Review: Jeffrey Epstein: Filthy Rich (2020)

Hooo…. Jadi ini tokh Jeffrey Epstein yang sempat heboh di media asing tahun lalu.

Serial dokumenter ini menyorot kisah hidup Jeffrey Epstein yang ternyata cukup misterius. Latar belakangnya kurang diketahui banyak orang. Tahu-tahu ia sudah masuk dalam lingkaran orang kaya berpengaruh di Amerika Serikat. Teman nongkrongnya antara lain Bill Clinton, Donald Trump, sampai Pangeran Andrew dari Inggris. Pokoknya dia itu T.O.T (Tim Orang Tajir).

Pekerjaan dan bisnisnya nggak terlalu jelas apa. Pas saya tonton serial ini sampai habis, saya masih nggak paham pekerjaan atau bisnis Jeffrey Epstein itu bergerak di bidang apa. Yang pasti dia tajir mampus dan pengaruhnya besar.

Sebesar apa pengaruhnya?
Sebesar itu sampai ia bisa menghentikan proses penyelidikan FBI terhadap dirinya menyangkut pelecehan terhadap ratusan anak di bawah umur. Iyes, Jeffrey ini suka ngajak cewek-cewek abege untuk pijat-pijat cantik di rumahnya. Dengan iming-iming uang 200 USD, dia menciptakan rantai korban pelecehan cewek-cewek abege. Kalau ada cewek yang pintar, ia iming-imingi dengan biaya kuliah dan pengalaman kerja di luar negeri biar masa depan si cewek cerah.

Namun begitu ada cewek yang melaporkan pelecehannya, Jeffrey bisa dengan gampang ‘mengatur’ hukumannya. Apa sih rahasia Jeffrey Epstein ini?

Jeffrey Epstein om-om tajir bertampang baik.
“Kamu mau apa? Sini om bayarin. Tapi om maunya sama anak abege ehe ehe”

Yang saya suka dari serial ini:
+ Buat orang yang buta kasus Jeffrey Epstein ini, saya jadi bisa tahu luar-dalam baik-busuk dirinya dengan penuturan yang gampang dicerna.
+ Salut sama para korban yang berani untuk mengungkapkan kebenaran di serial ini
+ Jadi tahu kalau politisi, pengacara, dan orang tajir Amrik itu emang busuk, yes.
+ Pangeran Andrew dari Inggris apalagi! hadoh…hadoh…… Bisa gitu ye bohong menyangkal dengan gampang karena dia ‘keluarga kerajaan’.
+ Dari semua nama besar yang munafik yang disebut di serial ini, cuma satu nama yang saya nggak habis pikir apa yang ada di benaknya. Yakni, Ghislaine Maxwell yang tak lain adalah pacarnya Jeffrey Epstein. Menurut para korban, Ghislaine justru ikut merekrut cewek-cewek untuk dilecehkan oleh Jeffrey. What the hell??? Eh alhamdulillah per 3 Juli 2020 AKHIRNYA Ghislaine ditangkap.

(Kiri) Ghislaine Maxwell yang nggilani. You krezi woman you!


+ Suka banget dengan judulnya ‘Filthy Rich’. Makna ambigu yang menjelaskan betapa tajirnya dia sekaligus betapa kotornya seorang Jeffrey Epstein.

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Tanpa maksud mengecilkan apa yang dilakukan Jeffrey Epstein, tapi apa yang dilakukan oleh dia itu nggak mengherankan buat penonton Indonesia. Soalnya orang kaya bisa lolos dari segala macam hukuman dan kriminal di Indonesia itu udah biasa berow…
– Dokumenter ini punya niatan baik untuk mengedepankan para korban. Namun entah kenapa saya ngerasa kisah mereka agak dipanjang-panjangin. Untung yang ngedit jago.

Saya nonton serial ini Netflix.
Rate: 3,5 out of 5

Ini trailernya…

Review: 22 July

Category: Movies
Genre: Drama, Crime
Rate: 2,5 out of 5

Film yang berdasarkan kisah nyata ini menceritakan kembali penyerangan teroris terburuk di Norwegia yang terjadi pada 22 Juli 2011. Film dibuka dengan memperlihatkan Anders Behring Breivik (Anders Danielsen Lie) yang sedang bersiap di gudangnya yang terpencil. Ia membawa perkakas, drum berisi semacam pasir, dan membawanya naik mobil van ke pusat kota. Rupanya isi drum itu adalah bahan peledak. Ia parkir mobilnya di pelataran kantor perdana menteri, lalu ia ledakkan dari jarak jauh.
Sementara semua orang panik dengan jatuhnya korban bom di sana, Anders berkendara ke pulau Utoya. Di sana sedang ada summer camp untuk anak-anak sekolah dari berbagai etnis di Norwegia. Ia masuk ke pulau itu dengan menyamar sebagai polisi yang ditugaskan untuk mengamankan pulau pasca ledakan bom. Padahal ia datang untuk membunuh semua orang yang ia lihat di pulau tersebut.

