Review: Unsane (2018)

Film Unsane lumayan bikin saya menebak-nebak mana realita yang sebenarnya.

Alkisah seorang perempuan bernama Sawyer Valentini (Claire Foy) baru pindah ke sebuah kota baru dengan pekerjaan barunya. Sawyer sebenarnya pindah ke kota tersebut karena kabur dari masa lalunya yang bikin trauma. Sawyer tidak ada masalah dengan pekerjaannya, namun ia selalu merasa ‘masa lalu’nya selalu mengejarnya. Ditambah ia juga belum memiliki teman di kota tersebut.
Karena merasa tertekan, akhirnya Sawyer menghadap ke psikiater untuk memulihkan dirinya. Begitu ia keluar dari ruang klinik psikiater, ia ditahan untuk tidak pulang. Ia digiring ke ruang klinik lainnya, lalu ‘dipaksa’ untuk rawat inap selama seminggu di bangsal rumah sakit khusus pasien gangguan jiwa. Apakah benar Sawyer tidak sehat jiwanya? Apakah ‘trauma masa lalu’ Sawyer beneran ada?

Yang saya suka dari film ini:
+ Film ini menggiring saya untuk terus menebak sampai apa yang sebenarnya terjadi pada Sawyer. Apakah ia beneran ‘sakit’ atau ia ‘disakitkan’? Cara ia membangun suspense-nya bagus.
+ Akting Claire Foy apik. Claire Foy namanya melambung saat ia memerankan sang ratu muda di serial The Crown season 1. Sedangkan di film ini ia memerankan Sawyer seorang perempuan Amerika. Ia berhasil membuat kita lupa dengan Claire Foy di serial The Crown. Hilang sudah semua keratuan Inggrisnya. Hilang blaaaas.
+ Gloomy-nya dapat banget. Suasana gloomy ini yang berkontribusi banyak dalam membuat saya menebak-nebak ‘apakah benar Sawyer sakit’?

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Film ini dibuat pakai iPhone ya gaes. Walaupun teknik ini yang membuat film ini mendapat pujian, tapi saya sih kurang menikmatinya kalau dari gambar. Kayak ngaruh ke sound dan terasa statis aja gitu. Warnanya juga kurang cakep jadinya.

Tapi sekarang kita jadi tahu kalau kita semua bisa bikin film hanya dengan iPhone.
Pakai iPhone yang asli yang gaes. Selalu beli dari penjual resmi, ya.

-Meski akting Claire Foy ciamik, tapi beberapa kali dia kayak keserimpet ngeluarin logat Inggrisnya.
-Si antagonisnya klise banget karena susah dikalahin. Udah diberantemin, eh bangun lagi. Udah kabur jauh, eh muncul lagi. Set dah, penjahat apa debt collector lu?

Rate: 3,8 out of 5
Saya nonton film ini di Mola TV

Ini trailernya…

Review: The Swarm (2020)

Penyuka film thriller monster/hewan, pasti suka dengan film The Swarm ini.

Alkisah hiduplah seorang single mom bernama Virgine Hebrard (Suliane Brahim). Ia hidup di perdesaan Perancis dengan dua orang anaknya yang beranjak remaja. Virgine punya peternakan belalang yang menjadi sumber penghasilan utama keluarganya. Belalang ini bisa diolah jadi tepung berprotein tinggi dan juga pakan bebek.
Namun kini usaha Virgine mengalami penurunan. Ia nggak bisa mengejar permintaan pasar karena belalangnya tidak berkembang biak sebanyak yang seharusnya. Di tengah kefrustrasiannya Virgine tanpa sengaja menemukan cara membuat belalangnya bereproduksi lebih banyak dan lebih cepat. Yaitu dengan memberi pakan darah. Dari situlah jiwa haus darah Virgine mulai muncul…

