Review: His House (2020)

Film-film horor semacam His House ini terasa lebih real karena pemerannya bukan orang kulit putih.

Film ini mengisahkan tentang sepasang suami-istri asal Sudan yang melarikan diri dari perang di negara asalnya. Di perjalanan melarikan diri, putri mereka tewas. namun semua kesulitan mereka kini telah berlalu. Soalnya mereka mendapat rumah pengungsian dari pemerintah Inggris.
Rumah baru mereka cukup besar, tapi tidak terurus. Sang suami, Bol (Sope Dirisu), bertekad mau memperbaiki rumah tersebut. Namun ada kejadian-kejadian aneh di rumah itu. Terutama keanehan di balik dinding rumah mereka.
Awalnya Bol pikir kalau semua itu hanya khayalan lantaran duka mendalam karena kehilangan anaknya. Namun begitu istrinya, Rial (Wunmi Mosaku), ikut melihat dan mendengar hal-hal aneh di balik dinding rumah itu, Bol merasa ini bukan hal main-main…

Yang saya suka dari film ini:
+ Suka banget dengan latar belakang penokohan yang tidak biasa, yakni orang hitam dari negara asing. Biasanya kan film horor itu kalau nggak orang putih atau orang Asia sekalian. Dengan penokohan yang nggak biasa ini, justru bisa membangun aura seram yang lebih menggigit. Bahwa orang biasa kayak kita bisa diteror hantu. Bahwa mau pindah negara pun kalau hantunya mau ngejar, ya terima nasib aja. Bodo amat hantunya punya visa atau bisa bahasa Inggris atau nggak. Kalau hantunya mau ngejar elu, ya akan dikejar sampai dapat.
+ Suka dengan akting Sope Dirisu yang nggak banyak omong, tapi bisa menjelaskan emosinya lewat ekspresi doang.
+ Suka juga dengan Wunmi Mosaku. Matanya doi bagus banget, deh.
+ Meski ini film horor tentang rumahnya, tapi cerita perjuangan Bol dan Rial untuk adaptasi sama lingkungan di negara barunya ini juga digambarkan dengan pas. Sehingga hal itu justru menambah keputusasaan dan kesendirian Bol dalam menghadapi keanehan di rumahnya.
+ Set dan lokasinya bagus! Berantakan depresif gitu.
+ Hantu dan twist-nya nggak biasa. Mungkin karena saya nggak tahu banyak tentang budaya dan kepercayaan orang Afrika-Sudan kali, ya. Sehingga teror hantu di film ini jadi menambah pengetahuan budaya saya.
+ Endingnya bagus dan ngena banget untuk isu tentang para pengungsi.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Hantunya awal-awal serem. Tapi kok bisa dikalahin dengan cara begitu, ya? Katanya hantu, tapi kok bisa digituin? Hantu macam apa you!

Rate: 3,5 out of 5.
Saya nonton film ini di Netflix.

Ini trailernya…



Review: Rebuilding Paradise (2020)

Rebuilding Paradise memberikan gambaran jelas bagaimana sedihnya kehilangan rumah dan kotamu akibat ulah manusia.

(Foto: National Geographic)

Pada 8 November 2018, ada kebakaran di hutan dekat kota Paradise, California, Amerika Serikat. Para pemadam kebakaran langsung turun tangan untuk memadamkan api. Namun mereka tidak bisa mengalahkan kekuatan angin yang membuat api menyebar cepat. Lama-lama api mulai menjalar ke pemukiman warga Paradise. Para pemadam kebakaran benar-benar tidak kuasa menahan kekuatan api, hingga akhirnya seluruh kota Paradise habis terbakar. Langit di kota Paradise merah membara karena api. Siang hari di kota Paradise seperti malam hari karena asap tebal menutupi cahaya matahari. Tidak ada lagi rumah warga, tidak ada lagi pusat kota, semua habis tinggal rangka dan abu.

Paradise, CA – Piles of debris from burned buildings close to an antique mall in Paradise, CA. (Credit: National Geographic)


Akhirnya diketahui bahwa penyebab utama kebakaran ini adalah kelalaian perusahaan listrik yang tidak memelihara tiang-tiang listrik mereka yang terpasang di hutan. Percikan listrik dari tiang-tiang itu memercikkan api yang menyebabkan kebakaran hutan.
Belakangan diketahui pula bahwa akibat kebakaran itu, air di kota Paradise kini tercemar sampai-sampai bukan hanya tidak bisa digunakan untuk minum, dipakai untuk mandi saja lambat laun bisa menyebabkan kanker.

Carly Ingersoll seorang psikolog sekolah. Ia sedang berusaha mempunyai keturunan. Namun dokter melarang dia untuk hamil karena ia menolak pindah dari Paradise pasca bencana. Ia juga sudah pernah mandi pakai air kota Paradise yang tercemar. Dokter takut kandungan kimia yang sudah masuk melalui kulitnya akan berbahaya untuk janin. (National Geographic/Sarah Soquel Morhaim)

Meski sudah diberikan rumah pengungsian, namun masih banyak warga Paradise yang menolak hengkang dari kota yang sudah hancur-lebur itu. Karena warga Paradise sangat mencintai kotanya.

