365 Tulisan 2014 #23: Review: 3AM Part 2 (3D)

Category: Movies

Genre: Horror

Rate: 3 out of 5

Film ini terdiri dari tiga buah film pendek yang saling berhubungan (walau sedikit).  Enaknya gw review filmnya satu persatu aja ya. Biar adil gitu. Secara sutradara tiap film beda-beda.

Film pertama berjudul The Third Day. Di sini diceritakan mengenai Rang (Ray McDonald) seorang ketua geng motor. Ia meninggal saat mengejar pacarnya yang kabur dengan cowok lain naik motor. Di hari ketiga kematiannya, sang mantan pacar plus kekasih barunya dan teman-teman satu geng motornya hendak mencari kartu dan pin ATM Rang untuk menguras isinya. Namun sayangnya mereka terlambat mengetahui bahwa Rang telah bangkit untuk membalaskan dendamnya.

Yang gw suka dari film ini:

-Ray McDonald pemeran Rang ini cakep

Yang gw nggak suka dari film ini:

-Akting para pemainnya jelek.

-Pengambilan gambar dan cara nakutinnya jelek. Kayak filmnya Nayato Fio Nuala. Bagi yang nggak tahu Nayato Fio Nuala, nggak usah tahu deh. Itu sutradara film Indonesia kesukaan para alay.

-Jalan ceritanya lumayan ngada-ngada.

-Suara dan bahasa orang Thailand itu nggak indah ya. Maaf ya, ini memang masalah budaya dan etnografis sih. Tapi suara dan bahasa Thailand itu bikin cowok-cowok Thailand jadi nggak ada yang macho -__-

Ini foto adegannya…

Ini Rang sesaat sebelum mengejar pacarnya kabur sama cowok lain
Ini Rang sesaat sebelum mengejar pacarnya kabur sama cowok lain
(Dok. Jive! Movies)
Ini mantan pacar Rang dan kekasih barunya saat mulai dihantui Rang
(Dok. Jive! Movies)
Ini Rang pas udah jadi hantu. Tetep cakep ya. Tapi kalau dia udah ngomong jadi ilfil (Maaf ya orang Thailand)
(Dok. Jive! Movies)

Film kedua berjudul The Convent. Film ini menceritakan kisah cinta segitiga anak-anak asrama perempuan (iya, mereka lesbi). Berawal dari Khem (Suppanart Jittaleela) yang jadian sama Mai (Apapattara Meesang). Khem sebenarnya sudah punya pacar, tapi dia nggak tahu cara mutusin pacarnya. Dia pun ke sebuah gereja tua yang konon ada seorang hantu biarawati tanpa kepala yang dapat mengabulkan permintaan cinta seseorang. Dengan syarat, setelah keinginan kita terkabul, kita harus kembali ke gereja itu sendirian untuk memainkan sebuah lagu di piano sampai selesai. Keinginan Khem untuk putus lalu jadian dengan Mai terkabul. Namun ketika ia kembali ke gereja untuk memainkan lagu tersebut, kenapa situasinya jadi menyeramkan ya?

Yang gw suka dari film ini:

-Supparnart Jittaleela yang memerankan Khem ini kok jadi cewek ganteng banget yak? O__o

-Ide ceritanya bagus

Yang gw nggak suka dari film ini:

-Ada beberapa adegan yang sok romantis malah jadinya najong. Mungkin itu salah satu pendukung horornya sih, dalam artian najong=horor.

-Bagian yang pake efek komputernya nggak halus

Ini foto adegannya…

Ini Khem. Ini perempuan lho. Ganteng yak
Ini Khem. Ini perempuan lho. Ganteng yak
(Dok. Jive! Movies)
Ini Mai yang jadi sumber cinta segitiga (Dok. Jive! Movies)
Ini Mai yang jadi sumber cinta segitiga
(Dok. Jive! Movies)
Ini mantan pacarnya Khem. Gw lupa namanya. Pokoknya namanya kayak orang Thailan lah (ya iyalaaah, namanya juga film Thailand!)  (Dok. Jives! Movies)
Ini mantan pacarnya Khem. Gw lupa namanya. Pokoknya namanya kayak orang Thailand lah (ya iyalaaah, namanya juga film Thailand!)
(Dok. Jives! Movies)

Nah kalau film ketiga berjudul The Offering. Film ini menceritakan tentang Kamod, seorang karyawan toko disuruh lembur oleh bosnya. Tahu-tahu istri bosnya, Juju (Sinjai Plengpanich), pulang dan bersikap aneh. Kamod kemudian tak sengaja baca berita online bahwa  bahwa mobil istri bosnya kecelakaan, penumpang di dalamnya meninggal. Kamod yang ketakutan pun berusaha memberitahu bosnya bahwa Juju yang ada di rumahnya itu sudah meninggal.

