Review: Three Identical Strangers (2018)

Kalau aja ini bukan film dokumenter, kita semua PASTI akan mengira kalau kisah Three Identical Strangers ini adalah bohong.

Film ini dibuka dengan Robert ‘Bobby’ Shafran yang sudah berumur 56 tahun menceritakan hari pertamanya masuk kuliah di tahun 1980. Di hari itu, tanpa ia sangka-sangka, semua menyambut dia dengan hangat seolah-olah ia adalah teman lama yang sudah pernah kuliah di situ. Dan semua memanggilnya dengan sebutan ‘Eddy’. Siapa sih ‘Eddy’ ini?

Sampailah salah satu mahasiswa di sana yang kenal baik dengan Eddy sadar bahwa Bobby ini adalah kembarannya Eddy. Bobby dan Eddy adalah sama-sama anak angkat yang ternyata kembar.
Singkat cerita Bobby dan Eddy akhirnya berjumpa. Pertemuan mereka jadi berita sensasional sebagai anak kembar yang berjumpa lagi sejak terpisah saat lahir. Begitu tampang Eddy dan Bobby masuk koran, teman-teman David Kellman langsung bisa melihat kalau Eddy dan Bobby itu mirip banget dengan David Kellman. Mereka yakin kalau David adalah kembaran Eddy dan Bobby juga. Benar saja, Eddy, Bobby, dan David adalah kembar tiga (triplet) yang terpisah sejak bayi!

Sejak itu triplet Eddy, Bobby, dan David jadi berita sensasional di mana-mana. Bukan hanya kaena kisah pertemuan mereka yang tidak biasa, namun juga karena mereka membawa fakta yang sangat unik. Yaitu meski telah terpisah sejak lahir dan besar di keluarga yang berbeda-beda, mereka ternyata tetap punya kesamaan bawaan seperti gerak tubuh dan selera yang sama. Mereka bertiga bahkan punya kakak perempuan yang umurnya sama.

Triplet ini jadi viral. Mereka diundang di berbagai media. Mereka samapi diundang main film sama Madonna secara pribadi. Mereka juga bikin bisnis bareng dan sukses. Mereka adalah kembar tiga yang fenomenal.

Namun pertemuan mereka ini menimbulkan tanya di diri mereka dan keluarganya. Kenapa selama ini mereka dan keluarga angkatnya tidak pernah diberitahu kalau mereka sebenarnya anak kembar tiga? Kenapa mereka dipisahkan? Saat mereka mencari tahu fakta asal-usul mereka, terkuaklah fakta yang sangat tidak disangka-sangka…

Yang saya suka dari film ini:
+ Fakta yang terkuak benar-benar tidak disangka-sangka. Kadang terlalu kebetulan itu ternyata bukan kebetulan sama sekali, sodara-sodara…
+ Pola bertuturnya sangat baik. Kita jadi bisa mengenal kehidupan ketiga keluarga dengan sangat mudah. Bahkan beberapa tokoh bisa terasa sangat dekat degan kita.
+ Film ini membuat saya paham betul kalau beberapa sifat manusia itu memang bawaan dari lahir. Namun sikap manusia bisa bisa diajarkan dan dipengaruhi oleh lingkungan. Hal ini dapat terlihat dari David Kellman yang ceria dan full of love.
+ Ternyata ikatan batin anak kembar itu beneran nyata ya gaes…
+ Senang banget dokumentasi nyata di film ini ada banyak. Jadi gambarnya beragam. Nggak melulu satu foto di-zoom dan ditayangin berulang-ulang.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Nggak ada sih. Ini dokumenter yang bagus tentang hal yang ‘too good to be true’.

Rate: 4,5 out of 5
Film ini saya tonton di Netflix.

Ini trailernya…

Review: Rebuilding Paradise (2020)

Rebuilding Paradise memberikan gambaran jelas bagaimana sedihnya kehilangan rumah dan kotamu akibat ulah manusia.

(Foto: National Geographic)

Pada 8 November 2018, ada kebakaran di hutan dekat kota Paradise, California, Amerika Serikat. Para pemadam kebakaran langsung turun tangan untuk memadamkan api. Namun mereka tidak bisa mengalahkan kekuatan angin yang membuat api menyebar cepat. Lama-lama api mulai menjalar ke pemukiman warga Paradise. Para pemadam kebakaran benar-benar tidak kuasa menahan kekuatan api, hingga akhirnya seluruh kota Paradise habis terbakar. Langit di kota Paradise merah membara karena api. Siang hari di kota Paradise seperti malam hari karena asap tebal menutupi cahaya matahari. Tidak ada lagi rumah warga, tidak ada lagi pusat kota, semua habis tinggal rangka dan abu.

