review

Review: Dua Garis Biru

Category: Movies
Genre: Drama
Rate: 4 out of 5

Image result for dua garis biru poster

Film dibuka di ruang kelas. Dara (Zara JKT48) dan Bima (Angga Yunanda) duduk sebangku. Dara adalah anak pintar yang nilai ujiannya sempurna. Sedangkan Bima nilainya di bawah rata-rata. Namun mereka akrab. Bisa dikatakan mereka lebih dari sekadar teman akrab.
Pada suatu hari, rumah Dara sedang kosong. Papa-Mama Dara sedang kerja, adik Dara belum pulang sekolah. Dara mengajak Bima main ke rumahnya. Lalu terjadilah perbuatan terlarang di antara mereka.
Setelah kejadian itu, tidak ada yang berubah di antara mereka. Sampailah Dara menyadari kalau ia tak kunjung datang bulan. Awalnya mereka mencoba aborsi, namun last minute Dara membatalkan niat tersebut. Mereka akhirnya sepakat untuk merahasiakan hal ini, terutama dari teman-teman sekolahnya. Namun karena sebuah kejadian, seluruh guru dan teman sekolahnya tahu kondisi Dara yang berbadan dua. Orang tua Bima dan Dara dipanggil ke sekolah. Kini mereka tak bisa menghindari lagi akibat perbuatan mereka.

Yang saya suka dari film ini:
+ Ini cerita dan penulisan naskahnya bagus banget, sih. Memang kalau naskahnya yang nulis Gina S. Noer bisa dibilang jaminan ceritanya bagus. O iya, film ini juga disutradari oleh Gina, lho.
+ Suka banget dengan seluruh akting pemainnya! Semuanya bisa menggambarkan ‘luka’ akibat perbuatan dari Dara & Bima.
+ Meskipun semua aktingnya bagus, tapi saya mau highlight dua akting yang mengena di hati saya. Yaitu akting Cut Mini sebagai ibunya Bima. Di balik muka sok tegar dan pembela anak, namun kita bisa ikut merasakan rasa malu serta kecewanya akibat perbuatan Bima.
Yang kedua adalah aktingnya Lulu Tobing. Entah kenapa setiap Lulu Tobing nangis karena menghadapi Dara, saya ikutan nangis. Padahal dulu waktu saya masih SMP, tiap Jumat saya nonton sinetron Tersanjung yang dibintangi Lulu Tobing dan dia nangis-nangis juga tiap episodenya, tapi kok saya ngeliatnya biasa aja?
Sekarang mungkin karena saya punya anak perempuan, jadi semua emosi dan kata-kata yang dilontarkan oleh Lulu Tobing ke Dara itu sesuai banget dengan apa yang ada di pikiran saya.
+ TAPI YA GAES, KOK LULU TOBING CAKEPNYA AWET SIIIH? Rambutnya masih hitam tebel, keriput mukanya minim, terus nangis aja tetep cantik. Kok bisa gitu ya? Coba kalau saya yang nangis terus direkam, yang ada saya viral di akun Instagram Awreceh dengan caption yang menyaqitqan hati namun terlalu sayang untuk tidak ditertawakan.
+ Saya suka sekali dengan adegan Rachel Amanda sebagai kakak Bima ‘menghajar’ adiknya. Dia satu-satunya tokoh yang berani mengungkapkan kemarahannya secara gamblang.
+ Suka dengan set dan lokasinya. Pas aja gitu semuanya dan menghidupkan cerita juga.
+ Menurut saya film ini dialognya nggak ada yang quotable, karena semuanya itu pada dasarnya percakapn sehari-hari. Namun banyak dialognya itu bikin mikir. Terutama saya sebagai orang yang udah punya anak. Lagi-lagi, salut dengan penulisan Gina S. Noer.
+ Pesan moral yang saya tangkap dari film ini adalah, anak harus diajak ngobrol terus dengan orang tuanya.

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Saya kok risih ya ngeliat poninya Bima. Rasanya pengen diawasin sama tangan gitu.
-Saya merasa pemindahan adegannya terlalu kasar. Mungkin itu hasil pisau Lembaga Sensor Film kali ya?
-Bajunya Cut Mini kurang emak-emak, menurut saya.

Ini trailernya….

Iklan
review

Review: Parasite

Category: Movies
Genre: Dark Comedy, Thriller
Rate: 4,5 out of 5

Related image

Jarang jarang nih saya bela-belain nonton film Korea di bioskop. Biasanya nunggu streamingan aja. Eh…… Nggak juga deng. Lebih tepatnya saya jarang nonton film Korea. Tapi begitu denger film ini menang Palm d’Or dari Cannes Film Festival, jadi semangat deh buat nonton.

