sepenuhnya berubah. Tapi iya sih lo jadi banyak berkompromi.
Karena lo jadi sadar apapun yang lo kejar di luar sana nggak sepadan dengan ngorbanin anak lo.

 

Yoklah kita saksikan GnR menyanyikan Sweet Child O’ Mine via Youtube aja. Siyap digoyaaang? O A O EEEE…

 

Suami Berbintang Taurus

Punya suami berbintang Taurus tuh batu banget!

Sebel ah! *Sampe kantor. Turun dari motor, cium tangan Si Punk Rock sekenanya, langsung melengos pergi*

*Si Punk Rock ngeeng pergi naik motornya*

Bodo!

Buka laptop. Browsing-browsing sambil sarapan depan laptop.

Satpam kantor: Mba, ada suaminya di depan.

Lah, ngapain lagi?

Gw keluar dengan muka manyun.

Si Punk Rock: Senyum dooong…. Aku sedih kamu tadi marah.

Gw: *reflek senyum terus gelendotan meluk*

Pria Taurus itu emang batu banget. Cintanya ke lo termasuk salah satu kebatuannya. They won’t give up on you easily. They will stubbornly love you.

View on Path

Mengungkit Masa Lalu

Tadi pagi lagi anteng-anteng sarapan makan roti, tahu-tahu Si Punk Rock berkata…

“Sayang, aku bukannya mau ngungkit masa lalu ya…”

Waduh, ada apa nih? Biasanya dia kalau ngomong begitu artinya mau bahas mantan. Nah, mantan siapa nih yang mau dia bahas? Mantan gw atau mantan dia? Anyep dah nih roti rasanya…

“Si Saiko (nama samaran buat mantannya Si Punk Rock) itu… Dulu dia abang-adekan ama Vicky Prasetyo,” ujar Si Punk Rock.

Sungguh roti ini jadi tidak ada rasanya. Soalnya gw keasyikan ketawa.

(Foto: Kapanlagi.com)

View on Path

Susahnya Cari Vaksin Rabies di Indonesia

Pada tanggal 17 Desember 2017 lalu saya melakukan solo trip ke Ubud, Bali. Iya, solo trip alias berpergian sendirian tanpa bawa suami dan anak. Terinspirasi dari Julia Roberts di film Eat Pray Love, maka saya ingin menghabiskan solo trip saya ini dengan keliling Ubud naik sepeda.

Semuanya berjalan dengan baik dan menyenangkan. Sampailah pada satu hari sebelum kepulangan saya ke Jakarta, yaitu tanggal 19 Desember 2017,

SAYA DIGIGIT ANJING!

Kronologisnya begini, saya lagi naik sepeda (seperti Julia Roberts) di kala hujan rintik-rintik menuju tempat beli oleh-oleh. Saya pakai stelan jas hujan untuk biar nggak masuk angin (Julia Roberts juga manusia. Manusia bisa masuk angin, oke!) Tahu-tahu di samping kanan saya ada suara menggonggong. Saya bukan orang yang takut anjing, maka saya berpikir, “Kenapa tuh anjing? Mungkinkah dia pikir saya ini Julia Roberts beneran? Oooh mungkin dia mau menyapa ramah saya aja kali, ya. Soalnya ini kan Bali, tempat di mana semuanya ramah sama turis.”

Eh tahu-tahu dia gigit betis kanan saya!

DASAR ANJING!

Kaget dengan perlakuan tidak mengindahkan tata krama menyambut turis oleh anjing tersebut, saya kemudian menggowes kencang sepeda agar bisa kabur dari anjing tersebut sambil teriak “Aaaaarrrrgh”. Persis seperti Kobo Chan lari ketakutan.

