Review: Ave Maryam (2019)

Sebel, banyak yang dipotong ­čśŽ

Film ini mengisahkan tentang Suster Maryam (Maudy Koesnaedi) yang tinggal di sebuah asrama gereja di Semarang. Tidak ada yang istimewa di hari-hari Maryam sebagai di gereja. Semuanya ia jalani dengan ikhlas untuk melayani Tuhan. Mulai dari memasak, mengurus asrama gereja, sampai memandikan suster yang sudah lansia.
Namun semuanya berubah ketika Romo Yosef (Chicco Jerikho) muncul di gereja Suster Maryam. Romo Yosef yang tampan dan pandai bermain musik membuat Suster Maryam diam-diam mengaguminya. Kekaguman Suster Maryam disambut baik oleh Romo Yosef. Sang romo pun sering mengajak Suster Maryam dalam pertemuan rahasia. Rasa yang ditawarkan oleh Romo Yosef ini asing namun dinikmati oleh Suster Maryam. Tapi bagaimana dengan sumpahnya pada Tuhan untuk mengabdikan hidupnya untuk melayani?

Yang saya suka dari film ini:
+ GAMBARNYA BAGUS WEI! Memanjakan mata banget deh ini film.
+ Posternya juga bagus
+ Ya Allah, itu Maudy Koesnaedi kok udah tua bisa tetap kece, sih? Apa rahasiamu mba? Saya bodo amat ama agamamu mba. Yang saya pengen tahu itu, skin caremu apa? Jawab! *gebrak meja biar Maudy langsung jawab*
+ Salut sama sutradara Ertanto Robby yang di negara tercatat sebagai beragama Muslim, namun bisa bikin film tentang keseharian kaum Nasrani dengan segini indahnya.
+ Chicco Jerikho dengan rambut gondrong itu adalah jaminan seksi, sodara-sodara. Jadi kalau di film ini diceritakan susternya khilaf karena kegantengan doi, YA WAJAR BANGET LAH YA~
+ Set dan propertinya baguuuus. Kaya dan penuh.
+ Aktingnya Tutie Kirana masih numero uno!
+ Ada satu dialog yang jadi favorit saya di film ini:

Jika surga belum pasti untukku, buat apa aku mengurusi nerakamu?

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Ini tuh filmnya banyak dipotong. Jadi kalau abis nonton film ini nggak paham ama ceritanya, wajar banget. Yang dipotong tuh hal-hal krusial yang menghidupkan cerita pula. Seperti tentang latar belakang keluarga Maryam yang Muslim. Sama kejadian Maryam dan Yosef di pantai. Saya tahu kalau adegan ini dipotong setelah dikasih tahu oleh beberapa teman yang beruntung bisa nonton versi fullnya. Cerita aslinya bisa juga Anda baca di Wikipedia. Tapi spoiler alert banget lho, ya.
Udah gitu adegan yang dipotongnya itu kasar pula. Jadi pas di tengah-tengah lagi nonton, kita kayak kaget, ‘lho kok berubah begitu aja adegannnya?’
– Terlepas rasa cinta saya kepada Joko Anwar sebagai sutradara, namun Joko Anwar sebagai pemain film itu nggak bagus. Masih kaku bang. Maaf ya, bang Joko. Anggap aja ini masukan ya. Jangan marah, ya *salim*
– Film ini standar festival lho, ya. Jadi minim dialog tapi gambarnya indah-indah. Mungkin bagi beberapa orang, film ini akan terasa sangat pelan dan membosankan.

Saya tonton film ini di Netflix.
Rate: 3 out of 5

Ini trailernya…

Review: Tenggelamnya Kapal van der Wijck (2013)

Kalau nggak direkomen ama Agam, kayaknya saya nggak akan punya niatan untuk nonton film yang ternyata bagus ini.

Film ini berlatar tahun 1930-an. Alkisah seorang pemuda bernama Zainuddin (Herjunot Ali). Ia terlahir dari ayah yang berdarah Minang dan ibu berdarah Makassar. Sepanjang hidupnya Zainuddin besar di Makassar. Sepeninggal ayah dan ibunya, Zainuddin ingin melihat tanah kelahiran ayahnya di Batipuh, Sumatera Barat. Keluarga Zainuddin di Makassar sempat khawatir kalau Zainuddin tidak akan diterima baik oleh keluarga ayahnya di sana. Karena menurut adat Minang yang berpatok pada garis keturunan dari ibu, maka Zainuddin adalah orang Makassar, bukan lagi orang Minang.
Tapi Zainuddin bersikeras ingin melihat ranah Minang karena ingin sekalian belajar agama di sana. Ternyata benar, ia kurang diterima baik oleh orang-orang di kampung ayahnya. Ia tidak dianggap sebagai orang Minang. Ia kerap dikucilkan dan tak punya teman. Namun Zainuddin dapat menahan itu semua karena hatinya telah terpaut dengan Hayati (Pevita Pearce) sang kembang desa di Batipuh. Cintanya bersambut dan mereka rajin berkirim surat. Namun lagi-lagi darah Minang di Zainuddin tidak dianggap. Sehingga paman Hayati melarang kisah cinta mereka dan mengusir Zainuddin dari Batipuh. Hayati berjanji setia menunggu Zainuddin. Namun kesetiaan Hayati diuji ketika ia dijodohkan dengan Aziz (Reza Rahadian) yang tampan, kaya, dan berdarah Minang asli…

Yang saya suka dari film ini:
+ Film ini gambarnya baguuuuuuuuuus! Jujur, saya tuh awalnya pesimis waktu dulu tahu film ini disutradarai oleh salah satu geng bos-bos sinetron, yakni Sunil Soraya. Tapi ternyata filmnya baguuuuuuuus.
+ Bisa dibilang setengah awal film ini berdialog dengan bahasa Minang. Dan saya suka hal itu karena jadi benar-benar terasa konflik kedaerahannya.
+ Ada yang bilang dialognya sinetron banget. Justru menurut saya di tahun segitu, memang begitulah cara orang berdialog. Dan sepertinya film ini menuruti dialog yang ada di buku aslinya karya sastrawan Minang, Buya Hamka. Karya sastra lama dari Minang memang banyak pakai bahasa Melayu tinggi.
+ Oiya film ini diangkat dari buku berjudul sama. Penulisnya orang Minang, tapi kritik tentang budaya Minang bertebaran di buku ini. Saya sebagai perempuan berdarah setengah Minang bisa mengangguk-angguk setuju dengan kritik yang disampaikan.
+ Film ini jalan ceritanya sedih. Jadi kalau kalian baru putus, ditinggal nikah, ditolak cinta karena miskin, jangan nonton film ini, ya.
+ Salut untuk beberapa adegan yang diperankan secara gemilang oleh Herjunot. Apalagi adegan ketika dia marahin Hayati. Rentetan dialognya berhasil bikin saya ngebatin ‘mampus luh, Hayati!’ Sampai sekarang saya masih suka cari cuplikan adegan itu di Youtube untuk saya tonton berulang kali.
+ Untuk beberapa adegan set dan propertinya bagus banget. Ada beberapa mobil kuno yang masih bagus pula kondisinya buat dipakai balapan. Jarang ada film Indonesia yang mau invest dan repot nyari properti sampai segitunya. Tapi bisa juga mobil itu koleksi sang pemilik film sih

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Duh, Pevita aktingnya nggak pas banget deh di film ini. Dia terlihat terlalu bule untuk jadi perempuan Minang. Udah gitu aktingnya biasa aja. Padahal dia banyak memegang peran penting agar suatu adegan bisa kerasa sedihnya. Tapi ya….gitu deh.
Adegan di akhir-akhir film pas dia melek lagi dari setelah dari kapal van der Wijck malah kerasa ‘Eh kok melek lagi? Mau main cilukba ya kamu?’
– Untuk pertama kalinya saya melihat akting Reza Rahadian biasa aja dan nggak total. Tapi saya masih ber-positive thinking kalau dia begitu karena nggak pengen outshine Herjunot sang aktor utama.
– Figurannya nggak bagus
– Meski Herjunot terlihat ganteng banget pake jas di film ini, tapi model jasnya itu nggak sesuai dengan eranya. Setahu saya jas di era itu modelnya panjang sampai setengah paha. Bukan jas pas body model zaman sekarang.

Harusnya Junot pakai jasnya kayak Reza gitu. Jas panjang dan celananya agak lurus gombrong, bukan skinny pants.


– Baju-bajunya Hayati juga salah era. Harusnya 1930 itu jazz era. Bajunya itu slim dress dengan minim motif. Sedangkan yang dipakai Hayati kebanyakan baju keliatan ketek dengan motif retro tahun 1970an.

Baju era 1930-an
Baju yang dipakai Hayati -__-

Daaaaaan di era itu ngetrendnya rambut pendek kelihatan tengkuk. Sedangkan Hayati rambutnya lurus digerai yang entah gimana malah membuat ia terlihat lusuh di era yang orang-orangnya pada klimis itu.
– Kayaknya film ini bayar mahal Nidji untuk bikin original soundtrack (OST). Sayangnya menurut saya OST-nya yang modern terdengar nggak matching dengan film nuansanya jadul. Mana diulang-ulang mulu chorusnya di film ini. Malah jadi ganggu dan jomplang. Padahal kalau OST itu dibuat versi instrumental biola terus di-insert di film aja cukup sih.
– Posternya jelek.

Rate: 4 out of 5
Saya nonton film ini di Netflix

Ini trailernya….



Review: Imperfect (2019)

Sejauh ini filmnya Ernest Prakasa belum ada yang mengecewakan.

Film yang diangkat dari novel karya Meira Anastasia ini mengisahkan tentang hidup Rara (Jessica Mila) yang berbadan gemuk. Bukan hanya gemuk, tapi ia juga berkulit gelap. Sangat berbeda dengan ibu dan adiknya yang berkulit putih dan bertubuh langsing. Sebenarnya hidup Rara nggak buruk. Ia punya karier yang bagus dan pacar tampan yang menerima apa adanya. Bertahun-tahun ia bisa menerima dirinya yang selalu dibanding-bandingkan dengan kecantikan si adik dan diperlakukan berbeda oleh masyarakat karena bentuk tubuhnya. Namun Rara bagai mendapat tamparan keras begitu bentuk tubuh dan penampilannya mempengaruhi penilaian bosnya untuk menaikkan jabatan.
Oleh karena itu, Rara bertekad untuk menurunkan berat badan dan memperbaiki penampilannya. Tapi apakah menjadi langsing dan cantik itu jadi jaminan untuk bahagia?

Yang saya suka dari film ini:
+ Film karyanya Ernest Prakasa itu sejauh ini selalu bagus. Apalagi naskahnya, bagus banget! Tepuk tangan untuk Ernest dan Meira Anastasia untuk naskahnya.
+ Banyak dialog yang lucunya berkualitas.
+ Sangat senang dengan tema dan solusi konflik yang diangkat oleh film Imperfect ini. Film tentang make over dari si buruk rupa jadi cantik itu udah banyak. Namun dengan penyelesaian konflik seperti di film ini, ya baru di Imperfect doang yang saya lihat.
+ Dari mana lagi ya harus saya mulai pujian tentang akting dan ketampanan Reza Rahadian? Pokoknya mas Reza, aku padamu, meski kamu padanya. Tiup cium, fuh…
+ Pujian akting juga harus saya berikan pada Uus sebagai preman kampung dan Kiky Saputri anak kos lenjeh doyan pake baju seksi. Jatah akting mereka memang nggak banyak, tapi sangat memorable.
+ Set dan lokasinya bagus. Terasa Indonesianya.
+ Tumben-tumbenan saya kesel ngeliat tokoh yang diperankan oleh Boy Wiliam. Artinya aktingnya Boy juga berhasil di film ini.
+ Akting Yasmin Napper patut dipertimbangkan. Saya ingin melihat aktingnya lebih banyak lagi.
+ Sangat suka dengan pesan film ini yang bukan hanya mengenai self love, tapi juga support orang-orang terdekat.
+ Suka juga dengan bagaimana Ernest mulai mengurangi ‘ngajak teman’ komika untuk di filmnya. Bukan apa-apa, kadang tokoh komika yang hadir itu kebanyakan. Jadi perannya kurang penting semua. Mereka memang lucu, tapi mubazir rasanya.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Scoringnya terdengar kurang pas. Nggak semua adegan harus diisi musik sih, menurut saya.
– Baju-baju Rara pada saat gemuk itu terasa monoton dan kayak piyama. Kayaknya ini trik agar bobot Jessica Mila bisa terlihat segemuk tokoh Rara. Wignya Rara juga terlihat ganggu :-/
– Asri Welas tuh dapat akting yang ya….gitu-gitu aja sih.

Rate: 4,5 out of 5
Film ini saya tonton di Netflix.

Ini trailernya…

Review: Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2020)

Film konflik keluarga Indonesia yang paling realistis yang pernah saya tonton.

Film ini mengisahkan tentang sebuah keluarga dengan tiga orang anak. Angkasa (Rio Dewanto) si sulung, Aurora anak kedua (Sheila Dara Aisha), dan si bungsu Awan (Rachel Amanda). Masing-masing anak punya permasalahan tersendiri. Angkasa yang selalu ditekan agar jadi contoh dan pelindung adik-adiknya. Aurora khas anak tengah yang keberadaannya hanya sebagai bayang-bayang di keluarga. Sedangkan si bungsu Awan selalu jadi pusat perhatian dan terlalu dilindungi. Ayah mereka, yang diperankan oleh Donny Damara, adalah orang yang dominan. Sedangkan si ibu, diperankan oleh Susan Bachtiar, sangat pasif.
Mereka semua berusaha menjalankan peran masing-masing agar keluarga tetap rukun. Namun apa yang tidak dibicarakan dalam keluarga, lama-lama bisa jadi bom waktu juga.

Yang saya suka dari film ini:
+ Ceritanya oke! Permasalahan masing-masing anggota keluarga itu sederhana tapi kompleks. Ceritanya juga terasa dekat banget, karena memang itu kebanyakan permasalahan di suatu keluarga.
+ Pola bertuturnya bagus! Kisah ini banyak menceritakan masa lalu dengan flash back, tapi tetap mudah dimengerti. Malah banyak adegan flash back ke masa lalu ini membangun misteri yang klimaks di akhir film.
+ Semua aktingnya oke! Tapi tetap kesheyengan saya dalam film ini tetap Rachel Amanda yang selalu natural dalam berakting
+ Baju-bajunya Aurora keceee pisaaaaaaan! Suka banget sama gaya Aurora dari ujung kepala sampai kaki.
+ Film ini menampilkan band Arah. Bandnya si Hanum. Woohooooo!
+ Posternya bagus! Warnanya cakep, pose semua orang tersenyum menutupi beban hidup masing-masing juga ciamik

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Mas Rio Dewanto, kamu ganteng. Aku padamu. Tapi aku kok ngerasa kamu terlihat terlalu tua untuk peran ini ya? Terus, rambutmu di film ini kok acak-acakannya agak aneh, mas. Jangan marah ya, mas. Aku padamu lho, mas.
– Ada satu adegan marah-marah bapak Donny Damara yang entah kenapa terlihat kurang pas di mata saya. Kayaknya terlalu dipaksakan. Tapi di satu adegan itu doang, kok.
– Ada band Arah di film ini. Bandnya si Hanum. Tapi si Hanumnya kagak kesorot mukanya. Hadeh…. *tepok jidat* Yodah, dengerin gebukan drum dan suara Hanum di sini ya. Iya, klik di sini ya.
– Ada beberapa poster yang menampilkan Ardhito Pramono yang ikut muncul di film ini. Terlepas aktingnya Ardhito yang oke di film ini, tapi menurut saya dia kurang pas untuk masuk poster. Cukup tentang tiga orang kakak-adik dan keluarganya aja. Karena memang pusat ceritanya di situ.
– Film ini diangkat dari buku hipster ngehits dengan judul yang sama karya Marchella FP. Nah, isi buku dan jalan cerita film ini sama sekali nggak nyambung. Bahkan quote-quote bagus dari bukunya Marchella kayaknya nggak banyak dipakai deh di film ini. Jadi film ini rasanya kayak pinjam judul bukunya doang, lalu dibikin cerita yang jauh berbeda.
– Wajah pemeran tokoh di masa lalu mereka nggak ada yang singkron. Contohnya tokoh Angkasa waktu balita dia itu terlihat kayak anak Melayu bermata belo’. Terus pas SMP, mukanya kenapa jadi chinese?
Begitu juga dengan tokoh si ibu. Waktu mudanya dia kayak cewek bandung yang putih. Pas versi tuanya kok jadi Susan Bachtiar yang chinese? Ini bukan rasis lho ya. Ini cuma mengungkapkan ketidakmiripan para tokoh muda dan dewasanya. Dalam hal ini NKTCHI harus belajar sama film Bebas. Di film Bebas tokoh masa muda dan dewasanya bisa mirip gitu.

Film ini saya tonton di Netflix.
Rate: 4,5 out of 5

Ini trailernya…

Review: Terlalu Tampan (2019)

Film yang diangkat dari webtoon ini mengisahkan tentang sebuah keluarga yang terlahir dengan sangat tampan. Sampai si ibunya pun tampan. Ketampanan mereka tentu saja membuat banyak perempuan tergila-gila. Banyak kemudahan hidup yang mereka rasakan karena berkah ketampanan tersebut. Namun tidak bagi si bungsu Kulin (Ari Irham). Bagi Kulin ketampanannya ini kutukan. Ia tidak bisa keluar rumah dengan bebas tanpa dikejar-kejar oleh perempuan yang histeris begitu melihat wajahnya. Makanya ia memilih untuk homeschooling dan hanya berteman dengan Anto, ikan peliharaannya.
Melihat hal ini, keluarga tampan jadi resah. Mereka pun merancang sebuah skenario agar Kulin mau ke sekolah normal. Skenario mereka berhasil. Kulin kini mau mulai ke sekolah biasa asal di sekolah khusus pria. Namun di sekolah ini ketampanan dia tetap bawa masalah. Ia jadi sasaran gencetan senior. Ia dipaksa harus bisa meloloskan proposal prom night gabungan dengan sekolah khusus perempuan. Apa yang Kulin harus lakukan?

Yang saya suka dari film ini:
+ Film ini kan diangkat dari komik webtoon, ya. Nah, film ini masih tetap mempertahankan kekomikannya. Jadi kita bisa melihat banyak efek-efek khas komik yang seru dan menambah kekocakannya. Salut lah buat sang sutradara Sabrina Rochelle Kalangie, film ini ia garap dengan baik.
+ Kocaknya menghibur dan nggak lebay dibuat-buat.
+ Sukaaaaaaak banget sama aktingnya Rachel Amanda. Dia ini dari zaman masih bocah aktingnya udah outstanding dibanding aktor cilik lainnya. Pas udah gede, aktingnya makin prima.
+ Ari Irham emang jadi ganteng sih di film ini.
+ Seluruh tokoh yang dihidupkan ke film ini tetap nggak meninggalkan ciri komiknya.
+ Jalan ceritanya juga baguuuus.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Apa ya…. Ada beberapa anggota keluarga Tampan yang menurut saya biasa aja sih tampannya.

Film ini saya tonton di iflix
Rate: 4,5 out of 5

Ini trailernya…

Review: Mantan Manten (2019)

Udah lama pengin nonton film ini karena dulu ada orang yang merekomendasikan film ini ‘bagus banget’. Tapi setelah saya nonton……. Maaf ya, tanpa ada maksud untuk menjatuhkan, tapi saya harus bikin review yang jujur.

Film ini menceritakan tentang Yasnina (Atiqah Hasiholan) seorang konsultan keuangan yang sukses berat. Hidupnya di atas awan. Ditambah ia baru saja dilamar oleh Surya (Arifin Putra) yang tampan. Namun kehidupannya tiba-tiba berputar 180 derajat. Ia dijebak dan dijadikan tumbal bisnis oleh pengusaha kelas kakap, yang tak lain adalah ayahnya Surya sendiri. Semua aset miliknya disita.
Yasnina bertekad untuk membalas. Satu-satunya aset yang tertinggal adalah rumah yang pernah ia beli di Tawangmangu, Karanganyar yang belum sempat ia balik nama. Maka berangkatlah Yasnina ke Tawangmangu untuk menemui sang penghuni rumah tersebut untuk meminta tanda tangan dokumen balik nama. Ternyata sang penghuni yang adalah seorang dukun manten, meminta syarat agar Yasnina tinggal dengannya selama 3 bulan untuk belajar jadi dukun manten. Mau tak mau Yasnina menyetujuinya. Apakah cara ini berhasil membalas dendamnya?

Yang saya suka dari film ini:
+ Tutie Kirana sebagai sang dukun manten aktingnya mantab puol! Aura ‘keraton’nya terasa meski dia duduk diam doang
+ Ide ceritanya bagus dan alurnya juga nggak biasa
+ Tawangmangu bagus, ya! Jadi pengen ke sana, deh.
+ Film ini cukup bagus untuk belajar ikhlas soal jodoh

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Saya setuju kalau film ini salah strategi. Poster dan promosinya menyiratkan kalau ini film romantic-comedy. Padahal nggak sama sekali. Ini justru film drama dengan sentuhan mistis. Tapi bukan horor lho ya.
– Banyak pengembangan karakter yang nggak pas. Jadi sepanjang film saya berkali-kali ngebatin kalau ‘Masa sih orang kayak dia bakal berreaksi begitu? Kayaknya nggak mungkin, deh’.
– Sound dialognya kurang oke. Jadi untuk beberapa dialog saya mendengarnya kayak kumur-kumur.
– Arifin Putra aktingnya oke. Tapi porsi aktingnya sampai bisa ada di poster itu nggak sesuai. Harusnya posternya muka Atiqah aja. Tapi lagi-lagi, sepertinya memang ini salah strategi. Eh atau ini memang justru strateginya supaya banyak orang yang tertarik nonton? Bisa jadi…bisa jadi…
– Jalan cerita sama judul film kurang pas juga, menurut saya :-/
– Ada beberapa bagian cerita yang menarik justru diceritakan secara cepat. Giliran bagian yang biasa aja malah kasih porsi yang lumayan lama.
-Tokoh yang diperankan Marthino Lio kayak sia-sia aja gitu. Kayaknya nggak jelas fungsi dia di cerita ini apa, ya? Kayak ada dan tiada tokoh dia ini filmnya tetap bisa jalan kok. Dan kelanjutan tokoh dia kayak gimana, itu juga nggak diceritakan lebih lanjut. Aktingnya bagus padahal.
– Film ini nggak buruk, kok. Bukan termasuk film yang ‘bikin lo buang-buang duit di bioskop’. Tapi kalau dibilang film ‘buagus buanget’, ya nggak juga sih. Mungkin saya berekspektasi terlalu tinggi aja, makanya pas nonton jadi kecewa. Salahkan orang yang merekomendasikan film ini segitunya ama saya. Setelah dipikir-pikir si orang itu memang suka lebay dan sok tahu, sih. Mungkin karena dia merasa akrab dengan orang-orang film. Padahal orang-orang film melihat dia sebagai ‘wannabe’.
Moral of the story: nggak usah lagi percaya ama orang itu, hahahaha…

Film ini saya tonton di Iflix.
Rate: 3 out of 5

Ini trailernya…

Terus pas lihat trailer resmi ini saya baru nyadar ada beberapa adegan yang nggak ada di versi yang saya tonton. Padahal adegan-adegan itu kayaknya lebih menghidupkan cerita. Ini yang ditayangin Iflix versi yang sama dengan bioskop nggak sih?

Review: Athirah

Category: Movies
Genre: Drama
Rate: 3,5 out of 5

Terima kasih kepada Netflix, saya jadi bisa mengejar ketinggalan dalam menonton film-film Indonesia.

Film ini diangkat dari buku biografi Athirah yang ditulis oleh Alberthine Endah. Athirah tak lain adalah ibunda bapak Jusuf Kalla.

Athirah (Cut Mini Theo) adalah istri dari pengusaha terpandang di Makassar. Ia memunyai tiga orang anak dan sedang mengandung anak ke-empatnya. Pada saat hamil, ia mulai melihat perubahan dari suaminya. Ia jadi lebih suka bersolek dan jarang pulang ke rumah. Sampailah ia mendapat kabar kalau suaminya telah menikah lagi di Jakarta.

Tentu saja hal ini membuatnya terpuruk. Namun Athirah menolak menyerah begitu saja. Meskipun ia tak punya kuasa untuk melawan.

Yang saya suka dari film ini:
– Film ini cantik banget, sih. Gambarnya semuanya indah dan memanjakan mata.
– Aktingnya Cut Mini oke. Nggak terlalu banyak dialog, tapi bisa menggambarkan semua emosi yang berkecamuk dari raut wajahnya.
– Meskipun film ini fokusnya ke sang sitri yang dimadu, namun film ini dengan pintar juga memperlihatkan bagaimana dampak poligami pada anggota keluarga lainnya.
– Riri Riza menyutradarai film ini dengan apik. Tapi siapa sih yang bisa meragukan hasil karya Riri?

Yang saya nggak suka dari film ini:
– Ini film standar festival, sih. Jadi filmnya penuh dengan nilai estetis. Kalau yang nggak suka film jenis kayak gini, pasti merasa bosan. Tapi kalau saya sih pas nontonnya sih nggak ngerasa bosan.
– Tokoh suami Athirah kurang cakep untuk jadi bahan rebutan. Tapi ya, pelakor mah kalau lelakinya pengusaha yang banyak duit, biasanya bodo amat sama tampang. Bukan begitu Bu Dendy? Kowe butuh duwek? Ha? Butuh duwek? Nyoooh! Duwek, nyooooh! *lempar duit koin biar pelakornya sakit. Dan emang punya duitnya koinan semua sih. Sesungguhnya melabrak dan mengusir pelakor itu jihad.

Ini trailernya…