Teman

Pada suatu hari Minggu, saya ngecek media sosial via handphone saya. Lalu ada sebuah postingan teman yang membuat saya sedikit terhenyak. Teman saya, sebut saja dia Wadiman, pergi ke rumah teman saya, sebut saja dia Karsih, tanpa mengajak saya!

“Kenapa juga harus ngajak-ngajak lo sih, Dis?” tanya para pembaca yang budiman.

Karena pada awalnya Wadiman yang menginisiasi acara tersebut dan meminta saya ikut. Tapi karena waktu itu kita masing-masing sibuk dengan berbagai tetek-bengek, maka waktu dan tanggal pasti untuk berkunjung ke rumah Karsihnya masih to be confirmed.

Ya sudah, saya leha-leha ajalah dengan segala urusan emak-emak di rumah lengkap dengan mengenakan baju daster bau bawang ini. Eeeh tahu-tahu si Wadiman udah pergi aja ke rumah Karsih tanpa ngajak-ngajak eike! Slompret! Hiyaaaaaaaaaaaarrrrgh——> ceritanya berubah jadi manusia super saiya karena marah. Atau mungkin berubah jadi manusia super saiya biar baju daster bau bawang ini hancur-lebur aja. Abis udah bosan sih pake baju daster yang itu terus.

Tidak dipungkiri saya merasakan kesedihan yang mendalam. Persis kayak kesedihannya Nasar

Melihat perubahan air muka yang tadinya memesona menjadi layu, Si Punk Rock pun bertanya, “Kamu kenapa?”

Saya ceritakanlah bahwasanya si Wadiman pergi ke rumah Karsih tanpa ngajak-ngajak saya.

“Baguslah. Biarin aja dia pergi. Nggak usah ajak-ajak istri aqoh,” ujar Si Punk Rock dengan bercanda.

Tapi karena saya lagi tidak mood bercanda, tanpa sadar saya pun membalas omongannya dengan nada ketus, “Aku tuh sejak nikah dan punya anak makin nggak punya teman!”

JLEB! Ternyata kalimat barusan menyinggung Si Punk Rock. Si Punk Rock itu yah, tampang boleh macho, rambut boleh ngepunk jigrak berdiri kayak sapu ditempelin di kepala, tapi sebenarnya perasaannya haluuus banget. Sehalus rambut cewek-cewek iklan shampo.

Sadar akan omongan saya yang menyinggung, saya pun segera minta maaf. Tapi Si Punk Rock makin ngambek. Dia senderan di tiang dengan muka manyun. Terus saya berusaha membuat dia tersenyum dengan main cilukba sambil nyanyi-nyanyi. Eh tunggu dulu………….. Bukan begitu kejadian sebenarnya. Yang saya jabarkan barusan itu adalah adegan-adegan di film India yang nempel di otak saya karena keabsurditasannya yang akut.

Yang sebenarnya terjadi adalah saya segera minta maaf, Si Punk Rock memaafkan namun masih bete. Begitu betenya mereda, kami membahas bersama-sama permasalahan tadi (berantem alama-lama ama Si Punk Rock itu nggak enak tahu. Beneran, deh!)

Menurut Si Punk Rock, dia tersinggung karena kalimat yang saya lontarkan tadi seolah-olah saya tidak mensyukuri telah menikah dan punya anak bersama dirinya. Seolah-olah saya menyalahkan dirinya karena kehilangan teman. Si Punk Rock juga mengatakan bahwa ia pun mengalami hal yang hampir sama. Namun ia sudah tahu risiko tersebut saat ia memantapkan hati untuk menikah.

Saya tidak menyalahkan pemikiran Si Punk Rock yang begitu, sih. Kalau pembaca yang budiman mendengar nada ketus saya saat itu, saya yakin Anda akan mempunyai pemikiran yang sama dengan Si Punk Rock.

Namun yang sebenarnya ada dalam pemikiran saya adalah begini, setelah menjadi istri dan ibu, tanpa sadar lingkungan pertemanan saya mengecil. Kalau jadi istri itu saya tidak boleh lagi hang out bersama teman-teman sampai malam. Karena saya harus berada di rumah sebelum suami saya sampai rumah. Mungkin Anda tidak sepaham akan hal ini, namun saya setuju dengan pemikiran tersebut.

Nah setelah menjadi ibu, lingkaran pertemanannya lagi-lagi mengerucut. Karena saya tidak bisa berpergian tanpa membawa anak saya. Saya mengurus anak saya sendiri tanpa bantuan pengasuh dan tinggal berjauhan dengan orang tua. Jadi anak saya hanya punya saya. Tidak bisa dititipkan ke orang lain. Kalaupun saya punya pengasuh atau punya orang terpercaya untuk saya titipkan, akan aneh dan buruk rasanya kalau kita terlalu sering berpergian hanya semata agar tidak ketinggalan berita dalam lingkungan pertemanan.

Itu faktor dari diri kami para ibu, belum lagi dari faktor teman-teman kami sendiri. Setelah punya anak, teman-teman saya jadi sadar sendiri untuk tidak mengajak saya berpergian terlalu sering. Mungkin mereka berpikir bahwa kasihan saya akan kelelahan menjaga anak pada saat nongkrong atau mungkin juga mereka malas melihat kerempongan saya mengejar-ngejar Kriby yang lagi senang bereksplorasi. Kalaupun Kriby bisa diam, percakapan yang terjadi antara saya dan teman-teman saya akan diselingi banyak interupsi untuk meladeni ocehan atau keinginan Kriby.

