Review: Unsane (2018)

Film Unsane lumayan bikin saya menebak-nebak mana realita yang sebenarnya.

Alkisah seorang perempuan bernama Sawyer Valentini (Claire Foy) baru pindah ke sebuah kota baru dengan pekerjaan barunya. Sawyer sebenarnya pindah ke kota tersebut karena kabur dari masa lalunya yang bikin trauma. Sawyer tidak ada masalah dengan pekerjaannya, namun ia selalu merasa ‘masa lalu’nya selalu mengejarnya. Ditambah ia juga belum memiliki teman di kota tersebut.
Karena merasa tertekan, akhirnya Sawyer menghadap ke psikiater untuk memulihkan dirinya. Begitu ia keluar dari ruang klinik psikiater, ia ditahan untuk tidak pulang. Ia digiring ke ruang klinik lainnya, lalu ‘dipaksa’ untuk rawat inap selama seminggu di bangsal rumah sakit khusus pasien gangguan jiwa. Apakah benar Sawyer tidak sehat jiwanya? Apakah ‘trauma masa lalu’ Sawyer beneran ada?

Yang saya suka dari film ini:
+ Film ini menggiring saya untuk terus menebak sampai apa yang sebenarnya terjadi pada Sawyer. Apakah ia beneran ‘sakit’ atau ia ‘disakitkan’? Cara ia membangun suspense-nya bagus.
+ Akting Claire Foy apik. Claire Foy namanya melambung saat ia memerankan sang ratu muda di serial The Crown season 1. Sedangkan di film ini ia memerankan Sawyer seorang perempuan Amerika. Ia berhasil membuat kita lupa dengan Claire Foy di serial The Crown. Hilang sudah semua keratuan Inggrisnya. Hilang blaaaas.
+ Gloomy-nya dapat banget. Suasana gloomy ini yang berkontribusi banyak dalam membuat saya menebak-nebak ‘apakah benar Sawyer sakit’?

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Film ini dibuat pakai iPhone ya gaes. Walaupun teknik ini yang membuat film ini mendapat pujian, tapi saya sih kurang menikmatinya kalau dari gambar. Kayak ngaruh ke sound dan terasa statis aja gitu. Warnanya juga kurang cakep jadinya.

Tapi sekarang kita jadi tahu kalau kita semua bisa bikin film hanya dengan iPhone.
Pakai iPhone yang asli yang gaes. Selalu beli dari penjual resmi, ya.

-Meski akting Claire Foy ciamik, tapi beberapa kali dia kayak keserimpet ngeluarin logat Inggrisnya.
-Si antagonisnya klise banget karena susah dikalahin. Udah diberantemin, eh bangun lagi. Udah kabur jauh, eh muncul lagi. Set dah, penjahat apa debt collector lu?

Rate: 3,8 out of 5
Saya nonton film ini di Mola TV

Ini trailernya…

Review: The Kitchen (2019)

Cuma di The Kitchen wilayah Hell’s Kitchen dipegang sama ibu-ibu.

Film ini mengisahkan tentang tiga orang istri gangster yang di wilayah Hell’s Kitchen. Ada Kathy Brennan (Melissa McCarthy) yang keibuan dan suaminya penyayang, ada Claire (Elisabeth Moss) yang sering mengalami KDRT jadi samsak suaminya, dan ada Ruby (Tiffany Haddish) yang sering diremehkan suaminya karena ia perempuan kulit hitam.
Pada suatu hari para suami mereka tertangkap basah oleh polisi saat sedang merampok sebuah toko. Singkat cerita ketiga suami itu dijebloskan dalam penjara untuk ditahan selama beberapa tahun. Anggota gangster lainnya berjanji untuk membantu menafkahi para istri. Sayangnya uang yang diberikan terlalu sedikit. Kathy dan Ruby menghadap para gangster untuk meminta uang tambahan, eh mereka malah diremehin. Sejak saat itu mereka bertiga memutuskan untuk membentuk kelompok sendiri. Mereka meyakinkan para pengusaha kecil di lingkungan Hell’s Kitchen untuk setoran ke mereka dengan imbalan tempat usaha mereka akan aman dari gangguan apapun. Usaha mereka berhasil, tapi tentu saja para gangster tidak suka dengan tindakan mereka ini…

Yang saya suka dari film ini:
+ Melissa McCarthy itu nggak pernah fail meranin peran apapun sejauh ini. Semua orang tahu dan jadi ingat dengan Melissa berkat perannya sebagai chef baik hati, ngegemesin, namun slebor di serial Gilmore Girls. Tapi Melissa selalu berhasil keluar dari karakter apapun yang dia perankan. Sehingga semua karakter Melissa yang ia perankan rasanya nggak pernah sama. Nggak kayak Jennifer Aniston yang selalu masih ada ‘Rachel’nya di peran apapun yang ia mainkan.
+ Suka banget dengan karakter tukang pukul yang dingin yang diperankan oleh Domhnall Gleeson. Domhnall ini yang berperan jadi Bill Weasley abangnya Ron Weasley di film-film Harry Potter, lho.
+ Saya suka dengan tema feminis dan girl power dari film ini. Ada satu dialog mengesankan yang dilontarkan Kathy saat berantem dengan suaminya. Di situ diperlihatkan bagaimana insekuritas dari sebuah rumah tangga itu umumnya datang dari lelaki yang kegedean egonya.
+ Rambut dan kostumnya saya suka banget. Apalagi film ini ceritanya pas era 70-an, era fashion kesukaan saya.
+ Penulisan naskahnya bagus. Sampai banyak yang mengira kalau film ini adalah berdasarkan kisah nyata. Padahal film ini hanya adaptasi dari komik DC Vertigo

