blog

2015 in review

Alhamdulillaaaaah!

Senang juga lihat ini. Jadi semakin semangat nulis.

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 39.000 kali di 2015. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 14 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Iklan
review

Review: Youth Novels

(Repost dari blog yang lama: 30 April 2009)

 

Category: MUsic

Genre: Indie MUsic

Artist: Lykke Li

Rate: 3 out of 5

Judul: Youth Novels

Artis: Lykke Li

Label: Warner Music Indonesia, 2008

Kesan pertama ketika mendengar suara cewek asal Swedia ini adalah sok imut. Tapi begitu mendengar keseluruhan album ini, suara yang kita anggap sok imut itu ternyata begitu nempel di kepala. Bahkan di lagu Dance, Dance, Dance dan My Love vokal Lykke Li dan para backing vocal-nya begitu membius sehingga terkesan magical. Lagu-lagu itu terdengar seperti jampi-jampi yang menenangkan hati. Kalau mau lagu yang lebih pop lagu I’m Good, I’m Gone seru juga untuk bikin kita bergoyang. Lagu Everybody But Me juga keren untuk disimak. Lagu yang menceritakan tentang being diffrent ini punya pesan yang bagus untuk kita. Album ini enak banget deh didengarkan malam-malam di kamar sambil santai.

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Lykke Li adalah tipe musisi yang disukai oleh para hispter, walaupun entah bagaimana gw yakin kalau dia nggak ada niatan untuk mensegmentasikan pendengar musiknya.

-Lykke Li udah ngeluarin album keduanya berjudul Wounded Rhymes. Soundnya beda sama yang ada di album ini, dan sepertinya nggak sesohor album pertamanya.

-Menurut gw muka Lykke Li kayak Lady Gaga.

Ini lagu Everybody But Me yang menadji kesukaan gw di album ini. Soalnya mirip dengan situasi yang gw sering alami dulu (eeeaaaak jadi curhat)

review

Review: Bite

(Repost dari blog yang lama: 24 Maret 2009)

 

Category: Music

Genre: Rock

Artist: Bite

Rate: 2 out of 5

Nggak ada foto albumnya. Yang ada foto bandnya. Padahal cover albumnya cukup menarik, lho.
Nggak ada foto albumnya. Yang ada foto bandnya. Padahal cover albumnya cukup menarik, lho.

 

Judul: Bite

Artis: Bite

Label: Firecatz Records, 2009

Apa jadinya kalau suara polos cewek menyanyikan lagu rock yang kental? Itulah deskripsi yang paling pas untuk menggambarkan musik yang diusung Bite. Dalam EP yang hanya terdiri dari enam lagu ini setengahnya berisi lagu yang liriknya mengandung kritik yang bagus, seperti di lagu Semua Suka Wanita Cantik, Populer dan Hanya Trend Semata. Sayangnya album ini tidak menawarkan sesuatu yang baru, kecuali perpaduan suara sang vokalis yang polos yang kontras banget jika dipadukan dengan musik mereka nge-rock. Sepertinya Bite sedang mencoba membuat sebuah gebrakan baru di industri musik kita, namun sayangnya niat mereka terdengar tidak matching.

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Gw udah lama nggak dengar Bite. Kayaknya mereka lagi vakum karena kesibukan masing-masing.

Ini video lagu Menulis Lagu Cinta, tapi versi akustik.

blog

‘Indie’

(Repost dari blog yang lama: 4 April 2010)

Waktu itu saya ngobrol dengan teman saya yang bernama Allvino A.Tamaela. Ia biasa dikenal dengan nama ‘Vino-RAN’ karena profesinya sebagai manajer band RAN. Ia bercerita bahwa belum lama ini ia diwawancarai oleh seorang reporter. Sang reporter menanyakan apa definisi indie bagi seorang manajer band seperti dia. Vino menjawab bahwa indie adalah  perjuangan. Indie adalah bagaimana seseorang atau sekelompok orang bisa mencapai sesuatu dengan caranya sendiri yang tidak mainstream atau cara yang biasa dilakukan oleh mayoritas.

Seketika saya langsung menyetujui pendapatnya. Soalnya saat ini banyak sekali orang yang menyalah-kaprahkan arti indie. Banyak sekali orang mengartikan indie (untuk musik) itu sebagai jenis aliran musik yang beda atau tidak biasa. Atau indie itu eksklusif. Indie itu tidak akan bisa diterima oleh mainstream. Indie itu bedalah pokoknya!

Hadeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh! Tidak jarang saya dibuat kesal oleh penyalahartian definisi tersebut. Walaupun harus saya akui bahwa definisi itu tidak sepenuhnya salah juga. Mungkin ada baiknya kita jabarkan satu-persatu definisi Indie yang berkembang saat ini agar jelas kronologisnya.

Indie itu musiknya beda atau melawan arus.
“Aliran musik band itu apa?”
“Hmmmm….. Kayak gimana ya? Beda deh. Yaaaah indie-indie gitu lah…”

Sebagai orang yang bekerja dekat dengan industri hiburan terutama musik, percakapan kayak di atas sering banget saya dengar. Sepertinya semua aliran musik yang berbeda sudah pasti dikategorikan indie.
Ada benar dan tidak benarnya sih. Hal ini bisa dikatakan benar karena memang pada dasarnya musik indie adalah musik yang tidak umum. Tidak umum di sini lebih diartikan kepada ‘sedang tidak/ belum ngetrend masa kini’. Atau kalimat lebih gampangnya, musiknya tidak cukup massal untuk tampil di program televisi Inbox atau Dahsyat.
Tapi apakah selalu musik indie itu berbeda? Tidak tuh. Banyak band yang bisa dijadikan contoh bahwa musik indie juga bisa sama seperti musik mainstream. Band Mary Jane asal Bandung bisa dijadikan salah satu contoh nyatanya.

Indie itu tidak akan bisa diterima oleh mainstream.
Kata siapaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa? Kalau kita merujuk lagi ke definisi yang dikemukakan oleh Vino-RAN bahwa indie itu adalah perjuangan, maka kita perlu menggali lebih dalam lagi apa tujuan perjuangan mereka. Biasanya sih tujuan utamanya adalah agar karya mereka dikenal. Nah, yang namanya dikenal itu bisa diartikan sebagai menembus mainstream. Dan telah terbukti banyak musisi indie yang berhasil dengan masuk ke mainstream. Contoh: Souljah, The Upstairs, The Brandals, Goodnight Electric, Sore, dan masih banyak lainnya. Massa mereka memang tersegmen dan tidak sebanyak band Ungu, tapi nama mereka sudah menjadi magnet massa di acara-acara musik.
Tapi memang, perjuangan band indie untuk bisa masuk ke mainstream itu tidak mudah. Bahkan Vino-RAn yang juga memegang band indie Music For Sale pun butuh waktu bertahun-tahun agar bisa meluncurkan album dan dikenal orang.

Indie itu eksklusif.
Karena musik indie itu tidak/belum massal maka secara otomatis indie menjadi minoritas. Dan sudah menjadi kodratnya kalau kaum minoritas itu lebih solid dibandingkan yang mayoritas. Dari situlah timbul ke-eksklusifitasan. Saking eksklusifnya, sampai-sampai orang butuh usaha khusus untuk bisa mendengar karya anak indie. Karena karya mereka yang tidak massal itu tidak bisa kita temui di toko-toko musik biasa. Ke-eksklusifitasan itu jugalah yang membuat kalangan indie merasa bangga dengan ruang lingkupnya.
Disadari atau tidak, dari situ timbullah pride sebagai anak indie. Saking pride-nya, mereka sampai tidak ingin keluar dari zona (nyaman) indie mereka. Bahkan ada juga yang sampai meremehkan fungsi media. Lantaran ‘zona nyaman’ itu, mereka jadi punya ketakutan dengan ekspos media akan membuat mereka jadi mainstream.
Hal ini pernah dirasakan oleh band indie asal Malaysia, yaitu Hujan. Musik dari band indie yang digerakan oleh Dimas yang berdarah Indonesia ini berhasil mencuri perhatian seantero Malaysia. Sehingga ia mendapat perhatian begitu besar dari media yang makin melambungkan namanya. Begitu ia telah dikenal seantero negeri jiran itu, kalangan indie di sana memrotes mereka. Katanya mereka telah menjadi tidak indie lagi. Padahal dalam hal musik, tidak ada yang berubah dari band itu. Sebenarnya yang protes itu hanya sekedar iri atau takut kehilangan rasa eksklusif itu? Hanya mereka sendirilah yang bisa menjawab.

Sejujurnya, saya sebagai reporter suka sebal dengan penyalahartian poin yang terakhir. Tidak jarang saya temui band-band indie yang sangat menjaga ke-eksklusifitasannya menjadi orang-orang yang sangat intimidatif ketika diwawancara. Mungkin dari sisi pride mereka mengatakan kalau mereka tidak punya waktu untuk pertanyaan-pertanyaan yang mereka anggap tidak penting. Padahal kami reporter sedang berusaha menggali sisi menarik mereka melalui pertanyaan-pertanyaan simpel yang kami ajukan.
Yang mereka tidak sadari adalah kami reporter tidak peduli kalian indie atau tidak, yang kami ingin tahu adalah seberapa bagus karya Anda. Dan ketika karya sudah diakui bagus melalui prestasi-prestasi yang mereka raih, selanjutnya yang kami ingin tahu adalah seberapa ‘manusia’nya mereka. Hal ini (terutama untuk media tempat saya bekerja, yaitu majalah remaja putri pertama di negara ini) sisi manusia itu dapat kita ketahui dari pertanyaan-pertanyaan simpel seperti ‘hobi kamu apa?’ atau ‘siapa tokoh idola kamu?’  sampai ‘kamu masih jomblo nggak?’ yang mungkin dianggap oleh mereka tidak penting.
Tidak jarang banyak rekan reporter saya yang jadi malas mewawancarai band indie semacam ini. Buat apa kami wawancara band yang belum terlalu dikenal oleh pembaca (karena karyanya tidak dikenal secara massal) dan memperlakukan kami seperti orang bodoh? Kalau Dian Sastrowardoyo yang mengintimidasi wartawan itu masih bisa dianggap suatu hal yang wajar. Karena dia sudah sampai ditahap ketenaran dimana kami para reporterlah yang membutuhkan dirinya. Nah ini, kalau band indie yang baru terkenal sejabodetabek dan tenar di kalangan orang kaya doang udah sombong na’udzubillah, menurut Anda dimana letak kewajaran untuk menulis tentang mereka? Tanpa disadari ‘kemalasan reporter’ karena alasan yang saya sebut di atas itulah yang kemudian menghalangi band indie itu dikenal secara lebih luas. Padahal apa gunanya berkarya kalau orang tidak tahu hasil karya Anda bukan?

Maka dari itu saya sangat menyukai dan menyetujui definisi indie oleh Vino-RAN. Perjuangan yang harus kalangan indie hadapi itu begitu banyak. Mulai dari mencari biaya, mempertahankan idealisme, mencari jaringan distribusi, dan yang paling penting melawan kesombongan dalam diri sendiri.
Ingat selalu bahwa bangsa Indonesia itu adalah bangsa yang ramah. Kalau kaum indie tidak ramah dengan orang lain (terutama reporter), maka yuuk dadah bye bye untuk publikasi yang positif. Dan kalau kaum indie itu menjadi terkenal melalui publikasi yang negatif, lalu apa bedanya ia dengan Dewi Persik, ya nggak?

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Iya nih, ini jeritan hari gw waktu masih jadi wartawan Gadis. Kalau ketemu band indie yang sok, rasanya pengen buang body. Tapi namanya kerjaan ya… 

-Semoga sudut pandang dari (dulunya) wartawan ini bisa jadi masukan untuk khalayak musik Indonesia. Maju terus musik Indonesia!—-> halah kayak acara pemerintah

review

Review: Amazing In Bed

(Repost dari blog yang lama: 31 Agustus 2008)

 

Category: Music

Genre: Rock

Artist: Amazing In Bed

Rate: 5 out of 5

Begitu memasang CD-nya di CD player kita langsung dibawa ke atmosfer rock yang menghentak. Sound gitar rhytm, gitar melodi, dan drum yang dominan menjadi alasan utama terciptanya atmosfer tersebut. Suara centil sang vokalis juga tidak mengurangi kesan rock album ini, justru membuat ini terdengar lebih seru. Kita juga patut memuji pelafalan lirik bahasa Inggrisnya yang fasih, sampai-sampai hampir menipu telinga kita dan tidak menyangka bahwa mereka merupakan band asal tanah air. Keseluruhan album ini yang nge-rock abis ini bakal enak banget kita putar kencang-kencang di kamar untuk melepas stress dengan berdansa hura-hura.

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Gw amat sangat suka band ini.  Pertama kali gw dengar lagu mereka, gw langsung merasa ketonjok. Kaya ada yang bilang ‘ini baru yang namanya band!’

-Sayangnya begitu rilis album pertama mereka ini, sang vokalis langsung hengkang dari band untuk cabut ke Australia untuk kuliah. Begitu mereka ganti vokalis, rasanya udah nggak sama lagi. Nggak peduli walau vokalisnya itu orang bule sekalipun.

-Gw senang banget pas bisa ketemu dan jadi sering kontak sama Pondra, sang bassist. Lantaran dia sempat kerja di Universal music dan sekarang ke Sony label musik. Secara gw ngefans sama bandnya gitu lho!

-Nicko gitarisnya nikah sama Yacko sang Rapper.

-Ini adalah salah satu album yang nggak akan gw kasih ke orang! This is mine! My Precious…..

 

review

Review: Nu Buzz 1.1 Your Stuff

(Repost dari blog yang lama: 20 Agustus 2008)

 

Category: Music

Genre: Indie Music

Artist: Various Artist

Rate: 5 out of 5

Album ini merupakan kompilasi lagu indie terbaik pilihan Radio Prambors. Tapi, para pendengar radio turut serta dalam pemilihan artis dan lagu favorit yang akan masuk ke dalam album ini melalui voting via SMS. Hasilnya, album ini berisi 11 lagu asyik dari berbagai aliran musik. Seperti lagu Cat Fight dari These R Fake yang beraliran dance punk, Memilihmu dari Aditia Sofyan yang mellow abis dengan gitar akustiknya, sampai lagu Cewek Manja dari 2nd Clan yang ramai dengan hip hop. Nilai plus yang juga patut diperhatikan adalah perekaman album ini yang jernih, sehingga kuping nggak terganggu dengan noise khas rekaman indie. Album ini membuat kita bangga dengan bakat bermusik yang dimiliki oleh teman-teman kita di tanah air.

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Album ini yang bikin Sindentosca melejit dengan lagu Kepompongnya. Terserah deh kalau itu versi aransemen asli atau bukan. Sayangnya semua musisi dan lagu-lagu keren ini sekarang seperti menghilang begitu aja. Yang namanya masih (cukup) terdengar itu Aditia Sofyan doang. Yang lainnya entah kemana. Sindentosca sekalipun yang paling terkenal di album ini nggak kedengeran lagi namanya.

-Gw paling suka lagu Cat Fight dari These R Fake. Segeralah muncul kembali dan gantikan girlband-girlband yang bantet-bantet itu.

-Gw cari cover albumnya di Mbah Google nggak ada euy

review

Review: We Started Nothing – The Ting Tings

(Repost dari blog yang lama: 10 Agustus 2008)

 

Category: Music

Genre: Indie Music

Artist: The Ting Tings

Rate: 4 out of 5

 

Dengar lagu-lagu di album ini tanpa bikin kita bergoyang tanpa sadar. Penyebab utamanya adalah beat-beat-nya yang teratur di tiap lagunya. Suara sang vokalis yang kekanak-kanakan dan melengking bikin lagu-lagunya tambah meriah. Walaupun begitu ada satu lagu yang nggak matching di album ini, yaitu Traffic Light yang jazzy abis, tapi tetap ada sentuhan synthetizer yang terdengar sayup-sayup. Lucu sih! Keramaian albumnya juga tergambar dari disain albumnya. Cover albumnya yang didominasi dengan kolase ini langsung jadi eye catching yang tersendiri.

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Kayaknya ini adalah review album pertama yang gw beranikan taruh di blog pribadi. Awalnya gw pikir review album buatkerjaan kantor saat itu nggak boleh kita posting di blog pribadi. Ternyata kantor nggak masalah. Yo wiss, gw mulai posting deh review gw.

-Gw masih punya dan suka dengan album ini. Sayang waktu The Ting Tings datang ke Jakarta bukan gw yang dapat jatah liputan. Agak aneh juga sih The Ting Tings waktu itu manggung di Java Jazz. Eh iya, kan? Di Java Jazz kan manggungnya?