Review: The Kitchen (2019)

Cuma di The Kitchen wilayah Hell’s Kitchen dipegang sama ibu-ibu.

Film ini mengisahkan tentang tiga orang istri gangster yang di wilayah Hell’s Kitchen. Ada Kathy Brennan (Melissa McCarthy) yang keibuan dan suaminya penyayang, ada Claire (Elisabeth Moss) yang sering mengalami KDRT jadi samsak suaminya, dan ada Ruby (Tiffany Haddish) yang sering diremehkan suaminya karena ia perempuan kulit hitam.
Pada suatu hari para suami mereka tertangkap basah oleh polisi saat sedang merampok sebuah toko. Singkat cerita ketiga suami itu dijebloskan dalam penjara untuk ditahan selama beberapa tahun. Anggota gangster lainnya berjanji untuk membantu menafkahi para istri. Sayangnya uang yang diberikan terlalu sedikit. Kathy dan Ruby menghadap para gangster untuk meminta uang tambahan, eh mereka malah diremehin. Sejak saat itu mereka bertiga memutuskan untuk membentuk kelompok sendiri. Mereka meyakinkan para pengusaha kecil di lingkungan Hell’s Kitchen untuk setoran ke mereka dengan imbalan tempat usaha mereka akan aman dari gangguan apapun. Usaha mereka berhasil, tapi tentu saja para gangster tidak suka dengan tindakan mereka ini…

Yang saya suka dari film ini:
+ Melissa McCarthy itu nggak pernah fail meranin peran apapun sejauh ini. Semua orang tahu dan jadi ingat dengan Melissa berkat perannya sebagai chef baik hati, ngegemesin, namun slebor di serial Gilmore Girls. Tapi Melissa selalu berhasil keluar dari karakter apapun yang dia perankan. Sehingga semua karakter Melissa yang ia perankan rasanya nggak pernah sama. Nggak kayak Jennifer Aniston yang selalu masih ada ‘Rachel’nya di peran apapun yang ia mainkan.
+ Suka banget dengan karakter tukang pukul yang dingin yang diperankan oleh Domhnall Gleeson. Domhnall ini yang berperan jadi Bill Weasley abangnya Ron Weasley di film-film Harry Potter, lho.
+ Saya suka dengan tema feminis dan girl power dari film ini. Ada satu dialog mengesankan yang dilontarkan Kathy saat berantem dengan suaminya. Di situ diperlihatkan bagaimana insekuritas dari sebuah rumah tangga itu umumnya datang dari lelaki yang kegedean egonya.
+ Rambut dan kostumnya saya suka banget. Apalagi film ini ceritanya pas era 70-an, era fashion kesukaan saya.
+ Penulisan naskahnya bagus. Sampai banyak yang mengira kalau film ini adalah berdasarkan kisah nyata. Padahal film ini hanya adaptasi dari komik DC Vertigo

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Set dah Tiffany Haddish, akting lo jelek banget dah ah. Kayak takut banget sik keliatan muke lo jadi jelek. Sok galak lo juga jadi aneh. Serba nanggung gitu. Tiffany…Tiffany…. Jangan gitu lagi ya.
– Lu lagi Elisabeth Moss. Hadeeh 11-12 lu ye ama si Tiffany. Kalau akting temen lo jelek, ya jangan diikutin dong. Harus punya pendirian gitu jadi orang. Walau akting Elisabeth nggak sejelek Tiffany, tapi karakter Claire itu nggak pas banget buat dia. Ini maaf-maaf ya kalau ngomongin fisik, tapi di film ini dia digambarkan sebagai cewek cantik yang selalu digodain orang. Tapi…tampangnya sendiri nggak secantik itu 😦 Cantikan Tiffany kemana-mana. Elisabeth juga nggak berhasil mengeksplor karakter Claire yang dulu lemah karena jadi korban KDRT suami kemudian menjadi seorang perempuan pemberani. Transformasi nggak berasa gitu.

Rate: 3,5 out of 5
Film ini saya tonton di Netflix

Ini trailernya…

Review: The Devil All The Time (2020)

Bagaimana iman yang kebablasan justru jadi jalan masuknya syaiton.

Hmmm agak bingung menceritakan film ini karena tokohnya banyak banget. Tapi mari saya coba.

