Review: Athirah

Category: Movies
Genre: Drama
Rate: 3,5 out of 5

Terima kasih kepada Netflix, saya jadi bisa mengejar ketinggalan dalam menonton film-film Indonesia.

Film ini diangkat dari buku biografi Athirah yang ditulis oleh Alberthine Endah. Athirah tak lain adalah ibunda bapak Jusuf Kalla.

Athirah (Cut Mini Theo) adalah istri dari pengusaha terpandang di Makassar. Ia memunyai tiga orang anak dan sedang mengandung anak ke-empatnya. Pada saat hamil, ia mulai melihat perubahan dari suaminya. Ia jadi lebih suka bersolek dan jarang pulang ke rumah. Sampailah ia mendapat kabar kalau suaminya telah menikah lagi di Jakarta.

Tentu saja hal ini membuatnya terpuruk. Namun Athirah menolak menyerah begitu saja. Meskipun ia tak punya kuasa untuk melawan.

Yang saya suka dari film ini:
– Film ini cantik banget, sih. Gambarnya semuanya indah dan memanjakan mata.
– Aktingnya Cut Mini oke. Nggak terlalu banyak dialog, tapi bisa menggambarkan semua emosi yang berkecamuk dari raut wajahnya.
– Meskipun film ini fokusnya ke sang sitri yang dimadu, namun film ini dengan pintar juga memperlihatkan bagaimana dampak poligami pada anggota keluarga lainnya.
– Riri Riza menyutradarai film ini dengan apik. Tapi siapa sih yang bisa meragukan hasil karya Riri?

Yang saya nggak suka dari film ini:
– Ini film standar festival, sih. Jadi filmnya penuh dengan nilai estetis. Kalau yang nggak suka film jenis kayak gini, pasti merasa bosan. Tapi kalau saya sih pas nontonnya sih nggak ngerasa bosan.
– Tokoh suami Athirah kurang cakep untuk jadi bahan rebutan. Tapi ya, pelakor mah kalau lelakinya pengusaha yang banyak duit, biasanya bodo amat sama tampang. Bukan begitu Bu Dendy? Kowe butuh duwek? Ha? Butuh duwek? Nyoooh! Duwek, nyooooh! *lempar duit koin biar pelakornya sakit. Dan emang punya duitnya koinan semua sih. Sesungguhnya melabrak dan mengusir pelakor itu jihad.

Ini trailernya…

Iklan

Review: Nothing To Hide

Category: Movies
Genre: Drama
Rate: 4 out of 5

Image result for nothing to hide netflix

Film Perancis yang ditayangkan di Netflix ini menceritakan tentang 7 orang sekawan yang kumpul untuk makan malam bersama. Si tuan rumah, pasangan Vincent (Stephan De Groodt)-Marie (Berenice Bejo) yang diam-diam sedang berjuang agar rumah tangga mereka tetap utuh, ada pasangan Marco (Roschdy Zem) dan Charlotte (Suzanne Clement) yang saling berahasia, ada pasangan Thomas (Vincent Elbaz)-Lea (Doria Tillier) yang lagi mesra-mesranya karena baru menikah, dan ada Ben (Gregory Gadebois) si bujangan.

Makan malam mereka berlangsung baik-baik saja. Sampailah tercetus permainan untuk mereka menaruh handphone masing-masing di tengah meja, lalu semua pesan dan telepon masuk akan dibaca serta didengarkan bersama. Dari situlah satu-persatu rahasia terdalam mereka terungkap…

Yang saya suka dari film ini:
-Ceritanya orisinil dan konfliknya realistis banget
-Twistnya lumayan wuaw-wuaw
-Sangat suka dengan seluruh akting mereka. Film yang banyak dialog ini memang harus dihidupkan dengan akting yang kuat. Nonton film ini membuat saya teringat dengan film Carnage (2011) yang intense dengan dialog. Sampai-sampai saya jadi mikir, ‘gimana ya mereka menghafal dialog itu semua?’
-Suka banget juga dengan adegan sang ayah menasehati anak perempuannya via telepon. Begitu menyentuh dan pesannya pas banget.
-Jangan terkecoh dengan covernya yang terkesan ini adalah film komedi, ya. Pada kenyataannya saya malah jadi agak tegang karena cemas akan rahasia mereka terbongkar.

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Tokoh Marie kayaknya kemudaan dibanding yang lainnya.
-Rambut Lea lama-lama kok kusut nggak jelas. Gatel pengen nyisir. Kayaknya tim make-upnya kurang teliti di bagian ini.

Ini trailernya… (yang di Netfilx ada subtitelnya kok)


https://www.youtube.com/watch?v=Gf8QydKdOis

Review: Loving Pablo

Category: Movies

Genre: Drama

Rate: 4 out of 5

Film ini merupakan berdasarkan kisah nyata. Pablo Escobar (Javier Bardem) merupakan bandar narkoba nomor satu di Kolombia. Selayaknya bandar narkoba kelas kakap lainnya, ia dengan mudahnya lolos dari segala hukum karena pandai menyogok sana-sini. Kekayaan Pablo? Wah, jangan ditanya. Uang Pablo begitu melimpah.

Dari pesta-pesta mewah yang ia gelar, Pablo pun berkenalan dengan Virginia Vallejo (Penelope Cruz). Virginia yang tak lain adalah seorang jurnalis cantik terpincut dengan kebaikan hati Pablo yang hendak membangun Kolombia ke arah yang lebih baik. Tidak peduli walau dananya berasal dari uang haram.