Pas saya lihat lukanya, alhamdulillah nggak berdarah. Tapi jas hujan saya robek sesuai dengan besarnya caplokan bacotnya. Dan ada bekas merah kecil kecil kayak digigit nyamuk. Saya berusaha nggak khawatir, tapi jadi was-was juga kalau anjing itu berpenyakit rabies (anjing gila). Apalagi mengingat dia mengejar dan mengigit saya tanpa sebab. Bisa jadi dia memang gila (atau tergila-gila dengan Julia Roberts).

Tuh, cuma merah kecil doang. Kayak digigit nyamuk. Tapi kayaknya itu bekas taringnya yang nancep sedikit. Iya, betis saya berbulu. Julia Roberts lagi liburan. Orang kalau lagi liburan sah-sah aja memanjangkan bulu kaki. Apalagi kalau itu hobi.

Pas saya ceritakan kejadian yang menimpa saya pada para bli di tempat belanja oleh-oleh, mereka menyarankan saya untuk segera ke klinik untuk vaksin rabies. Mereka berucap dengan serius, tidak peduli bahwa luka saya cuma merah kecil kayak digigit nyamuk doang.

Okelah, saya pun ke klinik terdekat, yaitu Ubud Health Care. Sesampainya di sana perawat dan dokternya mengecek luka saya dengan seksama. Saya jadi memperhatikan kalau nggak ada satupun warga Bali yang menertawakan luka dan kejadian yang menimpa saya. Beda banget pas saya pulang ke Jakarta. Tiap saya bilang “Di Bali gw digigit anjing,” semuanya memandang saya agak geli bahkan ada yang ketawa terbahak.

Tindakan pertama untuk luka saya adalah dioles alkohol dulu. Rupanya si dokter melakukan ini untuk mengecek apakah ada luka terbuka di luka gigitan saya. Ternyata ada, soalnya saya merasakan rasa perih pas lukanya kena alkohol.

Tindakan kedua, luka saya dibersihkan pakai air sabun oleh si perawat. Dibersihin dan digosoknya lama juga oleh si perawat. Saya pikir ini si perawat (yang kebetulan lelaki) lagi nyuri-nyuri kesempatan megang betis Julia Roberts  aja, makanya gosoknya lama. Ternyata itu adalah pertolongan pertama untuk orang yang yang kena rabies. Yaitu membersihkan luka pakai air sabun dan digosok minimal 5 menit. Kenapa air sabun? Karena menurut penelitian, alkohol / betadine nggak mempan mengusir kuman rabies. Lebih manjur air sabun. Dan digosok yang lama agar sisa-sisa liur atau kumannya keluar dari tubuh kita.

Tindakan ketiga, vaksin rabies. Nah, di sinilah dramanya dimulai. Klinik yang saya datangi nggak punya stok vaksin rabies tersebut. Dia menyarankan saya ke RSUD Sanjwani Gianyar. Menurut mereka vaksin rabies itu memang agak susah didatapkan. Tapi kalau RSUD biasanya punya.

Maka saya pun segera pulang ke penginapan saya di Wahwik’s House. Saya minta tolong ke pak Nyoman pengelola penginapan yang baik hati untuk mengantarkan saya ke RSUD Gianyar naik mobilnya. Waktu itu udah pukul 7 malam waktu Bali.

Kami harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit untuk sampai di RSUD Gianyar. Dalam perjalanan pak Nyoman sang pengelola penginapan yang baik hati menceritakan bahwa kasus rabies karena digigit anjing di Bali itu banyak. Tetangganya ada yang sampai meninggal karena rabies. Kedua anak pak Nyoman pun sudah pernah digigit anjing. Anaknya yang pertama malah lukanya sampai berdarah dan meninggalkan bekas luka bolong.

“Vaksin rabies itu susah didapat di Bali. Katanya pemerintah sudah menyediakan. Kasus digigit anjing di Bali juga tinggi. Tapi tetap saja vaksinnya susah dicari,” cerita Pak Nyoman tentang pengalamannya sampai harus ke Denpasar untuk cari vaksin rabies untuk anak-anaknya.

