Review: When Marnie Was There (2014)

Ini film animasi garapan Studio Ghibli yang saya tunggu-tunggu muncul di Netflix.

Film ini mengisahkan tentang anak SMP bernama Anna (diisi suara oleh Sara Takatsuki). Ia tak punya teman. Anna tahu kalau dia adalah seorang anak angkat. Namun ada sebuah kejadian yang membuat ia memutuskan untuk menutup diri dari orang tua asuhnya. Menggambar jadi satu-satunya teman Anna untuk menghabiskan waktu.
Pada suatu hari penyakit asma Anna kambuh. Dokter menyarankan agar ia dibawa ke tempat yang udaranya bersih untuk pemulihan. Maka ia diungsikan ke rumah kerabat orang tua asuhnya di sebuah desa pinggir laut di Hokkaido.
Sehari-hari Anna di sana ia habiskan untuk menggambar. Usaha kerabatnya untuk membuat ia punya teman dengan anak-anak setempat tidak Anna manfaatkan dengan baik. Sampailah Anna bertemu dengan Marnie (diisi suara oleh Kasumi Arimura) yang tinggal di rumah pinggir rawa. Anna merasa tidak asing dengan rumah itu. Marnie yang ramah dan ceria menjadi satu-satunya teman Anna di sana. Tidak peduli bahwa Marnie bukan berasal dari masa hidup yang sama dengannya. Siapakah sebenarnya Marnie?

Yang saya suka dengan film ini:
+ Film ini banyak mendapat review bagus. Makanya saya penasaran banget buat nonton. Setelah ditonton, ternyata memang tidak mengecewakan.
+ Gambar-gambarnya Studio Ghibli nggak usah diragukan lagi lah ya. Semua gestur terlihat begitu realistis dengan kehidupan nyata.
+ Rumah kerabat Anna di desa di Hokkaido baguuuuuuus banget. Jadi pengen punya rumah kayu kayak gitu.
+ Film ini memberi pelajaran dan kesadaran yang bagus mengenai pengabaian anak.
+ Endingnya nggak ketebak dan bikin sediiiih T_T
+ Lagu di endingnya baguuuuuuuus!

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Konflik dan cemburu Anna ke Marnie ini agak aneh yang bikin saya curiga dengan orientasi seksualnya.
– Ada beberapa adegan dan tokoh yang nggak diceritakan secara tuntas.
– Keenggakjelasan mengenai asal-usul Marnie ini lumayan bikin gemes karena baru diceritakan di ujung doang. Sehingga tengah-tengah film alurnya jadi terasa lamban dan muter-muter di situ aja.

Film ini saya tonton di Netflix.
Rate: 4 out of 5

Ini trailernya…

Review: Lady Bird (2017)

Anak-anak hipster pasti suka film ini.

Film ini mengisahkan tentang seorang anak SMA di kelas 12. Nama aslinya Christine McPherson, tapi maunya dipanggil dengan sebutan Lady Bird (Saoirse Ronan). Setelah lulus ia pengin melanjutkan kuliah di New York. Tapi orang tuanya nggak mampu membiayainya. Tekad Lady Bird kuat banget. Ia berusaha melobi ayahnya agar mengambil pinjaman demi bisa ‘kuliah di New York’.
Terlepas dari masalah masa depan kuliahnya, ia juga berhadapan dengan masalah anak SMA sehari-hari. Seperti pertemanan, naksir cowok, dan usaha menyamakan pemikiran dengan keluarganya sendiri. Apakah Lady Bird berhasil kuliah ke New York?

Yang saya suka dari film ini:
+ Saoirse Ronan ini memang pantas jadi aktris yang diperhitungkan. Kayaknya dia bisa memerankan tokoh apapun secara total dan setiap karakter yang dia bawakan berdiri sendiri. Dia adalah mantan aktris cilik yang mampu bertransformasi dengan baik.
+ Film ini tentang coming of age yang alur dan konfliknya lumayan nggak ketebak.
+ Suka banget dengan tokoh Lady Bird yang pede tapi anti hero. Malah bisa dibilang ini anak nyebelin juga, ya.
+ Banyak karakter yang nggak biasa di film ini. Namun justru itu yang membuat film ini terasa ‘nyata’.
+ Ada Timothée Chalamet my love! Walau karakter kamu di film ini nyebelin, tapi aku tetap padamu Timoyang (Timothée sayang)
+ Adegan-adegan berantem Lady Bird dengan ibunya itu gambaran itu nyata banyak hubungan ibu dan anak perempuannya.
+ Sense of fashion-nya Lady Bird keren-keren. Ku suka!
+ Film ini ditulis dan disutradarai oleh Greta Gerwig. Ini film kedua dia yang saya tonton setelah Little Women (yang dia tulis ulang dan sutradarai juga). Kayaknya dia suka bikin karya yang mengangkat perempuan sebagai tokoh utama yang bisa menentukan jalan hidupnya sendiri. Kalau memang betul perkiraan saya ini, maka film-film baru Greta Gerwig akan wajib saya tonton.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Film ini tipe-tipe kesukaan anak hipster yang konon ‘harus mikir’ atau ‘membaca kesan dibalik cerita’. Tapi menurut saya ini film tentang coming of age aja. Jadi kalau endingnya cuma ‘gitu doang’, ya harap maklum ajalah ya.
– Latar belakang abangnya Lady Bird nggak diceritakan dengan jelas. Padahal ku penasaran.

Film ini saya tonton di Netflix.
Rate: 4 out of 5

Ini trailernya…


Review: Mantan Manten (2019)

Udah lama pengin nonton film ini karena dulu ada orang yang merekomendasikan film ini ‘bagus banget’. Tapi setelah saya nonton……. Maaf ya, tanpa ada maksud untuk menjatuhkan, tapi saya harus bikin review yang jujur.

Film ini menceritakan tentang Yasnina (Atiqah Hasiholan) seorang konsultan keuangan yang sukses berat. Hidupnya di atas awan. Ditambah ia baru saja dilamar oleh Surya (Arifin Putra) yang tampan. Namun kehidupannya tiba-tiba berputar 180 derajat. Ia dijebak dan dijadikan tumbal bisnis oleh pengusaha kelas kakap, yang tak lain adalah ayahnya Surya sendiri. Semua aset miliknya disita.
Yasnina bertekad untuk membalas. Satu-satunya aset yang tertinggal adalah rumah yang pernah ia beli di Tawangmangu, Karanganyar yang belum sempat ia balik nama. Maka berangkatlah Yasnina ke Tawangmangu untuk menemui sang penghuni rumah tersebut untuk meminta tanda tangan dokumen balik nama. Ternyata sang penghuni yang adalah seorang dukun manten, meminta syarat agar Yasnina tinggal dengannya selama 3 bulan untuk belajar jadi dukun manten. Mau tak mau Yasnina menyetujuinya. Apakah cara ini berhasil membalas dendamnya?

Yang saya suka dari film ini:
+ Tutie Kirana sebagai sang dukun manten aktingnya mantab puol! Aura ‘keraton’nya terasa meski dia duduk diam doang
+ Ide ceritanya bagus dan alurnya juga nggak biasa
+ Tawangmangu bagus, ya! Jadi pengen ke sana, deh.
+ Film ini cukup bagus untuk belajar ikhlas soal jodoh

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Saya setuju kalau film ini salah strategi. Poster dan promosinya menyiratkan kalau ini film romantic-comedy. Padahal nggak sama sekali. Ini justru film drama dengan sentuhan mistis. Tapi bukan horor lho ya.
– Banyak pengembangan karakter yang nggak pas. Jadi sepanjang film saya berkali-kali ngebatin kalau ‘Masa sih orang kayak dia bakal berreaksi begitu? Kayaknya nggak mungkin, deh’.
– Sound dialognya kurang oke. Jadi untuk beberapa dialog saya mendengarnya kayak kumur-kumur.
– Arifin Putra aktingnya oke. Tapi porsi aktingnya sampai bisa ada di poster itu nggak sesuai. Harusnya posternya muka Atiqah aja. Tapi lagi-lagi, sepertinya memang ini salah strategi. Eh atau ini memang justru strateginya supaya banyak orang yang tertarik nonton? Bisa jadi…bisa jadi…
– Jalan cerita sama judul film kurang pas juga, menurut saya :-/
– Ada beberapa bagian cerita yang menarik justru diceritakan secara cepat. Giliran bagian yang biasa aja malah kasih porsi yang lumayan lama.
-Tokoh yang diperankan Marthino Lio kayak sia-sia aja gitu. Kayaknya nggak jelas fungsi dia di cerita ini apa, ya? Kayak ada dan tiada tokoh dia ini filmnya tetap bisa jalan kok. Dan kelanjutan tokoh dia kayak gimana, itu juga nggak diceritakan lebih lanjut. Aktingnya bagus padahal.
– Film ini nggak buruk, kok. Bukan termasuk film yang ‘bikin lo buang-buang duit di bioskop’. Tapi kalau dibilang film ‘buagus buanget’, ya nggak juga sih. Mungkin saya berekspektasi terlalu tinggi aja, makanya pas nonton jadi kecewa. Salahkan orang yang merekomendasikan film ini segitunya ama saya. Setelah dipikir-pikir si orang itu memang suka lebay dan sok tahu, sih. Mungkin karena dia merasa akrab dengan orang-orang film. Padahal orang-orang film melihat dia sebagai ‘wannabe’.
Moral of the story: nggak usah lagi percaya ama orang itu, hahahaha…

Film ini saya tonton di Iflix.
Rate: 3 out of 5

Ini trailernya…

Terus pas lihat trailer resmi ini saya baru nyadar ada beberapa adegan yang nggak ada di versi yang saya tonton. Padahal adegan-adegan itu kayaknya lebih menghidupkan cerita. Ini yang ditayangin Iflix versi yang sama dengan bioskop nggak sih?

Review: 12 Angry Men (1957)

Saya udah sering mendengar film ini disebut sebagai referensi ‘keren’ dari para aktor dan pecinta film. Alhamdulillah akhirnya kesampaian juga untuk nonton film ini.

Film ini mengisahkan 12 orang pria yang menjadi juri pengadilan untuk sebuah kasus pembunuhan. Sang tersangka adalah seorang anak belia yang dituduh membunuh ayahnya sendiri. Semua bukti menjurus kuat kepadanya.
Menurut aturan yang berlaku, semua juri harus mufakat dalam membuat keputusan. Awalnya para juri menganggap mereka akan mengambil keputusan yang mudah. Bahwa semua akan sepakat kalau si anak bersalah. Sayangnya ada satu orang juri yang tidak setuju. Ia meragukan si anak bersalah. Nah, di situlah perdebatan dimulai…

Yang saya suka dari film ini:
+ Film ini penulisan naskahnya bagus banget!
+ Film ini intense. Padahal isinya cuma ngomong doang. Oiya, di film ini ceritanya ruangan tempat mereka berunding itu gerah. Nah, Si Punk Rock yang ikut nonton ampe ngerasa kegerahan juga pas nonton. Kocak dah XD
+ Porsi seluruh karakter yang ada 12 orang itu jelas dan signifikan semua. Perbedaan tiap karakter juga jelas. Padahal semua karakter di film ini nggak pakai nama, lho.
+ Set dan lokasinya cuma dalam satu ruangan runding. Tapi ada begitu banyak cerita yang bisa terjadi di situ
+ Saya membayangkan mereka ini pas proses reading dan meghafalkan dialognya gimana, ya? Banyak banget omongan soalnya.
+ Meski film ini full ngomong doang dan sesekali adu bacot, tapi nggak membosankan. Malah kita ikut tegang.
+ Henry Fonda mirip banget sama Jane Fonda, ya. Ya iyalah, wong itu bapaknya!
+ Film ini produksi tahun 1957. Gambarnya masih hitam-putih. Tapi fashionnya sungguh sebuah referensi hipster masa kini.
+ Saya setuju dengan sebuah thread di Quora, bahwa film ini jadi referensi yang sangat bagus dalam mempelajari ilmu komunikasi. Terutama tentang komunikasi persuasi.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Apa ya? Nggak ada sih. Paling cuma kok bisa ikutan gerah ngeliat mereka kegerahan ya?

Genre: Drama
Rate: 5 out of 5

Ini trailernya