Begitu bisnis narkobanya menyebar dan berkembang pesat di Amerika Serikat, kepolisian negeri Paman Sam itu pun bertekad untuk menghentikan bisnis haram Pablo. Segala cara mereka gunakan untuk menghentikan bisnis busuk Pablo. Namun klan bisnis Pablo sangat kuat dan erat. Mereka pun mencoba mendekati Virginia untuk membuka pintu menuju Pablo.

Yang saya suka dari film ini:

-Suka dengan aktingnya Javier Bardem yang bisa berubah dari cowok baik, kebapakan, kemudian jadi bos bisnis haram yang berdarah dingin.

-Penelope Cruz cantik dan luwes di film ini

-Alurnya enak.

-Saya jadi dapat pengetahuan baru tentang sosok Pablo Escobar yang tersohor di zamannya. Juga jadi mengerti kegilaan yang bisa dilakukan oleh manusia kalau udah kebanyakan duit. Banyak adegan di film ini yang  bikin saya geleng-geleng kepala.

-Kostum serta set dan lokasi tahun 80-annya bagus.

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Javier Bardem kayaknya pakai kostum karet palsu biar keliatan buncit ala Pablo Escobar yang asli.

Ini trailernya…

Review: Breakfast at Tiffany

Category: Movies

Genre: Romantic Comedy

Rate: 4 out of 5

Film yang diproduksi pada tahun 1961 ini menceritakan tentang Holly Golightly (Audrey Hepburn). Ia adalah seorang perempuan sosialita yang matre. Tujuan hidupnya adalah menikahi lelaki kaya agar hidup enak bergelimpangan harta. Lalu ia berkenalanlah dengan Paul Varjak (George Peppard). Paul adalah seorang penulis yang sedang mentok karya. Ia kini menggantungkan hidupnya sebagai lelaki simpanan seorang perempuan kaya. Holly tanpa sengaja mengetahui status Paul sebagai simpanan. Mereka kemudian berteman. Namun lama-lama Paul jatuh cinta dengan pembawaan Holly yang riang, polos, namun ceroboh. Akankah kedua orang yang bergantung dengan harta orang lain ini bersatu?

 

Yang saya suka dari film ini:

-Audrey Hepburn itu memang cantik banget, ya! Ia juga membawakan tokoh Holly Golightly ini dengan pas. Kita dengan mudahnya dibuat jatuh cinta dengan Holly yang ceria, ngeselin tapi polos. Pantesan tokoh Holly Golightly ini fenomenal dan dikenang sepanjang masa. Adegan pas dia nyanyi La Vie En Rose juga cantik banget.

Audrey Hepburn sebagai Holly pas nyanyi La Vie En Rose

-Bajunya bagus-baguuuuuuus! Saya memang selalu suka dengan fashion tahun 1950-an, sih. Tapi kayaknya ini nggak ada hubungannya dengan selera saya. Karena emang baju-baju yang dipakai Holly bagus-bagus semua!

-Ceritanya masih sangat relevan dengan zaman sekarang.

-New York itu baguuuus yaaaaaaa!

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Akting Mickey Rooney sebagai Mr. Yunioshi terkesan maksa

-Endingnya gitu aja. Yah, tapi emang khas film zaman itu ending yang begitu doang udah dianggap cukup, sih.

-Adegan ciumannya juga sinetron banget. Terus dingin pula ciumannya. Nggak ada keliatan jatuh cintanya sama sekali. Plah!

 

Ini trailernya….

Suami Berbintang Taurus

Punya suami berbintang Taurus tuh batu banget!

Sebel ah! *Sampe kantor. Turun dari motor, cium tangan Si Punk Rock sekenanya, langsung melengos pergi*

*Si Punk Rock ngeeng pergi naik motornya*

Bodo!

Buka laptop. Browsing-browsing sambil sarapan depan laptop.

Satpam kantor: Mba, ada suaminya di depan.

Lah, ngapain lagi?

Gw keluar dengan muka manyun.

Si Punk Rock: Senyum dooong…. Aku sedih kamu tadi marah.

Gw: *reflek senyum terus gelendotan meluk*

Pria Taurus itu emang batu banget. Cintanya ke lo termasuk salah satu kebatuannya. They won’t give up on you easily. They will stubbornly love you.

View on Path

Susahnya Cari Vaksin Rabies di Indonesia

Pada tanggal 17 Desember 2017 lalu saya melakukan solo trip ke Ubud, Bali. Iya, solo trip alias berpergian sendirian tanpa bawa suami dan anak. Terinspirasi dari Julia Roberts di film Eat Pray Love, maka saya ingin menghabiskan solo trip saya ini dengan keliling Ubud naik sepeda.

Semuanya berjalan dengan baik dan menyenangkan. Sampailah pada satu hari sebelum kepulangan saya ke Jakarta, yaitu tanggal 19 Desember 2017,

SAYA DIGIGIT ANJING!

Kronologisnya begini, saya lagi naik sepeda (seperti Julia Roberts) di kala hujan rintik-rintik menuju tempat beli oleh-oleh. Saya pakai stelan jas hujan untuk biar nggak masuk angin (Julia Roberts juga manusia. Manusia bisa masuk angin, oke!) Tahu-tahu di samping kanan saya ada suara menggonggong. Saya bukan orang yang takut anjing, maka saya berpikir, “Kenapa tuh anjing? Mungkinkah dia pikir saya ini Julia Roberts beneran? Oooh mungkin dia mau menyapa ramah saya aja kali, ya. Soalnya ini kan Bali, tempat di mana semuanya ramah sama turis.”

