Review: Flowers (Season 1-2016)

Beberapa episode dari serial Flowers ini sukses bikin saya sesak karena sedih.

Alkisah hiduplah keluarga Flowers. Sang ayah Maurice Flowers (Julian Barratt) adalah seorang penulis buku anak-anak. Diam-diam dia depresi dan ingin bunuh diri. Maurice punya ilustrator sekaligus asisten orang Jepang yang kelewat ceria. Namanya Shun (Will Sharpe).
Istri Maurice, Deborah (Olivia Colman) diam-diam tidak bahagia dengan pernikahannya dan butuh pengakuan bahwa keluarganya sempurna. Maurice dan Deborah punya sepasang anak kembar yang sudah dewasa: Donald (Daniel Rigby) yang terobsesi dengan mesin dan merasa dirinya adalah seorang penemu ulung dan Amy (Sophia Di Martino) seorang musisi yang diam-diam adalah seorang lesbian.

Pada suatu hari Maurice bangun dari tidurnya dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya hari itu juga. Ia pasang tali di sebuah batang pohon, lalu menggantung dirinya. Siapa sangka batang pohonnya patah. Bunuh diri Maurice gagal. Maurice mengira kalau ia berhasil menyembunyikan depresi dan usaha bunuh dirinya dari keluarganya. Sayangnya ibu Maurice yang lansia melihat itu semua. Dengan kepikunannya, ibu Maurice mencoba mereka ulang tindakan bunuh diri Maurice yang berujung ke cedera serius. Saat ibu Maurice dirawat di rumah sakit, hal-hal yang selama ini keluarga Flowers saling sembunyikan mulai terungkap.

Yang saya suka dari serial ini:
+ Serial ini adalah dark komedi yang cerdas!
+ Standing ovation buat Will Sharpe yang bukan hanya jadi aktor di serial ini. Tapi juga penulis naskah sekaligus sutradara. Ketiganya dia jalani dengan sangat baik. Aktingnya sebagai orang Jepang yang rela berbuat apapun untuk orang lain sangat sempurna! Penulisan naskah serial ini oke banget. Semua karakter mempunyai proporsi yang pas. Penyutradraannya juga bagus.
Mulai sekarang semua karya dengan nama Will Sharpe akan masuk di watchlist saya.
+ Belum lama ini saya menulis blog tentang kondisi kesehatan mental saya. Serial ini menjelaskan kondisi mental health buruk masing-masing karakter dengan cara yang lucu dan mudah dicerna. Seperti tentang kesulitan berkomunikasi dengan orang terdekat sampai frustrasi, tentang penyangkalan akan masalah diri sendiri, tentang usaha mencari perhatian, tentang duka ditinggalkan orang yang kita cintai, tentang usaha menghapus kesedihan dengan berpura-pura bahagia.
Ada beberapa adegan yang sedihnya begitu menusuk kalbu saya. Tapi saya yakin orang-orang yang tanpa kondisi kesehatan mental bermasalah pun dapat merasakan kesedihan yang ditunjukkan di serial ini.
Saya sangat menyarankan orang-orang untuk nonton serial ini untuk memahami orang depresi dan kesehatan mental.
+ Aktingnya Olivia Colman udah pasti okelah ya. Olivia selalu bisa akting mengubah emosi secara cepat.
+ Aktingnya Daniel Rigby juga berhasil banget bikin kita kesel.
+ Set dan lokasinya oke. Rumah mungil mereka yang sesak membuat saya berpikir bahwa rumah Keluarga Weasley di Harry Potter itu mungkin memang beneran ada di kehidupan nyata. Meski begitu, saya pengen banget punya rumah kaya gitu. Apalagi pondok mungil tempat Maurice menulis. Kayaknya enak banget kalau punya tempat kerja khusus kayak gitu. Tapi ya, saya emang selalu suka dengan rumah-rumah mungil di pedalaman Inggris sih.

Yang saya kurang suka dari serial ini:
-Rambutnya Deborah keliatan banget wig dan agak ganggu.
-Saya baru tahu Sophia Di Martino di serial ini. Rupanya dia salah satu aktris yang diperhitungkan karena udah masuk di geng superhero Marvel. Tapi menurut saya, aktingnya di serial ini biasa aja sih. Malah kayaknya dia banyak terbantu oleh make up untuk membangun karakternya.

Genre: Drama, komedi
Rate: 4,5 out of 5
Saya nonton serial ini di Netflix.

Ini trailernya….

Saatnya Bercerita Tentang Kesehatan Mental

Cerita nggak ya….

Bingung juga mau mulai ceritanya dari mana…

Ya udahlah, saya coba tulis aja apa yang ada di pikiran saya. Kalau terkesannya meracau nggak jelas dan jadi cerita kemana-mana, mohon maaf sebelumnya ya.

Jadi saya itu mengidap salah satu dari masalah mental. Nama masalah mentalnya apa, saya nggak tahu pasti. Soalnya saya nggak melanjutkan terapinya karena satu dan lain hal. Gejalanya adalah SELALU nggak merasa berharga, terus kejadian lama yang membuat malu (versi saya, padahal buat orang lain kayaknya biasa aja) terus-menerus keputar di otak tanpa tahu cara untuk menghentikannya. Karena kejadian memalukan/nggak nge-enakinnya muter terus di kepala, ujung-ujungnya saya merasa nggak berharga. Ditambah kita sekarang ini hidup di era media sosial yang sangat mudah membuat hidup kita ini nggak berharga karena kita nggak secantik mereka, nggak sekaya mereka, nggak sepopuler mereka-mereka yang ada di Instagram.

Pertama kali saya terapi itu pas tahun 2018 kalau nggak salah.

Eh tunggu, baiknya saya ceritakan dulu akar permasalahan saya bisa jadi kena masalah mental ini. Akar permasalahan saya adalah keluarga, terutama perlakuan dari almarhumah ibu saya. Ibu saya adalah orang yang sangat-sangat-SANGAT dominan. Maaf ya saya nggak bisa menceritakan perlakuannya secara spesifik.

Singkat cerita, perlakuan ibu saya itu membuat saya mengidap masalah mental ini. Trauma masa kecil akan berpengaruh sampai dewasa itu memang benar adanya, sodara-sodara. Saya bukti nyatanya.

Pernah ada masanya saya segitu nggak tahannya dengan perlakuan ibu, saya berharap saya segera mati. Saya sudah sering memikirkan bunuh diri, tapi saya nggak punya keberanian untuk melakukannya. Meski begitu, kalau sampai waktunya saya akan bunuh diri, saya sudah tahu metode apa yang akan saya gunakan, bagaimana setting ruangannya, sampai lagu pengiring untuk menguatkan mental saya mengakhiri nyawa. Lucu ya? Saya tuh perempuan yang nggak pernah punya konsep dream wedding, tapi saya punya konsep dream suicide 😀

Masalah mental itu saya sembunyikan bertahun-tahun. Saya tutup dengan pribadi ceria yang cenderung quirky. Sehingga orang tahunya saya adalah orang yang nggak pernah ‘susah’. Ketawa terus. Ngbanyol terus.

Sampailah saya melahirkan si Kriby. Seperti yang kalian ketahui, mengurus anak itu sangat melelahkan. Apalagi kalau kita mengurus sendiri tanpa bantuan nanny/suster. Ada masa-masa saya frustasi karena kelelahan dan akhirnya saya melampiaskan kemarahan saya ke Kriby. Tanpa sadar saya telah berubah menjadi ibu saya. Saya menjadi monster yang mewariskan luka pada anak saya. Saya tidak ingin anak saya mengalami hal yang sama. Saya harus berubah. Tapi gimana caranya?

