Review: Flowers (Season 1-2016)

Beberapa episode dari serial Flowers ini sukses bikin saya sesak karena sedih.

Alkisah hiduplah keluarga Flowers. Sang ayah Maurice Flowers (Julian Barratt) adalah seorang penulis buku anak-anak. Diam-diam dia depresi dan ingin bunuh diri. Maurice punya ilustrator sekaligus asisten orang Jepang yang kelewat ceria. Namanya Shun (Will Sharpe).
Istri Maurice, Deborah (Olivia Colman) diam-diam tidak bahagia dengan pernikahannya dan butuh pengakuan bahwa keluarganya sempurna. Maurice dan Deborah punya sepasang anak kembar yang sudah dewasa: Donald (Daniel Rigby) yang terobsesi dengan mesin dan merasa dirinya adalah seorang penemu ulung dan Amy (Sophia Di Martino) seorang musisi yang diam-diam adalah seorang lesbian.

Pada suatu hari Maurice bangun dari tidurnya dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya hari itu juga. Ia pasang tali di sebuah batang pohon, lalu menggantung dirinya. Siapa sangka batang pohonnya patah. Bunuh diri Maurice gagal. Maurice mengira kalau ia berhasil menyembunyikan depresi dan usaha bunuh dirinya dari keluarganya. Sayangnya ibu Maurice yang lansia melihat itu semua. Dengan kepikunannya, ibu Maurice mencoba mereka ulang tindakan bunuh diri Maurice yang berujung ke cedera serius. Saat ibu Maurice dirawat di rumah sakit, hal-hal yang selama ini keluarga Flowers saling sembunyikan mulai terungkap.

Yang saya suka dari serial ini:
+ Serial ini adalah dark komedi yang cerdas!
+ Standing ovation buat Will Sharpe yang bukan hanya jadi aktor di serial ini. Tapi juga penulis naskah sekaligus sutradara. Ketiganya dia jalani dengan sangat baik. Aktingnya sebagai orang Jepang yang rela berbuat apapun untuk orang lain sangat sempurna! Penulisan naskah serial ini oke banget. Semua karakter mempunyai proporsi yang pas. Penyutradraannya juga bagus.
Mulai sekarang semua karya dengan nama Will Sharpe akan masuk di watchlist saya.
+ Belum lama ini saya menulis blog tentang kondisi kesehatan mental saya. Serial ini menjelaskan kondisi mental health buruk masing-masing karakter dengan cara yang lucu dan mudah dicerna. Seperti tentang kesulitan berkomunikasi dengan orang terdekat sampai frustrasi, tentang penyangkalan akan masalah diri sendiri, tentang usaha mencari perhatian, tentang duka ditinggalkan orang yang kita cintai, tentang usaha menghapus kesedihan dengan berpura-pura bahagia.
Ada beberapa adegan yang sedihnya begitu menusuk kalbu saya. Tapi saya yakin orang-orang yang tanpa kondisi kesehatan mental bermasalah pun dapat merasakan kesedihan yang ditunjukkan di serial ini.
Saya sangat menyarankan orang-orang untuk nonton serial ini untuk memahami orang depresi dan kesehatan mental.
+ Aktingnya Olivia Colman udah pasti okelah ya. Olivia selalu bisa akting mengubah emosi secara cepat.
+ Aktingnya Daniel Rigby juga berhasil banget bikin kita kesel.
+ Set dan lokasinya oke. Rumah mungil mereka yang sesak membuat saya berpikir bahwa rumah Keluarga Weasley di Harry Potter itu mungkin memang beneran ada di kehidupan nyata. Meski begitu, saya pengen banget punya rumah kaya gitu. Apalagi pondok mungil tempat Maurice menulis. Kayaknya enak banget kalau punya tempat kerja khusus kayak gitu. Tapi ya, saya emang selalu suka dengan rumah-rumah mungil di pedalaman Inggris sih.

Yang saya kurang suka dari serial ini:
-Rambutnya Deborah keliatan banget wig dan agak ganggu.
-Saya baru tahu Sophia Di Martino di serial ini. Rupanya dia salah satu aktris yang diperhitungkan karena udah masuk di geng superhero Marvel. Tapi menurut saya, aktingnya di serial ini biasa aja sih. Malah kayaknya dia banyak terbantu oleh make up untuk membangun karakternya.

Genre: Drama, komedi
Rate: 4,5 out of 5
Saya nonton serial ini di Netflix.

Ini trailernya….

Review: Whiskey Tango Foxtrot (2016)

Film komedi perang ini sesuai judulnya Whiskey Tango Foxtrot alias WTF!!! Sembah sujud pada Tina Fey!

Film ini mengisahkan tentang seorang jurnalis perang dadakan Kim Baker (Tina Fey). Sebenarnya dia hanya seorang penulis naskah di sebuah stasiun televisi. Namun bosnya berkata kini stasiun televisi mereka kekurangan jurnalis buat ngepos di Afganistan, gara-gara semua jurnalis perang yang mereka punya dikirim ke Iraq. Maka Kim dikumpulkan bersama seluruh pegawai yang belum menikah dan tidak punya anak untuk diberi kesempatan mengajukan diri liputan ke Afganistan (WTF!).
Maka berangkatlah Kim ke Afganistan.
Di sana Kim tentunya mengalami culture shock, namun ia bisa bertahan berkat persahabatannya dengan para jurnalis perang lainnya. Tapi namanya jurnalis di daerah konflik, tentunya tidak semua berjalan dengan mulus.

Yang saya suka dari film ini:
+ Film ini penuh dengan dry comedy/deadpan yang bikin kita bengong mikir mau ketawa atau ga dengan ke-absurd-annya. Banyak banget adegan yang emang WTF banget!
+ Tina Fey junjunganku sangat pas memerankan sosok jurnalis Kim baker yang masih meraba-raba lapangan tapi nggak takut.
FYI tokoh Kim Baker ini benaran ada. Namanya Kim Barker, penulis buku The Taliban Shuffle: Strange Days in Afghanistan and Pakistan. Bukunya bisa dibeli di sini.
+ Margot Robbie di film ini jadi kelihatan cuantik banget. Padahal kalau di film-film lain saya ngeliat dia kayak cewek tampang tua.
+ Lumayan banyak dapat insight dan gambaran susah senangnya jadi jurnalis perang.
+ Film ini cukup bertabur bintang. Antara lain, Billy Bob Thornton, Alfred Molina, dan Martin Freeman.
+ Oiya, Martin Freeman di film ini jadi cowok yang charming banget. Sangat berbeda dengan Martin Freeman di film The Hobbit.
+ Set dan lokasinya bagus! Kayak di Afganistan beneran.

Yang saya kurang suka dari film ini:

– Banyak aktor barat yang jadi tokoh timur (Afganistan). Meski aktingnya bagus, tapi fakta mereka tidak menggunakan aktor berdarah Arab-Afganistan, ini membuktikan kalau film ini tidak disyuting di Afganistan langsung. Film ini disyuting di Santa Fe, Amerika Serikat.

Rate: 3,5 out of 5
Film ini saya tonton di Prime Video.

Ini trailernya…


Review: The Unicorn-Season 2 (2021)

Rasanya The Unicorn ini seperti serial Friends dengan tokoh yang lebih tua.

Category: Series
Genre: Comedy

Ada yang tahu serial The Unicorn sebelumnya? Kalau kalian belum tahu, sama saya juga belum pernah dengar serial ini sebelumnya. Tapi setelah tahu, ternyata serial ini berpotensi jadi serial favorit saya.

Serial yang pertama kali diproduksi pada tahun 2019 ini menceritakan tentang Wade (Walton Goggins) seorang duda ditinggal mati dengan dua orang anak. Setahun sepeninggal istrinya, Wade masih belum bisa move on tapi denial. Para sahabatnya prihatin dengan kondisi Wade. Mereka pun memaksa Wade untuk segera move on. Caranya adalah Wade HARUS segera pacaran lagi dengan wanita lain. Maka petualangan Wade dalam mencari dan berusaha mencintai pun dimulai. Tak lupa dengan campur tangan para sahabatnya yang juga mempunyai permasalahan masing-masing sehingga usaha Wade tidak mulus dengan kekonyolan mereka. Para sahabatnya antara lain: Forest (Rob Coddry) seorang pekerja kantoran yang pemikirannya suka absurd, Delia (Michaela Watkins) istri Forest yang juga seorang dokter anak dan hobi ngatur, Ben (Omar Benson Miller) yang easy going, dan istrinya Ben-Michelle (Maya Lynn Robinson) ibu empat orang anak yang dominan.

Wade yang dipaksa teman-temannya bikin akun online dating.
(Foto: Rogerebert.com)

Di season kedua The Unicorn, yang segera tayang di Fox Life pada 25 Januari 2021 ini, diceritakan Wade yang telah menemukan perempuan yang berhasil menambat hatinya. Namun sayangnya kisah cinta Wade dengan perempuan itu tidak semulus yang ia bayangkan. Karena sang tambatan hati adalah seorang janda anak satu yang mantan suaminya masih tinggal satu atap dengannya. Bagaimana Wade, anak-anak Wade, dan para sahabat Wade bisa menerima kehadiran sosok baru dalam hidup mereka ini?

Wade akhirnya ketemu perempuan yang berhasil bikin dia klepek-klepek
(Foto: Monkeyviral.com)

Yang saya suka dari serial ini:
+ Meski serial ini menjadikan Wade sebagai tokoh utama, namun serial ini mengangkat tema persahabatan dengan dominan. Serial ini mengingatkan saya dengan serial Friends yang menceritakan persahabatan sekelompok orang yang heterogen dengan permasalahan hidup masing-masing. Bedanya di The Unicorn para tokohnya lebih tua aja dari serial Friends. Permasalahan mereka bukan lagi di level mencari pasangan hidup. Melainkan menyeimbangkan kehidupan pekerjaan, keluarga, dan anak.
+ Permasalahan yang diangkat sangat dekat dengan kita (saya), yaitu tentang keluarga. Tentang kesibukan seorang ibu rumah tangga dalam mengurus rumah dan anak, tentang fase pertumbuhan anak dari balita sampai remaja, tentang adaptasi dengan perubahan yang ada di keluarga, sampai tentang komunikasi antar keluarga.
+ Sebagai seorang ibu yang bekerja, saya sangat ingin punya kelompok teman seperti para sahabatnya Wade ini. Apalagi makin umur kita bertambah, makin sedikit pula teman kita bukan?
+ Baju anak-anak di serial ini bagus-bagus banget. Belinya di mana tuh, bund?
+ Scoringnya bagus. Menghidupkan suasana komedi dan feel good-nya
+ Anaknya Wade, si Natalie (Makenzie Moss) cantik banget ya!
+ Itu giginya Walton Goggins kok bisa putih, rapi, bagus banget gitu ya? Dipakein whitestrips kali ya?

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Terlepas dari akting dan giginya Walton yang bagus, tapi di serial ini kita seperti dipaksa percaya bahwa dia ini ganteng banget makanya jadi idaman seluruh wanita.
Padahal pada kenyataannya, mo’on maaf banget nih ya, babang Walton nggak ganteng woi. Badannya bagus, sih. Langsing atletis gitu. Apalagi dia banyak pakai skinny jeans di serial ini. Tapi nggak ganteng. Rambutnya aneh. Padahal bisa lho rambutnya dipanjangin dikit terus ditata dengan gaya yang lebih masa kini gitu.
– Tokoh Ben dan Michelle ini sangat berdasarkan steriotipe keluarga kulit hitam. Padahal bukannya Amrik lagi gencar banget mengkampanyekan untuk mengurangi steriotipe? Correct me if I’m wrong ya di hal ini.

Rate: 4 out of 5
Season 2 serial ini bisa ditonton di Fox Life mulai 25 Januari 2021.

Ini trailernya…


Review: The Invention of Lying (2009)

Ide cerita The Invention of Lying ini bagus banget.

Film ini mengisahkan tentang sebuah dunia yang tidak mengenal konsep berbohong. Semua orang berbicara jujur apa adanya. Dunia yang mereka tinggali sangat minim drama karena semua orang terbiasa menelan pil pahit kejujuran. Mereka juga tidak mengenal konsep fiksi/karangan yang merupakan turunan dari konsep berbohong. Sehingga semua film mereka harus berdasarkan sejarah.
Maka di dunia yang serba jujur ini, Mark Bellison (Ricky Gervais) harus menjalani hidup dengan getir. Karena ia bukanlah pria berwajah menarik dan tubuhnya tidak atletis. Perempuan yang ia ajak kencan, terang-terangan bilang kalau dia bukan pria yang menarik dan tidak ingin lagi berkencan dengannya. Sebagai pelengkap kesedihannya, Mark juga kena pecat dari pekerjaannya sebagai penulis naskah film karena dianggap tidak perform.
Di saat Mark terpuruk, ia tanpa sengaja menciptakan kebohongan untuk pertama kalinya di dunia. Bagaimana dunianya menerima kebohongannya?

Yang saya suka dari film ini:ss
+ Ide cerita film ini keren dan orisinil.
+ Penulisan naskahnya bagus. Ricky Gervais yang ikut nulis naskah ini membuktikan kalau dia bukan hanya sekedar komedian. Namun juga seorang penulis yang cerdas.
+ Aktingnya Ricky Gervais di film ini juga beda. Dia berhasil tampil sebagai tokoh loser yang patut dikasihani. Nggak ada satupun komentar atau senyuman ngenyek colongan yang selama ini jadi ciri khasnya.
+ Banyak pemeran pembantu yang keren-keren. Ada Tina Fey, Louis C.K., dan Jonah Hill.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Aktingnya Jennifer Garner terkesan kayak cewek sok polos yang dibuat-buat.
Rob Lowe kok aktingnya template kayak Chris Traeger di serial Park & Recreations?
– Ada beberapa tokoh yang kemunculannya nggak perlu sih. Saya jadi dapat kesan kalau film ini tuh ‘proyek ajak teman’-nya Ricky Gervais. Jadi begitu dia bikin film, semua temannya diajak main. Bantu teman gitu, biar karirnya ikut kedogkrak. Kayak Ernest Prakasa gitu lah.

Rate: 4 out of 5
Film ini saya tonton di Netflix.

Ini trailernya…

Review: Imperfect (2019)

Sejauh ini filmnya Ernest Prakasa belum ada yang mengecewakan.

Film yang diangkat dari novel karya Meira Anastasia ini mengisahkan tentang hidup Rara (Jessica Mila) yang berbadan gemuk. Bukan hanya gemuk, tapi ia juga berkulit gelap. Sangat berbeda dengan ibu dan adiknya yang berkulit putih dan bertubuh langsing. Sebenarnya hidup Rara nggak buruk. Ia punya karier yang bagus dan pacar tampan yang menerima apa adanya. Bertahun-tahun ia bisa menerima dirinya yang selalu dibanding-bandingkan dengan kecantikan si adik dan diperlakukan berbeda oleh masyarakat karena bentuk tubuhnya. Namun Rara bagai mendapat tamparan keras begitu bentuk tubuh dan penampilannya mempengaruhi penilaian bosnya untuk menaikkan jabatan.
Oleh karena itu, Rara bertekad untuk menurunkan berat badan dan memperbaiki penampilannya. Tapi apakah menjadi langsing dan cantik itu jadi jaminan untuk bahagia?

Yang saya suka dari film ini:
+ Film karyanya Ernest Prakasa itu sejauh ini selalu bagus. Apalagi naskahnya, bagus banget! Tepuk tangan untuk Ernest dan Meira Anastasia untuk naskahnya.
+ Banyak dialog yang lucunya berkualitas.
+ Sangat senang dengan tema dan solusi konflik yang diangkat oleh film Imperfect ini. Film tentang make over dari si buruk rupa jadi cantik itu udah banyak. Namun dengan penyelesaian konflik seperti di film ini, ya baru di Imperfect doang yang saya lihat.
+ Dari mana lagi ya harus saya mulai pujian tentang akting dan ketampanan Reza Rahadian? Pokoknya mas Reza, aku padamu, meski kamu padanya. Tiup cium, fuh…
+ Pujian akting juga harus saya berikan pada Uus sebagai preman kampung dan Kiky Saputri anak kos lenjeh doyan pake baju seksi. Jatah akting mereka memang nggak banyak, tapi sangat memorable.
+ Set dan lokasinya bagus. Terasa Indonesianya.
+ Tumben-tumbenan saya kesel ngeliat tokoh yang diperankan oleh Boy Wiliam. Artinya aktingnya Boy juga berhasil di film ini.
+ Akting Yasmin Napper patut dipertimbangkan. Saya ingin melihat aktingnya lebih banyak lagi.
+ Sangat suka dengan pesan film ini yang bukan hanya mengenai self love, tapi juga support orang-orang terdekat.
+ Suka juga dengan bagaimana Ernest mulai mengurangi ‘ngajak teman’ komika untuk di filmnya. Bukan apa-apa, kadang tokoh komika yang hadir itu kebanyakan. Jadi perannya kurang penting semua. Mereka memang lucu, tapi mubazir rasanya.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Scoringnya terdengar kurang pas. Nggak semua adegan harus diisi musik sih, menurut saya.
– Baju-baju Rara pada saat gemuk itu terasa monoton dan kayak piyama. Kayaknya ini trik agar bobot Jessica Mila bisa terlihat segemuk tokoh Rara. Wignya Rara juga terlihat ganggu :-/
– Asri Welas tuh dapat akting yang ya….gitu-gitu aja sih.

Rate: 4,5 out of 5
Film ini saya tonton di Netflix.

Ini trailernya…

Review: Terlalu Tampan (2019)

Film yang diangkat dari webtoon ini mengisahkan tentang sebuah keluarga yang terlahir dengan sangat tampan. Sampai si ibunya pun tampan. Ketampanan mereka tentu saja membuat banyak perempuan tergila-gila. Banyak kemudahan hidup yang mereka rasakan karena berkah ketampanan tersebut. Namun tidak bagi si bungsu Kulin (Ari Irham). Bagi Kulin ketampanannya ini kutukan. Ia tidak bisa keluar rumah dengan bebas tanpa dikejar-kejar oleh perempuan yang histeris begitu melihat wajahnya. Makanya ia memilih untuk homeschooling dan hanya berteman dengan Anto, ikan peliharaannya.
Melihat hal ini, keluarga tampan jadi resah. Mereka pun merancang sebuah skenario agar Kulin mau ke sekolah normal. Skenario mereka berhasil. Kulin kini mau mulai ke sekolah biasa asal di sekolah khusus pria. Namun di sekolah ini ketampanan dia tetap bawa masalah. Ia jadi sasaran gencetan senior. Ia dipaksa harus bisa meloloskan proposal prom night gabungan dengan sekolah khusus perempuan. Apa yang Kulin harus lakukan?

Yang saya suka dari film ini:
+ Film ini kan diangkat dari komik webtoon, ya. Nah, film ini masih tetap mempertahankan kekomikannya. Jadi kita bisa melihat banyak efek-efek khas komik yang seru dan menambah kekocakannya. Salut lah buat sang sutradara Sabrina Rochelle Kalangie, film ini ia garap dengan baik.
+ Kocaknya menghibur dan nggak lebay dibuat-buat.
+ Sukaaaaaaak banget sama aktingnya Rachel Amanda. Dia ini dari zaman masih bocah aktingnya udah outstanding dibanding aktor cilik lainnya. Pas udah gede, aktingnya makin prima.
+ Ari Irham emang jadi ganteng sih di film ini.
+ Seluruh tokoh yang dihidupkan ke film ini tetap nggak meninggalkan ciri komiknya.
+ Jalan ceritanya juga baguuuus.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Apa ya…. Ada beberapa anggota keluarga Tampan yang menurut saya biasa aja sih tampannya.

Film ini saya tonton di iflix
Rate: 4,5 out of 5

Ini trailernya…

Review: Late Night (2019)

Saya nggak suka dengan Mindy Kaling. Tapi harus saya akui kalau dia adalah perempuan yang cerdas.

Film ini mengisahkan tentang seorang host TV terkenal Katherine Newbury (Emma Thompson) yang masa jaya acaranya memudar. Rating acaranya menurun terus. Maka petinggi televisi memutuskan untuk segera mengganti posisinya dengan host baru yang lebih muda.
Dalam usahanya untuk menyelamatkan acaranya, Katherine yang superior dan berhati dingin pun melakukan beberapa perubahan. Salah satunya dengan memperkerjakan seorang perempuan untuk pertama kalinya di tim penulisnya. Perempuan itu adalah Molly (Mindy Kaling). Molly tidak hanya perempuan, ia juga seorang ras India, dan ia tidak punya basic kerja di dunia pertelevisian karena pekerjaan sebelumnya adalah salah satu tim pengawas di pabrik Kimia. Akankah kehadiran Molly bisa mengubah keadaan?

Yang saya suka dari film ini:
+ Ini bukan sekadar film drama komedi. Film ini punya banyak kritik sosial tentang banyak hal. Antara lain: mengenai perempuan sebagai minoritas di dunia kerja, mengenai minoritas ras, mengenai politik antar perempuan dia dunia kerja (baik tentang keirian perempuan dan cara perempuan mengalahkan lawan dengan elegan).
+ Harus saya akui kalau penulisan naskah film ini cerdas. Penulisnya tak lain dan tak bukan adalah Mindy Kaling.
+ Aktingnya Emma Thompson…. Ya Allah perempuan ini keren banget, sih! Saya sudah melihat banyak film yang dia perankan. Di semua filmnya, saya melihat ia seperti orang yang berbeda. Ia tidak punya ciri khas di tiap aktingnya. Semuanya seperti berdiri sendiri.
+ Baju-bajunya Katherine Newbury dan gaya rambutnya bagus banget siiiiih! Love ngets!
+ Ada satu dialog tentang karma yang dilontarkan oleh suaminya Katherine yang ngena di hati saya.
+ Dari film ini saya belajar kalau industri pertelevisian di Amerika sana itu pnya konflik politik yang cukup kental. Semuanya berawal dari rating.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Sejujurnya saya bukan fansnya Mindy Kaling. Entah kenapa saya melihat dia punya punya pribadi yang ‘sengak’. Tapi apalah saya, kenal sama Mindy Kaling aja kagak tapi berani menilai orang dari tampangnya.
– Ada beberapa adegan yang sok lucu, tapi nggak pas. Terlalu slapstick.

Film ini saya tonton di Netflix.
Rate: 4 out of 5

Review: The Night Before

Category: Movie
Genre: Comedy, Adventure
Rate: 3,5 out of 5

Image result for the night before movie poster

Film ini menceritakan tentang tiga sekawan yang terobsesi ingin ke pesta tahunan sebelum malam Natal yang bernama Nutcracker Ball. Bertahun-tahun mereka berusaha mendapatkan tiket untuk ke pesta rahasia itu, namun tak kunjung berhasil. Sampailah Ethan (Joseph Gordon-Levitt) berhasil mendapatkan tiket menuju pesta tersebut. Ia kemudian tentunya mengajak kedua sahabatnya, tak lain Chris (Anthony Mackie) yang kini adalah seorang atlet rugby terkenal dan Isaac (Seth Rogen) yang telah menjadi seorang pengacara dan sedang menunggu kelahiran anak pertamanya.
Berhubung ini adalah sebuah pesta rahasia, maka mereka harus menunggu petunjuk mengenai lokasi pesta sesuai arahan yang akan diberitahu pada tengah malam nantinya. Sementara menunggu jam itu, mereka pun mencoba mengisi waktu yang malah menjadi sebuah petualangan lucu dan menguji persahabatan mereka.

Yang saya suka dari film ini:
+ Yah… Lucu lah.
+ Chemistry antara Joseph Gordon-Levitt, Seth Rogen, dan Anthony Mackie ini pas. Mereka memang terlihat sebagai tiga sekawan yang saling mengisi.
+ Anthony Mackie cekp ya. Bulu matanya panjang dan lentik gitu.
+ Ada James Franco jadi cameo. Yeaaaay! Entah kenapa saya selalu suka kalau ngeliat James Franco dan Seth Rogen dalam satu frame.
+ Feel good movie lah…

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Agak sok-sok film Hangover gitu. Jadi nggak merasa ada yang baru dari film ini.
– Meskipun aku tuh cinta ama Seth Rogen, tapi lama-lama akting Seth Rogen kok gitu-gitu aja ya? Sampeyan itu akting atau emang sehari-harinya udah begitu aja, sih?
– Film ini kok terasa kayak proyek teman, ya? Yang muncul tuh kayaknya aktor di lingkaran Jonathan Levine sang sutradara aja gitu.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya…

Review: Parasite

Category: Movies
Genre: Dark Comedy, Thriller
Rate: 4,5 out of 5

Related image

Jarang jarang nih saya bela-belain nonton film Korea di bioskop. Biasanya nunggu streamingan aja. Eh…… Nggak juga deng. Lebih tepatnya saya jarang nonton film Korea. Tapi begitu denger film ini menang Palm d’Or dari Cannes Film Festival, jadi semangat deh buat nonton.

Film ini dibuka dengan memperlihatkan kemiskinan keluarga Ki Taek (Kang-Ho Song). Ia adalah suami sekaligus ayah dari dua anak yang sudah beranjak dewasa. Mereka tinggal di rumah sempit dalam gang sempit pula. Saking miskinnya, beli paket internet aja nggak mampu. Mereka selalu numpang wifi gratisan dari tetangga.
Sampailah suatu ketika teman anak lelakinya datang ke rumah. Ia menawarkan anak lelakinya, Ki-Woo (Woo-sik Choi), menjadi guru les pengganti anak keluarga kaya karena dia harus melanjutkan sekolah.
Maka berangkatlah Ki-Woo ke rumah keluarga kaya itu menjadi guru les. Dari hari pertama Ki-Woo mengajar, ia bisa melihat peluang untuk mensejahterakan keluarganya dengan cara menyingkirkan beberapa pekerja di rumah kaya itu. Rencana Ki-Woo berjalan mulus. Tanpa ia sadari bahwa rumah mewah itu menyimpan sebuah rahasia…

Yang saya suka dari film ini:
+ JALAN CERITANYA BAGUS!
+ Banyak twist yang cukup mengejutkan
+ Pesan tentang kesenjangan antara si kaya dan si miskin bikin kita mikir begitu keluar dari bioskop
+ Entah kenapa dialog pembahasan tentang hujan di mobil itu bikin saya sedih jleb
+ Aktingnya oke-oke pisanlah!
+ Memang referensi film Korea saya nggak banyak. Tapi baru di film ini doang saya bisa melihat orang Korea yang miskin. Abis selama ini saya pikir semua orang Korea itu mulus, putih, hidupnya cool-cool aja, tahu-tahu ada cowok kaya tapi sombong yang naksir sama kita—–>iya, ini saya ambil dari plot drama Korea
+ Set dan lokasinya oke banget. Apalagi set di rumah orang tajirnya
+ Banyak dialog yang oke dan menghidupkan cerita
+ Suka banget suara ngebass Sun-kyun Lee yang memerankan si bapak orang kaya. Jangan sampai dia jadi voice over iklannya KFC, ya. Soalnya mendengar suaranya aja ku sudah berselera (apaan sik!)
+ Banyak adegan yang bikin deg-degan gregetan. Padahal bukan pas adegan sadis juga sih.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Adegan sadisnya itu, lho……. Jangan ditonton sama anak-anak, ya! Film Korea itu kalau bikin adegan sadis itu beneran ampun, deh….
– Ini sebenarnya film komedi. Tapi karena komedinya dark, jadi mau ketawa tuh harus mikir dulu. “Ini sebenarnya lucu. Nggak apa-apa kan kalau gw ketawa? Bakal menyinggung nggak nih kalau gw ketawa sekarang?”
– Ada satu adegan tentang toilet yang bikin saya bergidik jijik
– Menurut saya posternya nggak mencerminkan filmnya, deh. Begitu juga dengan taglinenya.

Ini trailernya…


Review: Nothing To Hide

Category: Movies
Genre: Drama
Rate: 4 out of 5

Image result for nothing to hide netflix

Film Perancis yang ditayangkan di Netflix ini menceritakan tentang 7 orang sekawan yang kumpul untuk makan malam bersama. Si tuan rumah, pasangan Vincent (Stephan De Groodt)-Marie (Berenice Bejo) yang diam-diam sedang berjuang agar rumah tangga mereka tetap utuh, ada pasangan Marco (Roschdy Zem) dan Charlotte (Suzanne Clement) yang saling berahasia, ada pasangan Thomas (Vincent Elbaz)-Lea (Doria Tillier) yang lagi mesra-mesranya karena baru menikah, dan ada Ben (Gregory Gadebois) si bujangan.

Makan malam mereka berlangsung baik-baik saja. Sampailah tercetus permainan untuk mereka menaruh handphone masing-masing di tengah meja, lalu semua pesan dan telepon masuk akan dibaca serta didengarkan bersama. Dari situlah satu-persatu rahasia terdalam mereka terungkap…

Yang saya suka dari film ini:
-Ceritanya orisinil dan konfliknya realistis banget
-Twistnya lumayan wuaw-wuaw
-Sangat suka dengan seluruh akting mereka. Film yang banyak dialog ini memang harus dihidupkan dengan akting yang kuat. Nonton film ini membuat saya teringat dengan film Carnage (2011) yang intense dengan dialog. Sampai-sampai saya jadi mikir, ‘gimana ya mereka menghafal dialog itu semua?’
-Suka banget juga dengan adegan sang ayah menasehati anak perempuannya via telepon. Begitu menyentuh dan pesannya pas banget.
-Jangan terkecoh dengan covernya yang terkesan ini adalah film komedi, ya. Pada kenyataannya saya malah jadi agak tegang karena cemas akan rahasia mereka terbongkar.

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Tokoh Marie kayaknya kemudaan dibanding yang lainnya.
-Rambut Lea lama-lama kok kusut nggak jelas. Gatel pengen nyisir. Kayaknya tim make-upnya kurang teliti di bagian ini.

Ini trailernya… (yang di Netfilx ada subtitelnya kok)


https://www.youtube.com/watch?v=Gf8QydKdOis