Bahasa Sebagai Ajang Pengkhususan Diri??

(Repost dari blog yang lama: 26 Agustus 2008)

Hari Sabtu, 23 Agustus 2008 gw makan eskrim JCo di JCo Senayan City sambil baca koran. Koran Media Indonesia tepatnya. Dan tiba-tiba gw tertarik dengan kolom yang ditulis oleh Dony Tjiptonugroho  sang Redaktur Bahasa Media Indonesia. Berikut beberapa kutipannya…

“Bahasa Indonesia yang baik dan benar seperti berada di tataran lain dari praktik berbahasa sehari-hari. Bila ditanya, beberapa kalangan akan menjawab seragam, yakni penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar bakal menimbulkan kesan kaku dan tidak komunikatif.” (Paragraf 5)
“Bahasa yang tidak komunikatif dan kaku saya pikir lahir dari kemampuan berbahasa yang terbatas atau alur pemikiran yang kurang runtut.” (Paragraf 6)
“Menurut Gorys Keraf (1980), bahasa tidak lepas dari penalaran. Pengungkapan gagasan melalui kalimat-kalimat jelas dan terarah merupakan perwujudan berpikir logis. Jadi, kalimat dan bahasa yang tidak komunikatif dan kaku bisa jadi merupakan hasil penalaran yang kurang kuat.” (Paragraf 7)
(Selanjutnya artikel berisi tentang himbauan agar kita menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar untuk sehari-hari)

Abis baca itu gw jadi banyak berpikir. Apa mungkin kita menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar untuk sehari-hari? Gw setuju banget kalau nantinya hal itu akan menimbulkan kekakuan dan tidak komunikatif. Makanya kayanya menurut gw itu ga mungkin. Soalnya menurut ilmu komunikasi yg gw pelajari waktu jaman kuliah dulu, inti dari sebuah komunikasi itu adalah menyampaikan isi pesan kepada komunikan. Dan agar isi pesan itu tersampaikan maka diperlukan berbagai cara antara lain persamaan visi, konsepsi kebahagiaan, tingkat pendidikan sampai persamaan bahasa. Bahasa yg dimaksud di sini adalah baik bahasa lisan maupun tulisan.
Nah kalau misalnya kita menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar kepada orang yang tidak tepat (bilanglah preman terminal) makan yg akan terjadi adalah sebagai berikut….
“Jalan teroooos! Jalan terooos! Woi!! Itu macet tuh! Makanya jalaaaan!!!!”, teriak si preman ketika dia sedang asyik mengatur jalan terminal. (jujur penulis terinspirasi dari pengalamannnya melintasi terminal Kampung Rambutan selama hampir 5 tahun). Lalu ia dihampiri oleh orang yang berbaju necis nan rapi layaknya gurunya Nobita.

“ Maaf mas, apakah anda bisa memberitahukan saya bis atau angkutan umum yang harus saya naiki jikalau saya ingin pergi ke daerah Grogol?” katanya sambil tersenyum manis.

“Grogol? Oooh, lo naik aja tuh patas 29. Die ada di belakang noh. Lo taekin aja tuh patas.”

“Apa maksud perkataan mas barusan?”

“Ha? Maksud gua, lo taekin tuh patas nomer 29. Tuh patas ada di belakang gedung.”

“Bukan, yang saya maksud adalah kata ‘taekin’ yang tadi anda katakan. Apakah maksud dari kata tersebut?”

“Aaaaaah elaaaH! Maksad-maksud, maksad-maksud! Lu bikin gw ribet aja sik! Pokoknya lu taekin aja dah tuh patas 29. Terus lu minggat dari gua, kalo kaga gua gaumparin lu! Pegih!”

Nah kasus barusan membuktikan bagaimana bahasa yang tidak sama kan menimbulkan kesalahpahaman alias tidak sampainya isi pesan dalam berkomunikasi. Jadi bahasa yang Indonesia yang baik dan benar akan kurang cocok kalo digunakan pada kegiatan kita sehari-hari.

Tapi jujur gw prihatin dgn timbulnya bahasa-bahasa baru di Indonesia yang diciptakan dengan maksud untuk pengkhususan diri. Contoh nyatanya aja tuh bahasa yang diciptakan oleh Debby Sahertian yang ia maksud sebagai bahasa kalangan selebritis. Sekarang tuh bahasa malah dipake sama kaum bencong. Mampus! Emang enak! Abis gw sebel banget, kenapa sih lo ampe bisa-bisanya bikin bahasa suapaya bikin diri lo tuh istimewa. Orang-orang kaya gini nih pikirannya kurang runtut klo kata Gorys Keraf.

Tapi gw sadar klo itu semua terpicu dari zaman orde baru dimana peminpin kita berasal dari suku yang mempunyai beberapa tingkatan bahasa. Seperti penyebutan kata ‘babu’ dianggap kasar, maka diganti menjadi ‘pembantu’. Penyebutan kata ‘kau’ dianggap kasar, maka diganti dengan ‘kamu’. Tanpa sadar pengalusan-penghalusan kata tersebut menjadi standar ukur tingkat pendidikan dan kasta pergaulan seseorang. Dan orang-orang jadi kecanduan dengan penglabelan atau pengistimewaan yang mereka dapat dari bahasa yang mereka gunakan. Makanya mereka membuat bahasa-bahasa baru agar keistimewaan yg mereka rasakan lebih bertahan lama.

Dan itu menyebalkan! Karena lo mau menyebutnya babu kek, pembantu kek, asisten rumah tangga kek, tetap aja dia mempunyai arti yang sama. Tapi pengkhususan diri yang menjadi tuntutan membuat linguistik menjadi melenceng dari tujuan utamanya ketika diciptakan.

Kalau udah begini, pasti gw jadi iri ama negara adidaya ono nooh, si Amerika. Abis dia punya bahasa yang setara tanpa tingkatan. Kata ‘You’ dalam ‘I love you’ sama ‘fuck you’ sama aja tuh.

Huuuuuurrrgh! Kenapa sih bangsa kita tuh suka meribetkan diri???????

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Masih punya pemikiran yang sama. Nggak usahlah bikin bahasa baru melulu. Mendingan kita bikin inovasi baru yang benar-benar berguna dan mensejahterakan orang banyak. Bukan hanya sekedar jadi orang yang ‘khusus’.