Akhirnya saya pendam lagi, pendam lagi, pendam lagi sambil sebisanya saya mengontrol emosi dan ucapan saya ke Kriby. Sampai akhirnya pada tahun 2018 saya berhenti dari sebuah pekerjaan yang saya sangat suka pekerjaannya. Tapi bosnya gila. Bos saya kala itu perempuan yang dominan nggak jelas, insecure parah, playing victim, dan suka mempermalukan hasil kerja kami di hadapan klien. Saya jadi merasa seperti berhubungan lagi dengan sosok ibu saya versi kantoran. Tentu saja karyawannya banyak yang tidak betah. Bahkan beberapa di antara kami mengalami masalah kesehatan seperti asam lambung rajin naik karena teror dominasi yang begitu menekan. Saya sendiri selama kerja hitungan bulan sama bos gila itu, pernah beberapa kali dada kiri saya sakit mendadak kayak ditusuk dan nggak bisa membuat saya nafas. Kalau saya nafas, sakitnya akan tambah menusuk. Jadi saya harus diam selama beberapa detik sampai serangannya mereda sendiri.
Saya kira itulah yang dinamakan serangan jantung. Saya langsung menghadap dokter spesialis jantung. Kata dokter, jantung saya sehat-sehat aja. Tapi saya maksa diperiksa secara menyeluruh. Saya kemudian disuruh cek jantung yang pakai lari di treadmil. Hasil diagnosisnya tetap sama: jantung saya baik-baik aja.
Si dokter kemudian menyimpulkan kalau mungkin itu gas lambung yang naik pada saat stres dan menusuk ke arah jantung. Jadi saya harus kelola stres saya.

Di situ saya kepikiran untuk resign, karena sadar kalau si bos gila itu nggak baik untuk kesehatan mental dan fisik saya. Sempat ada keraguan karena saya butuh uangnya, tapi sampailah satu kejadian yang memang menurut saya sudah keterlaluan, saya kemudian memutuskan untuk resign. Si bos gila tentu saja setelah itu playing victim karena merasa dia adalah korban ‘pengkhianatan karyawan’nya. Saya kemudian memutuskan untuk ngeblock semua chat dan medsos si bos demi kesehatan mental saya.

Tidak sampai satu tahun kemudian saya dengar kalau perusahaan itu tutup. Saya yakin si bos pasti playing victim lagi dengan menyalahkan pandemi. Padahal semua karyawannya dan mungkin kliennya juga tahu kalau perusahaannya tutup karena kelicikan dan ketidakberesan si bos dalam mengelola usahanya. (Oiya, saya belum cerita ya kalau dia juga licik? Iya, banyak orang yang pernah kerja sama dengan si bos mengakui kalau mereka melihat kelicikan di bisnisnya).

Setelah saya resign dan tinggal di rumah, saya pikir kesehatan mental saya akan membaik. Ternyata tidak semudah itu, Ferguso. Karena setelah dari perusahaan itu, saya masih mendapat kabar-kabar yang kurang enak. Terutama saat saya tidak diundang untuk launching produk yang saya bantu garap. Bisa dikatakan 60-70% produk itu dikenal di pasaran adalah berkat andil tangan saya sendiri. Jadi begitu saya melihat di medsos kalau produk itu sudah launching tanpa saya diberitahu, saya sedihnya bukan main. Tapi tentu saja, saya pendam.

Lalu kesehatan mental saya kena dampak lagi lantaran kekhawatiran diri saya karena tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Yah… Namanya juga selama ini rumah tangga saya terbiasa dengan dua pintu penghasilan dari saya dan suami, tapi sekarang cuma ada satu pemasukan dari suami saya aja. Saya stres, padahal suami Si Punk Rock nggak pernah sekalipun memaksa saya untuk terus bekerja. Dia malah selalu mendukung apapun keputusan saya. Namun gelombang merasa tidak berguna saya datang lagi. Lama-lama gelombangnya makin besar dan makin menggulung sampai saya merasa tidak tahan lagi.

Saya memutuskan untuk ke mendaftar ke psikiater di rumah sakit dekat tempat tinggal saya. Saya ke sana diam-diam tanpa diketahui Si Punk Rock, padahal selama ini saya selalu cerita semuanya ke Si Punk Rock.
Kenapa saya tidak cerita? Karena saya malu, saya takut dia jadi menyesal menikahi istri yang bermasalah, saya takut dianggap lebay ‘yaelah gitu doang dipikirin’. Jadi lebih baik saya pendam aja sendiri.

Sesampainya saya di ruang psikiater itu, saya menghabiskan waktu sejam hanya untuk menangis sambil berusaha bercerita apa yang ada di pikiran saya. Si psikiater mengatakan kalau saya derpresi akut. Si prikiater juga menjelaskan kalau itulah penyebab saya tidak lagi mengerjakan hobi (hobi saya ngeblog, FYI. Jadi sekarang Anda tahu, kalau blog ini jarang update, maka saya sedang berada di episode kesehatan mental yang tidak baik).

Si psikiater mengatakan saya harus ikut terapi untuk beberapa kali pertemuan. Ia kemudian meresepkan saya obat penenang untuk saya minum selama seminggu. Saya keluar dari ruang psikiatri itu dengan perasaan agak lega dan siap untuk pasang tampang ceria ke hadapan dunia lagi. Sampailah saya harus bayar biaya konsul dengan psikiater itu….

HAPAH??????? 750 RIBU HANYA UNTUK NANGIS-NANGIS DOANG??????

Obatnya berapa ya kira-kira? Saya ke apotek rumah sakit, lalu…

HA???? 7 PIL DOANG HARGANYA 300-AN RIBU????? Kok jadi orang depresi itu mahal banget sih???????

Di situ gelombang pemikiran negatif saya mulai menghantam lagi. Saya nggak kuat, pertahanan saya pecah, saya akhirnya mengabari Si Punk Rock dan menceritakan semuanya. Dia terpana karena dia tidak pernah tahu kalau selama ini diam-diam pikiran saya berkecamuk segitunya. Dia kemudian menemani saya ke apotek di Blok M Square yang terkenal menjual obat-obatan dengan harga murah.

Apotek di Blok M Square itu dikelola oleh seorang bapak-bapak chinese yang ngomongnya suka nyablak. Kadang suka lucu kalau melihat tingkah beliau itu. Begitu si bapak itu membaca resep saya, dia dengan gaya nyablaknya langsung mengembalikan resep saya “Waduh, gak jual kita obat beginian!”

Mungkin waktu itu mental saya segitu down-nya, sampai-sampai perlakuan bapak apoteker itu sangat menusuk hati saya. Saya tahu dia tidak berniat buruk, cuma yang saya tangkap waktu itu adalah “Wah obat buat orang gila nih. Gak jual gw obat buat orang gila.” Jadi saya down lagi, tapi saya pendam.

Saya coba ke apotek lainnya di sekitaran Blok M Square, akhirnya ketemu apotek yang menjual obat tersebut tapi data diri saya dicatat. Soalnya itu bukan obat yang bisa dijual sembarangan karena takut disalahgunakan.

Seminggu kemudian, hari-hari saya terasa membaik berkat obat itu. Pikiran saya yang biasanya berisik dengan kritik diri sendiri yang bertubi-tubi, seketika hening. Saya ingat, waktu itu saya bisa duduk seharian di kamar meghadap jendela tanpa memikirkan apa-apa. Buat orang yang pikirannya selalu berkecamuk seperti saya, masa-masa seperti itu sungguh langka. Si Punk Rock di kantor, Kriby di sekolah, cuma ada saya di kamar dengan pemikiran yang kosong menikmati hari berlalu tanpa beban pikiran apapun.

Setelah obatnya habis, harusnya itu adalah jadwal saya menghadap si prikiater lagi. Tapi saya urungkan karena nggak kuat bayar hahahahaha. Saat itu saya tidak punya penghasilan dan saya nggak tega minta Si Punk Rock untuk membiayai pengobatan ‘otak ga beres’ saya. Biarlah uangnya dipakai untuk yang lebih penting dulu, seperti sekolah si Kriby dan biaya-biaya rumah tangga lainnya. Kesehatan mental saya sepertinya masih bisa ditunggu. Tokh, saat itu saya sudah merasa membaik.

Untuk beberapa lama kesehatan mental saya tidak terlalu mengganggu. Perasaan suka merasa tidak bergunanya suka datang dan pergi, tapi masih bisa saya tahan. Perasaan suka pengen nangis mendadak karena merasa nggak bergunanya juga masih bisa saya sembunyikan, baik dari Si Punk Rock sekalipun. Pikiran buruk yang selalu menghujat diri sendiri ini pun masih suka datang dan pergi, tapi masih bisa saya tahan. Saya jago menahanlah pokoknya.

Hodor! Hold the door! (fansnya Game Of Thrones pasti paham)

Lalu datanglah pandemi Covid The Bitch ini. Seperti sebagian besar pekerja lainnya di dunia ini, saya jadi merasakan yang namanya work from home (WFH). Oiya, saat itu saya sudah mendapat pekerjaan baru di sebuah startup. Saya jadi menghadapi rutinitas zoom meeting yang nggak putus. Di situ saya kembali merasakan kelelahan mental. Saya merasa harus menghadap lagi ke psikiater. Tapi nggak berani tatap muka ke rumah sakit takut Covid dan semacam nggak rela juga ngabisin duit 700an ribu buat nangis doang.

Untungnya ketemulah saya dengan psikolog online dari Ibunda.id. Harga konselingnya terjangkau, cuma sekitar 200 ribuan per sesi. Masih masuk akal lah. Itung-itung kayak konsul sama dokter spesialis yang harganya juga segituan.

Pas konseling di Ibunda.id itu saya mengulang nangis yang sama. Tapi kali ini sudah lebih teratur mau ngomong apa dan udah bisa mikir mau nanya apa aja sama si psikolog. Si psikolog bilang kalau saya itu punya emotional distress.

Emotional distress adalah keadaan tidak menyenangkan yang dapat mengakibatkan berbagai kerugian, umumnya ditandai dengan gejala depresi dan/atau kecemasan. Terdapat beberapa variabel anti-stres yang terbukti mampu mengurangi emotional distress, dua di antaranya adalah self-esteem dan locus of control.

Jurnal Universitas Tarumanegara oleh Lukas Juliyanto, P. Tommy Y. S. Suyasa

Kalau baca definisi di atas, saya merasa wajar kena emotional distress, karena self-esteem saya rendah (ingat kan kalau saya selalu merasa nggak berharga?) dan locus of control alias kendali saya terhadap situasi yang sedang saya hadapi juga rendah. Pantesaaaaan!

Si psikolog mengatakan kalau permasalahan yang saya hadapi ini bisa ‘sembuh’ kalau saya mau ikut terapi. Tapi sayangnya psikolog itu nggak bisa kasih terapi obat. Hanya psikiater yang bisa kasih saya terapi yang saya butuhkan. (FYI, psikolog dan psikiater itu beda. Psikiater itu bisa dibilang dokter di bidang kejiwaan. Sedangkan psikolog itu non dokter yang mendalami perilaku dan perasaan seseorang.)

Intinya, saya harus balik lagi ke psikiater. Tapi dompetku menjerit. Ditambah saya baru aja kena PHK Covid gelombang tiga dari kantor terakhir. Ya sudahlah, bismillah saya nggak kumat hahahaha

Kalau ditanya bagaimana kondisi saya saat ini, saya bisa jawab dengan lantang: alhamdulillah saya baik-baik saja. Saya memang belum lama ini kehilangan pekerjaan saya, tapi berada di perusahaan yang kondisinya sudah tidak sehat juga buat apa? Pengurangan-pengurangan karyawan yang mereka lakukan di gelombang-gelombang sebelumnya membuat saya jadi dapat load pekerjaan yang sudah jauh dari bidang saya. Tapi saya tetap harus mengerjakan karena SDMnya udah pada nggak ada.

Jadi begitu akhirnya kena giliran saya yang harus di-let go ama perusahaan, saya justru merasakan kelegaan yang luar biasa. Terutama lega banget karena nggak ada lagi zoom meeting yang nggak putus sampai jam 11 malam. Saya jadi bisa merasakan rumah saya memang RUMAH, bukan lagi tempat kerja. Saya jadi bisa masak lagi, padahal selama WFH setahun kemarin buat masak mie instan aja rasanya susah banget nyari waktunya. Oiya, selama WFH setahun kemarin, Kriby jadi tambah kurus, lho. Karena dia makannya nggak variatif karena terpaksa beli makanan terus. Ironis sekali, bukan? Saat ibunya ada di rumah untuk WFH, anak justru tambah kurus karena ibunya nggak punya alokasi waktu buat masak.

Dari segi keuangan yang dulu menjadi salah satu beban pikiran saya, kini alhamdulillah pekerjaan Si Punk Rock masih baik-baik saja. Karena saya lebih rajin masak, alhamdulillah keuangan kami jadi lebih tertata. Masak sendiri itu memang jauh lebih hemat, ya.

Alhamdulillah saya saat ini baik-baik saja. Alhamdulillah….
Kalau pun suatu hari penyakit mental saya kumat, saya merasa aman karena saya bisa menghadap ke Ibunda.id itu kapanpun. Meski tidak menyembuhkan secara total, tapi mengetahui bahwa ada wadah yang bersedia menolong, bagi saya itu sudah lebih dari cukup. Setelah bertahun-tahun saya memendam semuanya sendiri, punya tempat mengadu itu rasanya sangat melegakan.

Blog ini adalah salah satu bukti nyata kalau saat ini saya baik-baik saja. Sudah terlalu lama blog ini saya cuekin. Dulu ngeblog adalah salah satu wadah/hobi saya untuk relaksasi. Lalu saya hilang minat. Saya kira waktu itu saya lagi malas menulis aja, eh ternyata itu depresi hahaha.
Kini saya bertekad untuk kembali aktif untuk ngeblog. Saya akan berusaha untuk mengisi blog ini dengan berbagai review film dan tulisan-tulisan lainnya. Mudah-mudahan blog ini bisa membawa manfaat untuk banyak orang.

Oiya, saya mau mengucapkan terima kasih secara khusus pada Riani Sovana. Riani adalah teman saya, seorang penyanyi yang juga hidup dengan masalah kesehatan mental. Ada satu postingan Instagram Riani yang begitu membuka mata saya. Ini postingannya. Baca captionnya. Agak panjang emang…

Part 1
Part 2
Part 3-end

Postingan ini begitu menguatkan saya untuk berani menuliskan blog ini. Dari Riani saya jadi tahu betul kalau orang-orang yang beneran punya masalah mental tuh justru akan diam-diam aja. Karena kami tuh malu dan kami ingin hidup kami baik-baik aja. Nggak akan tuh koar-koar di social media cari perhatian kalau dia punya masalah mental lalu minta semua masalah yang dia perbuat dimaklumi. Itu mah glorifikasi bocah-bocah jaman sekarang aja biar dianggap ‘beda’ dan kenakalannya dimaklumi.

Ingat Marshanda dengan video-video aneh dulu? Ada nggak di video itu dia bilang ‘gw ini punya mental health. Maklumi gw’. Nggak ada kan? Beda banget sama beberapa influencer hits zaman now yang tiap kenakalannya dihujat, langsung bawa-bawa mental health biar dikasihani, dimaafkan lalu dimaklumi. Please deh, kalau lo beneran ada mental health, lo justru akan mati-matian meyakinkan orang kalau lo baik-baik aja. Bukan malah minta pemakluman.

Buktinya lihat aja tuh postingan Riani, postingannya nggak berbau minta dikasihani, justru ia ingin ngasih tahu ke orang kalau dia udah kuat. Karena bagi penyandang masalah kesehatan mental itu, kami ingin dilihatnya kuat, normal, dan baik-baik aja. Kami justru nggak pengen nambah-nambahin depresi dengan dikasihani.

Terima kasih ya Riani udah bikin postingan itu. Berkat postingan itu, saya jadi berani untuk posting blog ini. Saya harap blog saya yang ini bisa juga jadi menguatkan kalian di luar sana yang mempunyai masalah kesehatan mental tapi malu untuk mencari bantuan. Yuk, ke psikolog atau ke psikiater. Mengutip omongan psikolog dari Ibunda.id…

Di dunia psikologi, kami menyebut kumat itu sebagai ‘episode’. Akan ada masanya kamu selalu kedatangan episode itu. Sekarang tinggal bagaimana caranya kamu menghadapi saat episode itu datang.

Yuk, bisa yuk 🙂

Foto header: Sandy Sims dari Unsplash

Nonton Guns N’ Roses Nggak?

Minggu lalu Si Punk Rock ditawarin tiket konser Guns N’ Roses (GnR) gratis dari kantornya. 

“Anak-anak kantor aku dapat tiket gratis GnR, nih. Kamu mau nonton nggak?”

“Sama kamu atau nggak?”

“Iya, sama aku.”

“………………………………….. Terus Kriby siapa yang jagain?”

“Hm…. Iya juga, ya. Ya udah ntar aku tanyain orang kantor lagi, deh.”

Sepekan berlalu. Tau-tau udah tanggal 8 November aja, yang tak lain dan tak bukan adalah hari H konser GnR. Kami benar-benar lupa soal konser itu. Jatah tiket gratis kami pun udah dikasih ke teman kantor Si Punk Rock yang lainnya. Ya udahlah….

Begitu buka medsos agak iri-iri-takut ga update-merasa ditinggal oleh khalayak ramai-gimana gitu pas lihat banyak orang yang posting soal GnR. Ya udahlah, kami emang pada dasarnya nggak pengen, buktinya aja kami bisa lupa soal tanggal main konsernya. Kalau beneran suka GnR mah pasti ga akan lupa dong.

Taro handphone. Lupakan crowd GnR itu. Lebih baik saya kembali ke crowd yang ini…

My kind of crowd(ed bed)

Si Punk Rock jadi bisa pulang lebih cepat karena teman-teman kantornya nggak cerewet minta revisi ini-itu karena pada ke konser GnR. Kami jadi bisa leha-leha nemenin si Kriby nonton Zootopia untuk ke-735247 kalinya. 

Yah namanya juga udah punya anak, yekan.
Punya anak tuh nggak bikin lo ketinggalan trend / hype, kok. Tapi lo jadi lebih bisa memerioritaskan hal-hal yang lebih penting.
Lo nggak sepenuhnya berubah. Tapi iya sih lo jadi banyak berkompromi.
Karena lo jadi sadar apapun yang lo kejar di luar sana nggak sepadan dengan ngorbanin anak lo.

 

Yoklah kita saksikan GnR menyanyikan Sweet Child O’ Mine via Youtube aja. Siyap digoyaaang? O A O EEEE…

 

Suami Berbintang Taurus

Punya suami berbintang Taurus tuh batu banget!

Sebel ah! *Sampe kantor. Turun dari motor, cium tangan Si Punk Rock sekenanya, langsung melengos pergi*

*Si Punk Rock ngeeng pergi naik motornya*

Bodo!

Buka laptop. Browsing-browsing sambil sarapan depan laptop.

Satpam kantor: Mba, ada suaminya di depan.

Lah, ngapain lagi?

Gw keluar dengan muka manyun.

Si Punk Rock: Senyum dooong…. Aku sedih kamu tadi marah.

Gw: *reflek senyum terus gelendotan meluk*

Pria Taurus itu emang batu banget. Cintanya ke lo termasuk salah satu kebatuannya. They won’t give up on you easily. They will stubbornly love you.

View on Path

Kekuatan Ibu

Tenggorokan sakit tak terperi pasca operasi amandel. Kondisi badan lemas karena nggak bisa makan.

Tahu-tahu Kriby datang ngerengek, ‘Mau muntah…’

Seketika sigap giring Kriby ke kamar mandi. Abis Kriby muntah-muntah, langsung tak mandiin. Kayaknya Kriby masuk angin karena semalam telat makan.

Setelah mandi Kriby langsung segar dan ceria lagi. Baru deh kerasa lagi badan lemas dan sakit tenggorokannya. Tadi pas anak muntah kok nggak kerasa sakitnya sama sekali ya?

Mungkin itu yang dibilang ‘kekuatan ibu’. Yaitu cadangan tenaga yang dimiliki ibu ketika anaknya membutuhkan dirinya.

View on Path

Mengungkit Masa Lalu

Tadi pagi lagi anteng-anteng sarapan makan roti, tahu-tahu Si Punk Rock berkata…

“Sayang, aku bukannya mau ngungkit masa lalu ya…”

Waduh, ada apa nih? Biasanya dia kalau ngomong begitu artinya mau bahas mantan. Nah, mantan siapa nih yang mau dia bahas? Mantan gw atau mantan dia? Anyep dah nih roti rasanya…

“Si Saiko (nama samaran buat mantannya Si Punk Rock) itu… Dulu dia abang-adekan ama Vicky Prasetyo,” ujar Si Punk Rock.

Sungguh roti ini jadi tidak ada rasanya. Soalnya gw keasyikan ketawa.

(Foto: Kapanlagi.com)

View on Path

Review: The Guilt Trip

Category: Movies

Genre: Comedy

Rate: 3,5 out of 5

Film ini dibuka dengan Andy Brewster (Seth Rogen) sedang berusaha meyakinkan para eksekutif perusahaan besar akan produk pembersih ramah lingkungan yang ia ciptakan. Andy sudah mengatur meeting dengan banyak perusahaan untuk menjual produk ciptaannya. Ia bahkan mengatur sebuah road trip untuk bertemu dengan semua perusahaan tersebut.

Namun pertama-tama ia akan mampir ke rumah ibunya, menginap semalam, lalu memulai road tripnya dari sana. Pada saat ia menginap, ibunya (diperankan oleh Barbara Streisand) mengungkapkan sebuah rahasia hidupnya kepada Andy. Yaitu, tentang cinta lamanya yang bertepuk sebelah tangan. Andy merasa iba pada ibunya. Ia akhirnya mengajak ibunya untuk road trip bersamanya. Sambil diam-diam Andy mengatur pertemuan ibunya dengan cinta lamanya.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Ini merupakan film ringan yang ditonton tanpa mikir.

-Barbara Streisand memerankan tokoh ibu dengan apik. Ibu-ibu banget, deh.

-Ceritanya bagus. Konflik khas ibu dan anaknya juga pas.

-Twist-nya juga menarik.

-Film ini layak jadi daftar film wajib untuk Hari Ibu.

 

Yang saya tidak suka dari film ini:

-Nggak ada, sih. Semuanya oke. Oh, paling soal betapa nggak miripnya Seth Rogen untuk jadi anaknya Barbara Streisand aja.

 

Ini trailernya…

 

Jarak

Abis telponan ama Si Punk Rock selama 1 jam lebih. Terakhir kayak begitu ama dia pas jaman pacaran. Begitu nikah, tentu saja telponan jadi jarang krn kan ketemu terus.

Ternyata pas kami berjauhan dikit, gw jadi sadar: Si Punk Rock masih jadi orang yang paling seru buat gw ajak ngobrol sampai sekarang. Persis seperti cowok yang gw pacarin 5 tahun lalu. ❤💗💖

View on Path

Percakapan Organik

Kriby nunjuk-nunjuk tokoh kartun warna hitam.
Kriby: Ini jahat.

Si Punk Rock: Itu nggak jahat.

Kriby: Ga jahat?

Si Punk Rock: Ga jahat. Dia jahit.

Kriby: Jahit?

Si Punk Rock: Iya, jahit celana lepis.

Kriby: Hoo…

Percakapan absurd di atas tidak disponsori oleh micin manapun. Absurditas hasil karya keluarga kami 100% organik. – with Wahyu

View on Path