Review: The Call (2020)

Penyuka film butterfly effect pasti suka banget sama film The Call ini.

Film ini dibuka dengan Seo Yeon (Park Shin Hye) yang pulang ke rumah masa kecilnya di pedesaan. Ia pulang dengan enggan, tapi terpaksa karena ibunya sakit keras dan sedang dirawat di rumah sakit.
Diperjalanan pulang, handphone-nya Seo Yeon ketinggalan di kereta. Saat ia berusaha melacak keberadaan handphone-nya pakai telepon rumah, ia malah menerima telepon dari seorang perempuan yang meminta pertolongannya karena disiksa ibunya. Ternyata perempuan itu adalah Young Sook (Jong Seo Jun). Young Sook adalah penghuni rumahnya pada tahun 1999. Young Sook menelpon dari tahun 1999 dan diangkat oleh Seo Yeon di tahun 2018. Rupanya melalui telepon rumah itu, Seo Yeon dan Young Sook dapat berkomunikasi lintas waktu ke sesama penghuni rumah tersebut meski di zaman waktu yang berbeda.
Seo Yeon dan Young Sook akhirnya menjadi teman telepon lintas zaman. Mengetahui ayah Seo Yeon meninggal dunia karena kebakaran waktu Seo Yeon kecil, Young Sook berinisiatif untuk mengubah hal itu. Young Sook di masa lalu mencoba menyelinap dari kungkungan ibu tirinya dan berusaha mencegah kebakaran yang menelan jiwa ayah Seo Yeon pada tahun 1999.
Usaha Young Sook berhasil! Kini giliran Seo Yeon untuk membantu mengubah nasib Young Sook. Namun ketika Seo Yeon berhasil menyelamatkan nasib Young Sook, kenapa hidup Seo Yeon di masa kini malah memburuk? Apakah mengubah masa lalu adalah langkah yang tepat?

Yang saya suka dari film ini:
+ Cerita dan alur film ini bagus! Sangat mudah dipahami.
+ Aktingnya Jong Seo Jun ciamik!
+ Set dan lokasinya kereeeen! Ini orang propertinya canggih sih bisa ngubah satu rumah jadi beberapa zaman dan kondisi.
+ Alurnya lumayan nggak ketebak.
+ Banyak karakter pemeran pembantu yang dieksplor secara maksimal.
+ Efek CGI perpindahan zamannya bagus! Halus dan rapi.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Banyak adegan berantem kabur dari orang jahat yang klise. Serasa pengen komen ‘Yaelah, masih aja lu begitu…’
– Akting Park Shin Hye template cewek cantik di film horor/thriller. Tiap ketakutan atau panik terlihat cantik dan kayaknya nggak pengen kelihatan jelek.
– Kostum dan make up untuk era akhir 90-an kurang pas. Malah kayak nggak ada bedanya sama zaman sekarang.
– Itu rambutnya Young Sook ganggu parah. Makanya mukanya pada jerawatan kan jadinya. Hadeeeeuh. Gatel banget pengen balurin Mud Mask Jafra ke muka doi. Kalau butuh Jafra, kontak saya, ya!
– Di Netflix film ini dikategorikan sebagai ‘scary’. Tapi menurut saya nggak scary ah. Menagangkan sih iya. Tapi nggak menakutkan.
– Film ini banyak adegan kekerasan yang sadis, ya. Jadi jangan ditonton sama anak di bawah 15 tahun, ya.

Rate: 4 out of 5
Film ini saya tonton di Netflix

Ini trailernya…

Waktu Masak Miyeok-guk.

Waktu itu saya coba masak sup rumput laut Korea atau yang biasa disebut dengan Miyeok-guk.

Miyeok-guk buatan saya

Si Punk Rock mencoba. Reaksi pertama dia, “Amis…”.

“Masa, sih?” kata saya. Memang agak bau air laut sih dari rumput lautnya. Mungkin bagi beberapa orang bau laut itu kayak amis.

Tapi Si Punk Rock nggak menjawab apa-apa lagi. Dia teruskan makan sampai semangkok penuh yang saya hidangkan buat dia habis.

Setelah dia makan, Si Punk Rock berkata, “Kamu memang kayaknya dulu itu terlahir sebagai kucing. Sukanya yang amis-amis. Sushi lah, tuna kaleng lah, sekarang sup bau amis.”

“Emang amis banget, ya? Aku sih nggak ngerasa amis…”

“Makanya kamu kayak kucing”.