Film ini dibuka dengan memperlihatkan kemiskinan keluarga Ki Taek (Kang-Ho Song). Ia adalah suami sekaligus ayah dari dua anak yang sudah beranjak dewasa. Mereka tinggal di rumah sempit dalam gang sempit pula. Saking miskinnya, beli paket internet aja nggak mampu. Mereka selalu numpang wifi gratisan dari tetangga.
Sampailah suatu ketika teman anak lelakinya datang ke rumah. Ia menawarkan anak lelakinya, Ki-Woo (Woo-sik Choi), menjadi guru les pengganti anak keluarga kaya karena dia harus melanjutkan sekolah.
Maka berangkatlah Ki-Woo ke rumah keluarga kaya itu menjadi guru les. Dari hari pertama Ki-Woo mengajar, ia bisa melihat peluang untuk mensejahterakan keluarganya dengan cara menyingkirkan beberapa pekerja di rumah kaya itu. Rencana Ki-Woo berjalan mulus. Tanpa ia sadari bahwa rumah mewah itu menyimpan sebuah rahasia…

Yang saya suka dari film ini:
+ JALAN CERITANYA BAGUS!
+ Banyak twist yang cukup mengejutkan
+ Pesan tentang kesenjangan antara si kaya dan si miskin bikin kita mikir begitu keluar dari bioskop
+ Entah kenapa dialog pembahasan tentang hujan di mobil itu bikin saya sedih jleb
+ Aktingnya oke-oke pisanlah!
+ Memang referensi film Korea saya nggak banyak. Tapi baru di film ini doang saya bisa melihat orang Korea yang miskin. Abis selama ini saya pikir semua orang Korea itu mulus, putih, hidupnya cool-cool aja, tahu-tahu ada cowok kaya tapi sombong yang naksir sama kita—–>iya, ini saya ambil dari plot drama Korea
+ Set dan lokasinya oke banget. Apalagi set di rumah orang tajirnya
+ Banyak dialog yang oke dan menghidupkan cerita
+ Suka banget suara ngebass Sun-kyun Lee yang memerankan si bapak orang kaya. Jangan sampai dia jadi voice over iklannya KFC, ya. Soalnya mendengar suaranya aja ku sudah berselera (apaan sik!)
+ Banyak adegan yang bikin deg-degan gregetan. Padahal bukan pas adegan sadis juga sih.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Adegan sadisnya itu, lho……. Jangan ditonton sama anak-anak, ya! Film Korea itu kalau bikin adegan sadis itu beneran ampun, deh….
– Ini sebenarnya film komedi. Tapi karena komedinya dark, jadi mau ketawa tuh harus mikir dulu. “Ini sebenarnya lucu. Nggak apa-apa kan kalau gw ketawa? Bakal menyinggung nggak nih kalau gw ketawa sekarang?”
– Ada satu adegan tentang toilet yang bikin saya bergidik jijik
– Menurut saya posternya nggak mencerminkan filmnya, deh. Begitu juga dengan taglinenya.

Ini trailernya…


review

Review: You (Series)

Category: TV Series
Genre: Thriller, Romance
Rate: 4,5 out of 5

Image result for you netflix poster

Ini kayaknya pertama kali saya me-review serial televisi. Oke, mulai sekarang saya akan coba mer-review serial televisi juga. Tapi biar adil, saya akan me-reviewnya kalau sudah selesai menonton full satu season, ya.

Serial ini mengisahkan tentang Joe (Penn Badgely) seorang pelayan toko buku yang jatuh cinta pada pandangan pertama ke Beck (Elizabeth Lail) yang datang ke tokonya. Sejak itu Joe secara diam-diam membuntuti Beck. Joe jadi tahu segala sesuatu tentang kehidupan Beck. Seperti di mana dia tinggal, siapa cowok yang kencan dengannya, rutinitasnya di kampus, sampai segala masalah pribadinya. Joe menutupinya dengan baik. Sampailah Joe tidak tahan melihat Beck dipermainkan oleh cowok yang dikencaninya. Joe merasa dia harus bertindak.