Sesampainya saya di RSUD Gianyar yang parkirannya sempit dan aneh, ternyata vaksin rabiesnnya tidak tersedia. Ha?

Saya kemudian dirujuk ke sebuah klinik di dekat sana. Meluncurlah saya dan Pak Nyoman ke klinik tersebut. Pas sampe sana pun ternyata vaksinnya nggak ada! Eh slompret juga ya kamu…

Si klinik tersebut merujuk saya lagi ke klinik lain. Tapi saya nggak mau pergi sebelum mereka teleponin klinik yang mereka rujuk untuk nanyain kepastian vaksinnya beneran ada atau nggak. Pas mereka telepon, ternyata beneran nggak ada juga di klinik yang mereka rujuk. Kan!

 

Mereka kemudian merujuk saya ke kelinik satu lagi. Kali ini beneran ada vaksinnya. Nama kliniknya Ubud Clinic. Saya sampai sana hampir jam 9 malam. Dokternya memberitahu kalau untuk vaksin pertama harus dua kali vaksin. Harga satu vaksinnya Rp 500 ribu. Huwaw…. Saatnya menggesek kartu kredit, sodara-sodara. Padahal semua biaya liburan aja saya bayar tunai macam ijab kabul, tapi giliran perkara si anjing saya jadi harus gesek kartu kredit.

Dasar anjing!

Dokternya juga menjelaskan kalau vaksin rabies itu harus diulang sampai minimal 3 kali. Untuk kasus yang parah malah harus diulang sampai 5 kali. Jadwal vaksin ulang saya akan dilakukan minggu depan tanggal 26 Desember 2017. Okeh, saya yakin di Jakarta vaksinnya tersedia lebih banyak. Secara Jakarta geto looch! Pusatnya segala hal di Indonesia.

Ternyata saya salah, sodara-sodari…

Belajar dari pengalaman di Bali, maka saya hubungi dulu rumah sakit satu-persatu sebelum berangkat untuk vaksin. Biar hemat bensin dan waktu, yekan. Rumah sakit di sekitaran Jakarta Selatan yang sudah pernah saya kunjungi mengatakan nggak punya stok vaksin rabiesnya. Beberapa dari mereka menyarankan agar ke Rumah Sakit Infeksi Sulianto Saroso. “Di sana pusatnya vaksin. Pasti ada, mba,” ujar salah satu pegawai farmasi di rumah sakit entah mana saya lupa karena udah terlalu banyak rumah sakit yang saya telepon.

Maka saya telepon lah RS Sulianto Saroso itu.

Dan kata pegawai farmasinya stoknya nggak ada. Memang lagi kosong nasional.

Huwapah??? Julia Roberts mulai panik, tuh. Maksudnya gini, kalau di rumah sakit pusat infeksi yang-katanya-semua-stok-vaksin-tersedia-di-sana aja bilang nggak punya stok, gimana dengan rumah sakit lainnya? Kan mereka dapat stok dari rumah sakit pusat infeksinya, ya nggak sih? <——please correct me if I’m wrong, ya. But I’m not wrong. I’m Krili. What’s your name? Nice to meet you.

Saya kemudian bertanya ke si pegawai farmasi itu, “Terus apa yang akan terjadi kalau saya nggak divaksin? Kan semuanya udah nggak punya stok vaksin, nih.”

“Hmmm…. Kalau itu ibu coba tanya ke dokter aja, ya. Kami kurang mengerti. Saya sambungkan ke dokter jaga di UGD kami, ya.”

Dia panggil saya ‘ibu’???? Hello, Julia Roberts still look young, okay!¬†Eh, tapi kan kalau ditelepon dia nggak bisa melihat keayuan parasku kan ya? Ya sudah, saya maafkan seluruh umat manusia yang memanggil saya ‘ibu’ di telepon. Karena sesungguhnya mereka tidak tahu.

