Review: The Call (2020)

Penyuka film butterfly effect pasti suka banget sama film The Call ini.

Film ini dibuka dengan Seo Yeon (Park Shin Hye) yang pulang ke rumah masa kecilnya di pedesaan. Ia pulang dengan enggan, tapi terpaksa karena ibunya sakit keras dan sedang dirawat di rumah sakit.
Diperjalanan pulang, handphone-nya Seo Yeon ketinggalan di kereta. Saat ia berusaha melacak keberadaan handphone-nya pakai telepon rumah, ia malah menerima telepon dari seorang perempuan yang meminta pertolongannya karena disiksa ibunya. Ternyata perempuan itu adalah Young Sook (Jong Seo Jun). Young Sook adalah penghuni rumahnya pada tahun 1999. Young Sook menelpon dari tahun 1999 dan diangkat oleh Seo Yeon di tahun 2018. Rupanya melalui telepon rumah itu, Seo Yeon dan Young Sook dapat berkomunikasi lintas waktu ke sesama penghuni rumah tersebut meski di zaman waktu yang berbeda.
Seo Yeon dan Young Sook akhirnya menjadi teman telepon lintas zaman. Mengetahui ayah Seo Yeon meninggal dunia karena kebakaran waktu Seo Yeon kecil, Young Sook berinisiatif untuk mengubah hal itu. Young Sook di masa lalu mencoba menyelinap dari kungkungan ibu tirinya dan berusaha mencegah kebakaran yang menelan jiwa ayah Seo Yeon pada tahun 1999.
Usaha Young Sook berhasil! Kini giliran Seo Yeon untuk membantu mengubah nasib Young Sook. Namun ketika Seo Yeon berhasil menyelamatkan nasib Young Sook, kenapa hidup Seo Yeon di masa kini malah memburuk? Apakah mengubah masa lalu adalah langkah yang tepat?

Yang saya suka dari film ini:
+ Cerita dan alur film ini bagus! Sangat mudah dipahami.
+ Aktingnya Jong Seo Jun ciamik!
+ Set dan lokasinya kereeeen! Ini orang propertinya canggih sih bisa ngubah satu rumah jadi beberapa zaman dan kondisi.
+ Alurnya lumayan nggak ketebak.
+ Banyak karakter pemeran pembantu yang dieksplor secara maksimal.
+ Efek CGI perpindahan zamannya bagus! Halus dan rapi.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Banyak adegan berantem kabur dari orang jahat yang klise. Serasa pengen komen ‘Yaelah, masih aja lu begitu…’
– Akting Park Shin Hye template cewek cantik di film horor/thriller. Tiap ketakutan atau panik terlihat cantik dan kayaknya nggak pengen kelihatan jelek.
– Kostum dan make up untuk era akhir 90-an kurang pas. Malah kayak nggak ada bedanya sama zaman sekarang.
– Itu rambutnya Young Sook ganggu parah. Makanya mukanya pada jerawatan kan jadinya. Hadeeeeuh. Gatel banget pengen balurin Mud Mask Jafra ke muka doi. Kalau butuh Jafra, kontak saya, ya!
– Di Netflix film ini dikategorikan sebagai ‘scary’. Tapi menurut saya nggak scary ah. Menagangkan sih iya. Tapi nggak menakutkan.
– Film ini banyak adegan kekerasan yang sadis, ya. Jadi jangan ditonton sama anak di bawah 15 tahun, ya.

Rate: 4 out of 5
Film ini saya tonton di Netflix

Ini trailernya…

Review: Parasite

Category: Movies
Genre: Dark Comedy, Thriller
Rate: 4,5 out of 5

Related image

Jarang jarang nih saya bela-belain nonton film Korea di bioskop. Biasanya nunggu streamingan aja. Eh…… Nggak juga deng. Lebih tepatnya saya jarang nonton film Korea. Tapi begitu denger film ini menang Palm d’Or dari Cannes Film Festival, jadi semangat deh buat nonton.

Film ini dibuka dengan memperlihatkan kemiskinan keluarga Ki Taek (Kang-Ho Song). Ia adalah suami sekaligus ayah dari dua anak yang sudah beranjak dewasa. Mereka tinggal di rumah sempit dalam gang sempit pula. Saking miskinnya, beli paket internet aja nggak mampu. Mereka selalu numpang wifi gratisan dari tetangga.
Sampailah suatu ketika teman anak lelakinya datang ke rumah. Ia menawarkan anak lelakinya, Ki-Woo (Woo-sik Choi), menjadi guru les pengganti anak keluarga kaya karena dia harus melanjutkan sekolah.
Maka berangkatlah Ki-Woo ke rumah keluarga kaya itu menjadi guru les. Dari hari pertama Ki-Woo mengajar, ia bisa melihat peluang untuk mensejahterakan keluarganya dengan cara menyingkirkan beberapa pekerja di rumah kaya itu. Rencana Ki-Woo berjalan mulus. Tanpa ia sadari bahwa rumah mewah itu menyimpan sebuah rahasia…

Yang saya suka dari film ini:
+ JALAN CERITANYA BAGUS!
+ Banyak twist yang cukup mengejutkan
+ Pesan tentang kesenjangan antara si kaya dan si miskin bikin kita mikir begitu keluar dari bioskop
+ Entah kenapa dialog pembahasan tentang hujan di mobil itu bikin saya sedih jleb
+ Aktingnya oke-oke pisanlah!
+ Memang referensi film Korea saya nggak banyak. Tapi baru di film ini doang saya bisa melihat orang Korea yang miskin. Abis selama ini saya pikir semua orang Korea itu mulus, putih, hidupnya cool-cool aja, tahu-tahu ada cowok kaya tapi sombong yang naksir sama kita—–>iya, ini saya ambil dari plot drama Korea
+ Set dan lokasinya oke banget. Apalagi set di rumah orang tajirnya
+ Banyak dialog yang oke dan menghidupkan cerita
+ Suka banget suara ngebass Sun-kyun Lee yang memerankan si bapak orang kaya. Jangan sampai dia jadi voice over iklannya KFC, ya. Soalnya mendengar suaranya aja ku sudah berselera (apaan sik!)
+ Banyak adegan yang bikin deg-degan gregetan. Padahal bukan pas adegan sadis juga sih.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Adegan sadisnya itu, lho……. Jangan ditonton sama anak-anak, ya! Film Korea itu kalau bikin adegan sadis itu beneran ampun, deh….
– Ini sebenarnya film komedi. Tapi karena komedinya dark, jadi mau ketawa tuh harus mikir dulu. “Ini sebenarnya lucu. Nggak apa-apa kan kalau gw ketawa? Bakal menyinggung nggak nih kalau gw ketawa sekarang?”
– Ada satu adegan tentang toilet yang bikin saya bergidik jijik
– Menurut saya posternya nggak mencerminkan filmnya, deh. Begitu juga dengan taglinenya.

Ini trailernya…