review

Review: The Night Before

Category: Movie
Genre: Comedy, Adventure
Rate: 3,5 out of 5

Image result for the night before movie poster

Film ini menceritakan tentang tiga sekawan yang terobsesi ingin ke pesta tahunan sebelum malam Natal yang bernama Nutcracker Ball. Bertahun-tahun mereka berusaha mendapatkan tiket untuk ke pesta rahasia itu, namun tak kunjung berhasil. Sampailah Ethan (Joseph Gordon-Levitt) mereka berhasil mendapatkan tiket menuju pesta tersebut. Ia kemudian tentunya mengajak kedua sahabatnya, tak lain Chris (Anthony Mackie) yang kini adalah seorang atlet rugby terkenal dan Isaac (Seth Rogen) yang telah menjadi seorang pengacara dan sedang menunggu kelahiran anak pertamanya.
Berhubung ini adalah sebuah pesta rahasia, maka mereka harus menunggu petunjuk mengenai lokasi pesta sesuai arahan yang akan diberitahu pada tengah malam nantinya. Sementara menunggu jam itu, mereka pun mencoba mengisi waktu yang malah menjadi sebuah petualangan lucu dan menguji persahabatan mereka.

Yang saya suka dari film ini:
+ Yah… Lucu lah.
+ Chemistry antara Joseph Gordon-Levitt, Seth Rogen, dan Anthony Mackie ini pas. Mereka memang terlihat sebagai tiga sekawan yang saling mengisi.
+ Anthony Mackie cekp ya. Bulu matanya panjang dan lentik gitu.
+ Ada James Franco jadi cameo. Yeaaaay! Entah kenapa saya selalu suka kalau ngeliat James Franco dan Seth Rogen dalam satu frame.
+ Feel good movie lah…

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Agak sok-sok film Hangover gitu. Jadi nggak merasa ada yang baru dari film ini.
– Meskipun aku tuh cinta ama Seth Rogen, tapi lama-lama akting Seth Rogen kok gitu-gitu aja ya? Sampeyan itu akting atau emang sehari-harinya udah begitu aja, sih?
– Film ini kok terasa kayak proyek teman, ya? Yang muncul tuh kayaknya aktor di lingkaran Jonathan Levine sang sutradara aja gitu.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya…

Iklan
review

Review: Dua Garis Biru

Category: Movies
Genre: Drama
Rate: 4 out of 5

Image result for dua garis biru poster

Film dibuka di ruang kelas. Dara (Zara JKT48) dan Bima (Angga Yunanda) duduk sebangku. Dara adalah anak pintar yang nilai ujiannya sempurna. Sedangkan Bima nilainya di bawah rata-rata. Namun mereka akrab. Bisa dikatakan mereka lebih dari sekadar teman akrab.
Pada suatu hari, rumah Dara sedang kosong. Papa-Mama Dara sedang kerja, adik Dara belum pulang sekolah. Dara mengajak Bima main ke rumahnya. Lalu terjadilah perbuatan terlarang di antara mereka.
Setelah kejadian itu, tidak ada yang berubah di antara mereka. Sampailah Dara menyadari kalau ia tak kunjung datang bulan. Awalnya mereka mencoba aborsi, namun last minute Dara membatalkan niat tersebut. Mereka akhirnya sepakat untuk merahasiakan hal ini, terutama dari teman-teman sekolahnya. Namun karena sebuah kejadian, seluruh guru dan teman sekolahnya tahu kondisi Dara yang berbadan dua. Orang tua Bima dan Dara dipanggil ke sekolah. Kini mereka tak bisa menghindari lagi akibat perbuatan mereka.

