review

Review: Mamma Mia

Category: Movies
Genre: Drama, Musical, Comedy
Rate: 2,5 out of 5

Image result for mamma mia movie

Iya ini film lama, tahun 2008. Tapi saya baru nontonnya sekarang, hahaha…

Film ini menceritakan tentang Sophie (Amanda Seyfried) anak pemilik hostel di Yunani yang akan segera menikah. Ibunya, Donna (Meryl Streep), tidak pernah menceritakan siapa ayah kandung Sophie, dan itu membuat Sophie merasa hidupnya tidak utuh. Maka menjelang hari pernikahannya, Sophie mengirimkan surat ke tiga lelaki mantan pacar ibunya dan diperkirakan sebagai ayah kandungnya. Ia ingin ayah kandungnya hadir di pernikahannya. Maka datanglah ketiga lelaki tersebut tanpa sepengetahuan ibunya. Meskipun mereka datang dengan damai, namun tetap saja ada kekacauan yang terjadi akibat para tamu yang tidak diundang tersebut.

Yang saya suka dari film ini:
+ Film musikal ini mengangkat lagu-lagu ABBA yang keren-keren dan pas dengan momennya. Dijamin abis nonton film ini jadi suka dengan lagu-lagu ABBA.
+ Meryl Streep seperti biasa tidak pernah mengecewakan. Pas nonton film ini saya jadi penasaran kok bisa nenek-nenek seenerjik itu?
+ Pemandangan Yunani di pinggir pantai baguuuuuuuuuuuus! Kayaknya pariwisata Yunani jadi pernah sangat meningkat gara-gara film ini.
+ Set dan lokasinya kelihatannya rumit. Salut!
+ Warna gambarnya juga bagus

Yang saya kurang suka dengan film ini:
– Intensitas nyanyinya rapet banget. Jadinya dikit-dikit nyanyi, dikit-dikit joget. Kalah film India. Beneran dah, padat banget nyanyi-nyanyinya, Saya jadi bosan dan merasa film ini lebay. Yang ada saya skip terus bagian nyanyinya.
– Hmmmmm Pierce Brosnan lain kali nggak usah diajak nyanyi, ya. I love you Pierce Brosnan. You are one of the man that I love unconditionally. Tapi sebaiknya kamu nggak usah ikutan nyanyi, ya. Love you, kiss kiss.
– Saya emang jarang suka sama film musikal. Jadi ya, saya kurang menikmati nonton film beginian.

Saya tonton film ini di Netflix. Ini trailernya…


Iklan
review

Review: Revenge

Category: Movies
Genre: Thriller, Gore
Rate: 3,5 out 5

Image result for revenge movie 2018

Film ini mengisahkan tentang cewek simpanan bernama Jen (Matilda Anna Ingrid Lutz). Ia diajak gadunnya ke sebuah villa mewah namun terpencil di sebuah gurun. Rupanya Jen tidak sendirian sama gadunnya doang. Sang gadun, Richard (Kevin Jenssens), juga mengajak dua temannya.
Acara kumpul-kumpul bareng yang tadinya menyenangkan berubah begitu Richard pergi sebentar dari villa tersebut. Jen diperkosa oleh salah satu temannya Richard. Begitu Richard kembali, Jen langsung minta untuk pulang. Jen sampai mengancam akan mengadukan hubungan mereka ke istri Richard jika ia tidak dipulangkan saat itu juga. Hal itu memicu emosi Richard. Richard kemudian mendorong Jen ke jurang dan meninggalkan ia untuk mati di gurun. Yang Richard dan teman-temannya tidak tahu adalah Jen tidak mati di sana.

Yang saya suka dari film ini:
+ Konsistensi make up dan set serta lokasinya juara!
+ Aktingnya oke-oke, walaupun saya belum pernah melihat mereka sebelumnya.
+ Darahnya buanyaaaaaak. Blood! Blood! Blood everywhere!
+ Warna darahnya juga bagus kayak asli
+ Alurnya realistis

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Cara survive Jen nggak masuk akal. Nggak pakai makan dan minum gitu?
– Meskipun alurnya realistis, tapi ada beberapa hal yang nggak masuk logika. Contohnya, setelah terluka kayak gitu, emang darahnya nggak abis apa? Lemes pun nggak? Yang boneng lu!

