review

Review: Stonehearst Asylum

Category: Movies

Genre: Thriller, Mystery

Rate: 4,5 out of 5

(Foto: Izin ngambil dari Amazon.com )
(Foto: Izin ngambil dari Amazon.com )

Film yang berlatar tahun 1899 ini dibuka dengan digeretnya Eliza Graves (Kate Beckinsale) ke sebuah ruang kelas di universitas Oxford. Eliza jadi contoh kasus di sebuah kelas kejiwaan untuk kuliah kedokteran. Eliza adalah perempuan yang sangat cantik namun jiwanya terguncang karena siksaan suaminya. Sehari-harinya ia dirawat di rumah sakit jiwa Stonehearst Asylum. Pada suatu hari dokter muda Edward  Newgate (Jim Sturgess) mendatangi rumah sakit jiwa tersebut. Ia mengajukan dirinya untuk menjadi dokter di sana. Ia disambut oleh dokter Silas Lamb (Ben Kingsley) sang kepala rumah sakit. Ia diajak berkeliling oleh dokter Lamb. Ia melihat Eliza Graves dan pasien-pasien lainnya. Dokter Lamb mempunyai metode penyembuhan yang tidak biasa. Ia membiarkan para pasien dan staf rumah sakit untuk membaur dan makan malam bersama. Sampailah suatu malam Edward Newgate mendapati ruang bawah tanah rumah sakit tersebut dipenuhi oleh tahanan yang tak lain adalah staf rumah sakit yang asli. Ternyata mereka dikurung oleh pasien mereka yang paling pintar, yang tak lain adalah Silas Lamb.

 

Yang gw suka dari film ini:

-Banyak twist yang nggak nyangka. Dan yang paling jedar adalah endingnya.

-Film yang bertabur bintang Inggris. Saya suka! Saya suka! *ala Meimei Upin Ipin*

-Ketegangan yang dibangunnya pas. Tanpa harus obral gambar seram.

-Film ini diangkat dari cerita Edgar Allan Poe. Jadi tambah cinta ama segala cerita dark doi.

-Kate Beckinsale jadi terlihat cuantiiik banget di film ini. Mungkin karena yang lain orang gila semua kali ya?

-Akting para figuran jadi orang gilanya juga keren-keren.

-Senang juga melihat akting Jim Sturgess di sini. I aberani keluar dari zona nyamannya sebagai ‘cowok ganteng muka baik-baik’.

 

Yang gw nggak suka dari film ini:

-Apa ya? Nggak ada.

 

Ini trailernya…

 

Iklan
blog

2015 in review

Alhamdulillaaaaah!

Senang juga lihat ini. Jadi semakin semangat nulis.

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 39.000 kali di 2015. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 14 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

blog

365 Tulisan 2014 #89: Kucing Jahanam

Jadi ya, pada suatu hari alarm handphone gw bunyi. Ini pertanda kalau sudah waktunya gw untuk bangun.

Maka gw pun melakukan ritual pagi yang biasa gw lakukan, yaitu ke kamar mandi untuk pipis terus buka jendela kontrakan.

Gw selalu menikmati buka jendela kontrakan. Soalnya tiap buka satu-satunya jendela kontrakan tiga petakan gw ini, udara segar pagi langsung masuk dan bikin hawa jadi sejuuuk. Ini nikmat banget terutama sejak hawa musim panas nan gerah yang beberapa hari ini sudah mulai kita rasakan.

Lalu gw beranjak lagi ke tempat tidur untuk coba bangunin Si Punk Rock. Bangunin Si Punk Rock ini memang agak makan waktu. Soalnya dia kalau udah tidur kebo banget, maklumlah bintangnya Taurus (emang ada hubungannya ya?).

Tips membangunkan orang Taurus yang tidurnya kebo:

-Sadarilah bahwa membangunkannya akan memakan waktu. Jadi harus sabaaar.

