review

Review: Arrival

Category: Movies
Genre: Drama, Sci-fi
Rate: 3 out of 5

Alkisah tiba-tiba Bumi didatangi objek misterius yang tersebar di berbagai belahan negara dari luar angkasa. Diyakini bahwa itu adalah alien. Namun maksud kedatangan mereka tidak jelas. Karena objek tersebut bergeming begitu saja. Akhirnya dipanggillah Louise Banks (Amy Adams) seorang ahli bahasa untuk mecoba berkomunikasi dengan alien tersebut. Rupanya tujuan mereka para alien itu sungguh tidak disangka-sangka.

Yang saya suka dari film ini:
+ Idenya bagus!
+ Twist-nya juga oke.
+ Suka dengan aktingnya Amy Adams sebagai Louise yang nggak ambisius tapi tekun.

Yang saya kurang suka dari film ini:
Jeremy Renner nggak istimewa di film ini
– Alurnya agak membosankan. Sepertinya film ini emang targetnya kelas festival.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini trailernya…

Iklan
blog

Review: Sophie’s Choice

Category: Movies
Genre: Drama
Rate: 4 out of 5

Image result for sophie's choice movie poster

Film ini berlatar setelah perang dunia kedua, dilihat dari kacamata Stingo (Peter MacNicol). Ia adalah seorang pemuda desa yang mencoba peruntungannya untuk menjadi penulis di kota besar New York. Ia ngekost di wilayah Brooklyn. Di situlah ia bertemu dengan Sophie (Meryl Streep) dan kekasihnya Nathan (Kevin Kline). Sophie yang berdarah Polandia adalah salah satu penyintas kamp konsenstrasi Auschwitz, Austria. Sedangkan Nathan adalah seorang ahli biologi di perusahaan Pfizer.
Pasangan kekasih itu sering mengalami pasang surut. Sophie yang begitu menghamba cintanya Nathan, sedangkan Nathan suka curiga nggak jelas karena kecantikan Sophie. Meskipun begitu, mereka menjadi teman baik Stingo. Mereka berbagi banyak kisah dan merayakan banyak hal bersama-sama. Sampailah Stingo tahu sebuah kebenaran tentang Nathan. Hal itu menjelaskan segala insekuritas Nathan terhadap Sophie. Hal itu juga yang membuat Nathan bisa tiba-tiba sangat cemburu nggak jelas dengan Stingo dan mengancam akan membunuhnya. Dalam upaya mereka menghindari Nathan, Sophie kemudian menceritakan Stingo sebuah rahasia terdalamnya yang membuat ia terluka batin sampai sekarang.

Yang saya suka dari film ini:
+ Ini adalah film yang membuat Mertyl Streep mendapatkan piala Oscar pertamanya. EMANG KEREN BANGET SIH AKTINGNYA! Dia jadi cewek Polandia dengan aksen yang meyakinkan. Pada saat adegan yang membuat dia terluka batin pun kita bisa melihat kepedihan tak terperi yang mengerikan dari ekspresi wajahnya. Haduh, na’udzubillah mindzaliq deh saya berada di posisi Sophie saat itu.
+ Kevin Kline waktu muda ganteng, ya!
+ Bagian sedihnya] itu sedih bangeeet T_T. Kesedihannya relate banget dengan saya yang…. (aduh, takut spoiler)
+ Suka banget dengan warna film produksi 1980-an. Warnanya terang, hangat, dan jelas.

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Peter MacNicol kok terasa kurang pas aja di sini, ya? Muka dia itu bukan muka pemain drama. Mukanya kocak sih…
– Meskipun aktingnya Meryl Streep keren parah, tapi dia terlihat kurang cantik untuk jadi cewek yang diperebutkan semua orang. Karakternya dibangun sebagai cewek yang kecantikannya memukau. Padahal mah biasa ae…
Meryl Streep memang bukan pilihan utama sang sutrdara, sih. Pilihan lainnya ada yang lebih kece-kece emang. Tapi konon Meryl sampai berlutut mohon-mohon biar dia dapat perannya. Dan hasilnya memang nggak bohong, sih.

Saya menonton film ini di Netflix. Ini dia trailernya…

review

Review: 22 July

Category: Movies
Genre: Drama, Crime
Rate: 2,5 out of 5

Film yang berdasarkan kisah nyata ini menceritakan kembali penyerangan teroris terburuk di Norwegia yang terjadi pada 22 Juli 2011. Film dibuka dengan memperlihatkan Anders Behring Breivik (Anders Danielsen Lie) yang sedang bersiap di gudangnya yang terpencil. Ia membawa perkakas, drum berisi semacam pasir, dan membawanya naik mobil van ke pusat kota. Rupanya isi drum itu adalah bahan peledak. Ia parkir mobilnya di pelataran kantor perdana menteri, lalu ia ledakkan dari jarak jauh.
Sementara semua orang panik dengan jatuhnya korban bom di sana, Anders berkendara ke pulau Utoya. Di sana sedang ada summer camp untuk anak-anak sekolah dari berbagai etnis di Norwegia. Ia masuk ke pulau itu dengan menyamar sebagai polisi yang ditugaskan untuk mengamankan pulau pasca ledakan bom. Padahal ia datang untuk membunuh semua orang yang ia lihat di pulau tersebut.