“Tapi kok kamu makannya abis?”

“Because I love you”.

“Alah…Padahal terpaksa karena nggak ada makanan lain, tuh”.

“Nggak. Because I love you,” katanya mempertegas ucapan sebelumnya.

Yes, I know. And thank you for keep on loving me. Sebagai gantinya, mulai sekarang saya nggak akan masak Miyeok-guk lagi. Kenapa? Because I love you too, Si Punk Rock.

Review: Parasite

Category: Movies
Genre: Dark Comedy, Thriller
Rate: 4,5 out of 5

Related image

Jarang jarang nih saya bela-belain nonton film Korea di bioskop. Biasanya nunggu streamingan aja. Eh…… Nggak juga deng. Lebih tepatnya saya jarang nonton film Korea. Tapi begitu denger film ini menang Palm d’Or dari Cannes Film Festival, jadi semangat deh buat nonton.

Film ini dibuka dengan memperlihatkan kemiskinan keluarga Ki Taek (Kang-Ho Song). Ia adalah suami sekaligus ayah dari dua anak yang sudah beranjak dewasa. Mereka tinggal di rumah sempit dalam gang sempit pula. Saking miskinnya, beli paket internet aja nggak mampu. Mereka selalu numpang wifi gratisan dari tetangga.
Sampailah suatu ketika teman anak lelakinya datang ke rumah. Ia menawarkan anak lelakinya, Ki-Woo (Woo-sik Choi), menjadi guru les pengganti anak keluarga kaya karena dia harus melanjutkan sekolah.
Maka berangkatlah Ki-Woo ke rumah keluarga kaya itu menjadi guru les. Dari hari pertama Ki-Woo mengajar, ia bisa melihat peluang untuk mensejahterakan keluarganya dengan cara menyingkirkan beberapa pekerja di rumah kaya itu. Rencana Ki-Woo berjalan mulus. Tanpa ia sadari bahwa rumah mewah itu menyimpan sebuah rahasia…

Yang saya suka dari film ini:
+ JALAN CERITANYA BAGUS!
+ Banyak twist yang cukup mengejutkan
+ Pesan tentang kesenjangan antara si kaya dan si miskin bikin kita mikir begitu keluar dari bioskop
+ Entah kenapa dialog pembahasan tentang hujan di mobil itu bikin saya sedih jleb
+ Aktingnya oke-oke pisanlah!
+ Memang referensi film Korea saya nggak banyak. Tapi baru di film ini doang saya bisa melihat orang Korea yang miskin. Abis selama ini saya pikir semua orang Korea itu mulus, putih, hidupnya cool-cool aja, tahu-tahu ada cowok kaya tapi sombong yang naksir sama kita—–>iya, ini saya ambil dari plot drama Korea
+ Set dan lokasinya oke banget. Apalagi set di rumah orang tajirnya
+ Banyak dialog yang oke dan menghidupkan cerita
+ Suka banget suara ngebass Sun-kyun Lee yang memerankan si bapak orang kaya. Jangan sampai dia jadi voice over iklannya KFC, ya. Soalnya mendengar suaranya aja ku sudah berselera (apaan sik!)
+ Banyak adegan yang bikin deg-degan gregetan. Padahal bukan pas adegan sadis juga sih.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Adegan sadisnya itu, lho……. Jangan ditonton sama anak-anak, ya! Film Korea itu kalau bikin adegan sadis itu beneran ampun, deh….
– Ini sebenarnya film komedi. Tapi karena komedinya dark, jadi mau ketawa tuh harus mikir dulu. “Ini sebenarnya lucu. Nggak apa-apa kan kalau gw ketawa? Bakal menyinggung nggak nih kalau gw ketawa sekarang?”
– Ada satu adegan tentang toilet yang bikin saya bergidik jijik
– Menurut saya posternya nggak mencerminkan filmnya, deh. Begitu juga dengan taglinenya.

Ini trailernya…


Review: Okja

Category: Movies

Genre: Drama, Action

Rate: 5 out of 5

Film ini dibuka oleh Lucy Mirando (Tilda Swinton) mengumumkan ke media bahwa perusahaannya telah menciptakan seekor binatang dari hasil rekayasa genetik. Binatang yang ia beri nama Super Pig ini diciptakan untuk menutupi kekurangan pangan dunia. Ia pun menjelaskan bahwa saat ini sudah ada beberapa Super Pig yang disebar ke beberapa penjuru dunia untuk dibesarkan oleh peternak lokal. Dalam 10 tahun kemudian akan dipilih Super Pig terbaik yang kemudian akan dikembangbiakkan secara masal.