Yang saya suka dari film ini:
+ Ini cerita dan penulisan naskahnya bagus banget, sih. Memang kalau naskahnya yang nulis Gina S. Noer bisa dibilang jaminan ceritanya bagus. O iya, film ini juga disutradari oleh Gina, lho.
+ Suka banget dengan seluruh akting pemainnya! Semuanya bisa menggambarkan ‘luka’ akibat perbuatan dari Dara & Bima.
+ Meskipun semua aktingnya bagus, tapi saya mau highlight dua akting yang mengena di hati saya. Yaitu akting Cut Mini sebagai ibunya Bima. Di balik muka sok tegar dan pembela anak, namun kita bisa ikut merasakan rasa malu serta kecewanya akibat perbuatan Bima.
Yang kedua adalah aktingnya Lulu Tobing. Entah kenapa setiap Lulu Tobing nangis karena menghadapi Dara, saya ikutan nangis. Padahal dulu waktu saya masih SMP, tiap Jumat saya nonton sinetron Tersanjung yang dibintangi Lulu Tobing dan dia nangis-nangis juga tiap episodenya, tapi kok saya ngeliatnya biasa aja?
Sekarang mungkin karena saya punya anak perempuan, jadi semua emosi dan kata-kata yang dilontarkan oleh Lulu Tobing ke Dara itu sesuai banget dengan apa yang ada di pikiran saya.
+ TAPI YA GAES, KOK LULU TOBING CAKEPNYA AWET SIIIH? Rambutnya masih hitam tebel, keriput mukanya minim, terus nangis aja tetep cantik. Kok bisa gitu ya? Coba kalau saya yang nangis terus direkam, yang ada saya viral di akun Instagram Awreceh dengan caption yang menyaqitqan hati namun terlalu sayang untuk tidak ditertawakan.
+ Saya suka sekali dengan adegan Rachel Amanda sebagai kakak Bima ‘menghajar’ adiknya. Dia satu-satunya tokoh yang berani mengungkapkan kemarahannya secara gamblang.
+ Suka dengan set dan lokasinya. Pas aja gitu semuanya dan menghidupkan cerita juga.
+ Menurut saya film ini dialognya nggak ada yang quotable, karena semuanya itu pada dasarnya percakapn sehari-hari. Namun banyak dialognya itu bikin mikir. Terutama saya sebagai orang yang udah punya anak. Lagi-lagi, salut dengan penulisan Gina S. Noer.
+ Pesan moral yang saya tangkap dari film ini adalah, anak harus dijak ngobrol terus dengan orang tuanya.

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Saya kok risih ya ngeliat poninya Bima. Rasanya pengen diawasin sama tangan gitu.
-Saya merasa pemindahan adegannya terlalu kasar. Mungkin itu hasil pisau Lembaga Sensor Film kali ya?
-Bajunya Cut Mini kurang emak-emak, menurut saya.

Ini trailernya….

review

Review: Revenge

Category: Movies
Genre: Thriller, Gore
Rate: 3,5 out 5

Image result for revenge movie 2018

Film ini mengisahkan tentang cewek simpanan bernama Jen (Matilda Anna Ingrid Lutz). Ia diajak gadunnya ke sebuah villa mewah namun terpencil di sebuah gurun. Rupanya Jen tidak sendirian sama gadunnya doang. Sang gadun, Richard (Kevin Jenssens), juga mengajak dua temannya.
Acara kumpul-kumpul bareng yang tadinya menyenangkan berubah begitu Richard pergi sebentar dari villa tersebut. Jen diperkosa oleh salah satu temannya Richard. Begitu Richard kembali, Jen langsung minta untuk pulang. Jen sampai mengancam akan mengadukan hubungan mereka ke istri Richard jika ia tidak dipulangkan saat itu juga. Hal itu memicu emosi Richard. Richard kemudian mendorong Jen ke jurang dan meninggalkan ia untuk mati di gurun. Yang Richard dan teman-temannya tidak tahu adalah Jen tidak mati di sana.

Yang saya suka dari film ini:
+ Konsistensi make up dan set serta lokasinya juara!
+ Aktingnya oke-oke, walaupun saya belum pernah melihat mereka sebelumnya.
+ Darahnya buanyaaaaaak. Blood! Blood! Blood everywhere!
+ Warna darahnya juga bagus kayak asli
+ Alurnya realistis

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Cara survive Jen nggak masuk akal. Nggak pakai makan dan minum gitu?
– Meskipun alurnya realistis, tapi ada beberapa hal yang nggak masuk logika. Contohnya, setelah terluka kayak gitu, emang darahnya nggak abis apa? Lemes pun nggak? Yang boneng lu!

