Review: The Swarm (2020)

Penyuka film thriller monster/hewan, pasti suka dengan film The Swarm ini.

Alkisah hiduplah seorang single mom bernama Virgine Hebrard (Suliane Brahim). Ia hidup di perdesaan Perancis dengan dua orang anaknya yang beranjak remaja. Virgine punya peternakan belalang yang menjadi sumber penghasilan utama keluarganya. Belalang ini bisa diolah jadi tepung berprotein tinggi dan juga pakan bebek.
Namun kini usaha Virgine mengalami penurunan. Ia nggak bisa mengejar permintaan pasar karena belalangnya tidak berkembang biak sebanyak yang seharusnya. Di tengah kefrustrasiannya Virgine tanpa sengaja menemukan cara membuat belalangnya bereproduksi lebih banyak dan lebih cepat. Yaitu dengan memberi pakan darah. Dari situlah jiwa haus darah Virgine mulai muncul…

Yang saya suka dari film ini:
+ Membangun konfliknya bagus. Kita jadi paham dengan permasalahan masing-masing tokoh
+ Pemandangan pedesaan Perancis itu bagus ya. Tapi saya memang selalu suka alam pedesaaan Eropa, sih. Jadi kayaknya poin ini terlalu subyektif hahaha
+ Saya selalu suka dengan perfilman Perancis yang nggak mengedepankan perempuan cantik dan seksi untuk jadi tokoh utama yang disukai atau menghalangi si tokoh utama mendapatkan cinta. Sejauh ini penggambaran tokoh perempuan di sinema Perancis selalu beragam dan nggak mematok standar kecantikan tertentu. Hal ini membuat kisah dan penggambarannya jadi terasa nyata.
+ Scoringnya oke lah…
+Banyak pengambilan gambar belalangnya yang bagus banget. Sampai bikin saya mikir, ini belalang beneran nggak ya?

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Kurang serem sih sejujurnya. Mungkin karena saya penyuka horor hantu kali ya. Jadi thriller-thriller semacam ini terasa datar aja aja di ane.
-Ini tuh tipe-tipe film hening minim dialog khas festival sih. Jadi mungkin akan terasa bosan dan lamban.
-Endingnya gitu doang -_-

Film ini saya tonton di Netflix.
Rate: 3 out of 5

Ini trailernya…

#film #reviewfilm #reviewTheSwarm #reviewnetflix #reviewKrili #thriller #TheSwarm #filmPerancis #Krilianeh

Review: Nothing To Hide

Category: Movies
Genre: Drama
Rate: 4 out of 5

Image result for nothing to hide netflix

Film Perancis yang ditayangkan di Netflix ini menceritakan tentang 7 orang sekawan yang kumpul untuk makan malam bersama. Si tuan rumah, pasangan Vincent (Stephan De Groodt)-Marie (Berenice Bejo) yang diam-diam sedang berjuang agar rumah tangga mereka tetap utuh, ada pasangan Marco (Roschdy Zem) dan Charlotte (Suzanne Clement) yang saling berahasia, ada pasangan Thomas (Vincent Elbaz)-Lea (Doria Tillier) yang lagi mesra-mesranya karena baru menikah, dan ada Ben (Gregory Gadebois) si bujangan.

Makan malam mereka berlangsung baik-baik saja. Sampailah tercetus permainan untuk mereka menaruh handphone masing-masing di tengah meja, lalu semua pesan dan telepon masuk akan dibaca serta didengarkan bersama. Dari situlah satu-persatu rahasia terdalam mereka terungkap…

Yang saya suka dari film ini:
-Ceritanya orisinil dan konfliknya realistis banget
-Twistnya lumayan wuaw-wuaw
-Sangat suka dengan seluruh akting mereka. Film yang banyak dialog ini memang harus dihidupkan dengan akting yang kuat. Nonton film ini membuat saya teringat dengan film Carnage (2011) yang intense dengan dialog. Sampai-sampai saya jadi mikir, ‘gimana ya mereka menghafal dialog itu semua?’
-Suka banget juga dengan adegan sang ayah menasehati anak perempuannya via telepon. Begitu menyentuh dan pesannya pas banget.
-Jangan terkecoh dengan covernya yang terkesan ini adalah film komedi, ya. Pada kenyataannya saya malah jadi agak tegang karena cemas akan rahasia mereka terbongkar.

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Tokoh Marie kayaknya kemudaan dibanding yang lainnya.
-Rambut Lea lama-lama kok kusut nggak jelas. Gatel pengen nyisir. Kayaknya tim make-upnya kurang teliti di bagian ini.

Ini trailernya… (yang di Netfilx ada subtitelnya kok)


https://www.youtube.com/watch?v=Gf8QydKdOis

Review: Asterix and Obelix: Mansion of The Gods

Category: Movies

Genre: Animation, Comedy

Rate: 4,5 out of 5

Film ini dibuka dengan adegan Julius Caesar (diisi suara oleh Philippe Morier-Genoud) yang marah karena sampai sekarang masih tak mampu menjajah kaum Galia terakhir, yang tak lain adalah warga desa Asterix (diisi suara oleh Roger Carel) dan Obelix (diisi suara oleh Guillaume Briat). Maka dari itu kali ini Caesar mencoba membangun sebuah mansion dekat dengan desa Asterix. Awalnya upaya pembangunan itu dapat digagalkan oleh Asterix dan Obelix. Namun lama-kelamaan mereka kalah cepat, sehingga berdirilah mansion megah itu menjulang dekat desa mereka. Banyaknya warga baru yang berdatangan membuat warga desa Asterix pun mengalami akulturasi budaya. Proses perubahan dan adaptasi terhadap pembaharuan ini tentu saja menimbulkan kontroversi di desa Asterix. Sehingga perpecahan pun terjadi. Dapatkah Asterix dan Obelix menyelamatkan desanya dari tipu muslihat Caesar kali ini?

 

Yang saya suka dari film ini:

-Saya selalu sangat suka dengan kelucuan dari Asterix dan Obelix. Terutama dialog-dialognya.

-Gambarnya bagus.

-Jalan ceritanya dan alurnya disamakan dengan buku. Memang kayaknya mulai sekarang segala film Asterix dan Obelix sebaiknya dibuat animasi aja, deh. Lebih pas lucunya dan alurnya bisa lebih dieksplor. Apalagi ciri khas Asterix dan Obelix itu adalah keberagaman dan banyaknya tokoh yang berperan. Kalau dibuat dalam bentuk film non animasi, tokoh-tokoh tersebut kurang bisa digali dan ditonjolkan.

-Banyak tokoh-tokoh yang Perancis banget. Jadi kangen sama Perancis…

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Nggak ada sih sebenarnya. Cuma sepertinya jalan ceritanya yang agak belibet karena kebanyakan tokoh membuat anak-anak masih agak susah mengikuti alurnya.

Review ini juga bisa dibaca via Line @ymg2576q 

Ini trailernya…