blog

Mendingan Nggak Usah Punya Anak, Deh

Saya dibuat terbengong-bengong dalam sebuah acara kumpul keluarga.

Ini semua karena saya menyaksikan sendiri bagaimana seorang ibu ‘cuek’ dengan anak-anaknya. Sebut saja nama perempuan itu Parjini (bukan nama sebenarnya). Pada saat saya sampai di acara tersebut, saya bertegur sapa riang dengan Parjini. Maklumlah udah lama nggak ketemu, yekan.

Setelah menyapa dan berkeliling salam sana-sini, Parjini menghilang. Tapi saya masih melihat kedua anaknya asyik bermain. Apakah Parjini punya bakat menghilang ala Jini Oh Jini? Entahlah…
Tapi kemudian diketahuilah kalau Parjini sedang tidur. Hoo… Dia mungkin lelah. Yo wis…

Sampailah jam makan siang. Saya bersantap dengan hidangan yang ada sambil terus mengawasi Kriby yang terlalu asyik bermain. Saya kemudian menyadari bahwa seorang sepupu saya yang baik hati sedang mengejar-ngejar kedua anak Parjini untuk menyuapi makan siang.

Di situ untuk pertama kalinya saya merasa ada kejanggalan. Kenapa bukan Parjini yang menyuapi anak-anaknya? Dia memang lagi tidur, sih. Tapi kenapa tidak dibangunkan saja?

Tidak lama Parjini bangun. Dia keluar kamar dengan roll rambut masih menempel di dahi namun sudah berpakaian rapi. Saya makin merasa janggal ketika ibu Parjini yang juga hadir menyindir dia secara halus. “Parjini, anak-anakmu belum makan siang, lho”

“Biasanya mereka makan sendiri, hehehe…” jawab Parjini cengengesan. Lalu ia pergi mengambil hidangan untuk dia makan sendiri.

Akhirnya pertahanan diri saya untuk ber-positive thinking runtuh ketika tak lama seusai makan Parjini pamit kepada semua yang hadir secara terburu-buru. Ketika kami bertanya, ‘mau ke mana?’, Parjini menjawab “Mau ketemu-teman-teman di GI. Daaah”. Parjini pergi sendirian meninggalkan kedua anak-anaknya bersama kami para saudaranya demi hang out. Suami Parjini tidak ikutan sih, tapi saya menyaksikan sendiri bagaimana dia juga sama tidak berguna / tidak pahamnya dalam mengurus anak.

Sepeninggal Parjini saya kembali menyaksikan kepontang-pantingan sepupu saya yang baik hati dalam mengurus kedua anak Parjini. Perlu diketahui anak-anak Parjini ini tidak nakal, namun mereka anak-anak yang aktif. Ditambah dengan berkumpulnya banyak anak-anak yang seumuran mereka membuat kedua anak itu lebih aktif dari biasanya lantaran senang gara-gara ada banyak teman main. Perlu diketahui juga sepupu saya yang baik hati itu sendiri punya dua orang juga. Yang kecil masih bayi pula. Maka wajarlah ketika saya mendengar keluhan frustasi darinya yang tidak terima kerepotannya bertambah. “Parjini kenapa sih nggak mau ngurusin anaknya?” kesalnya.

Saya akhirnya bertanya kepada dia, sebenarnya apa yang terjadi dengan Parjini? Menurut sepupu saya yang baik hati, Parjini itu memang tidak suka anak kecil. Parjini kerja di pusat kota, sedangkan rumahnya di Depok. Itu membuat dia harus berangkat kerja setelah solat subuh dan sampai rumah lagi di atas jam 9 malam. Ditambah dia punya fisik yang lemah, dia gampang sekali jatuh lemas. Itulah yang membuat ia suka tidak punya energi lagi untuk mengurus anak.

Alasan sontoloyo macam apa itu? pikir saya.

Semua alasan itu tidak masuk akal di benak saya. Soalnya setelah saya menjadi ibu, saya merasakan dan juga melihat sendiri bagaimana seorang perempuan jadi punya kekuatan lebih demi anaknya. Saya punya teman yang ‘manja’ dan sangat takut dengan rasa sakit, namun ia bisa menahan rasa sakitnya melahirkan normal semata-mata demi anaknya. Saya melihat salah satu kerabat saya yang sangat jijikan dengan segala hal, namun begitu ia punya anak dia dengan cekatan mengganti popok kotoran anaknya dengan ceria.

Maka wajarlah jika saya berkesimpulan bahwa apa yang terjadi pada Parjini ini sebenarnya adalah masalah faktor keinginan. Menurut saya perempuan-perempuan seperti Parjini itu sebenarnya tidak ingin punya anak. Namun ia ‘dipaksa’ untuk punya anak karena tuntutan masyarakat. Bahwa setelah menikah itu HARUS punya anak. Masyarakat Indonesia itu sangat memandang hina pada perempuan yang tidak ingin punya anak.

Saya kemudian jatuh iba dengan Parjini. Pasti tekanan masyarakat begitu kuat sehingga jalan keluarnya adalah menuruti tekanan tersebut. Menolak atau melawan paradigma itu adalah sebuah dosa besar dan langsung mendapat cap ‘perempuan durhaka’.