Yang saya suka dari film ini:
+ Jalan ceritanya memudahkan kita untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada peristiwa di hari itu. Bagi penyuka film berdasarkan kisah nyata/sejarah akan suka dengan film ini.
+ Akting Jonas Strand Gravli sebagai Viljar Hanssen bagus. Saya berharap dapat melihat aktingnya lagi di film Hollywood atau Inggris lainnya. Muka dia sebenarnya lebih masuk jadi aktor di film-film Inggris, sih.
+ Norwegia itu bagus yaaaaa. Walau banyakan gunung salju dan es khas lokasi syuting Game of Thrones, tapi kayaknya di sana kehidupannya amanda (aman damai). Sayang aja dicoreng sama orang gila semacam Anders itu.
+ Banyak yang mengkritik film ini diperankan sepenuhnya oleh orang Norwegia, namun dialognya full bahasa Inggris. Kalau saya sih suka-suka aja. Fakta bahwa seluruh aktornya berdialog bahasa Inggris dengan logat Norwegia yang masih kental membuat saya makin suka. Jadi masih terasa aslinya. Menurut saya…

Yang saya tidak suka dari film ini:
-Ceritanya agak dipanjang-panjangin untuk hal yang nggak perlu. Mungkin maksudnya untuk membangun dramatisasi, tapi yang ada malah bikin bosan.
-Aktingnya Anders Danielsen Lie sebagai teroris narsistik nggak oke. Sok di-cool-cool-in. Maksud doi mungkin biar keliatan pembunuh berdarah dingin gitu kali, ya. Tapi malah jadi kayak sok cool aja.
-Kurang drama, sih. Jadi drama yang ada kayak nggak penting gitu.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini dia trailernya…

review

Review: The Revenant

Category: Movies
Genre: Drama
Rate: 5 out 5

Image result for the revenant

Film ini mengisahkan tentang Hugh Glass (Leonardo DiCaprio) seorang penunjuk jalan di Amerika pada tahu 1820-an. Ia dan anak lelakinya, Hawk (Forrest Goodluck), disewa jasanya oleh seorang kapten pemburu sekaligus penjual bulu binatang.
Pada suatu hari di musim dingin saat sedang mengumpulkan bulu berang-berang di tepi sungai, kelompok mereka diserang oleh suku Indian. Mereka pun melarikan diri melewati hutan. Waktu Glass sedang mencari arah jalan untuk kelompoknya, ia diserang oleh beruang. Tubuhnya tercabik-cabik, namun ia masih bisa diselamatkan. Sayangnya, dia tidak bisa berjalan dan harus ditandu ke mana-mana. Melihat kelompoknya kelelahan dan medan alam yang tidak memungkinkan ia untuk menandunya lebih jauh, sang kapten kemudian meminta maaf dan terpaksa meninggalkan Glass di hutan untuk mati dengan tenang. Orang upahan sang kapten, antara lain Fitzgerald (Tom Hardy), Bridger (Will Poulter) dan Hawk memutuskan untuk tinggal menemani Glass sampai ajalnya tiba. Sang kapten berpesan agar Glass dimakamkan secara layak. Tetapi tidak semua berjalan sesuai dengan rencana. Hawk tewas dan Glass bangkit dari tandu pesakitannya untuk membalas dendam.

Yang saya suka dengan film ini:
-LEONARDO DICAPRIO AKTINGNYA BAGUS BANGET YA WOI! Kita bisa kayak bisa ikut ngerasain rasa sakit di luka badannya, semua rasa sedihnya, dan rasa kedinginan yang menggigit tubuhnya. Menurut beberapa wawancaranya, Leo mengaku kalau akting di film ini adalah tersusah yang pernah dia lakukan. Dia jadi makan hati bison mentah beneran, padahal dia vegetarian. Dia harus keluar masuk sungai yang dinginnya na’udzubillah. Ditambah sutradaranya, Alejandro G. Inarritu, ambisius parah. Konon pas bikin film ini dia gampang banget mecat kru syutingnya kalau ngeluhin medan syuting.
Setelah nonton The Revenant ini, saya jadi senang lagi karena keberhasilan Leonardo mendapat piala Oscar berkat kegigihannya di film ini.

