blog

Tangan

Seberapa sering anakmu meminta kamu meletakkan handphone yang kamu pegang lalu bermain dengannya?

Kriby mulai sering melakukan hal itu. Dia butuh kedua tangan saya untuk menggenggam tangannya selama ia melompat-lompat di kasur. Maklumlah, Kriby belum terlalu lancar loncat-loncat sendiri di kasur.

Selama memegangi kedua tangannya ketika ia melompat-lompat dengan girang, saya bisa melihat di matanya bahwa ia senang bukan main. Terlihat juga kalau ia begitu sayang sama saya. Bagi dia, saya adalah dunianya. Makanya ia meminta atensi saya secara penuh untuk melihat dia melakukan berbagai hal yang sering kali kita anggap remeh.

“Bunda! Bunda! Liat! Liat!”

Karena tingkah lakunya sering saya anggap remeh, tak jarang saya hanya memperhatikan sekilas lalu balik lagi menatap handphone yang saya pegang.

“Instagram gosip lagi seru, nih. Di grup WhatsApp juga lagi ngobrol seru. Bentar ya, nak,” batin saya sambil menatap handphone lekat-lekat.

Padahal handphone ini sudah saya pegang, tatap, dan cari-cari sejak saya bangun pagi sampai tidur lagi. Handphone ini saya bawa kemana-mana. Sedangkan Kriby saya hanya bertemu di pagi hari saat hendak berangkat bekerja dan malam hari sepulang saya dari kantor. Di frekuensi saya yang sangat sedikit bertemu Kriby itu, kenapa saya masih mendistraksikan diri dengan handphone, ya?

Maafin Bunda ya, nak. Bunda sadar apa pun yang ada di handphone ini tidak lebih penting dari kamu.

Wahai kaum ibu di era digital, taruhlah handphonemu, lalu genggamlah tangan anakmu.

(Foto: Izin nyomot dari sini)
blog

Atas Nama Cinta, Saya Buatlah Akun Line@

Aloha handai taulan sekalian…

Beberapa waktu ini saya tertarik dengan Line@. Tahu Line@ nggak? Itu lho, aplikasi Line yang biasanya dipake oleh online shop agar chat sama customernya bisa lebih mudah. Yang para sista online shop selalu bilang ‘LINE: @abcd-jangan lupa pakai tanda @nya’. Iya akun Line yang begitu.

Yang paling menarik dari Line@ adalah mereka mengklaim kalau bisa datangin duit. Katanya kayak di-monetize gitu lah. KATANYA!

Sebagai emak-emak yang selalu kekurangan duit tapi kebanyakan gaya dan terlalu malas untuk berkeringat demi mendapatkan uang macam saya, tentu saja saya jadi amat sangat tertarik!

Saya pun browsing cara supaya bisa dapatin duit dari Line@. Kebanyakan sih katanya dapat duitnya dengan cara menggunakan Line@ sebagai media utnuk berinteraksi jual-beli dengan pelanggannya. Ya seperti yang dipakai oleh para sista online shop begitu.

Lalu di mana letak pendapatan uang dengan gampang dan tinggal ongkang-ongkang kaki doang yang mereka gembar-gemborkan? Coba saya browsing lagi, deh. Hmm…ketemu beberapa doang. Tapi nggak dijabarin mekanisme pastinya gimana cara uang mengalir melalui akun Line@ tersebut. Mereka cuma bilang yang intinya, ‘bikin konten di akun Line@->dapat followers ribuan->dapat uang jutaan’.

Yaelah…ini mah seperti janji-janji manis MLM. Yaitu, akan dapat uang ratusan juta asal ikut jualan. Saya kan mau dapat duit dan kemahsyuran dengan gampang. Kenapa sih kalian mempersulit hidup saya begini???

Okeh, bye Line@!

Blog walking aja ah biar nggak seteres. Eh Dian Arika Sari apa kabar ya? Coba lihat aaah…

Lalu saya tertampar pas membaca salah satu blognyaterutama bagian ini…

Fame became a goal. 

