review

Review: The Perfection

Category: Movies
Genre: Thriller
Rate: 4 out of 5

Image result for the perfection

Film dibuka dengan meninggalnya ibunda Charlotte (Allison Williams) yang telah lama sakit. Dulunya Charlotte adalah pemain cello sangat berbakat. Sayangnya ia harus mengentikan studi cellonya demi merawat ibunya yang sakit. Nah, sepeninggal ibunya, Charlotte menghubungi kembali guru cellonya, Anton (Steven Weber). Anton kemudian mengundang ia ke China menghadiri konser cello Lizzie (Logan Browning) yang juga anak didik Anton.
Seusai konser Charlotte banyak berbincang dengan Lizzie. Mereka kemudian jadi sangat akrab dalam semalam. Keesokan harinya Lizzie mengajak Charlotte untuk ikut dalam liburannya keliling China. Sayangnya semua tidak berjalan dengan semestinya….

Yang saya suka dengan film ini:
+ Ini film alurnya nggak ketebak. Banyak banget twist-nya. Sinopsis yang saya tulis di atas pun bisa jadi menyesatkan karena ceritanya nggak gitu doang pemirsah…
+ Aktingnya oke-oke. Terutama aktingnya Logan Browning
+ Pecinta thriller kayaknya nggak akan kecewa nonton film ini. Suspense dan menegangkannya dapat pas.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Ada beberapa bagian yang nggak masuk akal atau nggak runut ama cerita. Tapi nggak sampai tahap ganggu, sih.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya…

Iklan
review

Review: Arrival

Category: Movies
Genre: Drama, Sci-fi
Rate: 3 out of 5

Alkisah tiba-tiba Bumi didatangi objek misterius yang tersebar di berbagai belahan negara dari luar angkasa. Diyakini bahwa itu adalah alien. Namun maksud kedatangan mereka tidak jelas. Karena objek tersebut bergeming begitu saja. Akhirnya dipanggillah Louise Banks (Amy Adams) seorang ahli bahasa untuk mecoba berkomunikasi dengan alien tersebut. Rupanya tujuan mereka para alien itu sungguh tidak disangka-sangka.

Yang saya suka dari film ini:
+ Idenya bagus!
+ Twist-nya juga oke.
+ Suka dengan aktingnya Amy Adams sebagai Louise yang nggak ambisius tapi tekun.

Yang saya kurang suka dari film ini:
Jeremy Renner nggak istimewa di film ini
– Alurnya agak membosankan. Sepertinya film ini emang targetnya kelas festival.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya…

blog

Review: How Do You Know

Category: Movies
Genre: Romantic, Comedy
Rate: 4 out of 5

Image result for how do you know poster

Selayaknya film romantic comedy lainnya, film ini mengisahkan tentang dua orang manusia. Lisa (Reese Witherspoon) dan George (Paul Rudd). Lisa adalah mantan atlet timnas softball. Ia baru saja dirumahkan karena ia dianggap sudah terlalu tua untuk ukuran atltet. Sedangkan George adalah seorang pengusaha yang mewarisi perusahaan bapaknya. Namun ia baru saja dituntut karena penipuan saham yang tidak pernah ia lakukan.
Singkat cerita keduanya bertemu dengan keruwetan pemikiran masing-masing. Situasi dibuat tambah ngejelimet pas Lisa diajak untuk tinggal bersama dengan pacarnya yang seorang atlet timnas baseball. Padahal George suka banget dengan Lisa, namun dia lagi menunggu untuk kasusnya mereda sebelum ia berani mengajak Lisa kencan secara serius.

