blog

Perempuan Yang Tak Dibenci

“Kamu itu perempuan pengatur yang tidak aku benci.
Ibuku itu suka ngatur dan aku sebel. Makanya aku dulu jarang pulang. Aku maunya, hidup aing, kumaha aing.
Tapi begitu ketemu kamu…
Aku jadi bisa melihat sisi baiknya dari mengingatkan.”

-Si Punk Rock-

ūüėćūüėė – with Wahyu

View on Path

Iklan
blog

Atas Nama Cinta, Saya Buatlah Akun Line@

Aloha handai taulan sekalian…

Beberapa waktu ini saya tertarik dengan Line@. Tahu Line@ nggak? Itu lho, aplikasi¬†Line yang biasanya dipake oleh online shop agar chat sama customernya bisa lebih mudah. Yang para sista online shop selalu bilang ‘LINE: @abcd-jangan lupa pakai tanda @nya’. Iya akun Line yang begitu.

Yang paling menarik dari Line@ adalah mereka mengklaim kalau bisa datangin duit. Katanya kayak di-monetize gitu lah. KATANYA!

Sebagai emak-emak yang selalu kekurangan duit tapi kebanyakan gaya dan terlalu malas untuk berkeringat demi mendapatkan uang macam saya, tentu saja saya jadi amat sangat tertarik!

Saya pun browsing cara supaya bisa dapatin duit dari Line@. Kebanyakan sih katanya dapat duitnya dengan cara menggunakan Line@ sebagai media utnuk berinteraksi jual-beli dengan pelanggannya. Ya seperti yang dipakai oleh para sista online shop begitu.

Lalu di mana letak pendapatan uang dengan gampang dan tinggal ongkang-ongkang kaki doang yang mereka gembar-gemborkan? Coba saya browsing lagi, deh. Hmm…ketemu beberapa doang. Tapi nggak dijabarin mekanisme pastinya gimana cara uang mengalir melalui akun Line@ tersebut. Mereka cuma bilang yang intinya, ‘bikin konten di akun Line@->dapat followers ribuan->dapat uang jutaan’.

Yaelah…ini mah seperti janji-janji manis MLM. Yaitu, akan dapat uang ratusan juta asal ikut jualan. Saya kan mau dapat duit dan kemahsyuran dengan gampang. Kenapa sih kalian mempersulit hidup saya begini???

Okeh, bye Line@!

Blog walking aja ah biar nggak seteres. Eh Dian Arika Sari apa kabar ya? Coba lihat aaah…

Lalu saya tertampar pas membaca salah satu blognya,¬†terutama bagian ini…

Fame became a goal. 

When fame is a goal, it is dangerous. It creates obsession over likes and followers that don’t even matter in real life. Because when fame is a goal, things are no longer authentic. You do everything it takes to maintain and increase your fame value. You fabricate stories. You buy followers. You keep stocks of photos to upload over the next one week to look like your cafe-hopping every single day. But why lie to your followers? They are jealous of you and see yourself as #lifegoals, but little do they know, you are living a lie – no matter how big or small.

Inti dari tulisan ini adalah: KALAU MAU DAPAT DUIT, YA KERJA NYONG! ENAK AJA LO ONGKANG-ONGKANG KAKI TERUS DAPAT DUIT. KECUALI KALAU LO ITU PENJAHIT! PENJAHIT ITU KALAU ONGKANG-ONGKANG KAKI ALIAS MENGGERAKKAN KAKINYA ITU JUGA BUAT KERJA BIAR MESIN JAHITNYA JALAN. LAH ELU, UDAHLAH MESIN JAHIT NGGAK PUNYA, BISA JAHIT JUGA KAGAK, TERUS NGAREP DARI ONGKANG-ONGKANG KAKI DAPAT DUIT GITU? NENEK LO NYIMENK!!!!

[Tapi…tapi…kalau main Line@ atau dapat duit dari medsos kan yang kerja itu tangan, terutama jempol. Makanya kakinya ongkang-ongkang aja.]

ET DAH BOCAH DIKASIH TAU YANG BENER NGEJAWAP AJA LAGIK! MAU GUA KEPRET PAKE LUDAHNYA DONALD TRUMP LU BIAR RAMBUT LU JADI KAYAK SEMAK-SEMAK? MAUK? MAUK??? GUAMPARIN LU!

Panas rasanya pipi ini akibat tamparan tulisan Dian Arika Sari sodara-sodara. Saya jadi mengerti kegundahan dan kesedihan yang ada di lagu ini. Terutama bagian lirik “lihatlah tanda merah di pipi…”

Saya akhirnya sadar bahwa selama ini saya dibutakan oleh nafsu syaiton yang membuat saya gelap mata. Saya butuh uang pak *nangis nunduk di meja kantor polisi*———>laaaah macam kriminil di Buser dah!

Eh tapi beneran deh, keinginan saya untuk cepat terkenal dan melengserkan trah Raffi Ahmad dan jadi kayak raya seperti Nagita Slavina itu bikin saja lupa akan niatan awal saya menulis blog dan bermain media sosial. Dan lagi-lagi ada satu bagian tulisan Dian Arika Sari mengepret muka saya dengan pedas bagai dikepret pake sapu lidi yang dicelupin sambal mercon. Begini bunyi tulisannya…

When I started blogging back in 2007, the intention to blog was to purely write out of love. I loved the idea of owning a space in this world where we get to express our thoughts and feelings without being steered by anyone else but us.

Itulah niatan awal saya: menulis jujur dari hati dan pikiran dengan cinta.

Jadi bagaimana dengan niatan membuat akun Line@ ini? Kita batalkan saja?

Setelah saya membaca tulisan tersebut, saya jadi tambah semangat bikin akun Line@ itu. TAPIII kali ini dengan niatan yang jauuuuuh berbeda. Niatan saya betul-betul untuk berbagi dan yang saya bagi di Line@ adalah review film semata. Kenapa cuma review film? Karena saya sadar bahwa kehidupan saya sebagai emak-emak yang banyak gaya ini terlalu membosankan untuk dibagi secara kontinyu via aplikasi tersebut. Dan konon banyak teman-teman saya yang suka membaca review film yang saya tulis di blog ini. Soalnya saya nulis reviewnya secara jujur dan cetek. Nggak pake gaya penulisan pilosopis, komparatip, maupun konstruktip ala-ala review film serius di media ataupun kritikus film serius. Ya saya nulis aja, karena saya suka.

Untuk itu kalau para pembaca yang budiman berkenan, mohon di-add lah akun Line@ saya: @ymg2576q.¬†(Jangan lupa pake ‘@’nya ya, sis)

Woelaa… Susah bener dah nama akun lu, Dis.

Iyak, maklum ini masih pake akun yang standar. Jadi nama akunnya nggak bisa milih. Kalau mau dapat nama akun yang berdasarkan pilihan kita sendiri itu harus bayar. Saya sih nggak keberatan untuk bayar, asal follower akun Line@ itu di atas angka 10 aja, saya akan coba beli deh nama akun yang bagus dan mudah dieja *ndusel-ndusel Si Punk Rock nyogok manja biar boleh gesek kartu kredit*

Kenapa targetnya cuma 10? Karena sejujurnya saya nggak yakin akan banyak yang mau follow. Abis rencananya, akun Line@ saya ini akan berisi review-review film yang pernah saya tulis di blog juga. Bedanya ini di Line@ dan foto serta video yang bisa saya taruh dalam satu postingan sangat terbatas. Tapi positifnya, para pembaca yang budiman yang dulu mungkin suka bacain review film saya via handphone sekarang akan lebih mudah membacanya via Line@. Karena lebih ringan dan lebih gampang diakses. Nggak perlu loading lama untuk buka blog saya via ponsel. Begitchu ^_^

Dan ada satu hal lagi yang bikin saya nggak yakin followers Line@ saya akan banyak, yakni review-review film saya itu nggak up to date alias film yang direview kebanyakan film lama. Bukan film yang lagi tayang di bioskop. Saya  sebagai penyuka film tentu saja mau banget me-review film yang sedang nangkring di bioskop. Namun apa daya, saya adalah mahmud abas (mamah muda anak baru satu) yang mengurus anaknya sendiri di rumah. Jadi kalau saya mau ke bioskop, saya harus boyong Kriby juga masuk bioskop. Sayangnya nggak semua film di bioskop itu kan cocok untuk ditonton oleh anak-anak. Ya sudah , saya nonton film di rumah saja. Itu juga malam-malam, nunggu Kriby udah mulai kriyep-kriyep.