Eh tahu-tahu dia gigit betis kanan saya!

DASAR ANJING!

Kaget dengan perlakuan tidak mengindahkan tata krama menyambut turis oleh anjing tersebut, saya kemudian menggowes kencang sepeda agar bisa kabur dari anjing tersebut sambil teriak “Aaaaarrrrgh”. Persis seperti Kobo Chan lari ketakutan.

Pas saya lihat lukanya, alhamdulillah nggak berdarah. Tapi jas hujan saya robek sesuai dengan besarnya caplokan bacotnya. Dan ada bekas merah kecil kecil kayak digigit nyamuk. Saya berusaha nggak khawatir, tapi jadi was-was juga kalau anjing itu berpenyakit rabies (anjing gila). Apalagi mengingat dia mengejar dan mengigit saya tanpa sebab. Bisa jadi dia memang gila (atau tergila-gila dengan Julia Roberts).

Tuh, cuma merah kecil doang. Kayak digigit nyamuk. Tapi kayaknya itu bekas taringnya yang nancep sedikit. Iya, betis saya berbulu. Julia Roberts lagi liburan. Orang kalau lagi liburan sah-sah aja memanjangkan bulu kaki. Apalagi kalau itu hobi.

Pas saya ceritakan kejadian yang menimpa saya pada para bli di tempat belanja oleh-oleh, mereka menyarankan saya untuk segera ke klinik untuk vaksin rabies. Mereka berucap dengan serius, tidak peduli bahwa luka saya cuma merah kecil kayak digigit nyamuk doang.

Okelah, saya pun ke klinik terdekat, yaitu Ubud Health Care. Sesampainya di sana perawat dan dokternya mengecek luka saya dengan seksama. Saya jadi memperhatikan kalau nggak ada satupun warga Bali yang menertawakan luka dan kejadian yang menimpa saya. Beda banget pas saya pulang ke Jakarta. Tiap saya bilang “Di Bali gw digigit anjing,” semuanya memandang saya agak geli bahkan ada yang ketawa terbahak.

Tindakan pertama untuk luka saya adalah dioles alkohol dulu. Rupanya si dokter melakukan ini untuk mengecek apakah ada luka terbuka di luka gigitan saya. Ternyata ada, soalnya saya merasakan rasa perih pas lukanya kena alkohol.

Tindakan kedua, luka saya dibersihkan pakai air sabun oleh si perawat. Dibersihin dan digosoknya lama juga oleh si perawat. Saya pikir ini si perawat (yang kebetulan lelaki) lagi nyuri-nyuri kesempatan megang betis Julia Roberts  aja, makanya gosoknya lama. Ternyata itu adalah pertolongan pertama untuk orang yang yang kena rabies. Yaitu membersihkan luka pakai air sabun dan digosok minimal 5 menit. Kenapa air sabun? Karena menurut penelitian, alkohol / betadine nggak mempan mengusir kuman rabies. Lebih manjur air sabun. Dan digosok yang lama agar sisa-sisa liur atau kumannya keluar dari tubuh kita.

Tindakan ketiga, vaksin rabies. Nah, di sinilah dramanya dimulai. Klinik yang saya datangi nggak punya stok vaksin rabies tersebut. Dia menyarankan saya ke RSUD Sanjwani Gianyar. Menurut mereka vaksin rabies itu memang agak susah didatapkan. Tapi kalau RSUD biasanya punya.

Maka saya pun segera pulang ke penginapan saya di Wahwik’s House. Saya minta tolong ke pak Nyoman pengelola penginapan yang baik hati untuk mengantarkan saya ke RSUD Gianyar naik mobilnya. Waktu itu udah pukul 7 malam waktu Bali.

Kami harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit untuk sampai di RSUD Gianyar. Dalam perjalanan pak Nyoman sang pengelola penginapan yang baik hati menceritakan bahwa kasus rabies karena digigit anjing di Bali itu banyak. Tetangganya ada yang sampai meninggal karena rabies. Kedua anak pak Nyoman pun sudah pernah digigit anjing. Anaknya yang pertama malah lukanya sampai berdarah dan meninggalkan bekas luka bolong.

“Vaksin rabies itu susah didapat di Bali. Katanya pemerintah sudah menyediakan. Kasus digigit anjing di Bali juga tinggi. Tapi tetap saja vaksinnya susah dicari,” cerita Pak Nyoman tentang pengalamannya sampai harus ke Denpasar untuk cari vaksin rabies untuk anak-anaknya.

Sesampainya saya di RSUD Gianyar yang parkirannya sempit dan aneh, ternyata vaksin rabiesnnya tidak tersedia. Ha?

Saya kemudian dirujuk ke sebuah klinik di dekat sana. Meluncurlah saya dan Pak Nyoman ke klinik tersebut. Pas sampe sana pun ternyata vaksinnya nggak ada! Eh slompret juga ya kamu…

Si klinik tersebut merujuk saya lagi ke klinik lain. Tapi saya nggak mau pergi sebelum mereka teleponin klinik yang mereka rujuk untuk nanyain kepastian vaksinnya beneran ada atau nggak. Pas mereka telepon, ternyata beneran nggak ada juga di klinik yang mereka rujuk. Kan!