Yang saya suka dari film ini:
+ Kalau melihat rating IMDB, film ini skornya nggak bagus-bagus amat. Tapi saya suka banget dengan film ini. Soalnya jalan ceritanya realistis banget. Terutama tentang cewek yang galau, berusaha nyari teman, berusaha membuat apa yang ada di depan mata berhasil tanpa harus kehilangan jati dirinya.
+ Dari dulu saya nggak pernah melihat Reese Witherspoon itu cantik. Tapi di film ini ia memerankan perempuan cerdas dengan karakter kuat membuat ia terlihat memesona dan pantas diperebutkan. Jadi cewek memang harus kayak gitu!
+ Suka dengan karakter sweet-o’on-playboynya Matty (Owen Wilson) yang jadi pacarnya Lisa. Dialog akhirnya dia pun jadi mengena di hati mengingat karakternya kayak begitu.
+ Paul Rudd aktingnya oke untuk jadi cowok yang pikirannya mumet sekaligus sedang jatuh cinta. Semuanya bisa terbaca jelas dari mimik wajahnya.
+ Banyak dialog tentang kehidupan dan cinta yang oke banget!

Yang saya nggak suka dari film ini:
-Banyak adegan yang berusaha lucu, tapi nggak kena. Mungkin itulah kenapa ratingnya di IMDB nggak oke.
-Peran Jack Nicholson so-so. Nggak perlu seorang Jack Nicholson untuk peran itu juga nggak apa-apa sih sebenarnya.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya…


blog

Review: Sophie’s Choice

Category: Movies
Genre: Drama
Rate: 4 out of 5

Image result for sophie's choice movie poster

Film ini berlatar setelah perang dunia kedua, dilihat dari kacamata Stingo (Peter MacNicol). Ia adalah seorang pemuda desa yang mencoba peruntungannya untuk menjadi penulis di kota besar New York. Ia ngekost di wilayah Brooklyn. Di situlah ia bertemu dengan Sophie (Meryl Streep) dan kekasihnya Nathan (Kevin Kline). Sophie yang berdarah Polandia adalah salah satu penyintas kamp konsenstrasi Auschwitz, Austria. Sedangkan Nathan adalah seorang ahli biologi di perusahaan Pfizer.
Pasangan kekasih itu sering mengalami pasang surut. Sophie yang begitu menghamba cintanya Nathan, sedangkan Nathan suka curiga nggak jelas karena kecantikan Sophie. Meskipun begitu, mereka menjadi teman baik Stingo. Mereka berbagi banyak kisah dan merayakan banyak hal bersama-sama. Sampailah Stingo tahu sebuah kebenaran tentang Nathan. Hal itu menjelaskan segala insekuritas Nathan terhadap Sophie. Hal itu juga yang membuat Nathan bisa tiba-tiba sangat cemburu nggak jelas dengan Stingo dan mengancam akan membunuhnya. Dalam upaya mereka menghindari Nathan, Sophie kemudian menceritakan Stingo sebuah rahasia terdalamnya yang membuat ia terluka batin sampai sekarang.

Yang saya suka dari film ini:
+ Ini adalah film yang membuat Mertyl Streep mendapatkan piala Oscar pertamanya. EMANG KEREN BANGET SIH AKTINGNYA! Dia jadi cewek Polandia dengan aksen yang meyakinkan. Pada saat adegan yang membuat dia terluka batin pun kita bisa melihat kepedihan tak terperi yang mengerikan dari ekspresi wajahnya. Haduh, na’udzubillah mindzaliq deh saya berada di posisi Sophie saat itu.
+ Kevin Kline waktu muda ganteng, ya!
+ Bagian sedihnya] itu sedih bangeeet T_T. Kesedihannya relate banget dengan saya yang…. (aduh, takut spoiler)
+ Suka banget dengan warna film produksi 1980-an. Warnanya terang, hangat, dan jelas.

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Peter MacNicol kok terasa kurang pas aja di sini, ya? Muka dia itu bukan muka pemain drama. Mukanya kocak sih…
– Meskipun aktingnya Meryl Streep keren parah, tapi dia terlihat kurang cantik untuk jadi cewek yang diperebutkan semua orang. Karakternya dibangun sebagai cewek yang kecantikannya memukau. Padahal mah biasa ae…
Meryl Streep memang bukan pilihan utama sang sutrdara, sih. Pilihan lainnya ada yang lebih kece-kece emang. Tapi konon Meryl sampai berlutut mohon-mohon biar dia dapat perannya. Dan hasilnya memang nggak bohong, sih.