Maka saya ngobrol lah dengan dokter jaga di UGD Sulianti Saroso itu. Saya bilang saya butuh vaksin rabies, tapi vaksinnya nggak ada. Jadi saya harus gimana?

Dokter yang berinisial S: Yah… Harus divaksin ya.

Saya: Tapi vaksinnya nggak ada.

Dokter S: Iya…. Tapi memang pengobatannya itu harus divaksin.

Saya mulai merasa ada yang aneh dari cara bicara dokter ini. Dia sepertinya nggak tahu harus ngapain. “Jadi saya harus gimana, dong? Kalau vaksinnya kosong terus, gimana kalau ada yang darurat digigit anjing dan harus divaksin segera, dok?” tanya saya.

Dokter: Iya… Tapi vaksinnya nggak ada. (What?)

Saya: Kalau saya nggak divaksin gimana, dok? Apa gejala rabies yang harus saya waspadai?

Dokter: Oh kalau gejala rabies itu harus dilihat dulu di Google

Sungguh keren sekali jawaban Dokter S ini. Saya jadi penasaran dia sekolah kedokteran di filial yang mana.

Setelah percakapan yang mind blowing namun unfaedah dengan dokter lulusan filial itu, saya berusaha tetap qaleum. Si Punk Rock menyarankan coba cari di rumah sakit di Bekasi aja dulu. Berhubung kami saat itu lagi menginap di tempat Papa di Bekasi.

Ya udah, saya ikutin lah sarannya Si Punk Rock. Satu persatu saya coba teleponin rumah sakit di Bekasi. Terima kasih kepada Google Map yang menyediakan nomor telepon rumah sakit dengan mudah. Akhirnya saya menemukan satu rumah sakit di bilangan Bekasi Timur yang masih punya stok vaksin rabies. Sebut saja Rumah Sakit Cantik. Begini percakapan saya via telepon dengan petugas farmasinya.

Saya: Halo, farmasi? Saya mau nanya di sana ada stok vaksin rabies nggak, ya?

Farmasi: Sebentar ya saya cek dulu. (Terdengar bunyi menaruh gagang telepon. Tak berapa lama kemudian, dia kembali). Halo, kalau boleh tahu ini buat pasien umum atau BPJS, ya?

Saya: Saya umum.

Farmasi: Oh, kalau untuk umum ada, nih. Tapi kalau untuk BPJS nggak ada. Soalnya kalau BPJS nagihnya lama.

Saya: Oh gitu… Okeh besok saya ke sana ya. Makasih.

Seusai saya tutup telepon, saya merasa lega akhirnya ketemu juga rumah sakit yang masih punya vaksin rabies. Tapi di waktu bersamaan, saya jadi kasihan sama pasien yang bergantung dengan BPJS. Gimana kalau anak mereka yang digigit anjing terus nyari vaksinnya susah, sekalinya nemu ditolak pula karena pakai BPJS. Naudzubillah mindzaliq deh…

O iya, karena satu dan lain hal, akhirnya saya malam itu juga ke Rumah Sakit cantik untuk vaksin rabies. Vaksinnya di UGD. Susternya baik-baik dan ramah semua. Susternya memastikan kalau saya pasien dengan pembayaran umum, bukan BPJS. Saya jadi mengerti sih bahwa Rumah Sakit Cantik ini bukan menolak pasien BPJS dengan tidak berperikemanusiaan. Bagaimanapun juga yang namanya rumah sakit pasti punya banyak pegawai yang harus mereka bayar gajinya. Sedangkan pencairan tagihan dari BPJS mungkin memakan waktu yang tidak sedikit. Telat satu bulan aja udah mengganggu keseimbangan finansial. Dan dari cara mereka mengeluh, sepertinya dananya cair jauh lebih lama dari satu bulan.

BPJS itu sudah terbukti banyak menolong kesehatan orang banyak. Namun memang sepertinya back end-nya kurang tertata baik sehingga menimbulkan efek yang kemudian merugikan si pasien. Yah, anggap aja ini kritik yang membangun untuk BPJS. Semoga BPJS tetap jaya! Yes! Yes! Yes!<—–ala training motivasi.