-Bangunkan pelan-pelan namun konsisten. Soalnya kalau dibangunin secara kasar atau mendadak, mereka akan mengeluarkan reflek yang tidak diharapkan. Dalam kasus Si Punk Rock, dia akan reflek bergerak menjauh atau mengeluarlkan erangan kasar tanda tidak suka yang bikin kita jadi ngerasa…

 

Gw udah bilang kan tadi kalau membangunkan Si Punk Rock butuh kesabaran lebih? Nah, kadang-kadang saking sabarnya, gw suka menarik nafas dengan teratur sambil merem di samping Si Punk Rock (baca: bobo lagi).

Biasanya sih kalau gw bobok lagi dengan membiarkan jendela kontrakan terbuka, semua aman-aman aja. Tapi tidak untuk hari itu…

Pada akhirnya Si Punk Rock pun bangun, lalu mandi. Gw bangun dari surga duniawi  kasur, terus berjalan ke arah jendela lagi untuk merasakan kesejukan udara pagi. Tapi pantulan cahaya matahari ke lantai kontrakan membuat gw terkesiap. Gw melihat sebuah jejak mungil tepat di sekitaran bawah jendela kontrakan.

“Ini jejak kucing,” batin gw. Jejaknya mengarah ke luar jendela.

Begitu Si Punk Rock selesai mandi, gw ceritakan kecurigaan gw.

“Kayaknya tadi ada kucing yang masuk sini, deh. Lihat tuh, jejaknya.”

Si Punk Rock melongo ke arah yang gw tunjuk. Lalu dia berkata, “Makanya jendela jangan dibiarin dibuka begitu aja.”

“Tapi kalau nggak dibuka ntar gerah.”

Si Punk Rock tidak merespon dan memilih untuk konsentrasi kembali bersiap-siap. Setelah Si Punk Rock rapi dan ready to go, dia pun berkata…

“Kamu megang duit nggak? Bagi aku dong. Aku nggak megang duit sama sekali nih, untuk ntar beli bensin.” (Sejak menikah dengan Si Punk Rock gw memang ditunjuk jadi Menteri Keuangan di rumah tangga ini.)

Gw pun berjalan ke arah tas ransel gw yang ada tergelatak di lantai dekat jendela. Pas gw raih dompet gw di dalam tas… lho, kok basah? Isi tas gw yang lainnya juga agak lembab seperti abis ketumpahan gitu. Tapi ketumpahan apa ya? Gw nggak ninggalin tempat minum di dalam tas ini.

“Tasku kok basah ya? Dompetku apa lagi ni!”

“Artinya tas kamu dipipisin kucing,” jawab Si Punk Rock dengan santai.

Hapaaaaaaaaah!!!!!!

Iya ya? Masuk akal sih. Ini menjelaskan kenapa ada jejak kucing di dekat jendela tadi. Kucing jahanam!

Si Punk Rock lalu memberi gw nasehat bahwa,

-‘kan udah aku bilangin kalau jendela jangan dibuka begitu aja tanpa pengawasan,’

-‘makanya tasnya rajin dicuci dong biar kucing nggak salah kira kalau itu toiletnya,’

-‘nurut ya sama suami kalau dibilangin.’

Ketiga-tiganya gw jawab dengan ‘iya’ yang singkat. Gw masih shock bagaimana mungkin binatang kesayangan nabi itu berbuat senista itu?? Ini guncangan perasaan yang sama pas gw mengetahui A’a Gym poligami sama cewek yang lebih bohay. Astagfirullahaladziiiim.

Sepeninggalnya Si Punk Rock berangkat ke kantor, gw pun langsung mencuci tas dan dompet gw. Sambil menahan sebak di dada karena amarah terhadap kucing jahanam itu. Gw harus cari kucing pelakunya. Gw akan minta pertanggungjawaban!

Siangnya, setelah menjemur tas dan dompet, gw pun berkeliling area kontrakan untuk menginvestigasi kucing jahanam itu.

Tersangkanya ada tiga ekor. Yang pertama…

Kurong
Kurong

Nama: Kurong alias kucing garong

Ciri-ciri: Berbulu putih namun kotor karena kerasnya hidup di jalanan

Dicurigai karena: Sering tidur persis di bawah jendela kontrakan gw

Hasil interogasi: Terus-menerus menghindar jika didekati. Maka interogasi dinyatakan gagal.

Tersangka kedua…

Kubu

 Nama: Kubu alias kucing abu-abu

Ciri-ciri: Berbulu abu-abu dan bermata innocent

Dicurigai karena: Sering nyelonong masuk  atau bertengger di jendela kalau gw baru selesai masak. Sepertinya dia tertarik dengan bau masakan. Kalau diusir, suka melancarkan jurus mata innocent-nya untuk memerah belas kasih sebelum akhirnya mau pergi.

Hasil interogasi: Tersangka asyik tidur. Maka interogasi dinyatakan gagal.

Tersangka ketiga…

Kutam
Kutam

Nama: Kutam alias kucing hitam

Ciri-ciri: Berbulu hitam merata

Dicurigai karena: Dia berbulu hitam. Kucing hitam kan selalu dianggap salah.

Hasil interogasi: Cuek dan diam aja. Maka interogasi dinyatakan gagal.

Investigasi gw di siang bolong itu tidak memberikan hasil yang gw harapkan, karena tidak ada kerja sama yang koperatif dari para tersangka. Padahal mereka nggak didampingi pengacara. Mungkin gw mesti mengasah lebih jauh kehalian interogasi kucing yang memang belum gw miliki. Tapi jujur gw bingung harus menimba di mana ilmu menginterogasi kucing itu. Pas gw coba Google pun yang keluar malah salah satu episode serial Supernatural.

Oleh karena itu, untuk sementara waktu ini gw maafkan siapa pun kucing jahanam itu. Tapi kalau salah satu dari kalian mengulanginya lagi, I will sepet you one by one with karet gelang!

review

365 Tulisan 2014 #68: Review: The Cuckoo’s Calling

Category: Books

Author: Robert Galbraith

Rate: 4 out 5

Oke gw ngaku, gw baca buku ini karena yang nulis J.K. Rowling. Iya, Robert Galbraith itu nama samaran J.K. Rowling. Gw tahu soal ini juga belakangan, lebih tepatnya setelah kehebohan buku ini terbit di Gramedia dan dibuat beberapa campaign-nya mereda. Eh gw akhirnya tahu pengarang asli buku ini dari mana ya? Lupa gw… (maklum ibu hamil emang sering lupa :-D)

Buku ini menceritakan tentang seorang detektif partikelir bernama Cormoran Strike. Bisnisnya sedang mandek, ia baru putus dengan pacarnya sampai terpaksa tinggal di kantor. Sampailah pada suatu hari ia diminta untuk menyelidiki kematian seorang supermodel bernama Lula Landry. Bebeberapa waktu yang lalu, Lula ditemukan tewas akibat jatuh dari balkon apartemennya. Polisi menyimpulkan bahwa Lula bunuh diri. Tapi abangnya Lula yakin bahwa adiknya dibunuh.

Salut gw sama J.K.Rowling. Sejauh ini gw udah baca semua buku karangan J.K.Rowling, tapi gaya penulisan di buku ini beda banget. Wajar kalau buku ini sampai pernah ditolak oleh sebuah penerbit karena dia nggak tahu yang nulis adalah J.K.Rowling.

Apakah itu artinya letak kerennya buku ini hanya di sang penulisnya yaitu J.K.Rowling? Nggak juga sih. Buku ini diramu dengan pas khas novel detektif sehingga kita tetap penasaran dengan siapa pembunuhnya sampai di akhir buku.

Satu-satunya yang dapat mencirikan bahwa buku ini ‘yang nulis J.K.Rowling banget’ adalah deskripsinya akan sosok manusia. Seperti biasa kita bisa memvisualisasikan dengan jelas tiap-tiap tokoh yang ada di buku ini.

 

Quote yang paling gw suka dari buku ini:

“Yang bikin kelpek-klepek adalah lagak pujangga-teraniaya itu, omong kosong luka-batin, gaya genius-yang-tersiksa itu. …” (hal. 296)

Gw suka quote ini karena kalimat ini menjelaskan dengan tepat alasan kenapa perempuan suka dengan cowok-cowok brengsek yang nggak guna. Kalimat ini mengungkapkan ‘naluri keibuan’ perempuan yang selalu ingin menjadi pahlawan untuk mengubah lelaki brengsek jadi lebih baik.