Yang saya suka dari film ini:
+ Membangun konfliknya bagus. Kita jadi paham dengan permasalahan masing-masing tokoh
+ Pemandangan pedesaan Perancis itu bagus ya. Tapi saya memang selalu suka alam pedesaaan Eropa, sih. Jadi kayaknya poin ini terlalu subyektif hahaha
+ Saya selalu suka dengan perfilman Perancis yang nggak mengedepankan perempuan cantik dan seksi untuk jadi tokoh utama yang disukai atau menghalangi si tokoh utama mendapatkan cinta. Sejauh ini penggambaran tokoh perempuan di sinema Perancis selalu beragam dan nggak mematok standar kecantikan tertentu. Hal ini membuat kisah dan penggambarannya jadi terasa nyata.
+ Scoringnya oke lah…
+Banyak pengambilan gambar belalangnya yang bagus banget. Sampai bikin saya mikir, ini belalang beneran nggak ya?

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Kurang serem sih sejujurnya. Mungkin karena saya penyuka horor hantu kali ya. Jadi thriller-thriller semacam ini terasa datar aja aja di ane.
-Ini tuh tipe-tipe film hening minim dialog khas festival sih. Jadi mungkin akan terasa bosan dan lamban.
-Endingnya gitu doang -_-

Film ini saya tonton di Netflix.
Rate: 3 out of 5

Ini trailernya…

#film #reviewfilm #reviewTheSwarm #reviewnetflix #reviewKrili #thriller #TheSwarm #filmPerancis #Krilianeh

Review: Nocturne (2020)

Film Nocturne menjelaskan dengan gamblang kalau terlalu sama itu justru hanya menimbulkan iri dan dengki.

Alkisah hiduplah saudari kembar Juliet (Sydney Sweeney) dan Vivian (Madison Iseman). Keduanya punya bakat musik piano. Mereka sama-sama sekolah di SMK khusus seni. Namun sayangnya jalan hidup mereka mulai berbeda. Vivian yang periang dan sudah punya pacar diterima kuliah di universitas musik ternama Julliard. Sedangkan Juliet ditolak. Tidak peduli seberapa lama Juliet mengurung dirinya untuk berlatih, ia tidak pernah bisa menyamai keterampilan Vivian dalam bermain piano.

Sampailah pada suatu hari Juliet menemukan buku catatan musik milik murid yang beberapa waktu lalu bunuh diri di sekolah tersebut. Makin Juliet mendalami buku catatan itu, secara perlahan tapi pasti hidupnya mulai berubah menjadi Vivian yang selama ini ia irikan. Ternyata buku itu adalah gerbang untuk melakukan perjanjian dengan setan.

Yang saya suka dengan film ini:
+ Akting dan raut muka Sydney Sweeney memang cocok untuk jadi anak iri dan frustasi.
+ Konflik batin dan siblings rivalry yang ditampilkan di film ini relatable banget.
+ Alur ceritanya bagus. Bagian seremnya sedikit, tapi sekalinya muncul terasa serem banget.
+ Film ini nggak perlu nunjukin sosok menyeramkan untuk bisa membuat kita merinding. Setelah nonton film ini, kayaknya saya akan agak-agak takut lihat cahaya oranye selain dari matahari.
+ Tokoh Dr. Cask yang diperankan Ivan Shaw ganteng euy!
+ Posternya bagus!
+ Berhubung ini film tentang anak sekolah musik, jadi banyak lagu klasik enak buat didengar.

Yang saya suka dari film ini:
– Muka Sydney Sweeney dan Madison Iseman nggak mirip woi buat jadi anak kembar.

Rate: 4 out of 5
Film ini saya tonton di Prime Video.

Ini trailernya…

Review: I Care A Lot (2020)

Film I Care A Lot ini ngeselin tapi bagus.

Marla Grayson (Rosamund Pike) adalah pengacara yang jahat. Dia mengincar para lansia berduit, lalu ia buat para lansia itu terlihat lemah di mata negara, sehingga mereka harus dimasukkan dalam panti jompo. Setelah itu Marla mengambil kuasa penuh atas aset sang lansia. Tidak peduli bahwa lansia itu punya sanak famili yang lebih berhak untuk mengelola asetnya, Marla berhasil membuat jaringan sindikat antar pengacara-dokter-panti jompo agar ia dapat menguasai harta si lansia secara legal.