Sang sutradara, Ron Howard, mengikuti perjalanan hidup dan usaha beberapa warga kota Paradise untuk bisa bangkit kembali. Ada dari sudut pandang polisi, petinggi sekolah, psikolog sekolah, mantan walikota, dan beberapa warga biasa. Ron mengkuti kisah hidup mereka berharap dapat melihat perubahan ke arah yang lebih baik.

Yang saya suka dari film ini:
+Film dokumenter ini sama sekali nggak pakai narator, tapi kita bisa paham dan ikut merasakan kesedihan para korbannya.
+Film ini mengambil segala pihak yang terlibat di kota tersebut. Bukan hanya warganya, tapi juga anggota dewan kotanya, pihak perusahaan listriknya, sampai kaum lansia yang mengerti sejarah kota tersebut.

Michelle John salah satu petinggi sekolah di Paradise. Pasca bencana ia harus mutar otak agar para muridnya tidak ketinggalan pelajaran. Ia juga tetap merayakan wisuda para murid kelas 12 di lapangan, meski ia harus membabat pohon di sekitar sekolah yang berpotensi menyebarkan abus racun di udara. (Credit: National Geographic)


+Banyak video kebakaran yang terekam. Dari situ kita bisa melihat bagaimana sebuah kota berubah jadi api neraka. Sampai aspal jalan aja kebakar. Sen cing ping!

Salah satu rumah yang terbakar di Paradise Nov. 8, 2018. (Photo by Noah Berger)


+Sepertinya Paradise ini beneran kota yang bagus dengan warga yang baik. Makanya sepanjang film ini kita akan melihat bagaimana warganya cinta banget sama kota Paradise.
+Ada pengakuan anak yang bapaknya yang udah lansia meninggal pas kebakaran itu. Sediiiiiiiih banget ngebayanginnya T_T
+Warna dan gambar film ini baguuus! Emang beda dah kalau yang sutradarain itu pemain lama di Hollywood.
+Ron Howard matanya jeli banget menggambarkan ironi kebahagiaan kecil dari warga dari kota yang hancur.

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Maaf ya, bukan maksudnya meremehkan permasalahan orang di Paradise, tapi mungkin karena saya tinggalnya di Indonesia yang rentan bencana alam kali, ya. Jadi begitu lihat rumah pengungsiannya bagus-bagus dan layak huni ada juga yang hidup sementara di mobil trailer, perasaan saya kayak ‘hmmm kalo elo-elo pada tinggal di negara gue, kalian udah nangis darah kali yak…’

Arabella Young, salah satu anak yang mengungsi di mobil trailer bersama keluarganya. (Credit: National Geographic)


-Film ini banyak tokohnya, tapi diceritakan cuma seceplok-seceplok. Akhirnya beberapa tokoh diceritakannya nggak tuntas.

Film ini bisa ditonton di channel National Geographic hari Sabtu, 14 November 2020 pukul 21:00
Rate: 4 out of 5

Ini trailernya…

Gimana Rasanya?

Saya lagi ikutan sebuah jaringan skin care yang alhamdulillah memang cocok di kulit saya.
Katanya masker mud mask dari skin care ini bagus banget buat kulit yang jerawatan dan berminyak. Tapi kulit saya ini kering dan jarang jerawatan. Pengen nyobain masker yang hits banget itu. Tapi saya nggak bisa pakai. Gimana dong?

Eh Si Punk Rock kan kulitnya berminyak dan gampang banget jerawatan. Suruh dia pake ah…

“Sayang, kamu cobain pake masker mud mask ini, ya. Biar aku tahu hasilnya. Jadi kalau aku promosiin ke orang, aku beneran tahu hasilnya. Nggak ngarang-ngarang”.

“Okeh…”

“Asyik! Aku pakein, ya”.

Setelah 15 menit pakai masker, Si Punk Rock bilas maskernya.

“Gimana rasanya? Enakan, nggak? Terasa lebih halus, nggak? Lebih kencang, nggak?”

“Rasanya? Rasanya itu…..seperti dirawat oleh istriku.”

Review: Walking The Yangtze With Ash Dykes (2020)

Apa jadinya kalau kita memutuskan untuk menyusuri sungai Yangtze di Tiongkok?

Ash Dykes

Kenalin nih, namanya Ash Dykes asal North Wales, Inggris. Dia adalah seorang petualang atau explorer yang sudah tiga kali menyabet gelar rekor dunia. Salah satunya adalah sebagai orang yang berhasil treking keliling Madagascar sepanjang 2,600 kilometer pada tahun 2015. Kini ia memulai petualangan barunya: treking meyusuri Sungai Yangtze di Tiongkok yang merupakan sungai terpanjang ketiga di dunia (6,600 kilometer).

Di dokumenter ini diperlihatkan persiapan awal Ash untuk menjalankan misinya. Mulai dari belajar bahasa percakapan dasar China, peralatan apa aja yang dia bawa, sampai beli kuda untuk menemani perjalanan awalnya.

