Review: Write Me A Love Song Series (2021)

Kebetulan saya diundang ke acara konferensi pers peluncuran serial Write Me A Love Song ini di CGV Grand Indonesia (24/11). Jadi di review kali ini saya juga akan memberikan sedikit laporan pandangan mata.

(Foto: Viu.com)

Serial ini menceritakan tentang seorang musisi bernama Valentino Kun atau yang biasa dipanggil Kun (Bio One). Dia sangat berusaha menancapkan namanya di industri musik, tapi sayangnya semua lagunya dapat review jelek dari netizen.
Kun punya dua orang sahabat yang selalu mendukungnya, ada Ipen (Andri Mashadi) dan Mamen alias Chelsea (Marsha Aruan). Menurut kedua orang sahabatnya, lagu-lagu Kun itu kurang ada feel-nya. Kun sering membuat lagu cinta, tapi nggak ada lagu yang bisa bikin orang baper. Mereka berkesimpulan, untuk bisa membuat lagu cita, maka Kun harus bisa jatuh cinta dulu. Sejak saat itu Kun berusaha untuk bisa jatuh cinta, semata-mata biar bisa menulis lagu cinta yang hebring.
Di tengah usahanya itu, Kun berkenalan dengan seorang cewek sesama musisi bernama Yogurt (Dinda Kirana). Kun juga dipertemukan kembali dengan cinta pertamanya waktu SMA, Vanessa (Naomi Zaskia), yang kini jadi salah satu petinggi label musik.
Akan kah Kun bisa membuat lagu cinta dan menjadi musisi terkenal?

Di konferensi pers yang saya hadiri, kami dipertontonkan dua episode pertama serial ini. Jadi ini adalah review saya untuk kedua episode itu, ya. Dan berikut pendapat saya…

Yang saya suka dari serial ini:
+ Serial ini potensial. Digarap dengan baik. Mulai dari set, lokasi, properti, dan editing warna bagus semua.
+ Alur ceritanya bagus. Nggak ada plot yang bolong, sejauh ini.
+ Pembangunan karakternya oke.
+ Suka dengan aktingnya Andri Mashadi sebagai Ipen yang baik hati tapi agak-agak kurang dikit otaknya.
+ Meski pemain serial ini rata-rata adalah jebolan sinetron dan FTV semua, tapi kita nggak akan melihat akting template khas sinetron atau FTV. Justru dari serial ini saya jadi optimis dengan para aktor/aktris jebolan sinetron ataupun FTV. Jadi kata siapa Indonesia kekurangan aktor?Industrinya aja kali tuh yang kurang inklusif, uhuk uhuk… Duh jadi batuk sayah…
+ Bio One di serial ini ganteng banget, btw!!!

Bio One di serial Write Me A Love Song
Bio One yang saya lihat langsung pada saat konferensi pers. Dia memang jauh lebih kurus dan berkulit lebih gelap karena untuk kebutuhan sebuah peran yang lagi proses produksi syuting.
Tapi saya nggak paham dengan konsep baju serta sendal bakiak Jepang yang dia pakai saat konferensi pers itu. Apa mungkin dia sedang berusaha menjadi Ezra Miller versi kearifan lokal ya?
Terlepas soal bajunya yang bikin saya jadi pengen panggil guru BP, saya optimis anak ini aktingnya akan makin banyak mewarnai industri perfilman kita. Asal dia nggak salah ambil jalan saat berhura-hura aja…

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Figurannya ya gitu deh hehehe…
– Kostum untuk tokoh Yogurt kok gitu banget, ya? Perasaan musisi cewek jaman sekarang nggak kayak Ully Sigar Rusady gitu dah (Anjay ketahuan umur gua).

Ini Ully Sigar Rusady, gaes. Beliau adalah musisi dan juga kakak kandungnya Paramitha Risady

– Serial ini bukan musikal, tapi ada banyak musiknya. (Ya iyalah, kan ceritanya tentang musisi yang mau bikin lagu.) Nah sejauh dua episode ini, lagunya belum ada yang oke dan nempel atau berpotensi jadi soundtrack gitu lah. MUNGKIN ini karena baru dua episode kali ya. Belum sampai ke cerita dimana Kun akhirnya berhasil bikin lagu yang bagus. Semoga nanti beneran ada lagu yang oke dari serial ini, ya.
Oiya, Bio One sempat membocorkan kalau akan ada konser mini setelah serial ini tayang 10 episode. Kita tunggu aja, ya.

