blog

Kadaluarsa Pertemanan

Photo by Eric Nopanen on Unsplash

Umur saya sudah 35 tahun dan saya akhirnya bisa ikhlas menerima lapang dada bahwa teman-teman saya memang semakin sedikit.

Teman yang dulu akrab dan diajak ngobrol setiap hari, sekarang hanya sesekali aja.
Teman yang dulu akrab di dunia nyata, kini hanya sebatas sesekali menyapa di dunia maya.
Teman yang dulu tempat curhat, kini diingat untuk kerjaan semata.
Teman yang dulu berisik banget di grup chat, sekarang segan saling berkomentar.
Teman yang dulu saya anggap sebagai mentor, malah sekarang ketahuan belangnya. Sampai akhirnya saya merasa lebih baik memutus kontak saja.

Apa yang terjadi? Di mana salahnya?

Nggak ada yang salah, sih. Life happens. Kami terpisahkan jarak. Terpisahkan waktu. Masing-masing punya kehidupan baru sampai lupa sama yang terdahulu.
Begitu teringat dengan keakraban yang dulu, tiba-tiba pengen menghubungi rasanya malu.
Saling berasumsi kalau kita sibuk, mengobrol sebentar via telepon akan dianggap menyita waktu.
Tiba-tiba menghubungi teman lama malah dikira ada maunya. Padahal hanya ingin menanyakan kabar semata.
Bagi pertemanan lawan jenis yang sudah berkeluarga, menghubungi tanpa ada maksud apa-apa hanya akan menuai curiga dari pasangannya.

Semakin tua, pertemanan akan semakin rumit. Ketulusan pertemanan jadi langka. Karena kini semuanya terasa transaksional. Ngobrol dengan teman lama rasanya jadi percuma kalau ‘lo nggak bisa kasih gue apa-apa’ (entah itu materi, koneksi, atau secuil ilmu).

Kalau Anda kira bahwa media sosial akan mempermudah kontak dengan teman lama, ternyata itu tidak sepenuhnya benar. Kehidupan baik yang mereka tampilkan akan membuat Anda segan menghubungi. Media sosial membuat Anda rendah diri untuk ‘berteman’ dengan dia yang sedang berada di puncak kehidupan. Media sosial membuat Anda jadi membandingkan diri, ujung-ujungnya iri.
Sedangkan jika teman Anda di media sosialnya terlihat dalam masa kehidupan yang buruk, Anda pun jadi segan untuk menghubungi. Karena takut rasa peduli yang Anda miliki akan disalahartikan sebagai kepo (ingin ikut campur).
Di situlah saya merasa media sosial adalah media yang tidak tepat untuk mempertahankan pertemanan.

Lalu apa yang bisa kita lakukan agar hal itu tidak terjadi?
Kayaknya sih nggak ada. Karena ini adalah salah satu fase dalam hidup. Kehidupan melakukan seleksi alam terhadap lingkaran pertemanan kita.
Jadi yang bisa kita lakukan hanya ikhlas menerima. Dulu saya sudah pernah mencoba melawan takdir tersebut dengan memaksakan ‘keakraban’ karena saya tidak rela kehilangan teman. Akhirnya yang saya dapat malah kekecewaan. Jadi ya sudah, ikhlaskan saja. Anggap saja pertemanan Anda dengan dia sudah habis masa berlakunya. Kadaluarsa.

Tapi nggak usah sedih lama-lama. Dalam proses ikhlas itu hidup juga mengantarkan kembali ke teman-teman yang memang berarti untuk Anda. Itu saya rasakan sendiri. Lingkaran pertemanan saya diperkecil oleh kehidupan. Namun lingkaran kecil ini tidak perlu diragukan lagi ketulusannya.

Di lingkaran kecil ini, saya masih bebas jadi diri sendiri. Manusia-manusia di dalamnya bisa membuat saya tidak pernah menua. Kami semua ‘bocah’ yang lepas berbicara tanpa perlu dianggap orang gila.
Di lingkaran kecil ini, kami tidak saling kontak setiap hari. Tapi akan selalu ada kapanpun jika dibutuhkan.
Di lingkaran kecil ini, orang-orangnya adalah yang berani menegur jika ada yang berbuat salah tanpa perlu takut dijauhi.
Di lingkaran kecil ini, kami tidak keberatan jika dihubungi hanya saat sedang susah. Karena justru di situlah kami merasa saling berguna. Bukan perkara bisa dapat apa, melainkan bisa memberi apa.

Jadi jika nanti lingkaran pertemanan Anda terus mengecil, ya sudah ikhlaskan saja. Karena mereka hanya manusia yang telah habis masa berlakunya untuk terlibat di kehidupan kita.

blog

Waktu Masak Miyeok-guk.

Waktu itu saya coba masak sup rumput laut Korea atau yang biasa disebut dengan Miyeok-guk.

Miyeok-guk buatan saya

Si Punk Rock mencoba. Reaksi pertama dia, “Amis…”.

“Masa, sih?” kata saya. Memang agak bau air laut sih dari rumput lautnya. Mungkin bagi beberapa orang bau laut itu kayak amis.

Tapi Si Punk Rock nggak menjawab apa-apa lagi. Dia teruskan makan sampai semangkok penuh yang saya hidangkan buat dia habis.

Setelah dia makan, Si Punk Rock berkata, “Kamu memang kayaknya dulu itu terlahir sebagai kucing. Sukanya yang amis-amis. Sushi lah, tuna kaleng lah, sekarang sup bau amis.”

“Emang amis banget, ya? Aku sih nggak ngerasa amis…”

“Makanya kamu kayak kucing”.

“Tapi kok kamu makannya abis?”

“Because I love you”.

“Alah…Padahal terpaksa karena nggak ada makanan lain, tuh”.

“Nggak. Because I love you,” katanya mempertegas ucapan sebelumnya.

Yes, I know. And thank you for keep on loving me. Sebagai gantinya, mulai sekarang saya nggak akan masak Miyeok-guk lagi. Kenapa? Because I love you too, Si Punk Rock.

blog

Perjalanan, Bukan Pengorbanan

Kemarin dengar ceramah pengajian ibu-ibu via toa masjid. Si ibu-ibu penceramahnya bilang…

“Yang namanya hidup harus berkorban. Kayak kita jadi ibu, kita berkorban tenaga dan waktu, sampai lupa urus diri, lupa dandan.

Begitu anak udah gede dan bisa urus diri sendiri, kita mau dandan eh udah peyot. Mau didandanin kayak gimana juga, tetap aja peyotnya keliatan. Ya itulah namanya berkorban.”

Bener juga sih…

Saya akhir-akhir ini belanja skin care lebih banyak dari biasanya. Biasanya malas maskeran, sekarang tiap mampir toko kosmetik, pasti nenteng satu sheet mask.

Lagi trend micellar water, beli!

Lagi banyak review bagus soal face mist, beli!

Dari dulu saya memang suka kosmetik sih, tapi dulu nggak kesetanan kayak sekarang.

Kalau dipikir-pikir, ya kayaknya saya “kurang menerima” penuaan yang terlihat jelas dari muka saya.

Dulu nggak punya kantung mata, sekarang nempel terus tuh kantong kayak daki.

Dulu pake cukup pake satu pelembab udah keliatan seger. Sekarang sebelum keluar rumah minimal harus pakai empat macam krim (essence-serum-moisturizer-sunblock).

Dulu pakai lipstik dan eyeliner doang ke kondangan udah manglingi banget. Sekarang pake full make up pake belajar contouring segala, hasilnya malah bikin orang pangling yang nggak ngenalin “Krili, what happen to your face?”

THIS IS MAKE UP, MADER FADER!

Tapi ya, emang umur bertambah. Metabolisme, stamina, pola makan, pola tidur, pola pikir, pola hidup semua berubah. Sejak punya anak, tanpa sadar saya jadi orang yang pertama kali bangun sekaligus yang tidur paling akhir di rumah. Saya lebih banyak memperhatikan muka anak saya ketimbang melihat wajah sendiri kaca. Tubuh pun menua.

Inilah yang dimaksud oleh ibu-ibu penceramah itu. Pengorbanan.

Tapi saya teringat omongan Ari Sihasale ketika ditanya gimana rasanya harus berkorban demi cinta?—–>berhubungan dengan kisah asmaranya dengan Nia Zulkarnaen.

Jawaban dia: jangan berkorban. Lakuin aja, jangan dirasa sebagai pengorbanan.

Intinya dia nggak menghitung pengorbanannya. Dia lakuin semuanya dengan ikhlas, akhirnya si pegorbanan itu rasanya jadi sebuah perjalanan aja.

Seperti saya yang sedang sebuah perjalanan atau petualangan dalam membesarkan anak dengan baik. Ini pengorbanan perjalanan. Dalam perjalanan ini saya menua. Kulit wajah saya tidak akan kembali muda. Tapi nggak apa-apa. Karena memang saya sudah melewati masa muda saya. Sekarang saatnya mempersiapkan anak saya untuk menjalani masa mudanya dengan baik.

blog

Aragorn Bernyanyi

Nonton Lord Of The Rings: The Return of King untuk kesekian kalinya di tivi.

Sesaat Aragorn dilantik jadi raja Gondor, ia pun bernyanyi di hadapan rakyatnya.

Saya: Tuh sayang, pas Aragorn jadi raja, dia langsung nyanyi. Kamu tahu nggak kenapa dia langsung nyanyi begitu?

Si Punk Rock: Kenapa emangnya?

Saya: Karena dia raja dangdut.

Si Punk Rock: *mau ketawa tapi ditahan karena gengsi*

blog

Nonton Guns N’ Roses Nggak?

Minggu lalu Si Punk Rock ditawarin tiket konser Guns N’ Roses (GnR) gratis dari kantornya. 

“Anak-anak kantor aku dapat tiket gratis GnR, nih. Kamu mau nonton nggak?”

“Sama kamu atau nggak?”

“Iya, sama aku.”

“………………………………….. Terus Kriby siapa yang jagain?”

“Hm…. Iya juga, ya. Ya udah ntar aku tanyain orang kantor lagi, deh.”

Sepekan berlalu. Tau-tau udah tanggal 8 November aja, yang tak lain dan tak bukan adalah hari H konser GnR. Kami benar-benar lupa soal konser itu. Jatah tiket gratis kami pun udah dikasih ke teman kantor Si Punk Rock yang lainnya. Ya udahlah….

Begitu buka medsos agak iri-iri-takut ga update-merasa ditinggal oleh khalayak ramai-gimana gitu pas lihat banyak orang yang posting soal GnR. Ya udahlah, kami emang pada dasarnya nggak pengen, buktinya aja kami bisa lupa soal tanggal main konsernya. Kalau beneran suka GnR mah pasti ga akan lupa dong.

Taro handphone. Lupakan crowd GnR itu. Lebih baik saya kembali ke crowd yang ini…

My kind of crowd(ed bed)

Si Punk Rock jadi bisa pulang lebih cepat karena teman-teman kantornya nggak cerewet minta revisi ini-itu karena pada ke konser GnR. Kami jadi bisa leha-leha nemenin si Kriby nonton Zootopia untuk ke-735247 kalinya. 

Yah namanya juga udah punya anak, yekan.
Punya anak tuh nggak bikin lo ketinggalan trend / hype, kok. Tapi lo jadi lebih bisa memerioritaskan hal-hal yang lebih penting.
Lo nggak sepenuhnya berubah. Tapi iya sih lo jadi banyak berkompromi.
Karena lo jadi sadar apapun yang lo kejar di luar sana nggak sepadan dengan ngorbanin anak lo.

 

Yoklah kita saksikan GnR menyanyikan Sweet Child O’ Mine via Youtube aja. Siyap digoyaaang? O A O EEEE…

 

blog

KDRT (Ku Dengar Ribut Tetangga)

Kemarin gw dengar tetangga gw berantem sama suaminya. Dia teriak-teriak, ada bunyi bak-buk, lalu nangis.

Pas dia keluar kontrakan sambil nangis, gw teriakin, “Mbak, kamu dipukulin?”

“Nggak”, sambil nangis ngeloyor pergi.

“Kalau dipukulin bilang saya, ya! Biar kita lapor polisi.”

Lalu suaminya keluar terus bilang, “Lapor aja! Sembarangan kalau ngomong”.

“Jangan sembarangan pukulin anak orang juga dong!”

Gw lalu diskusi ama Si Punk Rock: perlukah kita lapor RT?

Jawabannya: perlu.
Karena ini bukan pertama kalinya kita melihat suaminya bertindak kayak begitu. Meski nggak sering, tapi tetap aja ini bukan pertama kalinya. Dicurigai akan berulang.

Malamnya kami pun lapor RT. Sang RT berterima kasih kami mau ngelapor karena itu termasuk udah mengganggu lingkungan.
Gw dan Si Punk Rock bukan permasalahin gangguan suaranya, melainkan kefatalan tindakan si suami kalau nggak ada yang negur. Apalagi dia bertindak kayak begitu di depan anak-anaknya.

Malamnya gw tidur dengan nggak nyenyak. Jujur gw takut kalau tindakan ngelapor ke RT itu akan bikin si suami makin marah. Dia seperti memang temperamen. Gw takut kalau dia bakal ikutan marah ama gw dan berniat jahat ama keluarga gw.

Tapi kalo gw diemin keluarganya dipukulin begitu kok gw nggak tega ya…

Kalau gw membiarkan, gw juga akan ikut dosa membiarkan orang lain teraniaya nggak sih?
Kalau gw di posisi itu, gw akan berharap akan ada orang yang ikut membantu agar keadaan lebih baik, ya nggak sih?

Bismillah deh… Gw hanya niat membantu biar nggak ada orang yang teraniaya lagi.

 

review

Review: The Ritual

Category: Movies

Genre: Horror

Rate: 4 out of 5

Film ini dibuka tentang 5 sekawan Luke (Rafe Spall), Phil (Arsher Ali), Hutch (Robert James-Colier), Dome (Sam Troughton), dan Robert (Paul Reid) yang sedang nongkrong di bar. Mereka sedang mendiskusikan destinasi liburan selanjutnya yang akan mereka tuju. Sepulang dari bar Robert dan Luke mampir ke toko minuman. Siapa sangka toko itu sedang dirampok, Robert tewas karena dibacok sedangkan Luke selamat karena bersembunyi. Diam-diam kejadian itu memberikan luka batin yang mendalam untuk Luke.

Enam bulan kemudian mereka akhirnya berangkat liburan hiking di pegunungan di Swedia. Geng yang tinggal 4 sekawan itu melangsungkan upacara khusus untuk mengenang Robert. Di tengah perjalanan, kaki Dom terkilir sehinggai tidak dapat berjalan cepat. Mereka kemudian memutuskan untuk memotong jalan dengan melewati hutan di pegunungan tersebut. Siapa sangka kalau begitu mereka menjejakkan kaki di hutan tersebut mereka telah diikuti oleh sebuah makhluk misterius yang mengancam keselamatan mereka semua.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Jalan cerita dan konfliknya realistis

-Caranya membangun keseramannya pas. Pelan tapi pasti.

-Aktingnya pada oke semua! Terutama aktingnya Robert James-Collier. Sumpah di film ini gw nggak nyangka kalau dia itu si tokoh pelayan gay di serial Downton Abbey!

-Set dan propertinya oke.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Beberapa adegan dan scoring yang membangun aura seramnya semacam template film horor Asia. Tapi emang film horor Asia berhasil bikin standar baru sih di industri film Hollywood.

-Setelah nonton film ini, kesan saya terhadap alam dan negara Swedia agak berubah. Ternyata Swedia bisa serem juga. Saya pikir kehidupan di Swedia selalu seindah IKEA, hahaha…

 

Film ini produksi Netflix dan hanya tayang di Netflix.

 

Ini trailernya…