 

Mereka kemudian merujuk saya ke kelinik satu lagi. Kali ini beneran ada vaksinnya. Nama kliniknya Ubud Clinic. Saya sampai sana hampir jam 9 malam. Dokternya memberitahu kalau untuk vaksin pertama harus dua kali vaksin. Harga satu vaksinnya Rp 500 ribu. Huwaw…. Saatnya menggesek kartu kredit, sodara-sodara. Padahal semua biaya liburan aja saya bayar tunai macam ijab kabul, tapi giliran perkara si anjing saya jadi harus gesek kartu kredit.

Dasar anjing!

Dokternya juga menjelaskan kalau vaksin rabies itu harus diulang sampai minimal 3 kali. Untuk kasus yang parah malah harus diulang sampai 5 kali. Jadwal vaksin ulang saya akan dilakukan minggu depan tanggal 26 Desember 2017. Okeh, saya yakin di Jakarta vaksinnya tersedia lebih banyak. Secara Jakarta geto looch! Pusatnya segala hal di Indonesia.

Ternyata saya salah, sodara-sodari…

Belajar dari pengalaman di Bali, maka saya hubungi dulu rumah sakit satu-persatu sebelum berangkat untuk vaksin. Biar hemat bensin dan waktu, yekan. Rumah sakit di sekitaran Jakarta Selatan yang sudah pernah saya kunjungi mengatakan nggak punya stok vaksin rabiesnya. Beberapa dari mereka menyarankan agar ke Rumah Sakit Infeksi Sulianto Saroso. “Di sana pusatnya vaksin. Pasti ada, mba,” ujar salah satu pegawai farmasi di rumah sakit entah mana saya lupa karena udah terlalu banyak rumah sakit yang saya telepon.

Maka saya telepon lah RS Sulianto Saroso itu.

Dan kata pegawai farmasinya stoknya nggak ada. Memang lagi kosong nasional.

Huwapah??? Julia Roberts mulai panik, tuh. Maksudnya gini, kalau di rumah sakit pusat infeksi yang-katanya-semua-stok-vaksin-tersedia-di-sana aja bilang nggak punya stok, gimana dengan rumah sakit lainnya? Kan mereka dapat stok dari rumah sakit pusat infeksinya, ya nggak sih? <——please correct me if I’m wrong, ya. But I’m not wrong. I’m Krili. What’s your name? Nice to meet you.

Saya kemudian bertanya ke si pegawai farmasi itu, “Terus apa yang akan terjadi kalau saya nggak divaksin? Kan semuanya udah nggak punya stok vaksin, nih.”

“Hmmm…. Kalau itu ibu coba tanya ke dokter aja, ya. Kami kurang mengerti. Saya sambungkan ke dokter jaga di UGD kami, ya.”

Dia panggil saya ‘ibu’???? Hello, Julia Roberts still look young, okay! Eh, tapi kan kalau ditelepon dia nggak bisa melihat keayuan parasku kan ya? Ya sudah, saya maafkan seluruh umat manusia yang memanggil saya ‘ibu’ di telepon. Karena sesungguhnya mereka tidak tahu.

Maka saya ngobrol lah dengan dokter jaga di UGD Sulianti Saroso itu. Saya bilang saya butuh vaksin rabies, tapi vaksinnya nggak ada. Jadi saya harus gimana?

Dokter yang berinisial S: Yah… Harus divaksin ya.

Saya: Tapi vaksinnya nggak ada.

Dokter S: Iya…. Tapi memang pengobatannya itu harus divaksin.

Saya mulai merasa ada yang aneh dari cara bicara dokter ini. Dia sepertinya nggak tahu harus ngapain. “Jadi saya harus gimana, dong? Kalau vaksinnya kosong terus, gimana kalau ada yang darurat digigit anjing dan harus divaksin segera, dok?” tanya saya.

Dokter: Iya… Tapi vaksinnya nggak ada. (What?)

Saya: Kalau saya nggak divaksin gimana, dok? Apa gejala rabies yang harus saya waspadai?

Dokter: Oh kalau gejala rabies itu harus dilihat dulu di Google

Sungguh keren sekali jawaban Dokter S ini. Saya jadi penasaran dia sekolah kedokteran di filial yang mana.

Setelah percakapan yang mind blowing namun unfaedah dengan dokter lulusan filial itu, saya berusaha tetap qaleum. Si Punk Rock menyarankan coba cari di rumah sakit di Bekasi aja dulu. Berhubung kami saat itu lagi menginap di tempat Papa di Bekasi.

Ya udah, saya ikutin lah sarannya Si Punk Rock. Satu persatu saya coba teleponin rumah sakit di Bekasi. Terima kasih kepada Google Map yang menyediakan nomor telepon rumah sakit dengan mudah. Akhirnya saya menemukan satu rumah sakit di bilangan Bekasi Timur yang masih punya stok vaksin rabies. Sebut saja Rumah Sakit Cantik. Begini percakapan saya via telepon dengan petugas farmasinya.

Saya: Halo, farmasi? Saya mau nanya di sana ada stok vaksin rabies nggak, ya?

Farmasi: Sebentar ya saya cek dulu. (Terdengar bunyi menaruh gagang telepon. Tak berapa lama kemudian, dia kembali). Halo, kalau boleh tahu ini buat pasien umum atau BPJS, ya?

Saya: Saya umum.