Ash dengan kuda tahan banting yang ia beri nama Castor Troy. Tapi sepanjang film saya dengar namanya itu ‘kastachui’ haha

Setelah perlengkapan buat misinya udah siap, Ash pun pergi ke pegunungan Tanggula di pedataran tinggi Tibet untuk ke sumber mata air utama Sungai YangTze. Dari situlah perjalanan misi Ash menyusuri Sungai Yangtze dengan jalan kaki akan dimulai. Ash akan menelusuri sungai sampai ujung kota Shanghai dimana di situlah muara Sungai Yangtze ke lautan.

Ash pas nemuin sumber mata air utama Sungai Yangtze bersama guide dan crew yang waktu itu masih ikutan mendokumentasi perjalanannya sebelum akhirnya pada menyerah bertahap.

Serius jalan kaki? Iya serius banget dia. Dengan bawa tas ransel carrier seberat 30-an kg, dia telusurin tuh sungai. Selama perjalanan, banyak banget tantangan yang harus dia hadapi. Dari tantangan dari sesama manusia, seperti para guide-nya yang nggak ada yang betah karena kelelahan atau takut. Sampai tantangan dari alam yang banyak banget. Mulai dari binatang buas, hujan badai, longsor, dan masih banyak lainnya.

Yang saya suka dari film ini:
+ Ash Dykes ini sungguh inspirasional. Dari film ini saya bisa melihat bahwa faktor keberhasilan Ash bukan hanya soal kegigihan. Tapi juga soal bagaimana ia mempertahankan positive attitude dan positive mindset. Di film ini saya tidak melihat satupun komentar negatif atau satir dari Ash tentang apapun yang ia hadapi. Dia sempat tersesat, peralatannya dicuri, harus mutar jalan di gunung, numpang tidur dan makan di warga lokal, tapi dia jalanin dengan senang dan senyum terus. Positive mindset selalu bisa bikin kita mikir jernih buat bertahan hidup.

Dari gunung bersalju….
Sampai musim panas, Ash tetap jalan dengan tersenyum.


+ Ash menghabiskan waktu perjalanan ini sekitar satu tahun. Ia tidak melulu menyusuri di samping sungai aja, tapi juga mampir ke kota-kota yang dilewati sungai Yangtze. Di kota-kota itu Ash berusaha mempelajari dan memahami makna sungai Yangtze untuk warga di sana.
+ Film ini dibagi menjadi dua bagian (episode). Pembagian episode ini dibuat dengan proporsional. Bagian pertama lebih banyak menceritakan bagaimana Ash menjalani perjalanannya dan bertahan hidup di alam liar. Sedangkan di bagian kedua lebih banyak membahas tentang budaya dan warga yang ia singgahi.
+ Sebelum saya nonton film ini, Tiongkok tidak pernah masuk ke list negara yang ingin saya kunjungi. Tapi sekarang, setelah melihat Tiongkok yang direkam oleh Ash adalah negara yang indah banget, ya! Lembahnya bagus-bagus dan menyejukkan mata. Dan sungai Yangtzenya, meski di tiap daerah warna airnya bisa berbeda, tapi sungainya bersih nggak ada sampah. Sebagai orang Indonesia yang tinggal di Jakarta, pemandangan sungai bersih tanpa ada sampah itu memang langka.

Tuh, bagus kan?
Cakep banget masya Allah…
Kayak lembah-lembah tempat tinggalnya Kung Fu Panda kan?

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Meski kegiatan Ash mampir ke kota-kota untuk mempelajari budaya dan konservasi alam di sekitar sungai yang ia telusuri itu menarik, tapi jadi kurang memperlihatkan sisi adventurous-nya.
– Film ini agak terkesan terburu-buru untuk menceritakan perjalanan yang menghabiskan waktu satu tahun. Mungkin memang akan bosan nonton orang yang melakukan perjalanan sendirian. Tapi kalau dibuat kayak vlog harian, saya rasa akan tetap menarik untuk ditonton.
– Tidak ada keterangan waktu dan tanggal di film ini. Makanya sempat kaget begitu nonton bagian Ash ke kota Wuhan. Udah ketar-ketir aja dia ketularan Covid-19. Tapi kayaknya misi dia ini dilakukan sebelum ada virus itu merebak, sih.

Rate: 3,5 out of 5

Film ini akan tayang di channel National Geographic pada 20 (bagian 1) dan 27 Oktober (bagian 2) 2020 pukul 20:00 WIB.

Ini trailernya…

(Semua foto adalah dokumentasi dari National Geographic)

Review: The Devil All The Time (2020)

Bagaimana iman yang kebablasan justru jadi jalan masuknya syaiton.

Hmmm agak bingung menceritakan film ini karena tokohnya banyak banget. Tapi mari saya coba.

