Review: The Kitchen (2019)

Cuma di The Kitchen wilayah Hell’s Kitchen dipegang sama ibu-ibu.

Film ini mengisahkan tentang tiga orang istri gangster yang di wilayah Hell’s Kitchen. Ada Kathy Brennan (Melissa McCarthy) yang keibuan dan suaminya penyayang, ada Claire (Elisabeth Moss) yang sering mengalami KDRT jadi samsak suaminya, dan ada Ruby (Tiffany Haddish) yang sering diremehkan suaminya karena ia perempuan kulit hitam.
Pada suatu hari para suami mereka tertangkap basah oleh polisi saat sedang merampok sebuah toko. Singkat cerita ketiga suami itu dijebloskan dalam penjara untuk ditahan selama beberapa tahun. Anggota gangster lainnya berjanji untuk membantu menafkahi para istri. Sayangnya uang yang diberikan terlalu sedikit. Kathy dan Ruby menghadap para gangster untuk meminta uang tambahan, eh mereka malah diremehin. Sejak saat itu mereka bertiga memutuskan untuk membentuk kelompok sendiri. Mereka meyakinkan para pengusaha kecil di lingkungan Hell’s Kitchen untuk setoran ke mereka dengan imbalan tempat usaha mereka akan aman dari gangguan apapun. Usaha mereka berhasil, tapi tentu saja para gangster tidak suka dengan tindakan mereka ini…

Yang saya suka dari film ini:
+ Melissa McCarthy itu nggak pernah fail meranin peran apapun sejauh ini. Semua orang tahu dan jadi ingat dengan Melissa berkat perannya sebagai chef baik hati, ngegemesin, namun slebor di serial Gilmore Girls. Tapi Melissa selalu berhasil keluar dari karakter apapun yang dia perankan. Sehingga semua karakter Melissa yang ia perankan rasanya nggak pernah sama. Nggak kayak Jennifer Aniston yang selalu masih ada ‘Rachel’nya di peran apapun yang ia mainkan.
+ Suka banget dengan karakter tukang pukul yang dingin yang diperankan oleh Domhnall Gleeson. Domhnall ini yang berperan jadi Bill Weasley abangnya Ron Weasley di film-film Harry Potter, lho.
+ Saya suka dengan tema feminis dan girl power dari film ini. Ada satu dialog mengesankan yang dilontarkan Kathy saat berantem dengan suaminya. Di situ diperlihatkan bagaimana insekuritas dari sebuah rumah tangga itu umumnya datang dari lelaki yang kegedean egonya.
+ Rambut dan kostumnya saya suka banget. Apalagi film ini ceritanya pas era 70-an, era fashion kesukaan saya.
+ Penulisan naskahnya bagus. Sampai banyak yang mengira kalau film ini adalah berdasarkan kisah nyata. Padahal film ini hanya adaptasi dari komik DC Vertigo

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Set dah Tiffany Haddish, akting lo jelek banget dah ah. Kayak takut banget sik keliatan muke lo jadi jelek. Sok galak lo juga jadi aneh. Serba nanggung gitu. Tiffany…Tiffany…. Jangan gitu lagi ya.
– Lu lagi Elisabeth Moss. Hadeeh 11-12 lu ye ama si Tiffany. Kalau akting temen lo jelek, ya jangan diikutin dong. Harus punya pendirian gitu jadi orang. Walau akting Elisabeth nggak sejelek Tiffany, tapi karakter Claire itu nggak pas banget buat dia. Ini maaf-maaf ya kalau ngomongin fisik, tapi di film ini dia digambarkan sebagai cewek cantik yang selalu digodain orang. Tapi…tampangnya sendiri nggak secantik itu 😦 Cantikan Tiffany kemana-mana. Elisabeth juga nggak berhasil mengeksplor karakter Claire yang dulu lemah karena jadi korban KDRT suami kemudian menjadi seorang perempuan pemberani. Transformasi nggak berasa gitu.

Rate: 3,5 out of 5
Film ini saya tonton di Netflix

Ini trailernya…

Review: Flowers (Season 1-2016)

Beberapa episode dari serial Flowers ini sukses bikin saya sesak karena sedih.

Alkisah hiduplah keluarga Flowers. Sang ayah Maurice Flowers (Julian Barratt) adalah seorang penulis buku anak-anak. Diam-diam dia depresi dan ingin bunuh diri. Maurice punya ilustrator sekaligus asisten orang Jepang yang kelewat ceria. Namanya Shun (Will Sharpe).
Istri Maurice, Deborah (Olivia Colman) diam-diam tidak bahagia dengan pernikahannya dan butuh pengakuan bahwa keluarganya sempurna. Maurice dan Deborah punya sepasang anak kembar yang sudah dewasa: Donald (Daniel Rigby) yang terobsesi dengan mesin dan merasa dirinya adalah seorang penemu ulung dan Amy (Sophia Di Martino) seorang musisi yang diam-diam adalah seorang lesbian.

Pada suatu hari Maurice bangun dari tidurnya dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya hari itu juga. Ia pasang tali di sebuah batang pohon, lalu menggantung dirinya. Siapa sangka batang pohonnya patah. Bunuh diri Maurice gagal. Maurice mengira kalau ia berhasil menyembunyikan depresi dan usaha bunuh dirinya dari keluarganya. Sayangnya ibu Maurice yang lansia melihat itu semua. Dengan kepikunannya, ibu Maurice mencoba mereka ulang tindakan bunuh diri Maurice yang berujung ke cedera serius. Saat ibu Maurice dirawat di rumah sakit, hal-hal yang selama ini keluarga Flowers saling sembunyikan mulai terungkap.

