review

Review: Nothing To Hide

Category: Movies
Genre: Drama
Rate: 4 out of 5

Image result for nothing to hide netflix

Film Perancis yang ditayangkan di Netflix ini menceritakan tentang 7 orang sekawan yang kumpul untuk makan malam bersama. Si tuan rumah, pasangan Vincent (Stephan De Groodt)-Marie (Berenice Bejo) yang diam-diam sedang berjuang agar rumah tangga mereka tetap utuh, ada pasangan Marco (Roschdy Zem) dan Charlotte (Suzanne Clement) yang saling berahasia, ada pasangan Thomas (Vincent Elbaz)-Lea (Doria Tillier) yang lagi mesra-mesranya karena baru menikah, dan ada Ben (Gregory Gadebois) si bujangan.

Makan malam mereka berlangsung baik-baik saja. Sampailah tercetus permainan untuk mereka menaruh handphone masing-masing di tengah meja, lalu semua pesan dan telepon masuk akan dibaca serta didengarkan bersama. Dari situlah satu-persatu rahasia terdalam mereka terungkap…

Yang saya suka dari film ini:
-Ceritanya orisinil dan konfliknya realistis banget
-Twistnya lumayan wuaw-wuaw
-Sangat suka dengan seluruh akting mereka. Film yang banyak dialog ini memang harus dihidupkan dengan akting yang kuat. Nonton film ini membuat saya teringat dengan film Carnage (2011) yang intense dengan dialog. Sampai-sampai saya jadi mikir, ‘gimana ya mereka menghafal dialog itu semua?’
-Suka banget juga dengan adegan sang ayah menasehati anak perempuannya via telepon. Begitu menyentuh dan pesannya pas banget.
-Jangan terkecoh dengan covernya yang terkesan ini adalah film komedi, ya. Pada kenyataannya saya malah jadi agak tegang karena cemas akan rahasia mereka terbongkar.

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Tokoh Marie kayaknya kemudaan dibanding yang lainnya.
-Rambut Lea lama-lama kok kusut nggak jelas. Gatel pengen nyisir. Kayaknya tim make-upnya kurang teliti di bagian ini.

Ini trailernya… (yang di Netfilx ada subtitelnya kok)


https://www.youtube.com/watch?v=Gf8QydKdOis

Iklan
blog

Review: Breakfast at Tiffany

Category: Movies

Genre: Romantic Comedy

Rate: 4 out of 5

Film yang diproduksi pada tahun 1961 ini menceritakan tentang Holly Golightly (Audrey Hepburn). Ia adalah seorang perempuan sosialita yang matre. Tujuan hidupnya adalah menikahi lelaki kaya agar hidup enak bergelimpangan harta. Lalu ia berkenalanlah dengan Paul Varjak (George Peppard). Paul adalah seorang penulis yang sedang mentok karya. Ia kini menggantungkan hidupnya sebagai lelaki simpanan seorang perempuan kaya. Holly tanpa sengaja mengetahui status Paul sebagai simpanan. Mereka kemudian berteman. Namun lama-lama Paul jatuh cinta dengan pembawaan Holly yang riang, polos, namun ceroboh. Akankah kedua orang yang bergantung dengan harta orang lain ini bersatu?

 

Yang saya suka dari film ini:

-Audrey Hepburn itu memang cantik banget, ya! Ia juga membawakan tokoh Holly Golightly ini dengan pas. Kita dengan mudahnya dibuat jatuh cinta dengan Holly yang ceria, ngeselin tapi polos. Pantesan tokoh Holly Golightly ini fenomenal dan dikenang sepanjang masa. Adegan pas dia nyanyi La Vie En Rose juga cantik banget.

Audrey Hepburn sebagai Holly pas nyanyi La Vie En Rose

-Bajunya bagus-baguuuuuuus! Saya memang selalu suka dengan fashion tahun 1950-an, sih. Tapi kayaknya ini nggak ada hubungannya dengan selera saya. Karena emang baju-baju yang dipakai Holly bagus-bagus semua!

-Ceritanya masih sangat relevan dengan zaman sekarang.

-New York itu baguuuus yaaaaaaa!

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Akting Mickey Rooney sebagai Mr. Yunioshi terkesan maksa

-Endingnya gitu aja. Yah, tapi emang khas film zaman itu ending yang begitu doang udah dianggap cukup, sih.

-Adegan ciumannya juga sinetron banget. Terus dingin pula ciumannya. Nggak ada keliatan jatuh cintanya sama sekali. Plah!

 

Ini trailernya….

review

Review: Mr. Roosevelt

Category: Movies

Genre: Comedy

Rate: 3,5 out of 5

Film ini dibuka dengan Emily Martin (Noel Wells) yang sedang casting untuk sebuah peran. Emily adalah seorang komedian asal Austin, Texas yang pindah ke Los Angeles untuk merintis karir. Pada suatu hari ia mendapat telepon dari mantannya di Austin yang mengabari kalau kucingnya yang bernama Mr. Roosevelt sedang sakit keras. Ia langsung terbang pulang untuk bertemu kucingnya. Sesampainya ia di sana, ia bertemu dengan mantannya yang sudah punya pacar baru yang cantik juga baik hati. Berhubung Emily pulang ke Austin secara mendadak dengan uang pas-pasan, maka dengan terpaksa ia menerima tawaran untuk menginap sementara di rumah mantannya dengan pacar barunya. Awkward nggak, ya?

 

Yang saya suka dari film ini:

-Aktor dan aktrisnya nggak ada yang terkenal. Tapi aktingnya bagus semua.

-Film indie hipster yang ringan dan nggak rumit.

-Banyak twist yang nggak disangka.

-Warna dan gambar film ini bagus.

-Konfliknya realistis.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Ada di beberapa adegan tokoh Emilynya agak ganggu.

 

Film ini tersedia di Netflix.

 

Ini trailernya…

 

review

Review: The Guilt Trip

Category: Movies

Genre: Comedy

Rate: 3,5 out of 5

Film ini dibuka dengan Andy Brewster (Seth Rogen) sedang berusaha meyakinkan para eksekutif perusahaan besar akan produk pembersih ramah lingkungan yang ia ciptakan. Andy sudah mengatur meeting dengan banyak perusahaan untuk menjual produk ciptaannya. Ia bahkan mengatur sebuah road trip untuk bertemu dengan semua perusahaan tersebut.

Namun pertama-tama ia akan mampir ke rumah ibunya, menginap semalam, lalu memulai road tripnya dari sana. Pada saat ia menginap, ibunya (diperankan oleh Barbara Streisand) mengungkapkan sebuah rahasia hidupnya kepada Andy. Yaitu, tentang cinta lamanya yang bertepuk sebelah tangan. Andy merasa iba pada ibunya. Ia akhirnya mengajak ibunya untuk road trip bersamanya. Sambil diam-diam Andy mengatur pertemuan ibunya dengan cinta lamanya.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Ini merupakan film ringan yang ditonton tanpa mikir.

-Barbara Streisand memerankan tokoh ibu dengan apik. Ibu-ibu banget, deh.

-Ceritanya bagus. Konflik khas ibu dan anaknya juga pas.

-Twist-nya juga menarik.

-Film ini layak jadi daftar film wajib untuk Hari Ibu.

 

Yang saya tidak suka dari film ini:

-Nggak ada, sih. Semuanya oke. Oh, paling soal betapa nggak miripnya Seth Rogen untuk jadi anaknya Barbara Streisand aja.

 

Ini trailernya…

 

review

Review: Neighbors

Category: Movies

Genre: Comedy

Rate: 3,5 out of 5

Film ini mengisahkan tentang keluarga kecilnya Mac Radner (Seth Rogen). Ia baru saja berhasil membeli rumah untuk ditempati bersama istri dan anak bayi mereka. Sayangnya kesenangan mereka tidak berlangsung lama. Soalnya rumah kosong persis di sebelah mereka akhirnya dibeli oleh penghuni baru, yakni anak-anak geng kuliahan alias fraternity boys. Yang artinya mereka akan jadi tetangga yang sangat berisik karena akan berpesta setiap hari semalam suntuk. Awalnya Mac dan istrinya, Kelly (Rose Byrne), berhasil berbicara baik-baik dengan ketua geng mereka, yaitu Teddy Sanders (Zac Efron). Mac dan Teddy kemudian berteman baik dan membuat kesepakatan kalau pada suatu hari gengnya Teddy terlalu berisik, jangan ragu untuk menegur Teddy secara langsung. Teddy berjanji untuk berusaha tidak terlalu berisik asalkan Mac tidak akan melaporkan kegaduhan di rumah mereka ke polisi. Namun apa yang terjadi? Mac akhirnya terpaksa melaporkan kegaduhan di rumah Teddy ke polisi karena Teddy tidak kunjung bisa ditelpon lantaran keasyikan berpesta. Teddy yang kesal karena Mac melanggar janjinya pun menuntut balas.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Zac Efrooooooooon! Kyaaaaa kyaaaaaaaaaa! Kamu makin tambah umur kok makin ganteng sih dek? Badanmu kok juga makin jadi aaaw aaaw >__<

-Suka dengan jalan ceritanya. Realistis tapi absurd gimana gitulah.

-Selalu suka dengan komedinya Seth Rogen.

-Semua karakter punya peran yang cukup menghidupkan film.

-Suka dengan ide menggabungkan Zac Efron dan Zac Efron KW alias Dave Franco.

-Anak bayi Mac dan Kelly lucu bangeeeet.

-Permasalahan khas pasangan yang baru punya anak juga tergambarkan dengan baik di film ini.

-Feel good movie.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Aktingnya Rose Byrne sebagai orang Australia kurang terdengar Australia. Kasennya ilang-ilangan. Padahal Rose Byrne itu memang berdarah Australia.