Farmasi: Oh, kalau untuk umum ada, nih. Tapi kalau untuk BPJS nggak ada. Soalnya kalau BPJS nagihnya lama.

Saya: Oh gitu… Okeh besok saya ke sana ya. Makasih.

Seusai saya tutup telepon, saya merasa lega akhirnya ketemu juga rumah sakit yang masih punya vaksin rabies. Tapi di waktu bersamaan, saya jadi kasihan sama pasien yang bergantung dengan BPJS. Gimana kalau anak mereka yang digigit anjing terus nyari vaksinnya susah, sekalinya nemu ditolak pula karena pakai BPJS. Naudzubillah mindzaliq deh…

O iya, karena satu dan lain hal, akhirnya saya malam itu juga ke Rumah Sakit cantik untuk vaksin rabies. Vaksinnya di UGD. Susternya baik-baik dan ramah semua. Susternya memastikan kalau saya pasien dengan pembayaran umum, bukan BPJS. Saya jadi mengerti sih bahwa Rumah Sakit Cantik ini bukan menolak pasien BPJS dengan tidak berperikemanusiaan. Bagaimanapun juga yang namanya rumah sakit pasti punya banyak pegawai yang harus mereka bayar gajinya. Sedangkan pencairan tagihan dari BPJS mungkin memakan waktu yang tidak sedikit. Telat satu bulan aja udah mengganggu keseimbangan finansial. Dan dari cara mereka mengeluh, sepertinya dananya cair jauh lebih lama dari satu bulan.

BPJS itu sudah terbukti banyak menolong kesehatan orang banyak. Namun memang sepertinya back end-nya kurang tertata baik sehingga menimbulkan efek yang kemudian merugikan si pasien. Yah, anggap aja ini kritik yang membangun untuk BPJS. Semoga BPJS tetap jaya! Yes! Yes! Yes!<—–ala training motivasi.

Maka hari itu saya berhasil menyelesaikan vaksin yang kedua. Eh ternyata vaksin rabies di Rumah Sakit Cantik cuma memakan waktu 300 ribuan. Alhamdulillah yes.

Lalu drama pun terulang kembali ketika sudah waktunya saya vaksin yang ketiga. Menjelang hari vaksin saya kembali berkutat dengan Google Map dan telepon. Satu persatu saya hubungi bagian farmasinya. Saya coba hubungi Rumah Sakit Cantik lagi, dan seperti yang sudah saya perkirakan kalau stok vaksin rabies mereka sudah habis. Jangan-jangan waktu itu vaksin rabies yang mereka suntikkan pada saya adalah yang terakhir. Wah, ini kah rasanya jadi orang ‘aku memang bukan yang pertama, tapi aku jadi mau jadi yang terakhir’?

Ya Tuhan, aku so sweet banget eah ❤

Oke, saya yakin Anda bingung dengan konteks saya menyebut diri saya ‘so sweet’ dalam hal ini. Tapi tolong fokus dengan tema vaksin rabies yang sedang kita bicarakan ini. Jangan mudah terdistraksi. Tolong dong, ini masalah serius tau. Apa sih salah dengan kamu orang? (Baca: What is wrong with you people?)

Berhubung waktu itu liburan di rumah Papa di Bekasi telah usai, maka saya kembali fokus mencari vaksin di rumah sakit di bilangan Jakarta. Tidak mudah mencarinya sodara-sodara… Namun saya tetap bertekad kuat untuk mencarinya sampai dapat. Saya percaya saya pasti bisa. Tekad bundar ini menggolakkan semangat saya persis kayak ibu-ibu yang maksa mau foto wefie dengan Pak Jokowi.

Ketika saya agak kelelahan menelelpon dan mendapat penolakan bertubi-tubi, saya telepon Kementrian Kesehatan. Saya lihat nomornya di laman Twitternya @KemenkesRISaya adukan pengalaman saya dari digigit anjing sampai kesulitan saya mencari vaksin rabies. Si bapak call centernya mendengarkan. Awalnya dia mendengarkan dengan ogah-ogahan, tapi begitu saya bercerita dengan nada penting nan darurat yang penuh semangat, akhirnya dia mendengarkan dengan seksama. Mungkin awalnya dia malas mendengarkan karena saya telepon di hari Minggu, hari di mana semua orang leha-leha bangun siang, sedangkan dia harus bekerja. Namun lama-lama dia mungkin sadar kalau yang nelepon mirip Julia Roberts.

Saya menyarankan agar vaksin rabies diperbanyak, terutama di Bali. Kasihan warga Bali yang harus terus waspada karena banyak anjing berkeliaran. Si bapak call center akhirnya menyarankan saya untuk telepon ke Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta di 021-3800154. “Teleponnya di hari Senin aja ya, bu. Pas jam kerja di jam 8 pagi sampai 4 sore. Di sana ibu bisa tanya puskesmas mana yang masih tersedia vaksin rabies” sarannya.

Okeh, pertma-tama saya maafkan bapak call center itu karena memanggil saya dengan sebutan ‘bu’. Kedua, hari Seninnya saya telepon pihak tersebut seperti yang bapak call center sarankan. 

Tapi seharian ditelepon nggak diangkat!

Ya sudah, kita lupakan sajalah saran bapak call center itu. Saya kembali ke jalan penuh tekad untuk menelpon semua rumah sakit di Jakarta Raya dengan mengandalkan Google Map. Saya anggap aja teleponan sama bapak call center itu sebagai ajang ‘curhat dong, mah’ dengan orang asing. Konon curhat dengan orang yang tidak kita kenal itu kita bisa lebih jujur dan lebih plong. Makasih ya bapak call center sudah mendengarkan curhat aquh.

Akhirnya saya dapat rumah sakit yang masih menyediakan vaksin rabies (waktu itu), yaitu MRCCC Siloam Semanggi. Katanya vaksinnya masih sisa dua. Okeh, artinya aku nggak akan jadi yang terakhir untuk kamuh?

Meluncurlah saya ke sana. Sesampainya saya di sana, saya diarahkan ke klinik Poli, bukan ke UGD seperti di Rumah Sakit Cantik. Pas saya sampai di klinik Poli, dokternya belum datang (konon dokter-dokter di rumah sakit Indonesia memang suka begitu ya? Bertanya serius ini). Saya melihat ada anak lelaki pergelangan kakinya dibalut perban. Dia terlihat anteng aja sambail main game di hapenya. Pas dokternya datang, anak itu dan ibunya dipanggil masuk menghadap dokter. Setelah mereka selesai, giliran saya yang dipanggil.

Dari percakapan antara saya, dokter, dan suster di dalam klinik, saya jadi tahu kalau vaksin rabies yang mereka suntikkan ke saya adalah stok terakhir mereka juga. AKUH JADI YANG TERAKHIR LAGI UNTUK KAMUH? SO SWEET… Stok yang sebelumnya sudah dipakai untuk anak lelaki yang kakinya dibalut perban tadi.

Di situ saya lagi-lagi merasa lega karena akhirnya, saya ulangi, AKHIRNYA selesai juga perkara vaksin rabies ini. Tapi kasihan juga sama anak lelaki yang kakinya dibalut perban tadi. Gimana dia cari vaksin lanjutan lainnya. Rumah sakit pusat infeksinya nggak bisa diharapin. Rumah sakit lainnya stoknya pada kosong. Apalagi kalau dilihat kakinya sampai diperban begitu, artinya luka dia cukup dalam. Mungkin dia butuh vaksin lebih dari 3 kali.

Saya bisa aja jadi orang egois dengan bilang, “derita lo. Siapa suruh digigit anjing”. Tapi saya nggak bisa seegois itu. Satu, karena saya pun digigit anjing secara tiba-tiba tanpa tedeng aling-aling, tahu-tahu di-hap. (Please jangan bayangin Saipul Jamil saat membaca ini). Saya dan mungkin banyak korban lainnya digigit anjing tanpa memprovokasi anjingnya sedikit pun. Kami tidak ada melempari anjingnya dengan batu atau sengaja gangguin dengan nginjek buntutnya kayak yang sering dilakukan Nobita dengan ceroboh, ataupun mengejek si anjing dengan perkataan ‘anjing lu!’. Soalnya mereka memang anjing. Maka ucapan itu tiada artinya buat mereka kecuali memperlihatkan ketepatan kita mengidentifikasi sebuah makhluk hidup.

Lalu ketika Anda sudah digigit anjing dan harus divaksin rabies dengan segera, Anda harus gimana? Wong stok vaksinnya nggak ada.

Maka dari itu dengan blog ini, saya Julia Roberts  menghimbau pemerintah agar memperbanyak stok vaksin rabies, terutama di Bali. Iya, memang angka rabies mungkin tidak tinggi di Indonesia. Namun tetap saja kita harus punya stok yang tersedia untuk kepentingan darurat. Rabies bisa merengut nyawa, lho. Bukan sekadar demam, batuk, pilek, atau gatal-gatal doang.

Bagi para pejuang pencari vaksin rabies di luar sana, tetap semangat, ya! Jujur saya nggak bisa bantu banyak. Namun saya harap tulisan ini bisa memberi kalian semangat dan sadar kalau kalian tidak sendirian.

Dan terakhir, untuk para anjing yang sok gigit gemes sama orang yang tidak bersalah apalagi orang dengan betis ala Julia Roberts seperti saya….

DASAR ANJING!

 

 

 

Review: The Age Of Innocence

Category: Movies

Genre: Drama

Rate: 3,5 out of 5

Film yang diangkat dari novel karangan Edith Wharton ini mengisahkan tentang pergolakan batin Newland Archer (Daniel Day-Lewis). Ia adalah seorang ‘bangsawan’ muda Amerika yang telah bertunangan dengan si cantik May Welland (Winona Ryder). Di tengah-tengah kebahagiaannya itu ia bertemu lagi dengan cinta pertamanya, Countess Ellen Olenska (Michelle Pfeiffer), yang tak lain adalah sepupunya May sendiri.

Countess Ellen Olenska telah menikah dengan seorang bangsawan berkebangsaan Polandia. Namun rumah tangganya diambang keretakan karena ketidaksetiaan suaminya. Maka dari itu Countess Ellen Olenska memutuskan untuk pulang ke New York, Amerika dan mengurus perceraiannya. Tetapi pada masa itu (tahun 1870) perempuan yang bercerai dianggap skandal yang membawa aib untuk keluarga. Maka Countess Ellen Olenska memutuskan untuk menangguhkan perceraiannya agar May, sepupu kesayangannya, tidak diterpa aib oleh keputusannya. Hal ini membawa dilema tingkat tinggi untuk Newland. Ia mencintai Countess Ellen Olenska, namun tidak dapat keluar dari kungkungan ‘nama baik’ kelas atas Amerika.