Di konferensi pers kemarin Bio One sempat disuruh menyanyikan salah satu lagu dari serial Write Me A Love Song. Saya video-in dengan super zoom. Alhamdulillah kamera handphone saya lumayan caem meski bukan aifon.


-Nah itu tadi kan soal lagunya, ya. Beda lagi kalau soal scoring. Menurut saya di beberapa bagian scoringnya agak ganggu dan kurang jaman sekarang. Beberapa scoringnya masih sinetron banget.
“Lah tapi kan serial ini sebenarnya sinetron yang tayang di layanan streaming. Pegimane sih lu, Krili!,” ujar netizen menahan gemas melihat kecantikan Krili.
Iyak juga sih, tapi kalau menurut saya, serial yang tayang di layanan streaming itu beda sama yang tayang di TV nasional. Serial Indonesia yang tayang di layanan streaming itu kelasnya beda, karena penontonnya juga beda. Makanya disayangkan kalau scoringnya masih dimiripin ama sinetron biasa. Itu pendapat saya lho. Kalau nggak suka ama pendapat saya, ya udah bagen! #BekasiPride
-Ada beberapa dialog yang agak kaku. Tapi yang paling mengganggu saya adalah kenapa hampir di tiap dialog kayak ada jeda gitu, ya? Apakah itu disengaja buat di-insert sound effect? Tapi nggak ada sound effect-nya juga. Confused saya jadinya…

Begitulajh kira-kira review saya…
Jujur saya udah lama banget nggak nonton sinetron Indonesia, karena saya sudah hilang harapan dengan sinetron Indonesia sejak lama. Tapi nonton serial yang ditayangkan di Viu ini, saya jadi tertarik untuk download Viu. Karena ternyata serial-serial Indonesia (sinetron) yang digarap untuk ditayangkan di OTT (Over-The-Top media service alias layanan tayangan streaming) ini bagus-bagus dan punya masa depan cerah. Serial-serial ini digarap dengan gaya film. Dan alur cerita juga tidak akan dipanjang-panjangin ala Tersanjung karena menghamba rating. Ini jadi angin segar untuk saya ‘percaya’ lagi dengan serial Indonesia.

Oiya, di konferensi pers ini juga dijelaskan bahwa perusahaan pembuat gitar Indonesia, Delta Guitar, akan mendonasikan sejumlah gitar special edition Write Me A Love Song ke beberapa sekolah di Indonesia agar dapat memfasilitasi talenta-talenta muda sejak di bangku sekolah.

Delta Guitar

Rate: 3,5 out of 5
Serial ini bisa kamu tonton di aplikasi streaming Viu mulai 25 November 2021.

Ini trailernya…

Review: Walking The Yangtze With Ash Dykes (2020)

Apa jadinya kalau kita memutuskan untuk menyusuri sungai Yangtze di Tiongkok?

Ash Dykes

Kenalin nih, namanya Ash Dykes asal North Wales, Inggris. Dia adalah seorang petualang atau explorer yang sudah tiga kali menyabet gelar rekor dunia. Salah satunya adalah sebagai orang yang berhasil treking keliling Madagascar sepanjang 2,600 kilometer pada tahun 2015. Kini ia memulai petualangan barunya: treking meyusuri Sungai Yangtze di Tiongkok yang merupakan sungai terpanjang ketiga di dunia (6,600 kilometer).

Di dokumenter ini diperlihatkan persiapan awal Ash untuk menjalankan misinya. Mulai dari belajar bahasa percakapan dasar China, peralatan apa aja yang dia bawa, sampai beli kuda untuk menemani perjalanan awalnya.

Ash dengan kuda tahan banting yang ia beri nama Castor Troy. Tapi sepanjang film saya dengar namanya itu ‘kastachui’ haha

Setelah perlengkapan buat misinya udah siap, Ash pun pergi ke pegunungan Tanggula di pedataran tinggi Tibet untuk ke sumber mata air utama Sungai YangTze. Dari situlah perjalanan misi Ash menyusuri Sungai Yangtze dengan jalan kaki akan dimulai. Ash akan menelusuri sungai sampai ujung kota Shanghai dimana di situlah muara Sungai Yangtze ke lautan.

Ash pas nemuin sumber mata air utama Sungai Yangtze bersama guide dan crew yang waktu itu masih ikutan mendokumentasi perjalanannya sebelum akhirnya pada menyerah bertahap.