Saya menonton film ini di Netflix. Ini dia trailernya…

review

Review: The Guilt Trip

Category: Movies

Genre: Comedy

Rate: 3,5 out of 5

Film ini dibuka dengan Andy Brewster (Seth Rogen) sedang berusaha meyakinkan para eksekutif perusahaan besar akan produk pembersih ramah lingkungan yang ia ciptakan. Andy sudah mengatur meeting dengan banyak perusahaan untuk menjual produk ciptaannya. Ia bahkan mengatur sebuah road trip untuk bertemu dengan semua perusahaan tersebut.

Namun pertama-tama ia akan mampir ke rumah ibunya, menginap semalam, lalu memulai road tripnya dari sana. Pada saat ia menginap, ibunya (diperankan oleh Barbara Streisand) mengungkapkan sebuah rahasia hidupnya kepada Andy. Yaitu, tentang cinta lamanya yang bertepuk sebelah tangan. Andy merasa iba pada ibunya. Ia akhirnya mengajak ibunya untuk road trip bersamanya. Sambil diam-diam Andy mengatur pertemuan ibunya dengan cinta lamanya.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Ini merupakan film ringan yang ditonton tanpa mikir.

-Barbara Streisand memerankan tokoh ibu dengan apik. Ibu-ibu banget, deh.

-Ceritanya bagus. Konflik khas ibu dan anaknya juga pas.

-Twist-nya juga menarik.

-Film ini layak jadi daftar film wajib untuk Hari Ibu.

 

Yang saya tidak suka dari film ini:

-Nggak ada, sih. Semuanya oke. Oh, paling soal betapa nggak miripnya Seth Rogen untuk jadi anaknya Barbara Streisand aja.

 

Ini trailernya…

 

review

Review: The Age Of Innocence

Category: Movies

Genre: Drama

Rate: 3,5 out of 5

Film yang diangkat dari novel karangan Edith Wharton ini mengisahkan tentang pergolakan batin Newland Archer (Daniel Day-Lewis). Ia adalah seorang ‘bangsawan’ muda Amerika yang telah bertunangan dengan si cantik May Welland (Winona Ryder). Di tengah-tengah kebahagiaannya itu ia bertemu lagi dengan cinta pertamanya, Countess Ellen Olenska (Michelle Pfeiffer), yang tak lain adalah sepupunya May sendiri.

Countess Ellen Olenska telah menikah dengan seorang bangsawan berkebangsaan Polandia. Namun rumah tangganya diambang keretakan karena ketidaksetiaan suaminya. Maka dari itu Countess Ellen Olenska memutuskan untuk pulang ke New York, Amerika dan mengurus perceraiannya. Tetapi pada masa itu (tahun 1870) perempuan yang bercerai dianggap skandal yang membawa aib untuk keluarga. Maka Countess Ellen Olenska memutuskan untuk menangguhkan perceraiannya agar May, sepupu kesayangannya, tidak diterpa aib oleh keputusannya. Hal ini membawa dilema tingkat tinggi untuk Newland. Ia mencintai Countess Ellen Olenska, namun tidak dapat keluar dari kungkungan ‘nama baik’ kelas atas Amerika.

 

Yang saya suka dari film ini:

-YA ALLAH, RAHMATILAH DANIEL DAY-LEWIS UNTUK KEGANTENGAN DAN KEAPIKAN AKTINGNYA. Di film ini kita lebih banyak melihat muka Newland yang jaim, namun kita dapat melihat kesedihan dari wajahnya yang lempeng itu. Entah bagaimana saya yakin penonton perempuan akan merasa iri dengan rasa cinta Newland yang begitu besar terhadap Countess Ellen Olenska. Long live Sir Daniel Day-Lewis!