 

Yang saya suka dari film ini:

-YA ALLAH, RAHMATILAH DANIEL DAY-LEWIS UNTUK KEGANTENGAN DAN KEAPIKAN AKTINGNYA. Di film ini kita lebih banyak melihat muka Newland yang jaim, namun kita dapat melihat kesedihan dari wajahnya yang lempeng itu. Entah bagaimana saya yakin penonton perempuan akan merasa iri dengan rasa cinta Newland yang begitu besar terhadap Countess Ellen Olenska. Long live Sir Daniel Day-Lewis!

-Winona Ryder cantik bangeeeeeet. Sangat cocok dengan perannya si gadis polos nan baik hati.

-Film ini diangkat dari novel yang diterbitkan pada tahun 1920. Ceritanya agak rumit karena keruwetan menjaga image orang kelas atas zaman dulu. Meskipun begitu, kisah nelangsa dilema cinta yang dihadapi Newland ini masih relevan sampai zaman sekarang. Sedihnya hidup dalam kepura-puraan. Mencintai tapi tidak bisa memiliki. Banyak adegan yang bikin kita ikut larut dalam kesedihan secara perlahan, lalu kenelangsaan itu meledak di akhir film.

-Gambarnya bagus, digarap dengan sangat baik oleh Martin Scorsese.

-Set dan lokasinya niat!

-Kritik halus yang dipaparkan di bukunya tentang kehidupan elit kelas atas Amerika pada masa itu terjelaskan dengan baik.

-Ada beberapa adegan cinta menggebu yang berhasil bikin kita agak sesak nafas, padahal adegannya nggak vulgar.

 

Yang saya tidak suka dari film ini:

-Michelle Pfeifer kurang pas membawakan tokoh Countes Ellen Olenska yang digandrungi banyak pria. Rambutnya juga ganggu.

-Cerita jaga image zaman old ini ribet amat, yak. Jadi di tengah-tengah film agak bosan gimana gitu.

 

Ini trailernya…

 

Review: Dunkirk

Category: Movies

Genre: Drama, Action

Rate: 4,5 out of 5

Pecinta karya Christopher Nolan pasti senang dengan hadirnya film ini.

Film berdasarkan kisah nyata ini mengisahkan perjuangan para tentara Inggris pada tahun 1940. Sebanyak 400 ribu tentara Inggris terjebak di pantai Dunkirk, Perancis. Inggris enggan menyerah pada Jerman. Mereka memutuskan untuk mundur dan pulang ke Inggris, namun musuh mengepung mereka dari darat, laut , dan udara. Ironisnya Dunkirk adalah pantai di ujung utara Perancis itu yang letaknya paling dekat dengan Inggris. Seperti yang beberapa kali disebut tentara Inggris di film ini, “Kita bisa melihat rumah kita dari sini”. Namun mereka tidak bisa pulang.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Christopher Nolan berhasil membuat penonton tegang dari awal sampai lima menit sebelum film berakhir. Penonton dibuat merasakan ketakutan, keputusasaan, kekecewaan, bahkan kedinginan yang dirasakan oleh para prajurit yang terjebak di Dunkirk. Eh kalau soal kedinginan apa karena saya nggak bawa jaket, ya?

-Nolan memperkenalkan banyak aktor muda baru yang aktingnya prima semua. Sebut saja Fionn Whitehead, Aneurin Barnard, Barry Keoghan, Tom Glynn-Carney, Jack Lowden, dan masih banyak lainnya.

-Ada Harry Styles juga! Iya, Harry Styles personil boyband One Direction itu. Dan tanpa disangka-sangka, aktingnya BAGUS BANGET! Untuk ukuran orang yang baru terjun ke dunia seni peran, aktingnya oke banget. Harusnya kita udah tahu sih kalau aktingnya emang ciamik, karena Christopher Nolan kan nggak sembarangan milih aktor. Apalagi di film ini dia tambah ganteng pula dengan rambut pendek nan rapinya.

-Aktor berpengalaman juga banyak ikut dalam ini. Mereka semua juga sangat apik memerankan karakter mereka. Sebut aja, Tom Hardy, Kenneth Branagh, Cillian Murphy, dan Mark Rylance. Seneng deh nontonnya!

-Scoringnya keren banget! Scoringnya sangat berperan dalam membuat ketegangan nggak putus-putus.

-Adegan mengharukannya bikin hati menclos.

-Film ini berhasil bikin saya sangat salut dengan profesi militer. Jadi militer itu nggak gampang, sodara-sodara. Emang taruhannya nyawa, fisik harus kuat, harus punya banyak skill, taktis, dan nggak boleh cengeng. I salute you, TNI! —–> filmnya bukan tentang TNI, sih. Tapi boleh dong salut ama militer negera sendiri.

-Set dan lokasinya keren abis!

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Nolan ingin menceritakan film ini dari tiga sudut pandang, yaitu udara, laut, dan darat. Sayangnya kalau kita nggak perhatikan dengan baik-baik, kita akan cenderung bingung di tengah-tengah film. Soalnya maju-mundur plotnya menurut saya kurang rapi.

-Beberapa figurannya kayak kurang berpengalaman.

-Ada beberapa penonton yang kurang suka dengan adegan akhirnya. Saya sih suka-suka aja. Menurut saya itu adalah cara Nolan agar kita berdiskusi seusai menonton filmnya. Memang Nolan selalu bikin film yang membuat kita berdiskusi, bukan?

 

Review: Okja

Category: Movies

Genre: Drama, Action

Rate: 5 out of 5

Film ini dibuka oleh Lucy Mirando (Tilda Swinton) mengumumkan ke media bahwa perusahaannya telah menciptakan seekor binatang dari hasil rekayasa genetik. Binatang yang ia beri nama Super Pig ini diciptakan untuk menutupi kekurangan pangan dunia. Ia pun menjelaskan bahwa saat ini sudah ada beberapa Super Pig yang disebar ke beberapa penjuru dunia untuk dibesarkan oleh peternak lokal. Dalam 10 tahun kemudian akan dipilih Super Pig terbaik yang kemudian akan dikembangbiakkan secara masal.

Sepuluh tahun pun berlalu. Seekor Super Pig yang dibesarkan oleh seorang peternak di pegunungan Korea mendapat kehormatan untuk memenangkan kompetisi Super Pig terbaik. Super Pig yang bernama Okja itu pun akan dibawa ke New York untuk diumumkan ke dunia. Sayangnya Mija (Seo-Hyun Ahn), cucu sang peternak yang telah tumbuh bersama Okja tidak terima begitu saja. Baginya Okja bukan sekadar hewan ternak, Okja adalah temannya. Ia pun nekat melawan korporasi Mirando untuk membawa pulang Okja.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Ceritanya baguuuuuus! Salut dengan ide orisinil Joon-ho Bong sebagai penulis naskah.

-Joon-ho Bong juga menyutradarai film ini dnegan ciamik. Ini film kedua dia yang saya tonton (yang pertama itu Snowpiercer ). Keduanya membuat saya terkesan. Saya selalu suka bagaimana Joon-Ho Bong membuat film yang isu/konfliknya universal. Kedua filmnya membuat kita sadar bahwa dunia ini memang multiras.

-Sangat terkesan dengan akting keseluruhan aktornya. Sebut saja Tilda Swinton yang selalu total. Paul Dano, my love, yang juga sangat keren dalam wajah sendunya. Dan kita akan terkaget-kaget bagaimana Jake Gyllenhaal seganteng itu bisa berubah jadi dokter senorak itu. Akting Seo-Hyun Ahn juga harus dapat perhatian khusus.

-Ada beberapa adegan yang bikin emosi kita campur aduk. Saya hampir nangis di adegan Okja pagar listrik. Tapi ditahan-tahan nangisnya. Malu dong udah gede, masa nangis (halah, apa sih)

-Set dan lokasinya oke.

-Efek CGInya haluuuus banget.

-Banyak pesan moral yang bikin kita lumayan mikir setelah nonton film ini.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Nggak ada, sih. Sejauh ini nggak ada yang saya nggak sukai dari film ini.

 

Ini trailernya…

 

Review: Clockwork Orange

Category: Movies

Genre: Drama, Crime

Rate: 3,5 out of 5

Film ini menceritakan tentang Alex (Malcom McDowell) seorang remaja psikopat. Ia dengan gengnya suka berbuat keonaran dan kekerasan yang mereka sebut sebagai ultra violence. Sampailah pada suatu hari Alex kena batunya. Ia dikhianati oleh gengnya, lalu ditangkap polisi. Selama masa penjara dia terpilih untuk menjalani sebuah program percobaan untuk menghilangkan sifat kekerasan dari seseorang. Program itu berhasil pada Alex. Kini Alex yang baru akan langsung merasa mual-mual tiap ia hendak melakukan kekerasan. Karena dianggap tidak berbahaya lagi, Alex kemudian dibebaskan dari penjara. Sayangnya saat ia mencoba menjalani kehidupan yang normal sebagai orang yang baik-baik, kehidupan malah berbalik jahat pada dirinya.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Ceritanya tidak biasa.

-Set dan propertinya bagus.

-Aktingnya Malcom McDowell oke banget.

-Salut sama Stanley Kubrick yang selalu berhasil menggambarkan keseraman tanpa banyak dialog.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Adegan kekerasannya bener-bener ultra violence. Jangan menilai ultra violence ini sebagai adegan yang banyak darah muncrat di mana-mana, ya. Film ini sama sekali tidak seperti itu. Kekerasan di film ini sangat ‘evil’ nan jahat. Kekerasan-kekerasan di film ini dilakukan secara riang oleh orang yang tidak peduli khas seorang psikopat. Saya sampai trauma. Saya jadi nggak mau nonton film Stanley Kubrick yang lainnya. Saya jadi takut.

OLEH KARENA ITU SANGAT TIDAK DISARANKAN ANAK DI BAWAH UMUR UNTUK NONTON FILM INI. YANG DEWASA AJA TRAUMA. NTAR YANG KECIL PSIKOLOGISNYA MALAH TERGANGGU LAGI.

-Film ini ceritanya mau menunjukkan Inggris di masa depan. Makanya set dan propertinya dibuat ala-ala futuristik gitu. Tapi kan film ini dibuat pada tahun 1971. Jadi gambaran masa depan mereka pun tetap terkesan retro. Paling cuma cara berpakaian gengnya Alex aja yang berhasil mempengaruhi fashionnya anak punk sedunia sampai sekarang.

-Banyak tokoh yang agak-agak nggak penting terus ngomongnya lebay.

-Beberapa dialog terkesan kaku.

-Alurnya kurang mengalir.

 

Ini trailernya…