Pada suatu hari Marla mendapat telepon dari dokter gacoannya. Sang dokter memberi Marla seorang pasien baru untuk ‘digarap’. Nama pasiennya adalah Jennifer Peterson (Dianne Wiest) seorang nenek-nenek perawan tua. Jennifer baru saja mendapat tunjangan besar karena mengambil pensiun dini. Kini sang dokter mengatakan kalau Jennifer mulai pelupa. Marla pun langsung beraksi cepat. Ia bawa bukti-bukti medis yang sudah dimodifikasi oleh sang dokter ke pengadilan, lalu ia pun sah menjadi ahli kuasa sekaligus pewaris untuk Jennifer. Ia datang ke rumah Jennifer dan langsung menyeretnya ke panti jompo rekanannya. Selesai.

Namun ternyata Jennifer bukanlah nenek-nenek sembarangan. Di luar sana ada sindikat mafia yang mencari keberadaan Jennifer sampai rela membunuh antek-antek Marla. Siapa sebenarnya nenek-nenek bernama Jennifer ini?

Yang saya suka dari film ini:
+ Ceritanya bagus dan menarik! Dari awal aja kita udah disuguhi oleh sosok orang jahat dan tamak bernama Marla. Kita digiring untuk membenci Marla tapi juga nggak berpihak sama si mafia. Endingnya pun ngeselin tapi cukup memuaskan lah.
+ Aktingnya Rosamund Pike berhasil membuat saya sebal dan muak dengan sosok Marla.
+ Baju dan gayanya Marla ciamik banget!!!!!

Saya nemu coat kuning mirip yang dipakai Marla di sini

+ Suka banget dengan unsur feminisme yang kental di film ini. Meski sosok Marla menyebalkan, tapi dia adalah perempuan kuat yang nggak takut apapun.
+ Apresiasi khusus untuk aktingnya Nicholas Logan sebagai anak buah mafia yang kebingungan. Mukanya ekspresif banget. Semua rasa takut dan cemas terbaca dari raut wajahnya doang.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Meski aktingnya Rosamund Pike bagus, tapi saya nggak menemukan perbedaan aktingnya dengan film Gone Girl. Datar-datar mukanya sama. Ego tingginya sama.
– Aktingnya Peter Dinklage yang seharusnya jadi sosok yang menyeramkan dan dihormati tapi di film ini tokohnya malah kayak komedi. Kayak, ‘ini lo maksudnya serius atau becanda sih?’.

Rate: 4,5 out of 5
Film ini saya tonton di Netflix

Ini trailernya…

Review: Sabrina (1995)

Saya merasa kalau film komedi romantis zaman dulu lebih bagus dari yang buatan era 2000-an.

Alkisah hiduplah keluarga Larrabee yang super tajir. Jauh sebelum Syahrini pamer kekayaan dan akhirnya nikah ama horangkayah beneran Reini Barack, keluarga Larrabee udah kaya nggak ketulungan. Keluarga ini punya dua orang putera, si sulung Linus (Harrison Ford) yang serius penerus bisnis keluarga dan David (Greg Kinnear) yang tampan yang hobi foya-foya.
Di atas garasi mobil keluarga LarraBee yang besar, tinggal lah seorang supir dengan puterinya bernama Sabrina (Julia Ormond). Sabrina memendam rasa pada David. Ia sering mengintip gerak-gerik David dari kejauhan. Sadar bahwa perasaan puterinya tidak akan terbalas oleh sang Tuan Muda, ayah Sabrina mengirimnya ke Paris, Perancis agar ia mencoba menjalani hidup yang baru.
Paris mengubah banyak diri Sabrina. Ia kini jadi gadis yang penuh percaya diri dan cantik memesona. Maka sepulangnya Sabrina dari Paris, wajar saja David jadi jatuh cinta. Padahal David sudah keburu tunangan dengan seorang dokter dari keluarga kaya. Jika pertunangan mereka dibatalkan, alamat merger bisnis senilai jutaan dolar antar dua keluarga itu ikut lenyap juga. Di sini lah Linus memutuskan untuk turun tangan. Linus telah memperhitungkan semuanya untuk menyelamatkan aset keluarga, namun ia tidak memperhitungkan kalau ia juga akan jatuh cinta pada Sabrina.