Paradise, CA – Piles of debris from burned buildings close to an antique mall in Paradise, CA. (Credit: National Geographic)


Akhirnya diketahui bahwa penyebab utama kebakaran ini adalah kelalaian perusahaan listrik yang tidak memelihara tiang-tiang listrik mereka yang terpasang di hutan. Percikan listrik dari tiang-tiang itu memercikkan api yang menyebabkan kebakaran hutan.
Belakangan diketahui pula bahwa akibat kebakaran itu, air di kota Paradise kini tercemar sampai-sampai bukan hanya tidak bisa digunakan untuk minum, dipakai untuk mandi saja lambat laun bisa menyebabkan kanker.

Carly Ingersoll seorang psikolog sekolah. Ia sedang berusaha mempunyai keturunan. Namun dokter melarang dia untuk hamil karena ia menolak pindah dari Paradise pasca bencana. Ia juga sudah pernah mandi pakai air kota Paradise yang tercemar. Dokter takut kandungan kimia yang sudah masuk melalui kulitnya akan berbahaya untuk janin. (National Geographic/Sarah Soquel Morhaim)

Meski sudah diberikan rumah pengungsian, namun masih banyak warga Paradise yang menolak hengkang dari kota yang sudah hancur-lebur itu. Karena warga Paradise sangat mencintai kotanya.

Sang sutradara, Ron Howard, mengikuti perjalanan hidup dan usaha beberapa warga kota Paradise untuk bisa bangkit kembali. Ada dari sudut pandang polisi, petinggi sekolah, psikolog sekolah, mantan walikota, dan beberapa warga biasa. Ron mengkuti kisah hidup mereka berharap dapat melihat perubahan ke arah yang lebih baik.

Yang saya suka dari film ini:
+Film dokumenter ini sama sekali nggak pakai narator, tapi kita bisa paham dan ikut merasakan kesedihan para korbannya.
+Film ini mengambil segala pihak yang terlibat di kota tersebut. Bukan hanya warganya, tapi juga anggota dewan kotanya, pihak perusahaan listriknya, sampai kaum lansia yang mengerti sejarah kota tersebut.

Michelle John salah satu petinggi sekolah di Paradise. Pasca bencana ia harus mutar otak agar para muridnya tidak ketinggalan pelajaran. Ia juga tetap merayakan wisuda para murid kelas 12 di lapangan, meski ia harus membabat pohon di sekitar sekolah yang berpotensi menyebarkan abus racun di udara. (Credit: National Geographic)


+Banyak video kebakaran yang terekam. Dari situ kita bisa melihat bagaimana sebuah kota berubah jadi api neraka. Sampai aspal jalan aja kebakar. Sen cing ping!

Salah satu rumah yang terbakar di Paradise Nov. 8, 2018. (Photo by Noah Berger)


+Sepertinya Paradise ini beneran kota yang bagus dengan warga yang baik. Makanya sepanjang film ini kita akan melihat bagaimana warganya cinta banget sama kota Paradise.
+Ada pengakuan anak yang bapaknya yang udah lansia meninggal pas kebakaran itu. Sediiiiiiiih banget ngebayanginnya T_T
+Warna dan gambar film ini baguuus! Emang beda dah kalau yang sutradarain itu pemain lama di Hollywood.
+Ron Howard matanya jeli banget menggambarkan ironi kebahagiaan kecil dari warga dari kota yang hancur.

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Maaf ya, bukan maksudnya meremehkan permasalahan orang di Paradise, tapi mungkin karena saya tinggalnya di Indonesia yang rentan bencana alam kali, ya. Jadi begitu lihat rumah pengungsiannya bagus-bagus dan layak huni ada juga yang hidup sementara di mobil trailer, perasaan saya kayak ‘hmmm kalo elo-elo pada tinggal di negara gue, kalian udah nangis darah kali yak…’

Arabella Young, salah satu anak yang mengungsi di mobil trailer bersama keluarganya. (Credit: National Geographic)


-Film ini banyak tokohnya, tapi diceritakan cuma seceplok-seceplok. Akhirnya beberapa tokoh diceritakannya nggak tuntas.

Film ini bisa ditonton di channel National Geographic hari Sabtu, 14 November 2020 pukul 21:00
Rate: 4 out of 5

Ini trailernya…

Review: Walking The Yangtze With Ash Dykes (2020)

Apa jadinya kalau kita memutuskan untuk menyusuri sungai Yangtze di Tiongkok?

Ash Dykes

Kenalin nih, namanya Ash Dykes asal North Wales, Inggris. Dia adalah seorang petualang atau explorer yang sudah tiga kali menyabet gelar rekor dunia. Salah satunya adalah sebagai orang yang berhasil treking keliling Madagascar sepanjang 2,600 kilometer pada tahun 2015. Kini ia memulai petualangan barunya: treking meyusuri Sungai Yangtze di Tiongkok yang merupakan sungai terpanjang ketiga di dunia (6,600 kilometer).