Yang saya suka dari serial ini:
+ Serial ini adalah dark komedi yang cerdas!
+ Standing ovation buat Will Sharpe yang bukan hanya jadi aktor di serial ini. Tapi juga penulis naskah sekaligus sutradara. Ketiganya dia jalani dengan sangat baik. Aktingnya sebagai orang Jepang yang rela berbuat apapun untuk orang lain sangat sempurna! Penulisan naskah serial ini oke banget. Semua karakter mempunyai proporsi yang pas. Penyutradraannya juga bagus.
Mulai sekarang semua karya dengan nama Will Sharpe akan masuk di watchlist saya.
+ Belum lama ini saya menulis blog tentang kondisi kesehatan mental saya. Serial ini menjelaskan kondisi mental health buruk masing-masing karakter dengan cara yang lucu dan mudah dicerna. Seperti tentang kesulitan berkomunikasi dengan orang terdekat sampai frustrasi, tentang penyangkalan akan masalah diri sendiri, tentang usaha mencari perhatian, tentang duka ditinggalkan orang yang kita cintai, tentang usaha menghapus kesedihan dengan berpura-pura bahagia.
Ada beberapa adegan yang sedihnya begitu menusuk kalbu saya. Tapi saya yakin orang-orang yang tanpa kondisi kesehatan mental bermasalah pun dapat merasakan kesedihan yang ditunjukkan di serial ini.
Saya sangat menyarankan orang-orang untuk nonton serial ini untuk memahami orang depresi dan kesehatan mental.
+ Aktingnya Olivia Colman udah pasti okelah ya. Olivia selalu bisa akting mengubah emosi secara cepat.
+ Aktingnya Daniel Rigby juga berhasil banget bikin kita kesel.
+ Set dan lokasinya oke. Rumah mungil mereka yang sesak membuat saya berpikir bahwa rumah Keluarga Weasley di Harry Potter itu mungkin memang beneran ada di kehidupan nyata. Meski begitu, saya pengen banget punya rumah kaya gitu. Apalagi pondok mungil tempat Maurice menulis. Kayaknya enak banget kalau punya tempat kerja khusus kayak gitu. Tapi ya, saya emang selalu suka dengan rumah-rumah mungil di pedalaman Inggris sih.

Yang saya kurang suka dari serial ini:
-Rambutnya Deborah keliatan banget wig dan agak ganggu.
-Saya baru tahu Sophia Di Martino di serial ini. Rupanya dia salah satu aktris yang diperhitungkan karena udah masuk di geng superhero Marvel. Tapi menurut saya, aktingnya di serial ini biasa aja sih. Malah kayaknya dia banyak terbantu oleh make up untuk membangun karakternya.

Genre: Drama, komedi
Rate: 4,5 out of 5
Saya nonton serial ini di Netflix.

Ini trailernya….

Review: I Care A Lot (2020)

Film I Care A Lot ini ngeselin tapi bagus.

Marla Grayson (Rosamund Pike) adalah pengacara yang jahat. Dia mengincar para lansia berduit, lalu ia buat para lansia itu terlihat lemah di mata negara, sehingga mereka harus dimasukkan dalam panti jompo. Setelah itu Marla mengambil kuasa penuh atas aset sang lansia. Tidak peduli bahwa lansia itu punya sanak famili yang lebih berhak untuk mengelola asetnya, Marla berhasil membuat jaringan sindikat antar pengacara-dokter-panti jompo agar ia dapat menguasai harta si lansia secara legal.

Pada suatu hari Marla mendapat telepon dari dokter gacoannya. Sang dokter memberi Marla seorang pasien baru untuk ‘digarap’. Nama pasiennya adalah Jennifer Peterson (Dianne Wiest) seorang nenek-nenek perawan tua. Jennifer baru saja mendapat tunjangan besar karena mengambil pensiun dini. Kini sang dokter mengatakan kalau Jennifer mulai pelupa. Marla pun langsung beraksi cepat. Ia bawa bukti-bukti medis yang sudah dimodifikasi oleh sang dokter ke pengadilan, lalu ia pun sah menjadi ahli kuasa sekaligus pewaris untuk Jennifer. Ia datang ke rumah Jennifer dan langsung menyeretnya ke panti jompo rekanannya. Selesai.

Namun ternyata Jennifer bukanlah nenek-nenek sembarangan. Di luar sana ada sindikat mafia yang mencari keberadaan Jennifer sampai rela membunuh antek-antek Marla. Siapa sebenarnya nenek-nenek bernama Jennifer ini?

Yang saya suka dari film ini:
+ Ceritanya bagus dan menarik! Dari awal aja kita udah disuguhi oleh sosok orang jahat dan tamak bernama Marla. Kita digiring untuk membenci Marla tapi juga nggak berpihak sama si mafia. Endingnya pun ngeselin tapi cukup memuaskan lah.
+ Aktingnya Rosamund Pike berhasil membuat saya sebal dan muak dengan sosok Marla.
+ Baju dan gayanya Marla ciamik banget!!!!!