Yang saya suka dari film ini:
+ Kangen deh nonton film komedi romantis yang sebagus ini. Komedi romantis produksi era 90-an itu bagus-baguuuuus ceritanya. Nggak melulu tentang seks, melainkan memang tentang jatuh cinta.
+ Film ini remake dari film Sabrina 1954 yang diperankan oleh Audrey Hepburn. Saya belum nonton yang versi aslinya, tapi saya yakin lebih bagus versi yang 1995 ini. Karena film-film era Audrey Hepburn biasanya dialognya kaku.
+ Gambarnya baguuuuuuuus!
+ Keluarga Larrabee ini emang tajirnya ampun-ampunan, deh. Masa rumahnya Sabrina di atas garasi aja itu gede dan cakep banget kayak villa 0_o
+ Kulit putihnya Julia Ormond itu cantik banget. Putih porselen gitu. Atau bahasa Indonesianya putih pualam.
+ Gaunnya Sabrina pas dansa sama David itu juga baguuus banget deeeeh.
+ Komedinya tentang ‘terlalu tajir’ di film ini menghibur.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Harrison Ford kayak sengaja dibuat nggak cakep di film ini. Dan saya baru nyadar kalau hidungnya Harrison Ford itu miring.
– Julia Ormond meski cantik banget, tapi aktingnya biasa aja -_-
– Adegan ciumannya jelek. Nggak kayak orang jatuh cinta.

Rate: 5 out 5
Film ini saya tonton di Netflix. Di Prime Video kayaknya juga ada sih. Buat yang mau koleksi DVDnya, beli aja di sini.

Ini trailernya…


Review: The Invention of Lying (2009)

Ide cerita The Invention of Lying ini bagus banget.

Film ini mengisahkan tentang sebuah dunia yang tidak mengenal konsep berbohong. Semua orang berbicara jujur apa adanya. Dunia yang mereka tinggali sangat minim drama karena semua orang terbiasa menelan pil pahit kejujuran. Mereka juga tidak mengenal konsep fiksi/karangan yang merupakan turunan dari konsep berbohong. Sehingga semua film mereka harus berdasarkan sejarah.
Maka di dunia yang serba jujur ini, Mark Bellison (Ricky Gervais) harus menjalani hidup dengan getir. Karena ia bukanlah pria berwajah menarik dan tubuhnya tidak atletis. Perempuan yang ia ajak kencan, terang-terangan bilang kalau dia bukan pria yang menarik dan tidak ingin lagi berkencan dengannya. Sebagai pelengkap kesedihannya, Mark juga kena pecat dari pekerjaannya sebagai penulis naskah film karena dianggap tidak perform.
Di saat Mark terpuruk, ia tanpa sengaja menciptakan kebohongan untuk pertama kalinya di dunia. Bagaimana dunianya menerima kebohongannya?

Yang saya suka dari film ini:ss
+ Ide cerita film ini keren dan orisinil.
+ Penulisan naskahnya bagus. Ricky Gervais yang ikut nulis naskah ini membuktikan kalau dia bukan hanya sekedar komedian. Namun juga seorang penulis yang cerdas.
+ Aktingnya Ricky Gervais di film ini juga beda. Dia berhasil tampil sebagai tokoh loser yang patut dikasihani. Nggak ada satupun komentar atau senyuman ngenyek colongan yang selama ini jadi ciri khasnya.
+ Banyak pemeran pembantu yang keren-keren. Ada Tina Fey, Louis C.K., dan Jonah Hill.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Aktingnya Jennifer Garner terkesan kayak cewek sok polos yang dibuat-buat.
Rob Lowe kok aktingnya template kayak Chris Traeger di serial Park & Recreations?
– Ada beberapa tokoh yang kemunculannya nggak perlu sih. Saya jadi dapat kesan kalau film ini tuh ‘proyek ajak teman’-nya Ricky Gervais. Jadi begitu dia bikin film, semua temannya diajak main. Bantu teman gitu, biar karirnya ikut kedogkrak. Kayak Ernest Prakasa gitu lah.

