365 Tulisan 2014 #31: Yang Selama Ini Kita Pikir Keren…

Film dokumenter ini durasinya sekitar 40 menit. Please nonton!

Lalu pikirkan kembali arti kata ‘keren’ yang selama ini ditanamkan ke kita.

 

)

 

 

365Tulisan2014 #4: Stop YKS

Maap sodara-sodara, kemarin gw nggak nulis #365Tulisan2014.

Ke mana kah saya? Saya bisa dikatakan tidur seharian. Kondisi badan saya membuat saya sakit kepala (kayaknya darah rendah saya kumat) dan cepat capek. Makanya saya tiduran aja seharian. Saya hampir tidak mandi dan tidak membersihkan bekas make up saking lamanya tidur. Tapi karena saya sadar pentingnya kebersihan, maka saya paksakan diri untuk bangun untuk bersihin muka. Mandi mah keesokan paginya aja. Hemat air tauk!

Nah selama saya tiduran itu, tentunya sebagai orang normal saya bangun sesekali untuk nonton TV. Tapi sayangnya nggak ada acara TV yang menarik. Musim film-film keren di awal tahun sudah usai. Saya bingung mau nonton apa? Masa saya harus nonton acara joget massal alias YKS itu? Rasanya saya muak dengan humornya yang nggak lucu, jogetnya yang semakin sensual, isi acaranya yang nggak mendidik dan nggak ada pentingnya, dan kasian crewnya yang terlihat dipaksakan untuk terlihat asyik.

Saya ingat hari Jumat sebelumnya, teman-teman kantor saya membahas mengenai acara YKS yang semakin hari bikin muak. Salah satu dari mereka bahkan sudah mengisi petisi untuk menghentikan tayangan YKS via Change.org. Dia bilang dia kaget begitu melihat anak kecil meniru joget oplosan yang gerakannya sensual.

Saya yang sedang terbaring di tempat tidur pun bertekad besok pagi begitu saya sampai kantor saya akan ikut petisi itu. Dan hari ini saya menepati tekad saya itu. Ini buktinya….

Ini screen capture email yang says terima setelah mengisi petisi menghentikan tayangan YKS
Ini screen capture email yang saya terima setelah mengisi petisi menghentikan tayangan YKS

 

Bagi Anda yang sependapat dengan saya mengenai tayangan YKS, yuk ikutan petisinya di sini http://www.change.org/id/petisi/transtv-corp-segera-hentikan-penayangan-yks

 

Mental Terjajah

(Repost dari blog yang lama: 27 Agustus 2010)

Pada suatu hari di saat gw lagi jalan di mall sama Nilam, gw melihat ada seorang cowok bule di mall yang ngobrol di handphone-nya dengan suara kenceeeng banget! Buset deh! Melihat itu, gw pun jadi bertanya sama Nilam….

“Nil, rasisme itu perbedaan warna kulit kan?”

“Iya.”

“Definisi perbedaan itu mencakup perbedaan warna kulit baik secara positif dan negatifkah?”

“Hmmm…..kayaknya untuk hal yang negatif doang sih.”

“Jadi kalau gw memandang martabat orang bule lebih rendah itu artinya gw rasis?”

“Iya.”

“Kalau gw memandang martabat orang bule itu lebih tinggi dari gw, apakah itu rasis?”

“Bukan.”

“Jadi itu namanya apa dong?”

“Hmmm… itu kayaknya mental terjajah aja sih, hahahaha….”

Hmmm…Mental terjajah ya?

Kenapa gw bertanya seperti itu kepada Nilam? Semua pertanyaan itu muncul gara-gara gw melihat bule tadi yang teleponan dengan suara kenceng di tengah-tengah mall. (Hai bule! Kau memberiku inspirasi!) Menurut gw, apa yang dilakukan oleh si bule itu termasuk hal yang tidak biasa, malah cenderung (maaf) kampungan. Tapi karena dia ‘orang bule’ dan berada di mall elit, maka gw dan Nilam hanya terdiam dan pura-pura tidak melihat. Padahal gw nggak munafik kalau gw ini adalah salah satu orang yang doyan mencela ketika melihat hal-hal yang tidak wajar. Salahkan undang-undang kebebasan berbicara dan mengungkapkan pendapat!

