Review: Late Night (2019)

Saya nggak suka dengan Mindy Kaling. Tapi harus saya akui kalau dia adalah perempuan yang cerdas.

Film ini mengisahkan tentang seorang host TV terkenal Katherine Newbury (Emma Thompson) yang masa jaya acaranya memudar. Rating acaranya menurun terus. Maka petinggi televisi memutuskan untuk segera mengganti posisinya dengan host baru yang lebih muda.
Dalam usahanya untuk menyelamatkan acaranya, Katherine yang superior dan berhati dingin pun melakukan beberapa perubahan. Salah satunya dengan memperkerjakan seorang perempuan untuk pertama kalinya di tim penulisnya. Perempuan itu adalah Molly (Mindy Kaling). Molly tidak hanya perempuan, ia juga seorang ras India, dan ia tidak punya basic kerja di dunia pertelevisian karena pekerjaan sebelumnya adalah salah satu tim pengawas di pabrik Kimia. Akankah kehadiran Molly bisa mengubah keadaan?

Yang saya suka dari film ini:
+ Ini bukan sekadar film drama komedi. Film ini punya banyak kritik sosial tentang banyak hal. Antara lain: mengenai perempuan sebagai minoritas di dunia kerja, mengenai minoritas ras, mengenai politik antar perempuan dia dunia kerja (baik tentang keirian perempuan dan cara perempuan mengalahkan lawan dengan elegan).
+ Harus saya akui kalau penulisan naskah film ini cerdas. Penulisnya tak lain dan tak bukan adalah Mindy Kaling.
+ Aktingnya Emma Thompson…. Ya Allah perempuan ini keren banget, sih! Saya sudah melihat banyak film yang dia perankan. Di semua filmnya, saya melihat ia seperti orang yang berbeda. Ia tidak punya ciri khas di tiap aktingnya. Semuanya seperti berdiri sendiri.
+ Baju-bajunya Katherine Newbury dan gaya rambutnya bagus banget siiiiih! Love ngets!
+ Ada satu dialog tentang karma yang dilontarkan oleh suaminya Katherine yang ngena di hati saya.
+ Dari film ini saya belajar kalau industri pertelevisian di Amerika sana itu pnya konflik politik yang cukup kental. Semuanya berawal dari rating.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Sejujurnya saya bukan fansnya Mindy Kaling. Entah kenapa saya melihat dia punya punya pribadi yang ‘sengak’. Tapi apalah saya, kenal sama Mindy Kaling aja kagak tapi berani menilai orang dari tampangnya.
– Ada beberapa adegan yang sok lucu, tapi nggak pas. Terlalu slapstick.

Film ini saya tonton di Netflix.
Rate: 4 out of 5

Review: Sense & Sensibility

Category: Movies
Genre: Drama
Rate: 4 out of 5

Image result for sense and sensibility movie

Film yang bersetting awal 1800-an ini diawali oleh Mr. Dashwood (Tom Wilkinson) yang tengah sekarat di ranjang kematiannya. Sesuai dengan hukum yang berlaku, ia mewasiatkan seluruh hartanya kepada anak lelaki dari pernikahan pertamanya, John Dashwood (James Fleet). Namun Mr. Dashwood berpesan pada John bahwa ia harus membagi sedikit hartanya kepada ketiga adik perempuan tirinya: Elinor (Emma Thompson) yang dewasa dan tenang, Marianne (Kate Winslet) yang meledak-ledak dan pecinta seni, dan Margaret (Emilie Francois) si bungsu yang suka petualangan. Kalau tidak, mereka akan hidup melarat. Namun niat awal John untuk menafkahi ketiga adik dan ibu tirinya dihalangi oleh istri John, Fanny (Harriet Walter) yang serakah.

Dalam masa transisi sepeninggal ayah mereka, John dan Fanny memutuskan untuk menginap di kediaman keluarga tiri mereka, yang tak lama akan jadi hak milik John. Tidak lupa Fanny mengundang adik lelakinya, Edward Ferrars (Hugh Grant) untuk mampir ke calon rumah baru mereka. Siapa sangka selama menginap di sana membuat Edward tertarik dengan Elinor. Melihat adiknya tertarik untuk menikahi perempuan tanpa harta, Fanny segera meminta keluarga tirinya untuk pindah dari rumah tersebut. Syukurlah mereka mendapatkan tawaran untuk tinggal di sebuah rumah yang tidak terpakai milik sepupu sang ibu di Devonshire. Namun perpisahan itu tidak membuat perasaan Elinor pada Edward pudar. Tetapi kekalutan asmara di antara anak-anak gadis Dashwood tidak usai di situ saja. Di tempat baru itu adiknya, Marianne, didekati oleh Colonel Brandon (Alan Rickman). Padahal Marianne menaruh hatinya pada Mr. Willoughby (Greg Wise) yang asal-usulnya tidak jelas.

Yang saya suka dari film ini:
– Film ini dibuat pada tahun 1995 oleh Ang Lee. Gambarnya baguuuuus. Dengan warna-warna hijau khas pedesaan Inggris
– Akting Emma Thompson udahlah ya nggak usah diragukan lagi. Dia berakting sebagai kakak yang paling dewasa dan harus menjaga kewarasannya demi seluruh keluarga dengan minim ekspresi. Tapi semuanya emosi terbaca dari mata dan wajahnya.
-Kate Winstlet cantik banget di sini. Masih ranum-ranum gimana gitu. Rambut keritingnya juga bagus banget!
– Sekilat kalau diceritain, plotnya itu kayak sinetron. Konfliknya harta, cinta yang terpisahkan oleh harta, nggak dianggap karena harta. Harta! Harta! Harta! Tapi berhasil diceritakan dengan cantik dan elegan di film ini.

Yang saya tidak suka dari film ini:
– Film ini menggunakan dialog khas orang Inggris di zaman itu yang penuh basa-basi. Kalau nggak sabar dan nggak faseh-faseh bahasa Inggris amat, bakal bingung di tengah film.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini dia trailernya…