Dan saya juga akui bahwa semenjak jadi ibu, banyak ajakan pertemuan yang batal mendadak. Apalagi kalau bukan perkara anak.

Ibu bisa berencana, anak yang menentukan.

Saya pernah membatalkan ajakan nonton premier film Hollywood karena hujan melanda rumah saya dua jam sebelum acara. Hal ini masuk akal saya adalah ibu-ibu pengguna ojek online, maka menerabas hujan yang saat itu rintik-rintik namun awet adalah sama aja dengan memanggil demam untuk Kriby.

“Kenapa nggak naik taksi aja, Dis?” tanya para pembaca yang budiman lagi.

Karena Jakarta kalau hujan itu macet. Saya nggak yakin akan sampai tepat waktu kalau menggunakan taksi.

Bukan hanya saya lho yang mengalami hal serupa. Teman saya pernah membatalkan liburan keluarganya ke Bali di hari keberangkatan karena anaknya tiba-tiba demam.

Hal-hal seperti itulah yang membuat lingkaran pertemanan kami para ibu semakin hari semakin kecil. Hal ini juga mungkin dialami oleh para ayah. Namun berhubung para ayah itu tiap hari bekerja di luar rumah dan bertemu lebih banyak orang daripada para ibu yang di rumah, MUNGKIN para ayah tidak terlalu menyadari rasa sedihnya pertemanan yang terkikis.

Meskipun apa yang saya ucapkan ke Si Punk Rock itu tidak dapat dibenarkan, namun saya tidak memungkiri bahwa kehilangan teman ini membuat saya gundah. Mungkin inilah yang dikatakan cobaan artis yang tidak lagi dikenal publik. Mungkin inilah yang dirasakan Nikita Mirzani ketika tampangnya udah nggak ada lagi di TV. Makanya ia terus membuat sensasi agar TV terus menyorot dirinya. Sempat juga saya terpikir untuk membuat sensasi serupa. Tapi entah kenapa saya yakin kalau saya buat sensasi yang serupa saya malah dilaporin ke kantor polisi. Kenapa kalau Nikita Mirzani yang bikin sensasi malah dilaporin ke TV?? Aaaaah dunia hanya adil kepada perempuan yang berdada kencang dan besar!!!!

Namun telebih dari semua itu, saya kemudian menyadari bahwa mungkin inilah yang disebut ujian ikhlas. Saya harus ikhlas membesarkan dan mendahulukan anak saya. Imbalannya adalah surga lho buebu………..dan mungkin juga lipstik seharga setengah juta dari suami *uhuk uhuk* Bukan berarti bahwa selama ini saya nggak ikhlas dalam membesarkan anak saya, lho. Saya hanya merasa kaget bahwa ketika menjadi ibu itu akan begitu banyak perubahan yang terjadi bahkan di hal-hal yang kami tidak sangka-sangka. Salah satunya di dalam hal pertemanan ini.

Tapi mungkin juga ini bukan ujian ikhlas. Melainkan adalah cara Tuhan sedang menyeleksi teman-teman sejati yang benar-benar baik untuk saya. Dan saya memang sudah melihat hasil pemilahan Si Bos Besar ini oke-oke punya. Saya jadi tahu…

teman-teman yang mana yang benar-benar perhatian di saat saya susah dan senang,

teman-teman yang selalu ada dan mau mendengarkan,

teman-teman yang bisa menjaga rahasia,

teman-teman yang bisa diajak berbagi pandangan-diskusi tanpa tersinggungan,

teman-teman yang begitu membaca keanehan di postingan media sosial saya langsung japri menanyakan maksud dari postingan tersebut (karena dia tidak mau menerka-nerka sendiri dan kemudian jadi fitnah),

teman-teman yang terus mendukung dan percaya akan kemampuan saya bahkan di saat saya nggak pede,

teman-teman yang selalu berkata jujur walaupun itu menyakitkan (I still can not believe that Wentworth Miller is gay! T__T)

teman-teman yang bisa tanpa ada apa-apa nanyain kabar aja hanya karena ia merindukan saya (saya orangnya memang ngangenin sih, kayak Kangen Band—–huweek)

Saya jadi sadar bahwa dalam hal pertemanan itu, it’s not about the quantity, but it’s about the quality.

Terima kasih ya teman karena sudah menjadi teman (beneran) saya.

Inilah saya dengan teman-teman sejati saya. Saya yang itu. Yang ituuuuu. Itu tuh. Masa nggak kelihatan sih. Yeee yang itu. Itu beneran saya tahu!
Inilah saya dengan teman-teman sejati saya.
Saya yang itu. Yang ituuuuu. Itu tuh. Masa nggak kelihatan sih. Yeee yang itu. Itu beneran saya tahu!

 

Tita

Beberapa minggu yang lalu gw keingetan ama teman SMP gw, namanya Tita.
Anaknya baik, riang, kurus, alisnya cuma segaris tipis tapi tegas dan bagus. Dia benci sih ama alisnya. Tapi menurut gw alisnya seperti Twiggy versi nggak terlalu tinggi.