Di dokumenter ini diperlihatkan persiapan awal Ash untuk menjalankan misinya. Mulai dari belajar bahasa percakapan dasar China, peralatan apa aja yang dia bawa, sampai beli kuda untuk menemani perjalanan awalnya.

Ash dengan kuda tahan banting yang ia beri nama Castor Troy. Tapi sepanjang film saya dengar namanya itu ‘kastachui’ haha

Setelah perlengkapan buat misinya udah siap, Ash pun pergi ke pegunungan Tanggula di pedataran tinggi Tibet untuk ke sumber mata air utama Sungai YangTze. Dari situlah perjalanan misi Ash menyusuri Sungai Yangtze dengan jalan kaki akan dimulai. Ash akan menelusuri sungai sampai ujung kota Shanghai dimana di situlah muara Sungai Yangtze ke lautan.

Ash pas nemuin sumber mata air utama Sungai Yangtze bersama guide dan crew yang waktu itu masih ikutan mendokumentasi perjalanannya sebelum akhirnya pada menyerah bertahap.

Serius jalan kaki? Iya serius banget dia. Dengan bawa tas ransel carrier seberat 30-an kg, dia telusurin tuh sungai. Selama perjalanan, banyak banget tantangan yang harus dia hadapi. Dari tantangan dari sesama manusia, seperti para guide-nya yang nggak ada yang betah karena kelelahan atau takut. Sampai tantangan dari alam yang banyak banget. Mulai dari binatang buas, hujan badai, longsor, dan masih banyak lainnya.

Yang saya suka dari film ini:
+ Ash Dykes ini sungguh inspirasional. Dari film ini saya bisa melihat bahwa faktor keberhasilan Ash bukan hanya soal kegigihan. Tapi juga soal bagaimana ia mempertahankan positive attitude dan positive mindset. Di film ini saya tidak melihat satupun komentar negatif atau satir dari Ash tentang apapun yang ia hadapi. Dia sempat tersesat, peralatannya dicuri, harus mutar jalan di gunung, numpang tidur dan makan di warga lokal, tapi dia jalanin dengan senang dan senyum terus. Positive mindset selalu bisa bikin kita mikir jernih buat bertahan hidup.

Dari gunung bersalju….
Sampai musim panas, Ash tetap jalan dengan tersenyum.


+ Ash menghabiskan waktu perjalanan ini sekitar satu tahun. Ia tidak melulu menyusuri di samping sungai aja, tapi juga mampir ke kota-kota yang dilewati sungai Yangtze. Di kota-kota itu Ash berusaha mempelajari dan memahami makna sungai Yangtze untuk warga di sana.
+ Film ini dibagi menjadi dua bagian (episode). Pembagian episode ini dibuat dengan proporsional. Bagian pertama lebih banyak menceritakan bagaimana Ash menjalani perjalanannya dan bertahan hidup di alam liar. Sedangkan di bagian kedua lebih banyak membahas tentang budaya dan warga yang ia singgahi.
+ Sebelum saya nonton film ini, Tiongkok tidak pernah masuk ke list negara yang ingin saya kunjungi. Tapi sekarang, setelah melihat Tiongkok yang direkam oleh Ash adalah negara yang indah banget, ya! Lembahnya bagus-bagus dan menyejukkan mata. Dan sungai Yangtzenya, meski di tiap daerah warna airnya bisa berbeda, tapi sungainya bersih nggak ada sampah. Sebagai orang Indonesia yang tinggal di Jakarta, pemandangan sungai bersih tanpa ada sampah itu memang langka.

Tuh, bagus kan?
Cakep banget masya Allah…
Kayak lembah-lembah tempat tinggalnya Kung Fu Panda kan?

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Meski kegiatan Ash mampir ke kota-kota untuk mempelajari budaya dan konservasi alam di sekitar sungai yang ia telusuri itu menarik, tapi jadi kurang memperlihatkan sisi adventurous-nya.
– Film ini agak terkesan terburu-buru untuk menceritakan perjalanan yang menghabiskan waktu satu tahun. Mungkin memang akan bosan nonton orang yang melakukan perjalanan sendirian. Tapi kalau dibuat kayak vlog harian, saya rasa akan tetap menarik untuk ditonton.
– Tidak ada keterangan waktu dan tanggal di film ini. Makanya sempat kaget begitu nonton bagian Ash ke kota Wuhan. Udah ketar-ketir aja dia ketularan Covid-19. Tapi kayaknya misi dia ini dilakukan sebelum ada virus itu merebak, sih.

Rate: 3,5 out of 5

Film ini akan tayang di channel National Geographic pada 20 (bagian 1) dan 27 Oktober (bagian 2) 2020 pukul 20:00 WIB.

Ini trailernya…

(Semua foto adalah dokumentasi dari National Geographic)

Review: Generation Wealth (2018)

Ternyata keinginan kita untuk jadi horangkayah itu dibentuk, sodara-sodari….