Saat gw terdiam dan nggak jadi nyela itu bule, gw pun bertanya-tanya. Kenapa gw nggak cela itu bule? Kalau yang bertingkah kayak gitu bukan orang bule (dalam artian, orang Indonesia) mulut gw pasti udah mengeluarkan kalimat-kalimat yang terdengar nggak enak tapi cukup seru untuk ditertawakan.

Muncullah lagi pertanyaan-pertanyaan baru. Seperti, apakah ini yang disebut dengan rasis?

Tapi dari jawaban yang diberikan Nilam tadi gw jadi tahu kalau gw ini nggak rasis. Gw hanya orang yang masih bermental terjajah. Dan gilaaaaaaaaaaaaaa lo! Indonesia udah merdeka 65 tahun men! Tapi kenapa mental gw (yang tanpa gw sadari) masih mendewakan orang bule gini?

Perlu digarisbawahi (tuh, gw garis bawahin tuh) bahwa gw nggak ada masalah dengan orang bule. Dan gw nggak benci sama orang berkulit putih itu. Gw justru sebel dengan bangsa gw sendiri! Kenapa sih kita masih mendewakan kulit mereka?

Ngerasa nggak sih lo ternyata bukan gw aja yang mentalnya terjajah, tapi kita semua! Mau bukti? Nih gw kasih….

-Kalau lo liburan ke Bali, banyak tempat yang pelayannya lebih ramah sama orang bule ketimbang sama bangsanya sendiri. Ya kan?

-Beberapa mall melarang orang berpakaian buluk nan cuek untuk masuk ke mallnya. Tapi kalau bule yang datang pake sendal jepit dan bajunya buluk, pasti dibolehin aja tuh buat masuk.

-Gw pernah ke sebuah restoran. Terus gw dilihatin sama seorang cowok bule. Gw risih. Tapi gw dan teman-teman yang hadir saat itu nggak berani ngapa-ngapain. Syukurlah nggak berapa lama kemudian ‘pesanan’nya datang. Pesanan yang gw maksud di sini adalah seorang aktris wanita yang memang udah terkenal punya side job sebagai ‘pelayan’ high class. Gw kaget! Ternyata cowok bule itu ‘seorang pembeli jasa’. Tapi gw nggak munafik kalau sempat ada terbersit pikiran ‘woooow gw semenarik si aktris itu kah?’ di otak gw. Teman-teman gw juga mengatakan hal yang sama ‘ciyeeee Adis dilihatin bule. Prikitiiiiiuw!’
Nah sekarang, coba bayangkan bahwa cowok bule itu adalah cowok Indonesia. Jijik nggak lo? Gw yakin reaksi teman-teman gw bukan ‘prikitiiiuw’, melainkan ‘najis banget tuh cowok! Sok kecakepan, bla bla bla’

-Sekarang coba kaum hawa pada ngaku! Apa yang ada dipikiran lo kalau dengar kata ‘menikah dengan orang bule’? Pasti ada terbersit ‘akan jadi istri orang kaya’ di kepala lo, ya nggak? Udah deeeh ngaku aja. Ngaku ga! Ngaku!!! (Lho, kok jadi ngancem sih?). Padahal pernah nggak sih lo terpikir kalau dia memang segitu kayanya, kenapa kebanyakan dari mereka nginep di Jalan Jaksa?
Menikah dengan orang bule pun rasanya punya prestis tersendiri dibandingkan menikahi orang Indonesia yang notabene adalah anak Kyai-Yang Sebentar Lagi Akan Jadi Calon Presiden-Dan Nggak Suka Naik Mobil Ferari Karena Supirnya Lagi Cuti Buat Umroh.

-Gw pernah ditelpon oleh seorang teman yang bekerja di sebuah manajemen artis. Dia meminta gw untuk dikenalkan sama model-model baru jebolan kontes kecantikan yang diadakan oleh majalah gw. Gw kasih lah beberapa nama. Besoknya dia telpon buat protes tentang seorang model bernama Mawar (bukan nama sebenarnya).
“Mba Adis, aku kemarin telpon si Mawar. Tapi kok jawaban dia pendek-pendek dan ketus gitu ya? Bete deh.”

“Oh iya mas. Si Mawar memang orangnya begitu. Dia nggak maksud jahat, kok. Dia itu bapaknya bule. Dan sekolahnya di International School. Jadi nggak biasa basa-basi kayak kita, mas. Tapi sebenarnya anaknya baik, kok.”

“Oooooh anak bule, tokh! Pantesan! Iya iya artisku si CL juga begitu. O iya deh sip sip. Besok aku telpon untuk deketin dia lagi.”

Abis gw tutup telpon gw jadi mikir, kalau tadi gw nggak bilang si Mawar itu anak bule apakah teman gw akan memberi pemakluman segitu besar? Apakah justru akan keluar kalimat (misalnya) ‘baru tampangnya kayak begitu aja udah belagu!’ ?

– O iya, satu lagi! Masalah bahasa. Kalau ada orang Indonesia yang nggak pinter bahasa Inggris atau ngomongnya patah-patah (ngomongnya lho ya! Bukan goyangan) nggak jarang kita ketawain.
Pernah kepikiran nggak lo kalau orang Indonesia yang nggak lancar bahasa Inggris itu justru sebuah kewajaran? Karena itu memang bukan bahasanya! Kalau orang Indonesia tinggal di negara bule dan nggak bisa bahasa sana, itu boleh lo ketawain. Tapi kalau orang Indonesia, lahir dan hidup di Indonesia, terus diejek bodoh hanya gara-gara nggak pintar ngomong pakai bahasa asing, menurut lo itu adil? Bukankah seharusnya kaum pendatang yang belajar bahasa dan kebiasaan orang setempat?

Dari bukti-bukti di atas, apakah kalian merasa kalau kita telah rasis terhadap bangsa kita sendiri? Dan itu bukan ini bukan salah bulenya! Tapi salah kita yang mendewakan mereka. Gw menuliskan ini bukan untuk memprovokasi agar kita jadi membenci kaum bule ya. Gw hanya mengajak kita semua segenap bangsa Indonesia sebangsa dan setanah air untuk menaikkan martabat dan mental yang kita punya, agar kita percaya diri dengan diri kita sendiri. Terutama kemampuan yang ada di dalam diri kita, dibawah kulit yang sering terkena matahari ini (entah apa pun itu warnanya, yang penting Made In Indonesia).
Soalnya bagaimana mungkin mereka (orang bule) bisa melihat kita secara sejajar kalau kita terus-terusan menunduk di depan mereka? Bagaimana perusahaan dan hasil bumi kita nggak dikelola oleh orang bule kalau kita udah menyuguhkan semuanya ke mereka hanya gara-gara alasan ‘mereka lebih pintar dan mampu mengelolanya’?

Ayo naikkan derajatmu bung! Biarlah kita menunduk hanya kepada orang tua. Dan biarkan anak kecil saja yang memandang kita dengan mendongak.

PS: Menurut lo kalau nanti gw jadi caleg dengan membawa visi dan misi di atas, gw bakal terpilih nggak?

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Ini adalah salah satu blog yang gw banggakan karena gw berhasil menyentil orang-orang Indonesia untuk sadar kalau kita ini nggak segitu buruknya.

-Sejak menulis blog ini, gw menolak melihat orang berdasarkan warna kulitnya. Gw mulai melihat orang melalui isi otak dan sikapnya. Nggak peduli warna kulit mereka apa. Makanya waktu kantor lama gw pernah menyediakan training bahasa Inggris dari seorang bule yang arogan dan ilmunya biasa-biasa aja, gw pun mengketuskan diri dan mengarogankan balik diri gw di hadapan tuh bule. Sampai akhirnya si bule kicep sendiri, hahahaha. Makanya jangan sok kalo ilmu pas-pasan.

-Gw juga menolak berbahasa Inggris terus-menerus di kantor kalau memang nggak perlu. Buat apa? Gw bisa bahasa Inggris. Tapi gw kan orang Indonesia. Yang gw ajak ngomong juga orang Indonesia. Jadi buat apa gw pakai bahasa Inggris? Sempat ditegur sih sama kantor lama karena bahasa Inggris gw terdengar kurang fasih di telinga mereka. Tapi buat apa gw hilangkan aksen bahasa Indonesia di bahasa Inggris gw? Bukannya aksen itu justru membuatnya terdengar lebih seksi ya? Lagi pula, apakah aksen gw membuat bahasa Inggris gw jadi kurang dimengerti? Beberapa teman bule gw belum pernah ada yang komplen, tuh. 

-Cintailah bangsamu. Dari cinta akan timbul harga diri. Dari harga diri akan timbul keberanian. Dari keberanian akan timbul penghormatan.

-O iya, Nilam udah mengeluarkan buku chicklit berjudul Camar Biru.

Curhat Sama Agam

(Repost dari blog yang lama: 17 April 2010)

Agam adalah adik gw satu-satunya. Dia adalah tempat curhat gw tentang segala hal. Mulai dari curhat soal kerjaan, teman, bahkan sampai masalah asmara. Karena kecerewetan gw, maka biasanya Agam hanya lebih banyak mendengarkan daripada menanggapi. Justru kalau suatu masalah ia tanggapi, itu artinya masalah itu lumayan gawat. Atau bisa itu juga jadi tanda kalau ia tidak setuju dengan sikap atau pandangan gw.

Belum lama ini Agam memberi komentar tentang curhat asmara gw. Dan komentarnya sungguh mengagetkan!

Begini ceritanya…

“Agam tahu ga, masa ya ada cowok yang bla bla bla bla bla sama kakak. Dia orangnya baik sih, cuma agak heran aja kok dia bli bli bli bli bli bli bli gitu ya sama kakak. Padahal dia itu udah blu blu blu blu blu blu. Sebagai contoh nih ya, masa waktu itu dia ble ble ble ble ble ble ble ble ke kakak. Terus salah nggak kalau kakak jadi GR? Dia itu juga apa-apa sekarang nanyanya sama kakak. Entah misalnya soal blo blo blo blo blo blo atau bla bli blu sampai masalah ble blo! Salah nggak sih kalau kakak jadi GR?” curhat gw panjang lebar.

Agam hanya manggut-manggut. Biasanya ini tandanya dia setuju sama omongan gw. Tahu-tahu gw melihat dia mulai membuka mulut. Dia bilang….

“Kakak jangan GRan dulu…”

“Oke deh, kakak nggak mau ke-GR-an. Tapi kalau begitu apa alasan dia dikit-dikit nanyanya sama kakak, hayo?” tanya gw dengan sengit.

“Itu karena dia menganggap kakak itu guru spiritualnya,” jawab Agam dengan serius.

Ha?

Mulai sekarang gw akan berpikir ulang kalau mau curhat sama Agam.

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Gw sekarang udah jarang curhat sama Agam. Dia sekarang sibuk. Sejak dia kerja di program malam di Trans 7, dia jadi vampir. Dalam artian, kerjanya malam sampai subuh, terus tidur pagi sampe sore. Gw jadi harang ngobrol sama dia 😦

Review: SMS

(Repost dari blog yang lama: 25 Maret 2009)

 

Category: Movies

Genre: Romantic Comedy

Rate: 2 out of 5

 

Film ini menceritakan tentang Rezky (Rezky Aditya) dan Wisnu (Teuku Wisnu) sesama cowok ganteng nan playboy yang sedang mencari kosan. Pas mereka menemukan kosan yang seru, ternyata eh ternyata tuh kosan khusus buat cewek. Tapi karena pengen banget ngekos di situ, mereka pun pura-pura sebagai pasangan homo. Si ibu kos pun tertipu. Dan begitu mereka dikenalkan sama Bella (Laudya Cyntia Bella) keponakan ibu kos yang seksi banget, mereka berdua pun langsung jatuh cinta. Tetep pura-pura jadi homo apa nggak ya? Dan siapakah yang akan mendapatkan cintanya Bella?

 

Yang gw suka dari film ini:

-Akting Teuku Wisnu dan Rezky jadi homo bikin gw merinding geli.

-Beberapa dialognya lucu

-Bajunya Bella bagus-bagus

 

Yang gw nggak suka dari film ini:

-Akting Rezky Aditya sama persis kaya aktingnya sebagai Marvel di sinetron Melati Untuk Marvel

-Kostum Laudya Cyntia Bella yang bagus itu pamer badan banget.

-Alur cerita terlalu loncat. Keliatan banget ga detil.

-Ditengah-tengah film entah kenapa gw kehilangan minat buat nonton, dan bertanya-tanya “kapan sih ni film habis?”

-Figurannya nggak bagus

-Skoringnya nggak bagus

-Editingnya kasar

-Tipe film yang paling bentar lagi juga tayang di tivi

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Pada suatu malam di mana gw nggak bisa tidur, nonton tivi chanel Indosiarlah gw. Rupanya ada film India berjudul Dostana. Ceritanya sama persis kayak film ini SMS ini!!! Tokoh dan alur ceritanya sama persis! Setelah gw coba browsing, ternyata film India ini diproduksi tahun 2008. Ternyata eh ternyata….film SMS ini hasil jiplakan. Yah, rumah produksi film SMS di Indonesia ini juga milik orang India sih. Jadi mungkin menurut dia itu bukan jiplak, melainkan pinjam punya saudara. 

Ini trailer film SMS

 

Ini trailer film Dostana. Tapi gw cuma nemu yang subtitle bahasa Jerman 😀

 

Review: Disaster Movie

(Repost dari blog yang lama: 5 Maret 2009)

Category: Movies

Genre: Comedy

Rate: 1 out 5

Gw pecinta film parodi. Tapi ini kedua kalinya gw kecewa dengan film beginian. Kekecewaan pertama gw berikan pada Date Movie.

Emang ga ada yang ngalahin trilogi Scary Movie deh.

Film ini garing, maksa, dan bertele-tele. Figurannya keliatan banget. Jelek deh. Jangan buang-buang duit untuk nonton film ini di bioskop ya. Kalo pun mau nonton ini di DVD, pinjam dari temen aja. Nggak usah beli.

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Film ini jelek. Nggak ada bikin ketawanya sedikit pun. Kekuatan film parodi itu terletak di penulisan naskahnya dan ini naskah film ini jelek banget!

-Ingat ya, nggak usah beli. Pinjam aja.

Nih trailernya. Trailernya aja jelek. Plaaah…

Game Jaman Sekarang

(Repost dari blog yang lama: 8 Januari 2010)

Dari dulu gw ini bukan gamer. Gw ga pernah menang dalam main game apa pun. Mungkin karena itu kali ya gw ga bisa menemukan sisi nikmat dari bermain game. Satu-satunya game yang gw suka itu game tembak-tembakan Time Crisis. Itu juga gw mainin kalau lagi stres doang. Entah kenapa kalau udah melihat musuh jatuh berkat tembakan, stres gw jadi agak menguap. Tapi palingan gw mentok di level satu doang. Soalnya abis itu pasti posisinya berbalik menjadi gw lah yan tumbang akibat tembakan musuh.

Level satu memang level termentok gw dalam game apa pun. Sebut saja game Mario Bros dan Tetris yang telah menjadi saksi kementokan gw. Itu pun nama gw ga pernah bisa terketik di papan top score. Makanya jangan heran kalau setiap gw menembus level satu, biasanya gw langsung menyudahi permainan. Karena gw tahu kalau gw memang ga akan lolos di level dua. Daripada hati gw yang tadinya udah seneng karena menang jadi dongkol lagi karena kalah, ya kan? Mendingan gw udahin aja tuh game.

Gw pun orang yang kolot dalam soal game. Karena otak gw kurang bisa menerima respon untuk memencet tombol yang banyak di joy stick Play Station. Gw pernah lho bikin adik gw malu gara-gara kita main Winning Eleven (game sepakbola) dan Medal Of Honour (game tembak-tembakan) di rental PS. Otak dan tangan gw yang kolot ini ga bisa mengarahkan sang pemain bola yang gw kendalikan. Sehingga gw hanya membuat sang pemain bola muter-muter di tempat tanpa menyentuh bola sama sekali. Karena gw berisik, pemain bola lawan yang dikendalikan adik saat itu sampai memberikan gw bola biar gw ga berisik. Soalnya gw merengek-rengek terus dengan heboh karena ga bisa melihat bola di layar kaca.
Mungkin karena malu lantaran mengundang perhatian orang, maka adik gw memutuskan untuk main game Medal Of Honour. Dengan pemikiran biar gw ga berisik lagi. Tapi perkiraan adik gw meleset jauh. Gw tetap berisik karena di game itu tokoh yang gw kendalikan selalu menabrak tembok dan ga bisa bergerak kemana-mana karena bingung. Belum lagi kalau gw panik ketika tokoh gw tiba-tiba mati karena tertembak.

Sejak itu adik gw ga pernah mengajak gw ke rental PS lagi.

Waktu terus berlalu dan teknologi terus membuat hal-hal baru.

Gw yang terbiasa dengan game Mario Bros yang selalu mengamalkan sunah Rasul (alias selalu berjalan ke arah kanan) itu tercengang dengan segala game yang ada saat ini. Terutama dengan game-game di Facebook yang sedang digandrungi adik gw. Saat ini adik gw lagi main empat game di FB-nya. Antara lain..
1. Pet Society
“Ini game apa, Gam?” tanya gw?

“Ini game melihara binatang gitu. Agam melihara kucing.”

“Terus mainnya kayak gimana?”

“Jadi kucingnya kita kasih makan. Kucingnya bisa kita ganti-ganti bajunya. Terus kalau dia bosan, bisa kita suruh nonton TV. Dan dia juga bisa kita suruh nyari duit juga, lho.”

Dalam hati gw: Gw harus melaporkan game ini ke WWF ga ya? Ini kan mengeksploitasi binatang!

2. Farmville
“Ini game apa, Gam?”

“Ini game berladang.”

“Ooooh kaya game Harvest Moon di PS ya?”

“Iya.”

“Lho ko yang Agam tanam itu bunga? Mana ada orang tanam bunga di ladang??”

“Kalo tanam bunga, duitnya lebih banyak tau!”

“Hooo…. Kok Agam melihara babi juga sih??? Itu kan haram tau!”

“Yaelaaah kak! Ini cuma game doang gitu.”

Dalam hati gw: FPI ga boleh tau soal game ini. Kalau sampai FPI tahu akan game ini, pasti mereka akan menuntut pemerintah menutup Facebook dengan alasan menyebarkan flu babi.

3. Fishville
“Ini game apa, Gam?”

“Ini game melihara ikan.”

“Terus ngapain?”

“Kita kasih makan ikan doang kerjanya. Nanti kalau ikannya udah gede, bisa kita jual.”

Dalam hati gw: Mulai sekarang gw harus waspada kalau mau beli ikan. Kalau daging sapi ada yang daging ‘gelondongan’, maka bukan ga mungkin kalau nanti akan ada ikan ‘Facebookan’ di pasaran.

4. Cafe  World
“Ini game apa, Gam?”

“Ini game jadi pemilik kafe gitu.”

“Terus mainnya ngapain?”

“Kita atur menu, masak, terus kalau ada duit lebih kita bisa ganti dekor cafenya. O iya, cafe Agam butuh pelayan tambahan nih. Kakak Agam jadiin babu di cafe Agam ya?”

Dalam hati gw: Jadi gw sekolah tinggi-tinggi hanya untuk jadi babu di kafe adik gw. Tak sudih!

Haaaaah sudahlah! Gw sepertinya memang lahir di zaman yang salah.

Main congklak ah.

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Adik gw udah nggak main semua game itu sejak internet di rumah gw sempat mati lama. Sekarang internet rumah udah lancar sih, tapi dia belum mulai main game apa-apa lagi.

-Gw sekarang tergila-gila main game Candy Crush di Facebook. Gw belum pernah kecanduan game segininya. Tapi alhamdulillah gw sekarang lagi mentok di level 35, bukan di level satu doang.

-Eh kayaknya Agam mau mulai main Farmville 2, gara-gara dia ngeliat Si Punk Rock asyik main game berladang ini di rumah gw.

Review: Dream

(Repost dari blog yang lama: 12 Januari 2009)

 

Category: Books

Genre: Mystery & Thrillers

Author: Joannes Rhino

Rate: 1 out of 5

Buku ini punya ide penulisan cerita yg bagus. CUMA penulisannya kaku banget! Padahal ini termasuk sastra modern dan sepertinya ditulis oleh orang Indonesia, tapi yang gw tangkap adalah buku ini seperti ditulis di jaman Sutan Takdir Alisyahbana atau penulisnya bukan asalIndonesia. Yang kemudian tulisannya diterjemahkan secara kaku (maaf ya… Tapi ini memang cirinya Dastan dalam menerjemahkan).

 

Jumat, 13 Februari 2009

TAU GA SEEEEH!

BARUSAN GW DIKASIH TAU TEMAN GW, TERNYATA CERITA BUKU INI SAMA PERSIS SAMA KAYAK FILM PASSION OF MIND YANG DIMAINKAN AMA DEMI MOORE!

HUH! PLAGIAT!

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Plagiat! 

Berharap Pada Krisis Global

(Repost dari blog yang lama: 30 Maret 2009)

Krisis ekonomi di negara (sok) super power Amerika emang ga dipungkiri berdampak ke negara kita. Sektor yang paling terasa dampaknya itu sektor ekonomi dan pariwisata. Jadi wajarlah kalau semua orang menyayangkan krisis ini. Nggak sedikit juga yang mengutuk krisis ini.

Tapi memang hanya orang aneh seperti gw ini lah yang berharap pada krisis ini agar bisa membantu hidup gw.

Harapan gw adalah semoga dengan krisis ini harga minuman keras yang merupakan barang ekspor, jadi mahal banget banget banget BANGET, sampai seharga mobil baru! Amien ya 4LLi !!!!!!

Kenapa eh kenapa gw berharap seperti itu? Soalnya untuk kesekian kalinya tadi pagi tidur gw terganggu sama teriakan cewek mabok di kosan gw. Dia teriak-teriak ga jelas dari kamarnya sendiri di lantai bawah sampai kedengeran ke kamar gw di lantai dua.

Yang dia teriakin tuh macem-macem. Berikut beberapa contohnya…

“Dasar jelek, bego, item, item! Cape deee!”
“Gw bayar di kosan ini! Berani lo sama gw?”
“Get out! Gw berani bayar lo ribuan dollar!”

Apakah maksudnya dari teriakan-teriakan itu? Teu nyaho! Namanya juga orang mabok. Dan jeleknya kalau ada dari kita yang berani negor, dia malah makin semangat teriak-teriaknya. Dia juga malah makin berani caci maki kita, karena dia merasa ada bahan buat diteriak-teriakin.

Mungkin solusi terbaiknya adalah gw pindah kosan aja kali ya, biar tidur gw ga terganggu lagi. Cuma sampai sekarang gw blum nemuin juga kosan yg pas. Makanya untuk saat ini gw masih harus menyabarkan diri dengan teriakan-teriakan yg ga matching itu.

Sementara itu juga gw berharap banget sama krisis ini untuk membuat harga minuman keras jadi melambung, jadi si cewek gila itu ga akan bisa mabok lagi. AMIIIIIIEN! Sehingga tidur gw akan nyenyak aman sentosa sejahtera. AMIIIIIIIIIIIEEEEEEEEEN!!!!!!

Eh, tapi……………… kalau nanti dia malah mabok Topi Miring sambil teriak-teriak “Aku cinta produk Indonesia!” gimana dong?

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Si cewek tukang mabok itu udah nggak pernah teriak-teriak lagi. Gw berkesimpulan kalau dia udah pindah. Mungkin pas dia sober, dia baru menyadari betapa memalukannya tindakan dia. 

-Gw masih ngekos di tempat yang sama. Tapi insya Allah, akhir tahun ini pindah. Amieeen ^__^

SMS Dari 085217787xxx

(Repost dari blog yang lama: 26 September 2008)

Di suatu pagi pada hari Kamis, 25 September 2008, gw yg kala itu sedang insaf dari Multiply dan Facebook, sehingga rajin mengerjakan tugas kantor, tiba-tiba handphone gw berbunyi mengeluarkan nada pertanda ada sms.

Gw lihat hp gw, ternyata gw dapat sms dari nomor yg ga gw kenal. Dari nomor 085217787xxx tepatnya. Gw pikir ini mungkin nomor seleb. Karena gw emang nggak pernah ng-save nomor seleb di hp gw. Takut ada yg iseng, terus tuh nomor kesebar, gw deh yang diomelin. Tapi bisa juga itu nomor anak-anak reporter lain yang belum sempat ke-save sama gw. Dan suka kirim undangan liputan via sms. Ah… siapapun itu, gw buka dulu smsnya.

Namun betapa terkejutnya hatiku (kalau pakai bahasa Padang tuh “Takajuik den!”) ketika bunyi sms-nya seperti ini…..

“Tolong jemuran yg udah kering diangkat. yg dibak dijemurin”

Hapaaaaaaaaaaaaaaaaaa! Siapakah gerangan orang yg berani2 menyuruh saia mengerjakan hal-hal seperti itu! Saia tersinggung bukan karena saia merasa direndahkan utk mengerjakan hal-hal seperti itu, tapi saia tersinggung karena saia itu tidak pernah lupa mengangkat jemuran!!!!

Siapa sih ini! Siapa coba yg berani sama gw! Siapa!!!!!!

Gw coba menenangkan hati dan pikiran gw yg tumben-tumbenan lagi rajin ngerjain tugas kantor sebelum diinterupsi dgn sms ini. Gw coba ingat-ingat, siapakah yg berani menyuruh gw angkat jemuran. Orang rumah? Ga mungkin, mereka kan tahu gw nge-kos. Lagian pasti mereka akan menggunakan nomor mereka masing-masing yg sudah tentu gw kenal utk meng-SMS gw. Apakah para bibi di kosan? Tapi jemuran apa yg gw tinggalkan? Paling jemuran daleman. Tapi itu juga sudah gw angkat. (Klo ga gw angkat, gw mau pakai daleman apa coba buat cost play jadi Super Crayon Shinchan, ;-P -for: 1greenie ) Dan ga seperti biasanya mereka akan repot-repot mengSMS gw hanya utk mengangkat jemuran. Eh tunggu!……mereka malah ga pernah SMS gw deng! Malah pas kapan tuh gw telpon hp-nya karena butuh sesuatu, ga pernah diangkat. Tapi klo anak kosan lain kayanya gampang-gampang aja hubungin mereka. Ooooooh jadi mereka sentimen ya ama gw! Oh gitu, mba! Gitu? Gitu? Oke, oke! Fine!

“Janganlah kita mengotori hati kita di bulan suci ini hanya karena su`udzon, iri, maupun dengki.” (A`a Gym)

Astagfirullahaladziiim….. ampuni dosaku ya 4LLi! Dan terima kasih utk A`a Gym yg bersedia melintas di benak saia seketika utk mengingatkan saia kembali ke jalan yg benar. Kapan nih A’ kita bukber bareng? (halah! sok kenal!)

Kembali ke soal SMS. Gw pun membalas SMS itu begini….

“Maaf, ni sapa ya?”

Dan dia pun hanya membalas…

“Sory salah pencet”

Gw pun hanya bisa terdiam membaca balasan sms itu. No gw yang telah gw pakai bertahun-tahun, tepatnya sejak tahun 2002 dan ga pernah gw ganti. Dan kini bisa bikin gw agak-agak bangga dgn nomor itu karena nomor hp dgn awalan 0812 sudah mulai jarang ada yg pake, ternyata……….. nomor gw mirip dgn nomor pembantunya!

Aaaaaaaarrrrrrgh! Vervelend!

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Gw masih suka dapat SMS iseng dan salah sambung. SMS iklan racun tikus dan travel apa lagi, banyak beud. Cuekin ajalah….