Saya nemu coat kuning mirip yang dipakai Marla di sini

+ Suka banget dengan unsur feminisme yang kental di film ini. Meski sosok Marla menyebalkan, tapi dia adalah perempuan kuat yang nggak takut apapun.
+ Apresiasi khusus untuk aktingnya Nicholas Logan sebagai anak buah mafia yang kebingungan. Mukanya ekspresif banget. Semua rasa takut dan cemas terbaca dari raut wajahnya doang.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Meski aktingnya Rosamund Pike bagus, tapi saya nggak menemukan perbedaan aktingnya dengan film Gone Girl. Datar-datar mukanya sama. Ego tingginya sama.
– Aktingnya Peter Dinklage yang seharusnya jadi sosok yang menyeramkan dan dihormati tapi di film ini tokohnya malah kayak komedi. Kayak, ‘ini lo maksudnya serius atau becanda sih?’.

Rate: 4,5 out of 5
Film ini saya tonton di Netflix

Ini trailernya…

Review: The Devil All The Time (2020)

Bagaimana iman yang kebablasan justru jadi jalan masuknya syaiton.

Hmmm agak bingung menceritakan film ini karena tokohnya banyak banget. Tapi mari saya coba.

Film ini dibuka dengan menceritakan prajurit Willard Russell (Bill Skarsgård) yang baru pulang dari Perang Dunia II. Saat busnya transit, ia berkenalan dengan seorang gadis pelayan bernama Charlotte (Haley Bennett). Willard langsung jatuh cinta, tak lama mereka pun menikah dan dikaruniai seorang putera yang mereka namakan Arvin (Michael Banks Repeta). Kehidupan keluarga Willard baik-baik saja. Willard juga menanamkan nilai agama ke Arvin. Willard membangun altar gereja kecil di hutan untuk tempat keluarga mereka berdoa.


Suatu hari Charlotte jatuh sakit. Dokter mendiagnosis kalau ia terkena kanker dan tidak bisa disembuhkan. Sejak itu Willard makin rajin mengajak Arvin ke gereja di hutan untuk berdoa demi kesembuhan Charlotte. Arvin dipaksa untuk berdoa setiap hari dan sekencang-kencangnya demi ibunya. Namun saat Charlottte tidak menunjukkan tanda-tanda kesembuhan, Willard makin kehilangan akal. Ia sengaja membunuh anjing kesayangan Arvin dan mempersembahkan bangkainya ke altar gerejanya sebagai nilai tukar ‘ambil saja anjing ini, tapi jangan ambil istriku’. Tentu saja itu sia-sia. Charlotte tetap dipanggil Tuhan dan Arvin jadi tidak mau percaya lagi dengan Tuhan sejak melihat perbuatan ayahnya terhadap anjingnya. Tak perlu waktu lama akhirnya Willard juga menyusul Charlotte.

Tinggal lah Arvin kecil yang kemudian dibesarkan oleh ibunya Willard. Di sana ia tidak kurang kasih sayang karena selain neneknya, ada juga paman dan adik perempuan angkatnya yang menyayangi Arvin. Sampai Arvin dewasa (Tom Holland) ia tetap menolak untuk berdoa pada Tuhan. Maka ketika terjadi sesuatu pada keluarganya, Arvin tidak menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Ia memilih untuk melakukan tindak keadilannya sendiri.

Yang saya suka dari film ini:
+ Kisah Arvin hanyalah salah satu cerita yang ada di film ini. Ada begitu banyak tokoh lainnya yang menceritakan asal-muasal karakter. Semuanya diceritakan dengan baik, runut, mudah dimengerti, dan tuntas. Nggak ada cerita yang bolong. Kita juga ingat terus sama nama tokohnya. Padahal biasanya klo film yang tokohnya banyak, kita ingat karakternya tapi gampang lupa sama namanya.
+ Film ini bertabur bintang! Selain Tom Holland, ada Robert Pattinson, ada Mia Wasikowska, ada Jason Clarke juga. Semuanya bermain dengan optimal.
+ Tapi di antara nama-nama yang udah terkenal itu, akting Tom Holland tetap paling oke. Di film ini, dia bisa bikin kita lupa kalau dia adalah si Spiderman. Di sini kita melihat ia adalah si cowok Amerika kampung tulen. Padahal dia aslinya aktor Inggris. Canggih lah kamu, Tom!
Robert Pattinson yang aktor Inggris juga bagus sih aktingnya. Di sini ia berperan sebagai Pastor Preston yang nggak bener. Cuma aura misterius dan membunuh dia di film ini udah sering saya lihat di film Twilight yang diputar berulang kali di Trans TV. Bedanya dia di film ini nggak secakep di film Twilight aja. (Pake bedak dong biar putih dan cakep lagi kayak Edward Cullen 😛 )
+ Namun, akting yang patut diberi perhatian khusus dan diacungi jempol adalah Harry Melling yang berperan sebagai pastor Roy Laferty yang sedeng (sedeng adalah bahasa Bekasinya ‘gila’). Dan tahukah Anda bahwa Harry Melling ini adalah pemeran Dudley Dursley di film Harry Potter? Iya betul. Itu lah Harry Melling!
+Setelah dipikir-pikir, untuk film yang menceritakan kehidupan para Amerika udik ini aktornya kok banyakan non Amerika yak? Tom Holland, Robert Pattinson, Harry Melling itu orang Inggris. Mia Wasikowska orang Australia. Bill Skarsgård orang Swedia. Ya nggak apa-apa, sih. Justru salut sama akting mereka semua.
+ Film ini mampu menceritakan dengan baik bagaimana iman bisa jadi sumber kejahatan. Bagaimana iman bisa menutup logika (Willard), bagaimana iman yang kebablasan bisa jadi gila (Roy Laferty), bagaimana pencarian iman bisa jadi alasan untuk berbuat jahat (Carl Henderson yang diperankan oleh Jason Clarke), bagaimana terlalu terfokus pada iman bisa membuat manusia jadi naif (Lenora-adik angkat Arvin diperankan oleh Eliza Scanlen), bagaimana iman bisa juga jadi kedok orang untuk berbuat yang tidak bermoral (Pastor Preston).
Film ini tidak bermaksud membuat orang jadi tidak beriman, justru ia ingin mengingatkan kalau segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Beragama itu harusnya membuat Anda menjadi orang yang lebih baik, bukan malah jadi jalan masuk syaiton untuk ngebisikin hal-hal jahat. Persis seperti judul film ini: The Devil All the Time.
Pesan film ini bagus banget untuk jadi renungan.
+ Adegan kekerasan di film ini terlihat nyata banget. Warna darahnya juga bagus. Kayak asli. Sepertinya film Hollywood mulai mengadaptasi adegan kekerasan film-film Korea. Film Korea kan kalau bikin adegan kekerasan emang kayak nyata. Jadi baek-baek ya kalau nonton film Korea non drama romantis. Bisa-bisa trauma 😀
+ Set dan lokasinya oke!