Yang saya suka dari film ini:
+ Jalan ceritanya memudahkan kita untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada peristiwa di hari itu. Bagi penyuka film berdasarkan kisah nyata/sejarah akan suka dengan film ini.
+ Akting Jonas Strand Gravli sebagai Viljar Hanssen bagus. Saya berharap dapat melihat aktingnya lagi di film Hollywood atau Inggris lainnya. Muka dia sebenarnya lebih masuk jadi aktor di film-film Inggris, sih.
+ Norwegia itu bagus yaaaaa. Walau banyakan gunung salju dan es khas lokasi syuting Game of Thrones, tapi kayaknya di sana kehidupannya amanda (aman damai). Sayang aja dicoreng sama orang gila semacam Anders itu.
+ Banyak yang mengkritik film ini diperankan sepenuhnya oleh orang Norwegia, namun dialognya full bahasa Inggris. Kalau saya sih suka-suka aja. Fakta bahwa seluruh aktornya berdialog bahasa Inggris dengan logat Norwegia yang masih kental membuat saya makin suka. Jadi masih terasa aslinya. Menurut saya…

Yang saya tidak suka dari film ini:
-Ceritanya agak dipanjang-panjangin untuk hal yang nggak perlu. Mungkin maksudnya untuk membangun dramatisasi, tapi yang ada malah bikin bosan.
-Aktingnya Anders Danielsen Lie sebagai teroris narsistik nggak oke. Sok di-cool-cool-in. Maksud doi mungkin biar keliatan pembunuh berdarah dingin gitu kali, ya. Tapi malah jadi kayak sok cool aja.
-Kurang drama, sih. Jadi drama yang ada kayak nggak penting gitu.

Film ini saya tonton di Netflix. Ini dia trailernya…

Review: Clockwork Orange

Category: Movies

Genre: Drama, Crime

Rate: 3,5 out of 5

Film ini menceritakan tentang Alex (Malcom McDowell) seorang remaja psikopat. Ia dengan gengnya suka berbuat keonaran dan kekerasan yang mereka sebut sebagai ultra violence. Sampailah pada suatu hari Alex kena batunya. Ia dikhianati oleh gengnya, lalu ditangkap polisi. Selama masa penjara dia terpilih untuk menjalani sebuah program percobaan untuk menghilangkan sifat kekerasan dari seseorang. Program itu berhasil pada Alex. Kini Alex yang baru akan langsung merasa mual-mual tiap ia hendak melakukan kekerasan. Karena dianggap tidak berbahaya lagi, Alex kemudian dibebaskan dari penjara. Sayangnya saat ia mencoba menjalani kehidupan yang normal sebagai orang yang baik-baik, kehidupan malah berbalik jahat pada dirinya.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Ceritanya tidak biasa.

-Set dan propertinya bagus.

-Aktingnya Malcom McDowell oke banget.

-Salut sama Stanley Kubrick yang selalu berhasil menggambarkan keseraman tanpa banyak dialog.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Adegan kekerasannya bener-bener ultra violence. Jangan menilai ultra violence ini sebagai adegan yang banyak darah muncrat di mana-mana, ya. Film ini sama sekali tidak seperti itu. Kekerasan di film ini sangat ‘evil’ nan jahat. Kekerasan-kekerasan di film ini dilakukan secara riang oleh orang yang tidak peduli khas seorang psikopat. Saya sampai trauma. Saya jadi nggak mau nonton film Stanley Kubrick yang lainnya. Saya jadi takut.

OLEH KARENA ITU SANGAT TIDAK DISARANKAN ANAK DI BAWAH UMUR UNTUK NONTON FILM INI. YANG DEWASA AJA TRAUMA. NTAR YANG KECIL PSIKOLOGISNYA MALAH TERGANGGU LAGI.

-Film ini ceritanya mau menunjukkan Inggris di masa depan. Makanya set dan propertinya dibuat ala-ala futuristik gitu. Tapi kan film ini dibuat pada tahun 1971. Jadi gambaran masa depan mereka pun tetap terkesan retro. Paling cuma cara berpakaian gengnya Alex aja yang berhasil mempengaruhi fashionnya anak punk sedunia sampai sekarang.

-Banyak tokoh yang agak-agak nggak penting terus ngomongnya lebay.

-Beberapa dialog terkesan kaku.

-Alurnya kurang mengalir.

 

Ini trailernya…

Review: 7 Minutes

Category: Movies

Genre: Crime, Drama

Rate: 3 out of 5

Film ini mengisahkan tentang Sam (Luke Mitchell) mantan atlet rugby yang menjanjijan di SMAnya. Ia kini sudah tidak bermain rugby lagi sejak sebuah cedera fatal yang menimpa pergelangan kakinya. Sam yang sekarang adalah buruh pabrik yang tinggal bersama Kate (Leven Rambin), kekasihnya yang tengah hamil muda. Mereka selalu kesulitan uang. Bahkan gaji Kate sebagai pelayan di restoran tidak mampu membantu keuangan rumah tangga mereka. Ditambah Sam baru-baru ini juga dipecat oleh pabrik tempat ia bekerja. Sam pun mengambil jalan pintas dengan menjual ganja kepada anak-anak kuliahan yang kaya. Bisnis kecil-kecilan ini ia jalani bersama abangnya Mike (Jason Ritter) dan sahabat lamanya Owen (Zane Holtz). Pada suatu hari pelanggan mereka meminta dirinya untuk menjual ekstasi juga. Sam menyampaikan hal ini kepada Mike, maka Mike pun mengajak mereka menghadap bandar besar mereka, Doug (Chris Soldevilla), agar diberi pasokan ekstasi. Doug memberikan mereka barang haram yang seharga 60 ribu dolar. Sampailah di insiden dimana Owen yang saat itu di bawah pengaruh narkoba jadi paranoid dan membuang barang dagangan mereka. Tentu saja mereka harus menggantinya. Doug hanya memberi mereka waktu 48 jam untuk mengganti kerugian tersebut. Di situlah mereka pun memutuskan untuk merampok sebuah kantor demi mendapatkan uang cepat. Namun merampok itu bukanlah perkara gampang…

 

Yang saya suka dari film ini:

-Alur ceritanya bagus. Masing-masing konflik tokoh bisa diceritakan dengan baik.

-Aktor dan aktris film ini nggak ada yang terkenal, tapi aktingnya bagus semua.

-Ceritanya masuk akal dengan twist yang oke.

-Set dan lokasi juga bagus.

-Ini film laki banget sih. Konflik yang ditonjolkan juga cowok banget.

-Make up darah-darahannya boleh juga.

 

Yang saya tidak suka dari film ini:

-Film ini kayaknya kurang dapat nama karena pemainnya nggak ada yang terkenal. Padahal oke lho.

 

Ini trailernya…

 

Review: Victoria

Category: Movies

Genre: Drama, Thriller, Crime

Rate: 4,5 out of 5

Film ini dibuka dengan adegan Victoria (Laia Costa) yang sedang asyik berdansa di sebuah klub malam di kota Berlin, Jerman. Setelah lelah berajojing ria, ia pun memutuskan pulang naik sepedanya. Di tengah jalan ia disapa oleh seorang pemuda yang sedang nongkrong bersama geng cowoknya. Lelaki itu bernama Sonne (Frederick Lau). Mungkin karena Victoria adalah seorang gadis asal Spanyol yang sedang bekerja seorang diri di Berlin, membuat ia jadi melayani sapaan Sonne karena butuh teman. Dari sebuah sapaan berkembang jadi sebuah percakapan, diikuti dengan berkenalan dengan teman-teman sepertongkrongannya, lalu Victoria pun memutuskan untuk ikut bergabung dengan tongkrongan mereka malam itu. Tanpa ia pernah tahu bahwa semuanya akan segera berubah setelah malam itu.

 

Yang gw suka dari film ini:

-Film yang berdurasi 2 jam 18 menit ini diambil hanya dengan one take alias sekali shoot tanpa cut. ONE TAKE, sodara-sodara. Menakjubkan sekali!

-Dialognya semua begitu natural dan tidak membosankan. Setelah saya cari tahu via mbah Google, ternyata film ini tidak punya naskah dialog sama sekali. Para pemain hanya diberi tahu alur cerita dalam kertas panduan sepanjang 12 halaman. Jadi hampir semua dialognya berdasarkan improvisasi para pemainnya.

-Akting para pemainnya juga harus saya beri pujian yang sama. Hebat!

-Film ini hanya sedikit sekali memberikan keterangan waktu via dialog. Namun para pembuat filmnya pintar sekali memberikan keterangan waktu melalui disisipkannya gambar perubahan warna langit di banyak adegan.

 

Yang gw nggak suka dari film ini:

-Cuma ada satu adegan yang gw ngerasa terkesan dibuat-buat. Itu juga karena salah satu pemainnya kayak sok panik-sok galak gitu.

-Agak bingung dengan ‘obsesi’ Victoria selalu menguncir rambutnya. Walau memang dia cakep sih dengan rambut diikat begitu.

-Sampai sekarang masih heran kok ada perempuan segitu ‘nurut’nya sama orang-orang yang baru ia kenal.

 

Ini trailernya…