Image result for never never give up leonardo
You deserve it, man.

-Gambar film ini bagus. Hening, dingin, tapi cantik.
-Tom Hardy aktingnya nggak kalah gokil. Tapi masih tetap the best-nya Leo, sih.

Yang saya tidak suka dari film ini:
-Apa ya? Kayaknya karena banyak adegan kekerasan yang sadis sih. Nggak melulu berdarah-darah, tapi ‘ya ampun kok tega…’ gitu.
-Jadi tahu kalau pembantaian kaum Indian di Amerika itu kayak gitu ya….

Film ini saya tonton di Netflix.
Ini dia trailernya…

review

Review: Call Me By Your Name

Category: Movies
Genre: Drama, Romance
Rate: 4,5 out of 5

Related image

Ini adalah kisah cinta sepasang lelaki. Iya, lelaki.

Film ini mengisahkan tentang Elio (Timothee Chalamet) seorang bocah 17 tahun dari keluarga intelek. Ayahnya seorang profesor arkeologi dan ibunya adalah perempuan yang cerdas juga. Sehari-hari mereka menggunakan tiga bahasa: Inggris, Perancis, dan Italia. Elio sendiri adalah anak yang sangat berbakat di bidang musik klasik.

Pada suatu hari di musim panas, ayah Elio mengundang salah satu murid terpintarnya untuk berlibur di rumah mereka di Italia. Sekaligus untuk menyelesaikan pencarian benda-benda historis yang mereka temukan di sana. Murid itu bernama Oliver (Armie Hammer), pria berkebangsaan Amerika yang tampan dan charming. Meskipun Elio merupakan anak populer di lingkungannya dan ada perempuan sebayanya yang menyukai dirinya, namun justru Elio hanya ingin mendapat perhatian dari Oliver. Ada apa dengan dirinya?

Yang saya suka dari film ini:
-Gambarnya indaaaaaaaaaaaah banget. Rasanya pengen banget ke pedalaman Italia pas musim panas. Tinggal di rumah antik berbatu, berenang di kolam atau danau, makan siang di halaman rumah. Duh, bagus banget…
-Timothee Chamalet menggambarkan anak berumur berumur 17 tahun yang sedang jatuh cinta dengan sangat keren. Dia bisa dengan sangat apik memperlihatkan ke penonton rasa ingin diperhatikan oleh gebetan tapi gengsi ngomong duluan.
-Berhubungan dengan poin sebelumnya, akting Armie Hammer sebagai Oliver juga patut diacungi jempol. Dia sebagai lelaki lebih tua dan rasional membuat kisah pasangan ini makin gemas saat terjadi tarik-ulur. Ngomong-ngomong Armie Hammer ganteng banget yak! o_O
-Oiya, tarik-ulurnya keren banget, gaes! Semuanya ‘halus’ dan realistis.
-Meskipun kisah cinta ini tentang sepasang lelaki, tapi penggambarannya juga nggak kalah indah. Saya sama sekali nggak merasa awkward pas ngeliat dua orang lelaki berciuman. Yang ada malah ikutan gemas ngikik-ngikik sendiri karena ikut senang cinta mereka bersambut.
-Film ini menceritakan semua tahap dalam cinta dengan lengkap. Mulai dari naksir, kode-kodean, tarik-ulur, cemburu, sampai mabuk kepayang.
-Suka banget dengan penokohan dua lelaki ‘maskulin’ yang sedang jatuh cinta. Meskipun mereka gay, tapi nggak ada yang ngondek. Justru itu malah bikin saya, sebagai perempuan, makin meleleh (juga menyayangkan kenapa lo nggak ama gue aja sih bang? Hadoh….ganteng-ganteng nggak suka cewek)
FYI kedua pemeran utama lelaki di film ini adalah pria straight. Salut banget buat totalitasnya!
-Pas nonton film ini, saya sebagai ibu jadi mikir: gimana ya cara bisa mendidik anak bisa jadi kayak Elio? Bukan masalah orientasi seksualnya, melainkan anak yang santun, cerdas, pintar, dan masih dekat dengan orang tuanya di usia puber?
-Tokoh orang tua Elio juga bikin saya salut. Gimana bisa jadi seperti mereka, ya?
-Banyak dialog yang bagus! Apalagi dialog ayahnya Elio di bagian akhir. Bikin terharu (walau nggak sampai bikin nangis sih).
-Banyak adegan dan gestur ‘sensual’ (bukan jorok) yang bikin deg-degan. Kayak foto ini…

Image result for call me by your name


Yang saya tidak suka dari film ini:
-Apa ya? Film ini standar festival, sih. Jadi kalau kurang suka dengan film alur lambat, biasanya akan bosan.
-Film ini banyak adegan bobo-bobonya. Jangan ditonton sama anak di bawah umur, ya.