Film ini dibuka dengan menceritakan prajurit Willard Russell (Bill Skarsgård) yang baru pulang dari Perang Dunia II. Saat busnya transit, ia berkenalan dengan seorang gadis pelayan bernama Charlotte (Haley Bennett). Willard langsung jatuh cinta, tak lama mereka pun menikah dan dikaruniai seorang putera yang mereka namakan Arvin (Michael Banks Repeta). Kehidupan keluarga Willard baik-baik saja. Willard juga menanamkan nilai agama ke Arvin. Willard membangun altar gereja kecil di hutan untuk tempat keluarga mereka berdoa.


Suatu hari Charlotte jatuh sakit. Dokter mendiagnosis kalau ia terkena kanker dan tidak bisa disembuhkan. Sejak itu Willard makin rajin mengajak Arvin ke gereja di hutan untuk berdoa demi kesembuhan Charlotte. Arvin dipaksa untuk berdoa setiap hari dan sekencang-kencangnya demi ibunya. Namun saat Charlottte tidak menunjukkan tanda-tanda kesembuhan, Willard makin kehilangan akal. Ia sengaja membunuh anjing kesayangan Arvin dan mempersembahkan bangkainya ke altar gerejanya sebagai nilai tukar ‘ambil saja anjing ini, tapi jangan ambil istriku’. Tentu saja itu sia-sia. Charlotte tetap dipanggil Tuhan dan Arvin jadi tidak mau percaya lagi dengan Tuhan sejak melihat perbuatan ayahnya terhadap anjingnya. Tak perlu waktu lama akhirnya Willard juga menyusul Charlotte.

Tinggal lah Arvin kecil yang kemudian dibesarkan oleh ibunya Willard. Di sana ia tidak kurang kasih sayang karena selain neneknya, ada juga paman dan adik perempuan angkatnya yang menyayangi Arvin. Sampai Arvin dewasa (Tom Holland) ia tetap menolak untuk berdoa pada Tuhan. Maka ketika terjadi sesuatu pada keluarganya, Arvin tidak menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Ia memilih untuk melakukan tindak keadilannya sendiri.

Yang saya suka dari film ini:
+ Kisah Arvin hanyalah salah satu cerita yang ada di film ini. Ada begitu banyak tokoh lainnya yang menceritakan asal-muasal karakter. Semuanya diceritakan dengan baik, runut, mudah dimengerti, dan tuntas. Nggak ada cerita yang bolong. Kita juga ingat terus sama nama tokohnya. Padahal biasanya klo film yang tokohnya banyak, kita ingat karakternya tapi gampang lupa sama namanya.
+ Film ini bertabur bintang! Selain Tom Holland, ada Robert Pattinson, ada Mia Wasikowska, ada Jason Clarke juga. Semuanya bermain dengan optimal.
+ Tapi di antara nama-nama yang udah terkenal itu, akting Tom Holland tetap paling oke. Di film ini, dia bisa bikin kita lupa kalau dia adalah si Spiderman. Di sini kita melihat ia adalah si cowok Amerika kampung tulen. Padahal dia aslinya aktor Inggris. Canggih lah kamu, Tom!
Robert Pattinson yang aktor Inggris juga bagus sih aktingnya. Di sini ia berperan sebagai Pastor Preston yang nggak bener. Cuma aura misterius dan membunuh dia di film ini udah sering saya lihat di film Twilight yang diputar berulang kali di Trans TV. Bedanya dia di film ini nggak secakep di film Twilight aja. (Pake bedak dong biar putih dan cakep lagi kayak Edward Cullen 😛 )
+ Namun, akting yang patut diberi perhatian khusus dan diacungi jempol adalah Harry Melling yang berperan sebagai pastor Roy Laferty yang sedeng (sedeng adalah bahasa Bekasinya ‘gila’). Dan tahukah Anda bahwa Harry Melling ini adalah pemeran Dudley Dursley di film Harry Potter? Iya betul. Itu lah Harry Melling!
+Setelah dipikir-pikir, untuk film yang menceritakan kehidupan para Amerika udik ini aktornya kok banyakan non Amerika yak? Tom Holland, Robert Pattinson, Harry Melling itu orang Inggris. Mia Wasikowska orang Australia. Bill Skarsgård orang Swedia. Ya nggak apa-apa, sih. Justru salut sama akting mereka semua.
+ Film ini mampu menceritakan dengan baik bagaimana iman bisa jadi sumber kejahatan. Bagaimana iman bisa menutup logika (Willard), bagaimana iman yang kebablasan bisa jadi gila (Roy Laferty), bagaimana pencarian iman bisa jadi alasan untuk berbuat jahat (Carl Henderson yang diperankan oleh Jason Clarke), bagaimana terlalu terfokus pada iman bisa membuat manusia jadi naif (Lenora-adik angkat Arvin diperankan oleh Eliza Scanlen), bagaimana iman bisa juga jadi kedok orang untuk berbuat yang tidak bermoral (Pastor Preston).
Film ini tidak bermaksud membuat orang jadi tidak beriman, justru ia ingin mengingatkan kalau segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Beragama itu harusnya membuat Anda menjadi orang yang lebih baik, bukan malah jadi jalan masuk syaiton untuk ngebisikin hal-hal jahat. Persis seperti judul film ini: The Devil All the Time.
Pesan film ini bagus banget untuk jadi renungan.
+ Adegan kekerasan di film ini terlihat nyata banget. Warna darahnya juga bagus. Kayak asli. Sepertinya film Hollywood mulai mengadaptasi adegan kekerasan film-film Korea. Film Korea kan kalau bikin adegan kekerasan emang kayak nyata. Jadi baek-baek ya kalau nonton film Korea non drama romantis. Bisa-bisa trauma 😀
+ Set dan lokasinya oke!