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Set dah Tiffany Haddish, akting lo jelek banget dah ah. Kayak takut banget sik keliatan muke lo jadi jelek. Sok galak lo juga jadi aneh. Serba nanggung gitu. Tiffany…Tiffany…. Jangan gitu lagi ya.
– Lu lagi Elisabeth Moss. Hadeeh 11-12 lu ye ama si Tiffany. Kalau akting temen lo jelek, ya jangan diikutin dong. Harus punya pendirian gitu jadi orang. Walau akting Elisabeth nggak sejelek Tiffany, tapi karakter Claire itu nggak pas banget buat dia. Ini maaf-maaf ya kalau ngomongin fisik, tapi di film ini dia digambarkan sebagai cewek cantik yang selalu digodain orang. Tapi…tampangnya sendiri nggak secantik itu šŸ˜¦ Cantikan Tiffany kemana-mana. Elisabeth juga nggak berhasil mengeksplor karakter Claire yang dulu lemah karena jadi korban KDRT suami kemudian menjadi seorang perempuan pemberani. Transformasi nggak berasa gitu.

Rate: 3,5 out of 5
Film ini saya tonton di Netflix

Ini trailernya…

Review: The Swarm (2020)

Penyuka film thriller monster/hewan, pasti suka dengan film The Swarm ini.

Alkisah hiduplah seorang single mom bernama Virgine Hebrard (Suliane Brahim). Ia hidup di perdesaan Perancis dengan dua orang anaknya yang beranjak remaja. Virgine punya peternakan belalang yang menjadi sumber penghasilan utama keluarganya. Belalang ini bisa diolah jadi tepung berprotein tinggi dan juga pakan bebek.
Namun kini usaha Virgine mengalami penurunan. Ia nggak bisa mengejar permintaan pasar karena belalangnya tidak berkembang biak sebanyak yang seharusnya. Di tengah kefrustrasiannya Virgine tanpa sengaja menemukan cara membuat belalangnya bereproduksi lebih banyak dan lebih cepat. Yaitu dengan memberi pakan darah. Dari situlah jiwa haus darah Virgine mulai muncul…

Yang saya suka dari film ini:
+ Membangun konfliknya bagus. Kita jadi paham dengan permasalahan masing-masing tokoh
+ Pemandangan pedesaan Perancis itu bagus ya. Tapi saya memang selalu suka alam pedesaaan Eropa, sih. Jadi kayaknya poin ini terlalu subyektif hahaha
+ Saya selalu suka dengan perfilman Perancis yang nggak mengedepankan perempuan cantik dan seksi untuk jadi tokoh utama yang disukai atau menghalangi si tokoh utama mendapatkan cinta. Sejauh ini penggambaran tokoh perempuan di sinema Perancis selalu beragam dan nggak mematok standar kecantikan tertentu. Hal ini membuat kisah dan penggambarannya jadi terasa nyata.
+ Scoringnya oke lah…
+Banyak pengambilan gambar belalangnya yang bagus banget. Sampai bikin saya mikir, ini belalang beneran nggak ya?

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Kurang serem sih sejujurnya. Mungkin karena saya penyuka horor hantu kali ya. Jadi thriller-thriller semacam ini terasa datar aja aja di ane.
-Ini tuh tipe-tipe film hening minim dialog khas festival sih. Jadi mungkin akan terasa bosan dan lamban.
-Endingnya gitu doang -_-

Film ini saya tonton di Netflix.
Rate: 3 out of 5

Ini trailernya…

#film #reviewfilm #reviewTheSwarm #reviewnetflix #reviewKrili #thriller #TheSwarm #filmPerancis #Krilianeh

Saatnya Bercerita Tentang Kesehatan Mental

Cerita nggak ya….

Bingung juga mau mulai ceritanya dari mana…

Ya udahlah, saya coba tulis aja apa yang ada di pikiran saya. Kalau terkesannya meracau nggak jelas dan jadi cerita kemana-mana, mohon maaf sebelumnya ya.

Jadi saya itu mengidap salah satu dari masalah mental. Nama masalah mentalnya apa, saya nggak tahu pasti. Soalnya saya nggak melanjutkan terapinya karena satu dan lain hal. Gejalanya adalah SELALU nggak merasa berharga, terus kejadian lama yang membuat malu (versi saya, padahal buat orang lain kayaknya biasa aja) terus-menerus keputar di otak tanpa tahu cara untuk menghentikannya. Karena kejadian memalukan/nggak nge-enakinnya muter terus di kepala, ujung-ujungnya saya merasa nggak berharga. Ditambah kita sekarang ini hidup di era media sosial yang sangat mudah membuat hidup kita ini nggak berharga karena kita nggak secantik mereka, nggak sekaya mereka, nggak sepopuler mereka-mereka yang ada di Instagram.

Pertama kali saya terapi itu pas tahun 2018 kalau nggak salah.

Eh tunggu, baiknya saya ceritakan dulu akar permasalahan saya bisa jadi kena masalah mental ini. Akar permasalahan saya adalah keluarga, terutama perlakuan dari almarhumah ibu saya. Ibu saya adalah orang yang sangat-sangat-SANGAT dominan. Maaf ya saya nggak bisa menceritakan perlakuannya secara spesifik.