Film ini dibuka dengan menceritakan prajurit Willard Russell (Bill Skarsgård) yang baru pulang dari Perang Dunia II. Saat busnya transit, ia berkenalan dengan seorang gadis pelayan bernama Charlotte (Haley Bennett). Willard langsung jatuh cinta, tak lama mereka pun menikah dan dikaruniai seorang putera yang mereka namakan Arvin (Michael Banks Repeta). Kehidupan keluarga Willard baik-baik saja. Willard juga menanamkan nilai agama ke Arvin. Willard membangun altar gereja kecil di hutan untuk tempat keluarga mereka berdoa.


Suatu hari Charlotte jatuh sakit. Dokter mendiagnosis kalau ia terkena kanker dan tidak bisa disembuhkan. Sejak itu Willard makin rajin mengajak Arvin ke gereja di hutan untuk berdoa demi kesembuhan Charlotte. Arvin dipaksa untuk berdoa setiap hari dan sekencang-kencangnya demi ibunya. Namun saat Charlottte tidak menunjukkan tanda-tanda kesembuhan, Willard makin kehilangan akal. Ia sengaja membunuh anjing kesayangan Arvin dan mempersembahkan bangkainya ke altar gerejanya sebagai nilai tukar ‘ambil saja anjing ini, tapi jangan ambil istriku’. Tentu saja itu sia-sia. Charlotte tetap dipanggil Tuhan dan Arvin jadi tidak mau percaya lagi dengan Tuhan sejak melihat perbuatan ayahnya terhadap anjingnya. Tak perlu waktu lama akhirnya Willard juga menyusul Charlotte.

Tinggal lah Arvin kecil yang kemudian dibesarkan oleh ibunya Willard. Di sana ia tidak kurang kasih sayang karena selain neneknya, ada juga paman dan adik perempuan angkatnya yang menyayangi Arvin. Sampai Arvin dewasa (Tom Holland) ia tetap menolak untuk berdoa pada Tuhan. Maka ketika terjadi sesuatu pada keluarganya, Arvin tidak menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Ia memilih untuk melakukan tindak keadilannya sendiri.

Yang saya suka dari film ini:
+ Kisah Arvin hanyalah salah satu cerita yang ada di film ini. Ada begitu banyak tokoh lainnya yang menceritakan asal-muasal karakter. Semuanya diceritakan dengan baik, runut, mudah dimengerti, dan tuntas. Nggak ada cerita yang bolong. Kita juga ingat terus sama nama tokohnya. Padahal biasanya klo film yang tokohnya banyak, kita ingat karakternya tapi gampang lupa sama namanya.
+ Film ini bertabur bintang! Selain Tom Holland, ada Robert Pattinson, ada Mia Wasikowska, ada Jason Clarke juga. Semuanya bermain dengan optimal.
+ Tapi di antara nama-nama yang udah terkenal itu, akting Tom Holland tetap paling oke. Di film ini, dia bisa bikin kita lupa kalau dia adalah si Spiderman. Di sini kita melihat ia adalah si cowok Amerika kampung tulen. Padahal dia aslinya aktor Inggris. Canggih lah kamu, Tom!
Robert Pattinson yang aktor Inggris juga bagus sih aktingnya. Di sini ia berperan sebagai Pastor Preston yang nggak bener. Cuma aura misterius dan membunuh dia di film ini udah sering saya lihat di film Twilight yang diputar berulang kali di Trans TV. Bedanya dia di film ini nggak secakep di film Twilight aja. (Pake bedak dong biar putih dan cakep lagi kayak Edward Cullen 😛 )
+ Namun, akting yang patut diberi perhatian khusus dan diacungi jempol adalah Harry Melling yang berperan sebagai pastor Roy Laferty yang sedeng (sedeng adalah bahasa Bekasinya ‘gila’). Dan tahukah Anda bahwa Harry Melling ini adalah pemeran Dudley Dursley di film Harry Potter? Iya betul. Itu lah Harry Melling!
+Setelah dipikir-pikir, untuk film yang menceritakan kehidupan para Amerika udik ini aktornya kok banyakan non Amerika yak? Tom Holland, Robert Pattinson, Harry Melling itu orang Inggris. Mia Wasikowska orang Australia. Bill Skarsgård orang Swedia. Ya nggak apa-apa, sih. Justru salut sama akting mereka semua.
+ Film ini mampu menceritakan dengan baik bagaimana iman bisa jadi sumber kejahatan. Bagaimana iman bisa menutup logika (Willard), bagaimana iman yang kebablasan bisa jadi gila (Roy Laferty), bagaimana pencarian iman bisa jadi alasan untuk berbuat jahat (Carl Henderson yang diperankan oleh Jason Clarke), bagaimana terlalu terfokus pada iman bisa membuat manusia jadi naif (Lenora-adik angkat Arvin diperankan oleh Eliza Scanlen), bagaimana iman bisa juga jadi kedok orang untuk berbuat yang tidak bermoral (Pastor Preston).
Film ini tidak bermaksud membuat orang jadi tidak beriman, justru ia ingin mengingatkan kalau segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Beragama itu harusnya membuat Anda menjadi orang yang lebih baik, bukan malah jadi jalan masuk syaiton untuk ngebisikin hal-hal jahat. Persis seperti judul film ini: The Devil All the Time.
Pesan film ini bagus banget untuk jadi renungan.
+ Adegan kekerasan di film ini terlihat nyata banget. Warna darahnya juga bagus. Kayak asli. Sepertinya film Hollywood mulai mengadaptasi adegan kekerasan film-film Korea. Film Korea kan kalau bikin adegan kekerasan emang kayak nyata. Jadi baek-baek ya kalau nonton film Korea non drama romantis. Bisa-bisa trauma 😀
+ Set dan lokasinya oke!