Image result for you netflix scene
Beck & Joe

Yang saya suka dari serial ini:
+ Serial ini dengan sangat pintar dan rapi menjelaskan isi pemikiran orang. Akhirnya semua konflik terasa realistis
+ Penn Badgely aktingnya oke banget dari cowok yang sweet sekaligus ‘sakit’. Dari sorot matanya kita bisa langsung melihat perubahan karakternya.
+ Pengambilan gambarnya keren. Terutama perubahan pengambilan angle saat Joe jadi cowok manis dan cowok ‘gila’. Kalau Joe lagi cowok manis, di-shootnya dengan angle Penn yang ganteng. Tapi kalau dia lagi jadi cowok ‘gila’, di-shootnya dari angle jeleknya Penn. Jadi bikin kita mikir, ‘ih ama cowok jelek gini aja kok mau?’ Tapi begitu dia jadi ganteng lagi, jadi sneyum-senyum sendiri lagi, deh——>gampang lemah ama cowok ganteng emang
+ Aktingnya Elizabeth Lail juga harus dapat perhatian khusus. Dia bisa membawakan diri sebagai cewek yang ‘banyak tekanan dari pertemanan tapi juga pengen maju’, khas cewek umur 20-an. Pengen main, tapi banyak tugas. Pengen ngerjain tugas, tapi FOMO (Fear Of Missing out) ama teman-teman sendiri. Dia juga pas banget meranin cewek nggak pede yang butuh dukungan.
+ Saya suka sekali tokoh Peach Salinger yang diperankan oleh Shay Mitchell. Selain cantiknya parah, tokoh yang sombong tapi sayang banget sama Beck ini bikin kita kezel-kezel-sayang. Dan kayaknya di tiap pertemanan cewek, pasti ada aja orang kayak Peach.
+ Apartemennya Beck bagus. Andai dulu kosan saya seperti itu…
+ Banyak pemandangan New York yang bikin pengen ke sana. Terutama Central Park. Bukan Central Park yang mall di Jakarta itu lho, ya. Kalau yang itu mah saya udah pernah.
+ Kulitnya Beck kok bagus amat yak? Lipstik nudenya juga bagus-bagus.

Image result for you netflix scene peach
Peach Sallinger

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Meskipun alur ceritanya bagus, bikin berbunga-bunga, sekalgus deg-degan penasaran, tapi saya amat sangat tidak menyarankan anak-anak di bawah 17 tahun menonton serial ini. Saya ada kekhawatiran kalau serial ini akan berefek buruk terhadap anak-anak belum cukup umur. Takutnya anak-anak cowok berpikir kalau mencontoh tindakan ‘stalking sakit’nya Joe itu hal lumrah. Yang paling bikin saya takut lagi adalah cewek-cewek di bawah umur akan berpikir bahwa tindakan ‘sakit’nya Joe itu adalah bentuk dari romantisme. Tindakan dia itu very not good ya , girls! Jangan mau digituin ama cowok-cowok. Dia itu sakit jiwa.
– Serial ini juga banyak adegan kekerasan dan seksualnya (meski nggak vulgar). Jadi, sekali lagi, jangan ditonton oleh anak-anak di bawah 17 tahun, ya.

Serial ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya….

review

Review: Mamma Mia

Category: Movies
Genre: Drama, Musical, Comedy
Rate: 2,5 out of 5

Image result for mamma mia movie

Iya ini film lama, tahun 2008. Tapi saya baru nontonnya sekarang, hahaha…

Film ini menceritakan tentang Sophie (Amanda Seyfried) anak pemilik hostel di Yunani yang akan segera menikah. Ibunya, Donna (Meryl Streep), tidak pernah menceritakan siapa ayah kandung Sophie, dan itu membuat Sophie merasa hidupnya tidak utuh. Maka menjelang hari pernikahannya, Sophie mengirimkan surat ke tiga lelaki mantan pacar ibunya dan diperkirakan sebagai ayah kandungnya. Ia ingin ayah kandungnya hadir di pernikahannya. Maka datanglah ketiga lelaki tersebut tanpa sepengetahuan ibunya. Meskipun mereka datang dengan damai, namun tetap saja ada kekacauan yang terjadi akibat para tamu yang tidak diundang tersebut.

Yang saya suka dari film ini:
+ Film musikal ini mengangkat lagu-lagu ABBA yang keren-keren dan pas dengan momennya. Dijamin abis nonton film ini jadi suka dengan lagu-lagu ABBA.
+ Meryl Streep seperti biasa tidak pernah mengecewakan. Pas nonton film ini saya jadi penasaran kok bisa nenek-nenek seenerjik itu?
+ Pemandangan Yunani di pinggir pantai baguuuuuuuuuuuus! Kayaknya pariwisata Yunani jadi pernah sangat meningkat gara-gara film ini.
+ Set dan lokasinya kelihatannya rumit. Salut!
+ Warna gambarnya juga bagus

Yang saya kurang suka dengan film ini:
– Intensitas nyanyinya rapet banget. Jadinya dikit-dikit nyanyi, dikit-dikit joget. Kalah film India. Beneran dah, padat banget nyanyi-nyanyinya, Saya jadi bosan dan merasa film ini lebay. Yang ada saya skip terus bagian nyanyinya.
– Hmmmmm Pierce Brosnan lain kali nggak usah diajak nyanyi, ya. I love you Pierce Brosnan. You are one of the man that I love unconditionally. Tapi sebaiknya kamu nggak usah ikutan nyanyi, ya. Love you, kiss kiss.
– Saya emang jarang suka sama film musikal. Jadi ya, saya kurang menikmati nonton film beginian.