Rate: 4 out of 5
Film ini saya tonton di Netflix.

Ini trailernya…

Review: The Call (2020)

Penyuka film butterfly effect pasti suka banget sama film The Call ini.

Film ini dibuka dengan Seo Yeon (Park Shin Hye) yang pulang ke rumah masa kecilnya di pedesaan. Ia pulang dengan enggan, tapi terpaksa karena ibunya sakit keras dan sedang dirawat di rumah sakit.
Diperjalanan pulang, handphone-nya Seo Yeon ketinggalan di kereta. Saat ia berusaha melacak keberadaan handphone-nya pakai telepon rumah, ia malah menerima telepon dari seorang perempuan yang meminta pertolongannya karena disiksa ibunya. Ternyata perempuan itu adalah Young Sook (Jong Seo Jun). Young Sook adalah penghuni rumahnya pada tahun 1999. Young Sook menelpon dari tahun 1999 dan diangkat oleh Seo Yeon di tahun 2018. Rupanya melalui telepon rumah itu, Seo Yeon dan Young Sook dapat berkomunikasi lintas waktu ke sesama penghuni rumah tersebut meski di zaman waktu yang berbeda.
Seo Yeon dan Young Sook akhirnya menjadi teman telepon lintas zaman. Mengetahui ayah Seo Yeon meninggal dunia karena kebakaran waktu Seo Yeon kecil, Young Sook berinisiatif untuk mengubah hal itu. Young Sook di masa lalu mencoba menyelinap dari kungkungan ibu tirinya dan berusaha mencegah kebakaran yang menelan jiwa ayah Seo Yeon pada tahun 1999.
Usaha Young Sook berhasil! Kini giliran Seo Yeon untuk membantu mengubah nasib Young Sook. Namun ketika Seo Yeon berhasil menyelamatkan nasib Young Sook, kenapa hidup Seo Yeon di masa kini malah memburuk? Apakah mengubah masa lalu adalah langkah yang tepat?

Yang saya suka dari film ini:
+ Cerita dan alur film ini bagus! Sangat mudah dipahami.
+ Aktingnya Jong Seo Jun ciamik!
+ Set dan lokasinya kereeeen! Ini orang propertinya canggih sih bisa ngubah satu rumah jadi beberapa zaman dan kondisi.
+ Alurnya lumayan nggak ketebak.
+ Banyak karakter pemeran pembantu yang dieksplor secara maksimal.
+ Efek CGI perpindahan zamannya bagus! Halus dan rapi.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Banyak adegan berantem kabur dari orang jahat yang klise. Serasa pengen komen ‘Yaelah, masih aja lu begitu…’
– Akting Park Shin Hye template cewek cantik di film horor/thriller. Tiap ketakutan atau panik terlihat cantik dan kayaknya nggak pengen kelihatan jelek.
– Kostum dan make up untuk era akhir 90-an kurang pas. Malah kayak nggak ada bedanya sama zaman sekarang.
– Itu rambutnya Young Sook ganggu parah. Makanya mukanya pada jerawatan kan jadinya. Hadeeeeuh. Gatel banget pengen balurin Mud Mask Jafra ke muka doi. Kalau butuh Jafra, kontak saya, ya!
– Di Netflix film ini dikategorikan sebagai ‘scary’. Tapi menurut saya nggak scary ah. Menagangkan sih iya. Tapi nggak menakutkan.
– Film ini banyak adegan kekerasan yang sadis, ya. Jadi jangan ditonton sama anak di bawah 15 tahun, ya.