Tapi lihatlah dampak dari kemanutan Parjini pada tekanan masyarakat terhadap tumbuh kembang anak-anaknya. Untung aja anak-anak Parjini itu diasuh oleh tangan yang tepat (oleh ibunya Parjini dan terkadang sepupu saya yang baik hati). Biasakah Anda bayangkan kalau anak-anak itu diurus oleh orang-orang yang salah? Dapat dipastikan bahwa anak-anak Parjini akan tumbuh jadi manusia-manusia yang tidak baik.

Kalau Anda pikir bahwa perempuan-perempuan seperti Parjini itu ada sedikit, Anda salah besar. Saya sendiri kenal ada empat orang perempuan yang tidak ingin punya anak seperti Parjini. Cuma dua orang diantara mereka yang berani terang-terangan menyatakan tidak ingin punya anak alias childfree. Salah satu yang terang-terangan tidak mau punya anak itu justru seorang perempuan berhijab lebar pula. Dan menariknya adalah dia sangat sayang dengan anak kecil, apalagi sama Kriby beeeuh sayang banget dia. Namun ia jelas-jelas mengatakan bahwa ia tidak ingin menjadi ibu. “Gue mau jadi tante aja, gue nggak mau jadi ibu,” ujarnya suatu hari pada saya.

Dua perempuan lainnya yang diam-diam tidak mau punya anak tingkah lakunya tidak jauh berbeda dengan Parjini. Yang satu malah pernah curhat ke saudaranya dengan kekesalan mendalam bahwa ia ingin menggugurkan anak kedua yang tengah ia kandung kala itu. Tentu saja tindakannya ditentang oleh pihak keluarga yang tidak mengerti keresahannya. Pada akhirnya ia melahirkan anak keduanya, namun keduanya tumbuh jadi anak yang tidak dekat dengan ibunya. Sepertinya anak-anak itu bisa merasakan ada hawa penolakan dari ibunya.

Yang satunya lagi sejak suami pertamanya meninggal dunia, dengan tanpa merasa bersalah ia menyerahkan anak-anaknya ke pihak kerabat dari almarhum suami untuk diurus. Sedangkan ia menikah lagi dengan lelaki baru.

Saya yakin pasti Anda agak gatal pengen berkomentar ‘ishh, ibu macam apa itu’ ke mereka. Namun coba ingat lagi, apakah mereka atau kita (perempuan) pernah ditanya “kamu mau punya anak tidak?” Saya yakin jawabannya adalah tidak. Ditanya “Nanti mau punya anak berapa?” sih sering.

Tindakan para ibu-ibu yang cuek dengan anaknya memang tidak dapat dibenarkan. Anak-anak itu berhak mendapatkan kasih sayang yang pantas. Mereka juga kan nggak pernah minta dilahirkan.

Namun sebelum kita menghakimi, cobalah untuk berpikir lebih netral. Kalau Anda salah satu orang yang suka berbasa-basi, “Anaknya udah berapa?” “Udah isi belum?” “Kapan nambah adik lagi?” maka Anda ikut andil mencetak para ibu yang cuek sama anaknya.

Saya adalah seorang ibu dan saya senang jadi ibu. Tapi saya mendukung perempuan-perempuan yang memutuskan untuk childfree. Kalau Anda (perempuan) memang tidak ingin punya anak, (entah karena malas ribet, nggak mau bentuk tubuh berubah, pengen berkarir lebih tinggi, takut miskin karena pengeluaran untuk anak itu gede banget, dan berbagai alasan lainnya) maka ungkapkan dan perjuangkanlah!

Mendingan Anda tidak usah punya anak, daripada terpaksa punya anak tapi tidak ingin mengurusnya. Dengan begitu Anda tidak perlu mencetak manusia-manusia yang sedih, terluka batin, dan tumbuh jadi manusia yang tidak baik.

Tidak usah pikirkan apa kata orang kalau Anda tidak ingin punya anak. Karena begitu Anda punya anak pun, omongan usil orang pasti ada aja. Yang mungkin perlu Anda pikirkan adalah bagaimana kalau keputusan Anda untuk childfree tidak sejalan dengan keinginan pasangan Anda? Di situlah komunikasi dan kompromi dalam hubungan Anda diuji. Ingat, berkomitmen itu adalah berkompromi. Namun jika sikap childfree Anda memang tidak bisa dikompromikan, jangan bertahan dalam hubungan itu karena ‘aku tidak bisa hidup tanpa dia (pasangan)’. Soalnya yang biasanya terjadi adalah lingkaran setan pertengkaran tentang topik yang sama atau ujung-ujungnya Anda mengalah dengan menuruti pasangan untuk punya anak. Lalu bertambahlah populasi anak-anak yang dicuekin ibunya lagi.

Anak itu anugerah karena ada begitu banyak kebahagiaan yang hadir dari mereka.

Tapi anak itu juga amanah. Dikatakan ‘amanah’ karena membesarkan anak itu memang tidak gampang. Maka pikirkanlah baik-baik sebelum punya anak.