Sepuluh tahun pun berlalu. Seekor Super Pig yang dibesarkan oleh seorang peternak di pegunungan Korea mendapat kehormatan untuk memenangkan kompetisi Super Pig terbaik. Super Pig yang bernama Okja itu pun akan dibawa ke New York untuk diumumkan ke dunia. Sayangnya Mija (Seo-Hyun Ahn), cucu sang peternak yang telah tumbuh bersama Okja tidak terima begitu saja. Baginya Okja bukan sekadar hewan ternak, Okja adalah temannya. Ia pun nekat melawan korporasi Mirando untuk membawa pulang Okja.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Ceritanya baguuuuuus! Salut dengan ide orisinil Joon-ho Bong sebagai penulis naskah.

-Joon-ho Bong juga menyutradarai film ini dnegan ciamik. Ini film kedua dia yang saya tonton (yang pertama itu Snowpiercer ). Keduanya membuat saya terkesan. Saya selalu suka bagaimana Joon-Ho Bong membuat film yang isu/konfliknya universal. Kedua filmnya membuat kita sadar bahwa dunia ini memang multiras.

-Sangat terkesan dengan akting keseluruhan aktornya. Sebut saja Tilda Swinton yang selalu total. Paul Dano, my love, yang juga sangat keren dalam wajah sendunya. Dan kita akan terkaget-kaget bagaimana Jake Gyllenhaal seganteng itu bisa berubah jadi dokter senorak itu. Akting Seo-Hyun Ahn juga harus dapat perhatian khusus.

-Ada beberapa adegan yang bikin emosi kita campur aduk. Saya hampir nangis di adegan Okja pagar listrik. Tapi ditahan-tahan nangisnya. Malu dong udah gede, masa nangis (halah, apa sih)

-Set dan lokasinya oke.

-Efek CGInya haluuuus banget.

-Banyak pesan moral yang bikin kita lumayan mikir setelah nonton film ini.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Nggak ada, sih. Sejauh ini nggak ada yang saya nggak sukai dari film ini.

 

Ini trailernya…

 

Review: Train To Busan

Category: Movies

Genre: Thriller

Rate: 4 out of 5

Film asal Korea ini dibuka dengan beberapa adegan mengenai sebuah kebocoran di sebuah pabrik. Sang bos perusahaan, yakni Seok Woo (Yoo Gong) sedang sibuk menghadapi penurunan saham perusahaan  sejak berita kebocoran itu menyebar. Di waktu bersamaan ia juga harus menghadapi omelan mantan istrinya karena ia selalu lupa tentang ulang tahun putri mereka. Ditambah anak mereka ingin merayakan ulang tahunnya bersama ibunya di Busan. Maka keesokan subuhnya, Seok Woo dan putrinya berangkat ke stasiun kereta api untuk mengantar putrinya ke Busan. Tapi sesuatu yang aneh sedang terjadi. Satu persatu penumpang kereta itu berubah menjadi zombi setelah digigit oleh penderita wabah misterius. Mereka pun harus bisa bertahan hidup dan mati untuk mencapai Busan.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Penokohannya bagus, realistis, dan variatif.

-Aktingnya oke-oke semua!

-Tokoh favorit saya yang berhasil bikin terharu seorang calon bapak yang berjuang mati-matian.  Apalagi pas lihat tampang mesem-mesem bahagianya saat menyelamatkan sang istri di toilet gerbong kereta. Tokoh ini diperankan oleh Dong-seok Ma.

-Saya juga sangat suka dengan alurnya yang realistis. Film ini nggak memberi kita celah untuk nyeletuk-nyeletuk gemes karena kebodohan salah satu peran.

-Film ini menegangkan. Film ini juga menceritakan dengan baik sifat asli manusia dalam upaya bertahan hidup.

-Make up zombienya lumayan oke

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Ada satu tokoh nenek-nenek, tapi kelihatan banget sebenarnya dia masih muda. Dia didandani jadi tua aja. Sayangnya make upnya kelihatan bohongnya.

-Lama-lama darah yang nempel di baju para tokoh kok jadi warna oren ya -__-!