Film ini tidak saya sarankan untuk ditonton oleh anak dibawah 17 tahun, ya.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya…

review

Review: The Perfection

Category: Movies
Genre: Thriller
Rate: 4 out of 5

Image result for the perfection

Film dibuka dengan meninggalnya ibunda Charlotte (Allison Williams) yang telah lama sakit. Dulunya Charlotte adalah pemain cello sangat berbakat. Sayangnya ia harus mengentikan studi cellonya demi merawat ibunya yang sakit. Nah, sepeninggal ibunya, Charlotte menghubungi kembali guru cellonya, Anton (Steven Weber). Anton kemudian mengundang ia ke China menghadiri konser cello Lizzie (Logan Browning) yang juga anak didik Anton.
Seusai konser Charlotte banyak berbincang dengan Lizzie. Mereka kemudian jadi sangat akrab dalam semalam. Keesokan harinya Lizzie mengajak Charlotte untuk ikut dalam liburannya keliling China. Sayangnya semua tidak berjalan dengan semestinya….

Yang saya suka dengan film ini:
+ Ini film alurnya nggak ketebak. Banyak banget twist-nya. Sinopsis yang saya tulis di atas pun bisa jadi menyesatkan karena ceritanya nggak gitu doang pemirsah…
+ Aktingnya oke-oke. Terutama aktingnya Logan Browning
+ Pecinta thriller kayaknya nggak akan kecewa nonton film ini. Suspense dan menegangkannya dapat pas.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Ada beberapa bagian yang nggak masuk akal atau nggak runut ama cerita. Tapi nggak sampai tahap ganggu, sih.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya…

review

Review: Arrival

Category: Movies
Genre: Drama, Sci-fi
Rate: 3 out of 5

Alkisah tiba-tiba Bumi didatangi objek misterius yang tersebar di berbagai belahan negara dari luar angkasa. Diyakini bahwa itu adalah alien. Namun maksud kedatangan mereka tidak jelas. Karena objek tersebut bergeming begitu saja. Akhirnya dipanggillah Louise Banks (Amy Adams) seorang ahli bahasa untuk mecoba berkomunikasi dengan alien tersebut. Rupanya tujuan mereka para alien itu sungguh tidak disangka-sangka.

Yang saya suka dari film ini:
+ Idenya bagus!
+ Twist-nya juga oke.
+ Suka dengan aktingnya Amy Adams sebagai Louise yang nggak ambisius tapi tekun.

Yang saya kurang suka dari film ini:
Jeremy Renner nggak istimewa di film ini
– Alurnya agak membosankan. Sepertinya film ini emang targetnya kelas festival.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya…

blog

Review: Sophie’s Choice

Category: Movies
Genre: Drama
Rate: 4 out of 5

Image result for sophie's choice movie poster

Film ini berlatar setelah perang dunia kedua, dilihat dari kacamata Stingo (Peter MacNicol). Ia adalah seorang pemuda desa yang mencoba peruntungannya untuk menjadi penulis di kota besar New York. Ia ngekost di wilayah Brooklyn. Di situlah ia bertemu dengan Sophie (Meryl Streep) dan kekasihnya Nathan (Kevin Kline). Sophie yang berdarah Polandia adalah salah satu penyintas kamp konsenstrasi Auschwitz, Austria. Sedangkan Nathan adalah seorang ahli biologi di perusahaan Pfizer.
Pasangan kekasih itu sering mengalami pasang surut. Sophie yang begitu menghamba cintanya Nathan, sedangkan Nathan suka curiga nggak jelas karena kecantikan Sophie. Meskipun begitu, mereka menjadi teman baik Stingo. Mereka berbagi banyak kisah dan merayakan banyak hal bersama-sama. Sampailah Stingo tahu sebuah kebenaran tentang Nathan. Hal itu menjelaskan segala insekuritas Nathan terhadap Sophie. Hal itu juga yang membuat Nathan bisa tiba-tiba sangat cemburu nggak jelas dengan Stingo dan mengancam akan membunuhnya. Dalam upaya mereka menghindari Nathan, Sophie kemudian menceritakan Stingo sebuah rahasia terdalamnya yang membuat ia terluka batin sampai sekarang.