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Film ini banyak adegan kekerasannya. JADI JANGAN DITONTON SAMA ANAK DI BAWAH UMUR 15 TAHUN YA.
-Bill Skarsgård kayak terjebak dengan peran yang begitu-begitu aja, deh. Kalau nggak orang depresif, ya orang jahat. Mas Bill, kamu cari karakter yang lain dong. Semangat! Aku tahu kamu bisa.
-Aksen Amerika kampung Robert Pattinson dan Bill Skarsgård agak terdengar dibuat-buat, deh menurut saya…


Saya nonton film ini di Netflix
Rate: 5 out of 5

Ini trailernya…

Review: Ave Maryam (2019)

Sebel, banyak yang dipotong 😦

Film ini mengisahkan tentang Suster Maryam (Maudy Koesnaedi) yang tinggal di sebuah asrama gereja di Semarang. Tidak ada yang istimewa di hari-hari Maryam sebagai di gereja. Semuanya ia jalani dengan ikhlas untuk melayani Tuhan. Mulai dari memasak, mengurus asrama gereja, sampai memandikan suster yang sudah lansia.
Namun semuanya berubah ketika Romo Yosef (Chicco Jerikho) muncul di gereja Suster Maryam. Romo Yosef yang tampan dan pandai bermain musik membuat Suster Maryam diam-diam mengaguminya. Kekaguman Suster Maryam disambut baik oleh Romo Yosef. Sang romo pun sering mengajak Suster Maryam dalam pertemuan rahasia. Rasa yang ditawarkan oleh Romo Yosef ini asing namun dinikmati oleh Suster Maryam. Tapi bagaimana dengan sumpahnya pada Tuhan untuk mengabdikan hidupnya untuk melayani?

Yang saya suka dari film ini:
+ GAMBARNYA BAGUS WEI! Memanjakan mata banget deh ini film.
+ Posternya juga bagus
+ Ya Allah, itu Maudy Koesnaedi kok udah tua bisa tetap kece, sih? Apa rahasiamu mba? Saya bodo amat ama agamamu mba. Yang saya pengen tahu itu, skin caremu apa? Jawab! *gebrak meja biar Maudy langsung jawab*
+ Salut sama sutradara Ertanto Robby yang di negara tercatat sebagai beragama Muslim, namun bisa bikin film tentang keseharian kaum Nasrani dengan segini indahnya.
+ Chicco Jerikho dengan rambut gondrong itu adalah jaminan seksi, sodara-sodara. Jadi kalau di film ini diceritakan susternya khilaf karena kegantengan doi, YA WAJAR BANGET LAH YA~
+ Set dan propertinya baguuuus. Kaya dan penuh.
+ Aktingnya Tutie Kirana masih numero uno!
+ Ada satu dialog yang jadi favorit saya di film ini:

Jika surga belum pasti untukku, buat apa aku mengurusi nerakamu?

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Ini tuh filmnya banyak dipotong. Jadi kalau abis nonton film ini nggak paham ama ceritanya, wajar banget. Yang dipotong tuh hal-hal krusial yang menghidupkan cerita pula. Seperti tentang latar belakang keluarga Maryam yang Muslim. Sama kejadian Maryam dan Yosef di pantai. Saya tahu kalau adegan ini dipotong setelah dikasih tahu oleh beberapa teman yang beruntung bisa nonton versi fullnya. Cerita aslinya bisa juga Anda baca di Wikipedia. Tapi spoiler alert banget lho, ya.
Udah gitu adegan yang dipotongnya itu kasar pula. Jadi pas di tengah-tengah lagi nonton, kita kayak kaget, ‘lho kok berubah begitu aja adegannnya?’
– Terlepas rasa cinta saya kepada Joko Anwar sebagai sutradara, namun Joko Anwar sebagai pemain film itu nggak bagus. Masih kaku bang. Maaf ya, bang Joko. Anggap aja ini masukan ya. Jangan marah, ya *salim*
– Film ini standar festival lho, ya. Jadi minim dialog tapi gambarnya indah-indah. Mungkin bagi beberapa orang, film ini akan terasa sangat pelan dan membosankan.

