review

Review: Calon Arang

Category: Books

Author: Pramoedya Ananta Toer

Rate: 2,5 out of 5

(Foto: Izin nyomot dari sini )

Buku dongeng ini menceritakan tentang seorang penyihir (teluh) bernama Calon Arang. Ia adalah penyihir yang sakti dan punya murid-murid yang sakti pula. Calon Arang juga punya seorang anak perempuan bernama Ratna Manggali yang cantik rupawan. Namun mengingat kesaktian ibunya dalam meneluh orang, maka tak ada lelaki yang berani memperistrikan Ratna Manggali. Hal ini membuat Calon Arang murka. Maka untuk melampiaskan kemarahannya, ia meneluh seluruh penduduk negeri. Teluhnya amat sakti, banyak manusia tak berdosa yang mati bergelimpangan karenanya. Teluh Calon Arang semakin lama semakin menyebar. Sampai pulalah kabar mengenai hal ini ke telinga baginda raja Erlangga. Ia pun mengirim pasukannya untuk menangkap Calon Arang. Sialnya, pasukan baginda raja langsung tewas di tempat karena tak mampu menghadapi kesaktian Calon Arang. Sampai akhirnya diketahui bahwa hanya ada satu empu yang mampu mengalahkan kesaktian Calon Arang, yakni Empu Baradah.

Jadi bagus nggak bukunya, Krili? Sejujurnya menurut saya jawabannya adalah tidak.

Soalnya begini….

Buku ini adalah buku dongeng yang konon ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer untuk mengisi kekosongan buku cerita anak-anak. Sayangnya banyak bagian kisah buku ini yang sama sekali nggak cocok untuk anak-anak. Salah satunya tentang bagaimana kejamnya murid-murid Calon Arang membunuh orang untuk diambil darahnya lalu dipakai untuk keramas (freak!).

Ada juga satu tokoh yang sama sekali menurut saya nggak penting dan tidak berpengaruh apapun dalam cerita ini. Yaitu, tokoh Wedawati anak perempuan Empu Baradah yang baik hati. Sumpah, fungsi dia di cerita ini nggak ada.

Plot penulisannya juga nggak rapi dan banyak hal yang dipanjang-panjangin.

Karena saya pernah baca beberapa buku karangan Pramoedya lainnya, maka saya berani bilang kalau ini adalah buku terjelek karangan beliau yang pernah saya baca. Mari kita baca buku karangan Pramoedya yang lain saja.

Iklan
review

Review: Lelaki Harimau

Category: Books

Author: Eka Kurniawan

Rate: 4 out of 5

 

(Foto: Ekakurniawan.com)
(Foto: Ekakurniawan.com)

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, saya mau membaca buku Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan. Maka ketika Anda berkeinginan kuat, alam akan membantu mewujudkannya. Tanpa diduga teman sayaAmelia, meminjamkan buku tersebut tanpa diminta. Hore! 

Maka saya bacalah buku tersebut. Berikut sinopsisnya…

Buku ini dibuka dengan kegemparan orang-orang desa atas pembunuhan yang dilakukan Margio. Margio, pemuda 20 tahunan, membunuh Anwar Sadat seorang seniman genit. Margio menggigit urat leher Anwar Sadat sampai putus. Ketika ditanya alasan ia membunuh Anwar Sadat, Margio hanya menjawab bahwa ada harimau dalam tubuhnya.

Cerita lalu bergulir ke tokoh-tokoh di hidupnya Margio. Masing-masing tokoh memberikan kontribusi pengetahuan tentang karakter Margio kepada pembaca. Sedangkan tokoh Margio dibiarkan ‘hening’. Namun Eka Kurniawan dengan pintarnya dapat membuat pembaca mengenal Margio, dari keresahannya, kemarahannya, sampai sisi lembut dirinya.

Yang saya suka dari buku ini adalah betapa cerdasnya Eka Kurniawan dalam memutarbalikkan jalan cerita. Ia membuka cerita dengan akhir sebuah kisah yaitu pembunuhan. Bukan dari kejadian-kejadian yang menjadi alasan Margio membunuh. Ending dari buku ini juga keren banget, banget! Ditutup oleh sebuah kalimat yang menjelaskan segalanya.

Meskipun salut saya tidak putus-putus terhadap Eka Kurniawan, namun saya tetap lebih menyukai buku Cantik Itu Luka. Menurut saya Cantik Itu Luka adalah buku yang lengkap. Tidak peduli bahwa sudah ada dua orang teman saya yang mengatakan bahwa buku Lelaki Harimau lebih bagus daripada Cantik Itu Luka. Yah, semuanya tergantung selera, bukan? Tapi  kalau saya boleh mengkritik, buku Lelaki Harimau ini lebih kental nuansa karya satsranya. Soalnya ada begitu banyak kalimat-kalimat panjang dan pasif. Sehingga pembaca, saya, kadang agak ‘lelah’ membacanya. Namun saya rasa Eka Kurniawan melakukan itu karena jika dibaca dengan suara keras, kalimat-kalimat itu dapat terdengar indah dnegan segala rima dan dramatisasinya.

Begitulah review saya. Ada saran baiknya saya baca karya Eka Kurniawan yang mana lagi setelah ini?

review

Review: Cantik Itu Luka

Category: Books

Author: Eka Kurniawan

Genre: Fiction

(Izin nyomot dari Ekakurniawan.com )
(Izin nyomot dari Ekakurniawan.com )

 

Gw udah tahu buku ini dari pertama kali  ia diterbitkan pada tahun 2002. Gw tahu judulnya doang karena udah pernah lihat di Gramedia. Tapi untuk memegang, mengambil, dan membaca sinopsisnya aja gw nggak tertarik. Kenapa tidak? Karena waktu itu cover bukunya begini nih…

(Foto: izin nyomot dari sini)
(Foto: izin nyomot dari sini)

Sumpah, pas gw lihat cover ini gw pikir ini adalah buku-buku sejenis Jakarta Undercovernya Moamar Emka. Perlu diketahui, pada masa itu gw beli bukunya Moamar Emka untuk menebus rasa penasaran akan kehebohan yang ditimbulkan. Tapi setelah membaca Jakarta Undercover, entah kenapa gw jadi malas membaca buku sejenis. Dan buku Cantik Itu Luka ini kena imbasnya. Betul, buku ini adalah korban ‘judge a book by it’s cover’ gw. Karena gw anaknya judgemental kayak Judge Bao.

Lalu tahun berganti tahun, gw lihat buku ini terbit lagi. Dengan cover yang membaik, tapi menurut gw masih tidak oke. Tapi cover yang baru ini cukup berhasil membuat gw jadi mau memegang, mengambil dari display, lalu membaca sinopsisnya. Hmmm, menarik. Lihat harganya….. Hapaaaah???? 99 ribu??? Taro bukunya lagi.

Sampailah Ninit muncul di WhatsApp gw. Dari obrolan ibu-ibu seputar anak, diskon, dan kabar kesehatan, Ninit kemudian merekomendasikan untuk membaca buku ini tanpa bayaran atau suruhan dari korporasi manapun. Ninit itu doyan baca buku dan sepertinya ia membaca buku ini karena ada menyangkut dengan kuliah S2 jurusan Sejarahnya (mungkin lho ya). Sejak itu gw pun memasukkan buku ini ke dalam daftar belanja buku. Harusnya gw sadar kalau buku ini diterbitkan kembali setelah sekian tahun, itu menandakan kalau buku ini layak baca. Tapi namanya gw ini perempuan, harus diyakinkan dulu baru mau lanjut. Aku capek main-main, aku maunya yang serius-serius ajah (laaaaaah, napa lu neng?)

Begitu gw membaca buku ini, gw sudah terhipnotis dari halaman pertamanya. Pembukaannya yang begitu tidak biasa. Sampai-sampai gw susah untuk mendeskripsikannya. Bisa dikatakan horor tapi kok agak lucu, dikatakan mistis tapi kok terdeskripsikan dengan realistis. Hmmm…

Seperti yang tertuang dalam sinopsisnya, buku ini menceritakan tentang Dewi Ayu seorang perempuan yang diterjunkan menjadi pelacur pada era kolonial. Ia karakter Dewi Ayu yang cantiknya memikat, tenang dan santun, membuat ia jadi pelacur yang dihormati di kotanya. Sudah menjadi risiko pekerjaannya kalau ia menjadi hamil. Ia melahirkan tiga putri yang kecantikannya sama memikat, meskipun tidak pernah diketahui siapa ayah dari masing-masing anak tersebut. Lalu sampailah ia hamil yang ke-empat kalinya. Dewi Ayu muak melahirkan anak-anak cantik ke dunia ini, ia pun berdoa agar diberi anak yang buruk rupa. Doanya terkabul, anak yang kemudian ia lahirkan wajahnya sungguh buruk sampai membuat orang ketakutan. Atau seperti yang dideskripsikan di buku ini adalah, “… sebab anak-anak akan menjerit dan menangis sepanjang hari dan orang-orang jompo akan segera demam dan mati dua hari kemudian.” (hal. 19)

Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Lebih tepatnya buku ini menceritakan apa yang terjadi sebelumnya. Baik soal kakek-nenek dan orang tua Dewi Ayu, para lelaki yang mencoba melamar Dewi Ayu, sampai ketiga anak cantik Dewi Ayu. Semuanya diceritakan dengan alur yang begitu mengalir dan membuat kita makin terhanyut dalam ceritanya. Tanpa sadar kita tenggelam dalam kerumitan hubungan antar tokoh, tapi tidak membuat kita sesak atau jengah untuk membenci kerumitannya. Karena setelah gw mengikuti serial Game Of Thrones, definisi rumit gw sudah naik level, haha!

Setelah selesai membaca buku ini, gw pun mengangguk-angguk setuju dengan segala kalimat pujian yang tertera di halaman-halaman pertamanya.

-Bahwa ada yang mengatakan bahwa ini adalah novel kelas dunia: setuju! Gw akan bangga sekali merekomendasikan buku ini ke orang-orang luar negeri yang sedang ingin membaca karya anak Indonesia. Untungnya buku ini sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, beberapa di antara adalah bahasa Inggris dan Jepang. Dan cover buku untuk yang versi bahasa Inggrisnya jauuuh lebih keren.

-Bahwa di buku ini segalanya ada: setuju juga! Mau cari cerita horor, humor, suspense, romansa, seks, psikopat, semuanya ada di sini.

 

Buku ini membuat nama Eka Kurniawan menjadi salah satu penulis favorit Indonesia gw saat ini. Gw nggak pernah menyangka nama yang begitu biasa dan awam (maaf lho bukan maksud menghina, tapi nama ‘Eka Kurniawan’ itu kalah komersil dengan nama Benjamin Kevin Alexander James, bukan?) bisa menjadi nama kesukaan gw saat ini. Gw jadi pengen membaca semua karya-karya dia. Karya selanjutnya yang gw incar adalah Lelaki Harimau.

Quote favorit gw di buku ini:

“Semua perempuan itu pelacur, sebab seorang istri baik-baik pun menjual kemaluannya demi mas kawin dan uang belanja, atau cinta jika itu ada,” katanya. (hal. 127)

 

Pesan kepada penulis: mas, om, pak, tolong kalau ada kesempatan buku ini dibuatkan serial tivinya. Jangan dibuat film. Karena pembaca pasti kecewa lantaran begitu banyak hal yang harus dipotong dengan alasan durasi.

review

Review: Larung

Larung karya Ayu Utami (foto: Krilianeh)
Larung karya Ayu Utami (foto: Krilianeh)

 

Gw tahu buku ini udah lama. Banyak orang yang membicarakan buku ini. Gw juga melihat buku ini ada di rak buku abang gw. Tapi saat itu gw belum punya ketertarikan untuk membacanya.

Sampailah pada sebuah sesi pelatihan bahasa Indonesia di kantor lama gw. Sang pemberi pelatihan, Bu Amel, bilang kalau mau tahu buku dengan kosa kata bahasa Indonesia yang kaya namun baku cobalah baca buku-buku karya Ayu Utami. Di situ timbullah ketertarikan gw.

Namun karena waktu itu gw ngekos dan jarang pulang, lalu gw asyik pacaran, tahu-tahu dilamar, kemudian ngurus nikahan, terus gw punya anak, buku ini terlupakan begitu saja di rak lemari abang gw. Sampailah pada suatu masa gw nginep lumayan lama di rumah bokap gw di Bekasi. Terus gw ingat akan buku ini. Gw pun memutuskan untuk mulai membacanya.

Buku ini diawali dengan cerita sang tokoh bernama Larung yang ingin membunuh atau meng-euthanasia neneknya. Neneknya yang konon punya ‘ilmu’ membuat sang maut agak susah menghampirinya. Larung pun melakukan perjalanan untuk mencari tahu cara mencabut nyawa neneknya.

Dari satu kisah tersebut, bergulir ke kisah selanjutnya tentang empat sekawan wanita yang mempunyai kepribadian yang sangat berbeda. Masing-masing mempunyai kisah seksual yang berbeda. Ada Cok yang sangat mengeksplor seks dengan lelaki mana pun. Sampai dia dipanggil Perek alian perempuan eksperimen. Ada Yasmin si cantik, pintar, mempunyai suami yang sempurna, namun menyimpan keinginan seksual yang tidak disangka-sangka. Lalu ada Laila si perawan. Kemudian ada Shakuntala yang biseksual. Mereka berempat melakukan perjalanan ke New York, Amerika Serikat untuk bertemu Saman. Dimana nanti Saman akan berhubungan dengan Larung untuk melakukan pergerakan politik bawah tanah demi Indonesia yang terbebas dari otoriterisme.

Setelah membaca buku ini, gw setuju dengan Bu Amel bahwa memang buku ini cukup banyak menggunakan kosa kata bahasa Indonesia baku yang gw-kita jarang dengar tapi ada di KBBI. Hal itu membuat buku ini terasa begitu ‘kaya’. Tidak dipungkiri gw agak iri dengan kepintaran Ayu Utami yang bisa menyimpan kata-kata tersebut dalam memorinya, sampai ia bisa menuangkan ke dalam bukunya.

Bahasa Indonesia itu bagus lho, sodara-sodara.

Meskipun banyak kata-kata baku, namun Ayu Utami juga pintar menggambarkan keseharian orang Indonesia yang menggunakan bahasa slang dalam percakapan sehari-hari mereka. Sampai percakapan saling ejek pun.

Dari segi ceritanya sendiri, gw setuju dengan selentingan yang selama ini sering gw dengar bahwa tokoh-tokoh dalam buku ini adalah penggambaran diri Ayu Utami itu sendiri, namun dipecah menjadi empat kepribadian perempuan yang berbeda. Dan tokoh Saman adalah penggambaran dari lelaki yangkononjadicemcemannyapenulisyangtaklainadalahpetinggimediadansudahmenikah itu. Namanya? Sebut saja dia Mawar (laaaah! Kenapa laki pakai nama perempuan?) Daripada laki tapi pakai baju perempuan, hayo!

Oke, monolog gw mulai absurd, sodara-sodara…

Kembali ke buku ini. Gw juga suka dengan cara Ayu Utami mendeskripsikan gerak-gerik dan nada percakapan yang terhalus sekali pun dengan baik dan pas. Sehingga kita-gw yang baca buku ini bisa seolah-olah ‘melihat’ kehalusan gerak dan nada dalam buku ini seperti menonton film. Karena ekspresi-ekspresi sehalus itu memang biasanya hanya dirasakan orang lain melalui visual, bukan tulisan.

Gw juga mengagumi keberanian Ayu Utami dalam mengkritisi gereja Katolik. Berhubung gw muslim dan gw nggak tahu banyak soal Katolik, maka gw manggut-manggut aja mengenai kritik-kritiknya dalam hal tersebut. Tapi gw jadi tahu bahwa kegelisahan manusia terhadap ajaran agama itu selalu ada. Tinggal gimana cara kita menyikapi dan menyalurkan ritik tersebut. Dan Ayu Utami menyalurkannya dengan baik.

blog

2015 in review

Alhamdulillaaaaah!

Senang juga lihat ini. Jadi semakin semangat nulis.

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 39.000 kali di 2015. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 14 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

review

365 Tulisan 2014 #125: Review: Jane Eyre

w

Gw dengar soal buku ini udah lama. Ya iyalah, secara literatur ini udah terbit sejak tahun 1847 (ni buku udah melewati pergantian abad, men!). Sebagai orang yang nggak suka ketinggalan, gw selalu mempunyai ketertarikan akan buku-buku literatur yang mendapat pengakuan dunia. Tapi sayangnya buku-buku literatur dunia suka terlambat masuk di Indonesia. Mungkin karena buku-buku jaman dulu kebanyakan roman, jadinya tebal-tebal. Jadi nerjemahinnya lama. Apalagi bahasa jaman dulu suka beda dengan bahasa jaman sekarang. Jadi nerjemahinnya harus hati-hati banget. Buku ini udah banyak sih difilmkan. Tapi entah kenapa gw belum berjodoh untuk nonton filmnya satu pun.

Pada suatu hari, gw menemukan buku ini di sebuah toko buku bekas di Plaza Semanggi. Harga yang dia tawarkan sangat miring, yaitu 35 ribu untuk buku setebal 686 halaman ini. Kondisinya masih sangat baik. Paling cuma ada bocel sedikit di sisi buku (nggak begitu keliatan juga sih, lebih kentara kalau diraba) dan ada penulisan tanda tangan serta tanggal pembelian sang empunya dulu sebelum gw. Nggak masalah buat gw. Beli. Lalu baca.

Seketika gw kagum dengan penulis buku ini. Buku ini dibuka dengan adegan yang tidak biasa dan tidak gw sangka-sangka untuk penulisan pada jaman itu. Makin gw baca, makin kagum gw dengan ke-modern-an pola pikir dan jalan cerita buku ini. Ia menciptakan tokoh Jane Eyre seorang gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh tantenya. Ia tidak cantik, namun cerdas. Dan yang paling mengagumkan adalah bagaimana seorang Jane yang punya sikap. Mungkin selama ini gw termakan dengan gambaran perempuan santun (baca: lemah)  Inggris namun sok aristokrat yang selama ini gw nonton di film-film. Makanya gw kaget dengan penokohan Jane yang tidak biasa ini. Bukan hanya tokoh Jane yang tidak biasa. Penokohan karakter lain pun tidak biasa namun luar biasa realistisnya. Singkatnya, buku ini berisi tokoh yang nggak klise atau kebaca perjalanan hidupnya.

Pola penulisan buku ini pun tidak biasa. Begitu banyak kalimat bertingkat yang mendeskripsikan pola pikir serta monolog yang sedang dilakukan seorang Jane. Twist atau puntiran ceritanya pun tidak disangka-sangka dan pada saat yang tidak kira.

Konflik kehidupan seorang Jane Eyre ini sesuai dengan jamannya sih, mengenai jodoh. Namun pokok permasalahannya lagi-lagi tidak biasa dan tindakan yang dimbil Jane pun tidak biasa. Meski begitu banyak pujian gw terhadap tokoh Jane Eyre ini, bukan berarti dia menjadi tokoh heroik di buku ini. Membaca kisah hidupnya seperti melihat kejadian hidup yang kurang menyenangkan terjadi pada teman yang udah lama nggak kita ajak bicara. Kita ingin tahu, tapi nggak pengen terlibat.

Dari buku ini, yang ceritanya berseting pada tahun kira-kira sama dengan tahun terbitnya, membuat gw jadi tahu bagaimana orang jaman dulu di Inggris sana hidup. Mereka masih pakai lilin, jalanan mereka becek, rumah-pekarangan-jalanan pada gelap, namun itu semua tidak terasa seram. Padahal kalau jaman sekarang, semua yang gw deskripsikan di atas udah pasti jadi seting film horor. Jaman dulu, di era yang masih pakai lilin itu, manusia hidup dengan normal kok.

Quote yang paling gw suka dari buku ini adalah…

“Kalau dulu aku mengalah, aku pasti menyalahi prinsip. Kalau sekarang aku mengalah, berarti pertimbanganku yang kacau.”– hal. 634

Gw suka quote itu karena ini menggambarkan keteguhan hati. Kadang perempuan suka ‘lemah’ dan mengalah pada keadaan, meskipun ia tidak menyukainya. Dan ketika ia berteguh hati, ia dikatai keras kepala yang menjurus ke bodoh. Dari quote itu tergambarkan bahwa keteguhan hati seorang perempuan juga berasal dari sebuah hasil pemikiran dan pertimbangan yang mendalam.