Singkat cerita, perlakuan ibu saya itu membuat saya mengidap masalah mental ini. Trauma masa kecil akan berpengaruh sampai dewasa itu memang benar adanya, sodara-sodara. Saya bukti nyatanya.

Pernah ada masanya saya segitu nggak tahannya dengan perlakuan ibu, saya berharap saya segera mati. Saya sudah sering memikirkan bunuh diri, tapi saya nggak punya keberanian untuk melakukannya. Meski begitu, kalau sampai waktunya saya akan bunuh diri, saya sudah tahu metode apa yang akan saya gunakan, bagaimana setting ruangannya, sampai lagu pengiring untuk menguatkan mental saya mengakhiri nyawa. Lucu ya? Saya tuh perempuan yang nggak pernah punya konsep dream wedding, tapi saya punya konsep dream suicide šŸ˜€

Masalah mental itu saya sembunyikan bertahun-tahun. Saya tutup dengan pribadi ceria yang cenderung quirky. Sehingga orang tahunya saya adalah orang yang nggak pernah ‘susah’. Ketawa terus. Ngbanyol terus.

Sampailah saya melahirkan si Kriby. Seperti yang kalian ketahui, mengurus anak itu sangat melelahkan. Apalagi kalau kita mengurus sendiri tanpa bantuan nanny/suster. Ada masa-masa saya frustasi karena kelelahan dan akhirnya saya melampiaskan kemarahan saya ke Kriby. Tanpa sadar saya telah berubah menjadi ibu saya. Saya menjadi monster yang mewariskan luka pada anak saya. Saya tidak ingin anak saya mengalami hal yang sama. Saya harus berubah. Tapi gimana caranya?

Akhirnya saya pendam lagi, pendam lagi, pendam lagi sambil sebisanya saya mengontrol emosi dan ucapan saya ke Kriby. Sampai akhirnya pada tahun 2018 saya berhenti dari sebuah pekerjaan yang saya sangat suka pekerjaannya. Tapi bosnya gila. Bos saya kala itu perempuan yang dominan nggak jelas, insecure parah, playing victim, dan suka mempermalukan hasil kerja kami di hadapan klien. Saya jadi merasa seperti berhubungan lagi dengan sosok ibu saya versi kantoran. Tentu saja karyawannya banyak yang tidak betah. Bahkan beberapa di antara kami mengalami masalah kesehatan seperti asam lambung rajin naik karena teror dominasi yang begitu menekan. Saya sendiri selama kerja hitungan bulan sama bos gila itu, pernah beberapa kali dada kiri saya sakit mendadak kayak ditusuk dan nggak bisa membuat saya nafas. Kalau saya nafas, sakitnya akan tambah menusuk. Jadi saya harus diam selama beberapa detik sampai serangannya mereda sendiri.
Saya kira itulah yang dinamakan serangan jantung. Saya langsung menghadap dokter spesialis jantung. Kata dokter, jantung saya sehat-sehat aja. Tapi saya maksa diperiksa secara menyeluruh. Saya kemudian disuruh cek jantung yang pakai lari di treadmil. Hasil diagnosisnya tetap sama: jantung saya baik-baik aja.
Si dokter kemudian menyimpulkan kalau mungkin itu gas lambung yang naik pada saat stres dan menusuk ke arah jantung. Jadi saya harus kelola stres saya.

Di situ saya kepikiran untuk resign, karena sadar kalau si bos gila itu nggak baik untuk kesehatan mental dan fisik saya. Sempat ada keraguan karena saya butuh uangnya, tapi sampailah satu kejadian yang memang menurut saya sudah keterlaluan, saya kemudian memutuskan untuk resign. Si bos gila tentu saja setelah itu playing victim karena merasa dia adalah korban ‘pengkhianatan karyawan’nya. Saya kemudian memutuskan untuk ngeblock semua chat dan medsos si bos demi kesehatan mental saya.

Tidak sampai satu tahun kemudian saya dengar kalau perusahaan itu tutup. Saya yakin si bos pasti playing victim lagi dengan menyalahkan pandemi. Padahal semua karyawannya dan mungkin kliennya juga tahu kalau perusahaannya tutup karena kelicikan dan ketidakberesan si bos dalam mengelola usahanya. (Oiya, saya belum cerita ya kalau dia juga licik? Iya, banyak orang yang pernah kerja sama dengan si bos mengakui kalau mereka melihat kelicikan di bisnisnya).

Setelah saya resign dan tinggal di rumah, saya pikir kesehatan mental saya akan membaik. Ternyata tidak semudah itu, Ferguso. Karena setelah dari perusahaan itu, saya masih mendapat kabar-kabar yang kurang enak. Terutama saat saya tidak diundang untuk launching produk yang saya bantu garap. Bisa dikatakan 60-70% produk itu dikenal di pasaran adalah berkat andil tangan saya sendiri. Jadi begitu saya melihat di medsos kalau produk itu sudah launching tanpa saya diberitahu, saya sedihnya bukan main. Tapi tentu saja, saya pendam.

Lalu kesehatan mental saya kena dampak lagi lantaran kekhawatiran diri saya karena tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Yah… Namanya juga selama ini rumah tangga saya terbiasa dengan dua pintu penghasilan dari saya dan suami, tapi sekarang cuma ada satu pemasukan dari suami saya aja. Saya stres, padahal suami Si Punk Rock nggak pernah sekalipun memaksa saya untuk terus bekerja. Dia malah selalu mendukung apapun keputusan saya. Namun gelombang merasa tidak berguna saya datang lagi. Lama-lama gelombangnya makin besar dan makin menggulung sampai saya merasa tidak tahan lagi.

Saya memutuskan untuk ke mendaftar ke psikiater di rumah sakit dekat tempat tinggal saya. Saya ke sana diam-diam tanpa diketahui Si Punk Rock, padahal selama ini saya selalu cerita semuanya ke Si Punk Rock.
Kenapa saya tidak cerita? Karena saya malu, saya takut dia jadi menyesal menikahi istri yang bermasalah, saya takut dianggap lebay ‘yaelah gitu doang dipikirin’. Jadi lebih baik saya pendam aja sendiri.

Sesampainya saya di ruang psikiater itu, saya menghabiskan waktu sejam hanya untuk menangis sambil berusaha bercerita apa yang ada di pikiran saya. Si psikiater mengatakan kalau saya derpresi akut. Si prikiater juga menjelaskan kalau itulah penyebab saya tidak lagi mengerjakan hobi (hobi saya ngeblog, FYI. Jadi sekarang Anda tahu, kalau blog ini jarang update, maka saya sedang berada di episode kesehatan mental yang tidak baik).

Si psikiater mengatakan saya harus ikut terapi untuk beberapa kali pertemuan. Ia kemudian meresepkan saya obat penenang untuk saya minum selama seminggu. Saya keluar dari ruang psikiatri itu dengan perasaan agak lega dan siap untuk pasang tampang ceria ke hadapan dunia lagi. Sampailah saya harus bayar biaya konsul dengan psikiater itu….

HAPAH??????? 750 RIBU HANYA UNTUK NANGIS-NANGIS DOANG??????

Obatnya berapa ya kira-kira? Saya ke apotek rumah sakit, lalu…

HA???? 7 PIL DOANG HARGANYA 300-AN RIBU????? Kok jadi orang depresi itu mahal banget sih???????

Di situ gelombang pemikiran negatif saya mulai menghantam lagi. Saya nggak kuat, pertahanan saya pecah, saya akhirnya mengabari Si Punk Rock dan menceritakan semuanya. Dia terpana karena dia tidak pernah tahu kalau selama ini diam-diam pikiran saya berkecamuk segitunya. Dia kemudian menemani saya ke apotek di Blok M Square yang terkenal menjual obat-obatan dengan harga murah.

Apotek di Blok M Square itu dikelola oleh seorang bapak-bapak chinese yang ngomongnya suka nyablak. Kadang suka lucu kalau melihat tingkah beliau itu. Begitu si bapak itu membaca resep saya, dia dengan gaya nyablaknya langsung mengembalikan resep saya “Waduh, gak jual kita obat beginian!”

Mungkin waktu itu mental saya segitu down-nya, sampai-sampai perlakuan bapak apoteker itu sangat menusuk hati saya. Saya tahu dia tidak berniat buruk, cuma yang saya tangkap waktu itu adalah “Wah obat buat orang gila nih. Gak jual gw obat buat orang gila.” Jadi saya down lagi, tapi saya pendam.

Saya coba ke apotek lainnya di sekitaran Blok M Square, akhirnya ketemu apotek yang menjual obat tersebut tapi data diri saya dicatat. Soalnya itu bukan obat yang bisa dijual sembarangan karena takut disalahgunakan.

Seminggu kemudian, hari-hari saya terasa membaik berkat obat itu. Pikiran saya yang biasanya berisik dengan kritik diri sendiri yang bertubi-tubi, seketika hening. Saya ingat, waktu itu saya bisa duduk seharian di kamar meghadap jendela tanpa memikirkan apa-apa. Buat orang yang pikirannya selalu berkecamuk seperti saya, masa-masa seperti itu sungguh langka. Si Punk Rock di kantor, Kriby di sekolah, cuma ada saya di kamar dengan pemikiran yang kosong menikmati hari berlalu tanpa beban pikiran apapun.

Setelah obatnya habis, harusnya itu adalah jadwal saya menghadap si prikiater lagi. Tapi saya urungkan karena nggak kuat bayar hahahahaha. Saat itu saya tidak punya penghasilan dan saya nggak tega minta Si Punk Rock untuk membiayai pengobatan ‘otak ga beres’ saya. Biarlah uangnya dipakai untuk yang lebih penting dulu, seperti sekolah si Kriby dan biaya-biaya rumah tangga lainnya. Kesehatan mental saya sepertinya masih bisa ditunggu. Tokh, saat itu saya sudah merasa membaik.

Untuk beberapa lama kesehatan mental saya tidak terlalu mengganggu. Perasaan suka merasa tidak bergunanya suka datang dan pergi, tapi masih bisa saya tahan. Perasaan suka pengen nangis mendadak karena merasa nggak bergunanya juga masih bisa saya sembunyikan, baik dari Si Punk Rock sekalipun. Pikiran buruk yang selalu menghujat diri sendiri ini pun masih suka datang dan pergi, tapi masih bisa saya tahan. Saya jago menahanlah pokoknya.

Hodor! Hold the door! (fansnya Game Of Thrones pasti paham)

Lalu datanglah pandemi Covid The Bitch ini. Seperti sebagian besar pekerja lainnya di dunia ini, saya jadi merasakan yang namanya work from home (WFH). Oiya, saat itu saya sudah mendapat pekerjaan baru di sebuah startup. Saya jadi menghadapi rutinitas zoom meeting yang nggak putus. Di situ saya kembali merasakan kelelahan mental. Saya merasa harus menghadap lagi ke psikiater. Tapi nggak berani tatap muka ke rumah sakit takut Covid dan semacam nggak rela juga ngabisin duit 700an ribu buat nangis doang.

Untungnya ketemulah saya dengan psikolog online dari Ibunda.id. Harga konselingnya terjangkau, cuma sekitar 200 ribuan per sesi. Masih masuk akal lah. Itung-itung kayak konsul sama dokter spesialis yang harganya juga segituan.

Pas konseling di Ibunda.id itu saya mengulang nangis yang sama. Tapi kali ini sudah lebih teratur mau ngomong apa dan udah bisa mikir mau nanya apa aja sama si psikolog. Si psikolog bilang kalau saya itu punya emotional distress.

Emotional distressĀ adalah keadaan tidak menyenangkan yang dapat mengakibatkan berbagai kerugian, umumnya ditandai dengan gejala depresi dan/atau kecemasan. Terdapat beberapa variabel anti-stres yang terbukti mampu mengurangiĀ emotional distress, dua di antaranya adalahĀ self-esteemĀ danĀ locus of control.

Jurnal Universitas Tarumanegara oleh Lukas Juliyanto, P. Tommy Y. S. Suyasa

Kalau baca definisi di atas, saya merasa wajar kena emotional distress, karena self-esteem saya rendah (ingat kan kalau saya selalu merasa nggak berharga?) dan locus of control alias kendali saya terhadap situasi yang sedang saya hadapi juga rendah. Pantesaaaaan!

Si psikolog mengatakan kalau permasalahan yang saya hadapi ini bisa ‘sembuh’ kalau saya mau ikut terapi. Tapi sayangnya psikolog itu nggak bisa kasih terapi obat. Hanya psikiater yang bisa kasih saya terapi yang saya butuhkan. (FYI, psikolog dan psikiater itu beda. Psikiater itu bisa dibilang dokter di bidang kejiwaan. Sedangkan psikolog itu non dokter yang mendalami perilaku dan perasaan seseorang.)

Intinya, saya harus balik lagi ke psikiater. Tapi dompetku menjerit. Ditambah saya baru aja kena PHK Covid gelombang tiga dari kantor terakhir. Ya sudahlah, bismillah saya nggak kumat hahahaha

Kalau ditanya bagaimana kondisi saya saat ini, saya bisa jawab dengan lantang: alhamdulillah saya baik-baik saja. Saya memang belum lama ini kehilangan pekerjaan saya, tapi berada di perusahaan yang kondisinya sudah tidak sehat juga buat apa? Pengurangan-pengurangan karyawan yang mereka lakukan di gelombang-gelombang sebelumnya membuat saya jadi dapat load pekerjaan yang sudah jauh dari bidang saya. Tapi saya tetap harus mengerjakan karena SDMnya udah pada nggak ada.

Jadi begitu akhirnya kena giliran saya yang harus di-let go ama perusahaan, saya justru merasakan kelegaan yang luar biasa. Terutama lega banget karena nggak ada lagi zoom meeting yang nggak putus sampai jam 11 malam. Saya jadi bisa merasakan rumah saya memang RUMAH, bukan lagi tempat kerja. Saya jadi bisa masak lagi, padahal selama WFH setahun kemarin buat masak mie instan aja rasanya susah banget nyari waktunya. Oiya, selama WFH setahun kemarin, Kriby jadi tambah kurus, lho. Karena dia makannya nggak variatif karena terpaksa beli makanan terus. Ironis sekali, bukan? Saat ibunya ada di rumah untuk WFH, anak justru tambah kurus karena ibunya nggak punya alokasi waktu buat masak.

Dari segi keuangan yang dulu menjadi salah satu beban pikiran saya, kini alhamdulillah pekerjaan Si Punk Rock masih baik-baik saja. Karena saya lebih rajin masak, alhamdulillah keuangan kami jadi lebih tertata. Masak sendiri itu memang jauh lebih hemat, ya.

Alhamdulillah saya saat ini baik-baik saja. Alhamdulillah….
Kalau pun suatu hari penyakit mental saya kumat, saya merasa aman karena saya bisa menghadap ke Ibunda.id itu kapanpun. Meski tidak menyembuhkan secara total, tapi mengetahui bahwa ada wadah yang bersedia menolong, bagi saya itu sudah lebih dari cukup. Setelah bertahun-tahun saya memendam semuanya sendiri, punya tempat mengadu itu rasanya sangat melegakan.

Blog ini adalah salah satu bukti nyata kalau saat ini saya baik-baik saja. Sudah terlalu lama blog ini saya cuekin. Dulu ngeblog adalah salah satu wadah/hobi saya untuk relaksasi. Lalu saya hilang minat. Saya kira waktu itu saya lagi malas menulis aja, eh ternyata itu depresi hahaha.
Kini saya bertekad untuk kembali aktif untuk ngeblog. Saya akan berusaha untuk mengisi blog ini dengan berbagai review film dan tulisan-tulisan lainnya. Mudah-mudahan blog ini bisa membawa manfaat untuk banyak orang.

Oiya, saya mau mengucapkan terima kasih secara khusus pada Riani Sovana. Riani adalah teman saya, seorang penyanyi yang juga hidup dengan masalah kesehatan mental. Ada satu postingan Instagram Riani yang begitu membuka mata saya. Ini postingannya. Baca captionnya. Agak panjang emang…

Part 1
Part 2
Part 3-end

Postingan ini begitu menguatkan saya untuk berani menuliskan blog ini. Dari Riani saya jadi tahu betul kalau orang-orang yang beneran punya masalah mental tuh justru akan diam-diam aja. Karena kami tuh malu dan kami ingin hidup kami baik-baik aja. Nggak akan tuh koar-koar di social media cari perhatian kalau dia punya masalah mental lalu minta semua masalah yang dia perbuat dimaklumi. Itu mah glorifikasi bocah-bocah jaman sekarang aja biar dianggap ‘beda’ dan kenakalannya dimaklumi.

Ingat Marshanda dengan video-video aneh dulu? Ada nggak di video itu dia bilang ‘gw ini punya mental health. Maklumi gw’. Nggak ada kan? Beda banget sama beberapa influencer hits zaman now yang tiap kenakalannya dihujat, langsung bawa-bawa mental health biar dikasihani, dimaafkan lalu dimaklumi. Please deh, kalau lo beneran ada mental health, lo justru akan mati-matian meyakinkan orang kalau lo baik-baik aja. Bukan malah minta pemakluman.

Buktinya lihat aja tuh postingan Riani, postingannya nggak berbau minta dikasihani, justru ia ingin ngasih tahu ke orang kalau dia udah kuat. Karena bagi penyandang masalah kesehatan mental itu, kami ingin dilihatnya kuat, normal, dan baik-baik aja. Kami justru nggak pengen nambah-nambahin depresi dengan dikasihani.

Terima kasih ya Riani udah bikin postingan itu. Berkat postingan itu, saya jadi berani untuk posting blog ini. Saya harap blog saya yang ini bisa juga jadi menguatkan kalian di luar sana yang mempunyai masalah kesehatan mental tapi malu untuk mencari bantuan. Yuk, ke psikolog atau ke psikiater. Mengutip omongan psikolog dari Ibunda.id…

Di dunia psikologi, kami menyebut kumat itu sebagai ‘episode’. Akan ada masanya kamu selalu kedatangan episode itu. Sekarang tinggal bagaimana caranya kamu menghadapi saat episode itu datang.

Yuk, bisa yuk šŸ™‚

Foto header: Sandy Sims dari Unsplash

Baikan Yuk

Beberapa waktu yang lalu saya dan Si Punk Rock ‘berantem’. Kami tuh tipe pasangan yang berantenya diem-dieman.

Perkaranya apa? Sepele banget. Intinya sih kami lapar hahahaha…

Kami sama-sama belum makan, tapi sama-sama sibuk juga dengan pekerjaan masing-masing. Lalu kami sama-sama saling mengandalkan satu sama lain untuk menyiapkan makanan, entah itu masak ataupun beli di luar. Saya pikir, Si Punk Rock akan pergi beli makanan di luar. Si Punk Rock pikir, saya akan masak. Ya gitu deh, kurang komunikasi, tahu-tahu pecahlah Perang Bubat.

Singkat cerita, kami diem-dieman semalaman. Besok paginya juga masih diem-dieman.
Terus pas agak siang, Si Punk Rock pergi nggak pamit. Bawa motor entah ke mana.

Akhir-akhir ini memang Si Punk Rock kalau lagi sebel atau marah suka pergi mencari kegiatan di luar rumah. Sedih sih sebenarnya ditinggal pergi tanpa dipamitin. Saya kan khawatir kalau dia kenapa-kenapa di jalan. Tapi ya udahlah mau gimana… Makin bertambahnya usia pernikahan, kita harus makin banyak menoleransikan kebiasaan dan sifat pasangan.

Setengah jam kemudian Si Punk Rock balik. Saya lihat dia nenteng kopi Tuku. Oooh dia keluar beli kopi ternyata. Memang persediaan kopi suci dia udah habis sih. Yo wiss lah, yang penting dia udah pulang.

Tahu-tahu dia nyodorin ini lengkap dengan tulisannya….

“Baikan yuk”. Lengkap dengan logo ‘peace’.

Si Punk Rock beliin minuman saya, Es Cokelat Animo! Tentu saja saya langsung luluh. Saya ini perempuan mandiri yang pekerja keras, cerdas, dan tahan banting. Tapi kalau udah disogok makanan, saya manut. Simple. Nggak usah diperdebatkan lagi hal-hal prinsipil seperti ini ya.

Tapi terlepas saya disogok, berantem sama Si Punk Rock itu emang nggak enak tau. Si Punk Rock itu bukan sekadar suami, melainkan dia itu juga sahabat terbaik saya. Saya apa-apa ceritanya ke dia. Kalau nemu hal seru apa, saya pasti pengennya cerita langsung ke Si Punk Rock. Makanya kalau berantem diem-dieman sama Si Punk Rock itu rasanya nggak enak banget. Saya jadi kehilangan tempat bercerita dan mengadu.

Makasih ya Punk Rock buat sogokan dan uluran perdamaiannya. ILY

Review Beauty: Logi Treatment

Sesekali review produk kecantikan (beauty) boleh ya. Ini adalah review khusus untuk yang berambut keriting.

Dan karena malas nulis, saya posting aja video-video reviewnya. Cekidot….

Transkrip:
Oke, jadi buat sobat-sobat keritingku, gw mau promo sebuah product yang bagus banget. Karena product ini bagus, maka gw mau sebarin ke teman-teman yang berambut keriting. Semoga ini membantu.

Transkrip:
Ini dia product-nya. Namanya Logi Treatment Deep Conditioning Hair Oil. Ini bisa buat macam-macam. Ntar gw fotoin ya bisa buat apa aja.
Ini tampak depan botolnya Logi Treatment
Ini tampak belakangnya
Transkrip:
Gw pake Logi ini udah kayak sebulanan gitu. Terus, gw shampo tiap dua hari sekali. Dan tiap abis shampoan, gw pake ini buat jadi… apa sih tuh namanya? Leave on!

Transkrip:
…leave on. Nah tiap abis pake ini tuh, gw ngerasa, SATU rambut gw nggak ngembang. Dan keritingnya lebih awet. Ini tuh tadi gw udah tidur siang, yah maklum…

Transkrip:
…maklum ya pengangguran. Ya gw tidur siang tuh keritingnya nggak rusak. Tetap begitu aja tuh…. Tuh…. Karena ini produknya canggih, jadi aku mau merekomendasikan buat teman-teman keriting. Semoga ini jadi penyelamat rambut singa kita

Transkrip:
Oiya lupa bilang. Jadi tadi itu review jujur ya. Gw nggak di-endorse. Apalah gw di-endorse, ya kan. Tapi gw emang mau menyebarkan si Logi ini karena memang bagus product-nya. Ditambah…

Transkrip:
…dia ini adalah product Indonesia. Jadi ini product Yogya. jadi kita harus saling membantu product Indonesia di masa pandemi dan PPKM ini. Semua orang kesulitan, yuk bantu dengan pakai product Indonesia.

Transkrip:
Terus yang gw juga suka dari si Logi ini, pas gw buka Instagramnya, itu tuh modelnya ini model-model orang Indonesia semua. Jadi nggak ada tuh modelnya yang pakai orang bule.

Transkrip:
Nah gw juga mau sekalian mau bilang makasih ya buat Logi udah menghadirkan product ini. Karena sebagai perempuan Indonesia berambut keriting, di Indonesia tuh susah banget nyari product buat rambut keriting. Yang ada kita selalu…

Transkrip:
….diarahkan untuk rambutnya dilurusin, gitu. Nggak ada tuh…shampo atau apalah perawatan rambut yang masuk di TV ya, yang memang buat rambut keriting.

Transkrip:
….tuh nggak ada. Jadi begitu Logi bikin ini tuh, gw seneng banget sih. Akhirnya ada yang mau memfasilitasi rambut keriting orang Indonesia, gitu.

Transkrip:
Makasih ya Logi. Sukses terus ya. Semoga review ini membantu. Dadaaah

Buat yang bertanya isi minyak Logi itu apa aja, ini ya ingredient-nya:
Avocado oil, Jojoba oil, Castor oil, Grapseed oil, Sweet Almond oil, Virgin Olive oil, Virgin Coconut Oil, Essential oils, Vitamin E oil, Lavender, Rosemary.
Di dalam botonya ini ada bunga lavender dan batangan rosemary beneran, lho. Jadi khasiatnya lavender dan rosemary awet ada di tiap tetes minyaknya.

Kalau mau beli Logi, silakan cek di link-link berikut ya:
Beli via Shopee
Beli via Instagram

Ingat ya, kalau punya rambut keriting tuh dirawat, bukan dilurusin. Keriting itu cantik, lho ^_^

Review: Athirah

Category:Ā Movies
Genre: Drama
Rate: 3,5 out of 5

Terima kasih kepada Netflix, saya jadi bisa mengejar ketinggalan dalam menonton film-film Indonesia.

Film ini diangkat dari buku biografi Athirah yang ditulis oleh Alberthine Endah. Athirah tak lain adalah ibunda bapak Jusuf Kalla.

Athirah (Cut Mini Theo) adalah istri dari pengusaha terpandang di Makassar. Ia memunyai tiga orang anak dan sedang mengandung anak ke-empatnya. Pada saat hamil, ia mulai melihat perubahan dari suaminya. Ia jadi lebih suka bersolek dan jarang pulang ke rumah. Sampailah ia mendapat kabar kalau suaminya telah menikah lagi di Jakarta.

Tentu saja hal ini membuatnya terpuruk. Namun Athirah menolak menyerah begitu saja. Meskipun ia tak punya kuasa untuk melawan.

Yang saya suka dari film ini:
– Film ini cantik banget, sih. Gambarnya semuanya indah dan memanjakan mata.
– Aktingnya Cut Mini oke. Nggak terlalu banyak dialog, tapi bisa menggambarkan semua emosi yang berkecamuk dari raut wajahnya.
– Meskipun film ini fokusnya ke sang sitri yang dimadu, namun film ini dengan pintar juga memperlihatkan bagaimana dampak poligami pada anggota keluarga lainnya.
– Riri Riza menyutradarai film ini dengan apik. Tapi siapa sih yang bisa meragukan hasil karya Riri?

Yang saya nggak suka dari film ini:
– Ini film standar festival, sih. Jadi filmnya penuh dengan nilai estetis. Kalau yang nggak suka film jenis kayak gini, pasti merasa bosan. Tapi kalau saya sih pas nontonnya sih nggak ngerasa bosan.
– Tokoh suami Athirah kurang cakep untuk jadi bahan rebutan. Tapi ya, pelakor mah kalau lelakinya pengusaha yang banyak duit, biasanya bodo amat sama tampang. Bukan begitu Bu Dendy? Kowe butuh duwek? Ha? Butuh duwek? Nyoooh! Duwek, nyooooh! *lempar duit koin biar pelakornya sakit. Dan emang punya duitnya koinan semua sih. Sesungguhnya melabrak dan mengusir pelakor itu jihad.

Ini trailernya…

Review: Loving Pablo

Category: Movies

Genre: Drama

Rate: 4 out of 5

Film ini merupakan berdasarkan kisah nyata. Pablo Escobar (Javier Bardem) merupakan bandar narkoba nomor satu di Kolombia. Selayaknya bandar narkoba kelas kakap lainnya, ia dengan mudahnya lolos dari segala hukum karena pandai menyogok sana-sini. Kekayaan Pablo? Wah, jangan ditanya. Uang Pablo begitu melimpah.

Dari pesta-pesta mewah yang ia gelar, Pablo pun berkenalan dengan Virginia Vallejo (Penelope Cruz). Virginia yang tak lain adalah seorang jurnalis cantik terpincut dengan kebaikan hati Pablo yang hendak membangun Kolombia ke arah yang lebih baik. Tidak peduli walau dananya berasal dari uang haram.

Begitu bisnis narkobanya menyebar dan berkembang pesat di Amerika Serikat, kepolisian negeri Paman Sam itu pun bertekad untuk menghentikan bisnis haram Pablo. Segala cara mereka gunakan untuk menghentikan bisnis busuk Pablo. Namun klan bisnis Pablo sangat kuat dan erat. Mereka pun mencoba mendekati Virginia untuk membuka pintu menuju Pablo.

Yang saya suka dari film ini:

-Suka dengan aktingnya Javier Bardem yang bisa berubah dari cowok baik, kebapakan, kemudian jadi bos bisnis haram yang berdarah dingin.

-Penelope Cruz cantik dan luwes di film ini

-Alurnya enak.

-Saya jadi dapat pengetahuan baru tentang sosok Pablo Escobar yang tersohor di zamannya. Juga jadi mengerti kegilaan yang bisa dilakukan oleh manusia kalau udah kebanyakan duit. Banyak adegan di film ini yang  bikin saya geleng-geleng kepala.

-Kostum serta set dan lokasi tahun 80-annya bagus.

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Javier Bardem kayaknya pakai kostum karet palsu biar keliatan buncit ala Pablo Escobar yang asli.

Ini trailernya…

Review: Breakfast at Tiffany

Category: Movies

Genre: Romantic Comedy

Rate: 4 out of 5

Film yang diproduksi pada tahun 1961 ini menceritakan tentang Holly Golightly (Audrey Hepburn). Ia adalah seorang perempuan sosialita yang matre. Tujuan hidupnya adalah menikahi lelaki kaya agar hidup enak bergelimpangan harta. Lalu ia berkenalanlah dengan Paul Varjak (George Peppard). Paul adalah seorang penulis yang sedang mentok karya. Ia kini menggantungkan hidupnya sebagai lelaki simpanan seorang perempuan kaya. Holly tanpa sengaja mengetahui status Paul sebagai simpanan. Mereka kemudian berteman. Namun lama-lama Paul jatuh cinta dengan pembawaan Holly yang riang, polos, namun ceroboh. Akankah kedua orang yang bergantung dengan harta orang lain ini bersatu?

 

Yang saya suka dari film ini:

-Audrey Hepburn itu memang cantik banget, ya! Ia juga membawakan tokoh Holly Golightly ini dengan pas. Kita dengan mudahnya dibuat jatuh cinta dengan Holly yang ceria, ngeselin tapi polos. Pantesan tokoh Holly Golightly ini fenomenal dan dikenang sepanjang masa. Adegan pas dia nyanyi La Vie En Rose juga cantik banget.

Audrey Hepburn sebagai Holly pas nyanyi La Vie En Rose

-Bajunya bagus-baguuuuuuus! Saya memang selalu suka dengan fashion tahun 1950-an, sih. Tapi kayaknya ini nggak ada hubungannya dengan selera saya. Karena emang baju-baju yang dipakai Holly bagus-bagus semua!

-Ceritanya masih sangat relevan dengan zaman sekarang.

-New York itu baguuuus yaaaaaaa!

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Akting Mickey Rooney sebagai Mr. Yunioshi terkesan maksa

-Endingnya gitu aja. Yah, tapi emang khas film zaman itu ending yang begitu doang udah dianggap cukup, sih.

-Adegan ciumannya juga sinetron banget. Terus dingin pula ciumannya. Nggak ada keliatan jatuh cintanya sama sekali. Plah!

 

Ini trailernya….

Suami Berbintang Taurus

Punya suami berbintang Taurus tuh batu banget!

Sebel ah! *Sampe kantor. Turun dari motor, cium tangan Si Punk Rock sekenanya, langsung melengos pergi*

*Si Punk Rock ngeeng pergi naik motornya*

Bodo!

Buka laptop. Browsing-browsing sambil sarapan depan laptop.

Satpam kantor: Mba, ada suaminya di depan.

Lah, ngapain lagi?

Gw keluar dengan muka manyun.

Si Punk Rock: Senyum dooong…. Aku sedih kamu tadi marah.

Gw: *reflek senyum terus gelendotan meluk*

Pria Taurus itu emang batu banget. Cintanya ke lo termasuk salah satu kebatuannya. They won’t give up on you easily. They will stubbornly love you.

View on Path