Review: The Voyeurs (2021)

Film The Voyeurs mengajarkan kita kalau ngintipin tetangga itu memang berbahaya gaes.

Alkisah ada sepasang kekasih yang baru aja memutuskan untuk tinggal bareng (astagfirullah, kumpul kebo!). Mereka adalah Pippa (Sydney Sweeney) dan Thomas (Justice Smith). Apartemen baru mereka luas dengan jendela yang besar-besar. Dari jendela besar itu, mereka bisa melihat ke apartemen tetangga di gedung seberang. Di seberang sana tinggal lah pasangan ganteng dan cantik, Seb (Ben Hardy) dan Julia (Natasha Liu Bordizzo).
Awalnya Pippa dan Thomas tidak sengaja dan iseng-iseng aja melihat tingkah laku tetangganya yang terpampang nyata dari jendela mereka. Namun lama-lama Pippa jadi agak terobsesi menonton tingkah laku tetangganya. Sampailah Pippa melihat Seb tidur dengan banyak wanita lain ketika Julia sedang keluar rumah. Pippa kemudian memutuskan untuk memberitahukan Julia tentang kelakuan Seb. Larangan dari Thomas tidak diindahkannya. Dan benar saja, kini malah Pippa yang tertimpa masalah yang tidak ia duga-duga sebelumnya.

Yang saya suka dari film ini:
-Ada banyak plot twist di film ini. Jadi alurnya lumayan susah ditebak. Apalagi endingnya!
-Senang akhirnya bisa melihat akting Sydney Sweeney sebagai cewek ceria. Sebelumnya saya melihat dia sebagai cewek depresi atau sad girl mulu.
-Pengambilan gambarnya bagus. Serasa menonton kehidupan tetangga dari jendela sendiri. Saya juga jadi kepengin punya teropong yang digunakan Pippa buat ngintipin tetangganya. Mau saya pake buat lihat-lihat awan aja (yeah riiight!). Kalau mau beliin saya teropong, silakan klik link ini ya gaes: teropong keren wuiwuiwuiiii
-Akting Ben Hardy dan Natasha Lio Bordizzo juga oke. Sebagai pasangan yang kita lihat dari jarak jauh doang dan tanpa suara, kita bisa memahami konflik yang mereka alami.
-Film ini banyak adegan erotisnya, hehehehe

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Ini pertama kalinya saya menonton Justice Smith. Ternyata suaranya Justice Smith itu ngebass BANGET ya. Jadi di menit-menit awal nonton, saya ampe ngirain ini aktor lagi becanda atau gimana ya? Suara ngebassnya itu kayak orang lagi sok-sok niruin suara ngebass. Kayak orang lagi ngenyek gitu, lho. TAPI TERNYATA ITU SUARA ASLI!
-Film ini terselip adegan erotis di sana-sini. Jadi mohon untuk tidak ditonton bersama anak di bawah umur, ya.

Rate: 4 out of 5
Saya nonton film ini di Prime Video.

Ini trailernya…

Review: The Terror (2018)

The Terror itu nama sebuah kapal lho, ya. Tapi serial ini emang penuh dengan teror sih…

Serial ini berdasarkan kisah nyata tentang ekspedisi Kapten Franklin atau yang biasa disebut dengan Franklin’s Expedition.

Begini kisahnya…
Pada tahun 1845 Kapten Franklin (Ciaran Hinds) diutus melakukan ekspedisi laut untuk mencari jalur dagang baru lewat samudera Arktik. Jika ekspedisi ini berhasil, nama Kerajaan Inggris akan tersohor karena mencatat sejarah dunia karena telah menemukan jalur potong yang lebih cepat untuk perdagangan antara benua barat ke benua timur.
Maka berangkatlah Kapten Franklin bersama 129 orang petugas dan awak kapal. Ia memboyong dua buah kapal tercanggih pada masa itu, HMS Erebus dan HMS Terror. Seluruh kru kapal adalah orang-orang yang terlatih dan berkepala dingin. Persediaan makan mereka banyak dan aman untuk beberapa tahun ke depan. Terlebih, mereka bisa dikatakan orang-orang pertama yang menggunakan makanan kaleng yang merupakan penemuan mutakhir pada masa itu.
Tapi alam tidak bisa diprediksi. Kapal mereka tertahan di tengah laut yang membeku karena dinginnya iklim Arktik. Ini saatnya mereka harus putar otak mencari pertolongan rescue, sembari bertahan hidup menghadapi teror dari monster yang ingin memangsa mereka. Meskipun sejarah telah mencatat kalau mereka tidak akan pernah kembali lagi…