Daaaaaan satu lagi yang mungkin akan membuat orang ogah follow akun Line@ saya, yaitu saya nggak akan me-review film Indonesia. Eits, bukannya sombong dan sok bule kayak Boy William, lho ya. Justru karena kecintaan saya terhadap film dan keterbatasan akses saya untuk menonton bioskop, maka saya ogah nonton film Indonesia yang hasil bajakan atau donlotan. Big no-no. Pokoknya kagak mau. Tapi kalau nonton film bule bajakan sih saya mau aja. Orang bule kan duitnya udah banyak. Mereka kan juga buang banyak produk gagal, mengeruk keuntungan yang pembagian hasil yang tidak sepadan, mencuci otak kita dengan makanan tidak sehat, dan mengeskploitasi alam negeri kita kan udah banyak. Jadi apalah arti kerugian mereka melalui saya yang nonton film mereka secara bajakan? *nyengir kuda*

Balik ke soal review film Indonesia… Saya juga enggan mereview film Indonesia yang saya tonton melalui tayangan televisi. Karena di tivi kadang banyak dipotongnya. Entah itu karena disensor atau emang dipotong biar durasinya pas untuk masuk iklan. Sehingga kalau saya memaksakan review film Indonesia yang tayang di tivi, rasanya nggak adil. Ibaratnya kayak mencicip nasi tumpeng dengan ayam gorengnya aja. Padahal masih ada lauk lain yang harus dicicip juga sebelum bisa menyimpulkan tumpeng itu enak atau nggak.

Jadi beqitulah qira-qira qisah inyong tentang Line@. Jika berkenan mohon difollow ya qaqaaa~~. Tolong dibantu ya *prok prok prok*

blog

MOM PUSH COW! part II

Ngambil londri di kios londri kiloan yang ber-AC. Tapi mas yang jaga ngerokok aja dong di dalam kiosnya.

Dia: Sini mba, masuk aja *dengan nada ramah senyum manis*

Gw: Ga! Bau rokok! *dengan nada galak dan sadis yang bisa bikin Hitler nangis*

Mulut dan senyum manis lo kagak mempan ama emak-emak yang lagi menstruasi, bang. Camkan itu! *Sentil puntung rokok yang masih nyala ke hidung abangnya*

View on Path

blog

MOM PUSH COW!

(sumber: Republika hari ini)

Banyak orang yang anti rokok, seperti saya, lebih sering mengeluhkan tentang bahaya merokok terhadap kesehatan.
Padahal kita sering lupa tentang bagaimana rokok juga menghilangkan produktivitas. Saya yakin banyak dari kita yang suka menahan kesal dalam hati karena ditinggal oleh rekan kerja demi merokok. “Semua pekerjaan bisa menunggu, tapi rokokku tidak,” begitulah kira-kira tulisan yang tertera di punggung para perokok ketika meninggalkan kami yang terbengong-bengong melihat mereka berjalan menjauh demi merokok.

Jadi kami yang tidak merokok ini sudahlah dikasih penyakit melalui asap rokok mereka, dianggap tidak keren karena tidak merokok, dikasih kalimat ‘tunggu sebats dulu’ pula ketika kami tagih pekerjaan.

Oleh karena itu dengan adanya rencana kenaikan harga rokok ini, rasanya wajarlah kalau kami yang tidak merokok ini, terutama saya, ingin berkata lantang kepada kalian para perokok…..

MOM PUSH COW!!!!!

View on Path

blog

Alasan Saya Pilih Tabungan Emas

Anda menabung?

Bagus. Saya juga menabung. Tapi belum banyak. Dan diambilin mulu. Buat menyandang gaya hidup yang hura-hura bak horangkayaaah. Saya menyalahkan Syahrini dalam hal ini.

Diam kamu Syahrini! *gebuk pake kresek isi gorengan* (Foto: Izin nyomot dari Google)
Diam kamu Syahrini! *gebuk pake kresek isi gorengan*
(Foto: Izin nyomot dari Google)

Lalu seorang sahabat saya prihatin melihat gaya hidup mewah saya namun tidak kunjung bergelimang harta. Sebut saja nama sahabat saya itu Estri. Eh emang itu nama aslinya deng. Dia lah yang pertama kali memperkenalkan perihal tabungan emas ini kepada saya. Perlu diketahui bahwa sahabat saya ini adalah seorang agen asuransi Allianz. Dia sudah berulang kali menyarankan saya untuk memiliki polis asuransi untuk diri saya dan Si Punk Rock, agar masa depan anak saya terjamin. Saya dulu adalah pemegang polis asuransi Allianz. Saya tidak punya masalah apa pun pada saat jadi nasabah Allianz  selama hampir empat tahun. Semuanya jelas dan transparan karena para agennya sangat mengerti produknya. Namun sejak saya memutuskan untuk resign dari kerja kantoran dan mengurus Kriby di rumah, otomatis alokasi dana untuk membayar polisnya hilang. Pada saat itu lah akhirnya saya memutuskan untuk menutup polis saya. Sayang sih, tapi begitu saya cairkan asuransi saya duitnya lumayan juga, alhamdulillaaaah.

