review

Review: Clockwork Orange

Category: Movies

Genre: Drama, Crime

Rate: 3,5 out of 5

Film ini menceritakan tentang Alex (Malcom McDowell) seorang remaja psikopat. Ia dengan gengnya suka berbuat keonaran dan kekerasan yang mereka sebut sebagai ultra violence. Sampailah pada suatu hari Alex kena batunya. Ia dikhianati oleh gengnya, lalu ditangkap polisi. Selama masa penjara dia terpilih untuk menjalani sebuah program percobaan untuk menghilangkan sifat kekerasan dari seseorang. Program itu berhasil pada Alex. Kini Alex yang baru akan langsung merasa mual-mual tiap ia hendak melakukan kekerasan. Karena dianggap tidak berbahaya lagi, Alex kemudian dibebaskan dari penjara. Sayangnya saat ia mencoba menjalani kehidupan yang normal sebagai orang yang baik-baik, kehidupan malah berbalik jahat pada dirinya.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Ceritanya tidak biasa.

-Set dan propertinya bagus.

-Aktingnya Malcom McDowell oke banget.

-Salut sama Stanley Kubrick yang selalu berhasil menggambarkan keseraman tanpa banyak dialog.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Adegan kekerasannya bener-bener ultra violence. Jangan menilai ultra violence ini sebagai adegan yang banyak darah muncrat di mana-mana, ya. Film ini sama sekali tidak seperti itu. Kekerasan di film ini sangat ‘evil’ nan jahat. Kekerasan-kekerasan di film ini dilakukan secara riang oleh orang yang tidak peduli khas seorang psikopat. Saya sampai trauma. Saya jadi nggak mau nonton film Stanley Kubrick yang lainnya. Saya jadi takut.

OLEH KARENA ITU SANGAT TIDAK DISARANKAN ANAK DI BAWAH UMUR UNTUK NONTON FILM INI. YANG DEWASA AJA TRAUMA. NTAR YANG KECIL PSIKOLOGISNYA MALAH TERGANGGU LAGI.

-Film ini ceritanya mau menunjukkan Inggris di masa depan. Makanya set dan propertinya dibuat ala-ala futuristik gitu. Tapi kan film ini dibuat pada tahun 1971. Jadi gambaran masa depan mereka pun tetap terkesan retro. Paling cuma cara berpakaian gengnya Alex aja yang berhasil mempengaruhi fashionnya anak punk sedunia sampai sekarang.

-Banyak tokoh yang agak-agak nggak penting terus ngomongnya lebay.

-Beberapa dialog terkesan kaku.

-Alurnya kurang mengalir.

 

Ini trailernya…

Iklan
review

Review: Sid & Nancy

Category: Movies

Genre: Drama

Rate: 3 out of 5

Film yang diproduksi tahun 1986 ini merupakan berdasarkan kisah nyata pasangan Sid Vicious (Gary Oldman) dan Nancy Spungen (Chloe Webb). Sid Vicious sang pembetot bass di band punk Inggris Sex Pistols pertama kali bertemu dengan Nancy sang groupie asal Amerika Serikat di rumah temannya. Awalnya Nancy mencoba mendekati Sid karena ia mengira Sid adalah Johnny Rotten sang vokalis. Sid tak menggubris kehadiran Nancy. Namun setelah melihat Nancy diperlakukan dengan semena-mena di sebuah bar, Sid pun jadi iba dan mulai nongkrong bareng dengan Nancy. Dari situ pertemanan mereka pun berubah menjadi asmara. Tapi hubungan mereka tidak selalu berjalan mulus karena adiksi mereka terhadap narkoba dan miras. Hubungan Sid dengan bandnya pun jadi berantakan sampai-sampai Sex Pistol menyatakan bubar. Namun Sid dan Nancy tetap tidak terpisahkan. Bersama-sama mereka mencoba membangun karier Sid kembali. Tapi narkoba dan miras lagi-lagi jadi halangan.

 

Yang saya suka dengan film ini:

-Aktingnya Gary Oldman keren bangeeeeeeet! Akhirnya saya melihat Gary Oldman yang masih muda. Gary muda tetep cakep kharismatik dan memang udah jago akting dari sononya.

-Jalan ceritanya oke. Kita bisa melihat dengan jelas bagaimana narkoba dan miras merusak hidup manusia. Kita juga dibikin gemes ama Sid & Nancy yang jadi bego karena nurutin kecanduannya.

-Ada beberapa adegan romantis yang dibuat mengalir begitu saja. Sebentar doang, tapi mengena di hati.

-Ada juga beberapa dialog o’on khas pecandu narkoba yang jadinya kocak.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Nancy itu ganggu ya. Make upnya ketebelan dan suaranya annoying banget.

-Banyak adegan jijik. Kayak muntah, ludah, ingus. Iyuuuuuuuuuuh >_<

-Wahai pembaca yang budiman, tolonglah jangan pernah pakai narkoba dan jangan sampai kecanduan sama miras. Ending film ini bikin kita miris ngeliat orang segitu muda rusak karena kedua hal tersebut.

Review ini juga bisa dibaca via Line @ymg2576q

Ini trailernya…

 

review

Review: Green Room

Category: Movies

Genre: Thriller, Slasher

Rate: 4 out of 5

Film ini mengisahkan tentang sebuah band punk yang sedang mengadakan tour DIY (do it yourself). Dengan uang yang minim, sampailah mereka di sebuah gig kecil di Portland. Ternyata bar tempat mereka manggung adalah sarangnya neo-nazi skin head yang rasis. Sesudah mereka turun panggung, barang-barang mereka sudah dipersiapkan panitia di luar kamar tunggu anak band. Sambil mengangkut barang-barang, lalu berbasa-basi bilang terima kasih kepada panitia acara, salah satu anggota band mereka teringat sedang nge-charge handphone di dalam kamar tunggu anak band. Salah satu dari mereka pun nyelonong masuk begitu saja ke kamar tersebut untuk mengambilkan handphone tersebut. Siapa sangka ia akan melihat sebuah pembunuhan yang baru saja terjadi. Mereka pun dipaksa masuk lagi ke kamar tersebut. Dikurung untuk menunggu mati oleh anak-anak neo-nazi skin head.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Kunci dari film thriller itu alur cerita. Alur cerita film ini oke. Bikin kita jadi tegang.

-Semua jalan keluar atau solusi dari film ini realistis.

-Akhirnya saya bisa nonton akting Anton Yelchin sebelum jadi almarhum. Sayang sekali ia meninggal muda. Padahal aktingnya menjanjikan.

Patrick Stewart kharismatik yaaa!

-Aktingnya Imogen Poots oke banget!

-Set dan lokasi bagus!

-Beberapa gambar juga sedap dipandang mata.

-Ini kan film slasher ya. Jadi banyak adegan sadis berdarah-darah yang bikin ngilu. Ini menandakan kalau make upnya juga keren.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Rambutnya Imogen Poots ganggu. Iya sih itu emang potongan rambut anak punk-skin head. Tapi saya merasa yang dia pake itu wig. Dan keliatannya wig itu gatal. Pengen garuk rasanya.

-Ingat, film ini banyak adegan kekerasannya. Jadi jangan ajak anak di bawah usia 18 tahun untuk nonton film ini ya. Berbahaya.

 

Ini trailernya…

blog

Susah Serius

Si Punk Rock (SPR) lagi BBMan sama temannya yang ternyata suka bacain blog gw.
Doi: Rumah pindah ya kangmas?

SPR: Yoi. Pindah gang doang.

Doi: Kirain pindah jauh.

SPR: Kok tau?

Doi: Baca di artikel kak Disti

SPR: Artikel? Blognya?

Doi: Iya yang Krilianeh itu. Kalo lagi senggang suka baca.

SPR: Oh gitu. Bagus!

Doi: Suka ngakak ndiri.

SPR: Jarang anak punk punya minat baca seperti kamu. Lagian enakan ngakak sambil duduk, jangan sambil berdiri.

Doi: Hasyah bisa aja. Banyak kali anak punk suka baca. Cuman bacaannya pada yang berat-berat. Otak saya nggak kuat kalo bacaannya berat.

SPR: Situ baca karung beras?

Doi: Semen gresik!

Yah begitulah Si Punk Rock. Dia orangnya emang susah diajak serius. Soalnya dia hanya mau serius sama saya. Makanya saya dinikahin ama dia. Ejiyeee jiyeeee!
Eak! Eeaak! Eeeaaak! 💞 – with Wahyu

View on Path

blog

2015 in review

Alhamdulillaaaaah!

Senang juga lihat ini. Jadi semakin semangat nulis.

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 39.000 kali di 2015. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 14 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

blog

Punk LKS

Gw: Kalau band kamu diwawancarain majalah Rowlingsetun Indonesia kamu mau nggak?

Si Punk Rock (SPR): Mau aja.

Gw: Tapi yang wawancara si Hazip. Gimana?

SPR: Emang kenapa kalau si Hazip?

Gw: Dia kan songong.

SPR: Aku songongin balik.

Gw: Kalau band kamu ditulis jelek ama dia gimana?

SPR: Aku bilang gini, Woi! Sebelum band gw masuk majalah lo nih, band gw udah masuk LKS! Band gw udah masuk kurikulum sekolah nasional! Majalah lo paling yang baca hipster jabodetabek!

Lalu Si Punk Rock membuka sebuah LKS di hadapan gw. WOIYAK BENER AJA DONG SUAMI GW MASUK LKS!!! – with Wahyu

View on Path

blog

Kegiatan Ngeband Anak Punk

Si Punk Rock (SPR) pulang latihan ngeband.
Gw: Gimana tadi latihannya? Anak-anak ngobrolin apa?

SPR: Si Codehell (bassist) sekarang main Path. Terus tadi minta difotoin pas dia lagi main bass. Terus fotonya diposting. Terus dia minta di-love fotonya.

Gw: Hoo gtu. Terus? Terus?

SPR: Ya udah, pas aku posting foto, aku minta dia love fotoku juga. Aku bilang, ‘Del, kok lo ga love foto gw sih? Tadi gw love foto lo.’
Ya udah, si Codehell love foto aku kan tuh. Abis itu Codehell nanya ke Amoy (drummer), ‘Moy, lo kok ga love foto gw? Love dong!’ Ternyata hape Amoy lagi ngehang. Tapi abis itu di-love sih fotonya Codehell.

Gw pikir anak band itu ngomongin musik. Gw pikir anak punk itu ngomonginnya tentang cara menggulingkan kapitalisme. Tapi ternyata yang mereka bahas adalah masalah kepamrihan dalam nge-love foto di Path!!!!
Raiblah sudah kepolosanku dalam memandang hidup ini… – with Anggrian, Wahyu, and Andi

View on Path