Film ini saya tonton di Netflix.
Ini trailernya…

review

Review: Athirah

Category: Movies
Genre: Drama
Rate: 3,5 out of 5

Terima kasih kepada Netflix, saya jadi bisa mengejar ketinggalan dalam menonton film-film Indonesia.

Film ini diangkat dari buku biografi Athirah yang ditulis oleh Alberthine Endah. Athirah tak lain adalah ibunda bapak Jusuf Kalla.

Athirah (Cut Mini Theo) adalah istri dari pengusaha terpandang di Makassar. Ia memunyai tiga orang anak dan sedang mengandung anak ke-empatnya. Pada saat hamil, ia mulai melihat perubahan dari suaminya. Ia jadi lebih suka bersolek dan jarang pulang ke rumah. Sampailah ia mendapat kabar kalau suaminya telah menikah lagi di Jakarta.

Tentu saja hal ini membuatnya terpuruk. Namun Athirah menolak menyerah begitu saja. Meskipun ia tak punya kuasa untuk melawan.

Yang saya suka dari film ini:
– Film ini cantik banget, sih. Gambarnya semuanya indah dan memanjakan mata.
– Aktingnya Cut Mini oke. Nggak terlalu banyak dialog, tapi bisa menggambarkan semua emosi yang berkecamuk dari raut wajahnya.
– Meskipun film ini fokusnya ke sang sitri yang dimadu, namun film ini dengan pintar juga memperlihatkan bagaimana dampak poligami pada anggota keluarga lainnya.
– Riri Riza menyutradarai film ini dengan apik. Tapi siapa sih yang bisa meragukan hasil karya Riri?

Yang saya nggak suka dari film ini:
– Ini film standar festival, sih. Jadi filmnya penuh dengan nilai estetis. Kalau yang nggak suka film jenis kayak gini, pasti merasa bosan. Tapi kalau saya sih pas nontonnya sih nggak ngerasa bosan.
– Tokoh suami Athirah kurang cakep untuk jadi bahan rebutan. Tapi ya, pelakor mah kalau lelakinya pengusaha yang banyak duit, biasanya bodo amat sama tampang. Bukan begitu Bu Dendy? Kowe butuh duwek? Ha? Butuh duwek? Nyoooh! Duwek, nyooooh! *lempar duit koin biar pelakornya sakit. Dan emang punya duitnya koinan semua sih. Sesungguhnya melabrak dan mengusir pelakor itu jihad.

Ini trailernya…

review

Review: Nothing To Hide

Category: Movies
Genre: Drama
Rate: 4 out of 5

Image result for nothing to hide netflix

Film Perancis yang ditayangkan di Netflix ini menceritakan tentang 7 orang sekawan yang kumpul untuk makan malam bersama. Si tuan rumah, pasangan Vincent (Stephan De Groodt)-Marie (Berenice Bejo) yang diam-diam sedang berjuang agar rumah tangga mereka tetap utuh, ada pasangan Marco (Roschdy Zem) dan Charlotte (Suzanne Clement) yang saling berahasia, ada pasangan Thomas (Vincent Elbaz)-Lea (Doria Tillier) yang lagi mesra-mesranya karena baru menikah, dan ada Ben (Gregory Gadebois) si bujangan.

Makan malam mereka berlangsung baik-baik saja. Sampailah tercetus permainan untuk mereka menaruh handphone masing-masing di tengah meja, lalu semua pesan dan telepon masuk akan dibaca serta didengarkan bersama. Dari situlah satu-persatu rahasia terdalam mereka terungkap…

Yang saya suka dari film ini:
-Ceritanya orisinil dan konfliknya realistis banget
-Twistnya lumayan wuaw-wuaw
-Sangat suka dengan seluruh akting mereka. Film yang banyak dialog ini memang harus dihidupkan dengan akting yang kuat. Nonton film ini membuat saya teringat dengan film Carnage (2011) yang intense dengan dialog. Sampai-sampai saya jadi mikir, ‘gimana ya mereka menghafal dialog itu semua?’
-Suka banget juga dengan adegan sang ayah menasehati anak perempuannya via telepon. Begitu menyentuh dan pesannya pas banget.
-Jangan terkecoh dengan covernya yang terkesan ini adalah film komedi, ya. Pada kenyataannya saya malah jadi agak tegang karena cemas akan rahasia mereka terbongkar.

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Tokoh Marie kayaknya kemudaan dibanding yang lainnya.
-Rambut Lea lama-lama kok kusut nggak jelas. Gatel pengen nyisir. Kayaknya tim make-upnya kurang teliti di bagian ini.

Ini trailernya… (yang di Netfilx ada subtitelnya kok)


https://www.youtube.com/watch?v=Gf8QydKdOis