Khusus untuk Anda kaum Adam, jika pasangan atau calon pasangan Anda adalah perempuan yang childfree, maka hormatilah. Hormatilah keputusannya karena itu adalah badannya. Perempuan berhak menentukan apa yang seharusnya terjadi pada badannya.

Kalau sikap childfree ini tidak sejalan dengan keinginan Anda, maka tolong jangan paksa kaum Hawa. Silakan pergi baik-baik untuk cari perempuan lain yang sepaham dengan Anda. Karena Anda berhak untuk bahagia menjadi ayah seperti sama berhak bahagianya seorang perempuan yang memutuskan untuk childfree.

 

blog

Pelayanan IGD RSUD Pasar Minggu Pakai BPJS

Jadi setelah seminggu batpil dan demam, akhirnya dokter menyarankan Kriby untuk dirawat inap. Soalnya dicurigai radang paru (pneumoni) adalah biang keladinya.

Inilah saatnya kami manfaatkan si BPJS. Si dokter hanya kasih surat rujukan dan surat permohonan rawat inap. Saya telpon ke Puskesmas Kecamatan (faskes I kami), petugas yang stand by 24 jam menyarankan kami langsung ke RSUD Pasar Minggu saja. Kami pun pergi ke rumah sakit yang baru diresmikan beberapa tahun lalu oleh Ahok ini.
Kami kasih surat-suratnya ke perawat di IGD RSUD Pasar Minggu. Kriby langsung ditangani.

IGDnya luas. Ada belasan bilik rawat yang dibatasi oleh tirai hijau. Tempat tidurnya moderen. Alat-alatnya masa kini punya. Seperti alat-alat yang sering saya lihat di serial drama kedokteran bule gitu, deh.
Dalam hitungan menit, Kriby sudah dipasang alat deteksi jantung dan selang nafas. Perawat dan dokter jaganya juga cepat tanggap. Saya tanya soal kemungkinan penyakit, prediksi dirawat berapa lama, dan prosedur penanganan bisa dijawab semua oleh mereka. Dalam waktu setengah jam, Kriby sudah diinfus dan sudah diambil darahnya untuk dicek ke lab. Sayang kami dilarang mengambil gambar di ruangan ini.

Tapi saya jadi mengerti kenapa di IGD ini saya tidak melihat ada pasien yang panik atau tergopoh-gopoh. Soalnya semuanya sudah tertangani bahkan sebelum mereka bertanya.

Hikmahnya: Bayar selalu BPJS Anda tepat waktu. Anda akan membutuhkannya sewaktu-waktu. – at RSUD Pasar Minggu with Wahyu

See on Path

review

Review: Airlift

Category: Movies

Genre: Drama, History

Rate: 3,5 out of 5

mp-airlift

Film berdasarkan kisah nyata ini mengisahkan tentang Ranjit Katyal (Akhsay Kumar), seorang pengusaha sukses asal India di Kuwait. Pada tahun 1990 kehidupan Ranjit tidak lagi semulus biasanya. Kuwait diserang oleh Irak. Banyak warga Kuwait yang dibunuh oleh tentara Irak. Syukurlah keluarga Ranjit selamat karena mereka bukan bangsa Kuwait. Ranjit sekeluarga pun berencana untuk pulang ke India. Namun setelah melihat supir pribadinya dibunuh di depan matanya, Ranjit jadi tak sampai hati untuk pulang sendirian ke tanah airnya. Ia ingin membawa pulang seluruh karyawannya yang juga berdarah India. Mengetahui bahwa ada seorang pengusaha India yang berusaha memulangkan seluruh karyawan Indianya, seluruh warga India di Kuwait pun ingin pulang bersamanya. Jumlah total warga India yang ingin pulang untuk menghindari perang di Kuwait saat itu ada 170 ribu jiwa. Ranjit pun harus menempuh berbagai cara untuk memulangkan seluruh bangsa India dari Kuwait. Termasuk bernegosiasi dengan pihak Irak.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Aktingnya Akhsay Kumar bagus. Ganteng lagi!

-Konflik batin para tokoh alami ditampilkan dengan baik.

-Set dan lokasi oke!

Nimrat Kaur yang berperan sebagai istrinya Ranjit cantik bangad! Apalagi rambutnya di film ini bagus banget O_o

-Film yang memberi saya penyegaran pengetahuan sejarah. Jadi tahu lagi soal Saddam Husein dan Perang Teluk

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Figurannya jelek.

-Settingnya kan tahun 90-an. Tapi baju-bajunya nggak 90-an gitu. Masa si Ranjit pake jas dan kemeja fit body di tahun 90-an. Kayaknya Akhsay Kumar ogah gantengnya menurun dengan pakai baju gombrong khas 90-an, deh.

-Film ini berdasarkan kisah nyata. Tapi nama pelaku jauh berbeda. Aslinya sang penyelamat warga India itu adalah seorang pengusaha udah tua bernama Harbajan Singh Vedi. Kayaknya memang sengaja dibedain karena film ini mau menceritakan ulang sejarah peristiwa, bukan tokohnya.