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Film ini banyak adegan kekerasannya. JADI JANGAN DITONTON SAMA ANAK DI BAWAH UMUR 15 TAHUN YA.
-Bill Skarsgård kayak terjebak dengan peran yang begitu-begitu aja, deh. Kalau nggak orang depresif, ya orang jahat. Mas Bill, kamu cari karakter yang lain dong. Semangat! Aku tahu kamu bisa.
-Aksen Amerika kampung Robert Pattinson dan Bill Skarsgård agak terdengar dibuat-buat, deh menurut saya…


Saya nonton film ini di Netflix
Rate: 5 out of 5

Ini trailernya…

Review: The Report (2019)

Adam Driver itu emang serius dalam berakting, ya. Tapi sayangnya………

Film ini berdasarkan kisah nyata tentang penyusunan laporan kegiatan terlarang CIA. Alkisah seorang petugas investigasi, Daniel Jones (Adam Driver), diminta oleh Senator Dianne Feinstein (Annette Bening) untuk menelusuri pelanggaran HAM oleh CIA. Maka Daniel Jones pun membentuk tim dan membuat kantor kecil di dalam gedung CIA. Di sana ia membaca ribuan dokumen CIA yang akhirnya ia menemukan bukti bahwa biro spionase Amerika Serikat memang melakukan pelanggaran HAM. Mereka tercatat telah menyiksa para tahanan untuk mendapat informasi mengenai ancaman terorisme yang tidak pernah terbukti ada.
Namun begitu tim Daniel Jones mendapat bukti, intrik politik malah menghalangi mereka untuk mengungkap hal ini ke publik. Apa yang harus dilakukan Daniel Jones?