Yang gw suka dari film ini:

-Ini film horor yang kocak. Ekspresi, spontanitas, dan dialognya kocak semua.

-Aktingnya bagus.

-Twist-nya juga bagus.

Yang gw nggak suka dari film ini:

-Endingnya agak maksa sih menurut gw.

Ini  foto adegannya…

Itu Kamod yang disuruh lembur sama bosnya
(Dok. Jive! Movies)
Kamod saat berusaha memberitahu bosnya kalau istrinya sudah tewas
(Dok. Jive! Movies)
Ini reaksi Bos Kamod saat udah tahu kalau istrinya sudah meninggal
(Dok. Jive! Movies)

Kalau review secara keseluruhan film ini sih, ya… film ini bolehlah buat hiburan rame-rame nonton bareng geng lo. Tapi gw nggak menyarankan nonton yang 3D ya. Soalnya penempatan subtitle-nya jelek agak ngebayang gitu. Jadi bikin pusing. Walau sebenarnya bisa diakalin dengan nutup sebelah mata lo, sih. Tapi mendingan nonton versi biasa aja. Tokh yang versi 3D nggak berasa amat efeknya.

Film ini bisa lo tonton di Blitzmegaplex mulai tanggal 12 Februari 2014 yo.

Review: Solstice

(Repost dari blog yang lama: 20 Mei 2009)

 

Category: Movies

Genre: Horror

Rate: 3 out 5

Film yang berposter jelek ini bikin gw penasaran pengen nonton. Soalnya di posternya tertera tulisan kalau film ini disutradarai oleh sutradara yang sama yang bikin film Blair Witch Project. Maka setelah berusaha sana-sini mengajak orang untuk nonton bareng dan nggak berhasil, gw pun pergi melenggang kangkung nonton film ini sendirian. Walhasil, pas bubaran bioskop yang sepi itu gw jadi bahan tontonan orang. Emang cewek nonton film horor sendirian itu segitu anehnya ya?

 

Film ini menceritakan tentang Megan (Elisabeth Harnois) yang disuruh pergi liburan sama teman-temannya ke villa milik orang tuanya. Maksud liburan itu adalah untuk menghibur hati Megan yang masih sedih karena saudara kembarnya meninggal bunuh diri beberapa waktu yang lalu. Liburan yang seharusnya menyenangkan itu tiba-tiba berubah ketika Megan menemukan kunci milik saudari kembarnya. Megan merasa saudari kembarnya berusaha memberinya petunjuk atas kematiannya.

 

Yang gw suka dari film ini:

– Elisabeth Harnois cantik mirip Nikita Willy

– Ada pemain baru, Tyler Hoechlin yang mendapat jatah peran lumayan banyak. Dan dia guanteeeeeeeeeeeeeng banget!!!!!!! Konon katanya dia saingan utama Robert Pattinson waktu casting peran Edward buat Twilight. Sayang dia nggak kepilih, mungkin karena kulitnya terlalu coklat. Tapi beneran deh, tuh cowok ganteng beut dah! Kulit coklat pula! *meleleh*

– Ceritanya oke lah

 

Yang gw nggak suka dari film ini:

– Seramnya kurang greget. Entah kenapa gw merasa nanggung.

– Gw memperhatikan film horor hollywood sekarang itu suka meniru horor asia alias ngagetin.

– Pemain baru semua. Jadi kurang cakep dan kurang semangat buat nonton ulang.

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Nama Taylor Hoechlin hampir nggak pernah kedengeran di layar lebar lagi. Sepertinya dia lebih berjaya jadi aktor serial televisi.

 -Gw lupa sama film ini. Artinya film ini nggak berkesan sama gw.

-Gw kangen juga nonton film sendirian lagi. Sayangnya, gw sekarang jadi kecanduan nonton film bareng Si Punk Rock (eeeeaaak)

Ini trailernya…

Review: Rose Madder

(Repost dari blog yang lama: 11 Mei 2009)

 

Category: Books

Genre: Horror

Author: Stephen King

Rate: 3 out of 5

Buku ini menceritakan tentang Rosie Daniel yang bertahun-tahun hidup dengan pemukulan dari suaminya yang juga seorang polisi. Suatu hari ia akhirnya merasa nggak tahan dan memutuskan untuk kabur. Tentu saja suaminya mengejarnya karena nggak suka ‘pembangkangan’ yang dilakukan Rosie. Dan kali ini ia bertekad untuk membunuh istrinya. Sayangnya Rosie yang ia kenal lemah sekarang udah nggak ada lagi. Rosie berubah sejak membeli sebuah lukisan di tukang loak.

Stephen King itu selalu punya pola yang sama dalam menulis horor. Awalnya agak membosankan, tengah-tengahnya horor! Pecinta horor pasti suka dengan buku-buku karya Stephen King, cuma gw nggak tahu kenapa hanya sedikit bukunya yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Stephen King juga patut diacungi jempol dalam kepiawaiannya mendeskripsikan perasaan dan pola pikir manusia. Tentu saja mengetahui perasaan dan pikiran manusia terlalu jauh bisa membuat kita merasakan keseraman tersendiri.

 

 

Favorite Quote:

“Aku lebih memedulikan apa yang kausukai dan kauinginkan daripada apa yang kauterima dan lakukan” (halaman 506)

Kenapa gw suka quote ini?

Karena menurut gw quote ini membuktikan kalau elo mencintai seseorang, elo peduli akan kebahagiaannya dan keinginannya. Kepedulian itu bukti dari penerimaan elo terhadap orang tersebut seutuhnya dan apa adanya. Menurut gw loh ya……..

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Buku ini gw taruh di mana yak? :-/

-Stephen King is our king!

-Sampai sekarang masih sedikit buku Stephen King yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

-Gw udah menemukan orang yang memperlakukan gw seperti di quote tersebut.  Alhamdulillah ^__^

 

Review: 100 Feet

(Repost dari blog yang lama: 11 Maret 2009)

 

Category: Movies

Genre: Horror

Rate: 3 out 5

Film ini menceritakan tentang Marnie seorang istri yg membunuh suaminya krn suaminya sering mukulin dia. Setelah dua tahun mendekam di penjara, ia dibebaskan untuk menjalani tahanan rumah. Baru beberapa hari ia tinggal di rumah di mana ia membunuh suaminya, ia dihantui oleh arwah suaminya yang dalam keadaan gentayangan pun ia masih suka mukulin Marnie. Suaminya bersumpah untuk tidak membiarkan Marnie hidup.

 

Yang gw suka dari film ini:

– Menegangkannya megang.

– Bikin gw terkaget-kaget

 

Yang gw nggak suka dari film ini:

– Hantunya cuma ngaggetin tapi ga serem

– Skoringnya kaya film horor Indonesia

– Efek visualnya kurang caem

– Banyak adegan kekerasan

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Gw lupa dengan film ini. Artinya film ini nggak bagus-bagus amat.

Ini trailernya..

 

Review: Pintu Terlarang

(Repost dari blog yang lama: 15 Januari 2009)

Category: Movies

Genre: Horror / Thriller

Rate: 5 out of 5

Jangan tertipu dgn posternya! Poster itu sama sekali ga menceritakan atau menggambarkan isi cerita.

Jadi begini ceritanya….

Gambir (Fachri Albar) adalah seorang seniman patung yang menuai puja-puji karena karya patung wanita hamilnya. Selain itu ia juga mempunyai istri, Talyda (Marsha Timothy) yang cantik. Kesempurnaan hidup yang ia jalani membuat banyak orang iri. Padahal batin Gambir tertekan karena harus menutupi rahasia istrinya sampai ia ga sadar di mana batas realita yang ia punya….

Halaaaah sok gaya beut ya gw pake bahasa nan dramatis. Tapi sebenarnya bingung tau bikin sinopsis film ini. Soalnya filmnya ribet, tapi ga musingin.

Yang gw suka dari film ini:

– Fachri Albar & Marsha Timothy aktingnya keren!

– Banyak hal ga nyangka

Sound-nya bagus

– Membangun nuansa dark dan seremnya bisa banget! Padahal ga ada hantu sedikit pun.

– Ga pelit properti (entah kenapa gw yakin kalo champagne dan wine yang mereka minum itu beneran)

– Ga klise dan ga mainstream

– Filmnya lama, tapi lo ga merasa bosan

Yang gw ga suka dari film ini:

– Akting Ario Bayu mengingatkan gw sama Mario Teguh

– Poster amat sangat ga nyambung! Bahkan kalo ga liat nama sutradara yg tertera di poster, gw udah mikir ni film esek-esek kali ya. Abis posenya kaya film ‘Desahan Membara’ gitu…

– Banyak adegan kekerasan yang amat sangat gw sarankan kepada anak-anak di bawah 17 tahun untuk ga nonton film ini

– Kalo lo tipe orang yang ga begitu suka ngomong, lo akan tersiksa setelah nonton film ini. Karena semua orang akan bertanya ma lo “Maksud endingnya apa sih? Ko dia jadi gitu? Terus yg ini kenapa begitu?”

– Pas gw nonton udah ada text bahasa inggrisnya. Entah kenapa gw ngerasa terganggu.

– Dialognya campur-campur bahasa Inggris yang bikin gw agak-agak berjengit

Setelah dibaca lagi sekarang :

-Sampai sekarang gw masih sukaaaaa banget dengan film ini dan Joko Anwar menjadi sutradara Indonesia favorit gw.

-Pas tiap selesai nonton ini, gw ngerasa bangga. Soalnya akhirnya ada film horor/thriller yang bagus dan nggak malu-maluin.

-Anak-anak dibawah 17 tahun nggak boleh nonton film ini, soalnya sadis.

Review: The Strangers

(Repost dari blog yang lama: 28 Desember 2008)

 

Category: Movies

Genre: Thriller

Rate: 3 out 5

Konon katanya film ini berdasarkan kisah nyata yang terjadi pada tahun 2005, kalau ga salah. Jadi ceritanya tentang sepasang kekasih yg baru pulang dari kawinan temannya terus nginep di villa liburan punya sang cwo. Tahu-tahu jam 4 pagi ada cewek ngetok pintu dan nanya, “Is Tamara here?” Pas mereka jawab ga ada yang namanya Tamara di sini, udah deh tuh cewe pergi. Tapi tahu-tahu, rumah mereka dimasukin orang asing buat bunuhin mereka.

 

Yang gw suka dari film ini:

-Ga dibuat-buat, semuanya masuk akal.

 

Yang gw ga suka dari film ini:

-Endingnya jelek.

-Gw baru nyadar kalau akting Liv Tyler itu rada-rada template. Liv Tyler yang gw lihat di film ini adalah Lady Arwen LOTR yang sedang ketakutan.

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Endingnya jelek.

-Posternya keren. Nyereminnya dapat.

-Endingnya jelek.

Review: Twilight

(Repost dari blog yang lama: 14 Desember 2008)

 

Category: Movies

Genre: Romance

Rate: 2 out of 5

Gw tadinya ga mau nonton film ini. Awalnya gw tertarik sih baca bukunya, cuma begitu gw liat reaksi teman sekamar gw yg begitu mencengangkan setelah tersihir oleh buku ini, gw jadi malas untuk baca dan nonton Twilight. Lagian, gw dah tau ceritanya dari awal ampe akhir gara-gara teman sekamar gw menceritakan dengan segitu hebohnya.

Gw yang tadinya ga mau nonton, akhirnya hari Minggu lalu terpaksa nonton. Karena nonton Twilight itu termasuk dalam rangkaian acara majalah Cleo dimana gw jadi model terselubungnya.

Semua cewe yang telah membaca buku Twilight pasti akan tergila-gila dengan tokoh vampir ganteng bernama Edward Cullen itu. Tapi begitu nonton filmnya, reaksi yang didapat bermacam-macam. Ada yg tambah cinta, ada juga yang jadi mencaci maki.

 

Dan menurut gw sendiri film itu……

– Film cewek banget (which is gw ga suka ma film kaya ginian. Mendingan lo kasih gw drama sejarah deh daripada film cewek. Karena film cewek biasanya endingnya ketebak dan ngasih janji palsu)

– Ada beberapa adegan yang mengingatkan gw kepada videoklip dari band Harlequin (maksudnya romansa gila-gilaan gitu…)

– Karena kurang terkenalnya para pemain, ada beberapa saat gw merasa sedang nonton film di channel Lativi. Gw baru sadar klo gw lagi di bioskop pas tak kunjung datangnya iklan yg gw tunggu-tunggu.

– Si Robert Pattinson sang pemeran Edward Cullen itu ga seganteng yang dibilang orang.. Setidaknya menurut gw sih gitu….

– Alurnya terlalu cepat. Masa baru ngobrol 2-3 kali masa udah bisa jadian ajah

 

Singkatnya film ini ga ada istimewanya….. Pantesan akan terjadi begitu banyak perubahan pemain dan sutradara di sekuelnya.

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Ini film pertama dan terakhir Twilight saga yang gw tonton. Cukup sekali menyimak percintaan manusia dan vampir yang  terlalu drama dan mengawang-awang. Dulu pas New Moon muncul di bioskop, anak-anak Gadis ngajak gw ikutan nonton barengnya. Gw tolak secara halus. Nggak peduli kalau cemilan yang mereka tawarakan waktu itu cukup menarik..

-Gw sampai sekarang nggak baca buku Twilight Saga. Dan nggak akan pengen juga kayaknya.

-Tentunya gw nggak ikut Team Jacob maupun Team Edward. Gw adalah Team Tercengang-Cengan dengan kelakuan fans Twilight di seluruh dunia. Lo tahu nggak sih, di Indonesia ada mamah-mamah senagaja operasi caesar kehamilannya biar lahirnya sama kayak tanggal ulang tahun Robert Pattinson? Dan ada juga mamah-mamah Indonesia sengaja datang ke Jepang hanya demi dadah-dadah dari jauh para pemain Twilight Saga di premiernya? Menurut gw sih itu gila……

Review: The Machinist

(Repost dari blog yang lama: 12 Oktober 2008)

Category: Movies

Genre: Horror

Rate: 4 out of 5

Film ini menceritakan tentang Trevor Reznik (Christian Bale) seorang ahli mesin yg kuruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuus banget! Dia juga insomnia gitu. Nah, akhir-akhir ini dia merasa ada yang aneh dengan hidupnya, terutama ketika dia ketemu sama cowo aneh yang membuat teman kerjanya kecelakaan di tempat kerja ampe tangannya putus. Siapa sih cowok itu?

Gw salut benget dgn totalitas Christian Bale yg mengkuruskan diri sampai parah banget untuk film ini. Mengkuruskan diri itu kan lebih bahaya dari pada menggemukkan diri. Dan dia masih bisa akting dgn badan sekurus itu. Keren parah! Pengambilan gambarnya bagus dan dapet banget psikologi horornya!

 

Setelah dibac alagi sekarang:

-Film yang keren. Masih kebayang kurusnya badan Christian Bale di film ini. Alurnya juga oke.

Kamar Mandi Kantor Yang Mengerikan…

(Repost dari blog yang lama: 11 November 2008)

Alkisah di siang hari yang menyenangkan dan suasana kantor
sedang seru-seru aja, datanglah Lady Rapper a.k.a Utie menghadap gw yang
sedang asik memencet-mencet tombol telpon di meja telpon. Dia berbisik dan
berkata……

“Jangan ke kamar mandi yg di pojok ya. Tadi pas gw mau pake
selang airnya, ada tokai nempel bo! Huahahahahahahaha!” ujarnya
sambil ngeloyor pergi. Perlu diketahui Utie itu emang rada2 psycho. Jadi
utk menyampaikan berita apapun, ia akan mengakhiri kalimatnya dgn
tertawa.

Hawa jijik langsung menyerang diriku. Tanpa sadar gw memeras
gagang telpon dgn amat sangat kuat utk meredam rasa jijik yg menjalar.Gw bukan tipe orang yg gampang jijik-an. Berbeda dgn adik gw yg ga bisa nonton Animal Planet sambil makan atau ga bisa mendengar cerita-cerita jorok (jorok secara harfiah ya! Bukan joroknya Miyabi) waktu laper. Gw mah santai-santai aja klo soal begituan. Cuma pas dengar cerita Utie, gw bisa langsung ngerasa jijik karena itu adalah hal yg mungkin terjadi ke gw. Kadang cerita jorok tuh ga ngaruh ke gw, karena gw ngerasa gw ga mungkin mengalami hal-hal seperti yg diceritakan. Lah! Ini! Kamar mandi kantor gitu lho! Yg setia gw kunjungi setiap hari! Yg tak bisa gw bayangkan hidup perkantoran gw tanpa ruangan itu! Gw pipis, wudhu, mencet jerawat, dandan, ampe bergosip tuh di tempat itu!

Tapi gw berusaha tenang dan kembali ke kerjaan gw waktu itu yg
lagi ribet telpon-telponin seleb buat jadi narasumber. Dan benar saja, pas gw
dah dapat semua wawancara dari seleb melalui ngobrol di telpon, gw pun
balik ke meja gw tanpa mengingat sama sekali cerita Utie.

Namun tiba-tiba mba Eni a.k.a Bu Haji Eni datang mau shalat (tempat shalatnya emang dekat ama meja gw) dgn membawa cerita yg sama. Namun dgn versi yg lebih parah!!!!!!! Begini ceritanya…….

“Eh, tau ga! Gw tuh tadi ya pas lagi benahin voucher-voucher taxi, gw ngerasa tangan gw bau. Dan baunya tuh bau taik. Gw cium banget deh! Gw mikir kok tangan gw bau taik ya. Ga mungkin dong voucher taxi bau taik. Gw ke kamar mandilah guat nyuci tangan. Di situ gw baru ingat klo tadi gw pipis di kamar mandi yg pojok dan gw megang sleangnya. Gw liat lagi tuh selangnya, ternyata ada taik di selang!!!!!!! Iya bener! Ada taik di selang! Gw ga ngerti sapa deh tuh yg boker di kamar mandi. Mungkin anak kecil kali ya yg lagi jadi model.” cerita mba Eni dgn berapi-api! (Lantai kantor gw selain dibagi dua untuk dua redaksi majalah, juga dibagi untuk studio foto untuk seluruh majalah di media group gw. Termasuk majalah utk ibu dan anak yg sering mendatangkan anak2 kecil dan bayi-bayi lucu utk jadi model)

Tanpa ekspresi yg berapi-api aja cerita itu udah mengerikan. Makanya ketika mba Eni lagi semangat2nya menceritakan horor tersebut, Asri sempat memotong dgn cerita dgn mengatakan…

“Boleh ga mba, jangan mengulang kata ‘itu’….” ujar Asri dgn memelas tentang penyensoran kata ‘taik’ yg berulang kali disebut.

Namun mba Eni tak peduli. Ia tak rela klo orasinya melalui tahap pengeditan.

Maka reaksi gw dan anak2 kantor yg mendengar cerita itu spontan mengeluarkan suara…..”HIiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!!!”

Ada yg sambil memejamkan mata, ada yg sambil memalingkan muka tidak mau melihat muka mba Eni (emang apa salah dgn muka mba Eni ya?), dan ada juga yg kaya gw yaitu dgn meremas kerah baju gw sambil menunjukkan ekspresi ‘ko lo tega sih menceritakan hal yg mengerikan itu ke gw?’

Jadi seharian itu kamar mandi kantor kita sepi dari pengunjung. Gw dan Mia lebih memilih utk pipis di kamar mandi lantai tiga. Sampai hari ini pun setiap ada orang yg pengen ke kamar mandi, doia pasti akan menanyakan hal yg sama seolah-olah itu mantra agar ia terhindar dari hal-hal mengerikan yg mungkin terjadi di kamar mandi, “Tadi lo ke kamar mandi bersih ga?”

Di situ gw menyadari bahwa perempuan itu emang takut dgn hal-hal horor seperti hantu atau pencuri di kamar mandi. Cuma ga ada yg bisa mengalahkan kengerian dari secuil taik di selang kamar mandi………

Bahkan gw aja merinding pas menuliskan kalimat itu.

Ya 4LLi, lindungilah aku dari hal-hal mengerikan di kamar mandi….

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Sepanjang gw kerja di Gadis selama empat tahun, kejadian ini pernahterjadi dua kali.

-Gw masih suka begidik jijik mengingat kejadian itu. Jijiiiiiiiiiiiiik.

 

Review: The Eye

(Repost dari blog yang lama: 5 Agustus 2008)

 

Category: Movies

Genre: Horror

Rate: 3 out of 5

 

Lumayan lah, soalnya stick sama cerita asli. Cuma bagian hantu “Kakak… lihat rapot ku tidak?….” kayanya ga masuk akal aja klo buat Hollywood.

 

Setelah dibaca sekarang:

-Masih tetap lebih bagus versi Asia, walaupun film ini nggak jelek sama sekali sih.

-Aktingnya Jessica Alba di film ini oke.