-Beberapa set dan lokasi keliahatan studionya.

Review ini juga bisa dibaca via Line @ymg2576q

Ini trailernya…

review

Review: The Good Dinosaur

Category: Movies

Genre: Animation, Drama

Rate: 4 out of 5

Alkisah pada zaman purba dahulu dimana dinosaurus masih ada menguasai permukaan Bumi, hiduplah sebuah keluarga brontosaurus. Mereka memunyai tiga ekor anak, antara lain Buck (diisi suara oleh Marcus Scribner), Libby (diisi suara oleh Maleah Nipay-Padilla), dan Arlo (diisi suara oleh Raymond Ochoa). Keluarga brontosaurus ini hidup aman damai dengan berladang. Ketiga anaknya masing-masing diberi tugas untuk membantu perladangan mereka. Namun berbeda dengan kedua kakaknya, Arlo terlahir sebagai penakut. Ia takut akan banyak hal, bahkan sama ayam aja dia takut. Sampailah pada suatu hari ayahnya Arlo memberinya sebuah tugas baru dengan maksud mengenyahkan sifat penakutnya. Tugasnya kali ini adalah menangkap dan membunuh makhluk yang suka mencuri stok makanan mereka di lumbung. Arlo begitu bersemangat dengan tugsa barunya. Benar saja, jerat yang mereka pasang berhasil menangkap makhluk pencuri makanan itu. Namun begitu Arlo melihat bahwa makhluk itu adalah seorang anak manusia, Arlo kembali takut. Ia pun melepaskan si pencuri yang membuat ayah Arlo marah besar. Dalam usaha mengejar si pencuri itu, ayah Arlo kena banjir bandang dan tewas karenanya. Tentu saja keluarga Arlo jatuh dalam kesedihan.

Lalu pada suatu hari Arlo memergoki si anak manusia itu sedang asyik lagi memakan simpanan jagung mereka di lumbung. Kali ini Arlo bertekad untuk menangkap dan membunuh si pencuri itu. Sayangnya waktu Arlo mengejar si pencuri, Arlo terjatuh ke dalam sungai lalu hanyut terbawa sampai jauuuh sekali. Arlo harus bertahan hidup seorang diri di hutan, kelaparan, dan ketakutan. Tapi Arlo tidak tahu bahwa justru si pencuri sedang mengawasinya dan menjaganya dari jauh.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Ceritanya baguuuuuuuuuuuuus banget! Kisah persahabatan dan keluarga yang bikin terharu.

-Banyak gambar pemandangan yang indaaaaah banget.

-Meskipun film ini baik-baik aja untuk ditonton anak-anak (film ini juga berhasil bikin Kriby betah nonton dari awal sampai akhir), namun sebenarnya konflik ceritanya itu dewasa. Saya sangat menyarankan orang dewasa menonton film ini. Karena pesan dan inti ceritanya yang mau disampaikan itu sepertinya hanya bisa ditangkap oleh orang dewasa.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Film ini produksi Disney + poster muka Arlo yang culun bikin saya mikir kalau film ini lucu. Ternyata lucunya dikit banget. Lebih banyak sedih dan terharunya.

-Film ini memanusiakan para dinosaurus. Tapi yang saya nggak suka, dinosaurusnya dibuat seolah-olah adalah warga ndeso Amerika Serikat. Lagi-lagi Amerikanisme. Emang dinosaurus adanya di Amerika doang? Hih!—–> lah dia emosi

Review ini juga bisa dibaca via Line @ymg2576q

Ini trailernya…

blog

No Shampoo Lalu Menyesal #Nopoo

Pada tanggal 13 Agustus lalu saya memutuskan untuk stop menggunakan shampo dan berubah haluan ke gerakan no shampoo atau yang sering disebut nopoo.

Kenapa saya berubah haluan?

Karena begini…

Saya dulu punya rambut yang kering. Lalu seusai saya melahirkan pada tahun 2014 lalu, rambut saya, entah bagaimana, berubah jadi berminyak. Saya sudah beberapa kali ganti merk shampo, namun tetap saja berminyak. Memiliki rambut berminyak atau kering punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Namun ternyata kekurangan rambut berminyak yang lepek dan cepat bau itu membuat saya jengah. Saya pun mencoba minta petunjuk Allah SWT melalui Youtube dan Google. Lalu saya pun ditemukan dengan video ini…

dan video ini

Dari video ini saya jadi tahu kalau rambut itu bisa dishampo pakai air baking soda dan biji lerak yang sudah direbus terlebih dahulu. Lalu gunakan cuka apel yang telah dicampur dengan air sebagai pengganti conditioner. Serba alami banget lah pokoknya.

Saya pun merasa, mungkin inilah jawabannya. Maka setelah berdiskusi dengan Si Punk Rock dan menginterogasi Mariska Tracy yang udah duluan nyoba metode nopoo, saya pun mau mencoba gerakan nopoo dengan biji lerak. Kenapa dengan biji lerak? Karena sejujurnya saya agak takut dalam memakai baking soda. Soalnya baking soda itu bisa membersihkan berbagai noda dan kerak. Jadi saya berkesimpulan, sepertinya baking soda itu keras. Tidak peduli bahwa banyak yang berhasil menggunakan metode nopoo dengan baking soda, salah satunya Mariska Tracy.

Jadi mari kita coba pakai biji lerak saja. Saya carilah penjual biji lerak di Google. Saya kemudian membeli biji-biji lerak itu di siniTak tanggung-tanggung saya pun langsung membelinya sekilo (abis tanggung kalau belinya dikit. Soalnya harganya nggak mencapai minimal transfer di bank juga).

Satu kilo biji lerak yang saya beli
Satu kilo biji lerak yang saya beli

Setelah biji lerak sampai di tangan, saya pun membeli cuka apel sebagai pengganti conditioner. Cuka apel bisa kita dapatkan dengan mudah di apotek. Harganya sekitar 40ribuan. Bisa untuk sebulan lebih (tergantung panjang rambut juga sih). Atas saran Mariska Tracy, saya pun pakai yang merk ini

(Foto: Cukaapletahesta.org)
(Foto: Cukaapletahesta.org)

Setelah semua bahan sudah ada tangan, kini saatnya memasak si biji lerak.

Saya pakai 5 biji lerak. Saya rebus seperti instruksi yang ada di Youtube. Tapi kok setelah direbus sekian lama, airnya tidak berubah warna seperti di Youtube? Ternyata karena biji lerak saya itu agak basah (lengket), maka biji lerak tersebut menyerap air rebusan tersebut dan menyimpan di dalam buahnya. Maka dari itu setelah airnya agak mendingin, saya remas-remas biji leraknya agak keluar sari-sari dari biji lerak tersebut. Benar saya, airnya mulai berubah warna dan mengeluarkan busa. Jika airnya dikocok juga akan segera mengeluarkan busa, tanpa menyisakan rasa licin di tangan khas deterjen. Yang ada tangan saya malah jadi kesat bersih.

Oke, air lerak sudah siap. Jangan lupa disaring biar serpihan-serpihan biji leraknya nggak ngikut. Untuk memudahkan penggunaan, saya pun memindahkan air lerak itu ke botol bekas shampo (ha ha ha). Sedangkan air campuran cuka apel saya taruh di botol bekas saos (ha ha ha)

Lalu keramas pun dimulai.

Basahin rambut.

Taruh air lerak ke kulit kepala. Gosok-gosok kulit kepala sedikit. Biarkan sebentar (saya gunakan waktu yang ada untuk sabunan).

Bilas rambut.

Kemudian taruh air cuka apel di batang rambut. Biarkan sebentar (saya gunakan waktu yang ada untuk gosok gigi dan sabun muka)

Bilas rambut.

Selesai!

Rasanya?

-Saya pikir rasa segar di kepala khas abis keramas itu berasal dari sabun/deterjen di shampo. Ternyata saya salah. Rasa segar dan bersih di kepala itu ya berasal dari air yang membasahi kulit kepala.

-Begitu rambut kering, kulit kepala saya terasa bersih sekali. Kesat dan bersih gitu deh. Nggak bau juga.

-Rambut saya juga jadi lembut. Semua berkat air cuka apel. Sejujurnya saya sempat pesimis apakah air cuka apel itu beneran bisa menggantikan conditioner yang melembutkan dan menghaluskan rambut. Ternyata beneran bisa! Sayangnya bau rambut abis keramas jadi beraroma cuka apel. Tapi dalam beberapa jam setelah rambut kering, baunya akan hilang kok.

Kesimpulan: saya senang!

Rambut saya setelah beberap ahari menjalani nopoo. Keritingnya lebih keluar.
Rambut saya setelah beberap ahari menjalani nopoo. Keritingnya lebih keluar.

Namun setelah lebih dari seminggu kok………kulit kepala saya jadi gampang gatal. Sepertinya kulit kepala saya terlalu kering sampai-sampai ia jadi gatal.

Tapi nggak apa-apa deh. Siapa tahu itu memang cara kulit kepala dan rambut saya beradaptasi dengan bahan-bahan alami dan non kimiawi ini.

Tapi setelah dua minggu kok………………..saya melihat banyak rontokan rambut saya di lantai rumah. Setelah saya perhatikan itu adalah rontokan rambut yang patah di tengah batang rambut. Bukan rontokan dari akar. Wah nggak beres, nih. Setahu saya kalau rambut yang rontok patah itu karena kurang nggak cocok dengan produk tertentu. Sedangkan kalau rontok dari akar itu bisa jadi karena tubuh kita kurang zat besi atau stres.

Memasuki minggu ketiga………….saya memutuskan untuk berhenti sekalian pakai metode nopoo. Rontok patah saya makin menjadi. Saya jadi nyeseeeeel banget. Karena untuk orang berambut keriting macam saya, butuh perjuangan ekstra untuk bikin rambut kami nggak ngembang dan rambut nakal yang mencuat ke permukaan. Dan sekarang rambut saya jadi banyak ‘anak rambut’ sisa patahan rambut yang menjulang dari permukaan rambut. Rambut saya jadi (lebih gampang) terlihat kribo dan tidak rapi.

Rambut saya saat ini. Jadi banyak anak rambut alias frizzy hair. Ada kantung mata juga. Eh itu beda kasus deng...
Rambut saya saat ini. Jadi banyak anak rambut alias frizzy hair. Ada kantung mata juga. Eh itu beda kasus deng…

Padahal salah satu hal yang membuat saya berani potong pendek alias bondol tahun lalu adalah karena saya tahu rambut saya nanti akan tumbuh dengan panjang yang sama. Jadi bye-bye anak rambut bandel yang bikin gemes. Eh ternyata rambut saya jadi patah karena nopoo pakai lerak. Aku jadi sedih gundah gulana terlarut dalam nestapa gimana gitu…

Rasanya kesedihan ini baru akan hilang kalau saya dapat vocer makan Sushi Tei 500 ribu #kode

Atau kalau dikasih tas baru dari Povilo #IniJugaKode

Atau kalau saya diajak jalan-jalan ke Disneyland Tokyo #IniMasihKodeJuga

Atau kalau saya dapat transferan amal dari Pangeran Arab sebanyak 5000 USD #UdahAhKodenyaKebanyakan

Sekarang saya balik menggunakan sampo yang biasa yang berbahan kimia. Saya kembali pakai merk yang terakhir kali saya pakai, yaitu Sampo Yang Bikin Rambut Sini Kinclong Sana Kinclong *lalu rambut si mahmud berkibar cantik karena kena hembusan angin sisaan jet coaster*

Walaupun saya kini menyesal menggunakan metode nopoo karena ternyata tidak cocok dengan rambut saya, namun saya harus berterima kasih juga karena sekarang saya jadi tahu ada conditioner alami, yaitu cuka apel. Sampai saat ini saya tetap pakai larutan cuka apel sebagai conditioner. Alhamdulillah rambut saya tetap lembut dan jarang kusut. Yah…walaupun saya nggak bisa sepenuhnya going natural dengan metode nopoo, seenggaknya saya bisa mengurangi pemakaian produk kimiawi dengan menggunakan cuka apel.

Begitulah kira-kira cerita saya…

Eh ada yang mau lerak saya yang nggak terpakai itu nggak? Kalau mau, nanti saya kirimin. Untuk di wilayah jabodetabek saya kirimin gratis deh. Untuk di luar wilayah jabodetabek, tinggal ganti ongkos kirimnya aja. Leraknya saya kasih gratis tis tis. Kalau Anda mau, kirim email ke krilianeh@gmail.com ya. Saya akan berikan lerak ini kepada yang email pertama. First email, first get.

 

blog

Teman

Pada suatu hari Minggu, saya ngecek media sosial via handphone saya. Lalu ada sebuah postingan teman yang membuat saya sedikit terhenyak. Teman saya, sebut saja dia Wadiman, pergi ke rumah teman saya, sebut saja dia Karsih, tanpa mengajak saya!

“Kenapa juga harus ngajak-ngajak lo sih, Dis?” tanya para pembaca yang budiman.

Karena pada awalnya Wadiman yang menginisiasi acara tersebut dan meminta saya ikut. Tapi karena waktu itu kita masing-masing sibuk dengan berbagai tetek-bengek, maka waktu dan tanggal pasti untuk berkunjung ke rumah Karsihnya masih to be confirmed.

Ya sudah, saya leha-leha ajalah dengan segala urusan emak-emak di rumah lengkap dengan mengenakan baju daster bau bawang ini. Eeeh tahu-tahu si Wadiman udah pergi aja ke rumah Karsih tanpa ngajak-ngajak eike! Slompret! Hiyaaaaaaaaaaaarrrrgh——> ceritanya berubah jadi manusia super saiya karena marah. Atau mungkin berubah jadi manusia super saiya biar baju daster bau bawang ini hancur-lebur aja. Abis udah bosan sih pake baju daster yang itu terus.

Tidak dipungkiri saya merasakan kesedihan yang mendalam. Persis kayak kesedihannya Nasar

Melihat perubahan air muka yang tadinya memesona menjadi layu, Si Punk Rock pun bertanya, “Kamu kenapa?”

Saya ceritakanlah bahwasanya si Wadiman pergi ke rumah Karsih tanpa ngajak-ngajak saya.

“Baguslah. Biarin aja dia pergi. Nggak usah ajak-ajak istri aqoh,” ujar Si Punk Rock dengan bercanda.

Tapi karena saya lagi tidak mood bercanda, tanpa sadar saya pun membalas omongannya dengan nada ketus, “Aku tuh sejak nikah dan punya anak makin nggak punya teman!”

JLEB! Ternyata kalimat barusan menyinggung Si Punk Rock. Si Punk Rock itu yah, tampang boleh macho, rambut boleh ngepunk jigrak berdiri kayak sapu ditempelin di kepala, tapi sebenarnya perasaannya haluuus banget. Sehalus rambut cewek-cewek iklan shampo.

Sadar akan omongan saya yang menyinggung, saya pun segera minta maaf. Tapi Si Punk Rock makin ngambek. Dia senderan di tiang dengan muka manyun. Terus saya berusaha membuat dia tersenyum dengan main cilukba sambil nyanyi-nyanyi. Eh tunggu dulu………….. Bukan begitu kejadian sebenarnya. Yang saya jabarkan barusan itu adalah adegan-adegan di film India yang nempel di otak saya karena keabsurditasannya yang akut.

Yang sebenarnya terjadi adalah saya segera minta maaf, Si Punk Rock memaafkan namun masih bete. Begitu betenya mereda, kami membahas bersama-sama permasalahan tadi (berantem alama-lama ama Si Punk Rock itu nggak enak tahu. Beneran, deh!)

Menurut Si Punk Rock, dia tersinggung karena kalimat yang saya lontarkan tadi seolah-olah saya tidak mensyukuri telah menikah dan punya anak bersama dirinya. Seolah-olah saya menyalahkan dirinya karena kehilangan teman. Si Punk Rock juga mengatakan bahwa ia pun mengalami hal yang hampir sama. Namun ia sudah tahu risiko tersebut saat ia memantapkan hati untuk menikah.

Saya tidak menyalahkan pemikiran Si Punk Rock yang begitu, sih. Kalau pembaca yang budiman mendengar nada ketus saya saat itu, saya yakin Anda akan mempunyai pemikiran yang sama dengan Si Punk Rock.

Namun yang sebenarnya ada dalam pemikiran saya adalah begini, setelah menjadi istri dan ibu, tanpa sadar lingkungan pertemanan saya mengecil. Kalau jadi istri itu saya tidak boleh lagi hang out bersama teman-teman sampai malam. Karena saya harus berada di rumah sebelum suami saya sampai rumah. Mungkin Anda tidak sepaham akan hal ini, namun saya setuju dengan pemikiran tersebut.

Nah setelah menjadi ibu, lingkaran pertemanannya lagi-lagi mengerucut. Karena saya tidak bisa berpergian tanpa membawa anak saya. Saya mengurus anak saya sendiri tanpa bantuan pengasuh dan tinggal berjauhan dengan orang tua. Jadi anak saya hanya punya saya. Tidak bisa dititipkan ke orang lain. Kalaupun saya punya pengasuh atau punya orang terpercaya untuk saya titipkan, akan aneh dan buruk rasanya kalau kita terlalu sering berpergian hanya semata agar tidak ketinggalan berita dalam lingkungan pertemanan.

Itu faktor dari diri kami para ibu, belum lagi dari faktor teman-teman kami sendiri. Setelah punya anak, teman-teman saya jadi sadar sendiri untuk tidak mengajak saya berpergian terlalu sering. Mungkin mereka berpikir bahwa kasihan saya akan kelelahan menjaga anak pada saat nongkrong atau mungkin juga mereka malas melihat kerempongan saya mengejar-ngejar Kriby yang lagi senang bereksplorasi. Kalaupun Kriby bisa diam, percakapan yang terjadi antara saya dan teman-teman saya akan diselingi banyak interupsi untuk meladeni ocehan atau keinginan Kriby.

Dan saya juga akui bahwa semenjak jadi ibu, banyak ajakan pertemuan yang batal mendadak. Apalagi kalau bukan perkara anak.

Ibu bisa berencana, anak yang menentukan.

Saya pernah membatalkan ajakan nonton premier film Hollywood karena hujan melanda rumah saya dua jam sebelum acara. Hal ini masuk akal saya adalah ibu-ibu pengguna ojek online, maka menerabas hujan yang saat itu rintik-rintik namun awet adalah sama aja dengan memanggil demam untuk Kriby.

“Kenapa nggak naik taksi aja, Dis?” tanya para pembaca yang budiman lagi.

Karena Jakarta kalau hujan itu macet. Saya nggak yakin akan sampai tepat waktu kalau menggunakan taksi.

Bukan hanya saya lho yang mengalami hal serupa. Teman saya pernah membatalkan liburan keluarganya ke Bali di hari keberangkatan karena anaknya tiba-tiba demam.

Hal-hal seperti itulah yang membuat lingkaran pertemanan kami para ibu semakin hari semakin kecil. Hal ini juga mungkin dialami oleh para ayah. Namun berhubung para ayah itu tiap hari bekerja di luar rumah dan bertemu lebih banyak orang daripada para ibu yang di rumah, MUNGKIN para ayah tidak terlalu menyadari rasa sedihnya pertemanan yang terkikis.

Meskipun apa yang saya ucapkan ke Si Punk Rock itu tidak dapat dibenarkan, namun saya tidak memungkiri bahwa kehilangan teman ini membuat saya gundah. Mungkin inilah yang dikatakan cobaan artis yang tidak lagi dikenal publik. Mungkin inilah yang dirasakan Nikita Mirzani ketika tampangnya udah nggak ada lagi di TV. Makanya ia terus membuat sensasi agar TV terus menyorot dirinya. Sempat juga saya terpikir untuk membuat sensasi serupa. Tapi entah kenapa saya yakin kalau saya buat sensasi yang serupa saya malah dilaporin ke kantor polisi. Kenapa kalau Nikita Mirzani yang bikin sensasi malah dilaporin ke TV?? Aaaaah dunia hanya adil kepada perempuan yang berdada kencang dan besar!!!!