Film ini tidak saya sarankan untuk ditonton oleh anak dibawah 17 tahun, ya.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya…

review

Review: The Perfection

Category: Movies
Genre: Thriller
Rate: 4 out of 5

Image result for the perfection

Film dibuka dengan meninggalnya ibunda Charlotte (Allison Williams) yang telah lama sakit. Dulunya Charlotte adalah pemain cello sangat berbakat. Sayangnya ia harus mengentikan studi cellonya demi merawat ibunya yang sakit. Nah, sepeninggal ibunya, Charlotte menghubungi kembali guru cellonya, Anton (Steven Weber). Anton kemudian mengundang ia ke China menghadiri konser cello Lizzie (Logan Browning) yang juga anak didik Anton.
Seusai konser Charlotte banyak berbincang dengan Lizzie. Mereka kemudian jadi sangat akrab dalam semalam. Keesokan harinya Lizzie mengajak Charlotte untuk ikut dalam liburannya keliling China. Sayangnya semua tidak berjalan dengan semestinya….

Yang saya suka dengan film ini:
+ Ini film alurnya nggak ketebak. Banyak banget twist-nya. Sinopsis yang saya tulis di atas pun bisa jadi menyesatkan karena ceritanya nggak gitu doang pemirsah…
+ Aktingnya oke-oke. Terutama aktingnya Logan Browning
+ Pecinta thriller kayaknya nggak akan kecewa nonton film ini. Suspense dan menegangkannya dapat pas.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Ada beberapa bagian yang nggak masuk akal atau nggak runut ama cerita. Tapi nggak sampai tahap ganggu, sih.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya…

review

Review: Arrival

Category: Movies
Genre: Drama, Sci-fi
Rate: 3 out of 5

Alkisah tiba-tiba Bumi didatangi objek misterius yang tersebar di berbagai belahan negara dari luar angkasa. Diyakini bahwa itu adalah alien. Namun maksud kedatangan mereka tidak jelas. Karena objek tersebut bergeming begitu saja. Akhirnya dipanggillah Louise Banks (Amy Adams) seorang ahli bahasa untuk mecoba berkomunikasi dengan alien tersebut. Rupanya tujuan mereka para alien itu sungguh tidak disangka-sangka.

Yang saya suka dari film ini:
+ Idenya bagus!
+ Twist-nya juga oke.
+ Suka dengan aktingnya Amy Adams sebagai Louise yang nggak ambisius tapi tekun.

Yang saya kurang suka dari film ini:
Jeremy Renner nggak istimewa di film ini
– Alurnya agak membosankan. Sepertinya film ini emang targetnya kelas festival.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya…

blog

Review: How Do You Know

Category: Movies
Genre: Romantic, Comedy
Rate: 4 out of 5

Image result for how do you know poster

Selayaknya film romantic comedy lainnya, film ini mengisahkan tentang dua orang manusia. Lisa (Reese Witherspoon) dan George (Paul Rudd). Lisa adalah mantan atlet timnas softball. Ia baru saja dirumahkan karena ia dianggap sudah terlalu tua untuk ukuran atltet. Sedangkan George adalah seorang pengusaha yang mewarisi perusahaan bapaknya. Namun ia baru saja dituntut karena penipuan saham yang tidak pernah ia lakukan.
Singkat cerita keduanya bertemu dengan keruwetan pemikiran masing-masing. Situasi dibuat tambah ngejelimet pas Lisa diajak untuk tinggal bersama dengan pacarnya yang seorang atlet timnas baseball. Padahal George suka banget dengan Lisa, namun dia lagi menunggu untuk kasusnya mereda sebelum ia berani mengajak Lisa kencan secara serius.

