Review: Flowers (Season 1-2016)

Beberapa episode dari serial Flowers ini sukses bikin saya sesak karena sedih.

Alkisah hiduplah keluarga Flowers. Sang ayah Maurice Flowers (Julian Barratt) adalah seorang penulis buku anak-anak. Diam-diam dia depresi dan ingin bunuh diri. Maurice punya ilustrator sekaligus asisten orang Jepang yang kelewat ceria. Namanya Shun (Will Sharpe).
Istri Maurice, Deborah (Olivia Colman) diam-diam tidak bahagia dengan pernikahannya dan butuh pengakuan bahwa keluarganya sempurna. Maurice dan Deborah punya sepasang anak kembar yang sudah dewasa: Donald (Daniel Rigby) yang terobsesi dengan mesin dan merasa dirinya adalah seorang penemu ulung dan Amy (Sophia Di Martino) seorang musisi yang diam-diam adalah seorang lesbian.

Pada suatu hari Maurice bangun dari tidurnya dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya hari itu juga. Ia pasang tali di sebuah batang pohon, lalu menggantung dirinya. Siapa sangka batang pohonnya patah. Bunuh diri Maurice gagal. Maurice mengira kalau ia berhasil menyembunyikan depresi dan usaha bunuh dirinya dari keluarganya. Sayangnya ibu Maurice yang lansia melihat itu semua. Dengan kepikunannya, ibu Maurice mencoba mereka ulang tindakan bunuh diri Maurice yang berujung ke cedera serius. Saat ibu Maurice dirawat di rumah sakit, hal-hal yang selama ini keluarga Flowers saling sembunyikan mulai terungkap.

Yang saya suka dari serial ini:
+ Serial ini adalah dark komedi yang cerdas!
+ Standing ovation buat Will Sharpe yang bukan hanya jadi aktor di serial ini. Tapi juga penulis naskah sekaligus sutradara. Ketiganya dia jalani dengan sangat baik. Aktingnya sebagai orang Jepang yang rela berbuat apapun untuk orang lain sangat sempurna! Penulisan naskah serial ini oke banget. Semua karakter mempunyai proporsi yang pas. Penyutradraannya juga bagus.
Mulai sekarang semua karya dengan nama Will Sharpe akan masuk di watchlist saya.
+ Belum lama ini saya menulis blog tentang kondisi kesehatan mental saya. Serial ini menjelaskan kondisi mental health buruk masing-masing karakter dengan cara yang lucu dan mudah dicerna. Seperti tentang kesulitan berkomunikasi dengan orang terdekat sampai frustrasi, tentang penyangkalan akan masalah diri sendiri, tentang usaha mencari perhatian, tentang duka ditinggalkan orang yang kita cintai, tentang usaha menghapus kesedihan dengan berpura-pura bahagia.
Ada beberapa adegan yang sedihnya begitu menusuk kalbu saya. Tapi saya yakin orang-orang yang tanpa kondisi kesehatan mental bermasalah pun dapat merasakan kesedihan yang ditunjukkan di serial ini.
Saya sangat menyarankan orang-orang untuk nonton serial ini untuk memahami orang depresi dan kesehatan mental.
+ Aktingnya Olivia Colman udah pasti okelah ya. Olivia selalu bisa akting mengubah emosi secara cepat.
+ Aktingnya Daniel Rigby juga berhasil banget bikin kita kesel.
+ Set dan lokasinya oke. Rumah mungil mereka yang sesak membuat saya berpikir bahwa rumah Keluarga Weasley di Harry Potter itu mungkin memang beneran ada di kehidupan nyata. Meski begitu, saya pengen banget punya rumah kaya gitu. Apalagi pondok mungil tempat Maurice menulis. Kayaknya enak banget kalau punya tempat kerja khusus kayak gitu. Tapi ya, saya emang selalu suka dengan rumah-rumah mungil di pedalaman Inggris sih.

Yang saya kurang suka dari serial ini:
-Rambutnya Deborah keliatan banget wig dan agak ganggu.
-Saya baru tahu Sophia Di Martino di serial ini. Rupanya dia salah satu aktris yang diperhitungkan karena udah masuk di geng superhero Marvel. Tapi menurut saya, aktingnya di serial ini biasa aja sih. Malah kayaknya dia banyak terbantu oleh make up untuk membangun karakternya.

Genre: Drama, komedi
Rate: 4,5 out of 5
Saya nonton serial ini di Netflix.

Ini trailernya….

Review: The Terror (2018)

The Terror itu nama sebuah kapal lho, ya. Tapi serial ini emang penuh dengan teror sih…

Serial ini berdasarkan kisah nyata tentang ekspedisi Kapten Franklin atau yang biasa disebut dengan Franklin’s Expedition.

