Review: Athirah

Category: Movies
Genre: Drama
Rate: 3,5 out of 5

Terima kasih kepada Netflix, saya jadi bisa mengejar ketinggalan dalam menonton film-film Indonesia.

Film ini diangkat dari buku biografi Athirah yang ditulis oleh Alberthine Endah. Athirah tak lain adalah ibunda bapak Jusuf Kalla.

Athirah (Cut Mini Theo) adalah istri dari pengusaha terpandang di Makassar. Ia memunyai tiga orang anak dan sedang mengandung anak ke-empatnya. Pada saat hamil, ia mulai melihat perubahan dari suaminya. Ia jadi lebih suka bersolek dan jarang pulang ke rumah. Sampailah ia mendapat kabar kalau suaminya telah menikah lagi di Jakarta.

Tentu saja hal ini membuatnya terpuruk. Namun Athirah menolak menyerah begitu saja. Meskipun ia tak punya kuasa untuk melawan.

Yang saya suka dari film ini:
– Film ini cantik banget, sih. Gambarnya semuanya indah dan memanjakan mata.
– Aktingnya Cut Mini oke. Nggak terlalu banyak dialog, tapi bisa menggambarkan semua emosi yang berkecamuk dari raut wajahnya.
– Meskipun film ini fokusnya ke sang sitri yang dimadu, namun film ini dengan pintar juga memperlihatkan bagaimana dampak poligami pada anggota keluarga lainnya.
– Riri Riza menyutradarai film ini dengan apik. Tapi siapa sih yang bisa meragukan hasil karya Riri?

Yang saya nggak suka dari film ini:
– Ini film standar festival, sih. Jadi filmnya penuh dengan nilai estetis. Kalau yang nggak suka film jenis kayak gini, pasti merasa bosan. Tapi kalau saya sih pas nontonnya sih nggak ngerasa bosan.
– Tokoh suami Athirah kurang cakep untuk jadi bahan rebutan. Tapi ya, pelakor mah kalau lelakinya pengusaha yang banyak duit, biasanya bodo amat sama tampang. Bukan begitu Bu Dendy? Kowe butuh duwek? Ha? Butuh duwek? Nyoooh! Duwek, nyooooh! *lempar duit koin biar pelakornya sakit. Dan emang punya duitnya koinan semua sih. Sesungguhnya melabrak dan mengusir pelakor itu jihad.

Ini trailernya…

Iklan

Review: Jailangkung (2017)

Category: Movies

Genre: Horror

Rate: 2,5 out of 5

Film ini mengisahkan kakak-beradik Angel (Hannah Al Rashid) dan Bella (Amanda Rawles) yang dikejutkan dengan kondisi ayah mereka, Ferdy (Lukman Sardi). Ferdy ditemukan tak sadar di sebuah vila privatnya. Kini ia terbaring koma di rumah sakit. Dari pilot pribadi ayahnya, Angel dan Bella baru mengetahui bahwa ayah mereka suka pergi ke vila privatnya sebulan sekali untuk menyendiri. Tidak ada yang tahu apa yang ia perbuat di sana.

Angel dan Bella kebingungan. Kata dokter secara fisik kondisi ayah mereka tidak sakit atau mengalami gangguan apapun. Bisa dikatakan kalau ia jatuh koma begitu saja. Untuk mencari tahu lebih jauh, Bella pun memutuskan untuk pergi ke vila privat ayahnya yang terletak di sebuah pulau terpencil. Bella minta Rama (Jefri Nichol) untuk menemaninya, karena Rama banyak mengerti mengerti soal ritual Jawa kuno yang dapat membuat orang tidak sadarkan diri. Sebagai kakak, Angel tidak bisa mengizinkan adiknya pergi begitu saja. Maka Angel pun memutuskan untuk ikut bersama adik terkecil mereka. Begitu mereka sampai di sana, betapa kagetnya mereka begitu mengetahui bahwa ayah mereka rajin bermain jailangkung…

 

Yang saya suka dari film ini:

-Dari semuanya, aktingnya Jefri Nichol lah yang oke.

-Banyak angle pengambilan gambar yang bagus. Mata Rizal Mantovani masih bisa dipercayalah.

-Rambutnya Amanda Rawles keren bangeeeeeeeeeeeeeet! Samponya apa, sih?

-Beberapa set dan lokasinya juga bagus.

-Hantunya serem! Nice!

-Efek darahnya juga oke.

 

Yang saya tidak suka dari film ini:

-Endingnya aneh. Ada yang nggak pas. Masa tiba-tiba begitu? Padahal tadi kan dia di sana, kok tahu-tahu udah ada di sini?

-Banyak adegan yang harus dipertanyakan.

-Ada satu adegan juga yang missed. Masa pas Skype-an layar laptopnya begitu?

-Sejujurnya tidak ada yang istimewa dari film ini. Dengan alasan itulah saya jadi menyayangkan keputusan Lukman Sardi untuk ikutan main film ini. Menurut saya film ini membuat dirinya down grade.

Review: Calon Arang

Category: Books

Author: Pramoedya Ananta Toer

Rate: 2,5 out of 5

(Foto: Izin nyomot dari sini )

Buku dongeng ini menceritakan tentang seorang penyihir (teluh) bernama Calon Arang. Ia adalah penyihir yang sakti dan punya murid-murid yang sakti pula. Calon Arang juga punya seorang anak perempuan bernama Ratna Manggali yang cantik rupawan. Namun mengingat kesaktian ibunya dalam meneluh orang, maka tak ada lelaki yang berani memperistrikan Ratna Manggali. Hal ini membuat Calon Arang murka. Maka untuk melampiaskan kemarahannya, ia meneluh seluruh penduduk negeri. Teluhnya amat sakti, banyak manusia tak berdosa yang mati bergelimpangan karenanya. Teluh Calon Arang semakin lama semakin menyebar. Sampai pulalah kabar mengenai hal ini ke telinga baginda raja Erlangga. Ia pun mengirim pasukannya untuk menangkap Calon Arang. Sialnya, pasukan baginda raja langsung tewas di tempat karena tak mampu menghadapi kesaktian Calon Arang. Sampai akhirnya diketahui bahwa hanya ada satu empu yang mampu mengalahkan kesaktian Calon Arang, yakni Empu Baradah.

Jadi bagus nggak bukunya, Krili? Sejujurnya menurut saya jawabannya adalah tidak.

Soalnya begini….

Buku ini adalah buku dongeng yang konon ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer untuk mengisi kekosongan buku cerita anak-anak. Sayangnya banyak bagian kisah buku ini yang sama sekali nggak cocok untuk anak-anak. Salah satunya tentang bagaimana kejamnya murid-murid Calon Arang membunuh orang untuk diambil darahnya lalu dipakai untuk keramas (freak!).

Ada juga satu tokoh yang sama sekali menurut saya nggak penting dan tidak berpengaruh apapun dalam cerita ini. Yaitu, tokoh Wedawati anak perempuan Empu Baradah yang baik hati. Sumpah, fungsi dia di cerita ini nggak ada.

Plot penulisannya juga nggak rapi dan banyak hal yang dipanjang-panjangin.

Karena saya pernah baca beberapa buku karangan Pramoedya lainnya, maka saya berani bilang kalau ini adalah buku terjelek karangan beliau yang pernah saya baca. Mari kita baca buku karangan Pramoedya yang lain saja.

365 Tulisan 2014 #80: Review: Biji Kopi Indonesia

Category: Movies

Genre: Documentary

Rate: 3 out of 5

(Foto: Izin nyomot dari hot.detik.com)
(Foto: Izin nyomot dari hot.detik.com)

 

Film dokumenter ini mengangkat biji kopi Indonesia sebagai bintang utamanya. Di film ini dijelaskan bagaimana biji kopi Indonesia, terutama yang Sumatera, menjadi primadona seantero penikmat kopi dunia. Di sini kita akan dijelaskan awal sejarah biji kopi masuk Indonesia, berbagai jenis kopi di Indonesia, bagaimana pengelolaannya atas pimpinan VOC (Belanda), sampai bagaimana cara orang Indonesia menikmati kopi dari tanahnya sendiri.

 

Yang gw suka dari film ini:

-Banyak gambar yang bagus di film ini. Sebagus gambar iklan-iklan rokok jaman dulu yang indaaaaaah banget.

-Warna-warna atau tone gambarnya juga baguuuuuus.

-Pengetahuan dan fakta yang disampaikan lumayan mencengangkan.

-Salut sama PFN (Produksi Film Indonesia) yang menjadikan film ini sebagai kebangkitannya dari tidur panjang.

 

Yang gw nggak suka dari film ini:

-Ada beberapa gambar yang goyang dan ganggu keindahan gambar.

-Angle gambarnya mengingatkan gw akan dokumenter negara jaman dulu. Eh, tapi ini bisa jadi sebuah ciri khas dari PFN ataupun kita bisa melihatnya sebagai sudut pandang yang ‘vintage’.

-Terlalu banyak tema yang mau diangkat sampai jadi nggak nyambung satu sama lain. Bahkan ada beberapa narasumber yang diberikan porsi tidak imbang dan kita pun bingung ‘buat apa sih yang tadi diwawancara?’ Tapi kritik yang ini sudah disampaikan teman-teman media pada sesi tanya jawab setelah screening. Menurut PFN, hal tersebut terjadi karena film Biji Kopi Indonesia itu merupakan film awal untuk film turunan dari Biji Kopi Indonesia lainnya.

 

Ini trailernya…

Film ini bisa ditonton di Blitzmegaplex sejak 3 Juni 2014

365 Tulisan 2014 #41: Review: The Raid 2: Berandal

Category: Movies

Genre: Action, Thriller

Rate: 4 out 5

Film ini melanjutkan kisah Rama (Iko Uwais) sang polisi rendahan yang berhasil lolos dari serangan geng mafia (nonton film The Raid pertama). Ia mengikuti saran abangnya untuk menghubungi Bunawar (Cok Simbara), yang tak lain adalah polisi satuan khusus untuk membasmi polisi yang korup. Bunawar meminta Rama melakukan penyamaran dengan cara menjadi salah satu ‘anggota’ geng mafia yang dipimpin Bangun (Tio Pakusodewo). Jalan masuk Rama terdapat di anaknya Bangun, Ucok (Arifin Putra), yang saat itu tengah mendekam di penjara. Singkat cerita, Rama yang dijebloskan ke penjara berhasil mendapatkan kepercayaan Ucok. Makanya begitu Rama bebas dari penjara, Ucok pun langsung mengajak Rama bergabung dengan klan Bangun. Namun sayangnya, upaya Rama membongkar sindikat polisi korup yang bekerja sama dengan keluarga Bangun terhambat dengan ambisi Ucok yang rela menyikat siapa pun yang menghalangi jalannya.

 

Yang gw suka dari film ini:

-Penokohannya bagus!

-Karakternya pada nggak biasa dan orisinil. Walaupun ada beberapa tokoh yang terlalu komik, tapi ini penyegaran untuk film Indonesia.

-Adegan sadisnya mantap! Kelihatan banget kalau terjadi kerja sama yang baik anatar Gareth Evans dan Mo Brothers. (Eh, emang Mo Brother ikut bantuin film ini kan ya?) Ngomong-ngomong, jangan ajak anak kecil nonton film ini ya. Mbak-mbak yang duduk di depan gw sampai kebangun dari kursinya karena nggak tahan ngelihat kesadisan.

-Akting Iko Uwais sudah jauuuuh lebih membaik dan dia sekarang kalau ngomong nggak kayak kumur-kumur lagi.

-Eh, semua pemain di film ini berakting dengan sangat baik deng.

-Oh Arifin Putra…. Rahangmu ituh…

-Oh Tio Pakusodewo…. Kharismamu ituh…. Btw gw kok deg-degan ya pas Tio Pakusodewo bilang ke Ikuo Uwais untuk ‘buka baju lo… Semuanya…’. Untung lagi nggak puasa ya *usap muka*

-Oh Oka Antara…. Badanmu yang dibalut dengan jas masa kini ituh….

-Entah kenapa gw senang pas melihat banyak aktor senior ikutan main film ini walau cuma jadi cameo. Selain membuat film ini terkesan niat, rasanya kayak rindu yang terobati karena udah lama nggak melihat akting dari orang-orang yang udah ditempa jaman.

-Adegan kejar-kejaran di jalan rayanya oke!

 

Yang gw nggak suka dari film ini:

Sound untuk dialognya nggak bagus. Jadi terkadang suka nggak jelas mereka ngomong apa.

-Ada beberapa adegan yang sangat tidak Indonesia. Meskipun akhirnya gw diberi penjelasannya oleh Rendy Imandita via Path, tapi sayangnya pesan yang ingin mereka sampaikan tidak tersampaikan oleh baik di film ini.

-Kostumnya bagus-bagus, tapi lagi-lagi nggak Indonesia. Walaupun ini juga dijelaskan oleh Rendy Imandita sih…

-Ada adegan yang menggambarkan Indonesia itu kok segitu kumuhnya ya? Padahal aslinya sih gw yakin mereka bergelimang harta

-Ada satu adegan berantem yang menurut gw kelamaan. Tapi mungkin bagi pecinta bela diri bakal melihat adegan ini sebagai sesuatu yang seru. Namun secara gw bukn pecinta ilmu bela diri ya…

-Beberapa adegan pengen dibuat sok dramatis, tapi sayangnya nggak dapat feel-nya.

 

Ini trailernya…

Review: Positive

(Repost dari blog yang lama: 14 Januari 2009)

 

Category: Music

Genre: Pop

Artist: Ecoutez

Rate: 3 out of 5

 

Judul: Positive

Artis: Ecoutez!

Label: Universal Music Indonesia, 2008

Keseluruhan album ini enak banget kita dengar pas pulang sekolah di mobil atau di kamar untuk cooling down. Semua lagu-lagunya yang jazzy nan groovy cocok banget buat kita menenangkan diri tanpa perlu ber-mellow ria. Sama persis deh dengan judul album ini dimana lirik-liriknya menceritakan kesialan dalam bercinta dengan riang dan postitif. Sayangnya perekaman album ini kurang balance. Sehingga musik yang menjadi pengiring terdengar lebih dominan dibanding suara Adelia sang vokalis. Jadinya terkadang kita seperti tidak mendengarkan album, melainkan seperti mendengarkan live music yang direkam.

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Ecoutez sekarang kemana yah?