-Nggak sesedih yang orang bilang. Banyak yang mengaku menangis pas nonton film ini. Saya biasa-biasa aja tuh. Adegan akhirnya yang mungkin diniatkan jadi paling sedih dan mengharukan juga saya hadapi dengan lempeng ajah.

-Banyak adegan menyeramkan nan mengerikan. Jadi sebaiknya jangan ajak anak kecil nonton film ini ya.

Review ini juga dapat dibaca via Line @ymg2576q 

Ini trailernya…

2015 in review

Alhamdulillaaaaah!

Senang juga lihat ini. Jadi semakin semangat nulis.

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 39.000 kali di 2015. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 14 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

365 Tulisan 2014 #85: Review: The Target

Category: Movies

Genre: Action, Drama

Rate: 4 out of 5

(Dok. Jive!)
(Dok. Jive!)

Film ini dibuka dengan sosok Bae Yeo-Hoon (Ryu Seung-Ryong) yang tertembak dan berusaha lari dari pengejaran dua orang yang tidak dikenal. Dalam usahanya itu, ia tertabrak mobil dan ia pun dilarikan ke rumah sakit. Ia kemudian dirawat dibawah pengawasan seorang dokter muda bernama Lee Tae-Joon (Lee Jin-Wook). Keesokan harinya, dokter Lee Tae-Joon diserang di rumahnya dan istrinya yang sedang hamil tua diculik. Sang penculik mengatakan akan membebaskan istrinya jika ditukar dengan Bae Yeo-Hoon yang masih terbaring tak sadarkan diri. Karena putus asa, dokter Lee Tae-Joon pun menyanggupi permintaan sang penculik tanpa tahu bahwa itu akan membahayakan banyak nyawa.

 

Yang gw suka dari film ini:

-Ceritanya bagus! Sebenarnya ini film remake dari Perancis berjudul Point Blank. Gw belum pernah nonton Point Blank. Jadi gw nggak bisa bandinginnya. Cuma gw berani bilang kalau film The Target ini ceritanya bagus.

-Actionnya intense.

-Penokohannya oke.

-Kesekian kali nonton aktingnya Ryu Seung-Ryong, dan kesekian kalinya gw salut dengan kemampuan beradaptasinya sama karakter yang ia mainkan.

-Lee Jin-Wook guanteng yaaaaaaaaa!

 

Yang gw nggak suka dari film ini:

-Biasanya film Korea tuh pinter mengkoreakan tokoh, setting, dan cerita film yang mereka remake. Tapi di film ini, gw melihat tokoh polisi ceweknya masih terlalu barat :-/

 

Ini foto-fotonya…

Ini dokter Lee Tae-Joon saat merawat Baek-Yeo-Hoon. (Dok. Jive!)
Ini dokter Lee Tae-Joon saat merawat Baek-Yeo-Hoon.
(Dok. Jive!)

 

Dokter muda Lee Tae-Joon yang sedang berbahagia dengan istrinya karena sedang menunggu kelahiran bayi pertama mereka. (Dok. Jive!)
Dokter muda Lee Tae-Joon yang sedang berbahagia dengan istrinya karena sedang menunggu kelahiran bayi pertama mereka.
(Dok. Jive!)

 

Ini Baek Yeo-Hoon yang sudah terbangun dang langsung melarikan diri dari rumah sakit. (Dok. Jive!)
Ini Baek Yeo-Hoon yang sudah terbangun dang langsung melarikan diri dari rumah sakit.
(Dok. Jive!)

 

Ini trailernya…

Film ini sudah tayang di Blitzmegaplex sejak 18 Juni 2014.

 

 

365 Tulisan 2014 #62: Review: Broken

Category: Movies

Genre: Drama

Rate: 4 out f 5

(Dok. Jive!)
(Dok. Jive!)

 

Film Korea ini menceritakan kisah seorang ayah bernama Sang-Hyeon (Jung Jae-Young). Sejak istrinya meninggal, ia tinggal hanya berdua dengan putrinya yang berumur 15 tahun. Pada suatu hari, putrinya ngambek karena ia kebanyakan lembur. Keesokan harinya, putrinya tidak pulang ke rumah. Sang-Hyeon pikir putrinya menginap di rumah temannya karena ngambek. Sampailah ia dihubungi polisi yang mengabari kalau putrinya telah tewas diperkosa dan dibunuh. Sang-Hyeon yang shock, mencoba mencari jejak pembunuhnya. Nah, pada suatu ketika ia mendapat petunjuk anonim mengenai para pembunuh putrinya. Ia pun bertekad untuk membalas dendam kematian putrinya.

 

Yang gw suka dari film ini:

-Ceritanya baguuuuuuuuuuuus! Ceritanya bikin kita miris, kasihan, dan marah sekaligus. Katanya sih, ceritanya diangkat dari novel Jepang berjudul The Hovering Blade. Di Jepang udah dibuat versi filmnya dengan judul yang sama pada tahun 2009 lalu.

-Suka dengan pembagian perspektif tokoh secara adil. Nggak melulu memberikan porsi yang besar kepada sang tokoh utama.

-Di film ini para tokohnya bertindak jujur.

-Suka dengan penggambaran remaja Korea yang natural. Kayaknya ini pertama kali gw nonton film Korea di mana remajanya terlihat memang remaja.

-Set dan propertinya oke.

 

Yang gw nggak suka dari film ini:

-Meskipun tokoh yang diperankan Jung Jae-Young memang pas banget dengan judul film ini yang ‘hancur’, tapi kadang aktingnya Jung Jae-Young suka datar.

-Tampang Choi Sang-Wook kok terlalu imut untuk jadi cowok cupu ya?

 

Ini foto-fotonya…

Ini Sang-Hyeon dan putrinya di masa mereka masih bahagia hidup berdua. (Dok. Jive!)
Ini Sang-Hyeon dan putrinya di masa mereka masih bahagia hidup berdua.
(Dok. Jive!)

 

Sang-Hyeon mengejar jejak pembunuh putrinya sampai ke pegunungan salju. (Dok. Jive!)
Sang-Hyeon mengejar jejak pembunuh putrinya sampai ke pegunungan salju.
(Dok. Jive!)

 

Mendaki gunung, melewati lembah.... (Lah, kayak Ninja Hatori!) (Dok. Jive)
Mendaki gunung, melewati lembah…. (Lah, kayak Ninja Hatori!)
(Dok. Jive)

 

Ini para polisi yang berusaha mencegah aksi balas dendam Sang-Hyeon, meskipun mereka berada dalam dilema. (Dok. Jive!)
Ini para polisi yang berusaha mencegah aksi balas dendam Sang-Hyeon, meskipun mereka berada dalam dilema.
(Dok. Jive!)

 

Ini trailernya…

Film ini bisa kita tonton di Blitzmegaplex mulai tanggal 7 Mei 2014.

365 Tulisan 2014 #30: Review: Miss Granny

Category: Movies

Genre: Comedy

Rate: 3 out of 5

(Dok. Jive! Movies)
(Dok. Jive! Movies)

Film ini menceritakan tentang nenek Oh Mal-Soon (Na Moon-Hee) yang cerewet dan dominan. Saking dominannya, ia sampai membuat menantunya stres dan terkena serangan jantung. Meskipun begitu, nenek Oh Mal-Soon sangat sayang dengan anak semata wayangnya dan keluarga dari anaknya. Namun sejak istri anaknya terkena serangan jantung, anak beserta cucunya mulai berpikir untuk menaruh nenek Oh Mal-Soon ke panti jompo. Mengetahui hal ini, nenek Oh Mal-Soon jadi sedih. Di tengah kegalauannya, ia tanpa sengaja ketemu sebuah studio foto bernama Forever Young. Nenek Oh Mal-Soon pun berfoto di sana dengan niatan, jika ia meninggal nanti, ia punya sebuah foto diri yang cukup bagus untuk dipajang di pemakamannya. Siapa sangka, setelah difoto, fisik nenek Oh Mal-Soon berubah menjadi perempuan berumur 20-an. Ia kini kembali menjadi gadis! Meskipun awalnya ia kaget, ia pun menggunakan kesempatan ini untuk kembali menjalani masa mudanya yang dulu sempat hilang.

 

Yang gw suka dari film ini:

-Pemeran Oh Mal-Soon muda (Shim Eun-Kyung) aktingnya bagus!

-Kostumnya bagus!

-Alur ceritanya oke

-Penokohannya pas dan semua tokoh berguna

Lee Jin-Wook tuh cakeeeeeep yaaaaa >__<

 

Yang gw nggak suka dari film ini:

-Ide cerita kurang orisinil, tapi okelah…

-Ada beberapa plot yang bolong.

-Lumayan kocak sih, tapi nggak ampe bikin gw ngakak.