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Film ini banyak adegan kekerasannya. JADI JANGAN DITONTON SAMA ANAK DI BAWAH UMUR 15 TAHUN YA.
-Bill Skarsgård kayak terjebak dengan peran yang begitu-begitu aja, deh. Kalau nggak orang depresif, ya orang jahat. Mas Bill, kamu cari karakter yang lain dong. Semangat! Aku tahu kamu bisa.
-Aksen Amerika kampung Robert Pattinson dan Bill Skarsgård agak terdengar dibuat-buat, deh menurut saya…


Saya nonton film ini di Netflix
Rate: 5 out of 5

Ini trailernya…

Review: Ave Maryam (2019)

Sebel, banyak yang dipotong 😦

Film ini mengisahkan tentang Suster Maryam (Maudy Koesnaedi) yang tinggal di sebuah asrama gereja di Semarang. Tidak ada yang istimewa di hari-hari Maryam sebagai di gereja. Semuanya ia jalani dengan ikhlas untuk melayani Tuhan. Mulai dari memasak, mengurus asrama gereja, sampai memandikan suster yang sudah lansia.
Namun semuanya berubah ketika Romo Yosef (Chicco Jerikho) muncul di gereja Suster Maryam. Romo Yosef yang tampan dan pandai bermain musik membuat Suster Maryam diam-diam mengaguminya. Kekaguman Suster Maryam disambut baik oleh Romo Yosef. Sang romo pun sering mengajak Suster Maryam dalam pertemuan rahasia. Rasa yang ditawarkan oleh Romo Yosef ini asing namun dinikmati oleh Suster Maryam. Tapi bagaimana dengan sumpahnya pada Tuhan untuk mengabdikan hidupnya untuk melayani?

Yang saya suka dari film ini:
+ GAMBARNYA BAGUS WEI! Memanjakan mata banget deh ini film.
+ Posternya juga bagus
+ Ya Allah, itu Maudy Koesnaedi kok udah tua bisa tetap kece, sih? Apa rahasiamu mba? Saya bodo amat ama agamamu mba. Yang saya pengen tahu itu, skin caremu apa? Jawab! *gebrak meja biar Maudy langsung jawab*
+ Salut sama sutradara Ertanto Robby yang di negara tercatat sebagai beragama Muslim, namun bisa bikin film tentang keseharian kaum Nasrani dengan segini indahnya.
+ Chicco Jerikho dengan rambut gondrong itu adalah jaminan seksi, sodara-sodara. Jadi kalau di film ini diceritakan susternya khilaf karena kegantengan doi, YA WAJAR BANGET LAH YA~
+ Set dan propertinya baguuuus. Kaya dan penuh.
+ Aktingnya Tutie Kirana masih numero uno!
+ Ada satu dialog yang jadi favorit saya di film ini:

Jika surga belum pasti untukku, buat apa aku mengurusi nerakamu?

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Ini tuh filmnya banyak dipotong. Jadi kalau abis nonton film ini nggak paham ama ceritanya, wajar banget. Yang dipotong tuh hal-hal krusial yang menghidupkan cerita pula. Seperti tentang latar belakang keluarga Maryam yang Muslim. Sama kejadian Maryam dan Yosef di pantai. Saya tahu kalau adegan ini dipotong setelah dikasih tahu oleh beberapa teman yang beruntung bisa nonton versi fullnya. Cerita aslinya bisa juga Anda baca di Wikipedia. Tapi spoiler alert banget lho, ya.
Udah gitu adegan yang dipotongnya itu kasar pula. Jadi pas di tengah-tengah lagi nonton, kita kayak kaget, ‘lho kok berubah begitu aja adegannnya?’
– Terlepas rasa cinta saya kepada Joko Anwar sebagai sutradara, namun Joko Anwar sebagai pemain film itu nggak bagus. Masih kaku bang. Maaf ya, bang Joko. Anggap aja ini masukan ya. Jangan marah, ya *salim*
– Film ini standar festival lho, ya. Jadi minim dialog tapi gambarnya indah-indah. Mungkin bagi beberapa orang, film ini akan terasa sangat pelan dan membosankan.

Saya tonton film ini di Netflix.
Rate: 3 out of 5

Ini trailernya…

Review: Tenggelamnya Kapal van der Wijck (2013)

Kalau nggak direkomen ama Agam, kayaknya saya nggak akan punya niatan untuk nonton film yang ternyata bagus ini.

Film ini berlatar tahun 1930-an. Alkisah seorang pemuda bernama Zainuddin (Herjunot Ali). Ia terlahir dari ayah yang berdarah Minang dan ibu berdarah Makassar. Sepanjang hidupnya Zainuddin besar di Makassar. Sepeninggal ayah dan ibunya, Zainuddin ingin melihat tanah kelahiran ayahnya di Batipuh, Sumatera Barat. Keluarga Zainuddin di Makassar sempat khawatir kalau Zainuddin tidak akan diterima baik oleh keluarga ayahnya di sana. Karena menurut adat Minang yang berpatok pada garis keturunan dari ibu, maka Zainuddin adalah orang Makassar, bukan lagi orang Minang.
Tapi Zainuddin bersikeras ingin melihat ranah Minang karena ingin sekalian belajar agama di sana. Ternyata benar, ia kurang diterima baik oleh orang-orang di kampung ayahnya. Ia tidak dianggap sebagai orang Minang. Ia kerap dikucilkan dan tak punya teman. Namun Zainuddin dapat menahan itu semua karena hatinya telah terpaut dengan Hayati (Pevita Pearce) sang kembang desa di Batipuh. Cintanya bersambut dan mereka rajin berkirim surat. Namun lagi-lagi darah Minang di Zainuddin tidak dianggap. Sehingga paman Hayati melarang kisah cinta mereka dan mengusir Zainuddin dari Batipuh. Hayati berjanji setia menunggu Zainuddin. Namun kesetiaan Hayati diuji ketika ia dijodohkan dengan Aziz (Reza Rahadian) yang tampan, kaya, dan berdarah Minang asli…

Yang saya suka dari film ini:
+ Film ini gambarnya baguuuuuuuuuus! Jujur, saya tuh awalnya pesimis waktu dulu tahu film ini disutradarai oleh salah satu geng bos-bos sinetron, yakni Sunil Soraya. Tapi ternyata filmnya baguuuuuuuus.
+ Bisa dibilang setengah awal film ini berdialog dengan bahasa Minang. Dan saya suka hal itu karena jadi benar-benar terasa konflik kedaerahannya.
+ Ada yang bilang dialognya sinetron banget. Justru menurut saya di tahun segitu, memang begitulah cara orang berdialog. Dan sepertinya film ini menuruti dialog yang ada di buku aslinya karya sastrawan Minang, Buya Hamka. Karya sastra lama dari Minang memang banyak pakai bahasa Melayu tinggi.
+ Oiya film ini diangkat dari buku berjudul sama. Penulisnya orang Minang, tapi kritik tentang budaya Minang bertebaran di buku ini. Saya sebagai perempuan berdarah setengah Minang bisa mengangguk-angguk setuju dengan kritik yang disampaikan.
+ Film ini jalan ceritanya sedih. Jadi kalau kalian baru putus, ditinggal nikah, ditolak cinta karena miskin, jangan nonton film ini, ya.
+ Salut untuk beberapa adegan yang diperankan secara gemilang oleh Herjunot. Apalagi adegan ketika dia marahin Hayati. Rentetan dialognya berhasil bikin saya ngebatin ‘mampus luh, Hayati!’ Sampai sekarang saya masih suka cari cuplikan adegan itu di Youtube untuk saya tonton berulang kali.
+ Untuk beberapa adegan set dan propertinya bagus banget. Ada beberapa mobil kuno yang masih bagus pula kondisinya buat dipakai balapan. Jarang ada film Indonesia yang mau invest dan repot nyari properti sampai segitunya. Tapi bisa juga mobil itu koleksi sang pemilik film sih

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Duh, Pevita aktingnya nggak pas banget deh di film ini. Dia terlihat terlalu bule untuk jadi perempuan Minang. Udah gitu aktingnya biasa aja. Padahal dia banyak memegang peran penting agar suatu adegan bisa kerasa sedihnya. Tapi ya….gitu deh.
Adegan di akhir-akhir film pas dia melek lagi dari setelah dari kapal van der Wijck malah kerasa ‘Eh kok melek lagi? Mau main cilukba ya kamu?’
– Untuk pertama kalinya saya melihat akting Reza Rahadian biasa aja dan nggak total. Tapi saya masih ber-positive thinking kalau dia begitu karena nggak pengen outshine Herjunot sang aktor utama.
– Figurannya nggak bagus
– Meski Herjunot terlihat ganteng banget pake jas di film ini, tapi model jasnya itu nggak sesuai dengan eranya. Setahu saya jas di era itu modelnya panjang sampai setengah paha. Bukan jas pas body model zaman sekarang.

Harusnya Junot pakai jasnya kayak Reza gitu. Jas panjang dan celananya agak lurus gombrong, bukan skinny pants.


– Baju-bajunya Hayati juga salah era. Harusnya 1930 itu jazz era. Bajunya itu slim dress dengan minim motif. Sedangkan yang dipakai Hayati kebanyakan baju keliatan ketek dengan motif retro tahun 1970an.