Yang saya suka dari film ini:
+ Ini adalah film yang membuat Mertyl Streep mendapatkan piala Oscar pertamanya. EMANG KEREN BANGET SIH AKTINGNYA! Dia jadi cewek Polandia dengan aksen yang meyakinkan. Pada saat adegan yang membuat dia terluka batin pun kita bisa melihat kepedihan tak terperi yang mengerikan dari ekspresi wajahnya. Haduh, na’udzubillah mindzaliq deh saya berada di posisi Sophie saat itu.
+ Kevin Kline waktu muda ganteng, ya!
+ Bagian sedihnya] itu sedih bangeeet T_T. Kesedihannya relate banget dengan saya yang…. (aduh, takut spoiler)
+ Suka banget dengan warna film produksi 1980-an. Warnanya terang, hangat, dan jelas.

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Peter MacNicol kok terasa kurang pas aja di sini, ya? Muka dia itu bukan muka pemain drama. Mukanya kocak sih…
– Meskipun aktingnya Meryl Streep keren parah, tapi dia terlihat kurang cantik untuk jadi cewek yang diperebutkan semua orang. Karakternya dibangun sebagai cewek yang kecantikannya memukau. Padahal mah biasa ae…
Meryl Streep memang bukan pilihan utama sang sutrdara, sih. Pilihan lainnya ada yang lebih kece-kece emang. Tapi konon Meryl sampai berlutut mohon-mohon biar dia dapat perannya. Dan hasilnya memang nggak bohong, sih.

Saya menonton film ini di Netflix. Ini dia trailernya…

review

Review: 22 July

Category: Movies
Genre: Drama, Crime
Rate: 2,5 out of 5

Film yang berdasarkan kisah nyata ini menceritakan kembali penyerangan teroris terburuk di Norwegia yang terjadi pada 22 Juli 2011. Film dibuka dengan memperlihatkan Anders Behring Breivik (Anders Danielsen Lie) yang sedang bersiap di gudangnya yang terpencil. Ia membawa perkakas, drum berisi semacam pasir, dan membawanya naik mobil van ke pusat kota. Rupanya isi drum itu adalah bahan peledak. Ia parkir mobilnya di pelataran kantor perdana menteri, lalu ia ledakkan dari jarak jauh.
Sementara semua orang panik dengan jatuhnya korban bom di sana, Anders berkendara ke pulau Utoya. Di sana sedang ada summer camp untuk anak-anak sekolah dari berbagai etnis di Norwegia. Ia masuk ke pulau itu dengan menyamar sebagai polisi yang ditugaskan untuk mengamankan pulau pasca ledakan bom. Padahal ia datang untuk membunuh semua orang yang ia lihat di pulau tersebut.

Yang saya suka dari film ini:
+ Jalan ceritanya memudahkan kita untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada peristiwa di hari itu. Bagi penyuka film berdasarkan kisah nyata/sejarah akan suka dengan film ini.
+ Akting Jonas Strand Gravli sebagai Viljar Hanssen bagus. Saya berharap dapat melihat aktingnya lagi di film Hollywood atau Inggris lainnya. Muka dia sebenarnya lebih masuk jadi aktor di film-film Inggris, sih.
+ Norwegia itu bagus yaaaaa. Walau banyakan gunung salju dan es khas lokasi syuting Game of Thrones, tapi kayaknya di sana kehidupannya amanda (aman damai). Sayang aja dicoreng sama orang gila semacam Anders itu.
+ Banyak yang mengkritik film ini diperankan sepenuhnya oleh orang Norwegia, namun dialognya full bahasa Inggris. Kalau saya sih suka-suka aja. Fakta bahwa seluruh aktornya berdialog bahasa Inggris dengan logat Norwegia yang masih kental membuat saya makin suka. Jadi masih terasa aslinya. Menurut saya…