Namun telebih dari semua itu, saya kemudian menyadari bahwa mungkin inilah yang disebut ujian ikhlas. Saya harus ikhlas membesarkan dan mendahulukan anak saya. Imbalannya adalah surga lho buebu………..dan mungkin juga lipstik seharga setengah juta dari suami *uhuk uhuk* Bukan berarti bahwa selama ini saya nggak ikhlas dalam membesarkan anak saya, lho. Saya hanya merasa kaget bahwa ketika menjadi ibu itu akan begitu banyak perubahan yang terjadi bahkan di hal-hal yang kami tidak sangka-sangka. Salah satunya di dalam hal pertemanan ini.

Tapi mungkin juga ini bukan ujian ikhlas. Melainkan adalah cara Tuhan sedang menyeleksi teman-teman sejati yang benar-benar baik untuk saya. Dan saya memang sudah melihat hasil pemilahan Si Bos Besar ini oke-oke punya. Saya jadi tahu…

teman-teman yang mana yang benar-benar perhatian di saat saya susah dan senang,

teman-teman yang selalu ada dan mau mendengarkan,

teman-teman yang bisa menjaga rahasia,

teman-teman yang bisa diajak berbagi pandangan-diskusi tanpa tersinggungan,

teman-teman yang begitu membaca keanehan di postingan media sosial saya langsung japri menanyakan maksud dari postingan tersebut (karena dia tidak mau menerka-nerka sendiri dan kemudian jadi fitnah),

teman-teman yang terus mendukung dan percaya akan kemampuan saya bahkan di saat saya nggak pede,

teman-teman yang selalu berkata jujur walaupun itu menyakitkan (I still can not believe that Wentworth Miller is gay! T__T)

teman-teman yang bisa tanpa ada apa-apa nanyain kabar aja hanya karena ia merindukan saya (saya orangnya memang ngangenin sih, kayak Kangen Band—–huweek)

Saya jadi sadar bahwa dalam hal pertemanan itu, it’s not about the quantity, but it’s about the quality.

Terima kasih ya teman karena sudah menjadi teman (beneran) saya.

Inilah saya dengan teman-teman sejati saya. Saya yang itu. Yang ituuuuu. Itu tuh. Masa nggak kelihatan sih. Yeee yang itu. Itu beneran saya tahu!
Inilah saya dengan teman-teman sejati saya.
Saya yang itu. Yang ituuuuu. Itu tuh. Masa nggak kelihatan sih. Yeee yang itu. Itu beneran saya tahu!

 

blog

Nyala Untuk Yuyun

Dear Yuyun

Maaf saya ga berani buka-buka link berita soal kematian kamu. Saya cuma baca satu berita tentang kamu, abis itu udah nggak berani lagi buka yang lain.

Saya sejak jadi ibu memang jadi gampang takut dan khawatir. Saya takut kalau banyak membaca berita tentang kamu saya akan jadi paranoid hal itu akan menimpa ke anak saya (naudzubillahminzaliq). Sejujurnya saya sudah jadi paranoid sejak baca berita tentang kamu. Saya nggak habis pikir bagaimana ada orang yang sejahat dan sebiadab itu? Dan terlebih daripada itu, bagaimana orang-orang yang jahat sama kamu itu cuma dihukum segitu doang. Entah mengapa saya tidak percaya dengan pemerkosa, pengedar narkoba, dan paedofilia yang bertobat setelah dipenjara. Mereka paling hanya menyesal tertangkap, tapi tidak pernah menyesali perbuatan sebelumnya.

Seharusnya orang seperti itu dipasung di tempat umum dan jadi sasaran latihan lempar batu seumur hidupnya. Biar mereka tahu rasanya jadi sasaran iseng sejuta umat tanpa berdaya berbuat apa-apa untuk membela diri.

Atau seharusnya orang-orang yang jahat ke kamu itu dikebiri dan dipotong kemaluannya. Lalu potongannya digantung di leher mereka agar ia bisa mencium betapa busuk kemaluannya tersebut seumur hidupnya.

Saya hanya membayangkan itu semua dengan darah mendidih. Tapi saya berjanji, jika semua itu diserahkan pada kehendak saya, maka saya akan balaskan kejahatan mereka seperti itu.

Saya berharap kamu tenang di alam sana, sementara mereka yang jahat sama kamu akan gelisah
dan tidak akan bahagia seumur hidupnya.

Saya juga berharap ada aturan yang benar-benar jelas dan tegas yang mengatur miras. Dari sekedar minum gaul, kamu jadi digauli sampai mati.

Yang tenang di sana ya, Yuyun. Sekali lagi maaf saya nggak berani baca banyak berita soal kamu. Semoga apa yang menimpa kamu tidak akan pernah terulangi lagi pada perempuan mana pun.😢

View on Path