 

review

Review: Dream

(Repost dari blog yang lama: 12 Januari 2009)

 

Category: Books

Genre: Mystery & Thrillers

Author: Joannes Rhino

Rate: 1 out of 5

Buku ini punya ide penulisan cerita yg bagus. CUMA penulisannya kaku banget! Padahal ini termasuk sastra modern dan sepertinya ditulis oleh orang Indonesia, tapi yang gw tangkap adalah buku ini seperti ditulis di jaman Sutan Takdir Alisyahbana atau penulisnya bukan asalIndonesia. Yang kemudian tulisannya diterjemahkan secara kaku (maaf ya… Tapi ini memang cirinya Dastan dalam menerjemahkan).

 

Jumat, 13 Februari 2009

TAU GA SEEEEH!

BARUSAN GW DIKASIH TAU TEMAN GW, TERNYATA CERITA BUKU INI SAMA PERSIS SAMA KAYAK FILM PASSION OF MIND YANG DIMAINKAN AMA DEMI MOORE!

HUH! PLAGIAT!

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Plagiat! 

review

Review: The Mist

(Repost dari blog yang lama: 22 Agustus 2008)

 

Category: Movies

Genre: Science Fiction & Fantasy

Rate: 4 out of 5

Pecinta Stephen King pasti suka film ini!

 

Film ini menceritakan tentang kabut tebal misterius yang tiba2 menyelimuti kota setelah turunnya hujan badai. David Drayton (Thomas Jane) bersama anaknya dan tetangganya pergi ke supermarket untuk beli peralatan setelah kaca rumah mereka kehantam pohon pas badai kemarin.

Nggak berapa lama masuk supermarket, kabut tebal langsung menutupi supermarket. Dan ada orang lari dgn hidung berdarah sambil teriak kalau ada sesuatu di dalam kabut. Dan horornya pun dimulai…

 

Yang gw suka dari film ini :

-Stephen King banget! Dalam arti bisa menumbuhkan rasa horor sedikit demi sedikit dan tanpa terasa lo dah bingung mau gimana lagi. Dan bisa nunjukkin bahwa ketakutan yang paling membunuh itu adalah kehilangan akal sehat.

-Endingnya keren! Gw ga peduli apa kata semua orang klo endingnya mengecewakan. (Makan tuh doktrin ‘happy ending’ khas hollywood!)

 

Yg gw ga suka dari film ini:

– Para aktornya kurang greget. Jadi banyak figuran yg kelihatan banget ‘figuran’nya.

– Kelihatan banget low budget filmnya. Heran deh kenapa sih film-film dari novel Stephen King suka dibikin low budget. Mungkin gara-gara itu juga para aktornya kurang hebring. Tiru Green Mile dong, langsung dapat nominasi Oscar kan.

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Inilah untuk pertama kalinya gw pakai format ‘apa yang gw sukadan nggak suka dari film’, dan masih terus gw pakai sampai sekarang.

-Masih tetap suka dengan film ini. Tapi kalau disuruh nonton lagi, gw nggak mau dalam keadaan stress 😀

 

review

Review: Absolut Fear – Lisa Jackson

(Repost dari blog yang lama: 10 Agustus 2008)

 

Category: Books

Genre: Mystery & Thrillers

Author: Lisa Jackson

Rate: 3 out of 5

 

Novel ini menceritakan tentang seorang pembunuh psikopat yang mengincar Eve Renner. Namun sebelum membunuh Eve ia terlebih dahulu membunuh orang-orang terdekat Eve, seperti mantan kekasihnya sampai ayahnya. Dan selalu saja orang yang tertimpa sial menjadi tersangka pembunuhan itu semua adalah calon suami Eve, Cole Dennis. Apakah pembunuhan ini ada hubungannya dengan kesalahan ayah Eve di masa lalu sebagai seorang dokter di rumah sakit jiwa? Penulisan novel ini mengalir dengan lancar, membuat kita nggak bosen membacanya. Penulisan dari tiga sudut pandang, yaitu Eve, Cole, dan sang pembunuh pun membuat kita makin penasaran dengan rahasia yang mereka masing-masing sembunyikan.

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Gw nggak begitu ingat buku ini. Artinya buku ini nggak begitu bagus.