Lalu uang itu saya pakai untuk foya-foya bak horangkayaaah. *kembali memukul Syahrini kali ini pakai kresek isi somay*

Prihatin dengan keadaan hedon namun pemasukan yang alon-alon saya, Estri pun buka kartu kalau ia sedang menabung emas di Pegadaian.

“Maksud lo nyicil emas kali” sanggah saya.

“Bukan, ini nabung emas. Beda sama nyicil emas. Nyicil emas itu sistem terikat, kita harus bayar tiap bulan. Kalau nabung emas tidak terikat.”

Lalu mengalirlah semua penjelasannya yang membuat saya tertarik, antara lain:

-Nabung emas itu sama kayak nabung biasa tapi semua uang yang kita setorkan akan dikonversi ke nilai emas batangan. Jadi misalnya saya menabung 500 ribu, nanti yang akan tercetak adalah bukan ‘500.000’, melainkan ‘1 gr’.<——ini angka ngasal buat contoh lho ya. Angka sebenarnya disesuaikan dengan harga emas yang berlaku di hari Anda setor uang ke tabungan.

Ini contoh buku tabungan emas saya. Jumlah tabungan kita dapat dilihat pada kolom 'Saldo Emas'. Tidak akan tertera jumlah saldo dalam jumlah rupiah. Karena saldo rupiahnya menuruti harga emas di pasaran. (Saldo emas saya baru 0,02 gram atau setara 11 ribu rupiah pada saat nabung. Biarin cuma dikit, yan penting nabung weee! *tonjok Syahrini pake kresek sayur*)
Ini contoh buku tabungan emas saya. Jumlah tabungan kita dapat dilihat pada kolom ‘Saldo Emas’. Tidak akan tertera jumlah saldo dalam jumlah rupiah. Karena saldo rupiahnya menuruti harga emas di pasaran.
(Saldo emas saya baru 0,02 gram atau setara 11 ribu rupiah pada saat nabung. Biarin cuma dikit, yang penting nabung weee! *tonjok Syahrini pake kresek sayur*)

-Harga emas itu stabil dan cenderung naik. Sehingga tanpa sadar saya itu sedang menabung sekaligus investasi.  Jadi keuntungan yang saya dapatkan insya Allah lebih banyak. Dan konon investasi dalam bentuk emas itu dibenarkan menurut Islam. Setidaknya begitulah menurut yang saya baca di sini.

-Bisa nabung dari nominal kecil. Yaitu sekitar 5 ribu rupiah. Karena harga emas terkecil, yakni 0,01 gram, itu 5.500 rupiah (per 24 Maret 2016). Tapi baru semalam (12 April 2016) saya baca kalau harga emas udah naik lagi jadi 574.000/gram. Artinya nominal terkecil untuk menabung emas adalah sekitar 5.700-an. Cuma emas itu gampang banget naik-turunnya. Ada baiknya rajin-rajin buka harga-emas.org buat tahu harga emas yang pasti.

-Jadi beneran bisa nabung karena tabungan emas ini nggak ada ATMnya. Kalau mau ambil duit atau mencairkan dana ya harus datang sendiri ke Pegadaiannya langsung.

-Pegadaian adalah Badan Usaha Milik Negara alias BUMN. Jadi mudah-mudahan dana yang kita setorkan aman dan dijamin oleh pemerintah. Amien.

-Biaya administrasi tabungan cuma 30 ribu per tahunnya.

 

Kelebihan-kelebihan tersebutlah yang membuat saya jadi tanpa ragu untuk membuka tabungan emas. Saya buka dua sekaligus, atas nama Si Punk Rock dan atas nama saya sendiri. Namun setelah membuka tabungan emas ini saya merasakan beberapa kekurangan namun masih tetap tidak meluruhkan semangat saya menabung di sana. Kekurangan tersebut antara lain…

-Agak ribet. Sebenarnya kita bisa menabung di semua cabang Pegadaian, namun saya menyarankan untuk menabung di cabang terdekat dengan aktivitas sehari-hari Anda. Soalnya tidak semua cabang Pegadaian punya mesin print untuk buku tabungan. Jadi inilah yang saya alami, saya datang untuk menabung serahkan uang dan buku tabungan, lalu saya tinggal buku tabungannya untuk diinapkan sehari. Kenapa harus diinapkan? Karena pihak Pegadaian tempat saya menabung harus membawa buku tabungan tersebut ke cabang Pegadaian yang mempunyai mesin print untuk mencetak transaksi saya. Jadi keesokan harinya baru saya datang lagi ke Pegadaian tempat saya menabung untuk mengambil buku tabungannya. Untung Pegadaian tempat saya menabung jaraknya dekat dengan tempat tinggal, cukup jalan kaki tidak sampai lima menit. Jadi saya tidak menganggap ini sebagai masalah besar.

-Semua tabungan harus dilakukan setor secara langsung. Tidak bisa dilakukan melalui sistem transfer, SMS, maupun online banking.

-Kalau kita hendak menarik tabungan kita dalam bentuk emas, maka akan dikenakan ongkos cetak emas sekitar 150 ribu per sekian gram. <——saya belum mendapatkan penjelasan memuaskan mengenai nominal pasti untuk ongkos cetak. Soalnya, menurut petugas Pegadaian yang saya interogasi, berhubung tabungan emas ini adalah produk baru, mereka pun belum mendapat keterangan pasti untuk nominal tersebut. Lantaran case study tentang hal ini pun belum pernah terjadi. Karena ongkos cetaknya lumayan, maka saya menyarankan jika Anda ingin mencairkan dana lebih baik dalam bentuk tunai saja.

-Salah satu syarat buka rekening adalah fotokopi KTP. Yang artinya satu orang hanya bisa buka satu rekening. Saya yang tadinya ingin buka dua rekening sekaligus atas nama saya sendiri harus mengurungkan niat tersebut. Akhirnya saya pinjam KTP Si Punk Rock deh agar bisa punya dua rekening.

Itulah kekurangan dan kelebihan dari tabungan emas, menurut saya. Yang saya rasakan saat ini setelah menabung emas adalah saya jadi lebih semangat nabung. Begitu kemarin Kriby dikasih uang lima ribu saja sama Budenya, saya langsung semangat pengin menyetorkannya ke tabungan. Saya juga jadi merasa lebih aman, nyaman, dan tentram. Mungkin karena sekarang saya tahu bahwa angkatan bersenjata kita alias TNI memang adalah pasukan yang handal dan lihai di bidangnya. Laaaaaah apa hubungannya ini sama tabungan emas? Nggak ada sih.

Begitulah kura-kura…

 

blog

Tuhan Menenangkan Saya Melalui Stiker Di Dasbor

Perjalanan hari Bekasi-Kuningan-Bekasi.
Pas berangkat dua jam perjalanan.
Pas pulang kayaknya bakal 2,5 jam perjalanan nih. Ini aja masih di jalan, belom nyampe.
Udah lama banget nggak perjalanan jauh naik angkot, jadi kerasa banget capeknya. Faktor usia dan manja.

Lalu Tuhan mencoba menenangkan saya melalui stiker di dasbor angkot K40 ini…

View on Path

Yuk ah nonton video Kriby dulu!

blog

Lelaki Nggak Jelas!

Si Punk Rock ngeluarin foto kopi KTPnya buat buka rekening tabungan.

SPR: Tapi mukaku di sini nggak jelas. Nggak apa-apa kan ya?

Gw: Nggak apa-apa. Kan yang mereka butuhin nomor KTPnya.

SPR: *ngangguk-ngangguk mengerti. Lalu ngomong ke Kriby* Tuh nak, untung dulu Bunda waktu pacaran sama Ayah nggak pernah minta fotokopi KTP. Klo nggak, dia waktu itu akan bilang, “dasar lo laki-laki nggak jelas!”

Gw: ūüôĄūüćÉūüćÉūüćÉūüćÉ

Ya Allah, cerdaskanlah anak hamba agar kelak ia dapat mengerti jalan pikir kedua orang tuanya. Amien… – with Wahyu

View on Path