Serius jalan kaki? Iya serius banget dia. Dengan bawa tas ransel carrier seberat 30-an kg, dia telusurin tuh sungai. Selama perjalanan, banyak banget tantangan yang harus dia hadapi. Dari tantangan dari sesama manusia, seperti para guide-nya yang nggak ada yang betah karena kelelahan atau takut. Sampai tantangan dari alam yang banyak banget. Mulai dari binatang buas, hujan badai, longsor, dan masih banyak lainnya.

Yang saya suka dari film ini:
+ Ash Dykes ini sungguh inspirasional. Dari film ini saya bisa melihat bahwa faktor keberhasilan Ash bukan hanya soal kegigihan. Tapi juga soal bagaimana ia mempertahankan positive attitude dan positive mindset. Di film ini saya tidak melihat satupun komentar negatif atau satir dari Ash tentang apapun yang ia hadapi. Dia sempat tersesat, peralatannya dicuri, harus mutar jalan di gunung, numpang tidur dan makan di warga lokal, tapi dia jalanin dengan senang dan senyum terus. Positive mindset selalu bisa bikin kita mikir jernih buat bertahan hidup.

Dari gunung bersalju….
Sampai musim panas, Ash tetap jalan dengan tersenyum.


+ Ash menghabiskan waktu perjalanan ini sekitar satu tahun. Ia tidak melulu menyusuri di samping sungai aja, tapi juga mampir ke kota-kota yang dilewati sungai Yangtze. Di kota-kota itu Ash berusaha mempelajari dan memahami makna sungai Yangtze untuk warga di sana.
+ Film ini dibagi menjadi dua bagian (episode). Pembagian episode ini dibuat dengan proporsional. Bagian pertama lebih banyak menceritakan bagaimana Ash menjalani perjalanannya dan bertahan hidup di alam liar. Sedangkan di bagian kedua lebih banyak membahas tentang budaya dan warga yang ia singgahi.
+ Sebelum saya nonton film ini, Tiongkok tidak pernah masuk ke list negara yang ingin saya kunjungi. Tapi sekarang, setelah melihat Tiongkok yang direkam oleh Ash adalah negara yang indah banget, ya! Lembahnya bagus-bagus dan menyejukkan mata. Dan sungai Yangtzenya, meski di tiap daerah warna airnya bisa berbeda, tapi sungainya bersih nggak ada sampah. Sebagai orang Indonesia yang tinggal di Jakarta, pemandangan sungai bersih tanpa ada sampah itu memang langka.

Tuh, bagus kan?
Cakep banget masya Allah…
Kayak lembah-lembah tempat tinggalnya Kung Fu Panda kan?

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Meski kegiatan Ash mampir ke kota-kota untuk mempelajari budaya dan konservasi alam di sekitar sungai yang ia telusuri itu menarik, tapi jadi kurang memperlihatkan sisi adventurous-nya.
– Film ini agak terkesan terburu-buru untuk menceritakan perjalanan yang menghabiskan waktu satu tahun. Mungkin memang akan bosan nonton orang yang melakukan perjalanan sendirian. Tapi kalau dibuat kayak vlog harian, saya rasa akan tetap menarik untuk ditonton.
– Tidak ada keterangan waktu dan tanggal di film ini. Makanya sempat kaget begitu nonton bagian Ash ke kota Wuhan. Udah ketar-ketir aja dia ketularan Covid-19. Tapi kayaknya misi dia ini dilakukan sebelum ada virus itu merebak, sih.

Rate: 3,5 out of 5

Film ini akan tayang di channel National Geographic pada 20 (bagian 1) dan 27 Oktober (bagian 2) 2020 pukul 20:00 WIB.

Ini trailernya…

(Semua foto adalah dokumentasi dari National Geographic)

Review: Unsolved Mysteries (2020)

Yang suka baca komik Detektif Conan pasti suka serial ini.

Serial ini terdiri dari enam episode yang menceritakan misteri yang berbeda. Hampir semuanya adalah tentang aksi kriminal yang tak terpecahkan. Seperti tentang menghilangnya Rey Rivera yang kemudian ditemukan dalam keadaan tak bernyawa secara tidak wajar di sebuah ruang serba guna hotel legendaris. Atau tentang pembunuhan satu keluarga bangsawan Perancis yang menghebohkan pada tahun 2011 lalu. Semuanya diceritakan dengan membeberkan rangkaian fakta dari para kerabat korban, polisi, sampai jurnalis. Nggak sabar nunggu volume 2-nya tayang di Netflix

Yang saya suka dari serial ini:
+ Suka banget dengan insert timeline dari setiap peristiwa. Penempatan tanggal linier ini sangat memudahkan penonton untuk mengerti kronologi peristiwa.
+ Kasus yang ditampilkan di serial volume ini beragam. Mulai dari orang hilang, pembunuhan, konspirasi keluarga, sampai diculik UFO.
+ Semua episodenya menarik. Pecinta komik Detektif Conan pasti langsung mikirin berbagai skenario kemungkinan pemecahan kasus setelah menonton tiap episodenya.
+ Favorit saya episode 3. Selain heran bagaimana kok bisa pelakunya tega, sekaligus salut dengan bagaimana ia merencanakan kejahatannya serta cara kaburnya dengan terperinci nan elegan.