When fame is a goal, it is dangerous. It creates obsession over likes and followers that don’t even matter in real life. Because when fame is a goal, things are no longer authentic. You do everything it takes to maintain and increase your fame value. You fabricate stories. You buy followers. You keep stocks of photos to upload over the next one week to look like your cafe-hopping every single day. But why lie to your followers? They are jealous of you and see yourself as #lifegoals, but little do they know, you are living a lie – no matter how big or small.

Inti dari tulisan ini adalah: KALAU MAU DAPAT DUIT, YA KERJA NYONG! ENAK AJA LO ONGKANG-ONGKANG KAKI TERUS DAPAT DUIT. KECUALI KALAU LO ITU PENJAHIT! PENJAHIT ITU KALAU ONGKANG-ONGKANG KAKI ALIAS MENGGERAKKAN KAKINYA ITU JUGA BUAT KERJA BIAR MESIN JAHITNYA JALAN. LAH ELU, UDAHLAH MESIN JAHIT NGGAK PUNYA, BISA JAHIT JUGA KAGAK, TERUS NGAREP DARI ONGKANG-ONGKANG KAKI DAPAT DUIT GITU? NENEK LO NYIMENK!!!!

[Tapi…tapi…kalau main Line@ atau dapat duit dari medsos kan yang kerja itu tangan, terutama jempol. Makanya kakinya ongkang-ongkang aja.]

ET DAH BOCAH DIKASIH TAU YANG BENER NGEJAWAP AJA LAGIK! MAU GUA KEPRET PAKE LUDAHNYA DONALD TRUMP LU BIAR RAMBUT LU JADI KAYAK SEMAK-SEMAK? MAUK? MAUK??? GUAMPARIN LU!

Panas rasanya pipi ini akibat tamparan tulisan Dian Arika Sari sodara-sodara. Saya jadi mengerti kegundahan dan kesedihan yang ada di lagu ini. Terutama bagian lirik “lihatlah tanda merah di pipi…”

Saya akhirnya sadar bahwa selama ini saya dibutakan oleh nafsu syaiton yang membuat saya gelap mata. Saya butuh uang pak *nangis nunduk di meja kantor polisi*———>laaaah macam kriminil di Buser dah!

Eh tapi beneran deh, keinginan saya untuk cepat terkenal dan melengserkan trah Raffi Ahmad dan jadi kayak raya seperti Nagita Slavina itu bikin saja lupa akan niatan awal saya menulis blog dan bermain media sosial. Dan lagi-lagi ada satu bagian tulisan Dian Arika Sari mengepret muka saya dengan pedas bagai dikepret pake sapu lidi yang dicelupin sambal mercon. Begini bunyi tulisannya…

When I started blogging back in 2007, the intention to blog was to purely write out of love. I loved the idea of owning a space in this world where we get to express our thoughts and feelings without being steered by anyone else but us.

Itulah niatan awal saya: menulis jujur dari hati dan pikiran dengan cinta.

Jadi bagaimana dengan niatan membuat akun Line@ ini? Kita batalkan saja?

Setelah saya membaca tulisan tersebut, saya jadi tambah semangat bikin akun Line@ itu. TAPIII kali ini dengan niatan yang jauuuuuh berbeda. Niatan saya betul-betul untuk berbagi dan yang saya bagi di Line@ adalah review film semata. Kenapa cuma review film? Karena saya sadar bahwa kehidupan saya sebagai emak-emak yang banyak gaya ini terlalu membosankan untuk dibagi secara kontinyu via aplikasi tersebut. Dan konon banyak teman-teman saya yang suka membaca review film yang saya tulis di blog ini. Soalnya saya nulis reviewnya secara jujur dan cetek. Nggak pake gaya penulisan pilosopis, komparatip, maupun konstruktip ala-ala review film serius di media ataupun kritikus film serius. Ya saya nulis aja, karena saya suka.

Untuk itu kalau para pembaca yang budiman berkenan, mohon di-add lah akun Line@ saya: @ymg2576q. (Jangan lupa pake ‘@’nya ya, sis)

Woelaa… Susah bener dah nama akun lu, Dis.

Iyak, maklum ini masih pake akun yang standar. Jadi nama akunnya nggak bisa milih. Kalau mau dapat nama akun yang berdasarkan pilihan kita sendiri itu harus bayar. Saya sih nggak keberatan untuk bayar, asal follower akun Line@ itu di atas angka 10 aja, saya akan coba beli deh nama akun yang bagus dan mudah dieja *ndusel-ndusel Si Punk Rock nyogok manja biar boleh gesek kartu kredit*

Kenapa targetnya cuma 10? Karena sejujurnya saya nggak yakin akan banyak yang mau follow. Abis rencananya, akun Line@ saya ini akan berisi review-review film yang pernah saya tulis di blog juga. Bedanya ini di Line@ dan foto serta video yang bisa saya taruh dalam satu postingan sangat terbatas. Tapi positifnya, para pembaca yang budiman yang dulu mungkin suka bacain review film saya via handphone sekarang akan lebih mudah membacanya via Line@. Karena lebih ringan dan lebih gampang diakses. Nggak perlu loading lama untuk buka blog saya via ponsel. Begitchu ^_^

Dan ada satu hal lagi yang bikin saya nggak yakin followers Line@ saya akan banyak, yakni review-review film saya itu nggak up to date alias film yang direview kebanyakan film lama. Bukan film yang lagi tayang di bioskop. Saya  sebagai penyuka film tentu saja mau banget me-review film yang sedang nangkring di bioskop. Namun apa daya, saya adalah mahmud abas (mamah muda anak baru satu) yang mengurus anaknya sendiri di rumah. Jadi kalau saya mau ke bioskop, saya harus boyong Kriby juga masuk bioskop. Sayangnya nggak semua film di bioskop itu kan cocok untuk ditonton oleh anak-anak. Ya sudah , saya nonton film di rumah saja. Itu juga malam-malam, nunggu Kriby udah mulai kriyep-kriyep.

Daaaaaan satu lagi yang mungkin akan membuat orang ogah follow akun Line@ saya, yaitu saya nggak akan me-review film Indonesia. Eits, bukannya sombong dan sok bule kayak Boy William, lho ya. Justru karena kecintaan saya terhadap film dan keterbatasan akses saya untuk menonton bioskop, maka saya ogah nonton film Indonesia yang hasil bajakan atau donlotan. Big no-no. Pokoknya kagak mau. Tapi kalau nonton film bule bajakan sih saya mau aja. Orang bule kan duitnya udah banyak. Mereka kan juga buang banyak produk gagal, mengeruk keuntungan yang pembagian hasil yang tidak sepadan, mencuci otak kita dengan makanan tidak sehat, dan mengeskploitasi alam negeri kita kan udah banyak. Jadi apalah arti kerugian mereka melalui saya yang nonton film mereka secara bajakan? *nyengir kuda*

Balik ke soal review film Indonesia… Saya juga enggan mereview film Indonesia yang saya tonton melalui tayangan televisi. Karena di tivi kadang banyak dipotongnya. Entah itu karena disensor atau emang dipotong biar durasinya pas untuk masuk iklan. Sehingga kalau saya memaksakan review film Indonesia yang tayang di tivi, rasanya nggak adil. Ibaratnya kayak mencicip nasi tumpeng dengan ayam gorengnya aja. Padahal masih ada lauk lain yang harus dicicip juga sebelum bisa menyimpulkan tumpeng itu enak atau nggak.

Jadi beqitulah qira-qira qisah inyong tentang Line@. Jika berkenan mohon difollow ya qaqaaa~~. Tolong dibantu ya *prok prok prok*

review

Review: Menu Andalan di MVP Sports Bar & Grill

Hari Sabtu, 7 Mei lalu gw diundang Glam untuk review restoran yang sedang ia handle. Waktu dia mengundang via telpon, Glam bilang kalau ini adalah restoran berkonsep sport bar.

“Makanannya enak nggak? Makanannya apa?” tanya gw dengan sok cool padahal senang banget karena bakal makan gratis.

“Nanti gw kirimin foto-fotonya ya via Whatsapp,” ujar Glam dengan nada menahan rasa terhina karena gw mempertanyaan kelezatan makanan restoran dia.

Setelah telpon ditutup, Glam pun membombardir handphone gw dengan gambar makanan dari restorannya. Gw pelajari satu-persatu foto tersebut dengan tingkat ketelitian dokter yang sedang melihat foto rontgen. Setelah gw perhatikan foto-foto tersebut, gw pun memutuskan untuk………

bawa rombongan untuk makan gratis! (ki-ka) Gw ajak adik gw si Agam, anak gw si Kriby, Peggy dari Pegi-pegi.com, Mariska Uung dari Mariskatracy.com, Si Punk Rock, dan gw yang paling kece pake kaos biru pinjeman punya Agam
bawa rombongan untuk makan gratis!
(ki-ka) Gw ajak adik gw si Agam, anak gw si Kriby, Peggy dari Pegi-pegi.com, Mariska Uung dari Mariskatracy.com, Si Punk Rock, dan gw yang paling kece pake kaos biru pinjeman punya Agam.

 

MVP Sports Bar & Grill ini terletak di Jl. Jembatan Tiga No. 35 Jakarta Utara. Pas gw cek di Google Map doi masuk daerah Pluit. Jauh ya! Ya bagi orang kayak gw yang ngontrak di Pondok Labu dan sesekali pulang ke Bekasi pasti Pluit terbilang jauh. Tapi coba untuk Irina yang tinggal di Pluit. Pasti jalan Jembatan Tiga ini tidak dianggap jauh olehnya. (Ya iyalah!) Intinya, jauh-dekat itu relatif. Karena jauh-dekat sekarang 3000 (halah, dikata naik metromini apah!)

Mencari MVP Sports Bar & Grill ini gampang-gampang susah. Gampang karena dia itu nempel dengan  Hotel Tematik, susah karena signage-nya menurut gw terlalu kecil. Gw hampir merasa nyasar begitu sampai depan Hotel Tematik. Padahal gw nggak nyasar, gw cuma nggak melihat signagenya karena pandangan gw terhalang pagar hahaha

Begitu masuk ke dalam restoran ini, tanpa gw sangka-sangka tempatnya lebih luas dari yang gw kira. Sepertinya memang restoran ini serius pengen menjadikan ini tempat nongkrong para penggemar olahraga. Mereka ada fasilitas meja bilyar, big screen infocus buat nobar, live music, dan sitting arrangement yang leluasa. Dindingnya pun dipenuhi oleh display ornamen yang berbau olahraga, baik dari sepak bola, basket, dan lain-lain.

Ada area main dartnya juga lho.
Ada area main dartnya juga lho.

 

Main dartnya pake mesin. Bukan asal tempel dart board biasa di dinding.
Main dartnya pake mesin. Bukan asal tempel dart board biasa di dinding.

Setelah puas melihat-lihat dan melepas Kriby untuk eksplorasi dan menandai daerah jajahannya, kini sudah saatnya kami mencicipi makanannya.

Pertama-tama gw pesan Milkshake Choco Nutella Oreo ini. Rasanya: enak! Awalnya gw ragu rasa Nutella akan tetap ada. Soalnya ada tiga rasa kuat yang disatukan: cokelat, nutella, oreo. Ternyata nutellanya tetap terasa kok.
Pertama-tama gw pesan Milkshake Choco Nutella Oreo (35K IDR) ini.
Rasanya: enak! Awalnya gw ragu rasa Nutella akan tetap ada. Soalnya ada tiga rasa kuat yang disatukan: cokelat, nutella, oreo. Ternyata Nutellanya tetap terasa kok.

 

Touchdown Platter (160k IDR) Enak nih buat makanan rame-rame. Potongan ikan dory-nya kegedean sih menurut gw. Jadi sekali lep berpotensi bikin kenyang. Tapi gw kan emang makannya banyak dan ibu menyusui pula. Jadi kata kenyang masih jauh dari pandangan.
Touchdown Platter (160k IDR)
Enak nih buat makanan rame-rame. Potongan ikan dory-nya kegedean sih menurut gw. Jadi sekali lep berpotensi bikin kenyang. Tapi gw kan emang makannya banyak dan ibu menyusui pula. Jadi kata kenyang masih jauh dari pandangan. Btw Kriby gw kasih kentang gorengnya langsung anteng. 

 

Dabu Chicken Wings (35k IDR) Ini enaaaaaaaak banget!  Intinya sih ini adalah chicken wings digoreng tepung terus ditaburi sambal dabu-dabu semi sambal matah. Rasanya menyegarkan karena sambal dabunnya itu. Kenapa restoran lain nggak pernah kepikiran untuk membuat chicken wings dengan sambal Indonesia seperti ini ya? Bravo to the chef!
Dabu Chicken Wings (35k IDR)
Ini enaaaaaaaak banget! Intinya sih ini adalah chicken wings digoreng tepung terus ditaburi sambal dabu-dabu semi sambal matah. Rasanya menyegarkan karena sambal dabunnya itu. Kenapa restoran lain nggak pernah kepikiran untuk membuat chicken wings dengan sambal Indonesia seperti ini ya? Bravo to the chef!

 

Steak & Fries (180k IDR) Gw adalah pemakan ikan. Gw jarang makan daging. Tapi begitu gw coba daging USA Prime Rib Eye ini, rasanya lebut dan enak! Porsinya juga besar. Satu meja kami kebagian makan semua. Horeee!
Steak & Fries (180k IDR)
Gw adalah pemakan ikan. Gw jarang makan daging. Tapi begitu gw coba daging USA Prime Rib Eye ini, rasanya lebut dan enak! Porsinya juga besar. Satu meja kami kebagian makan semua. Horeee! (Foto: Agam)

 

Cajun Grilled Salmon (165k IDR) Steak salmon tebal ini juga enak. Kematangannya pas. Merata tapi nggak kering. (Foto: Agam)
Cajun Grilled Salmon (165k IDR)
Steak salmon tebal ini juga enak. Kematangannya pas. Merata tapi nggak kering.
(Foto: Agam)

 

MVP Cheese Burger (75k IDR) Look at that melting cheese!
MVP Cheese Burger (75k IDR)
Look at that melting cheese!

 

I mean, look at it! Tiap tanya ke pelayannya, burger ini selalu disebut sebagai menu andalan mereka. Ternyata rasanya memang tidak mengecewakan. Gw juga suka dengan kentangnya yang disajikan dengan mayones. Oh how thoughtful of you, chef. Kentang goreng itu memang jodohnya mayones! (Foto: Agam)
I mean, look at it!
Tiap tanya ke pelayannya, burger ini selalu disebut sebagai menu andalan mereka. Ternyata rasanya memang tidak mengecewakan. Bukan hanya daging nya yang diracik sendiri, tapi rotinya pun mereka buat home made. Gw juga suka dengan kentangnya yang disajikan dengan mayones. Oh how thoughtful of you, chef. Kentang goreng itu memang jodohnya mayones!
(Foto: Agam)

 

Lalu ada Pepperoni Pizza (75k IDR) Pizza tipis yang rasanya juga oke ini bisa dijadiin salah satu menu buat temen nobar.
Lalu ada Pepperoni Pizza (75k IDR)
Pizza tipis yang rasanya juga oke ini bisa dijadiin salah satu menu buat temen nobar.

 

Spagetti Aglio Olip with Prawn (100k IDR) Untuk pasta yang ini kami bisa memilih mau pakai ayam atau udang. Ternyata pilihan kami pakai udahng itu tepat. Karena udangnya seksi-seksi sekali.
Spagetti Aglio Olip with Prawn (100k IDR)
Untuk pasta yang ini kami bisa memilih mau pakai ayam atau udang. Ternyata pilihan kami pakai udang itu tepat. Karena udangnya seksi-seksi sekali.

 

Banana Triple Ice Cream (65k IDR) Konon setelah melahap berjamaah semua menu-menu tadi, Uung dan Peggy udah merasa kekeyangan. Hapaah??? Cemen lo semua! Lalu gw pun memesan dessert pertama ini. Sebenarnya ini adalah versi lain dari Banana Split. Tapi penyajiannya memang cantik banget. Pakai marshmellow dan Oreo pula. Si Uung suka banget ama menu ini. Padahal sebelumnya dia ngakunya udah kenyang. Cih! (Foto: Agam)
Banana Triple Ice Cream (65k IDR)
Konon setelah melahap berjamaah semua menu-menu tadi, Uung dan Peggy udah merasa kekeyangan. Hapaah??? Cemen lo semua!
Lalu gw pun memesan dessert pertama ini. Sebenarnya ini adalah versi lain dari Banana Split. Tapi penyajiannya memang cantik banget. Pakai marshmellow dan Oreo pula. Si Uung suka banget ama menu ini. Padahal sebelumnya dia ngakunya udah kenyang. Cih!
(Foto: Agam)

 

Nutella Parfait (70k IDR) Ini dessert kedua sekaligus menu terakhir yang kami pesan. Gw sih lebih suka ini daripada dessert sebelumnya. Bukan karena es krim itu nggak enak, melainkan ini menu unik yang nggak semua restoran menyajikan. Ini semacam kue semi mousse Nutella. Walaupun terlihat cokelatnya pekat banget, tapi di lidah kita rasanya ringan. Tidak terlalu manis dan nggak bikin eneg. Ini dessert yang cocok setelah makan berat. (Foto: Agam)
Nutella Parfait (70k IDR)
Ini dessert kedua sekaligus menu terakhir yang kami pesan. Gw sih lebih suka ini daripada dessert sebelumnya. Bukan karena es krim itu nggak enak, melainkan ini menu unik yang nggak semua restoran menyajikan. Ini semacam kue semi mousse Nutella. Walaupun terlihat cokelatnya pekat banget, tapi di lidah kita rasanya ringan. Tidak terlalu manis dan nggak bikin eneg. Ini dessert yang cocok setelah makan berat.
(Foto: Agam)

 

Kesimpulan:

-Makanan barat di restoran ini enak-enak semua. Beneran, deh. Gw dan Agam adalah tukang makan. Kak Uung dan Peggy pun begitu. Kami semua setuju bahwa semua menu makanan barat yang kami pesan nggak ada yang failed.

-Menu favorit gw: Dabu Chicken Wings.

-Foto-foto Agam bagus-bagus ya… *memandangi hape Agam dengan sirik*

-Perut Uung dan Peggy tidak selebar perut gw dan Agam. Don’t mess with us! *usap hidung ala Bruce Lee*

-Minuman beralkohol tersedia di restoran ini. Pas gw lihat wine cellarnya, wuaw wuaw koleksinya niat juga ya. Tapi sengaja gw nggak foto, karena gw nggak emang nggak minum alkohol hehehe.

-Ruang non smokingnya lebih kecil dari pada smoking room-nya. Tapi sirkulasi udaranya cukup bagus. Gw dan Kriby tetap tidak terganggu dengan asap rokok yang dikebulkan orang di meja sana. Begitu keluar restoran ini baju-baju kami juga bebas dari bau asap.

-Kalau nanti musim bola, basket, atau tinju dan kalian butuh tempat nobar yang luas, MVP Sports Bar & Grill ini bisa jadi pilihan. Emang sih tempatnya nggak dekat, tapi itu bisa jadi keuntungan untuk nyari tempat yang nggak sesak pas musim nobar telah tiba, ya kan?

 

 

blog

Tuhan Menenangkan Saya Melalui Stiker Di Dasbor

Perjalanan hari Bekasi-Kuningan-Bekasi.
Pas berangkat dua jam perjalanan.
Pas pulang kayaknya bakal 2,5 jam perjalanan nih. Ini aja masih di jalan, belom nyampe.
Udah lama banget nggak perjalanan jauh naik angkot, jadi kerasa banget capeknya. Faktor usia dan manja.

Lalu Tuhan mencoba menenangkan saya melalui stiker di dasbor angkot K40 ini…

View on Path

Yuk ah nonton video Kriby dulu!

blog

2015 in review

Alhamdulillaaaaah!

Senang juga lihat ini. Jadi semakin semangat nulis.

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 39.000 kali di 2015. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 14 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.