Yang saya suka dari film ini:
+ Kalau melihat rating IMDB, film ini skornya nggak bagus-bagus amat. Tapi saya suka banget dengan film ini. Soalnya jalan ceritanya realistis banget. Terutama tentang cewek yang galau, berusaha nyari teman, berusaha membuat apa yang ada di depan mata berhasil tanpa harus kehilangan jati dirinya.
+ Dari dulu saya nggak pernah melihat Reese Witherspoon itu cantik. Tapi di film ini ia memerankan perempuan cerdas dengan karakter kuat membuat ia terlihat memesona dan pantas diperebutkan. Jadi cewek memang harus kayak gitu!
+ Suka dengan karakter sweet-o’on-playboynya Matty (Owen Wilson) yang jadi pacarnya Lisa. Dialog akhirnya dia pun jadi mengena di hati mengingat karakternya kayak begitu.
+ Paul Rudd aktingnya oke untuk jadi cowok yang pikirannya mumet sekaligus sedang jatuh cinta. Semuanya bisa terbaca jelas dari mimik wajahnya.
+ Banyak dialog tentang kehidupan dan cinta yang oke banget!

Yang saya nggak suka dari film ini:
-Banyak adegan yang berusaha lucu, tapi nggak kena. Mungkin itulah kenapa ratingnya di IMDB nggak oke.
-Peran Jack Nicholson so-so. Nggak perlu seorang Jack Nicholson untuk peran itu juga nggak apa-apa sih sebenarnya.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya…


blog

Review: Sophie’s Choice

Category: Movies
Genre: Drama
Rate: 4 out of 5

Image result for sophie's choice movie poster

Film ini berlatar setelah perang dunia kedua, dilihat dari kacamata Stingo (Peter MacNicol). Ia adalah seorang pemuda desa yang mencoba peruntungannya untuk menjadi penulis di kota besar New York. Ia ngekost di wilayah Brooklyn. Di situlah ia bertemu dengan Sophie (Meryl Streep) dan kekasihnya Nathan (Kevin Kline). Sophie yang berdarah Polandia adalah salah satu penyintas kamp konsenstrasi Auschwitz, Austria. Sedangkan Nathan adalah seorang ahli biologi di perusahaan Pfizer.
Pasangan kekasih itu sering mengalami pasang surut. Sophie yang begitu menghamba cintanya Nathan, sedangkan Nathan suka curiga nggak jelas karena kecantikan Sophie. Meskipun begitu, mereka menjadi teman baik Stingo. Mereka berbagi banyak kisah dan merayakan banyak hal bersama-sama. Sampailah Stingo tahu sebuah kebenaran tentang Nathan. Hal itu menjelaskan segala insekuritas Nathan terhadap Sophie. Hal itu juga yang membuat Nathan bisa tiba-tiba sangat cemburu nggak jelas dengan Stingo dan mengancam akan membunuhnya. Dalam upaya mereka menghindari Nathan, Sophie kemudian menceritakan Stingo sebuah rahasia terdalamnya yang membuat ia terluka batin sampai sekarang.

Yang saya suka dari film ini:
+ Ini adalah film yang membuat Mertyl Streep mendapatkan piala Oscar pertamanya. EMANG KEREN BANGET SIH AKTINGNYA! Dia jadi cewek Polandia dengan aksen yang meyakinkan. Pada saat adegan yang membuat dia terluka batin pun kita bisa melihat kepedihan tak terperi yang mengerikan dari ekspresi wajahnya. Haduh, na’udzubillah mindzaliq deh saya berada di posisi Sophie saat itu.
+ Kevin Kline waktu muda ganteng, ya!
+ Bagian sedihnya] itu sedih bangeeet T_T. Kesedihannya relate banget dengan saya yang…. (aduh, takut spoiler)
+ Suka banget dengan warna film produksi 1980-an. Warnanya terang, hangat, dan jelas.

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Peter MacNicol kok terasa kurang pas aja di sini, ya? Muka dia itu bukan muka pemain drama. Mukanya kocak sih…
– Meskipun aktingnya Meryl Streep keren parah, tapi dia terlihat kurang cantik untuk jadi cewek yang diperebutkan semua orang. Karakternya dibangun sebagai cewek yang kecantikannya memukau. Padahal mah biasa ae…
Meryl Streep memang bukan pilihan utama sang sutrdara, sih. Pilihan lainnya ada yang lebih kece-kece emang. Tapi konon Meryl sampai berlutut mohon-mohon biar dia dapat perannya. Dan hasilnya memang nggak bohong, sih.

Saya menonton film ini di Netflix. Ini dia trailernya…