Baju era 1930-an
Baju yang dipakai Hayati -__-

Daaaaaan di era itu ngetrendnya rambut pendek kelihatan tengkuk. Sedangkan Hayati rambutnya lurus digerai yang entah gimana malah membuat ia terlihat lusuh di era yang orang-orangnya pada klimis itu.
– Kayaknya film ini bayar mahal Nidji untuk bikin original soundtrack (OST). Sayangnya menurut saya OST-nya yang modern terdengar nggak matching dengan film nuansanya jadul. Mana diulang-ulang mulu chorusnya di film ini. Malah jadi ganggu dan jomplang. Padahal kalau OST itu dibuat versi instrumental biola terus di-insert di film aja cukup sih.
– Posternya jelek.

Rate: 4 out of 5
Saya nonton film ini di Netflix

Ini trailernya….



Review: Generation Wealth (2018)

Ternyata keinginan kita untuk jadi horangkayah itu dibentuk, sodara-sodari….

Film dokumenter ini fokus menceritakan tentang generasi 1980an sampai sekarang yang terfokus pada kekayaan dan ketenaran. Bagaimana uang bisa merusak kehidupan seorang anak. Bagaimana uang bisa merusak moral. Bagaimana memiliki banyak uang membuat kita tidak pernah merasa cukup.
Ini semua hal-hal yang udah diketahui oleh banyak orang. Tapi tetap aja pengetahuan itu nggak membuat orang terdasar bahwa fokus pada uang itu salah.
Siapa sangka fokus generasi kita pada uang dan ketenaran itu adalah bentukan. Semua berawal dari tahun 1971, saat pemerintah Amerika Serikat menghentikan emas sebagai standar aset atau sebagai mata uang perdagangan. Hal ini dilakukan untuk menghentikan resesi keuangan Amerika Serikat pada masa itu. Namun ini jugalah awal dari konsumerisme.
Banyak orang jadi bisa meminjam uang untuk mempertahankan gaya hidup yang sebenarnya mereka nggak mampu untuk bisa sampai ke standar hidup seperti itu. Pembentukan itu datang dari televisi dan media, jauh sebelum social media itu ada. Pembentukan itu juga sampai ke universitas ternama seperti Harvard. Ketika salah satu alumninya ditanya, “Apakah Harvard mengajarkan Anda untuk menjadi orang yang baik?”. Sang alumni tertawa dan menjawab, “Tidak, kami disetel dengan baik untuk mennguasai dunia”.

Yang saya suka dari film ini:
+ Ini adalah film yang cukup menyadarkan saya bahwa semua keinginan untuk menjadi horangkayah itu bukan sekadar tuntutan hidup. Tapi DIBENTUK! Okeh, kagak mau lagi saya percaya sama iklan, social media, dan segala doktrin ‘kesempurnaan’ yang mereka hembuskan. Hush…hush….sanaaah~~ *mengusir manjah alah Syahrini*
+ Narasumber di dokumenter ini beragam. Mulai dari anak ‘korban kekayaan’ orang tua, orang korban konsumerisme dan standar kesempurnaan, horangkayah tajir mampus gila-gilaan yang sekarang jatuh ‘missqueen’, para ahli sosial dan praktisi, sampai orang-orang yang terpaksa harus mengiikuti standar hidup horangkayah biar diterima oleh sekitarnya. Narasumbernya juga datang dari berbagai negara. Ini memvalidasi kalau kehausan kita akan uang itu semuanya terbentuk dari kebijakan pemerintah masing-masing negara.
+ Dari film ini saya jadi bisa melihat kalau uang itu nggak bisa beli taste. Segala lu punya limosin yang ada kolam renang dan helikopter pad-nya itu buat apa sik? Norak.
+ Suka sama music score-nya. Bikin betah nonton.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Film ini mengangkat tema yang sangat menarik. Tapi sang penulis dan sutradara Lauren Greenfield lumayan banyak menyisipkan tentang keluarganya yang menurut saya kurang nyambung dengan maksud awal film dokumenter ini.

Rate: 3,5 out of 5
Saya nonton film ini di Prime Video.

Ini trailernya….

Review: The Occupant (2020)

Setelah menonton The Occupant, saya jadi berkesimpulan film Spanyol itu pada bagus-bagus ya, gaes…

Film Spanyol ini mengisahkan tentang Javier Muñoz (Javier Gutiérrez) seorang bos periklanan yang baru saja kehilangan pekerjaannya. Ia sekarang ke sana kemari untuk interview sana-sini. Tapi tidak ada yang memberikan respon yang menggembirakan. Karena tidak ada pemasukan, ia sekeluarga terpaksa pindah dari apartemen mewah ke apartemen kecil di kawasan nggak elit. Mobil BMW-nya juga terpaksa dijual.
Suatu hari Javier kangen dengan apartemen lamanya. Sambil menunggu mobilnya laku, ia kendarai mobil BMWnya untuk melihat apartemen lamanya dari kejauhan. Rupanya apartemen itu sudah ditempati oleh keluarga baru. Diam-diam muncul ide tidak baik di benak Javier. Ia sepertinya tahu cara mendapatkan hidup enak seperti yang dulu pernah ia jalani.

Yang saya suka dari film ini:
+ Film ini membangun misteri cara berpikir Javier dengan apik. Kita baru benar-benar paham apa maksud Javier di akhir cerita.
+ Setuju dengan salah satu reviewer yang mengatakan kalau film ini memberikan contoh nyata tentang toxic fragile masculinity. Dimana pria yang merasa gagal sebagai lelaki akan berusaha berbuat apapun demi merasa jadi ‘lelaki’ kembali.
+ Ada Mario Casas yang gantengnya nggak santai. Tampang dia tuh kayak gabungan Nick Jonas sama Jason Mamoa.

Mario…

+ Spanyol itu bagus ya. Semoga akan ada rezeki untuk bisa liburan ke sana. Tentunya setelah corona slompret ini berakhir.
+ Jalan ceritanya lumayan nggak ketebak deh nih film. Twist-nya nggak cuma satu.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Terlepas dari akting Javier Gutiérrez yang oke, cuma entah kenapa postur tubuhnya yang nggak tinggi lumayan membuat ia terlihat ‘gubrak’ gitu. Jadi karakternya yang dibangun sebagai pria diam namun bermuslihat itu malah bikin saya pengen toyor kepalanya sambil bilang ‘mau apa sih lu, cil? Ganggu hidup orang aja lu’.
– Suara Mario Casas itu kayak nggak pas ama tampangnya.
– Alurnya agak lambat dan kita dibuat menebak-nebak terus. Mungkin kalau orang yang nggak sabar akan merasa kalau film ini membosankan.

Rate: 4 out of 5
Saya nonton film ini di Netflix.

Ini trailernya…

Review: Imperfect (2019)

Sejauh ini filmnya Ernest Prakasa belum ada yang mengecewakan.

Film yang diangkat dari novel karya Meira Anastasia ini mengisahkan tentang hidup Rara (Jessica Mila) yang berbadan gemuk. Bukan hanya gemuk, tapi ia juga berkulit gelap. Sangat berbeda dengan ibu dan adiknya yang berkulit putih dan bertubuh langsing. Sebenarnya hidup Rara nggak buruk. Ia punya karier yang bagus dan pacar tampan yang menerima apa adanya. Bertahun-tahun ia bisa menerima dirinya yang selalu dibanding-bandingkan dengan kecantikan si adik dan diperlakukan berbeda oleh masyarakat karena bentuk tubuhnya. Namun Rara bagai mendapat tamparan keras begitu bentuk tubuh dan penampilannya mempengaruhi penilaian bosnya untuk menaikkan jabatan.
Oleh karena itu, Rara bertekad untuk menurunkan berat badan dan memperbaiki penampilannya. Tapi apakah menjadi langsing dan cantik itu jadi jaminan untuk bahagia?

Yang saya suka dari film ini:
+ Film karyanya Ernest Prakasa itu sejauh ini selalu bagus. Apalagi naskahnya, bagus banget! Tepuk tangan untuk Ernest dan Meira Anastasia untuk naskahnya.
+ Banyak dialog yang lucunya berkualitas.
+ Sangat senang dengan tema dan solusi konflik yang diangkat oleh film Imperfect ini. Film tentang make over dari si buruk rupa jadi cantik itu udah banyak. Namun dengan penyelesaian konflik seperti di film ini, ya baru di Imperfect doang yang saya lihat.
+ Dari mana lagi ya harus saya mulai pujian tentang akting dan ketampanan Reza Rahadian? Pokoknya mas Reza, aku padamu, meski kamu padanya. Tiup cium, fuh…
+ Pujian akting juga harus saya berikan pada Uus sebagai preman kampung dan Kiky Saputri anak kos lenjeh doyan pake baju seksi. Jatah akting mereka memang nggak banyak, tapi sangat memorable.
+ Set dan lokasinya bagus. Terasa Indonesianya.
+ Tumben-tumbenan saya kesel ngeliat tokoh yang diperankan oleh Boy Wiliam. Artinya aktingnya Boy juga berhasil di film ini.
+ Akting Yasmin Napper patut dipertimbangkan. Saya ingin melihat aktingnya lebih banyak lagi.
+ Sangat suka dengan pesan film ini yang bukan hanya mengenai self love, tapi juga support orang-orang terdekat.
+ Suka juga dengan bagaimana Ernest mulai mengurangi ‘ngajak teman’ komika untuk di filmnya. Bukan apa-apa, kadang tokoh komika yang hadir itu kebanyakan. Jadi perannya kurang penting semua. Mereka memang lucu, tapi mubazir rasanya.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Scoringnya terdengar kurang pas. Nggak semua adegan harus diisi musik sih, menurut saya.
– Baju-baju Rara pada saat gemuk itu terasa monoton dan kayak piyama. Kayaknya ini trik agar bobot Jessica Mila bisa terlihat segemuk tokoh Rara. Wignya Rara juga terlihat ganggu :-/
– Asri Welas tuh dapat akting yang ya….gitu-gitu aja sih.

Rate: 4,5 out of 5
Film ini saya tonton di Netflix.

Ini trailernya…