Begini kisahnya…
Pada tahun 1845 Kapten Franklin (Ciaran Hinds) diutus melakukan ekspedisi laut untuk mencari jalur dagang baru lewat samudera Arktik. Jika ekspedisi ini berhasil, nama Kerajaan Inggris akan tersohor karena mencatat sejarah dunia karena telah menemukan jalur potong yang lebih cepat untuk perdagangan antara benua barat ke benua timur.
Maka berangkatlah Kapten Franklin bersama 129 orang petugas dan awak kapal. Ia memboyong dua buah kapal tercanggih pada masa itu, HMS Erebus dan HMS Terror. Seluruh kru kapal adalah orang-orang yang terlatih dan berkepala dingin. Persediaan makan mereka banyak dan aman untuk beberapa tahun ke depan. Terlebih, mereka bisa dikatakan orang-orang pertama yang menggunakan makanan kaleng yang merupakan penemuan mutakhir pada masa itu.
Tapi alam tidak bisa diprediksi. Kapal mereka tertahan di tengah laut yang membeku karena dinginnya iklim Arktik. Ini saatnya mereka harus putar otak mencari pertolongan rescue, sembari bertahan hidup menghadapi teror dari monster yang ingin memangsa mereka. Meskipun sejarah telah mencatat kalau mereka tidak akan pernah kembali lagi…

Yang saya suka dari serial ini:
+ Set dan lokasinya niat! Mereka melakukan riset agar set dan lokasinya menyerupai kapal asli Erebus dan Terror.

Dari green screen begini….
Jadi kayak kapal beneran gitu. Edan lah…

+ Aktingnya Tobias Menzies dan Jared Harris keren parah! Tobias Menzies sih yang saya suka banget. Aktingnya nggak pernah sama di serial manapun. Tapi selalu bagus! Fixed lah saya jatuh cinta sama Akang Tobi—-> panggilan saya untuk Tobias Menzies. Mulai sekarang, nama Tobias Menzies akan selalu masuk di watchlist saya.

Akang Tobi, aku padamu, kang! *kecup-kecup manja*

+ Serial ini tokohnya banyak. Tapi semua proporsinya pas.
+ Saya mendapat banyak pelajaran dari serial ini. Di antaranya adalah, tentang pentingnya anak buah mematuhi perintah atasan di militer, tentang pentingnya berkepala dingin bahkan saat terdesak sekalipun, tentang upaya bertahan hidup, tentang pentingnya percaya sama sains ketimbang hal-hal mistis, banyak lah pelajarannya….
+ Serial ini nggak perlu menggembar-gemborkan heroisme ala Hollywood. Tapi di serial ini kita bisa melihat sendiri bahwa pahlawan sejati itu bekerja dalam diam dan tidak membutuhkan penghargaan.
+ Posternya bagus! Sangat menggambarkan teror yang mencekam.

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Serial ini banyak banget mengambil fakta-fakta dari sejarah. Tapi jadi kecewa begitu perkara monster jadi mengambil peran yang cukup besar di serial ini. Padahal tanpa monster itu pun udah terasa mencekamnya. Karena sesungguhnya yang paling jahat dan kejam itu adalah manusia, bukan makhluk lain.
– Endingnya tuh kayak mau menyenangkan hati penonton. Padahal menurut sejarah endingnya tragis. Harusnya sih endingnya jadi apa adanya aja, menurut saya.

Saya nonton serial ini di Prime Video.
Rate: 4 out of 5

Ini trailernya…


Review: Downton Abbey (2010-2015)

Akhirnya saya bisa menyelesaikan serial ini. Ini akan jadi salah satu serial favorit saya sepanjang masa.

Serial ini menceritakan tentang keluarga aristokrat Inggris pada awal tahun 1920-an. Mereka adalah Lord Grantham (Hugh Bonneville) yang menikahi gadis kaya dari keluarga terpandang Amerika, Lady Cora (Elizabeth McGovern). Bersama mereka memunyai tiga orang putri, Lady Mary (Michelle Dockery) yang cantik jelita namun tinggi hati, Lady Edith (Laura Carmichael) yang wajahnya paling tidak menarik namun cerdas, dan Lady Sybil (Jessica Brown Findlay) yang baik hati dan rendah hati. Mereka semua tinggal di kastil bernama Downton Abbey.

Pada season pertama diceritakan tentang bagaimana kebingungan Lord Grantham dalam mencari pewaris gelar kebangsawanan dan kekayaannya. Karena ia tidak punya anak lelaki, secara adat Inggris di masa itu anak perempuan tidak diperkenankan mendapat harta warisan. Maka jalan satu-satunya Lady Mary harus mencari suami yang ‘sepadan’ untuk mewarisi kakayaan mereka. Disela upaya mencari jodoh yang tepat untuk Lady Mary, si sulung juga berkecimpung dalam siblings rivalry dengan Lady Edith. Persaingan kakak-adik ini sampai di tahap yang toxic. Mereka tidak segan ‘menghancurkan’ hidup dan masa depan satu sama lain.

Itu adalah konflik yang harus dihadapi oleh kaum ‘atas’ Downton Abbey. Beda lagi dengan kaum ‘bawah’nya, yakni para pelayan Downton Abbey. Mereka pun harus menghadapi konflik di keseharian mereka sendiri. Seperti geng antar pelayan, percintaan antar pelayan, persaingan antar pelayan agar selalu terlihat oleh kaum ‘atas’, gosip antar pelayan, sampai ambisi yang tak segan melukai majikannya sendiri.

Yang saya suka dari serial ini:
+ Julian Fellows sang kreator Downton Abbey ini sangat mahir dalam menulis naskah cerita yang bagus. Mulai saat ini semua karya dengan nama Julian Fellows akan masuk dalam watchlist saya.
+ Seluruh karakter memunyai porsi cerita yang saling menguatkan karakter lainnya. Semuanya memunyai peran penting. Layaknya sebuah rumah, masing-masing karakter punya peran daam menghidupi ruang tertentu di rumah tersebut.
+ Meski serial ini menceritakan kisah tentang satu abad yang lalu, namun serial ini memunyai kesamaan yang erat dengan kita di era milenium ini. Yaitu kegagapan dan adaptasi yang dipaksakan terhadap perubahan.


Para tokoh di Downton Abbey mengalami perubahan besar saat ditemukannya listrik dan telepon. Ada begitu banyak adaptasi yang harus mereka hadapi dengan bermunculannya berbagai alat mutakhir (listrik) di era itu. Ditambah inovasi baru juga memicu perubahan perilaku dan pola pikir manusia. Hal yang sama juga sedang terjadi pada kita dengan munculnya internet. Begitu banyak perubahan perilaku yang membuat kita enggan berubah namun terpaksa karena harus mengikuti zaman.
Konflik-konflik perubahan zaman seperti ini diceritakan di Downton Abbey dengan gamblang namun terasa dekat penonton masa kini.
+ Sangat suka dengan bagaimana serial ini menyisipkan kritik dan pesan pemberdayaan perempuan melalui dialog-dialognya.

Lady Edith


+ Selayaknya kaum aristokrat Inggris yang kalau ngomong itu harus pakai basa-basi dan anti straight to the point, banyak banget kalimat bagus untuk dipelajari dan bisa ditiru untuk negosiasi.
+ Suka banget dengan dialog yang dilontarkan oleh Violet Crawley (Maggie Smith) sebagai nenek yang judes, anti modernisasi, namun sayangnya semua nasehatnya benar.

Violet Crawley


+ Kita akan dibuat senang dan gemas kesal pada masing-masing tokoh di tiap seasonnya secara bergantian. Jadi jangan terlalu suka sama satu tokoh, ya.
+ Saya jadi belajar banyak tentang budaya dan adat Inggris pada zaman itu. Sampai sekarang saya masih takjub bagaimana kaum aristokrat zaman itu harus pakai gaun bagus (pesta) untuk tiap makan malam di rumah. Saya juga salut dengan loyalitas para pelayan keluarga bangsawan yang bisa melihat tuannya sebagai ‘dewa’.
+ BAJU-BAJUNYA BAGUS BANGET YA ALLAH! Tatanan rambut di era 20-an juga kece-kece pisan!

Lady Cora dengan salah satu bajunya yang cakeeep


+ Michelle Dockery itu kulitnya bagus, ya! Tapi setelah diperhatikan lagi, kulit orang-orang Inggris itu kayaknya emang bagus-bagus, deh. Warna putih porselen gitu.

Lady Mary

+ Salah satu impian saya adalah jalan-jalan ke Highclere Castle yang tak lain adalah kastil tempat syuting Downton Abbey. Soalnya baguuuuuus banget pemandangan di sekitar kastil itu. Semoga akan ada rezeki saya untuk bisa ke sana. Amiiien….

Highclere Castle
(Foto: Airbnb)

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Saya sempat trauma nonton season 4 episode 3. Episode ini sempat membuat gempar karena ‘went to far’. Episode ini bisa membungkus kejadian jahat banget dengan elegan. Tapi kita jadi bisa ikut merasakan apa rasanya jadi korban kejahatan tersebut.
– Serial ini tokohnya banyak, udah gitu mereka datang dan pergi pula. Jadi kalau kalian seperti saya yang sempat stop beberapa tahun sebelum akhirnya nonton sampai habis, kalian pasti bingung dengan nama-nama tokohnya. Harus nonton beberapa episode sebelumnya biar jadi paham lagi jalan ceritanya.
– Subtitle bahasa Indonesia di Prime Video suka jelek dan ngaco. Jadi sayang banget bahasa ‘tingkat tinggi’ kaum aristokrat itu tidak terjemahkan dengan baik.

Rate: 5 out of 5
Serial ini (akhirnya selesai) saya tonton di Prime Video

Ini trailernya…