Saya tonton film ini di Netflix.
Rate: 3 out of 5

Ini trailernya…

Review: Tenggelamnya Kapal van der Wijck (2013)

Kalau nggak direkomen ama Agam, kayaknya saya nggak akan punya niatan untuk nonton film yang ternyata bagus ini.

Film ini berlatar tahun 1930-an. Alkisah seorang pemuda bernama Zainuddin (Herjunot Ali). Ia terlahir dari ayah yang berdarah Minang dan ibu berdarah Makassar. Sepanjang hidupnya Zainuddin besar di Makassar. Sepeninggal ayah dan ibunya, Zainuddin ingin melihat tanah kelahiran ayahnya di Batipuh, Sumatera Barat. Keluarga Zainuddin di Makassar sempat khawatir kalau Zainuddin tidak akan diterima baik oleh keluarga ayahnya di sana. Karena menurut adat Minang yang berpatok pada garis keturunan dari ibu, maka Zainuddin adalah orang Makassar, bukan lagi orang Minang.
Tapi Zainuddin bersikeras ingin melihat ranah Minang karena ingin sekalian belajar agama di sana. Ternyata benar, ia kurang diterima baik oleh orang-orang di kampung ayahnya. Ia tidak dianggap sebagai orang Minang. Ia kerap dikucilkan dan tak punya teman. Namun Zainuddin dapat menahan itu semua karena hatinya telah terpaut dengan Hayati (Pevita Pearce) sang kembang desa di Batipuh. Cintanya bersambut dan mereka rajin berkirim surat. Namun lagi-lagi darah Minang di Zainuddin tidak dianggap. Sehingga paman Hayati melarang kisah cinta mereka dan mengusir Zainuddin dari Batipuh. Hayati berjanji setia menunggu Zainuddin. Namun kesetiaan Hayati diuji ketika ia dijodohkan dengan Aziz (Reza Rahadian) yang tampan, kaya, dan berdarah Minang asli…

Yang saya suka dari film ini:
+ Film ini gambarnya baguuuuuuuuuus! Jujur, saya tuh awalnya pesimis waktu dulu tahu film ini disutradarai oleh salah satu geng bos-bos sinetron, yakni Sunil Soraya. Tapi ternyata filmnya baguuuuuuuus.
+ Bisa dibilang setengah awal film ini berdialog dengan bahasa Minang. Dan saya suka hal itu karena jadi benar-benar terasa konflik kedaerahannya.
+ Ada yang bilang dialognya sinetron banget. Justru menurut saya di tahun segitu, memang begitulah cara orang berdialog. Dan sepertinya film ini menuruti dialog yang ada di buku aslinya karya sastrawan Minang, Buya Hamka. Karya sastra lama dari Minang memang banyak pakai bahasa Melayu tinggi.
+ Oiya film ini diangkat dari buku berjudul sama. Penulisnya orang Minang, tapi kritik tentang budaya Minang bertebaran di buku ini. Saya sebagai perempuan berdarah setengah Minang bisa mengangguk-angguk setuju dengan kritik yang disampaikan.
+ Film ini jalan ceritanya sedih. Jadi kalau kalian baru putus, ditinggal nikah, ditolak cinta karena miskin, jangan nonton film ini, ya.
+ Salut untuk beberapa adegan yang diperankan secara gemilang oleh Herjunot. Apalagi adegan ketika dia marahin Hayati. Rentetan dialognya berhasil bikin saya ngebatin ‘mampus luh, Hayati!’ Sampai sekarang saya masih suka cari cuplikan adegan itu di Youtube untuk saya tonton berulang kali.
+ Untuk beberapa adegan set dan propertinya bagus banget. Ada beberapa mobil kuno yang masih bagus pula kondisinya buat dipakai balapan. Jarang ada film Indonesia yang mau invest dan repot nyari properti sampai segitunya. Tapi bisa juga mobil itu koleksi sang pemilik film sih

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Duh, Pevita aktingnya nggak pas banget deh di film ini. Dia terlihat terlalu bule untuk jadi perempuan Minang. Udah gitu aktingnya biasa aja. Padahal dia banyak memegang peran penting agar suatu adegan bisa kerasa sedihnya. Tapi ya….gitu deh.
Adegan di akhir-akhir film pas dia melek lagi dari setelah dari kapal van der Wijck malah kerasa ‘Eh kok melek lagi? Mau main cilukba ya kamu?’
– Untuk pertama kalinya saya melihat akting Reza Rahadian biasa aja dan nggak total. Tapi saya masih ber-positive thinking kalau dia begitu karena nggak pengen outshine Herjunot sang aktor utama.
– Figurannya nggak bagus
– Meski Herjunot terlihat ganteng banget pake jas di film ini, tapi model jasnya itu nggak sesuai dengan eranya. Setahu saya jas di era itu modelnya panjang sampai setengah paha. Bukan jas pas body model zaman sekarang.

Harusnya Junot pakai jasnya kayak Reza gitu. Jas panjang dan celananya agak lurus gombrong, bukan skinny pants.


– Baju-bajunya Hayati juga salah era. Harusnya 1930 itu jazz era. Bajunya itu slim dress dengan minim motif. Sedangkan yang dipakai Hayati kebanyakan baju keliatan ketek dengan motif retro tahun 1970an.