-Di film ini Shim Eun-Kyung miriiiip banget ama temen gw yang bernama Mariska Tracy alias Uung. Bedanya mata Uung kurang gede aja 😀

Ini still photonya…

 

Ini nenek Oh Mal-Soon versi tua sesuai umurnya  (Dok. Jive! Movies)
Ini nenek Oh Mal-Soon versi tua sesuai umurnya
(Dok. Jive! Movies)
Ini nenek Oh Mal-Soon setelah berubah menjadi muda lagi  (Dok. Jive! Movies)
Ini nenek Oh Mal-Soon setelah berubah menjadi muda lagi
(Dok. Jive! Movies)
Lalu nenek Oh Mal-Soon ke salon untuk make over biar bisa menjalani 'masa muda'nya dengan maksimal. Jadi beginilah tampangnya... (Dok. Jive! Movie)
Lalu nenek Oh Mal-Soon ke salon untuk make over biar bisa menjalani ‘masa muda’nya dengan maksimal. Jadi beginilah tampangnya…
(Dok. Jive! Movie)
Ini Lee Jin-Wook. Cakeeeeep yaaaa >__< (Dok.Jive! Movies)
Ini Lee Jin-Wook. Cakeeeeep yaaaa >__<
(Dok.Jive! Movies)

Ini trailernya…

 

Film ini bisa lo tonton mulai 12 Maret 2014 di Blitzmegaplex!

 

Review: 11 AM

Category: Movies

Genre: Thriller

Rate: 3,5 out of 5

(Dok. Jive Entertainment)
(Dok. Jive Entertainment)

Film Korea ini menceritakan tentang sebuah grup peneliti yang berusaha menciptakan mesin waktu. Karena tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan, sang penyandang dana memutuskan untuk menghentikan kucuran dananya. Ini artinya penelitian mereka harus dihentikan. Tentu saja ini membuat Woo-Suk (Jung Jae-Young) sang kepala penelitian tersebut berang. Ia pun memutuskan untuk menguji mesin waktu ciptaannya sendiri. Ia bersama asistennya, Young-Eun (Kim Ok-Vin), melompat waktu ke 24 jam ke depan. Sesampainya mereka di 24 jam mendatang, mereka mendapati kantor mereka acak-acakan, kosong, dan terbakar di sana-sini. Tanpa mengetahui apa yang terjadi, mereka pun kembali ke masanya untuk mencegah segala kehancuran yang terjadi di masa mendatang.

Yang gw suka dari film ini:

-Ide cerita yang segar untuk perfilman Korea.

-Alur yang bagus dan rapi menjadi kunci film ini. Kalau nggak, penonton akan bingung.

-Segala konflik yang dibangunnya realistis.

-Set dan propertinya bagus!

Yang gw nggak suka dari film ini:

-Untuk beberapa penggambaran futuristiknya nggak begitu kerasa kecanggihannya. Mungkin karena gw terbiasa ngeliat futuristik di film-film Hollywood kali ya. Film Hollywood kan budgetnya suka edan-edanan.

-Gw sangat curiga dan hampir yakin kalau Kim Ok-Vin itu mukanya operasi! Abis mukanya lempeng banget nggak ada ekspresi gitu.

-Akting Daniel Choi sebagai cowok cool nggak dapat. Yang ada dia terlihat sebagai cowok sok cool.

-Penempatan subtitle-nya nggak rapi. Jadi kadang ganggu mata.

Berhubung gw dapat beberapa still fotonya dari Jive Entertainment (alhamdulillah), maka sila disimak beberapa adegannya…

Woo-Suk Lagi galau di meja kerjanya
Woo-Suk Lagi galau di meja kerjanya.
(Dok. Jive Entertainment)

Young-Eun bingung harus berbuat apa untuk menyelamatkan teman-temannya
Young-Eun bingung harus berbuat apa untuk menyelamatkan teman-temannya. Dan sepanjang film ekspresi dia rata-rata begitu aja. Pasti muka dia operasi! (Tetep)
(Dok. Jive Entertainment)

Ini Daniel Choi yang berperan sebagai Ji-Wan. Tapi di sini dia lagi nggak cool. (Dok. Jive Entertainment)
Ini Daniel Choi yang berperan sebagai Ji-Wan. Tapi di sini dia lagi nggak cool.
(Dok. Jive Entertainment)

Ini trailernya…

Film ini mulai ditayangkan di Blitzmegaplex mulai tanggal 25 Desember 2013.