Maka hari itu saya berhasil menyelesaikan vaksin yang kedua. Eh ternyata vaksin rabies di Rumah Sakit Cantik cuma memakan waktu 300 ribuan. Alhamdulillah yes.

Lalu drama pun terulang kembali ketika sudah waktunya saya vaksin yang ketiga. Menjelang hari vaksin saya kembali berkutat dengan Google Map dan telepon. Satu persatu saya hubungi bagian farmasinya. Saya coba hubungi Rumah Sakit Cantik lagi, dan seperti yang sudah saya perkirakan kalau stok vaksin rabies mereka sudah habis. Jangan-jangan waktu itu vaksin rabies yang mereka suntikkan pada saya adalah yang terakhir. Wah, ini kah rasanya jadi orang ‘aku memang bukan yang pertama, tapi aku jadi mau jadi yang terakhir’?

Ya Tuhan, aku so sweet banget eah ‚̧

Oke, saya yakin Anda bingung dengan konteks saya menyebut diri saya ‘so sweet’ dalam hal ini. Tapi tolong fokus dengan tema vaksin rabies yang sedang kita bicarakan ini. Jangan mudah terdistraksi. Tolong dong, ini masalah serius tau. Apa sih salah dengan kamu orang? (Baca: What is wrong with you people?)

Berhubung waktu itu liburan di rumah Papa di Bekasi telah usai, maka saya kembali fokus mencari vaksin di rumah sakit di bilangan Jakarta. Tidak mudah mencarinya sodara-sodara… Namun saya tetap bertekad kuat untuk mencarinya sampai dapat. Saya percaya saya pasti bisa. Tekad bundar ini menggolakkan semangat saya persis kayak ibu-ibu yang maksa mau foto wefie dengan Pak Jokowi.

Ketika saya agak kelelahan menelelpon dan mendapat penolakan bertubi-tubi, saya telepon Kementrian Kesehatan. Saya lihat nomornya di laman Twitternya @KemenkesRI. Saya adukan pengalaman saya dari digigit anjing sampai kesulitan saya mencari vaksin rabies. Si bapak call centernya mendengarkan. Awalnya dia mendengarkan dengan ogah-ogahan, tapi begitu saya bercerita dengan nada penting nan darurat yang penuh semangat, akhirnya dia mendengarkan dengan seksama. Mungkin awalnya dia malas mendengarkan karena saya telepon di hari Minggu, hari di mana semua orang leha-leha bangun siang, sedangkan dia harus bekerja. Namun lama-lama dia mungkin sadar kalau yang nelepon mirip Julia Roberts.

Saya menyarankan agar vaksin rabies diperbanyak, terutama di Bali. Kasihan warga Bali yang harus terus waspada karena banyak anjing berkeliaran. Si bapak call center akhirnya menyarankan saya untuk telepon ke Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta di 021-3800154. “Teleponnya di hari Senin aja ya, bu. Pas jam kerja di jam 8 pagi sampai 4 sore. Di sana ibu bisa tanya puskesmas mana yang masih tersedia vaksin rabies” sarannya.

Okeh, pertma-tama saya maafkan bapak call center itu karena memanggil saya dengan sebutan ‘bu’. Kedua, hari Seninnya saya telepon pihak tersebut seperti yang bapak call center sarankan.¬†

Tapi seharian ditelepon nggak diangkat!

Ya sudah, kita lupakan sajalah saran bapak call center itu. Saya kembali ke jalan penuh tekad untuk menelpon semua rumah sakit di Jakarta Raya dengan mengandalkan Google Map. Saya anggap aja teleponan sama bapak call center itu sebagai ajang ‘curhat dong, mah’ dengan orang asing. Konon curhat dengan orang yang tidak kita kenal itu kita bisa lebih jujur dan lebih plong. Makasih ya bapak call center sudah mendengarkan curhat aquh.

Akhirnya saya dapat rumah sakit yang masih menyediakan vaksin rabies (waktu itu), yaitu MRCCC Siloam Semanggi. Katanya vaksinnya masih sisa dua. Okeh, artinya aku nggak akan jadi yang terakhir untuk kamuh?

Meluncurlah saya ke sana. Sesampainya saya di sana, saya diarahkan ke klinik Poli, bukan ke UGD seperti di Rumah Sakit Cantik. Pas saya sampai di klinik Poli, dokternya belum datang (konon dokter-dokter di rumah sakit Indonesia memang suka begitu ya? Bertanya serius ini). Saya melihat ada anak lelaki pergelangan kakinya dibalut perban. Dia terlihat anteng aja sambail main game di hapenya. Pas dokternya datang, anak itu dan ibunya dipanggil masuk menghadap dokter. Setelah mereka selesai, giliran saya yang dipanggil.

Dari percakapan antara saya, dokter, dan suster di dalam klinik, saya jadi tahu kalau vaksin rabies yang mereka suntikkan ke saya adalah stok terakhir mereka juga. AKUH JADI YANG TERAKHIR LAGI UNTUK KAMUH? SO SWEET… Stok yang sebelumnya sudah dipakai untuk anak lelaki yang kakinya dibalut perban tadi.

Di situ saya lagi-lagi merasa lega karena akhirnya, saya ulangi, AKHIRNYA selesai juga perkara vaksin rabies ini. Tapi kasihan juga sama anak lelaki yang kakinya dibalut perban tadi. Gimana dia cari vaksin lanjutan lainnya. Rumah sakit pusat infeksinya nggak bisa diharapin. Rumah sakit lainnya stoknya pada kosong. Apalagi kalau dilihat kakinya sampai diperban begitu, artinya luka dia cukup dalam. Mungkin dia butuh vaksin lebih dari 3 kali.

Saya bisa aja jadi orang egois dengan bilang, “derita lo. Siapa suruh digigit anjing”. Tapi saya nggak bisa seegois itu. Satu, karena saya pun digigit anjing secara tiba-tiba tanpa tedeng aling-aling, tahu-tahu di-hap. (Please jangan bayangin Saipul Jamil saat membaca ini). Saya dan mungkin banyak korban lainnya digigit anjing tanpa memprovokasi anjingnya sedikit pun. Kami tidak ada melempari anjingnya dengan batu atau sengaja gangguin dengan nginjek buntutnya kayak yang sering dilakukan Nobita dengan ceroboh, ataupun mengejek si anjing dengan perkataan ‘anjing lu!’. Soalnya mereka memang anjing. Maka ucapan itu tiada artinya buat mereka kecuali memperlihatkan ketepatan kita mengidentifikasi sebuah makhluk hidup.

Lalu ketika Anda sudah digigit anjing dan harus divaksin rabies dengan segera, Anda harus gimana? Wong stok vaksinnya nggak ada.

Maka dari itu dengan blog ini, saya Julia Roberts  menghimbau pemerintah agar memperbanyak stok vaksin rabies, terutama di Bali. Iya, memang angka rabies mungkin tidak tinggi di Indonesia. Namun tetap saja kita harus punya stok yang tersedia untuk kepentingan darurat. Rabies bisa merengut nyawa, lho. Bukan sekadar demam, batuk, pilek, atau gatal-gatal doang.

Bagi para pejuang pencari vaksin rabies di luar sana, tetap semangat, ya! Jujur saya nggak bisa bantu banyak. Namun saya harap tulisan ini bisa memberi kalian semangat dan sadar kalau kalian tidak sendirian.

Dan terakhir, untuk para anjing yang sok gigit gemes sama orang yang tidak bersalah apalagi orang dengan betis ala Julia Roberts seperti saya….

DASAR ANJING!