Saya tonton film ini di Netflix. Ini trailernya…


review

Review: Revenge

Category: Movies
Genre: Thriller, Gore
Rate: 3,5 out 5

Image result for revenge movie 2018

Film ini mengisahkan tentang cewek simpanan bernama Jen (Matilda Anna Ingrid Lutz). Ia diajak gadunnya ke sebuah villa mewah namun terpencil di sebuah gurun. Rupanya Jen tidak sendirian sama gadunnya doang. Sang gadun, Richard (Kevin Jenssens), juga mengajak dua temannya.
Acara kumpul-kumpul bareng yang tadinya menyenangkan berubah begitu Richard pergi sebentar dari villa tersebut. Jen diperkosa oleh salah satu temannya Richard. Begitu Richard kembali, Jen langsung minta untuk pulang. Jen sampai mengancam akan mengadukan hubungan mereka ke istri Richard jika ia tidak dipulangkan saat itu juga. Hal itu memicu emosi Richard. Richard kemudian mendorong Jen ke jurang dan meninggalkan ia untuk mati di gurun. Yang Richard dan teman-temannya tidak tahu adalah Jen tidak mati di sana.

Yang saya suka dari film ini:
+ Konsistensi make up dan set serta lokasinya juara!
+ Aktingnya oke-oke, walaupun saya belum pernah melihat mereka sebelumnya.
+ Darahnya buanyaaaaaak. Blood! Blood! Blood everywhere!
+ Warna darahnya juga bagus kayak asli
+ Alurnya realistis

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Cara survive Jen nggak masuk akal. Nggak pakai makan dan minum gitu?
– Meskipun alurnya realistis, tapi ada beberapa hal yang nggak masuk logika. Contohnya, setelah terluka kayak gitu, emang darahnya nggak abis apa? Lemes pun nggak? Yang boneng lu!

Film ini tidak saya sarankan untuk ditonton oleh anak dibawah 17 tahun, ya.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya…

review

Review: The Perfection

Category: Movies
Genre: Thriller
Rate: 4 out of 5

Image result for the perfection

Film dibuka dengan meninggalnya ibunda Charlotte (Allison Williams) yang telah lama sakit. Dulunya Charlotte adalah pemain cello sangat berbakat. Sayangnya ia harus mengentikan studi cellonya demi merawat ibunya yang sakit. Nah, sepeninggal ibunya, Charlotte menghubungi kembali guru cellonya, Anton (Steven Weber). Anton kemudian mengundang ia ke China menghadiri konser cello Lizzie (Logan Browning) yang juga anak didik Anton.
Seusai konser Charlotte banyak berbincang dengan Lizzie. Mereka kemudian jadi sangat akrab dalam semalam. Keesokan harinya Lizzie mengajak Charlotte untuk ikut dalam liburannya keliling China. Sayangnya semua tidak berjalan dengan semestinya….

Yang saya suka dengan film ini:
+ Ini film alurnya nggak ketebak. Banyak banget twist-nya. Sinopsis yang saya tulis di atas pun bisa jadi menyesatkan karena ceritanya nggak gitu doang pemirsah…
+ Aktingnya oke-oke. Terutama aktingnya Logan Browning
+ Pecinta thriller kayaknya nggak akan kecewa nonton film ini. Suspense dan menegangkannya dapat pas.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Ada beberapa bagian yang nggak masuk akal atau nggak runut ama cerita. Tapi nggak sampai tahap ganggu, sih.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya…

review

Review: Arrival

Category: Movies
Genre: Drama, Sci-fi
Rate: 3 out of 5

Alkisah tiba-tiba Bumi didatangi objek misterius yang tersebar di berbagai belahan negara dari luar angkasa. Diyakini bahwa itu adalah alien. Namun maksud kedatangan mereka tidak jelas. Karena objek tersebut bergeming begitu saja. Akhirnya dipanggillah Louise Banks (Amy Adams) seorang ahli bahasa untuk mecoba berkomunikasi dengan alien tersebut. Rupanya tujuan mereka para alien itu sungguh tidak disangka-sangka.

Yang saya suka dari film ini:
+ Idenya bagus!
+ Twist-nya juga oke.
+ Suka dengan aktingnya Amy Adams sebagai Louise yang nggak ambisius tapi tekun.

Yang saya kurang suka dari film ini:
Jeremy Renner nggak istimewa di film ini
– Alurnya agak membosankan. Sepertinya film ini emang targetnya kelas festival.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya…