Review: Generation Wealth (2018)

Ternyata keinginan kita untuk jadi horangkayah itu dibentuk, sodara-sodari….

Film dokumenter ini fokus menceritakan tentang generasi 1980an sampai sekarang yang terfokus pada kekayaan dan ketenaran. Bagaimana uang bisa merusak kehidupan seorang anak. Bagaimana uang bisa merusak moral. Bagaimana memiliki banyak uang membuat kita tidak pernah merasa cukup.
Ini semua hal-hal yang udah diketahui oleh banyak orang. Tapi tetap aja pengetahuan itu nggak membuat orang terdasar bahwa fokus pada uang itu salah.
Siapa sangka fokus generasi kita pada uang dan ketenaran itu adalah bentukan. Semua berawal dari tahun 1971, saat pemerintah Amerika Serikat menghentikan emas sebagai standar aset atau sebagai mata uang perdagangan. Hal ini dilakukan untuk menghentikan resesi keuangan Amerika Serikat pada masa itu. Namun ini jugalah awal dari konsumerisme.
Banyak orang jadi bisa meminjam uang untuk mempertahankan gaya hidup yang sebenarnya mereka nggak mampu untuk bisa sampai ke standar hidup seperti itu. Pembentukan itu datang dari televisi dan media, jauh sebelum social media itu ada. Pembentukan itu juga sampai ke universitas ternama seperti Harvard. Ketika salah satu alumninya ditanya, “Apakah Harvard mengajarkan Anda untuk menjadi orang yang baik?”. Sang alumni tertawa dan menjawab, “Tidak, kami disetel dengan baik untuk mennguasai dunia”.

Yang saya suka dari film ini:
+ Ini adalah film yang cukup menyadarkan saya bahwa semua keinginan untuk menjadi horangkayah itu bukan sekadar tuntutan hidup. Tapi DIBENTUK! Okeh, kagak mau lagi saya percaya sama iklan, social media, dan segala doktrin ‘kesempurnaan’ yang mereka hembuskan. Hush…hush….sanaaah~~ *mengusir manjah alah Syahrini*
+ Narasumber di dokumenter ini beragam. Mulai dari anak ‘korban kekayaan’ orang tua, orang korban konsumerisme dan standar kesempurnaan, horangkayah tajir mampus gila-gilaan yang sekarang jatuh ‘missqueen’, para ahli sosial dan praktisi, sampai orang-orang yang terpaksa harus mengiikuti standar hidup horangkayah biar diterima oleh sekitarnya. Narasumbernya juga datang dari berbagai negara. Ini memvalidasi kalau kehausan kita akan uang itu semuanya terbentuk dari kebijakan pemerintah masing-masing negara.
+ Dari film ini saya jadi bisa melihat kalau uang itu nggak bisa beli taste. Segala lu punya limosin yang ada kolam renang dan helikopter pad-nya itu buat apa sik? Norak.
+ Suka sama music score-nya. Bikin betah nonton.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Film ini mengangkat tema yang sangat menarik. Tapi sang penulis dan sutradara Lauren Greenfield lumayan banyak menyisipkan tentang keluarganya yang menurut saya kurang nyambung dengan maksud awal film dokumenter ini.

Rate: 3,5 out of 5
Saya nonton film ini di Prime Video.

Ini trailernya….

Review: The Occupant (2020)

Setelah menonton The Occupant, saya jadi berkesimpulan film Spanyol itu pada bagus-bagus ya, gaes…

Film Spanyol ini mengisahkan tentang Javier Muñoz (Javier Gutiérrez) seorang bos periklanan yang baru saja kehilangan pekerjaannya. Ia sekarang ke sana kemari untuk interview sana-sini. Tapi tidak ada yang memberikan respon yang menggembirakan. Karena tidak ada pemasukan, ia sekeluarga terpaksa pindah dari apartemen mewah ke apartemen kecil di kawasan nggak elit. Mobil BMW-nya juga terpaksa dijual.
Suatu hari Javier kangen dengan apartemen lamanya. Sambil menunggu mobilnya laku, ia kendarai mobil BMWnya untuk melihat apartemen lamanya dari kejauhan. Rupanya apartemen itu sudah ditempati oleh keluarga baru. Diam-diam muncul ide tidak baik di benak Javier. Ia sepertinya tahu cara mendapatkan hidup enak seperti yang dulu pernah ia jalani.

Yang saya suka dari film ini:
+ Film ini membangun misteri cara berpikir Javier dengan apik. Kita baru benar-benar paham apa maksud Javier di akhir cerita.
+ Setuju dengan salah satu reviewer yang mengatakan kalau film ini memberikan contoh nyata tentang toxic fragile masculinity. Dimana pria yang merasa gagal sebagai lelaki akan berusaha berbuat apapun demi merasa jadi ‘lelaki’ kembali.
+ Ada Mario Casas yang gantengnya nggak santai. Tampang dia tuh kayak gabungan Nick Jonas sama Jason Mamoa.

Mario…

+ Spanyol itu bagus ya. Semoga akan ada rezeki untuk bisa liburan ke sana. Tentunya setelah corona slompret ini berakhir.
+ Jalan ceritanya lumayan nggak ketebak deh nih film. Twist-nya nggak cuma satu.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Terlepas dari akting Javier Gutiérrez yang oke, cuma entah kenapa postur tubuhnya yang nggak tinggi lumayan membuat ia terlihat ‘gubrak’ gitu. Jadi karakternya yang dibangun sebagai pria diam namun bermuslihat itu malah bikin saya pengen toyor kepalanya sambil bilang ‘mau apa sih lu, cil? Ganggu hidup orang aja lu’.
– Suara Mario Casas itu kayak nggak pas ama tampangnya.
– Alurnya agak lambat dan kita dibuat menebak-nebak terus. Mungkin kalau orang yang nggak sabar akan merasa kalau film ini membosankan.

Rate: 4 out of 5
Saya nonton film ini di Netflix.

Ini trailernya…

Review: Imperfect (2019)

Sejauh ini filmnya Ernest Prakasa belum ada yang mengecewakan.

Film yang diangkat dari novel karya Meira Anastasia ini mengisahkan tentang hidup Rara (Jessica Mila) yang berbadan gemuk. Bukan hanya gemuk, tapi ia juga berkulit gelap. Sangat berbeda dengan ibu dan adiknya yang berkulit putih dan bertubuh langsing. Sebenarnya hidup Rara nggak buruk. Ia punya karier yang bagus dan pacar tampan yang menerima apa adanya. Bertahun-tahun ia bisa menerima dirinya yang selalu dibanding-bandingkan dengan kecantikan si adik dan diperlakukan berbeda oleh masyarakat karena bentuk tubuhnya. Namun Rara bagai mendapat tamparan keras begitu bentuk tubuh dan penampilannya mempengaruhi penilaian bosnya untuk menaikkan jabatan.
Oleh karena itu, Rara bertekad untuk menurunkan berat badan dan memperbaiki penampilannya. Tapi apakah menjadi langsing dan cantik itu jadi jaminan untuk bahagia?

Yang saya suka dari film ini:
+ Film karyanya Ernest Prakasa itu sejauh ini selalu bagus. Apalagi naskahnya, bagus banget! Tepuk tangan untuk Ernest dan Meira Anastasia untuk naskahnya.
+ Banyak dialog yang lucunya berkualitas.
+ Sangat senang dengan tema dan solusi konflik yang diangkat oleh film Imperfect ini. Film tentang make over dari si buruk rupa jadi cantik itu udah banyak. Namun dengan penyelesaian konflik seperti di film ini, ya baru di Imperfect doang yang saya lihat.
+ Dari mana lagi ya harus saya mulai pujian tentang akting dan ketampanan Reza Rahadian? Pokoknya mas Reza, aku padamu, meski kamu padanya. Tiup cium, fuh…
+ Pujian akting juga harus saya berikan pada Uus sebagai preman kampung dan Kiky Saputri anak kos lenjeh doyan pake baju seksi. Jatah akting mereka memang nggak banyak, tapi sangat memorable.
+ Set dan lokasinya bagus. Terasa Indonesianya.
+ Tumben-tumbenan saya kesel ngeliat tokoh yang diperankan oleh Boy Wiliam. Artinya aktingnya Boy juga berhasil di film ini.
+ Akting Yasmin Napper patut dipertimbangkan. Saya ingin melihat aktingnya lebih banyak lagi.
+ Sangat suka dengan pesan film ini yang bukan hanya mengenai self love, tapi juga support orang-orang terdekat.
+ Suka juga dengan bagaimana Ernest mulai mengurangi ‘ngajak teman’ komika untuk di filmnya. Bukan apa-apa, kadang tokoh komika yang hadir itu kebanyakan. Jadi perannya kurang penting semua. Mereka memang lucu, tapi mubazir rasanya.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Scoringnya terdengar kurang pas. Nggak semua adegan harus diisi musik sih, menurut saya.
– Baju-baju Rara pada saat gemuk itu terasa monoton dan kayak piyama. Kayaknya ini trik agar bobot Jessica Mila bisa terlihat segemuk tokoh Rara. Wignya Rara juga terlihat ganggu :-/
– Asri Welas tuh dapat akting yang ya….gitu-gitu aja sih.

Rate: 4,5 out of 5
Film ini saya tonton di Netflix.

Ini trailernya…

Review: The Report (2019)

Adam Driver itu emang serius dalam berakting, ya. Tapi sayangnya………

Film ini berdasarkan kisah nyata tentang penyusunan laporan kegiatan terlarang CIA. Alkisah seorang petugas investigasi, Daniel Jones (Adam Driver), diminta oleh Senator Dianne Feinstein (Annette Bening) untuk menelusuri pelanggaran HAM oleh CIA. Maka Daniel Jones pun membentuk tim dan membuat kantor kecil di dalam gedung CIA. Di sana ia membaca ribuan dokumen CIA yang akhirnya ia menemukan bukti bahwa biro spionase Amerika Serikat memang melakukan pelanggaran HAM. Mereka tercatat telah menyiksa para tahanan untuk mendapat informasi mengenai ancaman terorisme yang tidak pernah terbukti ada.
Namun begitu tim Daniel Jones mendapat bukti, intrik politik malah menghalangi mereka untuk mengungkap hal ini ke publik. Apa yang harus dilakukan Daniel Jones?

Yang saya suka dari film ini:
+ Adam Driver itu kalau akting emang serius, ya.
+ Banyak fakta yang baru saya ketahui mengenai pelanggaran HAM dari film ini. Lumayan nambah ilmu.
+ Dandanan Annette Bening keren banget buat jadi nenek-nenek terpelajar
+ Untuk pertama kalinya saya melihat Tim Blake Nelson berperan jadi warga negara Amerika yang normal dan pintar. Padahal dia selama ini rajin banget dapat peran polisi kampung dan selalu kelihatan o’on.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Ini film serius dan lumayan bertele-tele. Saya aja nontonnya nyicil selama beberapa hari karena di tengah-tengah film suka bosan. Ini film tipe film yang bikin mikir, sih. Jadi kalau lagi pengen nyari film buat menghilangkan stres dan rileks, sebaiknya cari film yang lain aja, ya.
– Ini film tentang politik Amerika banget. Jadi kalau nggak paham dengan kasus dan situasi politik Amerika, kita jadi nggak bisa merasakan urgensi dan pentingnya perjuangan seorang Daniel Jones.
– Make up untuk Annette Bening keliatan pas banget buat jadi nenek-nenek. Tapi begitu make up buat jadi tahanan Arab keliatan banget jenggot palsunya.
– Para tokoh tahanan Arab yang di film ini nggak pas semua. Nggak ada yang bertampang Arab beneran.
– Adam Driver itu kalau akting selalu serius dan kelihatan banget berusaha total. Sayangnya…………………………………………. mukamu itu rautnya kocak, Mas Adam. Sejauh ini saya baru nonton 4 film Adam Driver (Silence, BlacKkKlansman, Marriage Story, The Report). Semuanya saya melihat kalau Adam Driver ini serius dalam berakting. Tapi mohon maaf nih ya, Mas Adam tampangmu itu ‘kocak’ kayak orang yang mau ngelawak. Jadi begitu dia berusaha tampil jadi pribadi yang serius, yang saya lihat justru dia bertransformasi jadi sosok komedian yang lagi ngambek nggak mau banyak omong.
Doh, maaf ya kalau saya banyak komentar tentang tampang orang (macam tampang saya ganteng selangit aja. Padahal tampang saya kan cantik :P). Tapi yang namanya film itu kan visual, ya. Jadi hal-hal seperti ‘melihat kemasan luar’ ini memang berpengaruh. Setidaknya berpengaruh di saya.
– Nggak ada klimaks yang bikin puas setelah menonton film ini.

Rate: 2,5 out of 5
Saya nonton film ini di Prime Video

Ini trailernya…

Review: Jeffrey Epstein: Filthy Rich (2020)

Hooo…. Jadi ini tokh Jeffrey Epstein yang sempat heboh di media asing tahun lalu.

Serial dokumenter ini menyorot kisah hidup Jeffrey Epstein yang ternyata cukup misterius. Latar belakangnya kurang diketahui banyak orang. Tahu-tahu ia sudah masuk dalam lingkaran orang kaya berpengaruh di Amerika Serikat. Teman nongkrongnya antara lain Bill Clinton, Donald Trump, sampai Pangeran Andrew dari Inggris. Pokoknya dia itu T.O.T (Tim Orang Tajir).

Pekerjaan dan bisnisnya nggak terlalu jelas apa. Pas saya tonton serial ini sampai habis, saya masih nggak paham pekerjaan atau bisnis Jeffrey Epstein itu bergerak di bidang apa. Yang pasti dia tajir mampus dan pengaruhnya besar.

Sebesar apa pengaruhnya?
Sebesar itu sampai ia bisa menghentikan proses penyelidikan FBI terhadap dirinya menyangkut pelecehan terhadap ratusan anak di bawah umur. Iyes, Jeffrey ini suka ngajak cewek-cewek abege untuk pijat-pijat cantik di rumahnya. Dengan iming-iming uang 200 USD, dia menciptakan rantai korban pelecehan cewek-cewek abege. Kalau ada cewek yang pintar, ia iming-imingi dengan biaya kuliah dan pengalaman kerja di luar negeri biar masa depan si cewek cerah.

Namun begitu ada cewek yang melaporkan pelecehannya, Jeffrey bisa dengan gampang ‘mengatur’ hukumannya. Apa sih rahasia Jeffrey Epstein ini?

Jeffrey Epstein om-om tajir bertampang baik.
“Kamu mau apa? Sini om bayarin. Tapi om maunya sama anak abege ehe ehe”

Yang saya suka dari serial ini:
+ Buat orang yang buta kasus Jeffrey Epstein ini, saya jadi bisa tahu luar-dalam baik-busuk dirinya dengan penuturan yang gampang dicerna.
+ Salut sama para korban yang berani untuk mengungkapkan kebenaran di serial ini
+ Jadi tahu kalau politisi, pengacara, dan orang tajir Amrik itu emang busuk, yes.
+ Pangeran Andrew dari Inggris apalagi! hadoh…hadoh…… Bisa gitu ye bohong menyangkal dengan gampang karena dia ‘keluarga kerajaan’.
+ Dari semua nama besar yang munafik yang disebut di serial ini, cuma satu nama yang saya nggak habis pikir apa yang ada di benaknya. Yakni, Ghislaine Maxwell yang tak lain adalah pacarnya Jeffrey Epstein. Menurut para korban, Ghislaine justru ikut merekrut cewek-cewek untuk dilecehkan oleh Jeffrey. What the hell??? Eh alhamdulillah per 3 Juli 2020 AKHIRNYA Ghislaine ditangkap.

(Kiri) Ghislaine Maxwell yang nggilani. You krezi woman you!


+ Suka banget dengan judulnya ‘Filthy Rich’. Makna ambigu yang menjelaskan betapa tajirnya dia sekaligus betapa kotornya seorang Jeffrey Epstein.

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Tanpa maksud mengecilkan apa yang dilakukan Jeffrey Epstein, tapi apa yang dilakukan oleh dia itu nggak mengherankan buat penonton Indonesia. Soalnya orang kaya bisa lolos dari segala macam hukuman dan kriminal di Indonesia itu udah biasa berow…
– Dokumenter ini punya niatan baik untuk mengedepankan para korban. Namun entah kenapa saya ngerasa kisah mereka agak dipanjang-panjangin. Untung yang ngedit jago.

Saya nonton serial ini Netflix.
Rate: 3,5 out of 5

Ini trailernya…

Review: Disturbia (2007)

Nggak pernah suka sama Shia LeBeouf :/

Film ini dibuka dengan Kale (Shia LeBeouf) sedang pergi memancing dengan ayahnya. Sepulang dari sana, mereka mengalami kecelakaan yang membuat ayahnya tewas di tempat. Setahun kemudian Kale masih belum bisa menghapus kesedihannnya. Makanya begitu gurunya menyinggung tentang ayahnya, dia langsung emosi lalu gurunya dihantam. Gara-gara itu, sekarang Kale harus jadi tahanan rumah selama tiga bulan.
Tentu saja awalnya Kale bosan nggak tahu harus ngapain di rumah. Sampailah ia menemukan hobi mengawasi para tetangganya pakai teropongnya. Dari sekadar hobi menghabiskan waktu, Kale jadi tahu bahwa salah satu tetangganya adalah seorang pembunuh berantai yang sedang dicari-cari.

Yang saya suka dari film ini:
+ Ceritanya oke. Banyak hal yang realistis. Cara membangun ketegangannya juga oke.
+ Banyak sisipan lagu ciamik di tiap adegannya. Ini khas film era 2000-an. Jadi kangen dengerin lagu-lagu lama.
+ Kangen juga pakai handphone flip dah gara-gara nonton film ini.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Meski akting Shia LeBeouf tidak mengecewakan, tapi akting dia di film ini masih template khas seorang Shia LeBeouf. Yaitu banyak omongan cepat. Yah sama persis kayak akting dia di film Transformers lah.
Sarah Roemer banyak pamer bodynya yang bagus di film ini, tapi wajahnya nggak memorable. Sekarang saya paham kenapa dia nggak kedengeran lagi aktingnya setelah film ini.

Saya nonton film ini di Netflix.
Rate: 3,5 out of 5

Ini trailernya…

Review: Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2020)

Film konflik keluarga Indonesia yang paling realistis yang pernah saya tonton.

Film ini mengisahkan tentang sebuah keluarga dengan tiga orang anak. Angkasa (Rio Dewanto) si sulung, Aurora anak kedua (Sheila Dara Aisha), dan si bungsu Awan (Rachel Amanda). Masing-masing anak punya permasalahan tersendiri. Angkasa yang selalu ditekan agar jadi contoh dan pelindung adik-adiknya. Aurora khas anak tengah yang keberadaannya hanya sebagai bayang-bayang di keluarga. Sedangkan si bungsu Awan selalu jadi pusat perhatian dan terlalu dilindungi. Ayah mereka, yang diperankan oleh Donny Damara, adalah orang yang dominan. Sedangkan si ibu, diperankan oleh Susan Bachtiar, sangat pasif.
Mereka semua berusaha menjalankan peran masing-masing agar keluarga tetap rukun. Namun apa yang tidak dibicarakan dalam keluarga, lama-lama bisa jadi bom waktu juga.

Yang saya suka dari film ini:
+ Ceritanya oke! Permasalahan masing-masing anggota keluarga itu sederhana tapi kompleks. Ceritanya juga terasa dekat banget, karena memang itu kebanyakan permasalahan di suatu keluarga.
+ Pola bertuturnya bagus! Kisah ini banyak menceritakan masa lalu dengan flash back, tapi tetap mudah dimengerti. Malah banyak adegan flash back ke masa lalu ini membangun misteri yang klimaks di akhir film.
+ Semua aktingnya oke! Tapi tetap kesheyengan saya dalam film ini tetap Rachel Amanda yang selalu natural dalam berakting
+ Baju-bajunya Aurora keceee pisaaaaaaan! Suka banget sama gaya Aurora dari ujung kepala sampai kaki.
+ Film ini menampilkan band Arah. Bandnya si Hanum. Woohooooo!
+ Posternya bagus! Warnanya cakep, pose semua orang tersenyum menutupi beban hidup masing-masing juga ciamik

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Mas Rio Dewanto, kamu ganteng. Aku padamu. Tapi aku kok ngerasa kamu terlihat terlalu tua untuk peran ini ya? Terus, rambutmu di film ini kok acak-acakannya agak aneh, mas. Jangan marah ya, mas. Aku padamu lho, mas.
– Ada satu adegan marah-marah bapak Donny Damara yang entah kenapa terlihat kurang pas di mata saya. Kayaknya terlalu dipaksakan. Tapi di satu adegan itu doang, kok.
– Ada band Arah di film ini. Bandnya si Hanum. Tapi si Hanumnya kagak kesorot mukanya. Hadeh…. *tepok jidat* Yodah, dengerin gebukan drum dan suara Hanum di sini ya. Iya, klik di sini ya.
– Ada beberapa poster yang menampilkan Ardhito Pramono yang ikut muncul di film ini. Terlepas aktingnya Ardhito yang oke di film ini, tapi menurut saya dia kurang pas untuk masuk poster. Cukup tentang tiga orang kakak-adik dan keluarganya aja. Karena memang pusat ceritanya di situ.
– Film ini diangkat dari buku hipster ngehits dengan judul yang sama karya Marchella FP. Nah, isi buku dan jalan cerita film ini sama sekali nggak nyambung. Bahkan quote-quote bagus dari bukunya Marchella kayaknya nggak banyak dipakai deh di film ini. Jadi film ini rasanya kayak pinjam judul bukunya doang, lalu dibikin cerita yang jauh berbeda.
– Wajah pemeran tokoh di masa lalu mereka nggak ada yang singkron. Contohnya tokoh Angkasa waktu balita dia itu terlihat kayak anak Melayu bermata belo’. Terus pas SMP, mukanya kenapa jadi chinese?
Begitu juga dengan tokoh si ibu. Waktu mudanya dia kayak cewek bandung yang putih. Pas versi tuanya kok jadi Susan Bachtiar yang chinese? Ini bukan rasis lho ya. Ini cuma mengungkapkan ketidakmiripan para tokoh muda dan dewasanya. Dalam hal ini NKTCHI harus belajar sama film Bebas. Di film Bebas tokoh masa muda dan dewasanya bisa mirip gitu.

Film ini saya tonton di Netflix.
Rate: 4,5 out of 5

Ini trailernya…

Review: Terlalu Tampan (2019)

Film yang diangkat dari webtoon ini mengisahkan tentang sebuah keluarga yang terlahir dengan sangat tampan. Sampai si ibunya pun tampan. Ketampanan mereka tentu saja membuat banyak perempuan tergila-gila. Banyak kemudahan hidup yang mereka rasakan karena berkah ketampanan tersebut. Namun tidak bagi si bungsu Kulin (Ari Irham). Bagi Kulin ketampanannya ini kutukan. Ia tidak bisa keluar rumah dengan bebas tanpa dikejar-kejar oleh perempuan yang histeris begitu melihat wajahnya. Makanya ia memilih untuk homeschooling dan hanya berteman dengan Anto, ikan peliharaannya.
Melihat hal ini, keluarga tampan jadi resah. Mereka pun merancang sebuah skenario agar Kulin mau ke sekolah normal. Skenario mereka berhasil. Kulin kini mau mulai ke sekolah biasa asal di sekolah khusus pria. Namun di sekolah ini ketampanan dia tetap bawa masalah. Ia jadi sasaran gencetan senior. Ia dipaksa harus bisa meloloskan proposal prom night gabungan dengan sekolah khusus perempuan. Apa yang Kulin harus lakukan?

Yang saya suka dari film ini:
+ Film ini kan diangkat dari komik webtoon, ya. Nah, film ini masih tetap mempertahankan kekomikannya. Jadi kita bisa melihat banyak efek-efek khas komik yang seru dan menambah kekocakannya. Salut lah buat sang sutradara Sabrina Rochelle Kalangie, film ini ia garap dengan baik.
+ Kocaknya menghibur dan nggak lebay dibuat-buat.
+ Sukaaaaaaak banget sama aktingnya Rachel Amanda. Dia ini dari zaman masih bocah aktingnya udah outstanding dibanding aktor cilik lainnya. Pas udah gede, aktingnya makin prima.
+ Ari Irham emang jadi ganteng sih di film ini.
+ Seluruh tokoh yang dihidupkan ke film ini tetap nggak meninggalkan ciri komiknya.
+ Jalan ceritanya juga baguuuus.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Apa ya…. Ada beberapa anggota keluarga Tampan yang menurut saya biasa aja sih tampannya.

Film ini saya tonton di iflix
Rate: 4,5 out of 5

Ini trailernya…

Review: Late Night (2019)

Saya nggak suka dengan Mindy Kaling. Tapi harus saya akui kalau dia adalah perempuan yang cerdas.

Film ini mengisahkan tentang seorang host TV terkenal Katherine Newbury (Emma Thompson) yang masa jaya acaranya memudar. Rating acaranya menurun terus. Maka petinggi televisi memutuskan untuk segera mengganti posisinya dengan host baru yang lebih muda.
Dalam usahanya untuk menyelamatkan acaranya, Katherine yang superior dan berhati dingin pun melakukan beberapa perubahan. Salah satunya dengan memperkerjakan seorang perempuan untuk pertama kalinya di tim penulisnya. Perempuan itu adalah Molly (Mindy Kaling). Molly tidak hanya perempuan, ia juga seorang ras India, dan ia tidak punya basic kerja di dunia pertelevisian karena pekerjaan sebelumnya adalah salah satu tim pengawas di pabrik Kimia. Akankah kehadiran Molly bisa mengubah keadaan?

Yang saya suka dari film ini:
+ Ini bukan sekadar film drama komedi. Film ini punya banyak kritik sosial tentang banyak hal. Antara lain: mengenai perempuan sebagai minoritas di dunia kerja, mengenai minoritas ras, mengenai politik antar perempuan dia dunia kerja (baik tentang keirian perempuan dan cara perempuan mengalahkan lawan dengan elegan).
+ Harus saya akui kalau penulisan naskah film ini cerdas. Penulisnya tak lain dan tak bukan adalah Mindy Kaling.
+ Aktingnya Emma Thompson…. Ya Allah perempuan ini keren banget, sih! Saya sudah melihat banyak film yang dia perankan. Di semua filmnya, saya melihat ia seperti orang yang berbeda. Ia tidak punya ciri khas di tiap aktingnya. Semuanya seperti berdiri sendiri.
+ Baju-bajunya Katherine Newbury dan gaya rambutnya bagus banget siiiiih! Love ngets!
+ Ada satu dialog tentang karma yang dilontarkan oleh suaminya Katherine yang ngena di hati saya.
+ Dari film ini saya belajar kalau industri pertelevisian di Amerika sana itu pnya konflik politik yang cukup kental. Semuanya berawal dari rating.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Sejujurnya saya bukan fansnya Mindy Kaling. Entah kenapa saya melihat dia punya punya pribadi yang ‘sengak’. Tapi apalah saya, kenal sama Mindy Kaling aja kagak tapi berani menilai orang dari tampangnya.
– Ada beberapa adegan yang sok lucu, tapi nggak pas. Terlalu slapstick.

Film ini saya tonton di Netflix.
Rate: 4 out of 5

Review: When Marnie Was There (2014)

Ini film animasi garapan Studio Ghibli yang saya tunggu-tunggu muncul di Netflix.

Film ini mengisahkan tentang anak SMP bernama Anna (diisi suara oleh Sara Takatsuki). Ia tak punya teman. Anna tahu kalau dia adalah seorang anak angkat. Namun ada sebuah kejadian yang membuat ia memutuskan untuk menutup diri dari orang tua asuhnya. Menggambar jadi satu-satunya teman Anna untuk menghabiskan waktu.
Pada suatu hari penyakit asma Anna kambuh. Dokter menyarankan agar ia dibawa ke tempat yang udaranya bersih untuk pemulihan. Maka ia diungsikan ke rumah kerabat orang tua asuhnya di sebuah desa pinggir laut di Hokkaido.
Sehari-hari Anna di sana ia habiskan untuk menggambar. Usaha kerabatnya untuk membuat ia punya teman dengan anak-anak setempat tidak Anna manfaatkan dengan baik. Sampailah Anna bertemu dengan Marnie (diisi suara oleh Kasumi Arimura) yang tinggal di rumah pinggir rawa. Anna merasa tidak asing dengan rumah itu. Marnie yang ramah dan ceria menjadi satu-satunya teman Anna di sana. Tidak peduli bahwa Marnie bukan berasal dari masa hidup yang sama dengannya. Siapakah sebenarnya Marnie?

Yang saya suka dengan film ini:
+ Film ini banyak mendapat review bagus. Makanya saya penasaran banget buat nonton. Setelah ditonton, ternyata memang tidak mengecewakan.
+ Gambar-gambarnya Studio Ghibli nggak usah diragukan lagi lah ya. Semua gestur terlihat begitu realistis dengan kehidupan nyata.
+ Rumah kerabat Anna di desa di Hokkaido baguuuuuuus banget. Jadi pengen punya rumah kayu kayak gitu.
+ Film ini memberi pelajaran dan kesadaran yang bagus mengenai pengabaian anak.
+ Endingnya nggak ketebak dan bikin sediiiih T_T
+ Lagu di endingnya baguuuuuuuus!

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Konflik dan cemburu Anna ke Marnie ini agak aneh yang bikin saya curiga dengan orientasi seksualnya.
– Ada beberapa adegan dan tokoh yang nggak diceritakan secara tuntas.
– Keenggakjelasan mengenai asal-usul Marnie ini lumayan bikin gemes karena baru diceritakan di ujung doang. Sehingga tengah-tengah film alurnya jadi terasa lamban dan muter-muter di situ aja.

Film ini saya tonton di Netflix.
Rate: 4 out of 5

Ini trailernya…