Gw ingat dia punya adik perempuan yang waktu itu masih SD. Adiknya tahu kalau dia naksir sama cowo di dekat rumah mereka. Adiknya jadi suka lewat depan rumah cowo itu hanya semata-mata pengen melihat ‘gebetannya si kakak’. Eeeh cowo itu malah jadi rajin nyapa dan ngobrol ama adiknya. Tita cerita itu dengan sebal banget, tapi diam-diam gw menganggap cerita dia lucu.

Gw pernah satu grup seni musik ama Tita. Kami akan diambil penilaian untuk main suling. Tita grogi dan dia latihan terus di kelas demi dapat nilai bagus. Pas udah giliran grup kami ‘mentas’, tahu-tahu adalah anak yang gw nggak ingat lagi namanya siapa pokoknya dia berisik dan suka maksa, dia mau ikutan grup kita. Soalnya dia nggak diterima di grup mana pun. Pak guru kesenian yang waktu itu melihat grup kami udah kebanyakan orang pun membelah grup kami demi si berisik dan tukang maksa itu bisa bergabung.
Alhasil kekompakan grup hasila latihan kami selama beberapa hari pecah. Tita salah satu yang dapat nilai lebih rendah dari targetnya. Nggak berapa lama setelah ‘mentas’, gw lihat Tita nangis di bangkunya. Gw juga sebel dan sedih. Tapi gw diam aja, nggak tahu harus bagaimana.

Setelah masa sekolah, gw hilang kontak ama Tita. Tahu-tahu di suatu sore pas gw pulang kuliah, gw dipertemukan lagi sama Tita di angkot. Kami ngobrol, bertanya kabar, blablabla sampai gw harus turun karena sudah sampai di tujuan gw. “Daaah, Tita!” kata gw. Gw bilang begitu seperti tidak akan merasa kehilangan apa pun. Seperti bukan perpisahan yang besar. Tanpa gw tahu kalau itu benar-benar kali terakhirnya gw melihat Tita.

Barusan gw buka Facebook, ada postingan di antara teman-teman SMP gw yang mengucapkan belasungkawa atas kepergian Tita. Gw nggak tahu penyebab meninggalnya kenapa. Yang pasti gw shock.

Beberapa minggu lalu gw keingetan dia tapi gw nggak berbuat apa-apa buat kontak dia. Teman macam apa gw ini?
Ternyata tanpa sadar gw ini terlalu ketergantungan dengan teknologi sebagai penghubung komunikasi gw dengan orang-orang yang jauh. Gw selalu berpikir, ‘they are not that far. They are just one click away.’ Karena jarak mereka sesederhana sebuah klik, gw jadinya nggak pernah meng-klik-klik untuk cari tahu. Kesederhanaan dalam sebuah komunikasi membuat gw jadi meremehkan pentingnya dari komunikasi tersebut. Teman macam apa gw ini?

Gw kini kembali jadi Adis si anak SMP yang sedih dan sebal tapi diam aja karena nggak tahu harus gimana. Adis yang nggak tahu harus gimana menjawab pertanyaan: teman macam apa gw ini?

View on Path

Aku Mah Apa Atuh, Cuma Duit Receh

Jadi ceritanya kan gw n Si Punk Rock lagi mau membiasakan diri nabung buat Kriby. Nabungnya uang kecil dan receh-receh doang sih. (Tapi beneran deh, uang receh itu kalau dikumpulin sekian bulan hasilnya mayan juga.)

Nah, kebetulan udah masuk masa panen tabungan Kriby nih. Gw hitungin uang receh-receh ini, gw tumpuk-tumpuk sesuai jumlah tertentu, terus gw solatipin tiap tumpukan dengan maksud supaya memudahkan si teller bank.

Pergilah gw ke bank. Nunggu giliran sampai akhirnya dipanggil.
Gw: Mba, saya setor uang receh ya. Ini untuk rekening tabungan anak saya *sodorin buku rekening tabungan khusus anak-anak*

Teller: *mukanya mengerut* Berapa banyak?

Gw: 302 ribu

Teller: Bukan, recehannya berapa banyak? *masih dengan muka nggak enak*

Gw: Ha? Nggak tahu pasti sih. Soalnya itu jumlah campur sama uang kertasnya juga.

Teller: Udah disolatip?

Gw: Udah.

Teller pun menghitung uang-uang receh gw tanpa senyum. Sampai transaksi setor gw selesai pun dia nggak ada senyum-senyumnya ama gw.

Aku sedih. Gw tahu sih para teller bank itu pasti capek ngitungin uang orang lain tiap hari. Tapi…tapi kan gw udah rapihin duitnya biar mereka nggak ngeluarin banyak tenaga ngitungin duit receh gw. Aku hanya ingin lihat kamu tersenyum mba….
Tapi aku mah apa atuh. Cuma uang receh…

View on Path

Suami Selingkuh? Jihad!

Sedih deh, malam-malam begini dapat kabar tetangga kontrakan gw mau pindah. Yang bikin sedih itu alasan kepindahannya: dia ngegepin suaminya selingkuh. Cewek perusak rumah tangganya udah dia datangin baik-baik malah nyolot balik. “Terserah. Yang pasti saya akan tetap jalanin hubungan ini,” ujar si cewek nggak tau diri itu.

Tetangga gw itu ibu yang baik, istri yang sabar banget. Padahal satu wisma kontrakan ini udah curiga lama kalau suaminya nggak beres. Dan kami sering melihat dia sedih nungguin suaminya nggak pulang-pulang di depan kontrakan.

Sebagai tetangga yang baik gw pun mengajak dia ngobrol…
Gw: Kamu mau pindah ke mana?

Dia: Ke daerah Parung. Ngedeketin rumah mamaku.

Gw: Kapan kamu pindahnya?

Dia: Tanggal 16 mungkin.

Gw: Ya udah, nanti sebelum kamu berangkat aku akan bantuin kamu potongin baju-baju suamimu.

Dia: Lho? Kenapa gitu mba?

Gw: Ya biar dia nggak punya baju buat jalan lagi ama cewek itu.

Dia: Aku sih tadi niatnya mau bawain semua bajunya terus aku bakar.

Gw: Nggak usaaaah! Ngapain kamu capek-capek bawain semua baju dia, terus ngeluarin duit buat beli minyak, terus kamu panas-panasan lagi pas bebakaran. Ih ogah banget!
Mending kamu ikutin cara aku. Kamu potongin semua baju-bajunya sampe kolor-kolornya, terus kamu lipat rapi di lemari seperti sediakala. Jadi pas suamimu mau berangkat kerja atau mau ketemu cewek itu, baru lah dia sadar kalau bajunya udah compeng semua.

Dia: Hmmm, gitu ya mba. Oke deh.

Moral:
-Bantulah tetanggamu yang sedang kesusahan.
-Merusak properti suami peselingkuh itu jihad.

View on Path

2015 in review

Alhamdulillaaaaah!

Senang juga lihat ini. Jadi semakin semangat nulis.

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 39.000 kali di 2015. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 14 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Soto Kangen Mama

Dari siang uring-uringan.
Badan kayaknya nggak enak.
Malas makan.
Akhirnya timbul selera makan, tapi entah kenapa hanya mau makan soto ayam resep Mama.
Bela-belain bikin walau Kriby jadi kebangun karena bunyi blender (nidurinnya susah lagi deh. Hadeeeuh…).
Begitu matang, disantap, badan langsung jadi enakan.
Sepertinya saya kangen Mama.

NB: Kriby ternyata doyan makan soto saya. Hore! ūüĎź

View on Path

Ulang Tahun Icha Yang Berkesan

Ini teman gw, namanya Clarissa. Biasa dipanggil Icha.

Ini Icha. Cewek berdarah Manado-Chinese.
Ini Icha. Cewek berdarah Manado-Chinese.

Pada tanggal 23 Juli 2015, Icha berulang tahun yang ke-30. Beberapa minggu sebelumnya, Icha Whatsapp gw nanya soal balon hurup dan angka yang pengen dia beli untuk perayaan ulang tahunnya. Dari ngobrolin balon sampailah kita pada obrolan konsep ulang tahun Icha yang beda dan baru gw ketahui. Yaitu merayakan ulang tahun di panti jompo. Eits, ini bukan sembarang panti jompo, lho. Ini adalah Panti Jompo Waluya Sejati Abadi yang dikhususkan untuk mantan tahanan politik (tapol). Emang ada ya panti jompo khusus untuk eks tapol? Naaaah, lo pada juga baru tahu kan?

Icha cerita awal mula ia kepikiran untuk merayakan di panti jompo eks tapol ini adalah karena gundah gulana. Menjelang ulang tahunnya yang ke-30, Icha galau akut. Dia merasa kok hidup dia begini amat, jomblo (walau nggak ada yang salah dengan muka dan kelakuannya), pengen liburan, tapi bokek.

Terus gw pikir. Yaelah braging amat. Share sama orang lain aja lah.

Begitu kata Icha ke gw via Whatsapp.

Awalnya Icha kepikiran mau jamming gitu di sebuah panti. Tahu-tahu ia menemukan panti jompo eks tapol ini. Ia pun coba survey ke tempatnya yang beralamat di Gang Kramat V No. 1 C, Jakarta Pusat itu. Sampai di sana ia mengaku mau nangis.

Gw umur 30 ngeluh mulu. Lah mereka, hidupnya direnggut dan mereka masih hidup sampai uzur.

Begitu pengakuan Icha ke gw masih via Whatsapp.

Gw pun jadi penasaran. Gw penasaran dengan panti jomponya, gw penasaran dengan para manula di sana, dan gw pengen hadir di ultah Icha yang tidak biasa ini.

Maka pada hari Sabtu, 25 Juli 2015 pukul 11 (undangannya jam 10 pagi, tapi gw datang telat hehe) gw hadir di ulang tahun Icha dengan memboyong Kriby. (Si Punk Rock tadinya mau ikut, tapi doi harus ngurus pajak motor di galaksi lain alias Bekasi.) Di sana gw lebih banyak mendengar sambil mengamati. Gw pengen ngobrol banyak sama mereka, tapi agak riweuh karena gw harus megangin Kriby yang lagi hobi merambat dan geser kanan-iri di sofa. Kesan pertama adalah mereka itu udah tua-tua ya (ya iyalah! Namanya juga panti jompo!) Tapi setelah ngobrol, mereka itu ternyata masih sehat-sehat dan ingatannya kuat-kuat. Gw ceritain sambil kasih unjuk foto-fotonya aja yak.

 

Yang pakai baju putih itu Papanya Icha. Beliau bukan penghuni panti. Tapi beliau adalah yang paling bersemangat ngobrol dengan para penghuni panti. Soalnya tahun-tahun dimana para penghuni panti itu ditangkap-tangkapin, Papanya Icha baru aja lulus SMA dan suka ngeliat panser lewat-lewat ngangkutin orang-orang yang kemudian diketahui sebagai tapol.  Nah kakek yang disebelah kiri itu sedang menceritakan pengalamannya ditahan kepada Papanya Icha. Ia ditahan semata-mata pada saat Soekarno tumbang, ia masih lantang menyatakan diri sebagai pembela Soekarno.
Yang pakai baju putih itu Papanya Icha. Beliau bukan penghuni panti. Tapi beliau adalah yang paling bersemangat ngobrol dengan para penghuni panti. Soalnya tahun-tahun dimana para penghuni panti itu ditangkap-tangkapin, Papanya Icha baru aja lulus SMA dan suka ngeliat panser lewat-lewat ngangkutin banyak orang yang kemudian diketahui sebagai tapol.
Nah kakek yang disebelah kiri itu sedang menceritakan pengalamannya ditahan kepada Papanya Icha. Ia ditahan semata-mata pada saat Soekarno tumbang, ia masih lantang menyatakan diri sebagai pembela Soekarno.

 

“Dia ini mbek (kambing). Makan sayurnya banyak,” ujar nenek berkacamata sebelah kiri sambil becanda ke teman sebelahnya. Nenek berkacamata itu dulunya wartawan, lho. Ia ditahan karena dia semata-mata pernah ngikutin Soebandrio ke Sumatera untuk liputan. Nenek berkacamata ini dengan lantang menceritakan pembebasan dirinya dan sebagian besar tahanan politik lainnya lantaran Soeharto butuh modal pembangunan. Sehingga mengharuskan ia berutang ke Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI) yakni lembaga pemodal asing bentukan Amerika Serikat. Ketua yang menjabat pada masa itu, Jan P Pronk (berkebangsaan Belanda) akan memberikan bantuan dana ke Indonesia dengan syarat adanya pembebasan tahanan politik. Kejadiannya tahun 1970-an. Di situlah akhirnya sebagian besar tahanan politik dibebaskan. “Jadi bapak-bapak dan ibu-ibu ini dibebaskan justru oleh orang Belanda ya?” tanya Papanya Icha. “Bukan. Kami dibebaskan oleh utang,” jawab nenek berkacamata.

 

"Kami ditangkap pas masih ABG (17-18 tahun). Keluar tahanan udah STW (setengah tuwa)" kata nenek berbaju oranye sambil terkekeh kepada Papanya Icha.  Ia menceritakan kalau banyak dari mereka ditangkap karena alasan sepele. Ia banyak mengenal eks tahanan politik yang ditangkap hanya karena kedapatan masih berkeliaran pada saat jam malam.
“Kami ditangkap pas masih ABG (17-18 tahun). Keluar tahanan udah STW (setengah tuwa)” kata nenek berbaju oranye sambil terkekeh kepada Papanya Icha. Nenek itu ditahan selama 14 tahun.
Ia menceritakan kalau banyak dari mereka ditangkap karena alasan sepele. Ia banyak mengenal eks tahanan politik yang ditangkap hanya karena kedapatan masih berkeliaran pada saat jam malam.

 

Ini masakan Mamanya Icha untuk acara ini. Masakannya enak, lho. Beneran! Nah, apakah Ichanya bisa masak juga? Ah sudahlah, jangan dibahas. Jangan bikin Icha galau lagi...
Ini masakan Mamanya Icha untuk acara ini. Masakannya enak, lho. Beneran!
Nah, apakah Ichanya bisa masak juga? Ah sudahlah, jangan dibahas. Jangan bikin Icha galau lagi…

 

Meskipun mereka tinggal di panti, namun mereka mengurus semuanya sendiri. Tidak ada tenaga bantuan sama sekali.  Makanya mereka jadi suka bagi tugas. Seperti nenek yang sebelah kiri itu tugasnya adalah ke pasar, ke warung, dan ke apotik untuk beli obat. Soalnya dia yang jalannya paling cepat. "Dia jalannya cepat banget, ngalahin becak," kata teman di sampingnya. O iya, nenek mantan wartawati yang lagi mangku Kriby cerita kalau dulu waktu ia masuk tahanan, ia ninggalin anaknya yang baru berumur 4 tahun. Pas dia udah dibebasin, dia sengaja hidup menyendiri nggak bareng keluarganya lagi. "Nanti kalau orang tahu tentang saya (eks tahanan politik), anak saya nggak bisa sekolah dan nggak bisa kerja," jelasnya.
Meskipun mereka tinggal di panti, namun mereka mengurus semuanya sendiri. Tidak ada tenaga bantuan sama sekali.
Makanya mereka jadi suka bagi tugas. Seperti nenek yang sebelah kiri itu tugasnya adalah ke pasar, ke warung, dan ke apotik untuk beli obat. Soalnya dia yang jalannya paling cepat. “Dia jalannya cepat, melebihi becak,” kata teman di sampingnya.
O iya, nenek mantan wartawati yang lagi mangku Kriby cerita kalau dulu waktu ia masuk tahanan, ia ninggalin anaknya yang baru berumur 4 tahun. Pas dia udah dibebasin, dia sengaja hidup menyendiri nggak bareng keluarganya lagi. “Nanti kalau orang tahu tentang saya (eks tahanan politik), anak saya nggak bisa sekolah dan nggak bisa kerja,” jelasnya.

 

Ini Icha  sang birthday girl lagi nyuci piring.  Icha sengaja nyuciin semua piring yang ada, walau dilarang sama para penghuni panti. Tapi Icha keukeuh. Soalnya Icha nggak mau para penghuni panti yang jadi nyuciin semua piring bekas perayaan ulang tahunnya.  Iya, semua kegiatan di panti ini dikerjakan sendiri oleh para penghuni panti. Dari beberes rumah, sampai masak dilakuakn oleh mereka sendiri. Jadi ini seperti kos-kosan yang penghuninya kakek-kakek dan nenek-nenek semua. Masih mau ngeluh tentang ART lo yang mudik Lebarannya kelamaan?
Ini Icha sang birthday girl lagi nyuci piring.
Icha sengaja nyuciin semua piring yang ada, walau dilarang sama para penghuni panti. Tapi Icha keukeuh. Soalnya Icha nggak mau para penghuni panti yang jadi nyuciin semua piring bekas perayaan ulang tahunnya.
Iya, semua kegiatan di panti ini dikerjakan sendiri oleh para penghuni panti. Dari beberes rumah, sampai masak dilakukan oleh mereka sendiri. Jadi panti ini lebih seperti kos-kosan yang penghuninya kakek-kakek dan nenek-nenek semua.
Masih mau ngeluh tentang ART lo yang mudik Lebarannya kelamaan?

 

Ini Alva, Kriby, dan gw lagi mencoba wefie, tapi gagal. Namun kalau kalian perhatikan, dibelakang itu adalah plakat peresmian panti jompo ini oleh Gus Dur. Jujur gw bukan pengagum Gus Dur ya, tapi gw selalu salut dengan kebesaran hati dalam hal kemanusiaan. Mungkin karena Gus Dur itu tidak bisa melihat, makanya dia sellau melihat dengan hati.
Ini Alva, Kriby, dan gw lagi mencoba wefie, tapi gagal. Namun kalau kalian perhatikan, dibelakang itu adalah plakat peresmian panti jompo ini oleh Gus Dur.
Jujur gw bukan pengagum Gus Dur ya, tapi gw selalu salut dengan kebesaran hati dalam hal kemanusiaan. Mungkin karena Gus Dur itu tidak bisa melihat, makanya dia selalu melihat dengan hati.

 

Ini 'rundown' acara kegiatan para penghuni panti setiap harinya.
Ini ‘rundown’ acara kegiatan para penghuni panti setiap harinya.

 

Ini 'hall of fame' para penghuni panti yang pernah dan masih tinggal di situ.  Panti ini bisa menampung sekitar 15 orang. Namun ada yang masih bolak-balik ke keluarganya, jadi nggak melulu stay di situ.  Meskipun keadaan pantinya begitu doang, tapi yang mau masuk situ waiting list, lho.
Ini ‘hall of fame’ para penghuni panti yang pernah dan masih tinggal di situ.
Panti ini bisa menampung sekitar 15 orang. Namun ada yang masih bolak-balik ke keluarganya, jadi nggak melulu tinggal di situ.
Meskipun keadaan pantinya begitu doang, tapi yang mau masuk situ waiting list, lho.

 

Sebelum gw pulang, kami foto bersama lagi dengan seluruh teman Icha yang hadir. Sebenaranya icha mengundang lebih banyak temannya untuk datang. Sayangnya sebagian dari mereka menyatakan 'takut' untuk hadir karena punya kerabat di militer dan kepolisian. Mereka takut kehadiran mereka akan menimbulkan dampak yang tidak diinginkan kepada keluarganya. Nggak apa-apa kok. Sangat dimengerti. Karena itulah perasaan para penghuni panti yang memilih untuk menjauhi keluarganya dengan alasan yang sama.
Sebelum gw pulang, kami foto bersama lagi dengan seluruh teman Icha yang hadir. Sebenaranya Icha mengundang lebih banyak temannya untuk datang. Sayangnya sebagian dari mereka menyatakan ‘takut’ untuk hadir karena punya kerabat di militer dan kepolisian. Mereka takut kehadiran mereka akan menimbulkan dampak yang tidak diinginkan kepada keluarganya. Nggak apa-apa kok. Sangat dimengerti. Karena itulah perasaan para penghuni panti yang memilih untuk menjauhi keluarganya dengan alasan yang sama.

Hikmah yang gw dapat dari ulang tahun Icha: bersyukurlah! Ingat-ingat aja kalimat yang diulang 31 kali di surat Ar-Rahman: Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

365 Tulisan 2014 #137: Bukan Tamagochi

Tadi gw ke pengobatan urut lagi buat kontrol tangan yang keseleo. Pas nunggu giliran diurut, gw denger tangisan anak bayi kenceng banget. Dari cara dan suara tangisnya, gw yakin banget anak bayi itu lagi kesakitan karena diurut. Gw sampe nggak tega dengarnya ūüė¶

Sampailah giliran gw untuk diurut lagi. Ternyata yang urut gw dan si bayi tadi adalah orang yang sama, yaitu Kak Eroh.
Kak Eroh: Gw abis ngurut bayi nih… *dengan muka agak sedih*

Gw: Bayi yang tadi nangis kejer ya kak? Kenapa sih dia?

Kak Eroh: Dia dari lahir kakinya bengkok ke dalam.

Gw: Kok bisa?

Kak Eroh: Katanya waktu hamil pernah jatoh. Yah namanya ibu-ibu muda ya kaaan… Ya gitu deh…

Gw: Laah gw ibu muda. Sama-sama baru punya anak satu kan?

Kak Eroh: Yeee bukan gitu. Maksudnya dia itu jadi ibu masih di umur yang muda. Coba gw tanya, umur lo berapa?

Gw: 30.

Kak Eroh: Yeeee lo mah masuknya ibu tua! Ibu yang tadi umurnya masih 20.

Gw: Dih, kok gitu?

Kak Eroh: Ya iyalah, umur lo udah banyak. Pengetahuan lo udah luas. Lah emak-emak yang tadi, masa anaknya baru dua bulan udah dikasih makan pisang! Dan mereka itu tinggal di Senen. Tadi mereka ke sini naik motor, tapi masa anaknya nggak dibedong. Ya masuk angin tuh anak.

FYI anak bayi yang baru lahir sampe 6 bulan hanya boleh minum susu, entah ASI atau susu formula.

Emang bener kata BKKBN, perempuan itu sebaiknya mulai punya anak itu pas umur 25 ke atas. Karena biasanya umur segitu lo udah siap, seenggaknya tahu lo harus apain anak lo atau tahu cari info yang benar mengenai tumbuh kembang anak lo.

Soalnya anak lo itu bukan Tamagochi yang kalau mati bisa lo hidupin lagi. Anak lo ya manusia beneran. Jadi perlakukanlah dengan baik dan benar.

Sok bener banget gw yak? Padahal si bayi gw biarin nangis demi nyelesaiin tulisan segini panjang. Yah maklumlah emak-emak muda di era digital.

View on Path

365 Tulisan 2014 #111: Pudarnya Sang Peduli

Kemarin adik gw, si Agam, dan pacarnya, Hanum, main ke kontrakan gw. Sepertinya mereka kangen ama gw, maklumlah gw kan emang orangnya ngangenin.

Berhubung sejak menikah gw jadi jarang ketemu sama kedua makhluk itu, maka sekalinya ketemu perbincangan yang mengalir banyak banget. Mulai dari kerjaan masing-masing, kehamilan gw, gosipin artis yang ngehe, ngebahas PSSI yang nggak beres, sampai kejadian sehari-hari yang mereka ataupun teman mereka alami.

Dari semua keseruan obrolan kami itu, ada satu topik yang bikin gw miris. Semua berawal dari cerita Agam tentang salah satu rekan kerja perempuannya, sebut saja namanya Mawar. Alkisah Mawar baru pulang kerja mengisi voice over untuk program tivi Sport 7 yang Agam pegang. Kosan Mawar letaknya samping gedung Trans TV di Tendean. Saat itu sudah pukul 3-4 pagi. Mawar melewati gang menuju kosannya dengan santai. Selama ini gang itu selalu aman. Namun tidak untuk pagi buta itu…. Singkat cerita Mawar dirampok, namun ia melawan. Ia dibanting-banting ke tembok sambil terus berteriak minta tolong. Muka Mawar sudah berdarah-darah, namun ia tetap bertekad mempertahankan tasnya. Memang di dalam tas itu ada handphone, duit yang jumlahnya lumayan karena ia baru ambil di ATM, dan lain-lain. Namun yang paling bikin Mawar bertekad untuk tidak menyerahkan tasnya adalah adanya paspor ibunya di dalam tas tersebut. Ibunya dalam waktu dekat akan berangkat umroh, tanpa paspor itu ibunya Mawar tidak akan bisa melihat Tanah Suci.

Ketika sang rampok berusaha lari menggunakan motornya dan meninggalkan Mawar yang sudah gontai nan¬†lebam-lebam, Mawar melakukan usaha terakhirnya dengan menghadang motor sang perampok sambil berkata, “lo boleh ambil semuanya, tapi gw cuma minta paspor nyokap gw buat berangkat umroh.”

Mungkin karena tidak tega atau sebel dengan kegigihan si Mawar, sang perampok pun membuang tas Mawar dan menghalau Mawar dari hadapannya lalu kabur naik motornya. Kasian ya Mawar… Tapi yang bikin gw miris dengan cerita ini adalah bagian akhirnya yang akan gw ceritakan sekarang.

Setelah sang perampok pergi, Mawar bertemu dengan tukang bubur ayam yang lewat di situ. Si tukang bubur ayam menanyakan apa yang terjadi pada Mawar? Ketika Mawar cerita kalau ia baru saja hampir dirampok, inilah jawaban sang tukang bubur ayam…

“Oooh, yang dari tadi teriak minta tolong itu neng ya? Saya denger sih, tapi saya kira neng lagi berantem sama pacarnya.”

Astagfirullahaladziiim…….

Kok bisa ya ada orang nggak peduli sama teriakan minta tolong orang lain? Kalau pun si Mawar berantem sama pacarnya, dia kan sampai teriak minta tolong. Artinya memang suatu kejadian parah tengah dialami dirinya dong, makanya dia sampai teriak minta tolong. Kalau itu kejadian sama anaknya tukang bubur gimana? Dia akan tetap diem aja kalau anaknya dipukulin sama pacarnya? Dan ini si Mawar dirampok gitu!

Gw sedih banget sama apa yang dilakukan si tukang bubur. Gw yakin dia bukanlah tipe tukang bubur yang akan naik haji kayak yang sering diceritakan di sinetron itu.

Hal ini membuat gw ingat sama kejadian meninggalnya seorang ibu hamil di kos-kosannya. Jadi beberapa bulan yang lalu gw nonton berita tentang seorang ibu hamil ditemukan meninggal membusuk di kos-kosannya. Sepertinya si ibu hamil yang sebatang kara itu melahirkan prematur di kos-kosannya yang akhirnya merengut nyawanya. Ketika ditemukan, sang bayi yang ia lahirkan ari-arinya masih nempel di pusarnya. Sang bayi juga ikut tewas bersama ibunya. Ibu hamil itu baru ditemukan lima hari setelah kematiannya. Itu juga setelah yang punya kosan mencium bau busuk yang datang dari kamarnya. Beritanya bisa lo pada baca di sini.

Berita itu bukan hanya gw baca di media online, tapi gw tonton juga di tivi. Gw ingat, waktu itu gw nonton di acara berita siangnya Global TV. Di situ diperlihatkanlah kondisi kos-kosan sang ibu hamil yang berada di gang sempit dan rapat. Biasanya warga yang bermukim di tempat seperti itu saling tahu (atau setidaknya saling membicarakan) satu sama lain. Sehingga tingkat keponya tinggi. Namun pertanyaan yang diajukan oleh narator acara berita itu sama dengan yang ada di benak gw, kok bisa warga situ nggak tahu ada seorang ibu hamil lagi berusaha melahirkan dan sampai meninggal di sana?

Salah satu ibu-ibu warga di situ sempat diwawancara oleh Global TV, ia ditanya apakah mereka semua beneran tidak tahu kalau selama ini perempuan tersebut hamil? Padahal warga situ tahu kalau ia tidak punya suami. Jawaban si ibu adalah mereka sebenarnya tahu, karena melihat perutnya membuncit. Tapi karena perempuan itu tidak bersuami, maka mereka enggan bertanya.

Lagi-lagi gw miris….

Ini bukan hanya karena pada saat menulis ini gw lagi dalam kondisi hamil tua, tapi gw tercengang-cengang dengan ketidakpedulian orang jaman sekarang. Sepertinya penduduk Jakarta yang metropolitan ini sudah terlalu mengamini paham ‘bukan urusan gw’. Karena memang salah satu ciri masyarakat metropolitan adalah individualistis. Jadi selama lo nggak ganggu gw, maka gw nggak akan ganggu lo. Mungkin untuk beberapa hal itu bagus untuk diterapkan, tapi kita sepertinya lupa kalau kita semua menjadi individualistis maka kita akan jadi orang yang kesepian ditengah gemerlapnya ibu kota ini. Karena nggak ada yang mau berurusan dengan masalah yang kita hadapi. Padahal di saat kita dihadang masalah yang kita butuhkan itu pertolongan, atau minimal seorang teman.

Ini artinya¬†keramahan orang Indonesia semakin memudar di Jakarta…

Gw, sebagai orang Libra, memang jauh lebih peduli terhadap orang lain ketimbang diri gw sendiri. Nggak jarang orang mungkin diam-diam merasa perhatian yang gw kasih ke mereka dianggap lebay, ganggu, atau bahkan palsu. Si Punk Rock aja pernah mengeluhkan alias agak cemburu dengan kepedulian gw yang dia anggap terlalu terhadap teman-teman gw yang kebetulan berkelamin lelaki. Tapi lo pernah nggak merasa bahwa di saat lo putus, lo tuh pengen curhat sampe air mata dan ingus lo kering? Atau pas kerjaan lo lagi ngehe banget, lo tuh pengen dipukpuk sama orang yang peduli sama lo? Atau pas keluarga lo ketimpa musibah, lo tuh cuma pengen ada teman lo hadir di situ semata-mata biar ada teman ngobrol doang?

Gw sih pernah kayak gitu. Rasanya tuh nggak enak banget ketika menghadapinya sendiri. Makanya gw berusaha tidak membiarkan orang-orang yang gw sayangi menjalani masa nggak enak itu sendiri. Meskipun kadang orang itu nggak pengen gw terlibat, tapi seenggaknya gw udah bertanya tentang keadaannya. Biar dia tahu kalau ‘I know something wrong happened to you. Kalau mau cerita ke gw, monggo’. Yang penting mereka nggak merasa sendiri aja.

Mulai sekarang, maukah lo untuk lebih peduli?

365 Tulisan 2014 #48: Sebelum Besok Nyoblos, Marilah Kita…

Geng…

Ini adalah satu hari sebelum kita nyoblos buat milih anggota legislatif Republik Indonesia tercinta. Setelah besok, akan ada anggota legislatif baru (maupun yang terpilih kembali) yang akan menjabat, dan akan ada pula yang stres karena kalah.

Malam ini, mungkin terlalu cepat gw mengatakannya, tapi gw udah stres duluan sodara-sodara.

Gw bukan caleg. Gw juga nggak punya kepercayaan diri menaruh foto tampang gw di baliho segede gaban dengan janji-janji manis. Walau banyak yang bilang tampang gw manis sih. Tapi bukan itu inti permasalahannya!

Tolong fokus dong geng. Gw stres nih…

Gw stres karena gw nggak tahu harus nulis apa.

Oleh karena itu ada baiknya sebelum besok nyoblos ini, marilah kita isi polling berikut…