Review: Sabrina (1995)

Saya merasa kalau film komedi romantis zaman dulu lebih bagus dari yang buatan era 2000-an.

Alkisah hiduplah keluarga Larrabee yang super tajir. Jauh sebelum Syahrini pamer kekayaan dan akhirnya nikah ama horangkayah beneran Reini Barack, keluarga Larrabee udah kaya nggak ketulungan. Keluarga ini punya dua orang putera, si sulung Linus (Harrison Ford) yang serius penerus bisnis keluarga dan David (Greg Kinnear) yang tampan yang hobi foya-foya.
Di atas garasi mobil keluarga LarraBee yang besar, tinggal lah seorang supir dengan puterinya bernama Sabrina (Julia Ormond). Sabrina memendam rasa pada David. Ia sering mengintip gerak-gerik David dari kejauhan. Sadar bahwa perasaan puterinya tidak akan terbalas oleh sang Tuan Muda, ayah Sabrina mengirimnya ke Paris, Perancis agar ia mencoba menjalani hidup yang baru.
Paris mengubah banyak diri Sabrina. Ia kini jadi gadis yang penuh percaya diri dan cantik memesona. Maka sepulangnya Sabrina dari Paris, wajar saja David jadi jatuh cinta. Padahal David sudah keburu tunangan dengan seorang dokter dari keluarga kaya. Jika pertunangan mereka dibatalkan, alamat merger bisnis senilai jutaan dolar antar dua keluarga itu ikut lenyap juga. Di sini lah Linus memutuskan untuk turun tangan. Linus telah memperhitungkan semuanya untuk menyelamatkan aset keluarga, namun ia tidak memperhitungkan kalau ia juga akan jatuh cinta pada Sabrina.

Yang saya suka dari film ini:
+ Kangen deh nonton film komedi romantis yang sebagus ini. Komedi romantis produksi era 90-an itu bagus-baguuuuus ceritanya. Nggak melulu tentang seks, melainkan memang tentang jatuh cinta.
+ Film ini remake dari film Sabrina 1954 yang diperankan oleh Audrey Hepburn. Saya belum nonton yang versi aslinya, tapi saya yakin lebih bagus versi yang 1995 ini. Karena film-film era Audrey Hepburn biasanya dialognya kaku.
+ Gambarnya baguuuuuuuus!
+ Keluarga Larrabee ini emang tajirnya ampun-ampunan, deh. Masa rumahnya Sabrina di atas garasi aja itu gede dan cakep banget kayak villa 0_o
+ Kulit putihnya Julia Ormond itu cantik banget. Putih porselen gitu. Atau bahasa Indonesianya putih pualam.
+ Gaunnya Sabrina pas dansa sama David itu juga baguuus banget deeeeh.
+ Komedinya tentang ‘terlalu tajir’ di film ini menghibur.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Harrison Ford kayak sengaja dibuat nggak cakep di film ini. Dan saya baru nyadar kalau hidungnya Harrison Ford itu miring.
– Julia Ormond meski cantik banget, tapi aktingnya biasa aja -_-
– Adegan ciumannya jelek. Nggak kayak orang jatuh cinta.

Rate: 5 out 5
Film ini saya tonton di Netflix. Di Prime Video kayaknya juga ada sih. Buat yang mau koleksi DVDnya, beli aja di sini.

Ini trailernya…


Review: The Invention of Lying (2009)

Ide cerita The Invention of Lying ini bagus banget.

Film ini mengisahkan tentang sebuah dunia yang tidak mengenal konsep berbohong. Semua orang berbicara jujur apa adanya. Dunia yang mereka tinggali sangat minim drama karena semua orang terbiasa menelan pil pahit kejujuran. Mereka juga tidak mengenal konsep fiksi/karangan yang merupakan turunan dari konsep berbohong. Sehingga semua film mereka harus berdasarkan sejarah.
Maka di dunia yang serba jujur ini, Mark Bellison (Ricky Gervais) harus menjalani hidup dengan getir. Karena ia bukanlah pria berwajah menarik dan tubuhnya tidak atletis. Perempuan yang ia ajak kencan, terang-terangan bilang kalau dia bukan pria yang menarik dan tidak ingin lagi berkencan dengannya. Sebagai pelengkap kesedihannya, Mark juga kena pecat dari pekerjaannya sebagai penulis naskah film karena dianggap tidak perform.
Di saat Mark terpuruk, ia tanpa sengaja menciptakan kebohongan untuk pertama kalinya di dunia. Bagaimana dunianya menerima kebohongannya?

Yang saya suka dari film ini:ss
+ Ide cerita film ini keren dan orisinil.
+ Penulisan naskahnya bagus. Ricky Gervais yang ikut nulis naskah ini membuktikan kalau dia bukan hanya sekedar komedian. Namun juga seorang penulis yang cerdas.
+ Aktingnya Ricky Gervais di film ini juga beda. Dia berhasil tampil sebagai tokoh loser yang patut dikasihani. Nggak ada satupun komentar atau senyuman ngenyek colongan yang selama ini jadi ciri khasnya.
+ Banyak pemeran pembantu yang keren-keren. Ada Tina Fey, Louis C.K., dan Jonah Hill.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Aktingnya Jennifer Garner terkesan kayak cewek sok polos yang dibuat-buat.
Rob Lowe kok aktingnya template kayak Chris Traeger di serial Park & Recreations?
– Ada beberapa tokoh yang kemunculannya nggak perlu sih. Saya jadi dapat kesan kalau film ini tuh ‘proyek ajak teman’-nya Ricky Gervais. Jadi begitu dia bikin film, semua temannya diajak main. Bantu teman gitu, biar karirnya ikut kedogkrak. Kayak Ernest Prakasa gitu lah.

Rate: 4 out of 5
Film ini saya tonton di Netflix.

Ini trailernya…

Review: The Call (2020)

Penyuka film butterfly effect pasti suka banget sama film The Call ini.

Film ini dibuka dengan Seo Yeon (Park Shin Hye) yang pulang ke rumah masa kecilnya di pedesaan. Ia pulang dengan enggan, tapi terpaksa karena ibunya sakit keras dan sedang dirawat di rumah sakit.
Diperjalanan pulang, handphone-nya Seo Yeon ketinggalan di kereta. Saat ia berusaha melacak keberadaan handphone-nya pakai telepon rumah, ia malah menerima telepon dari seorang perempuan yang meminta pertolongannya karena disiksa ibunya. Ternyata perempuan itu adalah Young Sook (Jong Seo Jun). Young Sook adalah penghuni rumahnya pada tahun 1999. Young Sook menelpon dari tahun 1999 dan diangkat oleh Seo Yeon di tahun 2018. Rupanya melalui telepon rumah itu, Seo Yeon dan Young Sook dapat berkomunikasi lintas waktu ke sesama penghuni rumah tersebut meski di zaman waktu yang berbeda.
Seo Yeon dan Young Sook akhirnya menjadi teman telepon lintas zaman. Mengetahui ayah Seo Yeon meninggal dunia karena kebakaran waktu Seo Yeon kecil, Young Sook berinisiatif untuk mengubah hal itu. Young Sook di masa lalu mencoba menyelinap dari kungkungan ibu tirinya dan berusaha mencegah kebakaran yang menelan jiwa ayah Seo Yeon pada tahun 1999.
Usaha Young Sook berhasil! Kini giliran Seo Yeon untuk membantu mengubah nasib Young Sook. Namun ketika Seo Yeon berhasil menyelamatkan nasib Young Sook, kenapa hidup Seo Yeon di masa kini malah memburuk? Apakah mengubah masa lalu adalah langkah yang tepat?

Yang saya suka dari film ini:
+ Cerita dan alur film ini bagus! Sangat mudah dipahami.
+ Aktingnya Jong Seo Jun ciamik!
+ Set dan lokasinya kereeeen! Ini orang propertinya canggih sih bisa ngubah satu rumah jadi beberapa zaman dan kondisi.
+ Alurnya lumayan nggak ketebak.
+ Banyak karakter pemeran pembantu yang dieksplor secara maksimal.
+ Efek CGI perpindahan zamannya bagus! Halus dan rapi.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Banyak adegan berantem kabur dari orang jahat yang klise. Serasa pengen komen ‘Yaelah, masih aja lu begitu…’
– Akting Park Shin Hye template cewek cantik di film horor/thriller. Tiap ketakutan atau panik terlihat cantik dan kayaknya nggak pengen kelihatan jelek.
– Kostum dan make up untuk era akhir 90-an kurang pas. Malah kayak nggak ada bedanya sama zaman sekarang.
– Itu rambutnya Young Sook ganggu parah. Makanya mukanya pada jerawatan kan jadinya. Hadeeeeuh. Gatel banget pengen balurin Mud Mask Jafra ke muka doi. Kalau butuh Jafra, kontak saya, ya!
– Di Netflix film ini dikategorikan sebagai ‘scary’. Tapi menurut saya nggak scary ah. Menagangkan sih iya. Tapi nggak menakutkan.
– Film ini banyak adegan kekerasan yang sadis, ya. Jadi jangan ditonton sama anak di bawah 15 tahun, ya.

Rate: 4 out of 5
Film ini saya tonton di Netflix

Ini trailernya…

Review: His House (2020)

Film-film horor semacam His House ini terasa lebih real karena pemerannya bukan orang kulit putih.

Film ini mengisahkan tentang sepasang suami-istri asal Sudan yang melarikan diri dari perang di negara asalnya. Di perjalanan melarikan diri, putri mereka tewas. namun semua kesulitan mereka kini telah berlalu. Soalnya mereka mendapat rumah pengungsian dari pemerintah Inggris.
Rumah baru mereka cukup besar, tapi tidak terurus. Sang suami, Bol (Sope Dirisu), bertekad mau memperbaiki rumah tersebut. Namun ada kejadian-kejadian aneh di rumah itu. Terutama keanehan di balik dinding rumah mereka.
Awalnya Bol pikir kalau semua itu hanya khayalan lantaran duka mendalam karena kehilangan anaknya. Namun begitu istrinya, Rial (Wunmi Mosaku), ikut melihat dan mendengar hal-hal aneh di balik dinding rumah itu, Bol merasa ini bukan hal main-main…

Yang saya suka dari film ini:
+ Suka banget dengan latar belakang penokohan yang tidak biasa, yakni orang hitam dari negara asing. Biasanya kan film horor itu kalau nggak orang putih atau orang Asia sekalian. Dengan penokohan yang nggak biasa ini, justru bisa membangun aura seram yang lebih menggigit. Bahwa orang biasa kayak kita bisa diteror hantu. Bahwa mau pindah negara pun kalau hantunya mau ngejar, ya terima nasib aja. Bodo amat hantunya punya visa atau bisa bahasa Inggris atau nggak. Kalau hantunya mau ngejar elu, ya akan dikejar sampai dapat.
+ Suka dengan akting Sope Dirisu yang nggak banyak omong, tapi bisa menjelaskan emosinya lewat ekspresi doang.
+ Suka juga dengan Wunmi Mosaku. Matanya doi bagus banget, deh.
+ Meski ini film horor tentang rumahnya, tapi cerita perjuangan Bol dan Rial untuk adaptasi sama lingkungan di negara barunya ini juga digambarkan dengan pas. Sehingga hal itu justru menambah keputusasaan dan kesendirian Bol dalam menghadapi keanehan di rumahnya.
+ Set dan lokasinya bagus! Berantakan depresif gitu.
+ Hantu dan twist-nya nggak biasa. Mungkin karena saya nggak tahu banyak tentang budaya dan kepercayaan orang Afrika-Sudan kali, ya. Sehingga teror hantu di film ini jadi menambah pengetahuan budaya saya.
+ Endingnya bagus dan ngena banget untuk isu tentang para pengungsi.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Hantunya awal-awal serem. Tapi kok bisa dikalahin dengan cara begitu, ya? Katanya hantu, tapi kok bisa digituin? Hantu macam apa you!

Rate: 3,5 out of 5.
Saya nonton film ini di Netflix.

Ini trailernya…



Review: Downton Abbey (2010-2015)

Akhirnya saya bisa menyelesaikan serial ini. Ini akan jadi salah satu serial favorit saya sepanjang masa.

Serial ini menceritakan tentang keluarga aristokrat Inggris pada awal tahun 1920-an. Mereka adalah Lord Grantham (Hugh Bonneville) yang menikahi gadis kaya dari keluarga terpandang Amerika, Lady Cora (Elizabeth McGovern). Bersama mereka memunyai tiga orang putri, Lady Mary (Michelle Dockery) yang cantik jelita namun tinggi hati, Lady Edith (Laura Carmichael) yang wajahnya paling tidak menarik namun cerdas, dan Lady Sybil (Jessica Brown Findlay) yang baik hati dan rendah hati. Mereka semua tinggal di kastil bernama Downton Abbey.

Pada season pertama diceritakan tentang bagaimana kebingungan Lord Grantham dalam mencari pewaris gelar kebangsawanan dan kekayaannya. Karena ia tidak punya anak lelaki, secara adat Inggris di masa itu anak perempuan tidak diperkenankan mendapat harta warisan. Maka jalan satu-satunya Lady Mary harus mencari suami yang ‘sepadan’ untuk mewarisi kakayaan mereka. Disela upaya mencari jodoh yang tepat untuk Lady Mary, si sulung juga berkecimpung dalam siblings rivalry dengan Lady Edith. Persaingan kakak-adik ini sampai di tahap yang toxic. Mereka tidak segan ‘menghancurkan’ hidup dan masa depan satu sama lain.

Itu adalah konflik yang harus dihadapi oleh kaum ‘atas’ Downton Abbey. Beda lagi dengan kaum ‘bawah’nya, yakni para pelayan Downton Abbey. Mereka pun harus menghadapi konflik di keseharian mereka sendiri. Seperti geng antar pelayan, percintaan antar pelayan, persaingan antar pelayan agar selalu terlihat oleh kaum ‘atas’, gosip antar pelayan, sampai ambisi yang tak segan melukai majikannya sendiri.

Yang saya suka dari serial ini:
+ Julian Fellows sang kreator Downton Abbey ini sangat mahir dalam menulis naskah cerita yang bagus. Mulai saat ini semua karya dengan nama Julian Fellows akan masuk dalam watchlist saya.
+ Seluruh karakter memunyai porsi cerita yang saling menguatkan karakter lainnya. Semuanya memunyai peran penting. Layaknya sebuah rumah, masing-masing karakter punya peran daam menghidupi ruang tertentu di rumah tersebut.
+ Meski serial ini menceritakan kisah tentang satu abad yang lalu, namun serial ini memunyai kesamaan yang erat dengan kita di era milenium ini. Yaitu kegagapan dan adaptasi yang dipaksakan terhadap perubahan.


Para tokoh di Downton Abbey mengalami perubahan besar saat ditemukannya listrik dan telepon. Ada begitu banyak adaptasi yang harus mereka hadapi dengan bermunculannya berbagai alat mutakhir (listrik) di era itu. Ditambah inovasi baru juga memicu perubahan perilaku dan pola pikir manusia. Hal yang sama juga sedang terjadi pada kita dengan munculnya internet. Begitu banyak perubahan perilaku yang membuat kita enggan berubah namun terpaksa karena harus mengikuti zaman.
Konflik-konflik perubahan zaman seperti ini diceritakan di Downton Abbey dengan gamblang namun terasa dekat penonton masa kini.
+ Sangat suka dengan bagaimana serial ini menyisipkan kritik dan pesan pemberdayaan perempuan melalui dialog-dialognya.

Lady Edith


+ Selayaknya kaum aristokrat Inggris yang kalau ngomong itu harus pakai basa-basi dan anti straight to the point, banyak banget kalimat bagus untuk dipelajari dan bisa ditiru untuk negosiasi.
+ Suka banget dengan dialog yang dilontarkan oleh Violet Crawley (Maggie Smith) sebagai nenek yang judes, anti modernisasi, namun sayangnya semua nasehatnya benar.

Violet Crawley


+ Kita akan dibuat senang dan gemas kesal pada masing-masing tokoh di tiap seasonnya secara bergantian. Jadi jangan terlalu suka sama satu tokoh, ya.
+ Saya jadi belajar banyak tentang budaya dan adat Inggris pada zaman itu. Sampai sekarang saya masih takjub bagaimana kaum aristokrat zaman itu harus pakai gaun bagus (pesta) untuk tiap makan malam di rumah. Saya juga salut dengan loyalitas para pelayan keluarga bangsawan yang bisa melihat tuannya sebagai ‘dewa’.
+ BAJU-BAJUNYA BAGUS BANGET YA ALLAH! Tatanan rambut di era 20-an juga kece-kece pisan!

Lady Cora dengan salah satu bajunya yang cakeeep


+ Michelle Dockery itu kulitnya bagus, ya! Tapi setelah diperhatikan lagi, kulit orang-orang Inggris itu kayaknya emang bagus-bagus, deh. Warna putih porselen gitu.

Lady Mary

+ Salah satu impian saya adalah jalan-jalan ke Highclere Castle yang tak lain adalah kastil tempat syuting Downton Abbey. Soalnya baguuuuuus banget pemandangan di sekitar kastil itu. Semoga akan ada rezeki saya untuk bisa ke sana. Amiiien….

Highclere Castle
(Foto: Airbnb)

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Saya sempat trauma nonton season 4 episode 3. Episode ini sempat membuat gempar karena ‘went to far’. Episode ini bisa membungkus kejadian jahat banget dengan elegan. Tapi kita jadi bisa ikut merasakan apa rasanya jadi korban kejahatan tersebut.
– Serial ini tokohnya banyak, udah gitu mereka datang dan pergi pula. Jadi kalau kalian seperti saya yang sempat stop beberapa tahun sebelum akhirnya nonton sampai habis, kalian pasti bingung dengan nama-nama tokohnya. Harus nonton beberapa episode sebelumnya biar jadi paham lagi jalan ceritanya.
– Subtitle bahasa Indonesia di Prime Video suka jelek dan ngaco. Jadi sayang banget bahasa ‘tingkat tinggi’ kaum aristokrat itu tidak terjemahkan dengan baik.

Rate: 5 out of 5
Serial ini (akhirnya selesai) saya tonton di Prime Video

Ini trailernya…

Review: Unsolved Mysteries (2020)

Yang suka baca komik Detektif Conan pasti suka serial ini.

Serial ini terdiri dari enam episode yang menceritakan misteri yang berbeda. Hampir semuanya adalah tentang aksi kriminal yang tak terpecahkan. Seperti tentang menghilangnya Rey Rivera yang kemudian ditemukan dalam keadaan tak bernyawa secara tidak wajar di sebuah ruang serba guna hotel legendaris. Atau tentang pembunuhan satu keluarga bangsawan Perancis yang menghebohkan pada tahun 2011 lalu. Semuanya diceritakan dengan membeberkan rangkaian fakta dari para kerabat korban, polisi, sampai jurnalis. Nggak sabar nunggu volume 2-nya tayang di Netflix

Yang saya suka dari serial ini:
+ Suka banget dengan insert timeline dari setiap peristiwa. Penempatan tanggal linier ini sangat memudahkan penonton untuk mengerti kronologi peristiwa.
+ Kasus yang ditampilkan di serial volume ini beragam. Mulai dari orang hilang, pembunuhan, konspirasi keluarga, sampai diculik UFO.
+ Semua episodenya menarik. Pecinta komik Detektif Conan pasti langsung mikirin berbagai skenario kemungkinan pemecahan kasus setelah menonton tiap episodenya.
+ Favorit saya episode 3. Selain heran bagaimana kok bisa pelakunya tega, sekaligus salut dengan bagaimana ia merencanakan kejahatannya serta cara kaburnya dengan terperinci nan elegan.

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Episode 5 menurut saya membosankan. Mungkin karena saya nggak percaya juga kali ya, jadi gitu deh…

Rate: 4 out of 5
Saya nonton serial ini di Netflix.

Ini trailernya…

Review: Jeffrey Epstein: Filthy Rich (2020)

Hooo…. Jadi ini tokh Jeffrey Epstein yang sempat heboh di media asing tahun lalu.

Serial dokumenter ini menyorot kisah hidup Jeffrey Epstein yang ternyata cukup misterius. Latar belakangnya kurang diketahui banyak orang. Tahu-tahu ia sudah masuk dalam lingkaran orang kaya berpengaruh di Amerika Serikat. Teman nongkrongnya antara lain Bill Clinton, Donald Trump, sampai Pangeran Andrew dari Inggris. Pokoknya dia itu T.O.T (Tim Orang Tajir).

Pekerjaan dan bisnisnya nggak terlalu jelas apa. Pas saya tonton serial ini sampai habis, saya masih nggak paham pekerjaan atau bisnis Jeffrey Epstein itu bergerak di bidang apa. Yang pasti dia tajir mampus dan pengaruhnya besar.

Sebesar apa pengaruhnya?
Sebesar itu sampai ia bisa menghentikan proses penyelidikan FBI terhadap dirinya menyangkut pelecehan terhadap ratusan anak di bawah umur. Iyes, Jeffrey ini suka ngajak cewek-cewek abege untuk pijat-pijat cantik di rumahnya. Dengan iming-iming uang 200 USD, dia menciptakan rantai korban pelecehan cewek-cewek abege. Kalau ada cewek yang pintar, ia iming-imingi dengan biaya kuliah dan pengalaman kerja di luar negeri biar masa depan si cewek cerah.

Namun begitu ada cewek yang melaporkan pelecehannya, Jeffrey bisa dengan gampang ‘mengatur’ hukumannya. Apa sih rahasia Jeffrey Epstein ini?

Jeffrey Epstein om-om tajir bertampang baik.
“Kamu mau apa? Sini om bayarin. Tapi om maunya sama anak abege ehe ehe”

Yang saya suka dari serial ini:
+ Buat orang yang buta kasus Jeffrey Epstein ini, saya jadi bisa tahu luar-dalam baik-busuk dirinya dengan penuturan yang gampang dicerna.
+ Salut sama para korban yang berani untuk mengungkapkan kebenaran di serial ini
+ Jadi tahu kalau politisi, pengacara, dan orang tajir Amrik itu emang busuk, yes.
+ Pangeran Andrew dari Inggris apalagi! hadoh…hadoh…… Bisa gitu ye bohong menyangkal dengan gampang karena dia ‘keluarga kerajaan’.
+ Dari semua nama besar yang munafik yang disebut di serial ini, cuma satu nama yang saya nggak habis pikir apa yang ada di benaknya. Yakni, Ghislaine Maxwell yang tak lain adalah pacarnya Jeffrey Epstein. Menurut para korban, Ghislaine justru ikut merekrut cewek-cewek untuk dilecehkan oleh Jeffrey. What the hell??? Eh alhamdulillah per 3 Juli 2020 AKHIRNYA Ghislaine ditangkap.

(Kiri) Ghislaine Maxwell yang nggilani. You krezi woman you!


+ Suka banget dengan judulnya ‘Filthy Rich’. Makna ambigu yang menjelaskan betapa tajirnya dia sekaligus betapa kotornya seorang Jeffrey Epstein.

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Tanpa maksud mengecilkan apa yang dilakukan Jeffrey Epstein, tapi apa yang dilakukan oleh dia itu nggak mengherankan buat penonton Indonesia. Soalnya orang kaya bisa lolos dari segala macam hukuman dan kriminal di Indonesia itu udah biasa berow…
– Dokumenter ini punya niatan baik untuk mengedepankan para korban. Namun entah kenapa saya ngerasa kisah mereka agak dipanjang-panjangin. Untung yang ngedit jago.

Saya nonton serial ini Netflix.
Rate: 3,5 out of 5

Ini trailernya…

Review: Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2020)

Film konflik keluarga Indonesia yang paling realistis yang pernah saya tonton.

Film ini mengisahkan tentang sebuah keluarga dengan tiga orang anak. Angkasa (Rio Dewanto) si sulung, Aurora anak kedua (Sheila Dara Aisha), dan si bungsu Awan (Rachel Amanda). Masing-masing anak punya permasalahan tersendiri. Angkasa yang selalu ditekan agar jadi contoh dan pelindung adik-adiknya. Aurora khas anak tengah yang keberadaannya hanya sebagai bayang-bayang di keluarga. Sedangkan si bungsu Awan selalu jadi pusat perhatian dan terlalu dilindungi. Ayah mereka, yang diperankan oleh Donny Damara, adalah orang yang dominan. Sedangkan si ibu, diperankan oleh Susan Bachtiar, sangat pasif.
Mereka semua berusaha menjalankan peran masing-masing agar keluarga tetap rukun. Namun apa yang tidak dibicarakan dalam keluarga, lama-lama bisa jadi bom waktu juga.

Yang saya suka dari film ini:
+ Ceritanya oke! Permasalahan masing-masing anggota keluarga itu sederhana tapi kompleks. Ceritanya juga terasa dekat banget, karena memang itu kebanyakan permasalahan di suatu keluarga.
+ Pola bertuturnya bagus! Kisah ini banyak menceritakan masa lalu dengan flash back, tapi tetap mudah dimengerti. Malah banyak adegan flash back ke masa lalu ini membangun misteri yang klimaks di akhir film.
+ Semua aktingnya oke! Tapi tetap kesheyengan saya dalam film ini tetap Rachel Amanda yang selalu natural dalam berakting
+ Baju-bajunya Aurora keceee pisaaaaaaan! Suka banget sama gaya Aurora dari ujung kepala sampai kaki.
+ Film ini menampilkan band Arah. Bandnya si Hanum. Woohooooo!
+ Posternya bagus! Warnanya cakep, pose semua orang tersenyum menutupi beban hidup masing-masing juga ciamik

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Mas Rio Dewanto, kamu ganteng. Aku padamu. Tapi aku kok ngerasa kamu terlihat terlalu tua untuk peran ini ya? Terus, rambutmu di film ini kok acak-acakannya agak aneh, mas. Jangan marah ya, mas. Aku padamu lho, mas.
– Ada satu adegan marah-marah bapak Donny Damara yang entah kenapa terlihat kurang pas di mata saya. Kayaknya terlalu dipaksakan. Tapi di satu adegan itu doang, kok.
– Ada band Arah di film ini. Bandnya si Hanum. Tapi si Hanumnya kagak kesorot mukanya. Hadeh…. *tepok jidat* Yodah, dengerin gebukan drum dan suara Hanum di sini ya. Iya, klik di sini ya.
– Ada beberapa poster yang menampilkan Ardhito Pramono yang ikut muncul di film ini. Terlepas aktingnya Ardhito yang oke di film ini, tapi menurut saya dia kurang pas untuk masuk poster. Cukup tentang tiga orang kakak-adik dan keluarganya aja. Karena memang pusat ceritanya di situ.
– Film ini diangkat dari buku hipster ngehits dengan judul yang sama karya Marchella FP. Nah, isi buku dan jalan cerita film ini sama sekali nggak nyambung. Bahkan quote-quote bagus dari bukunya Marchella kayaknya nggak banyak dipakai deh di film ini. Jadi film ini rasanya kayak pinjam judul bukunya doang, lalu dibikin cerita yang jauh berbeda.
– Wajah pemeran tokoh di masa lalu mereka nggak ada yang singkron. Contohnya tokoh Angkasa waktu balita dia itu terlihat kayak anak Melayu bermata belo’. Terus pas SMP, mukanya kenapa jadi chinese?
Begitu juga dengan tokoh si ibu. Waktu mudanya dia kayak cewek bandung yang putih. Pas versi tuanya kok jadi Susan Bachtiar yang chinese? Ini bukan rasis lho ya. Ini cuma mengungkapkan ketidakmiripan para tokoh muda dan dewasanya. Dalam hal ini NKTCHI harus belajar sama film Bebas. Di film Bebas tokoh masa muda dan dewasanya bisa mirip gitu.

Film ini saya tonton di Netflix.
Rate: 4,5 out of 5

Ini trailernya…

Review: Terlalu Tampan (2019)

Film yang diangkat dari webtoon ini mengisahkan tentang sebuah keluarga yang terlahir dengan sangat tampan. Sampai si ibunya pun tampan. Ketampanan mereka tentu saja membuat banyak perempuan tergila-gila. Banyak kemudahan hidup yang mereka rasakan karena berkah ketampanan tersebut. Namun tidak bagi si bungsu Kulin (Ari Irham). Bagi Kulin ketampanannya ini kutukan. Ia tidak bisa keluar rumah dengan bebas tanpa dikejar-kejar oleh perempuan yang histeris begitu melihat wajahnya. Makanya ia memilih untuk homeschooling dan hanya berteman dengan Anto, ikan peliharaannya.
Melihat hal ini, keluarga tampan jadi resah. Mereka pun merancang sebuah skenario agar Kulin mau ke sekolah normal. Skenario mereka berhasil. Kulin kini mau mulai ke sekolah biasa asal di sekolah khusus pria. Namun di sekolah ini ketampanan dia tetap bawa masalah. Ia jadi sasaran gencetan senior. Ia dipaksa harus bisa meloloskan proposal prom night gabungan dengan sekolah khusus perempuan. Apa yang Kulin harus lakukan?

Yang saya suka dari film ini:
+ Film ini kan diangkat dari komik webtoon, ya. Nah, film ini masih tetap mempertahankan kekomikannya. Jadi kita bisa melihat banyak efek-efek khas komik yang seru dan menambah kekocakannya. Salut lah buat sang sutradara Sabrina Rochelle Kalangie, film ini ia garap dengan baik.
+ Kocaknya menghibur dan nggak lebay dibuat-buat.
+ Sukaaaaaaak banget sama aktingnya Rachel Amanda. Dia ini dari zaman masih bocah aktingnya udah outstanding dibanding aktor cilik lainnya. Pas udah gede, aktingnya makin prima.
+ Ari Irham emang jadi ganteng sih di film ini.
+ Seluruh tokoh yang dihidupkan ke film ini tetap nggak meninggalkan ciri komiknya.
+ Jalan ceritanya juga baguuuus.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Apa ya…. Ada beberapa anggota keluarga Tampan yang menurut saya biasa aja sih tampannya.

Film ini saya tonton di iflix
Rate: 4,5 out of 5

Ini trailernya…

Review: Late Night (2019)

Saya nggak suka dengan Mindy Kaling. Tapi harus saya akui kalau dia adalah perempuan yang cerdas.

Film ini mengisahkan tentang seorang host TV terkenal Katherine Newbury (Emma Thompson) yang masa jaya acaranya memudar. Rating acaranya menurun terus. Maka petinggi televisi memutuskan untuk segera mengganti posisinya dengan host baru yang lebih muda.
Dalam usahanya untuk menyelamatkan acaranya, Katherine yang superior dan berhati dingin pun melakukan beberapa perubahan. Salah satunya dengan memperkerjakan seorang perempuan untuk pertama kalinya di tim penulisnya. Perempuan itu adalah Molly (Mindy Kaling). Molly tidak hanya perempuan, ia juga seorang ras India, dan ia tidak punya basic kerja di dunia pertelevisian karena pekerjaan sebelumnya adalah salah satu tim pengawas di pabrik Kimia. Akankah kehadiran Molly bisa mengubah keadaan?

Yang saya suka dari film ini:
+ Ini bukan sekadar film drama komedi. Film ini punya banyak kritik sosial tentang banyak hal. Antara lain: mengenai perempuan sebagai minoritas di dunia kerja, mengenai minoritas ras, mengenai politik antar perempuan dia dunia kerja (baik tentang keirian perempuan dan cara perempuan mengalahkan lawan dengan elegan).
+ Harus saya akui kalau penulisan naskah film ini cerdas. Penulisnya tak lain dan tak bukan adalah Mindy Kaling.
+ Aktingnya Emma Thompson…. Ya Allah perempuan ini keren banget, sih! Saya sudah melihat banyak film yang dia perankan. Di semua filmnya, saya melihat ia seperti orang yang berbeda. Ia tidak punya ciri khas di tiap aktingnya. Semuanya seperti berdiri sendiri.
+ Baju-bajunya Katherine Newbury dan gaya rambutnya bagus banget siiiiih! Love ngets!
+ Ada satu dialog tentang karma yang dilontarkan oleh suaminya Katherine yang ngena di hati saya.
+ Dari film ini saya belajar kalau industri pertelevisian di Amerika sana itu pnya konflik politik yang cukup kental. Semuanya berawal dari rating.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Sejujurnya saya bukan fansnya Mindy Kaling. Entah kenapa saya melihat dia punya punya pribadi yang ‘sengak’. Tapi apalah saya, kenal sama Mindy Kaling aja kagak tapi berani menilai orang dari tampangnya.
– Ada beberapa adegan yang sok lucu, tapi nggak pas. Terlalu slapstick.

Film ini saya tonton di Netflix.
Rate: 4 out of 5