Rate: 4 out of 5
Film ini saya tonton di Netflix

Ini trailernya…

Review: Three Identical Strangers (2018)

Kalau aja ini bukan film dokumenter, kita semua PASTI akan mengira kalau kisah Three Identical Strangers ini adalah bohong.

Film ini dibuka dengan Robert ‘Bobby’ Shafran yang sudah berumur 56 tahun menceritakan hari pertamanya masuk kuliah di tahun 1980. Di hari itu, tanpa ia sangka-sangka, semua menyambut dia dengan hangat seolah-olah ia adalah teman lama yang sudah pernah kuliah di situ. Dan semua memanggilnya dengan sebutan ‘Eddy’. Siapa sih ‘Eddy’ ini?

Sampailah salah satu mahasiswa di sana yang kenal baik dengan Eddy sadar bahwa Bobby ini adalah kembarannya Eddy. Bobby dan Eddy adalah sama-sama anak angkat yang ternyata kembar.
Singkat cerita Bobby dan Eddy akhirnya berjumpa. Pertemuan mereka jadi berita sensasional sebagai anak kembar yang berjumpa lagi sejak terpisah saat lahir. Begitu tampang Eddy dan Bobby masuk koran, teman-teman David Kellman langsung bisa melihat kalau Eddy dan Bobby itu mirip banget dengan David Kellman. Mereka yakin kalau David adalah kembaran Eddy dan Bobby juga. Benar saja, Eddy, Bobby, dan David adalah kembar tiga (triplet) yang terpisah sejak bayi!

Sejak itu triplet Eddy, Bobby, dan David jadi berita sensasional di mana-mana. Bukan hanya kaena kisah pertemuan mereka yang tidak biasa, namun juga karena mereka membawa fakta yang sangat unik. Yaitu meski telah terpisah sejak lahir dan besar di keluarga yang berbeda-beda, mereka ternyata tetap punya kesamaan bawaan seperti gerak tubuh dan selera yang sama. Mereka bertiga bahkan punya kakak perempuan yang umurnya sama.

Triplet ini jadi viral. Mereka diundang di berbagai media. Mereka samapi diundang main film sama Madonna secara pribadi. Mereka juga bikin bisnis bareng dan sukses. Mereka adalah kembar tiga yang fenomenal.

Namun pertemuan mereka ini menimbulkan tanya di diri mereka dan keluarganya. Kenapa selama ini mereka dan keluarga angkatnya tidak pernah diberitahu kalau mereka sebenarnya anak kembar tiga? Kenapa mereka dipisahkan? Saat mereka mencari tahu fakta asal-usul mereka, terkuaklah fakta yang sangat tidak disangka-sangka…

Yang saya suka dari film ini:
+ Fakta yang terkuak benar-benar tidak disangka-sangka. Kadang terlalu kebetulan itu ternyata bukan kebetulan sama sekali, sodara-sodara…
+ Pola bertuturnya sangat baik. Kita jadi bisa mengenal kehidupan ketiga keluarga dengan sangat mudah. Bahkan beberapa tokoh bisa terasa sangat dekat degan kita.
+ Film ini membuat saya paham betul kalau beberapa sifat manusia itu memang bawaan dari lahir. Namun sikap manusia bisa bisa diajarkan dan dipengaruhi oleh lingkungan. Hal ini dapat terlihat dari David Kellman yang ceria dan full of love.
+ Ternyata ikatan batin anak kembar itu beneran nyata ya gaes…
+ Senang banget dokumentasi nyata di film ini ada banyak. Jadi gambarnya beragam. Nggak melulu satu foto di-zoom dan ditayangin berulang-ulang.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Nggak ada sih. Ini dokumenter yang bagus tentang hal yang ‘too good to be true’.

Rate: 4,5 out of 5
Film ini saya tonton di Netflix.

Ini trailernya…

Review: His House (2020)

Film-film horor semacam His House ini terasa lebih real karena pemerannya bukan orang kulit putih.

