Review: Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2020)

Film konflik keluarga Indonesia yang paling realistis yang pernah saya tonton.

Film ini mengisahkan tentang sebuah keluarga dengan tiga orang anak. Angkasa (Rio Dewanto) si sulung, Aurora anak kedua (Sheila Dara Aisha), dan si bungsu Awan (Rachel Amanda). Masing-masing anak punya permasalahan tersendiri. Angkasa yang selalu ditekan agar jadi contoh dan pelindung adik-adiknya. Aurora khas anak tengah yang keberadaannya hanya sebagai bayang-bayang di keluarga. Sedangkan si bungsu Awan selalu jadi pusat perhatian dan terlalu dilindungi. Ayah mereka, yang diperankan oleh Donny Damara, adalah orang yang dominan. Sedangkan si ibu, diperankan oleh Susan Bachtiar, sangat pasif.
Mereka semua berusaha menjalankan peran masing-masing agar keluarga tetap rukun. Namun apa yang tidak dibicarakan dalam keluarga, lama-lama bisa jadi bom waktu juga.

Yang saya suka dari film ini:
+ Ceritanya oke! Permasalahan masing-masing anggota keluarga itu sederhana tapi kompleks. Ceritanya juga terasa dekat banget, karena memang itu kebanyakan permasalahan di suatu keluarga.
+ Pola bertuturnya bagus! Kisah ini banyak menceritakan masa lalu dengan flash back, tapi tetap mudah dimengerti. Malah banyak adegan flash back ke masa lalu ini membangun misteri yang klimaks di akhir film.
+ Semua aktingnya oke! Tapi tetap kesheyengan saya dalam film ini tetap Rachel Amanda yang selalu natural dalam berakting
+ Baju-bajunya Aurora keceee pisaaaaaaan! Suka banget sama gaya Aurora dari ujung kepala sampai kaki.
+ Film ini menampilkan band Arah. Bandnya si Hanum. Woohooooo!
+ Posternya bagus! Warnanya cakep, pose semua orang tersenyum menutupi beban hidup masing-masing juga ciamik

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Mas Rio Dewanto, kamu ganteng. Aku padamu. Tapi aku kok ngerasa kamu terlihat terlalu tua untuk peran ini ya? Terus, rambutmu di film ini kok acak-acakannya agak aneh, mas. Jangan marah ya, mas. Aku padamu lho, mas.
– Ada satu adegan marah-marah bapak Donny Damara yang entah kenapa terlihat kurang pas di mata saya. Kayaknya terlalu dipaksakan. Tapi di satu adegan itu doang, kok.
– Ada band Arah di film ini. Bandnya si Hanum. Tapi si Hanumnya kagak kesorot mukanya. Hadeh…. *tepok jidat* Yodah, dengerin gebukan drum dan suara Hanum di sini ya. Iya, klik di sini ya.
– Ada beberapa poster yang menampilkan Ardhito Pramono yang ikut muncul di film ini. Terlepas aktingnya Ardhito yang oke di film ini, tapi menurut saya dia kurang pas untuk masuk poster. Cukup tentang tiga orang kakak-adik dan keluarganya aja. Karena memang pusat ceritanya di situ.
– Film ini diangkat dari buku hipster ngehits dengan judul yang sama karya Marchella FP. Nah, isi buku dan jalan cerita film ini sama sekali nggak nyambung. Bahkan quote-quote bagus dari bukunya Marchella kayaknya nggak banyak dipakai deh di film ini. Jadi film ini rasanya kayak pinjam judul bukunya doang, lalu dibikin cerita yang jauh berbeda.
– Wajah pemeran tokoh di masa lalu mereka nggak ada yang singkron. Contohnya tokoh Angkasa waktu balita dia itu terlihat kayak anak Melayu bermata belo’. Terus pas SMP, mukanya kenapa jadi chinese?
Begitu juga dengan tokoh si ibu. Waktu mudanya dia kayak cewek bandung yang putih. Pas versi tuanya kok jadi Susan Bachtiar yang chinese? Ini bukan rasis lho ya. Ini cuma mengungkapkan ketidakmiripan para tokoh muda dan dewasanya. Dalam hal ini NKTCHI harus belajar sama film Bebas. Di film Bebas tokoh masa muda dan dewasanya bisa mirip gitu.

Film ini saya tonton di Netflix.
Rate: 4,5 out of 5

Ini trailernya…

Review: Terlalu Tampan (2019)

Film yang diangkat dari webtoon ini mengisahkan tentang sebuah keluarga yang terlahir dengan sangat tampan. Sampai si ibunya pun tampan. Ketampanan mereka tentu saja membuat banyak perempuan tergila-gila. Banyak kemudahan hidup yang mereka rasakan karena berkah ketampanan tersebut. Namun tidak bagi si bungsu Kulin (Ari Irham). Bagi Kulin ketampanannya ini kutukan. Ia tidak bisa keluar rumah dengan bebas tanpa dikejar-kejar oleh perempuan yang histeris begitu melihat wajahnya. Makanya ia memilih untuk homeschooling dan hanya berteman dengan Anto, ikan peliharaannya.
Melihat hal ini, keluarga tampan jadi resah. Mereka pun merancang sebuah skenario agar Kulin mau ke sekolah normal. Skenario mereka berhasil. Kulin kini mau mulai ke sekolah biasa asal di sekolah khusus pria. Namun di sekolah ini ketampanan dia tetap bawa masalah. Ia jadi sasaran gencetan senior. Ia dipaksa harus bisa meloloskan proposal prom night gabungan dengan sekolah khusus perempuan. Apa yang Kulin harus lakukan?

Yang saya suka dari film ini:
+ Film ini kan diangkat dari komik webtoon, ya. Nah, film ini masih tetap mempertahankan kekomikannya. Jadi kita bisa melihat banyak efek-efek khas komik yang seru dan menambah kekocakannya. Salut lah buat sang sutradara Sabrina Rochelle Kalangie, film ini ia garap dengan baik.
+ Kocaknya menghibur dan nggak lebay dibuat-buat.
+ Sukaaaaaaak banget sama aktingnya Rachel Amanda. Dia ini dari zaman masih bocah aktingnya udah outstanding dibanding aktor cilik lainnya. Pas udah gede, aktingnya makin prima.
+ Ari Irham emang jadi ganteng sih di film ini.
+ Seluruh tokoh yang dihidupkan ke film ini tetap nggak meninggalkan ciri komiknya.
+ Jalan ceritanya juga baguuuus.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Apa ya…. Ada beberapa anggota keluarga Tampan yang menurut saya biasa aja sih tampannya.

Film ini saya tonton di iflix
Rate: 4,5 out of 5

Ini trailernya…