Review film ini juga bisa dibaca via Line @ymg2576q

Ini trailernya…

review

Review: Asterix and Obelix: Mansion of The Gods

Category: Movies

Genre: Animation, Comedy

Rate: 4,5 out of 5

Film ini dibuka dengan adegan Julius Caesar (diisi suara oleh Philippe Morier-Genoud) yang marah karena sampai sekarang masih tak mampu menjajah kaum Galia terakhir, yang tak lain adalah warga desa Asterix (diisi suara oleh Roger Carel) dan Obelix (diisi suara oleh Guillaume Briat). Maka dari itu kali ini Caesar mencoba membangun sebuah mansion dekat dengan desa Asterix. Awalnya upaya pembangunan itu dapat digagalkan oleh Asterix dan Obelix. Namun lama-kelamaan mereka kalah cepat, sehingga berdirilah mansion megah itu menjulang dekat desa mereka. Banyaknya warga baru yang berdatangan membuat warga desa Asterix pun mengalami akulturasi budaya. Proses perubahan dan adaptasi terhadap pembaharuan ini tentu saja menimbulkan kontroversi di desa Asterix. Sehingga perpecahan pun terjadi. Dapatkah Asterix dan Obelix menyelamatkan desanya dari tipu muslihat Caesar kali ini?

 

Yang saya suka dari film ini:

-Saya selalu sangat suka dengan kelucuan dari Asterix dan Obelix. Terutama dialog-dialognya.

-Gambarnya bagus.

-Jalan ceritanya dan alurnya disamakan dengan buku. Memang kayaknya mulai sekarang segala film Asterix dan Obelix sebaiknya dibuat animasi aja, deh. Lebih pas lucunya dan alurnya bisa lebih dieksplor. Apalagi ciri khas Asterix dan Obelix itu adalah keberagaman dan banyaknya tokoh yang berperan. Kalau dibuat dalam bentuk film non animasi, tokoh-tokoh tersebut kurang bisa digali dan ditonjolkan.

-Banyak tokoh-tokoh yang Perancis banget. Jadi kangen sama Perancis…

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Nggak ada sih sebenarnya. Cuma sepertinya jalan ceritanya yang agak belibet karena kebanyakan tokoh membuat anak-anak masih agak susah mengikuti alurnya.

Review ini juga bisa dibaca via Line @ymg2576q 

Ini trailernya…

 

 

review

Review: A Case Of You

Category: Movies

Genre: Romance, Comedy

Rate: 3 out of 5

Film ini mengisahkan tentang Sam (Justin Long) seorang penulis buku. Buku-buku yang ia terbitkan adalah buku berdasarkan film yang sukses di pasaran. Iya, dia membukukan film, bukan sebaliknya. Ia sedang mencoba peruntungannya untuk menulis buku hasil karyanya sendiri. Di saat yang bersamaan Sam naksir dengan gadis pelayan sebuah coffe shop bernama Birdie (Evan Rachel Wood). Setelah berhasil berkenalan dengan Birdie, ide menulisnya mengalir deras. Sam menuliskan kisahnya dengan Birdie. Sam kemudian mencari cara agar bisa lebih dekat dengan Birdie dengan mencari tahu soal gadis pujaannya via Facebook. Sam pun mencoba menjalani dan menyukai semua hal-hal yang Birdie sukai berdasarkan postingan Facebooknya. Sam ikut kursus masak masakan Prancis karena Birdie suka Frenche cuisine, Sam ikut kelas judo karena Birdie pernah posting kalau ia ‘love Judo’. Strategi Sam berhasil. Ia dan Birdie semakin dekat. Mereka pun resmi berpacaran. Sampailah Sam merasa lelah harus menjalani hidup yang bukan ‘dirinya’.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Justin Long. Iya saya ngefans sama Justin Long. Jadi seneng aja lihat muka dia di film ini. Aktingnya dalam memerankan cowok kikuk, clueless yang sedang jatuh cinta itu juga oke.

-Senang bisa melihat Evan Rachel Wood memerankan cewek semi hippie yang ceria dan banyak senyum. Biasanya perannya dark terus. Sejujurnya sepanjang film saya tidak ingat bahwa Birdie itu diperankan oleh Evan Rachel Wood. Menurut saya Evan terlihat berbeda dengan make up yang ringan di film ini. Saya baru tahu kalau Birdie itu Evan Rachel Wood setelah cek di internet.

-Sangat sangat SANGAT suka pas ada Peter Dinklage muncul di film ini. Peran kecil tapi keren banget aktingnya.

-Suka dengan karakter-karakter di film ini yang nggak biasa tapi sering kita temui di keseharian kita.

-Ada beberapa adegan lucu yang kocak sekaligus bikin senyum-senyum sendiri. Apa lagi kejadian yang ‘ngenyek’ anak hipster. LOL!

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Konflik yang muncul terasa tiba-tiba banget. Menurut saya harusnya dibangun sedikit-sedikit biar penonton jadi lebih ngerti.

-Cerita dengan teman sekamar Sam rasanya juga kurang dibangun. Jadi teman sekamarnya terasa seperti angin lalu aja.

 

Ini trailernya…