Film ini mengisahkan tentang sepasang suami-istri asal Sudan yang melarikan diri dari perang di negara asalnya. Di perjalanan melarikan diri, putri mereka tewas. namun semua kesulitan mereka kini telah berlalu. Soalnya mereka mendapat rumah pengungsian dari pemerintah Inggris.
Rumah baru mereka cukup besar, tapi tidak terurus. Sang suami, Bol (Sope Dirisu), bertekad mau memperbaiki rumah tersebut. Namun ada kejadian-kejadian aneh di rumah itu. Terutama keanehan di balik dinding rumah mereka.
Awalnya Bol pikir kalau semua itu hanya khayalan lantaran duka mendalam karena kehilangan anaknya. Namun begitu istrinya, Rial (Wunmi Mosaku), ikut melihat dan mendengar hal-hal aneh di balik dinding rumah itu, Bol merasa ini bukan hal main-main…

Yang saya suka dari film ini:
+ Suka banget dengan latar belakang penokohan yang tidak biasa, yakni orang hitam dari negara asing. Biasanya kan film horor itu kalau nggak orang putih atau orang Asia sekalian. Dengan penokohan yang nggak biasa ini, justru bisa membangun aura seram yang lebih menggigit. Bahwa orang biasa kayak kita bisa diteror hantu. Bahwa mau pindah negara pun kalau hantunya mau ngejar, ya terima nasib aja. Bodo amat hantunya punya visa atau bisa bahasa Inggris atau nggak. Kalau hantunya mau ngejar elu, ya akan dikejar sampai dapat.
+ Suka dengan akting Sope Dirisu yang nggak banyak omong, tapi bisa menjelaskan emosinya lewat ekspresi doang.
+ Suka juga dengan Wunmi Mosaku. Matanya doi bagus banget, deh.
+ Meski ini film horor tentang rumahnya, tapi cerita perjuangan Bol dan Rial untuk adaptasi sama lingkungan di negara barunya ini juga digambarkan dengan pas. Sehingga hal itu justru menambah keputusasaan dan kesendirian Bol dalam menghadapi keanehan di rumahnya.
+ Set dan lokasinya bagus! Berantakan depresif gitu.
+ Hantu dan twist-nya nggak biasa. Mungkin karena saya nggak tahu banyak tentang budaya dan kepercayaan orang Afrika-Sudan kali, ya. Sehingga teror hantu di film ini jadi menambah pengetahuan budaya saya.
+ Endingnya bagus dan ngena banget untuk isu tentang para pengungsi.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Hantunya awal-awal serem. Tapi kok bisa dikalahin dengan cara begitu, ya? Katanya hantu, tapi kok bisa digituin? Hantu macam apa you!

Rate: 3,5 out of 5.
Saya nonton film ini di Netflix.

Ini trailernya…



Review: Rebuilding Paradise (2020)

Rebuilding Paradise memberikan gambaran jelas bagaimana sedihnya kehilangan rumah dan kotamu akibat ulah manusia.

(Foto: National Geographic)

Pada 8 November 2018, ada kebakaran di hutan dekat kota Paradise, California, Amerika Serikat. Para pemadam kebakaran langsung turun tangan untuk memadamkan api. Namun mereka tidak bisa mengalahkan kekuatan angin yang membuat api menyebar cepat. Lama-lama api mulai menjalar ke pemukiman warga Paradise. Para pemadam kebakaran benar-benar tidak kuasa menahan kekuatan api, hingga akhirnya seluruh kota Paradise habis terbakar. Langit di kota Paradise merah membara karena api. Siang hari di kota Paradise seperti malam hari karena asap tebal menutupi cahaya matahari. Tidak ada lagi rumah warga, tidak ada lagi pusat kota, semua habis tinggal rangka dan abu.