Yang saya suka dari film ini:
+ Adam Driver itu kalau akting emang serius, ya.
+ Banyak fakta yang baru saya ketahui mengenai pelanggaran HAM dari film ini. Lumayan nambah ilmu.
+ Dandanan Annette Bening keren banget buat jadi nenek-nenek terpelajar
+ Untuk pertama kalinya saya melihat Tim Blake Nelson berperan jadi warga negara Amerika yang normal dan pintar. Padahal dia selama ini rajin banget dapat peran polisi kampung dan selalu kelihatan o’on.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Ini film serius dan lumayan bertele-tele. Saya aja nontonnya nyicil selama beberapa hari karena di tengah-tengah film suka bosan. Ini film tipe film yang bikin mikir, sih. Jadi kalau lagi pengen nyari film buat menghilangkan stres dan rileks, sebaiknya cari film yang lain aja, ya.
– Ini film tentang politik Amerika banget. Jadi kalau nggak paham dengan kasus dan situasi politik Amerika, kita jadi nggak bisa merasakan urgensi dan pentingnya perjuangan seorang Daniel Jones.
– Make up untuk Annette Bening keliatan pas banget buat jadi nenek-nenek. Tapi begitu make up buat jadi tahanan Arab keliatan banget jenggot palsunya.
– Para tokoh tahanan Arab yang di film ini nggak pas semua. Nggak ada yang bertampang Arab beneran.
– Adam Driver itu kalau akting selalu serius dan kelihatan banget berusaha total. Sayangnya…………………………………………. mukamu itu rautnya kocak, Mas Adam. Sejauh ini saya baru nonton 4 film Adam Driver (Silence, BlacKkKlansman, Marriage Story, The Report). Semuanya saya melihat kalau Adam Driver ini serius dalam berakting. Tapi mohon maaf nih ya, Mas Adam tampangmu itu ‘kocak’ kayak orang yang mau ngelawak. Jadi begitu dia berusaha tampil jadi pribadi yang serius, yang saya lihat justru dia bertransformasi jadi sosok komedian yang lagi ngambek nggak mau banyak omong.
Doh, maaf ya kalau saya banyak komentar tentang tampang orang (macam tampang saya ganteng selangit aja. Padahal tampang saya kan cantik :P). Tapi yang namanya film itu kan visual, ya. Jadi hal-hal seperti ‘melihat kemasan luar’ ini memang berpengaruh. Setidaknya berpengaruh di saya.
– Nggak ada klimaks yang bikin puas setelah menonton film ini.

Rate: 2,5 out of 5
Saya nonton film ini di Prime Video

Ini trailernya…

Review: Late Night (2019)

Saya nggak suka dengan Mindy Kaling. Tapi harus saya akui kalau dia adalah perempuan yang cerdas.

Film ini mengisahkan tentang seorang host TV terkenal Katherine Newbury (Emma Thompson) yang masa jaya acaranya memudar. Rating acaranya menurun terus. Maka petinggi televisi memutuskan untuk segera mengganti posisinya dengan host baru yang lebih muda.
Dalam usahanya untuk menyelamatkan acaranya, Katherine yang superior dan berhati dingin pun melakukan beberapa perubahan. Salah satunya dengan memperkerjakan seorang perempuan untuk pertama kalinya di tim penulisnya. Perempuan itu adalah Molly (Mindy Kaling). Molly tidak hanya perempuan, ia juga seorang ras India, dan ia tidak punya basic kerja di dunia pertelevisian karena pekerjaan sebelumnya adalah salah satu tim pengawas di pabrik Kimia. Akankah kehadiran Molly bisa mengubah keadaan?

Yang saya suka dari film ini:
+ Ini bukan sekadar film drama komedi. Film ini punya banyak kritik sosial tentang banyak hal. Antara lain: mengenai perempuan sebagai minoritas di dunia kerja, mengenai minoritas ras, mengenai politik antar perempuan dia dunia kerja (baik tentang keirian perempuan dan cara perempuan mengalahkan lawan dengan elegan).
+ Harus saya akui kalau penulisan naskah film ini cerdas. Penulisnya tak lain dan tak bukan adalah Mindy Kaling.
+ Aktingnya Emma Thompson…. Ya Allah perempuan ini keren banget, sih! Saya sudah melihat banyak film yang dia perankan. Di semua filmnya, saya melihat ia seperti orang yang berbeda. Ia tidak punya ciri khas di tiap aktingnya. Semuanya seperti berdiri sendiri.
+ Baju-bajunya Katherine Newbury dan gaya rambutnya bagus banget siiiiih! Love ngets!
+ Ada satu dialog tentang karma yang dilontarkan oleh suaminya Katherine yang ngena di hati saya.
+ Dari film ini saya belajar kalau industri pertelevisian di Amerika sana itu pnya konflik politik yang cukup kental. Semuanya berawal dari rating.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Sejujurnya saya bukan fansnya Mindy Kaling. Entah kenapa saya melihat dia punya punya pribadi yang ‘sengak’. Tapi apalah saya, kenal sama Mindy Kaling aja kagak tapi berani menilai orang dari tampangnya.
– Ada beberapa adegan yang sok lucu, tapi nggak pas. Terlalu slapstick.

Film ini saya tonton di Netflix.
Rate: 4 out of 5

Review: Lady Bird (2017)

Anak-anak hipster pasti suka film ini.

Film ini mengisahkan tentang seorang anak SMA di kelas 12. Nama aslinya Christine McPherson, tapi maunya dipanggil dengan sebutan Lady Bird (Saoirse Ronan). Setelah lulus ia pengin melanjutkan kuliah di New York. Tapi orang tuanya nggak mampu membiayainya. Tekad Lady Bird kuat banget. Ia berusaha melobi ayahnya agar mengambil pinjaman demi bisa ‘kuliah di New York’.
Terlepas dari masalah masa depan kuliahnya, ia juga berhadapan dengan masalah anak SMA sehari-hari. Seperti pertemanan, naksir cowok, dan usaha menyamakan pemikiran dengan keluarganya sendiri. Apakah Lady Bird berhasil kuliah ke New York?

Yang saya suka dari film ini:
+ Saoirse Ronan ini memang pantas jadi aktris yang diperhitungkan. Kayaknya dia bisa memerankan tokoh apapun secara total dan setiap karakter yang dia bawakan berdiri sendiri. Dia adalah mantan aktris cilik yang mampu bertransformasi dengan baik.
+ Film ini tentang coming of age yang alur dan konfliknya lumayan nggak ketebak.
+ Suka banget dengan tokoh Lady Bird yang pede tapi anti hero. Malah bisa dibilang ini anak nyebelin juga, ya.
+ Banyak karakter yang nggak biasa di film ini. Namun justru itu yang membuat film ini terasa ‘nyata’.
+ Ada Timothée Chalamet my love! Walau karakter kamu di film ini nyebelin, tapi aku tetap padamu Timoyang (Timothée sayang)
+ Adegan-adegan berantem Lady Bird dengan ibunya itu gambaran itu nyata banyak hubungan ibu dan anak perempuannya.
+ Sense of fashion-nya Lady Bird keren-keren. Ku suka!
+ Film ini ditulis dan disutradarai oleh Greta Gerwig. Ini film kedua dia yang saya tonton setelah Little Women (yang dia tulis ulang dan sutradarai juga). Kayaknya dia suka bikin karya yang mengangkat perempuan sebagai tokoh utama yang bisa menentukan jalan hidupnya sendiri. Kalau memang betul perkiraan saya ini, maka film-film baru Greta Gerwig akan wajib saya tonton.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Film ini tipe-tipe kesukaan anak hipster yang konon ‘harus mikir’ atau ‘membaca kesan dibalik cerita’. Tapi menurut saya ini film tentang coming of age aja. Jadi kalau endingnya cuma ‘gitu doang’, ya harap maklum ajalah ya.
– Latar belakang abangnya Lady Bird nggak diceritakan dengan jelas. Padahal ku penasaran.

Film ini saya tonton di Netflix.
Rate: 4 out of 5

Ini trailernya…


Review: 12 Angry Men (1957)

Saya udah sering mendengar film ini disebut sebagai referensi ‘keren’ dari para aktor dan pecinta film. Alhamdulillah akhirnya kesampaian juga untuk nonton film ini.

Film ini mengisahkan 12 orang pria yang menjadi juri pengadilan untuk sebuah kasus pembunuhan. Sang tersangka adalah seorang anak belia yang dituduh membunuh ayahnya sendiri. Semua bukti menjurus kuat kepadanya.
Menurut aturan yang berlaku, semua juri harus mufakat dalam membuat keputusan. Awalnya para juri menganggap mereka akan mengambil keputusan yang mudah. Bahwa semua akan sepakat kalau si anak bersalah. Sayangnya ada satu orang juri yang tidak setuju. Ia meragukan si anak bersalah. Nah, di situlah perdebatan dimulai…

Yang saya suka dari film ini:
+ Film ini penulisan naskahnya bagus banget!
+ Film ini intense. Padahal isinya cuma ngomong doang. Oiya, di film ini ceritanya ruangan tempat mereka berunding itu gerah. Nah, Si Punk Rock yang ikut nonton ampe ngerasa kegerahan juga pas nonton. Kocak dah XD
+ Porsi seluruh karakter yang ada 12 orang itu jelas dan signifikan semua. Perbedaan tiap karakter juga jelas. Padahal semua karakter di film ini nggak pakai nama, lho.
+ Set dan lokasinya cuma dalam satu ruangan runding. Tapi ada begitu banyak cerita yang bisa terjadi di situ
+ Saya membayangkan mereka ini pas proses reading dan meghafalkan dialognya gimana, ya? Banyak banget omongan soalnya.
+ Meski film ini full ngomong doang dan sesekali adu bacot, tapi nggak membosankan. Malah kita ikut tegang.
+ Henry Fonda mirip banget sama Jane Fonda, ya. Ya iyalah, wong itu bapaknya!
+ Film ini produksi tahun 1957. Gambarnya masih hitam-putih. Tapi fashionnya sungguh sebuah referensi hipster masa kini.
+ Saya setuju dengan sebuah thread di Quora, bahwa film ini jadi referensi yang sangat bagus dalam mempelajari ilmu komunikasi. Terutama tentang komunikasi persuasi.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Apa ya? Nggak ada sih. Paling cuma kok bisa ikutan gerah ngeliat mereka kegerahan ya?

Genre: Drama
Rate: 5 out of 5

Ini trailernya

Review: Hereditary (2018)


Film ini menceritakan tentang sebuah keluarga yang terdiri dari ayah-Steve (Gabriel Byrne), ibu-Annie (Toni Collette), anak lelaki-Peter (Alex Wolff), anak perempuan-Charlie (Milly Shapiro). Mereka baru saja kehilangan sang nenek yang tak lain adalah ibu dari Annie. Sejak pemakaman sang nenek, Charlie beberapa kali menjumpai orang suka melihat dia dengan tersenyum-senyum. Tapi dia cuekin aja. Sementara itu Annie diam-diam berusaha ikut grup konseling untuk mengobati dukanya.

Tidak lama setelah meninggalnya sang nenek, Peter dan Charlie mengalami kecelakaan yang tragis. Peter selamat, namun Charlie tewas. Annie yang amat berduka akibat ditinggal Charlie berusaha ikut grup konseling lagi. Saat itulah Annie bertemu dengan Joan (Ann Dowd), seorang ibu yang juga kehilangan anaknya. Sejak itu ia berteman dengan Joan sembari berusaha menyelesaikan konflik tersendiri di dalam keluarganya akibat meninggalnya Charlie. Di situlah keanehan dimulai…

Yang saya suka dengan film ini:
+ Film ini horornya beda! Horornya bukan hantu, tapi berhasil dibangun kengerian yang bikin kita terkaget-kaget.
+ Film ini melejitkan nama Ari Aster sebagai penulis skenario sekaligus sutradara. Film ini membuat nama Ari Aster menerima banyak puja-puji. Setelah menonton, saya setuju dengan seluruh puja-puji itu. Kini nama Ari Aster seperti jadi label genre film horor baru.
+ Ceritanya nggak biasa dan berhasil membangun kengerian dengan tepat.
+ Akting Toni Collette udah lah ya ga usah diragukan lagi.
+ Aktingnya Alex Wolff lumayan mencuri perhatian
+ Konflik keluarga yang berduka dibangun dengan baik tanpa terburu-buru.
+ Endingnya wuaw….

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Alex Wolff kayak ketuaan nggak sih untuk jadi anak remaja?
– Ini kan ceritanya mereka kan keluarga, ya. Tapi ini sekeluarga nggak ada yang mirip. Biasanya kalau cerita tentang keluarga kan dicari aktor yang mirip-mirip tuh mukanya. Ini malah beda jauh semua. Apalagi Alex Wolff yang mukanya kayak India semi hispanik. Padahal emak-bapaknya bule. Piye toh?


Genre: Horror
Rate: 5 out of 5

Ini trailernya…

Review: The Perfection

Category: Movies
Genre: Thriller
Rate: 4 out of 5

Image result for the perfection

Film dibuka dengan meninggalnya ibunda Charlotte (Allison Williams) yang telah lama sakit. Dulunya Charlotte adalah pemain cello sangat berbakat. Sayangnya ia harus mengentikan studi cellonya demi merawat ibunya yang sakit. Nah, sepeninggal ibunya, Charlotte menghubungi kembali guru cellonya, Anton (Steven Weber). Anton kemudian mengundang ia ke China menghadiri konser cello Lizzie (Logan Browning) yang juga anak didik Anton.
Seusai konser Charlotte banyak berbincang dengan Lizzie. Mereka kemudian jadi sangat akrab dalam semalam. Keesokan harinya Lizzie mengajak Charlotte untuk ikut dalam liburannya keliling China. Sayangnya semua tidak berjalan dengan semestinya….

Yang saya suka dengan film ini:
+ Ini film alurnya nggak ketebak. Banyak banget twist-nya. Sinopsis yang saya tulis di atas pun bisa jadi menyesatkan karena ceritanya nggak gitu doang pemirsah…
+ Aktingnya oke-oke. Terutama aktingnya Logan Browning
+ Pecinta thriller kayaknya nggak akan kecewa nonton film ini. Suspense dan menegangkannya dapat pas.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Ada beberapa bagian yang nggak masuk akal atau nggak runut ama cerita. Tapi nggak sampai tahap ganggu, sih.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya…

Review: Arrival

Category: Movies
Genre: Drama, Sci-fi
Rate: 3 out of 5

Alkisah tiba-tiba Bumi didatangi objek misterius yang tersebar di berbagai belahan negara dari luar angkasa. Diyakini bahwa itu adalah alien. Namun maksud kedatangan mereka tidak jelas. Karena objek tersebut bergeming begitu saja. Akhirnya dipanggillah Louise Banks (Amy Adams) seorang ahli bahasa untuk mecoba berkomunikasi dengan alien tersebut. Rupanya tujuan mereka para alien itu sungguh tidak disangka-sangka.

Yang saya suka dari film ini:
+ Idenya bagus!
+ Twist-nya juga oke.
+ Suka dengan aktingnya Amy Adams sebagai Louise yang nggak ambisius tapi tekun.

Yang saya kurang suka dari film ini:
Jeremy Renner nggak istimewa di film ini
– Alurnya agak membosankan. Sepertinya film ini emang targetnya kelas festival.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya…

Review: How Do You Know

Category: Movies
Genre: Romantic, Comedy
Rate: 4 out of 5

Image result for how do you know poster

Selayaknya film romantic comedy lainnya, film ini mengisahkan tentang dua orang manusia. Lisa (Reese Witherspoon) dan George (Paul Rudd). Lisa adalah mantan atlet timnas softball. Ia baru saja dirumahkan karena ia dianggap sudah terlalu tua untuk ukuran atltet. Sedangkan George adalah seorang pengusaha yang mewarisi perusahaan bapaknya. Namun ia baru saja dituntut karena penipuan saham yang tidak pernah ia lakukan.
Singkat cerita keduanya bertemu dengan keruwetan pemikiran masing-masing. Situasi dibuat tambah ngejelimet pas Lisa diajak untuk tinggal bersama dengan pacarnya yang seorang atlet timnas baseball. Padahal George suka banget dengan Lisa, namun dia lagi menunggu untuk kasusnya mereda sebelum ia berani mengajak Lisa kencan secara serius.

Yang saya suka dari film ini:
+ Kalau melihat rating IMDB, film ini skornya nggak bagus-bagus amat. Tapi saya suka banget dengan film ini. Soalnya jalan ceritanya realistis banget. Terutama tentang cewek yang galau, berusaha nyari teman, berusaha membuat apa yang ada di depan mata berhasil tanpa harus kehilangan jati dirinya.
+ Dari dulu saya nggak pernah melihat Reese Witherspoon itu cantik. Tapi di film ini ia memerankan perempuan cerdas dengan karakter kuat membuat ia terlihat memesona dan pantas diperebutkan. Jadi cewek memang harus kayak gitu!
+ Suka dengan karakter sweet-o’on-playboynya Matty (Owen Wilson) yang jadi pacarnya Lisa. Dialog akhirnya dia pun jadi mengena di hati mengingat karakternya kayak begitu.
+ Paul Rudd aktingnya oke untuk jadi cowok yang pikirannya mumet sekaligus sedang jatuh cinta. Semuanya bisa terbaca jelas dari mimik wajahnya.
+ Banyak dialog tentang kehidupan dan cinta yang oke banget!

Yang saya nggak suka dari film ini:
-Banyak adegan yang berusaha lucu, tapi nggak kena. Mungkin itulah kenapa ratingnya di IMDB nggak oke.
-Peran Jack Nicholson so-so. Nggak perlu seorang Jack Nicholson untuk peran itu juga nggak apa-apa sih sebenarnya.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya…