blog

MOM PUSH COW! part II

Ngambil londri di kios londri kiloan yang ber-AC. Tapi mas yang jaga ngerokok aja dong di dalam kiosnya.

Dia: Sini mba, masuk aja *dengan nada ramah senyum manis*

Gw: Ga! Bau rokok! *dengan nada galak dan sadis yang bisa bikin Hitler nangis*

Mulut dan senyum manis lo kagak mempan ama emak-emak yang lagi menstruasi, bang. Camkan itu! *Sentil puntung rokok yang masih nyala ke hidung abangnya*

View on Path

blog

MOM PUSH COW!

(sumber: Republika hari ini)

Banyak orang yang anti rokok, seperti saya, lebih sering mengeluhkan tentang bahaya merokok terhadap kesehatan.
Padahal kita sering lupa tentang bagaimana rokok juga menghilangkan produktivitas. Saya yakin banyak dari kita yang suka menahan kesal dalam hati karena ditinggal oleh rekan kerja demi merokok. “Semua pekerjaan bisa menunggu, tapi rokokku tidak,” begitulah kira-kira tulisan yang tertera di punggung para perokok ketika meninggalkan kami yang terbengong-bengong melihat mereka berjalan menjauh demi merokok.

Jadi kami yang tidak merokok ini sudahlah dikasih penyakit melalui asap rokok mereka, dianggap tidak keren karena tidak merokok, dikasih kalimat ‘tunggu sebats dulu’ pula ketika kami tagih pekerjaan.

Oleh karena itu dengan adanya rencana kenaikan harga rokok ini, rasanya wajarlah kalau kami yang tidak merokok ini, terutama saya, ingin berkata lantang kepada kalian para perokok…..

MOM PUSH COW!!!!!

View on Path

blog

Suami Selingkuh? Jihad!

Sedih deh, malam-malam begini dapat kabar tetangga kontrakan gw mau pindah. Yang bikin sedih itu alasan kepindahannya: dia ngegepin suaminya selingkuh. Cewek perusak rumah tangganya udah dia datangin baik-baik malah nyolot balik. “Terserah. Yang pasti saya akan tetap jalanin hubungan ini,” ujar si cewek nggak tau diri itu.

Tetangga gw itu ibu yang baik, istri yang sabar banget. Padahal satu wisma kontrakan ini udah curiga lama kalau suaminya nggak beres. Dan kami sering melihat dia sedih nungguin suaminya nggak pulang-pulang di depan kontrakan.

Sebagai tetangga yang baik gw pun mengajak dia ngobrol…
Gw: Kamu mau pindah ke mana?

Dia: Ke daerah Parung. Ngedeketin rumah mamaku.

Gw: Kapan kamu pindahnya?

Dia: Tanggal 16 mungkin.

Gw: Ya udah, nanti sebelum kamu berangkat aku akan bantuin kamu potongin baju-baju suamimu.

Dia: Lho? Kenapa gitu mba?

Gw: Ya biar dia nggak punya baju buat jalan lagi ama cewek itu.

Dia: Aku sih tadi niatnya mau bawain semua bajunya terus aku bakar.

Gw: Nggak usaaaah! Ngapain kamu capek-capek bawain semua baju dia, terus ngeluarin duit buat beli minyak, terus kamu panas-panasan lagi pas bebakaran. Ih ogah banget!
Mending kamu ikutin cara aku. Kamu potongin semua baju-bajunya sampe kolor-kolornya, terus kamu lipat rapi di lemari seperti sediakala. Jadi pas suamimu mau berangkat kerja atau mau ketemu cewek itu, baru lah dia sadar kalau bajunya udah compeng semua.

Dia: Hmmm, gitu ya mba. Oke deh.

Moral:
-Bantulah tetanggamu yang sedang kesusahan.
-Merusak properti suami peselingkuh itu jihad.

View on Path

blog

2015 in review

Alhamdulillaaaaah!

Senang juga lihat ini. Jadi semakin semangat nulis.

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 39.000 kali di 2015. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 14 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

blog

365 Tulisan 2014 #96: SOTR… Meh….

Dulu waktu jaman saya masih duduk di bangku sekolah, para cowok melakukan eksistensi diri dengan mengedepankan maskulinitas/kemachoan mereka. Makanya pada jaman itu banyak yang tawuran. Karena di sanalah ajang mereka memamerkan kemachoannya.

Namun era tawuran itu lambat laun memudar dengan sendirinya. Semua berkat dua hal:
1. Makin banyaknya produk kosmetik lelaki (yang membuat mereka ganteng tanpa harus membuat mereka merasa seperti bencong). Ini berhasil meredam keinginan anak cowok jaman sekarang untuk tawuran karena jadi malas panas-panasan dan agak ogah punya bekas luka yang susah hilang.
2. Makin banyak media sosial yang membuat mereka bisa eksis tanpa harus berbuat sesuatu dulu agar ‘dilihat’.

Nah, melihat terjadinya lagi tawuran pelajar SMA pas SOTR tadi membuat saya jadi bertanya-tanya…
-Nggak cukup apah media sosial yang ada sekarang bikin lo pada eksis, wahai adik-adik? Masa sih lo pada jadi balik pake cara primitif (tawuran) lagi biar dibilang keren? Tapi melihat kalian SOTR nggak pake helm, saya bisa melihat kalau kalian memang ada keturunan manusia zaman batu. Karena kalian begitu percaya diri naik motor dengan kepala telanjang yang terbuat dari batu itu.
-Apakah kalian perlu dibuatkan petisi agar dimasukkannya kurikulum ‘berpenampilan keren agar ganteng maksimal’ di sekolah kalian supaya teredam emosi sok keren dan sok macho kalian di jalanan pada saat SOTR?
Soalnya kami yang udah lebih tua dari kalian ini nggak melihat ada manfaatnya dari SOTR yang kalian lakukan.
Ini hanya jadi ajang kalian untuk konvoi tengah malam sambil boncengin cewek kelas sebelah yang kalian incer, lalu menyebarkan coretan ‘SOTR’ di dinding-dinding tempat umum persis seperti cara berkomunikasi para guk-guk untuk menandakan wilayah teritorial mereka.

Ingatlah, SOTR itu pernah memakan korban jiwa beberapa tahun yang lalu karena ‘sok macho’ cowok-cowok dengan kebut-kebutan di jalan.

Jangan sampai itu terulang lagi ya adik-adik. Mendingan kalian bantuin ibu kalian masak sahur di rumah lalu posting di media sosial. Saya yakin, tidak sampai seminggu, tingkat kegantengan kalian melonjak drastis di kalangan kaum hawa di sekolah kalian.

#365Tulisan2014

View on Path

blog

Empat Hari Lagi

Bisa dikatakan gw dan Si Punk Rock mempersiapkan pernikahan ini semuanya sendirian. Kami pengantin DIY alias Do It Yourself, bukan Daerah Istimewa Yogyakarta lho ya.

Walaupun kami nanti akan menikah dengan syukuran kecil-kecilan dan sederhana aja, tapi persiapannya tetep aja nggak gampang. Semuanya kami kerjakan sendiri dari ngerancang undangan, ngurus surat nikah di KUA, bolak-balik KUA buat nentang korupsi yang dilakukan sama penghulunya, persiapin konsep, ampe beresin suvenir.

Keluarga inti gw nggak ada yang bantuin. Bahkan abang dan adik gw nanya udah sejauh mana persiapan gw aja kagak. Kebanyakan yang direpotkan di sini adalah keluarganya Si Punk Rock. Gw jadi nggak enak sekaligus bersyukur sama keluarga Si Punk Rock, dan bete tapi bingung mau gimana ama keluarga gw sendiri.

Sampailah pada suatu hari gw udah nggak tahan, gw ngomong dan sindir habis-habisan abang dan adik gw di grup Whatsapp intern kami. Adik gw defensive, abang gw diam seperti biasa. Antara bingung atau nggak peduli, gw juga nggak bisa bedain. Terserah lo deh!

Terus Sabtu lalu kekecewaan gw kepada keluarga gw bertambah. Gw udah request sama abang dan adik gw untuk sediakan waktu di hari tersebut untuk pengajian pra nikah gw. “Aku mau pengajian ini diurusin kayak pengantin yang lainnya. Aku mau ongkang-ongkang kaki. Aku capek ngurus semuanya. Aku mau diam dan duduk manis layaknya calon pengantin. Kalian yang urus semuanya,” kata gw ke mereka. Waktu itu sih mereka diam aja. Gw harap itu tanda setuju.

Sampailah H-3 sebelum pengajian, gw dikasih tahu Papa kalau adik dan abang gw nggak akan ada pas hari pengajian. “Si Agam liputan ke Purwokerto. Ada temannya yang sakit, jadi dia gantiin liputan. Si Mas harus keluar kota,” kata Papa via telpon.

“Bilang ke mereka, kalau mereka nggak mau datang pas hari pernikahan aku juga nggak apa-apa!” kata gw dengan emosi.

“Ya nggak gitu… Mereka kan kerja…” kata Papa lagi mencoba menenangkan.

“Justru itu. Mereka itu bukan orang baru di kantor masing-masing. Mereka itu bisa minta ganti atau izin sama kantor buat pengajian ini. Tapi mereka NGGAK MAU! Mereka nggak mau ribet, nggak mau bangun pagi, nggak mau mondar-mandir, nggak mau nyuci piring!”

Papa diam aja. Dia tahu percuma ngelawan gw yang lagi emosi, dan gw yakin dia setuju sama omongan gw.

DASAR LELAKI PEMALAS!!!!!!!!! Memang sih pengajian ini dibiayain sama abang gw. Eh ralat, dibiayain oleh abang gw atas permintaan istrinya sebagai kado buat gw. Makasih buat kadonya. Ini membantu, tapi yang gw butuhkan saat ini tuh kehadiran dan niat!

Si Punk Rock menenangkan emosi gw. Dia bilang, jangan marah begitu. Gimana pun juga mereka keluarga gw.

Jutsru karena mereka itu keluarga! Kok mereka begitu banget sih sama gw??? Tapi gw kemudian tenang, namun gw nggak akan lupa sama kemalasan bergerak mereka. Gw malas ngomong sama mereka!

 

Hari berlalu sampai hari Senin pun tiba.

Si Punk Rock ajak gw ngomong. “Sayang, nanti untuk bayar fotografer boleh nggak pakai uang kamu dulu?”

“Boleh dong!”

“Iya, soalnya uang aku udah untuk ini, itu, bayar ini, bayar itu. Maaf ya… Sebenarnya kau masih ada duit, sih. Tapi kita mau ke Bali setelah nikah. Takutnya nggak cukup duitnya.”

“Ya nggak apa-apa, tauk. Berapa bayar fotografernya?”

“Sekian.”

He? Waduh, cukup nggak ya duit gw? Bisa sih pakai duit yang ini. Tapi artinya nanti gw harus cover yang itu dengan bayar segini. Dan kemudian gw harus ngurangin yang itu buat bayar yang ini. Aduuuh ribet! Cukup nggak ya? Euuh… bismillah aja, deh. Insya Allah ada jalan.

Hoo iya! Si Agam kan masih ada utang sama gw. Tagih ah. Lumayan untuk nambah duit fotografer. Gw Whatsapplah si Agam…

“Gam, kakak butuh duit buat bayar fotografer. Kakak mau nagih utang. Kabarin ya kalau udah transfer.”

“Lah, fotografer kan jadinya pake Hanum (pacarnya Agam yang jago motret)”

“Hanum buat motret candid. Buat motret formal harus bayar. Kabarin kalau udah transfer.”

“Iya, Agam lagi pelosok. Kalau nanti udah ketemu ATM, Agam transfer.”

Dalam hati gw—> Nggak nanya. Lo mau di mana kek, gw udah nggak peduli.

 

Keesokan harinya si Agam Whatsapp…

“Utang Agam berapa sih? Bisa dirinci, Agam lupa.”

Hadeeeeeeeehhhh! Nyusahin! Sebenarnya nggak nyusahin-nyusahin amat sih. Tapi karena gw udah keburu bete aja ama ni makhluk, gw jadi sebel dengan segala sesuatunya dari dia. “Sekian yang waktu itu transfer si Badru, sekian buat rafting. Kabarin kalau udah transfer.”

“Kan waktu itu Agam juga utang sekian buat beli sepatu, berarti sekian.”

Eh, iya ya. Gw malah udah lupa dia utang buat beli sepatu itu. Gw balas singkat, “Haa, itu juga.”

Nggak berapa lama dia Whatsappin foto bukti transfer.

“Itu udah Agam transfer. Agam tambahin buat kakak naik banana boat di Bali,” tulisnya.

Jumlah yang Agam transfer itu nominalnya sama persis dengan honor fotografer. Alhamdulillaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!

Ini kali ya yang dinamakan rezeki orang mau nikah. Gw udah sering dengar sih, kalau lo mau nikah, karena niatannya baik, maka pasti rezeki lo dilancarin. Selalu adaaaaa aja jalannya. Jadi ini tokh yang mereka maksud?

Gw langsung ngabarin ke Si Punk Rock, “Horeeeee! Duit buat fotografer udah ke-cover. Agam baru bayar utang, dan sengaja dilebihin sama dia. Katanya buat naik banana boat di Bali, hahaha…”

“Tuh kan, Agam baik. Makanya kamu jangan kesel-kesel sama Agam ya,” kata Si Punk Rock.

Makasih banyak Agam ^___^

Agam dan gw
Agam dan gw

 

blog

Untung Ada Coca-Cola

(Repost dari blog yang lama: 22 Mei 2009)

Waktu itu gw berselisih paham ama bokap gw.

Gw merasa gw ada di posisi yang benar. Makanya gw rela melawan semua omongannya dengan nada semau gw.

Pertengkaran itu ga ada solusinya. Pertengkaran itu cuma diakhiri dengan sama-sama udah capek ngomong dan malas saling menjelaskan. Kalau bahasa orang DPR sih deadlock.

Besoknya gw langsung siap-siap pulang ke kosan. Gw bukan anak kecil yang ngambek langsung pergi begitu gw ga dapat apa yang gw mau, tapi saat itu gw emang harus balik ke kosan. Karena malamnya gw ada janji ketemu sama sepupu gw. Dan dia akan menjemput ke kosan (sapa suruh punya rumah jauh!)

Gw yang udah siap berangkat, masuk ke kamar bokap gw buat pamit. Sebenarnya dalam hati gw masih gengsi untuk ngomong ma bokap. Tapi gw pikir saat itu apa lagi sih yang gw cari? Kemarin gw dah ngomong semuanya sampai puas, saking puasnya gw sampai ga tau mau ngomong apa lagi. Bokap gw juga udah tau kalau gw marah besar, jadi apa lagi yang harus disampaikan dengan bertingkah sok-sok diam? Satu-satunya hal yang perlu gw sampaikan ke bokap gw saat itu yaitu gw akan balik ke kosan.

Di kamar itu, bokap gw ternyata lagi menerima telpon dari teman kantornya. Melihat gw masuk kamar dan coba ngobrol sama dia, ia langsung meminta orang yang sedang bertelponan di ujung sana untuk menghubunginya kembali.

Gw pun bilang ke bokap gw kalo gw harus balik ke kosan. Bokap gw manggut-manggut aja.

Gw balik badan untuk keluar kamar, bokap gw manggil gw lagi. Dia langsung meluk gw sambil berusaha nahan nangis. Dia minta maaf atas kejadian kemarin. Dan dia bilang dia sayang sama gw.

Gw ga mau nangis saat itu. Dan gw emang ga nangis saat itu. Gw bilang juga ke dia kalau gw sayang sama dia. Gw juga minta maaf atas perkataan gw kemarin. Gw pun pamit untuk balik ke kosan.

Gw naik ojek dan minta diantarkan ke Alfamart. Di sana gw beli sekaleng Coca-Cola yang super dingin.

Gw naik angkot dan duduk di bangku depan. Gw tempel kaleng dingin itu gantian ke mata gw. Air mata gw pun keluar deras. Gw nangisin kesediaan bokap gw menutup telponnya hanya demi untuk ngobrol sama gw. Hanya sedikit ayah yang rela mendahulukan keluarganya dibanding karirnya, dan gw beruntung punya ayah seperti itu.

Gw nangisin kesediaan bokap gw minta maaf duluan, padahal gw kemarin yang menggunakan nada semau gw ke dia. Udah ga penting lagi siapa yang salah dan siapa yang benar….. Gw nangisin kata-kata yang jarang keluar tapi selalu manjur bikin kita merasa bahagia “Papa sayang sama Adis” padahal gw sendiri hampir ga pernah ngomong gitu ke dia.

Gw nangis diam-diam di angkot dengan kaleng Coca Cola dingin yang gw tempelin ke mata sebagai kamuflase gw, seolah-olah mata gw basah karena kelilipan karena kedinginan. Apapun keadaannya, tetaplah jaga kejaiman.

Untunglah ada Coca Cola.

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Jadi pengen nangis lagi inget kejadian itu T__T

-Alhamdulillah gw udah nggak pernah berantem lagi sama bokap sejak kejadian itu. Jangan sampai, deh!

-Bokap gw dapat kerjaan baru yang letaknya nggak begitu jauh dengan kantor gw. Dia sering nyuri-nyuri waktu untuk ngajak gw makan siang. Lunch date gitu.

-I love my Papa very much! ^__^