Paradise, CA – Piles of debris from burned buildings close to an antique mall in Paradise, CA. (Credit: National Geographic)


Akhirnya diketahui bahwa penyebab utama kebakaran ini adalah kelalaian perusahaan listrik yang tidak memelihara tiang-tiang listrik mereka yang terpasang di hutan. Percikan listrik dari tiang-tiang itu memercikkan api yang menyebabkan kebakaran hutan.
Belakangan diketahui pula bahwa akibat kebakaran itu, air di kota Paradise kini tercemar sampai-sampai bukan hanya tidak bisa digunakan untuk minum, dipakai untuk mandi saja lambat laun bisa menyebabkan kanker.

Carly Ingersoll seorang psikolog sekolah. Ia sedang berusaha mempunyai keturunan. Namun dokter melarang dia untuk hamil karena ia menolak pindah dari Paradise pasca bencana. Ia juga sudah pernah mandi pakai air kota Paradise yang tercemar. Dokter takut kandungan kimia yang sudah masuk melalui kulitnya akan berbahaya untuk janin. (National Geographic/Sarah Soquel Morhaim)

Meski sudah diberikan rumah pengungsian, namun masih banyak warga Paradise yang menolak hengkang dari kota yang sudah hancur-lebur itu. Karena warga Paradise sangat mencintai kotanya.

Sang sutradara, Ron Howard, mengikuti perjalanan hidup dan usaha beberapa warga kota Paradise untuk bisa bangkit kembali. Ada dari sudut pandang polisi, petinggi sekolah, psikolog sekolah, mantan walikota, dan beberapa warga biasa. Ron mengkuti kisah hidup mereka berharap dapat melihat perubahan ke arah yang lebih baik.

Yang saya suka dari film ini:
+Film dokumenter ini sama sekali nggak pakai narator, tapi kita bisa paham dan ikut merasakan kesedihan para korbannya.
+Film ini mengambil segala pihak yang terlibat di kota tersebut. Bukan hanya warganya, tapi juga anggota dewan kotanya, pihak perusahaan listriknya, sampai kaum lansia yang mengerti sejarah kota tersebut.

Michelle John salah satu petinggi sekolah di Paradise. Pasca bencana ia harus mutar otak agar para muridnya tidak ketinggalan pelajaran. Ia juga tetap merayakan wisuda para murid kelas 12 di lapangan, meski ia harus membabat pohon di sekitar sekolah yang berpotensi menyebarkan abus racun di udara. (Credit: National Geographic)


+Banyak video kebakaran yang terekam. Dari situ kita bisa melihat bagaimana sebuah kota berubah jadi api neraka. Sampai aspal jalan aja kebakar. Sen cing ping!

Salah satu rumah yang terbakar di Paradise Nov. 8, 2018. (Photo by Noah Berger)


+Sepertinya Paradise ini beneran kota yang bagus dengan warga yang baik. Makanya sepanjang film ini kita akan melihat bagaimana warganya cinta banget sama kota Paradise.
+Ada pengakuan anak yang bapaknya yang udah lansia meninggal pas kebakaran itu. Sediiiiiiiih banget ngebayanginnya T_T
+Warna dan gambar film ini baguuus! Emang beda dah kalau yang sutradarain itu pemain lama di Hollywood.
+Ron Howard matanya jeli banget menggambarkan ironi kebahagiaan kecil dari warga dari kota yang hancur.

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Maaf ya, bukan maksudnya meremehkan permasalahan orang di Paradise, tapi mungkin karena saya tinggalnya di Indonesia yang rentan bencana alam kali, ya. Jadi begitu lihat rumah pengungsiannya bagus-bagus dan layak huni ada juga yang hidup sementara di mobil trailer, perasaan saya kayak ‘hmmm kalo elo-elo pada tinggal di negara gue, kalian udah nangis darah kali yak…’

Arabella Young, salah satu anak yang mengungsi di mobil trailer bersama keluarganya. (Credit: National Geographic)


-Film ini banyak tokohnya, tapi diceritakan cuma seceplok-seceplok. Akhirnya beberapa tokoh diceritakannya nggak tuntas.

Film ini bisa ditonton di channel National Geographic hari Sabtu, 14 November 2020 pukul 21:00
Rate: 4 out of 5

Ini trailernya…