Yang saya suka dari serial ini:
+ Set dan lokasinya niat! Mereka melakukan riset agar set dan lokasinya menyerupai kapal asli Erebus dan Terror.

Dari green screen begini….
Jadi kayak kapal beneran gitu. Edan lah…

+ Aktingnya Tobias Menzies dan Jared Harris keren parah! Tobias Menzies sih yang saya suka banget. Aktingnya nggak pernah sama di serial manapun. Tapi selalu bagus! Fixed lah saya jatuh cinta sama Akang Tobi—-> panggilan saya untuk Tobias Menzies. Mulai sekarang, nama Tobias Menzies akan selalu masuk di watchlist saya.

Akang Tobi, aku padamu, kang! *kecup-kecup manja*

+ Serial ini tokohnya banyak. Tapi semua proporsinya pas.
+ Saya mendapat banyak pelajaran dari serial ini. Di antaranya adalah, tentang pentingnya anak buah mematuhi perintah atasan di militer, tentang pentingnya berkepala dingin bahkan saat terdesak sekalipun, tentang upaya bertahan hidup, tentang pentingnya percaya sama sains ketimbang hal-hal mistis, banyak lah pelajarannya….
+ Serial ini nggak perlu menggembar-gemborkan heroisme ala Hollywood. Tapi di serial ini kita bisa melihat sendiri bahwa pahlawan sejati itu bekerja dalam diam dan tidak membutuhkan penghargaan.
+ Posternya bagus! Sangat menggambarkan teror yang mencekam.

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Serial ini banyak banget mengambil fakta-fakta dari sejarah. Tapi jadi kecewa begitu perkara monster jadi mengambil peran yang cukup besar di serial ini. Padahal tanpa monster itu pun udah terasa mencekamnya. Karena sesungguhnya yang paling jahat dan kejam itu adalah manusia, bukan makhluk lain.
– Endingnya tuh kayak mau menyenangkan hati penonton. Padahal menurut sejarah endingnya tragis. Harusnya sih endingnya jadi apa adanya aja, menurut saya.

Saya nonton serial ini di Prime Video.
Rate: 4 out of 5

Ini trailernya…


Review: Nocturne (2020)

Film Nocturne menjelaskan dengan gamblang kalau terlalu sama itu justru hanya menimbulkan iri dan dengki.

Alkisah hiduplah saudari kembar Juliet (Sydney Sweeney) dan Vivian (Madison Iseman). Keduanya punya bakat musik piano. Mereka sama-sama sekolah di SMK khusus seni. Namun sayangnya jalan hidup mereka mulai berbeda. Vivian yang periang dan sudah punya pacar diterima kuliah di universitas musik ternama Julliard. Sedangkan Juliet ditolak. Tidak peduli seberapa lama Juliet mengurung dirinya untuk berlatih, ia tidak pernah bisa menyamai keterampilan Vivian dalam bermain piano.

Sampailah pada suatu hari Juliet menemukan buku catatan musik milik murid yang beberapa waktu lalu bunuh diri di sekolah tersebut. Makin Juliet mendalami buku catatan itu, secara perlahan tapi pasti hidupnya mulai berubah menjadi Vivian yang selama ini ia irikan. Ternyata buku itu adalah gerbang untuk melakukan perjanjian dengan setan.

Yang saya suka dengan film ini:
+ Akting dan raut muka Sydney Sweeney memang cocok untuk jadi anak iri dan frustasi.
+ Konflik batin dan siblings rivalry yang ditampilkan di film ini relatable banget.
+ Alur ceritanya bagus. Bagian seremnya sedikit, tapi sekalinya muncul terasa serem banget.
+ Film ini nggak perlu nunjukin sosok menyeramkan untuk bisa membuat kita merinding. Setelah nonton film ini, kayaknya saya akan agak-agak takut lihat cahaya oranye selain dari matahari.
+ Tokoh Dr. Cask yang diperankan Ivan Shaw ganteng euy!
+ Posternya bagus!
+ Berhubung ini film tentang anak sekolah musik, jadi banyak lagu klasik enak buat didengar.

Yang saya suka dari film ini:
– Muka Sydney Sweeney dan Madison Iseman nggak mirip woi buat jadi anak kembar.

Rate: 4 out of 5
Film ini saya tonton di Prime Video.

Ini trailernya…

Review: Whiskey Tango Foxtrot (2016)

Film komedi perang ini sesuai judulnya Whiskey Tango Foxtrot alias WTF!!! Sembah sujud pada Tina Fey!

Film ini mengisahkan tentang seorang jurnalis perang dadakan Kim Baker (Tina Fey). Sebenarnya dia hanya seorang penulis naskah di sebuah stasiun televisi. Namun bosnya berkata kini stasiun televisi mereka kekurangan jurnalis buat ngepos di Afganistan, gara-gara semua jurnalis perang yang mereka punya dikirim ke Iraq. Maka Kim dikumpulkan bersama seluruh pegawai yang belum menikah dan tidak punya anak untuk diberi kesempatan mengajukan diri liputan ke Afganistan (WTF!).
Maka berangkatlah Kim ke Afganistan.
Di sana Kim tentunya mengalami culture shock, namun ia bisa bertahan berkat persahabatannya dengan para jurnalis perang lainnya. Tapi namanya jurnalis di daerah konflik, tentunya tidak semua berjalan dengan mulus.

Yang saya suka dari film ini:
+ Film ini penuh dengan dry comedy/deadpan yang bikin kita bengong mikir mau ketawa atau ga dengan ke-absurd-annya. Banyak banget adegan yang emang WTF banget!
+ Tina Fey junjunganku sangat pas memerankan sosok jurnalis Kim baker yang masih meraba-raba lapangan tapi nggak takut.
FYI tokoh Kim Baker ini benaran ada. Namanya Kim Barker, penulis buku The Taliban Shuffle: Strange Days in Afghanistan and Pakistan. Bukunya bisa dibeli di sini.
+ Margot Robbie di film ini jadi kelihatan cuantik banget. Padahal kalau di film-film lain saya ngeliat dia kayak cewek tampang tua.
+ Lumayan banyak dapat insight dan gambaran susah senangnya jadi jurnalis perang.
+ Film ini cukup bertabur bintang. Antara lain, Billy Bob Thornton, Alfred Molina, dan Martin Freeman.
+ Oiya, Martin Freeman di film ini jadi cowok yang charming banget. Sangat berbeda dengan Martin Freeman di film The Hobbit.
+ Set dan lokasinya bagus! Kayak di Afganistan beneran.

Yang saya kurang suka dari film ini:

– Banyak aktor barat yang jadi tokoh timur (Afganistan). Meski aktingnya bagus, tapi fakta mereka tidak menggunakan aktor berdarah Arab-Afganistan, ini membuktikan kalau film ini tidak disyuting di Afganistan langsung. Film ini disyuting di Santa Fe, Amerika Serikat.

Rate: 3,5 out of 5
Film ini saya tonton di Prime Video.

Ini trailernya…


Review: Sabrina (1995)

Saya merasa kalau film komedi romantis zaman dulu lebih bagus dari yang buatan era 2000-an.