Film dokumenter ini fokus menceritakan tentang generasi 1980an sampai sekarang yang terfokus pada kekayaan dan ketenaran. Bagaimana uang bisa merusak kehidupan seorang anak. Bagaimana uang bisa merusak moral. Bagaimana memiliki banyak uang membuat kita tidak pernah merasa cukup.
Ini semua hal-hal yang udah diketahui oleh banyak orang. Tapi tetap aja pengetahuan itu nggak membuat orang terdasar bahwa fokus pada uang itu salah.
Siapa sangka fokus generasi kita pada uang dan ketenaran itu adalah bentukan. Semua berawal dari tahun 1971, saat pemerintah Amerika Serikat menghentikan emas sebagai standar aset atau sebagai mata uang perdagangan. Hal ini dilakukan untuk menghentikan resesi keuangan Amerika Serikat pada masa itu. Namun ini jugalah awal dari konsumerisme.
Banyak orang jadi bisa meminjam uang untuk mempertahankan gaya hidup yang sebenarnya mereka nggak mampu untuk bisa sampai ke standar hidup seperti itu. Pembentukan itu datang dari televisi dan media, jauh sebelum social media itu ada. Pembentukan itu juga sampai ke universitas ternama seperti Harvard. Ketika salah satu alumninya ditanya, “Apakah Harvard mengajarkan Anda untuk menjadi orang yang baik?”. Sang alumni tertawa dan menjawab, “Tidak, kami disetel dengan baik untuk mennguasai dunia”.

Yang saya suka dari film ini:
+ Ini adalah film yang cukup menyadarkan saya bahwa semua keinginan untuk menjadi horangkayah itu bukan sekadar tuntutan hidup. Tapi DIBENTUK! Okeh, kagak mau lagi saya percaya sama iklan, social media, dan segala doktrin ‘kesempurnaan’ yang mereka hembuskan. Hush…hush….sanaaah~~ *mengusir manjah alah Syahrini*
+ Narasumber di dokumenter ini beragam. Mulai dari anak ‘korban kekayaan’ orang tua, orang korban konsumerisme dan standar kesempurnaan, horangkayah tajir mampus gila-gilaan yang sekarang jatuh ‘missqueen’, para ahli sosial dan praktisi, sampai orang-orang yang terpaksa harus mengiikuti standar hidup horangkayah biar diterima oleh sekitarnya. Narasumbernya juga datang dari berbagai negara. Ini memvalidasi kalau kehausan kita akan uang itu semuanya terbentuk dari kebijakan pemerintah masing-masing negara.
+ Dari film ini saya jadi bisa melihat kalau uang itu nggak bisa beli taste. Segala lu punya limosin yang ada kolam renang dan helikopter pad-nya itu buat apa sik? Norak.
+ Suka sama music score-nya. Bikin betah nonton.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Film ini mengangkat tema yang sangat menarik. Tapi sang penulis dan sutradara Lauren Greenfield lumayan banyak menyisipkan tentang keluarganya yang menurut saya kurang nyambung dengan maksud awal film dokumenter ini.

Rate: 3,5 out of 5
Saya nonton film ini di Prime Video.

Ini trailernya….

Review: Unsolved Mysteries (2020)

Yang suka baca komik Detektif Conan pasti suka serial ini.

Serial ini terdiri dari enam episode yang menceritakan misteri yang berbeda. Hampir semuanya adalah tentang aksi kriminal yang tak terpecahkan. Seperti tentang menghilangnya Rey Rivera yang kemudian ditemukan dalam keadaan tak bernyawa secara tidak wajar di sebuah ruang serba guna hotel legendaris. Atau tentang pembunuhan satu keluarga bangsawan Perancis yang menghebohkan pada tahun 2011 lalu. Semuanya diceritakan dengan membeberkan rangkaian fakta dari para kerabat korban, polisi, sampai jurnalis. Nggak sabar nunggu volume 2-nya tayang di Netflix

Yang saya suka dari serial ini:
+ Suka banget dengan insert timeline dari setiap peristiwa. Penempatan tanggal linier ini sangat memudahkan penonton untuk mengerti kronologi peristiwa.
+ Kasus yang ditampilkan di serial volume ini beragam. Mulai dari orang hilang, pembunuhan, konspirasi keluarga, sampai diculik UFO.
+ Semua episodenya menarik. Pecinta komik Detektif Conan pasti langsung mikirin berbagai skenario kemungkinan pemecahan kasus setelah menonton tiap episodenya.
+ Favorit saya episode 3. Selain heran bagaimana kok bisa pelakunya tega, sekaligus salut dengan bagaimana ia merencanakan kejahatannya serta cara kaburnya dengan terperinci nan elegan.

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Episode 5 menurut saya membosankan. Mungkin karena saya nggak percaya juga kali ya, jadi gitu deh…

Rate: 4 out of 5
Saya nonton serial ini di Netflix.

Ini trailernya…

Review: Jeffrey Epstein: Filthy Rich (2020)

Hooo…. Jadi ini tokh Jeffrey Epstein yang sempat heboh di media asing tahun lalu.

Serial dokumenter ini menyorot kisah hidup Jeffrey Epstein yang ternyata cukup misterius. Latar belakangnya kurang diketahui banyak orang. Tahu-tahu ia sudah masuk dalam lingkaran orang kaya berpengaruh di Amerika Serikat. Teman nongkrongnya antara lain Bill Clinton, Donald Trump, sampai Pangeran Andrew dari Inggris. Pokoknya dia itu T.O.T (Tim Orang Tajir).

Pekerjaan dan bisnisnya nggak terlalu jelas apa. Pas saya tonton serial ini sampai habis, saya masih nggak paham pekerjaan atau bisnis Jeffrey Epstein itu bergerak di bidang apa. Yang pasti dia tajir mampus dan pengaruhnya besar.

Sebesar apa pengaruhnya?
Sebesar itu sampai ia bisa menghentikan proses penyelidikan FBI terhadap dirinya menyangkut pelecehan terhadap ratusan anak di bawah umur. Iyes, Jeffrey ini suka ngajak cewek-cewek abege untuk pijat-pijat cantik di rumahnya. Dengan iming-iming uang 200 USD, dia menciptakan rantai korban pelecehan cewek-cewek abege. Kalau ada cewek yang pintar, ia iming-imingi dengan biaya kuliah dan pengalaman kerja di luar negeri biar masa depan si cewek cerah.

Namun begitu ada cewek yang melaporkan pelecehannya, Jeffrey bisa dengan gampang ‘mengatur’ hukumannya. Apa sih rahasia Jeffrey Epstein ini?

Jeffrey Epstein om-om tajir bertampang baik.
“Kamu mau apa? Sini om bayarin. Tapi om maunya sama anak abege ehe ehe”

Yang saya suka dari serial ini:
+ Buat orang yang buta kasus Jeffrey Epstein ini, saya jadi bisa tahu luar-dalam baik-busuk dirinya dengan penuturan yang gampang dicerna.
+ Salut sama para korban yang berani untuk mengungkapkan kebenaran di serial ini
+ Jadi tahu kalau politisi, pengacara, dan orang tajir Amrik itu emang busuk, yes.
+ Pangeran Andrew dari Inggris apalagi! hadoh…hadoh…… Bisa gitu ye bohong menyangkal dengan gampang karena dia ‘keluarga kerajaan’.
+ Dari semua nama besar yang munafik yang disebut di serial ini, cuma satu nama yang saya nggak habis pikir apa yang ada di benaknya. Yakni, Ghislaine Maxwell yang tak lain adalah pacarnya Jeffrey Epstein. Menurut para korban, Ghislaine justru ikut merekrut cewek-cewek untuk dilecehkan oleh Jeffrey. What the hell??? Eh alhamdulillah per 3 Juli 2020 AKHIRNYA Ghislaine ditangkap.

(Kiri) Ghislaine Maxwell yang nggilani. You krezi woman you!


+ Suka banget dengan judulnya ‘Filthy Rich’. Makna ambigu yang menjelaskan betapa tajirnya dia sekaligus betapa kotornya seorang Jeffrey Epstein.

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Tanpa maksud mengecilkan apa yang dilakukan Jeffrey Epstein, tapi apa yang dilakukan oleh dia itu nggak mengherankan buat penonton Indonesia. Soalnya orang kaya bisa lolos dari segala macam hukuman dan kriminal di Indonesia itu udah biasa berow…
– Dokumenter ini punya niatan baik untuk mengedepankan para korban. Namun entah kenapa saya ngerasa kisah mereka agak dipanjang-panjangin. Untung yang ngedit jago.

Saya nonton serial ini Netflix.
Rate: 3,5 out of 5

Ini trailernya…

Review: Jane Goodall: The Hope (2020)

“If you want to change their mind is no good arguing, but you got to reach the heart”

Category: Movies
Genre: Documenter
Rate: 3,5 out 5

(Foto: National Geographic)

Jujur, sebelum saya nonton film dokumenter ini, saya nggak tahu Jane Goodall itu siapa hahaha…
Tapi begitu saya diminta untuk review film ini, saya jadi bersyukur banget jadi tahu tentang Jane Goodall. Dan saya rasa Anda juga harus tahu tentang beliau.