Yang saya tidak suka dari film ini:
-Ceritanya agak dipanjang-panjangin untuk hal yang nggak perlu. Mungkin maksudnya untuk membangun dramatisasi, tapi yang ada malah bikin bosan.
-Aktingnya Anders Danielsen Lie sebagai teroris narsistik nggak oke. Sok di-cool-cool-in. Maksud doi mungkin biar keliatan pembunuh berdarah dingin gitu kali, ya. Tapi malah jadi kayak sok cool aja.
-Kurang drama, sih. Jadi drama yang ada kayak nggak penting gitu.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini dia trailernya…

review

Review: Sense & Sensibility

Category: Movies
Genre: Drama
Rate: 4 out of 5

Image result for sense and sensibility movie

Film yang bersetting awal 1800-an ini diawali oleh Mr. Dashwood (Tom Wilkinson) yang tengah sekarat di ranjang kematiannya. Sesuai dengan hukum yang berlaku, ia mewasiatkan seluruh hartanya kepada anak lelaki dari pernikahan pertamanya, John Dashwood (James Fleet). Namun Mr. Dashwood berpesan pada John bahwa ia harus membagi sedikit hartanya kepada ketiga adik perempuan tirinya: Elinor (Emma Thompson) yang dewasa dan tenang, Marianne (Kate Winslet) yang meledak-ledak dan pecinta seni, dan Margaret (Emilie Francois) si bungsu yang suka petualangan. Kalau tidak, mereka akan hidup melarat. Namun niat awal John untuk menafkahi ketiga adik dan ibu tirinya dihalangi oleh istri John, Fanny (Harriet Walter) yang serakah.

Dalam masa transisi sepeninggal ayah mereka, John dan Fanny memutuskan untuk menginap di kediaman keluarga tiri mereka, yang tak lama akan jadi hak milik John. Tidak lupa Fanny mengundang adik lelakinya, Edward Ferrars (Hugh Grant) untuk mampir ke calon rumah baru mereka. Siapa sangka selama menginap di sana membuat Edward tertarik dengan Elinor. Melihat adiknya tertarik untuk menikahi perempuan tanpa harta, Fanny segera meminta keluarga tirinya untuk pindah dari rumah tersebut. Syukurlah mereka mendapatkan tawaran untuk tinggal di sebuah rumah yang tidak terpakai milik sepupu sang ibu di Devonshire. Namun perpisahan itu tidak membuat perasaan Elinor pada Edward pudar. Tetapi kekalutan asmara di antara anak-anak gadis Dashwood tidak usai di situ saja. Di tempat baru itu adiknya, Marianne, didekati oleh Colonel Brandon (Alan Rickman). Padahal Marianne menaruh hatinya pada Mr. Willoughby (Greg Wise) yang asal-usulnya tidak jelas.

Yang saya suka dari film ini:
– Film ini dibuat pada tahun 1995 oleh Ang Lee. Gambarnya baguuuuus. Dengan warna-warna hijau khas pedesaan Inggris
– Akting Emma Thompson udahlah ya nggak usah diragukan lagi. Dia berakting sebagai kakak yang paling dewasa dan harus menjaga kewarasannya demi seluruh keluarga dengan minim ekspresi. Tapi semuanya emosi terbaca dari mata dan wajahnya.
-Kate Winstlet cantik banget di sini. Masih ranum-ranum gimana gitu. Rambut keritingnya juga bagus banget!
– Sekilat kalau diceritain, plotnya itu kayak sinetron. Konfliknya harta, cinta yang terpisahkan oleh harta, nggak dianggap karena harta. Harta! Harta! Harta! Tapi berhasil diceritakan dengan cantik dan elegan di film ini.

Yang saya tidak suka dari film ini:
– Film ini menggunakan dialog khas orang Inggris di zaman itu yang penuh basa-basi. Kalau nggak sabar dan nggak faseh-faseh bahasa Inggris amat, bakal bingung di tengah film.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini dia trailernya…