-Winona Ryder cantik bangeeeeeet. Sangat cocok dengan perannya si gadis polos nan baik hati.

-Film ini diangkat dari novel yang diterbitkan pada tahun 1920. Ceritanya agak rumit karena keruwetan menjaga image orang kelas atas zaman dulu. Meskipun begitu, kisah nelangsa dilema cinta yang dihadapi Newland ini masih relevan sampai zaman sekarang. Sedihnya hidup dalam kepura-puraan. Mencintai tapi tidak bisa memiliki. Banyak adegan yang bikin kita ikut larut dalam kesedihan secara perlahan, lalu kenelangsaan itu meledak di akhir film.

-Gambarnya bagus, digarap dengan sangat baik oleh Martin Scorsese.

-Set dan lokasinya niat!

-Kritik halus yang dipaparkan di bukunya tentang kehidupan elit kelas atas Amerika pada masa itu terjelaskan dengan baik.

-Ada beberapa adegan cinta menggebu yang berhasil bikin kita agak sesak nafas, padahal adegannya nggak vulgar.

 

Yang saya tidak suka dari film ini:

-Michelle Pfeifer kurang pas membawakan tokoh Countes Ellen Olenska yang digandrungi banyak pria. Rambutnya juga ganggu.

-Cerita jaga image zaman old ini ribet amat, yak. Jadi di tengah-tengah film agak bosan gimana gitu.

 

Ini trailernya…

 

review

Review: Stonehearst Asylum

Category: Movies

Genre: Thriller, Mystery

Rate: 4,5 out of 5

(Foto: Izin ngambil dari Amazon.com )
(Foto: Izin ngambil dari Amazon.com )

Film yang berlatar tahun 1899 ini dibuka dengan digeretnya Eliza Graves (Kate Beckinsale) ke sebuah ruang kelas di universitas Oxford. Eliza jadi contoh kasus di sebuah kelas kejiwaan untuk kuliah kedokteran. Eliza adalah perempuan yang sangat cantik namun jiwanya terguncang karena siksaan suaminya. Sehari-harinya ia dirawat di rumah sakit jiwa Stonehearst Asylum. Pada suatu hari dokter muda Edward  Newgate (Jim Sturgess) mendatangi rumah sakit jiwa tersebut. Ia mengajukan dirinya untuk menjadi dokter di sana. Ia disambut oleh dokter Silas Lamb (Ben Kingsley) sang kepala rumah sakit. Ia diajak berkeliling oleh dokter Lamb. Ia melihat Eliza Graves dan pasien-pasien lainnya. Dokter Lamb mempunyai metode penyembuhan yang tidak biasa. Ia membiarkan para pasien dan staf rumah sakit untuk membaur dan makan malam bersama. Sampailah suatu malam Edward Newgate mendapati ruang bawah tanah rumah sakit tersebut dipenuhi oleh tahanan yang tak lain adalah staf rumah sakit yang asli. Ternyata mereka dikurung oleh pasien mereka yang paling pintar, yang tak lain adalah Silas Lamb.

 

Yang gw suka dari film ini:

-Banyak twist yang nggak nyangka. Dan yang paling jedar adalah endingnya.

-Film yang bertabur bintang Inggris. Saya suka! Saya suka! *ala Meimei Upin Ipin*

-Ketegangan yang dibangunnya pas. Tanpa harus obral gambar seram.

-Film ini diangkat dari cerita Edgar Allan Poe. Jadi tambah cinta ama segala cerita dark doi.

-Kate Beckinsale jadi terlihat cuantiiik banget di film ini. Mungkin karena yang lain orang gila semua kali ya?

-Akting para figuran jadi orang gilanya juga keren-keren.

-Senang juga melihat akting Jim Sturgess di sini. I aberani keluar dari zona nyamannya sebagai ‘cowok ganteng muka baik-baik’.

 

Yang gw nggak suka dari film ini:

-Apa ya? Nggak ada.

 

Ini trailernya…