Film dokumenter ini mengisahkan tentang Jane Goodall yang sudah tua. Kini umurnya 85 tahun. Namun ia masih aktif jadi pembicara dan mengurus yayasannya The Jane Goodall Institute. Usia lanjut nggak menghalangi ia untuk keiling dunia demi menyebarkan pengetahuannya. Dalam setahun ia menghabiskan sekitar 300 hari untuk berpergian ke berbagai belahan dunia. Hal ini sudah ia lakukan sejak tahun 1986.

Semua berawal dari kecintaan Jane dengan hewan simpanse. Pada tahun 80-an, Jane yang seorang antropolog pergi ke Tanzania untuk meneliti simpanse. Sepulangnya dari sana ia malah berubah menjadi aktivis pembela hewan terutama simpanse.

Ini jane Goodall waktu masih muda. Cantik, ya!
(Foto: National Geographic)

Di film ini banyak mengungkap apa saja yang Jane telah lakukan di masa lalu. Salah satunya tentang kontraversi Jane saat berkerja sama dengan perusahaan minyak Kongo untuk membangun penangkaran simpanse. Keputusan Jane itu membuat banyak aktivis lingkungan lainnya marah. Bagaimana mungkin seorang aktivis seperti Jane malah bergandeng tangan dengan perusahaan yang banyak mengeksploitasi alam?

Mengingat hal itu, Jane di masa tuanya hanya berkata, .

If you want to change their mind is no good arguing, but you got to reach the heart”

Jane Goodall

Hal yang sama ia lakukan saat mengunjungi laboratorium yang menggunakan simpanse sebagai alat percobaan. Diperlihatkan Jane hanya datang ke sana untuk ‘ngobrol’ dengan para simpanse. Jane sadar bahwa ‘menyerang’ lab itu hanya akan sia-sia. Maka yang Jane lakukan adalah kemudian memutar sebuah video untuk para pekerja laboratorium tersebut. Isinya tentang aktivitas para simpanse di Gombe, Tanzania. Di situ mereka bisa melihat bagaimana simpanse itu punya kehidupan yang menyenangkan di alam liar dan cara berinteraksinya nggak jauh berbeda dengan manusia biasa.
Itu adalah salah satu usaha Jane untuk mengubah persepsi orang. Akhirnya pada tahun 2013 laboratorium itu berhasil ditutup.

Film dokumenter ini memang banyak menjabarkan prestasi Jane. Demi kecintaannya pada simpanse, ia memberi kehidupan dan edukasi pada warga Tanzania agar lebih memelihara lamanya. Karena mereka berbagi ekosistem yang sama. Jane sadar bahwa percuma meminta manusia untuk tidak kasar pada alamnya jika kebutuhan si manusia itu sendiri tidak terpenuhi.

Dr. Jane Goodall poses for photograph with group of local villagers in Bitale, Tanzania. National Geographic’s JANE GOODALL: THE HOPE picks up where JANE (2017) left off, following Jane Goodall through three generations of advocacy work as she meets with everyone from schoolchildren in Zanzibar to Prince Harry and spreads a message of hope in a time of immense environmental change. (National Geographic/Joe Redl)

Jane di antara warga Tanzania binaannya.

Yang saya suka dari film ini:
+ Film ini menjelaskan sangat baik kontribusi seorang Jane Goodall untuk dunia. Ia telah menyentuh hati banyak orang. Bahkan sampai James Baker Menteri Luar Negeri Amerika Serikat pada masa jabatannya di 1989-1992 menitahkan seluruh kedutaan Amerika Serikat di negara yang didatangi Jane harus menyambut Jane dengan baik. Jane dijemput di bandara, di antar ke sana-kemari. Padahal Jane itu berwarga negara Inggris đŸ˜€
+ Film ini lebih banyak menceritakan prestasi Jane terhadap dunia ketimbang kehidupan pribadinya. Jadi buat kalian yang menonton film ini untuk nyari drama atau tragedi, silakan cari di film yang lain aja. Satu-satunya kehidupan pribadi Jane yang diceritakan di sini adalah tentang keakraban dengan para cucunya di Tanzania.
+ Saya menangkap pesan yang kuat tentang women empowerment di film ini. Ini bukan hanya tentang Jane yang dulu pernah hidup dengan simpanse sendirian di hutan, melainkan tentang perjalanan hidupnya menginspirasi banyak perempuan untuk tidak takut terhadap persepsi dunia dan alam liar.
+ Jane ini orangnya gigih banget, yes. Tapi caranya halus nggak pakai urat. Salut!
+ Ada banyak quote Jane yang menginspirasi banget.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Meskipun ini adalah dokumenter yang sangat edukatif dan pesannya bagus banget, menurut saya alurnya lambat. Juga nggak ada element of surprise di tengah-tengah film yang membuat kita tersentak untuk terus menyimak.
– Di film ini ada Pangeran Harry (yang sekarang udah bukan pangeran lagi). Ia turut jadi pembicara untuk yayasan Jane yang satunya lagi, yaitu Roots & Shoot. Yayasan yang ini khusus untuk mengajak anak-anak lebih menghargai lingkungan.
Nah dari situ saya baru tahu kalau suara ngomong Pangeran Harry ternyata seperti itu,ya (ke mana aja lo, Krili?) Dan sejujurnya kehadiran Pangeran Harry di film ini nggak signifikan, sih. Dibanding dengan segala prestasi Jane, Pangeran Harry malah terlihat hadir sebagai formalitas doang.

Film ini akan tayang di chanel National Geographic pada Hari Bumi Internasional 22 April 2020 jam 20:00 WIB.

Ini trailernya…


Review: Photo Ark: Rarest Creatures (2020)

Category: Movies
Genre: Documentaries
Rate: 5 out of 5

(Foto: National Geographic)

Film dokumenter ini dibuka dengan memperlihatkan upaya Joel Sartore memotret seekor burung di dalam sebuah mini studio box yang terbuat dari kain yang beresleting. Burungnya galak. Burungnya sempat mencakar. Joel kaget, jarinya agak berdarah. Tapi sang fotografer National Geographic itu nggak ciut.
Joel malah memasukkan moncong lensanya ke dalam mini studio box. Si burung langsung mematuk-matuk lensanya. Menyadari hal itu Joel hanya berkata setengah sebal bahwa, “Ini kamera seharga 6000 dollar”.

Joel Sartore adalah kepala proyek Photo Ark garapan National Geographic. Di proyek ini diharapkan kekuatan gambar foto dari hewan-hewan dari seluruh dunia bisa menggugah dunia untuk membantu melestarikan mereka.

Khusus di Photo Ark: Rarest Creatures, Joel Sartore mengajak kita melihat usaha dia selama 15 tahun memotret hewan-hewan yang terancam punah. Dan keseluruh hewan-hewan itu difoto dengan gaya foto di studio. “Semua foto harus berlatar pure black atau pure white,” ujar Joel. Iya, semua foto tanpa terkecuali. Salah satu contohnya seperti ini…

PERMITTED USE: This image may be downloaded or is otherwise provided at no charge for use for coverage or promotion of National Geographic Photo Ark and Earth Day. Copying, distribution, archiving, sublicensing, sale, or resale of the image is prohibited. Photo by Joel Sartore/National Geographic

Ada yang tahu nama hewan ini? Saya juga baru tahu kalau namanya adalah Anteater. Kalau nggak ada National Geographic pasti saya akan menjawab ini adalah hewan yang suka berbohong (karena hidungnya panjang)

Perjalanan Joel selama 15 tahun itu digambarkan dengan baik dalam dokumenter ini. Ia sempat ke Madagaskar untuk memotret Lemur. Lemur itu hewan yang ada di film animasi Madagascar itu, lho. Yang kepedean dan suka nyanyi “I like to move it…move it…” Iya, yang itu! Rupanya ada beberapa spesies Lemur tertentu yang terancam punah di alam Madagaskar.

Setelah itu kita dibawa untuk melihat upaya Joel memotret harimau di China, badak bercula di Cekoslovakia, dan burung kiwi Selandia Baru. Semuanya spesies yang terancam punah. Bahkan ada satu hewan hanya tersisa 5 ekor di dunia. Rasanya tiap dengar ‘hewan terancam punah’ Joel langsung menghampiri untuk memotret mereka. “I know some of my photograph is going to make a difference,” kata Joel. Dan dia benar.

Yang saya suka dari film ini:
+ Joel bukan hanya seorang fotografer, tapi juga seorang host yang baik. Penjelasannya terdengar ringan, sederhana, namun penuh info.
+Hasil fotonya Joel keren-keren parah! Nih lihat beberapa contohnya…

Ini adalah binatang Gibon pipi putih yang berhasil difoto studio
(Foto: National Geographic)
Koala-koala uwu!
Joel Sartore bilang kalau dia memang suka hasil foto hewan yang matanya menatap kamera. Biar manusia biar tergugah saat melihat mereka.
(Foto: National Geographic)
Ada yang tahu ini hewan apa?
Tikus? Salah.
Musang? Salah.
Ini adalah bentuk aslinya Tasmanian Devil. Iya, beginilah rupanya.
(Foto: National Geographic)
PERMITTED USE: This image may be downloaded or is otherwise provided at no charge for use for coverage or promotion of National Geographic Photo Ark and Earth Day. Copying, distribution, archiving, sublicensing, sale, or resale of the image is prohibited. Photo by Joel Sartore/National Geographic

Joel Sartore juga banyak berhasil mengambil foto hewan yang ekspresinya kayak manusia. Salah satunya foto Snow Leopard ini.
Ekspresinya mengingatkan akan diri saya saat melihat anak naik ke tempat tinggi dan berbahaya terus teriak bangga, “Bunda, lihat aku di sini”. Ibu-ibu pasti tahu perasaan perut keaduk itu kayak apa.

+ Film dokumenter ini tidak membosankan sama sekali. Anak saya, Kriby (5 tahun), aja bisa anteng ikutan nonton. Terlebih foto-fotonya bagus banget!
+ Saya menyarankan film ini ditonton oleh fotografer atau kalian yang menyukai fotografi. Kita jadi bisa melihat bagaimana tidak rewelnya Joel saat memotret hewan. Joel sabar dan pantang menyerah banget buat dapatin foto sempurnanya. Oh, dan kalian haru lihat usaha Jole motret harimau di kandangnya langsung dan trik dia bisa punya background yang sesuai.
+ Joel mengakui bahwa ia sering berpergian demi memotret hewan. Ia banyak mengorbankan waktu dengan keluarganya demi pekerjaannya ini. Ketika ditanya apakah ia lebih memilih motret hewan atau menghabiskan waktu sama keluarganya, jawaban dia bikin haru.

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Filmnya kurang lama. Cuma 45-an menit. Tahu-tahu udah abis aja, hahaha

Film dokumenter ini bisa kamu tonton di chanel National Geographic pada Hari Bumi Sedunia 22 April 2020 pukul 19:00 WIB.

365 Tulisan 2014 #104: Review: The September Issue

Category: Movies

Genre: Documentary

Rate: 2,5 out of 5

Film dokumenter ini mengangkat kerumitan majalah Vogue Amerika Serikat dalam mempersiapkan edisi September tahun 2007. Mulai dari rapat redaksi yang dipimpin oleh sang pemimpin redaksi Anna Wintour, meeting sama tim marketing, pemotretan, misuh-misuh karena hasil foto yang nggak sesuai, dan sebagainya.

 

Yang gw suka dari film ini:

-Gw kagum dengan kemajuan industri jurnalistik dan fashion di Amrik sana. Film ini berhasil memotret ketotalan majalah Vogue Amerika Serikat untuk fashion. Masih jauh bangetlah sama apa yang terjadi di Indonesia. Padahal film ini dibuat pada tahun 2007.

-Cukup kagum dengan pengaruh yang bisa diberikan oleh seorang Anna Wintour pada industri fashion.

-Nonton film ini bikin gw kangen pengen kerja di redaksi lagi T__T

 

Yang gw nggak suka dari film ini:

-Gw bukan penikmat dan pengikut fashion. Jadi gw nggak merasakan ke-wah-an dari film dokumenter ini. Gw malah sangat mengamini apa yang dikatakan anak Anna Wintour tentang fashion di film ini.

-Agak heran dengan cara Anna Wintour bisa jadi orang berpengaruh di dunia fashion, sedangkan dia model rambutnya aja nggak pernah ganti dari puluhan tahun yang lalu :-/

-Gw merasa film ini datar-datar aja. Konfliknya pun bukan sesuatu yang menghebohkan dunia. Tapi, lagi-lagi, mungkin itu karena gw bukan penikmat fashion kali ya…

 

Ini trailernya…

365 Tulisan 2014 #81: Review: A Band Called Death

Category: Movies

Genre: Documentary

Rate: 4 out of 5

Film dokumenter ini menapak tilas band punk beranggotakan orang kulit hitam pertama di Amerika Serikat. Nama band mereka adalah Death. Band ini terdiri dari tiga orang kakak adik, David Hackney (gitar), Bobby Hackney (bass, vokal), dan Dannis Hackney (drum). Mereka menghabiskan masa mudanya untuk bermusik. Di era itu (70-an), di saat orang kulit hitam Amerika pada ber-mowtown ria, Death memilih aliran punk. Kekerenan musik mereka tidak bisa dipungkiri, namun mereka terus menerus ditolak oleh perusahan rekaman dengan berbagai alasan. Kebanyakan dari mereka meminta Death untuk mengganti namanya, namun Death tetap pada pendiriannya. Sampai akhirnya seluruh perusahaan rekaman menutup pintu untuk mereka. Namun Death tetap yakin bahwa pada stau hari nanti musik mereka akan didengar oleh dunia.

 

Yang gw suka dari film ini:

-Secara keseluruhan, cerita perjalanan karier Death ini mengagumkan.

-Moral dari film ini bagus, yaitu idealisme itu ada harganya.

-Salut dengan kejujuran personel Death akan segala kegetiran yang pernah mereka hadapi.

-Musik Death baguuuuuuuuuus! Gw sekarang jadi suka sama band ini.

 

Yang gw nggak suka dari film ini:

-Ada beberapa adegan / footage yang berulang. Mungkin karena memang kurangnya dokumentasi dari Deathnya sendiri sih.

-Beberapa adegan yang kayaknya mau dibikin dramatis, tapi kok malah jadi serem ya >__<

 

Ini trailernya…

Ini musiknya Death