Baju era 1930-an
Baju yang dipakai Hayati -__-

Daaaaaan di era itu ngetrendnya rambut pendek kelihatan tengkuk. Sedangkan Hayati rambutnya lurus digerai yang entah gimana malah membuat ia terlihat lusuh di era yang orang-orangnya pada klimis itu.
– Kayaknya film ini bayar mahal Nidji untuk bikin original soundtrack (OST). Sayangnya menurut saya OST-nya yang modern terdengar nggak matching dengan film nuansanya jadul. Mana diulang-ulang mulu chorusnya di film ini. Malah jadi ganggu dan jomplang. Padahal kalau OST itu dibuat versi instrumental biola terus di-insert di film aja cukup sih.
– Posternya jelek.

Rate: 4 out of 5
Saya nonton film ini di Netflix

Ini trailernya….



Review: Downton Abbey (2010-2015)

Akhirnya saya bisa menyelesaikan serial ini. Ini akan jadi salah satu serial favorit saya sepanjang masa.

Serial ini menceritakan tentang keluarga aristokrat Inggris pada awal tahun 1920-an. Mereka adalah Lord Grantham (Hugh Bonneville) yang menikahi gadis kaya dari keluarga terpandang Amerika, Lady Cora (Elizabeth McGovern). Bersama mereka memunyai tiga orang putri, Lady Mary (Michelle Dockery) yang cantik jelita namun tinggi hati, Lady Edith (Laura Carmichael) yang wajahnya paling tidak menarik namun cerdas, dan Lady Sybil (Jessica Brown Findlay) yang baik hati dan rendah hati. Mereka semua tinggal di kastil bernama Downton Abbey.

Pada season pertama diceritakan tentang bagaimana kebingungan Lord Grantham dalam mencari pewaris gelar kebangsawanan dan kekayaannya. Karena ia tidak punya anak lelaki, secara adat Inggris di masa itu anak perempuan tidak diperkenankan mendapat harta warisan. Maka jalan satu-satunya Lady Mary harus mencari suami yang ‘sepadan’ untuk mewarisi kakayaan mereka. Disela upaya mencari jodoh yang tepat untuk Lady Mary, si sulung juga berkecimpung dalam siblings rivalry dengan Lady Edith. Persaingan kakak-adik ini sampai di tahap yang toxic. Mereka tidak segan ‘menghancurkan’ hidup dan masa depan satu sama lain.

Itu adalah konflik yang harus dihadapi oleh kaum ‘atas’ Downton Abbey. Beda lagi dengan kaum ‘bawah’nya, yakni para pelayan Downton Abbey. Mereka pun harus menghadapi konflik di keseharian mereka sendiri. Seperti geng antar pelayan, percintaan antar pelayan, persaingan antar pelayan agar selalu terlihat oleh kaum ‘atas’, gosip antar pelayan, sampai ambisi yang tak segan melukai majikannya sendiri.

Yang saya suka dari serial ini:
+ Julian Fellows sang kreator Downton Abbey ini sangat mahir dalam menulis naskah cerita yang bagus. Mulai saat ini semua karya dengan nama Julian Fellows akan masuk dalam watchlist saya.
+ Seluruh karakter memunyai porsi cerita yang saling menguatkan karakter lainnya. Semuanya memunyai peran penting. Layaknya sebuah rumah, masing-masing karakter punya peran daam menghidupi ruang tertentu di rumah tersebut.
+ Meski serial ini menceritakan kisah tentang satu abad yang lalu, namun serial ini memunyai kesamaan yang erat dengan kita di era milenium ini. Yaitu kegagapan dan adaptasi yang dipaksakan terhadap perubahan.


Para tokoh di Downton Abbey mengalami perubahan besar saat ditemukannya listrik dan telepon. Ada begitu banyak adaptasi yang harus mereka hadapi dengan bermunculannya berbagai alat mutakhir (listrik) di era itu. Ditambah inovasi baru juga memicu perubahan perilaku dan pola pikir manusia. Hal yang sama juga sedang terjadi pada kita dengan munculnya internet. Begitu banyak perubahan perilaku yang membuat kita enggan berubah namun terpaksa karena harus mengikuti zaman.
Konflik-konflik perubahan zaman seperti ini diceritakan di Downton Abbey dengan gamblang namun terasa dekat penonton masa kini.
+ Sangat suka dengan bagaimana serial ini menyisipkan kritik dan pesan pemberdayaan perempuan melalui dialog-dialognya.

Lady Edith


+ Selayaknya kaum aristokrat Inggris yang kalau ngomong itu harus pakai basa-basi dan anti straight to the point, banyak banget kalimat bagus untuk dipelajari dan bisa ditiru untuk negosiasi.
+ Suka banget dengan dialog yang dilontarkan oleh Violet Crawley (Maggie Smith) sebagai nenek yang judes, anti modernisasi, namun sayangnya semua nasehatnya benar.

Violet Crawley


+ Kita akan dibuat senang dan gemas kesal pada masing-masing tokoh di tiap seasonnya secara bergantian. Jadi jangan terlalu suka sama satu tokoh, ya.
+ Saya jadi belajar banyak tentang budaya dan adat Inggris pada zaman itu. Sampai sekarang saya masih takjub bagaimana kaum aristokrat zaman itu harus pakai gaun bagus (pesta) untuk tiap makan malam di rumah. Saya juga salut dengan loyalitas para pelayan keluarga bangsawan yang bisa melihat tuannya sebagai ‘dewa’.
+ BAJU-BAJUNYA BAGUS BANGET YA ALLAH! Tatanan rambut di era 20-an juga kece-kece pisan!

Lady Cora dengan salah satu bajunya yang cakeeep


+ Michelle Dockery itu kulitnya bagus, ya! Tapi setelah diperhatikan lagi, kulit orang-orang Inggris itu kayaknya emang bagus-bagus, deh. Warna putih porselen gitu.

Lady Mary

+ Salah satu impian saya adalah jalan-jalan ke Highclere Castle yang tak lain adalah kastil tempat syuting Downton Abbey. Soalnya baguuuuuus banget pemandangan di sekitar kastil itu. Semoga akan ada rezeki saya untuk bisa ke sana. Amiiien….

Highclere Castle
(Foto: Airbnb)

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Saya sempat trauma nonton season 4 episode 3. Episode ini sempat membuat gempar karena ‘went to far’. Episode ini bisa membungkus kejadian jahat banget dengan elegan. Tapi kita jadi bisa ikut merasakan apa rasanya jadi korban kejahatan tersebut.
– Serial ini tokohnya banyak, udah gitu mereka datang dan pergi pula. Jadi kalau kalian seperti saya yang sempat stop beberapa tahun sebelum akhirnya nonton sampai habis, kalian pasti bingung dengan nama-nama tokohnya. Harus nonton beberapa episode sebelumnya biar jadi paham lagi jalan ceritanya.
– Subtitle bahasa Indonesia di Prime Video suka jelek dan ngaco. Jadi sayang banget bahasa ‘tingkat tinggi’ kaum aristokrat itu tidak terjemahkan dengan baik.

Rate: 5 out of 5
Serial ini (akhirnya selesai) saya tonton di Prime Video

Ini trailernya…

Review: The Report (2019)

Adam Driver itu emang serius dalam berakting, ya. Tapi sayangnya………

Film ini berdasarkan kisah nyata tentang penyusunan laporan kegiatan terlarang CIA. Alkisah seorang petugas investigasi, Daniel Jones (Adam Driver), diminta oleh Senator Dianne Feinstein (Annette Bening) untuk menelusuri pelanggaran HAM oleh CIA. Maka Daniel Jones pun membentuk tim dan membuat kantor kecil di dalam gedung CIA. Di sana ia membaca ribuan dokumen CIA yang akhirnya ia menemukan bukti bahwa biro spionase Amerika Serikat memang melakukan pelanggaran HAM. Mereka tercatat telah menyiksa para tahanan untuk mendapat informasi mengenai ancaman terorisme yang tidak pernah terbukti ada.
Namun begitu tim Daniel Jones mendapat bukti, intrik politik malah menghalangi mereka untuk mengungkap hal ini ke publik. Apa yang harus dilakukan Daniel Jones?

Yang saya suka dari film ini:
+ Adam Driver itu kalau akting emang serius, ya.
+ Banyak fakta yang baru saya ketahui mengenai pelanggaran HAM dari film ini. Lumayan nambah ilmu.
+ Dandanan Annette Bening keren banget buat jadi nenek-nenek terpelajar
+ Untuk pertama kalinya saya melihat Tim Blake Nelson berperan jadi warga negara Amerika yang normal dan pintar. Padahal dia selama ini rajin banget dapat peran polisi kampung dan selalu kelihatan o’on.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Ini film serius dan lumayan bertele-tele. Saya aja nontonnya nyicil selama beberapa hari karena di tengah-tengah film suka bosan. Ini film tipe film yang bikin mikir, sih. Jadi kalau lagi pengen nyari film buat menghilangkan stres dan rileks, sebaiknya cari film yang lain aja, ya.
– Ini film tentang politik Amerika banget. Jadi kalau nggak paham dengan kasus dan situasi politik Amerika, kita jadi nggak bisa merasakan urgensi dan pentingnya perjuangan seorang Daniel Jones.
– Make up untuk Annette Bening keliatan pas banget buat jadi nenek-nenek. Tapi begitu make up buat jadi tahanan Arab keliatan banget jenggot palsunya.
– Para tokoh tahanan Arab yang di film ini nggak pas semua. Nggak ada yang bertampang Arab beneran.
– Adam Driver itu kalau akting selalu serius dan kelihatan banget berusaha total. Sayangnya…………………………………………. mukamu itu rautnya kocak, Mas Adam. Sejauh ini saya baru nonton 4 film Adam Driver (Silence, BlacKkKlansman, Marriage Story, The Report). Semuanya saya melihat kalau Adam Driver ini serius dalam berakting. Tapi mohon maaf nih ya, Mas Adam tampangmu itu ‘kocak’ kayak orang yang mau ngelawak. Jadi begitu dia berusaha tampil jadi pribadi yang serius, yang saya lihat justru dia bertransformasi jadi sosok komedian yang lagi ngambek nggak mau banyak omong.
Doh, maaf ya kalau saya banyak komentar tentang tampang orang (macam tampang saya ganteng selangit aja. Padahal tampang saya kan cantik :P). Tapi yang namanya film itu kan visual, ya. Jadi hal-hal seperti ‘melihat kemasan luar’ ini memang berpengaruh. Setidaknya berpengaruh di saya.
– Nggak ada klimaks yang bikin puas setelah menonton film ini.

Rate: 2,5 out of 5
Saya nonton film ini di Prime Video

Ini trailernya…

Review: Late Night (2019)

Saya nggak suka dengan Mindy Kaling. Tapi harus saya akui kalau dia adalah perempuan yang cerdas.

Film ini mengisahkan tentang seorang host TV terkenal Katherine Newbury (Emma Thompson) yang masa jaya acaranya memudar. Rating acaranya menurun terus. Maka petinggi televisi memutuskan untuk segera mengganti posisinya dengan host baru yang lebih muda.
Dalam usahanya untuk menyelamatkan acaranya, Katherine yang superior dan berhati dingin pun melakukan beberapa perubahan. Salah satunya dengan memperkerjakan seorang perempuan untuk pertama kalinya di tim penulisnya. Perempuan itu adalah Molly (Mindy Kaling). Molly tidak hanya perempuan, ia juga seorang ras India, dan ia tidak punya basic kerja di dunia pertelevisian karena pekerjaan sebelumnya adalah salah satu tim pengawas di pabrik Kimia. Akankah kehadiran Molly bisa mengubah keadaan?

Yang saya suka dari film ini:
+ Ini bukan sekadar film drama komedi. Film ini punya banyak kritik sosial tentang banyak hal. Antara lain: mengenai perempuan sebagai minoritas di dunia kerja, mengenai minoritas ras, mengenai politik antar perempuan dia dunia kerja (baik tentang keirian perempuan dan cara perempuan mengalahkan lawan dengan elegan).
+ Harus saya akui kalau penulisan naskah film ini cerdas. Penulisnya tak lain dan tak bukan adalah Mindy Kaling.
+ Aktingnya Emma Thompson…. Ya Allah perempuan ini keren banget, sih! Saya sudah melihat banyak film yang dia perankan. Di semua filmnya, saya melihat ia seperti orang yang berbeda. Ia tidak punya ciri khas di tiap aktingnya. Semuanya seperti berdiri sendiri.
+ Baju-bajunya Katherine Newbury dan gaya rambutnya bagus banget siiiiih! Love ngets!
+ Ada satu dialog tentang karma yang dilontarkan oleh suaminya Katherine yang ngena di hati saya.
+ Dari film ini saya belajar kalau industri pertelevisian di Amerika sana itu pnya konflik politik yang cukup kental. Semuanya berawal dari rating.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Sejujurnya saya bukan fansnya Mindy Kaling. Entah kenapa saya melihat dia punya punya pribadi yang ‘sengak’. Tapi apalah saya, kenal sama Mindy Kaling aja kagak tapi berani menilai orang dari tampangnya.
– Ada beberapa adegan yang sok lucu, tapi nggak pas. Terlalu slapstick.

Film ini saya tonton di Netflix.
Rate: 4 out of 5

Review: When Marnie Was There (2014)

Ini film animasi garapan Studio Ghibli yang saya tunggu-tunggu muncul di Netflix.

Film ini mengisahkan tentang anak SMP bernama Anna (diisi suara oleh Sara Takatsuki). Ia tak punya teman. Anna tahu kalau dia adalah seorang anak angkat. Namun ada sebuah kejadian yang membuat ia memutuskan untuk menutup diri dari orang tua asuhnya. Menggambar jadi satu-satunya teman Anna untuk menghabiskan waktu.
Pada suatu hari penyakit asma Anna kambuh. Dokter menyarankan agar ia dibawa ke tempat yang udaranya bersih untuk pemulihan. Maka ia diungsikan ke rumah kerabat orang tua asuhnya di sebuah desa pinggir laut di Hokkaido.
Sehari-hari Anna di sana ia habiskan untuk menggambar. Usaha kerabatnya untuk membuat ia punya teman dengan anak-anak setempat tidak Anna manfaatkan dengan baik. Sampailah Anna bertemu dengan Marnie (diisi suara oleh Kasumi Arimura) yang tinggal di rumah pinggir rawa. Anna merasa tidak asing dengan rumah itu. Marnie yang ramah dan ceria menjadi satu-satunya teman Anna di sana. Tidak peduli bahwa Marnie bukan berasal dari masa hidup yang sama dengannya. Siapakah sebenarnya Marnie?

Yang saya suka dengan film ini:
+ Film ini banyak mendapat review bagus. Makanya saya penasaran banget buat nonton. Setelah ditonton, ternyata memang tidak mengecewakan.
+ Gambar-gambarnya Studio Ghibli nggak usah diragukan lagi lah ya. Semua gestur terlihat begitu realistis dengan kehidupan nyata.
+ Rumah kerabat Anna di desa di Hokkaido baguuuuuuus banget. Jadi pengen punya rumah kayu kayak gitu.
+ Film ini memberi pelajaran dan kesadaran yang bagus mengenai pengabaian anak.
+ Endingnya nggak ketebak dan bikin sediiiih T_T
+ Lagu di endingnya baguuuuuuuus!

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Konflik dan cemburu Anna ke Marnie ini agak aneh yang bikin saya curiga dengan orientasi seksualnya.
– Ada beberapa adegan dan tokoh yang nggak diceritakan secara tuntas.
– Keenggakjelasan mengenai asal-usul Marnie ini lumayan bikin gemes karena baru diceritakan di ujung doang. Sehingga tengah-tengah film alurnya jadi terasa lamban dan muter-muter di situ aja.

Film ini saya tonton di Netflix.
Rate: 4 out of 5

Ini trailernya…