Alkisah hiduplah keluarga Larrabee yang super tajir. Jauh sebelum Syahrini pamer kekayaan dan akhirnya nikah ama horangkayah beneran Reini Barack, keluarga Larrabee udah kaya nggak ketulungan. Keluarga ini punya dua orang putera, si sulung Linus (Harrison Ford) yang serius penerus bisnis keluarga dan David (Greg Kinnear) yang tampan yang hobi foya-foya.
Di atas garasi mobil keluarga LarraBee yang besar, tinggal lah seorang supir dengan puterinya bernama Sabrina (Julia Ormond). Sabrina memendam rasa pada David. Ia sering mengintip gerak-gerik David dari kejauhan. Sadar bahwa perasaan puterinya tidak akan terbalas oleh sang Tuan Muda, ayah Sabrina mengirimnya ke Paris, Perancis agar ia mencoba menjalani hidup yang baru.
Paris mengubah banyak diri Sabrina. Ia kini jadi gadis yang penuh percaya diri dan cantik memesona. Maka sepulangnya Sabrina dari Paris, wajar saja David jadi jatuh cinta. Padahal David sudah keburu tunangan dengan seorang dokter dari keluarga kaya. Jika pertunangan mereka dibatalkan, alamat merger bisnis senilai jutaan dolar antar dua keluarga itu ikut lenyap juga. Di sini lah Linus memutuskan untuk turun tangan. Linus telah memperhitungkan semuanya untuk menyelamatkan aset keluarga, namun ia tidak memperhitungkan kalau ia juga akan jatuh cinta pada Sabrina.

Yang saya suka dari film ini:
+ Kangen deh nonton film komedi romantis yang sebagus ini. Komedi romantis produksi era 90-an itu bagus-baguuuuus ceritanya. Nggak melulu tentang seks, melainkan memang tentang jatuh cinta.
+ Film ini remake dari film Sabrina 1954 yang diperankan oleh Audrey Hepburn. Saya belum nonton yang versi aslinya, tapi saya yakin lebih bagus versi yang 1995 ini. Karena film-film era Audrey Hepburn biasanya dialognya kaku.
+ Gambarnya baguuuuuuuus!
+ Keluarga Larrabee ini emang tajirnya ampun-ampunan, deh. Masa rumahnya Sabrina di atas garasi aja itu gede dan cakep banget kayak villa 0_o
+ Kulit putihnya Julia Ormond itu cantik banget. Putih porselen gitu. Atau bahasa Indonesianya putih pualam.
+ Gaunnya Sabrina pas dansa sama David itu juga baguuus banget deeeeh.
+ Komedinya tentang ‘terlalu tajir’ di film ini menghibur.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Harrison Ford kayak sengaja dibuat nggak cakep di film ini. Dan saya baru nyadar kalau hidungnya Harrison Ford itu miring.
– Julia Ormond meski cantik banget, tapi aktingnya biasa aja -_-
– Adegan ciumannya jelek. Nggak kayak orang jatuh cinta.

Rate: 5 out 5
Film ini saya tonton di Netflix. Di Prime Video kayaknya juga ada sih. Buat yang mau koleksi DVDnya, beli aja di sini.

Ini trailernya…


Review: Generation Wealth (2018)

Ternyata keinginan kita untuk jadi horangkayah itu dibentuk, sodara-sodari….

Film dokumenter ini fokus menceritakan tentang generasi 1980an sampai sekarang yang terfokus pada kekayaan dan ketenaran. Bagaimana uang bisa merusak kehidupan seorang anak. Bagaimana uang bisa merusak moral. Bagaimana memiliki banyak uang membuat kita tidak pernah merasa cukup.
Ini semua hal-hal yang udah diketahui oleh banyak orang. Tapi tetap aja pengetahuan itu nggak membuat orang terdasar bahwa fokus pada uang itu salah.
Siapa sangka fokus generasi kita pada uang dan ketenaran itu adalah bentukan. Semua berawal dari tahun 1971, saat pemerintah Amerika Serikat menghentikan emas sebagai standar aset atau sebagai mata uang perdagangan. Hal ini dilakukan untuk menghentikan resesi keuangan Amerika Serikat pada masa itu. Namun ini jugalah awal dari konsumerisme.
Banyak orang jadi bisa meminjam uang untuk mempertahankan gaya hidup yang sebenarnya mereka nggak mampu untuk bisa sampai ke standar hidup seperti itu. Pembentukan itu datang dari televisi dan media, jauh sebelum social media itu ada. Pembentukan itu juga sampai ke universitas ternama seperti Harvard. Ketika salah satu alumninya ditanya, “Apakah Harvard mengajarkan Anda untuk menjadi orang yang baik?”. Sang alumni tertawa dan menjawab, “Tidak, kami disetel dengan baik untuk mennguasai dunia”.

Yang saya suka dari film ini:
+ Ini adalah film yang cukup menyadarkan saya bahwa semua keinginan untuk menjadi horangkayah itu bukan sekadar tuntutan hidup. Tapi DIBENTUK! Okeh, kagak mau lagi saya percaya sama iklan, social media, dan segala doktrin ‘kesempurnaan’ yang mereka hembuskan. Hush…hush….sanaaah~~ *mengusir manjah alah Syahrini*
+ Narasumber di dokumenter ini beragam. Mulai dari anak ‘korban kekayaan’ orang tua, orang korban konsumerisme dan standar kesempurnaan, horangkayah tajir mampus gila-gilaan yang sekarang jatuh ‘missqueen’, para ahli sosial dan praktisi, sampai orang-orang yang terpaksa harus mengiikuti standar hidup horangkayah biar diterima oleh sekitarnya. Narasumbernya juga datang dari berbagai negara. Ini memvalidasi kalau kehausan kita akan uang itu semuanya terbentuk dari kebijakan pemerintah masing-masing negara.
+ Dari film ini saya jadi bisa melihat kalau uang itu nggak bisa beli taste. Segala lu punya limosin yang ada kolam renang dan helikopter pad-nya itu buat apa sik? Norak.
+ Suka sama music score-nya. Bikin betah nonton.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Film ini mengangkat tema yang sangat menarik. Tapi sang penulis dan sutradara Lauren Greenfield lumayan banyak menyisipkan tentang keluarganya yang menurut saya kurang nyambung dengan maksud awal film dokumenter ini.

Rate: 3,5 out of 5
Saya nonton film ini di Prime Video.

Ini trailernya….

Review: Downton Abbey (2010-2015)

Akhirnya saya bisa menyelesaikan serial ini. Ini akan jadi salah satu serial favorit saya sepanjang masa.

Serial ini menceritakan tentang keluarga aristokrat Inggris pada awal tahun 1920-an. Mereka adalah Lord Grantham (Hugh Bonneville) yang menikahi gadis kaya dari keluarga terpandang Amerika, Lady Cora (Elizabeth McGovern). Bersama mereka memunyai tiga orang putri, Lady Mary (Michelle Dockery) yang cantik jelita namun tinggi hati, Lady Edith (Laura Carmichael) yang wajahnya paling tidak menarik namun cerdas, dan Lady Sybil (Jessica Brown Findlay) yang baik hati dan rendah hati. Mereka semua tinggal di kastil bernama Downton Abbey.

Pada season pertama diceritakan tentang bagaimana kebingungan Lord Grantham dalam mencari pewaris gelar kebangsawanan dan kekayaannya. Karena ia tidak punya anak lelaki, secara adat Inggris di masa itu anak perempuan tidak diperkenankan mendapat harta warisan. Maka jalan satu-satunya Lady Mary harus mencari suami yang ‘sepadan’ untuk mewarisi kakayaan mereka. Disela upaya mencari jodoh yang tepat untuk Lady Mary, si sulung juga berkecimpung dalam siblings rivalry dengan Lady Edith. Persaingan kakak-adik ini sampai di tahap yang toxic. Mereka tidak segan ‘menghancurkan’ hidup dan masa depan satu sama lain.

Itu adalah konflik yang harus dihadapi oleh kaum ‘atas’ Downton Abbey. Beda lagi dengan kaum ‘bawah’nya, yakni para pelayan Downton Abbey. Mereka pun harus menghadapi konflik di keseharian mereka sendiri. Seperti geng antar pelayan, percintaan antar pelayan, persaingan antar pelayan agar selalu terlihat oleh kaum ‘atas’, gosip antar pelayan, sampai ambisi yang tak segan melukai majikannya sendiri.

Yang saya suka dari serial ini:
+ Julian Fellows sang kreator Downton Abbey ini sangat mahir dalam menulis naskah cerita yang bagus. Mulai saat ini semua karya dengan nama Julian Fellows akan masuk dalam watchlist saya.
+ Seluruh karakter memunyai porsi cerita yang saling menguatkan karakter lainnya. Semuanya memunyai peran penting. Layaknya sebuah rumah, masing-masing karakter punya peran daam menghidupi ruang tertentu di rumah tersebut.
+ Meski serial ini menceritakan kisah tentang satu abad yang lalu, namun serial ini memunyai kesamaan yang erat dengan kita di era milenium ini. Yaitu kegagapan dan adaptasi yang dipaksakan terhadap perubahan.


Para tokoh di Downton Abbey mengalami perubahan besar saat ditemukannya listrik dan telepon. Ada begitu banyak adaptasi yang harus mereka hadapi dengan bermunculannya berbagai alat mutakhir (listrik) di era itu. Ditambah inovasi baru juga memicu perubahan perilaku dan pola pikir manusia. Hal yang sama juga sedang terjadi pada kita dengan munculnya internet. Begitu banyak perubahan perilaku yang membuat kita enggan berubah namun terpaksa karena harus mengikuti zaman.
Konflik-konflik perubahan zaman seperti ini diceritakan di Downton Abbey dengan gamblang namun terasa dekat penonton masa kini.
+ Sangat suka dengan bagaimana serial ini menyisipkan kritik dan pesan pemberdayaan perempuan melalui dialog-dialognya.

Lady Edith


+ Selayaknya kaum aristokrat Inggris yang kalau ngomong itu harus pakai basa-basi dan anti straight to the point, banyak banget kalimat bagus untuk dipelajari dan bisa ditiru untuk negosiasi.
+ Suka banget dengan dialog yang dilontarkan oleh Violet Crawley (Maggie Smith) sebagai nenek yang judes, anti modernisasi, namun sayangnya semua nasehatnya benar.

Violet Crawley


+ Kita akan dibuat senang dan gemas kesal pada masing-masing tokoh di tiap seasonnya secara bergantian. Jadi jangan terlalu suka sama satu tokoh, ya.
+ Saya jadi belajar banyak tentang budaya dan adat Inggris pada zaman itu. Sampai sekarang saya masih takjub bagaimana kaum aristokrat zaman itu harus pakai gaun bagus (pesta) untuk tiap makan malam di rumah. Saya juga salut dengan loyalitas para pelayan keluarga bangsawan yang bisa melihat tuannya sebagai ‘dewa’.
+ BAJU-BAJUNYA BAGUS BANGET YA ALLAH! Tatanan rambut di era 20-an juga kece-kece pisan!

Lady Cora dengan salah satu bajunya yang cakeeep


+ Michelle Dockery itu kulitnya bagus, ya! Tapi setelah diperhatikan lagi, kulit orang-orang Inggris itu kayaknya emang bagus-bagus, deh. Warna putih porselen gitu.

Lady Mary

+ Salah satu impian saya adalah jalan-jalan ke Highclere Castle yang tak lain adalah kastil tempat syuting Downton Abbey. Soalnya baguuuuuus banget pemandangan di sekitar kastil itu. Semoga akan ada rezeki saya untuk bisa ke sana. Amiiien….

Highclere Castle
(Foto: Airbnb)

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Saya sempat trauma nonton season 4 episode 3. Episode ini sempat membuat gempar karena ‘went to far’. Episode ini bisa membungkus kejadian jahat banget dengan elegan. Tapi kita jadi bisa ikut merasakan apa rasanya jadi korban kejahatan tersebut.
– Serial ini tokohnya banyak, udah gitu mereka datang dan pergi pula. Jadi kalau kalian seperti saya yang sempat stop beberapa tahun sebelum akhirnya nonton sampai habis, kalian pasti bingung dengan nama-nama tokohnya. Harus nonton beberapa episode sebelumnya biar jadi paham lagi jalan ceritanya.
– Subtitle bahasa Indonesia di Prime Video suka jelek dan ngaco. Jadi sayang banget bahasa ‘tingkat tinggi’ kaum aristokrat itu tidak terjemahkan dengan baik.

Rate: 5 out of 5
Serial ini (akhirnya selesai) saya tonton di Prime Video

Ini trailernya…

Review: The Report (2019)

Adam Driver itu emang serius dalam berakting, ya. Tapi sayangnya………

Film ini berdasarkan kisah nyata tentang penyusunan laporan kegiatan terlarang CIA. Alkisah seorang petugas investigasi, Daniel Jones (Adam Driver), diminta oleh Senator Dianne Feinstein (Annette Bening) untuk menelusuri pelanggaran HAM oleh CIA. Maka Daniel Jones pun membentuk tim dan membuat kantor kecil di dalam gedung CIA. Di sana ia membaca ribuan dokumen CIA yang akhirnya ia menemukan bukti bahwa biro spionase Amerika Serikat memang melakukan pelanggaran HAM. Mereka tercatat telah menyiksa para tahanan untuk mendapat informasi mengenai ancaman terorisme yang tidak pernah terbukti ada.
Namun begitu tim Daniel Jones mendapat bukti, intrik politik malah menghalangi mereka untuk mengungkap hal ini ke publik. Apa yang harus dilakukan Daniel Jones?

Yang saya suka dari film ini:
+ Adam Driver itu kalau akting emang serius, ya.
+ Banyak fakta yang baru saya ketahui mengenai pelanggaran HAM dari film ini. Lumayan nambah ilmu.
+ Dandanan Annette Bening keren banget buat jadi nenek-nenek terpelajar
+ Untuk pertama kalinya saya melihat Tim Blake Nelson berperan jadi warga negara Amerika yang normal dan pintar. Padahal dia selama ini rajin banget dapat peran polisi kampung dan selalu kelihatan o’on.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Ini film serius dan lumayan bertele-tele. Saya aja nontonnya nyicil selama beberapa hari karena di tengah-tengah film suka bosan. Ini film tipe film yang bikin mikir, sih. Jadi kalau lagi pengen nyari film buat menghilangkan stres dan rileks, sebaiknya cari film yang lain aja, ya.
– Ini film tentang politik Amerika banget. Jadi kalau nggak paham dengan kasus dan situasi politik Amerika, kita jadi nggak bisa merasakan urgensi dan pentingnya perjuangan seorang Daniel Jones.
– Make up untuk Annette Bening keliatan pas banget buat jadi nenek-nenek. Tapi begitu make up buat jadi tahanan Arab keliatan banget jenggot palsunya.
– Para tokoh tahanan Arab yang di film ini nggak pas semua. Nggak ada yang bertampang Arab beneran.
– Adam Driver itu kalau akting selalu serius dan kelihatan banget berusaha total. Sayangnya…………………………………………. mukamu itu rautnya kocak, Mas Adam. Sejauh ini saya baru nonton 4 film Adam Driver (Silence, BlacKkKlansman, Marriage Story, The Report). Semuanya saya melihat kalau Adam Driver ini serius dalam berakting. Tapi mohon maaf nih ya, Mas Adam tampangmu itu ‘kocak’ kayak orang yang mau ngelawak. Jadi begitu dia berusaha tampil jadi pribadi yang serius, yang saya lihat justru dia bertransformasi jadi sosok komedian yang lagi ngambek nggak mau banyak omong.
Doh, maaf ya kalau saya banyak komentar tentang tampang orang (macam tampang saya ganteng selangit aja. Padahal tampang saya kan cantik :P). Tapi yang namanya film itu kan visual, ya. Jadi hal-hal seperti ‘melihat kemasan luar’ ini memang berpengaruh. Setidaknya berpengaruh di saya.
– Nggak ada klimaks yang bikin puas setelah menonton film ini.

Rate: 2,5 out of 5
Saya nonton film ini di Prime Video

Ini trailernya…