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Episode 5 menurut saya membosankan. Mungkin karena saya nggak percaya juga kali ya, jadi gitu deh…

Rate: 4 out of 5
Saya nonton serial ini di Netflix.

Ini trailernya…

Review: Jeffrey Epstein: Filthy Rich (2020)

Hooo…. Jadi ini tokh Jeffrey Epstein yang sempat heboh di media asing tahun lalu.

Serial dokumenter ini menyorot kisah hidup Jeffrey Epstein yang ternyata cukup misterius. Latar belakangnya kurang diketahui banyak orang. Tahu-tahu ia sudah masuk dalam lingkaran orang kaya berpengaruh di Amerika Serikat. Teman nongkrongnya antara lain Bill Clinton, Donald Trump, sampai Pangeran Andrew dari Inggris. Pokoknya dia itu T.O.T (Tim Orang Tajir).

Pekerjaan dan bisnisnya nggak terlalu jelas apa. Pas saya tonton serial ini sampai habis, saya masih nggak paham pekerjaan atau bisnis Jeffrey Epstein itu bergerak di bidang apa. Yang pasti dia tajir mampus dan pengaruhnya besar.

Sebesar apa pengaruhnya?
Sebesar itu sampai ia bisa menghentikan proses penyelidikan FBI terhadap dirinya menyangkut pelecehan terhadap ratusan anak di bawah umur. Iyes, Jeffrey ini suka ngajak cewek-cewek abege untuk pijat-pijat cantik di rumahnya. Dengan iming-iming uang 200 USD, dia menciptakan rantai korban pelecehan cewek-cewek abege. Kalau ada cewek yang pintar, ia iming-imingi dengan biaya kuliah dan pengalaman kerja di luar negeri biar masa depan si cewek cerah.

Namun begitu ada cewek yang melaporkan pelecehannya, Jeffrey bisa dengan gampang ‘mengatur’ hukumannya. Apa sih rahasia Jeffrey Epstein ini?

Jeffrey Epstein om-om tajir bertampang baik.
“Kamu mau apa? Sini om bayarin. Tapi om maunya sama anak abege ehe ehe”

Yang saya suka dari serial ini:
+ Buat orang yang buta kasus Jeffrey Epstein ini, saya jadi bisa tahu luar-dalam baik-busuk dirinya dengan penuturan yang gampang dicerna.
+ Salut sama para korban yang berani untuk mengungkapkan kebenaran di serial ini
+ Jadi tahu kalau politisi, pengacara, dan orang tajir Amrik itu emang busuk, yes.
+ Pangeran Andrew dari Inggris apalagi! hadoh…hadoh…… Bisa gitu ye bohong menyangkal dengan gampang karena dia ‘keluarga kerajaan’.
+ Dari semua nama besar yang munafik yang disebut di serial ini, cuma satu nama yang saya nggak habis pikir apa yang ada di benaknya. Yakni, Ghislaine Maxwell yang tak lain adalah pacarnya Jeffrey Epstein. Menurut para korban, Ghislaine justru ikut merekrut cewek-cewek untuk dilecehkan oleh Jeffrey. What the hell??? Eh alhamdulillah per 3 Juli 2020 AKHIRNYA Ghislaine ditangkap.

(Kiri) Ghislaine Maxwell yang nggilani. You krezi woman you!


+ Suka banget dengan judulnya ‘Filthy Rich’. Makna ambigu yang menjelaskan betapa tajirnya dia sekaligus betapa kotornya seorang Jeffrey Epstein.

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Tanpa maksud mengecilkan apa yang dilakukan Jeffrey Epstein, tapi apa yang dilakukan oleh dia itu nggak mengherankan buat penonton Indonesia. Soalnya orang kaya bisa lolos dari segala macam hukuman dan kriminal di Indonesia itu udah biasa berow…
– Dokumenter ini punya niatan baik untuk mengedepankan para korban. Namun entah kenapa saya ngerasa kisah mereka agak dipanjang-panjangin. Untung yang ngedit jago.

Saya nonton serial ini Netflix.
Rate: 3,5 out of 5

Ini trailernya…

Review: You (Series)

Category: TV Series
Genre: Thriller, Romance
Rate: 4,5 out of 5

Image result for you netflix poster

Ini kayaknya pertama kali saya me-review serial televisi. Oke, mulai sekarang saya akan coba mer-review serial televisi juga. Tapi biar adil, saya akan me-reviewnya kalau sudah selesai menonton full satu season, ya.

Serial ini mengisahkan tentang Joe (Penn Badgely) seorang pelayan toko buku yang jatuh cinta pada pandangan pertama ke Beck (Elizabeth Lail) yang datang ke tokonya. Sejak itu Joe secara diam-diam membuntuti Beck. Joe jadi tahu segala sesuatu tentang kehidupan Beck. Seperti di mana dia tinggal, siapa cowok yang kencan dengannya, rutinitasnya di kampus, sampai segala masalah pribadinya. Joe menutupinya dengan baik. Sampailah Joe tidak tahan melihat Beck dipermainkan oleh cowok yang dikencaninya. Joe merasa dia harus bertindak.

Image result for you netflix scene
Beck & Joe

Yang saya suka dari serial ini:
+ Serial ini dengan sangat pintar dan rapi menjelaskan isi pemikiran orang. Akhirnya semua konflik terasa realistis
+ Penn Badgely aktingnya oke banget dari cowok yang sweet sekaligus ‘sakit’. Dari sorot matanya kita bisa langsung melihat perubahan karakternya.
+ Pengambilan gambarnya keren. Terutama perubahan pengambilan angle saat Joe jadi cowok manis dan cowok ‘gila’. Kalau Joe lagi cowok manis, di-shootnya dengan angle Penn yang ganteng. Tapi kalau dia lagi jadi cowok ‘gila’, di-shootnya dari angle jeleknya Penn. Jadi bikin kita mikir, ‘ih ama cowok jelek gini aja kok mau?’ Tapi begitu dia jadi ganteng lagi, jadi sneyum-senyum sendiri lagi, deh——>gampang lemah ama cowok ganteng emang
+ Aktingnya Elizabeth Lail juga harus dapat perhatian khusus. Dia bisa membawakan diri sebagai cewek yang ‘banyak tekanan dari pertemanan tapi juga pengen maju’, khas cewek umur 20-an. Pengen main, tapi banyak tugas. Pengen ngerjain tugas, tapi FOMO (Fear Of Missing out) ama teman-teman sendiri. Dia juga pas banget meranin cewek nggak pede yang butuh dukungan.
+ Saya suka sekali tokoh Peach Salinger yang diperankan oleh Shay Mitchell. Selain cantiknya parah, tokoh yang sombong tapi sayang banget sama Beck ini bikin kita kezel-kezel-sayang. Dan kayaknya di tiap pertemanan cewek, pasti ada aja orang kayak Peach.
+ Apartemennya Beck bagus. Andai dulu kosan saya seperti itu…
+ Banyak pemandangan New York yang bikin pengen ke sana. Terutama Central Park. Bukan Central Park yang mall di Jakarta itu lho, ya. Kalau yang itu mah saya udah pernah.
+ Kulitnya Beck kok bagus amat yak? Lipstik nudenya juga bagus-bagus.

Image result for you netflix scene peach
Peach Sallinger

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Meskipun alur ceritanya bagus, bikin berbunga-bunga, sekalgus deg-degan penasaran, tapi saya amat sangat tidak menyarankan anak-anak di bawah 17 tahun menonton serial ini. Saya ada kekhawatiran kalau serial ini akan berefek buruk terhadap anak-anak belum cukup umur. Takutnya anak-anak cowok berpikir kalau mencontoh tindakan ‘stalking sakit’nya Joe itu hal lumrah. Yang paling bikin saya takut lagi adalah cewek-cewek di bawah umur akan berpikir bahwa tindakan ‘sakit’nya Joe itu adalah bentuk dari romantisme. Tindakan dia itu very not good ya , girls! Jangan mau digituin ama cowok-cowok. Dia itu sakit jiwa.
– Serial ini juga banyak adegan kekerasan dan seksualnya (meski nggak vulgar). Jadi, sekali lagi, jangan ditonton oleh anak-anak di bawah 17 tahun, ya.

Serial ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya….