Diposkan pada blog

Bapak & Anak

Banyak yang bilang kalau anak saya itu mukanya ngikut bapaknya banget.

Kalau lihat ini, wah bener juga ya!

View on Path

Iklan
Diposkan pada blog

Logika Kaum Pria

Tadi Kriby aduk-aduk minuman pakai sedotan.
Gw: Nak, jangan diaduk terus. Nanti tumpah, lho.

Kriby bodo amat dan tetep aduk-aduk.

Si Punk Rock: Nak, minumnya jangan diaduk-aduk. Nanti dia pusing.

Ya, begitulah sains membuktikan kalau pria itu makhluk yang berpikir dengan logika. – with Wahyu

View on Path

Diposkan pada review

Review: Calon Arang

Category: Books

Author: Pramoedya Ananta Toer

Rate: 2,5 out of 5

(Foto: Izin nyomot dari sini )

Buku dongeng ini menceritakan tentang seorang penyihir (teluh) bernama Calon Arang. Ia adalah penyihir yang sakti dan punya murid-murid yang sakti pula. Calon Arang juga punya seorang anak perempuan bernama Ratna Manggali yang cantik rupawan. Namun mengingat kesaktian ibunya dalam meneluh orang, maka tak ada lelaki yang berani memperistrikan Ratna Manggali. Hal ini membuat Calon Arang murka. Maka untuk melampiaskan kemarahannya, ia meneluh seluruh penduduk negeri. Teluhnya amat sakti, banyak manusia tak berdosa yang mati bergelimpangan karenanya. Teluh Calon Arang semakin lama semakin menyebar. Sampai pulalah kabar mengenai hal ini ke telinga baginda raja Erlangga. Ia pun mengirim pasukannya untuk menangkap Calon Arang. Sialnya, pasukan baginda raja langsung tewas di tempat karena tak mampu menghadapi kesaktian Calon Arang. Sampai akhirnya diketahui bahwa hanya ada satu empu yang mampu mengalahkan kesaktian Calon Arang, yakni Empu Baradah.

Jadi bagus nggak bukunya, Krili? Sejujurnya menurut saya jawabannya adalah tidak.

Soalnya begini….

Buku ini adalah buku dongeng yang konon ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer untuk mengisi kekosongan buku cerita anak-anak. Sayangnya banyak bagian kisah buku ini yang sama sekali nggak cocok untuk anak-anak. Salah satunya tentang bagaimana kejamnya murid-murid Calon Arang membunuh orang untuk diambil darahnya lalu dipakai untuk keramas (freak!).

Ada juga satu tokoh yang sama sekali menurut saya nggak penting dan tidak berpengaruh apapun dalam cerita ini. Yaitu, tokoh Wedawati anak perempuan Empu Baradah yang baik hati. Sumpah, fungsi dia di cerita ini nggak ada.

Plot penulisannya juga nggak rapi dan banyak hal yang dipanjang-panjangin.

Karena saya pernah baca beberapa buku karangan Pramoedya lainnya, maka saya berani bilang kalau ini adalah buku terjelek karangan beliau yang pernah saya baca. Mari kita baca buku karangan Pramoedya yang lain saja.

Diposkan pada blog

Tangan

Seberapa sering anakmu meminta kamu meletakkan handphone yang kamu pegang lalu bermain dengannya?

Kriby mulai sering melakukan hal itu. Dia butuh kedua tangan saya untuk menggenggam tangannya selama ia melompat-lompat di kasur. Maklumlah, Kriby belum terlalu lancar loncat-loncat sendiri di kasur.

Selama memegangi kedua tangannya ketika ia melompat-lompat dengan girang, saya bisa melihat di matanya bahwa ia senang bukan main. Terlihat juga kalau ia begitu sayang sama saya. Bagi dia, saya adalah dunianya. Makanya ia meminta atensi saya secara penuh untuk melihat dia melakukan berbagai hal yang sering kali kita anggap remeh.

“Bunda! Bunda! Liat! Liat!”

Karena tingkah lakunya sering saya anggap remeh, tak jarang saya hanya memperhatikan sekilas lalu balik lagi menatap handphone yang saya pegang.

“Instagram gosip lagi seru, nih. Di grup WhatsApp juga lagi ngobrol seru. Bentar ya, nak,” batin saya sambil menatap handphone lekat-lekat.

Padahal handphone ini sudah saya pegang, tatap, dan cari-cari sejak saya bangun pagi sampai tidur lagi. Handphone ini saya bawa kemana-mana. Sedangkan Kriby saya hanya bertemu di pagi hari saat hendak berangkat bekerja dan malam hari sepulang saya dari kantor. Di frekuensi saya yang sangat sedikit bertemu Kriby itu, kenapa saya masih mendistraksikan diri dengan handphone, ya?

Maafin Bunda ya, nak. Bunda sadar apa pun yang ada di handphone ini tidak lebih penting dari kamu.

Wahai kaum ibu di era digital, taruhlah handphonemu, lalu genggamlah tangan anakmu.

(Foto: Izin nyomot dari sini)
Diposkan pada review

Review: Clockwork Orange

Category: Movies

Genre: Drama, Crime

Rate: 3,5 out of 5

Film ini menceritakan tentang Alex (Malcom McDowell) seorang remaja psikopat. Ia dengan gengnya suka berbuat keonaran dan kekerasan yang mereka sebut sebagai ultra violence. Sampailah pada suatu hari Alex kena batunya. Ia dikhianati oleh gengnya, lalu ditangkap polisi. Selama masa penjara dia terpilih untuk menjalani sebuah program percobaan untuk menghilangkan sifat kekerasan dari seseorang. Program itu berhasil pada Alex. Kini Alex yang baru akan langsung merasa mual-mual tiap ia hendak melakukan kekerasan. Karena dianggap tidak berbahaya lagi, Alex kemudian dibebaskan dari penjara. Sayangnya saat ia mencoba menjalani kehidupan yang normal sebagai orang yang baik-baik, kehidupan malah berbalik jahat pada dirinya.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Ceritanya tidak biasa.

-Set dan propertinya bagus.

-Aktingnya Malcom McDowell oke banget.

-Salut sama Stanley Kubrick yang selalu berhasil menggambarkan keseraman tanpa banyak dialog.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Adegan kekerasannya bener-bener ultra violence. Jangan menilai ultra violence ini sebagai adegan yang banyak darah muncrat di mana-mana, ya. Film ini sama sekali tidak seperti itu. Kekerasan di film ini sangat ‘evil’ nan jahat. Kekerasan-kekerasan di film ini dilakukan secara riang oleh orang yang tidak peduli khas seorang psikopat. Saya sampai trauma. Saya jadi nggak mau nonton film Stanley Kubrick yang lainnya. Saya jadi takut.

OLEH KARENA ITU SANGAT TIDAK DISARANKAN ANAK DI BAWAH UMUR UNTUK NONTON FILM INI. YANG DEWASA AJA TRAUMA. NTAR YANG KECIL PSIKOLOGISNYA MALAH TERGANGGU LAGI.

-Film ini ceritanya mau menunjukkan Inggris di masa depan. Makanya set dan propertinya dibuat ala-ala futuristik gitu. Tapi kan film ini dibuat pada tahun 1971. Jadi gambaran masa depan mereka pun tetap terkesan retro. Paling cuma cara berpakaian gengnya Alex aja yang berhasil mempengaruhi fashionnya anak punk sedunia sampai sekarang.

-Banyak tokoh yang agak-agak nggak penting terus ngomongnya lebay.

-Beberapa dialog terkesan kaku.

-Alurnya kurang mengalir.

 

Ini trailernya…

Diposkan pada blog

This Guy…

Gw: Anak-anak kantor ngajakin nongkrong di Kopi Kalyan.

Si Punk Rock: Ya udah, pergi gih.

Gw: Aku pengen, sih. Tapi nggak usah, deh. Kasian Kriby.

SPR: Udah pergi aja. Aku anterin. Kriby biar aku yang jemput

Gw: *bimbang*

SPR: Udah pergi aja. Kamu dulu hampir 2,5 tahun di rumah terus ngurus Kriby. Sekarang kamu punya teman-teman yang asyik. Ya udah, pergilah. Yang penting aku tahu kamu perginya sama teman-teman yang beres. Bukan ama anak-anak yang suka tung-turung-tung-tung *sambil meniru gaya orang dugem*

This guy…
This guy worth the wait and worth every heartbreak which leads me to him.

Alhamdulillah.

View on Path

Diposkan pada blog

Gara-Gara Sup Ayam

Jadi begini ya sodara-sodara….

Kemarin Si Punk Rock sakit demam. Saya masakinlah sup ayam.
Alhamdulillah hari ini Si Punk Rock badannya mendingan. Lalu dia merasa bersalah karena menurut dia ‘I’m sorry I’ve ruined our weekend’. Maka dari itu dia suruhlah saya pergi me time sendirian.

Ya udah, tadi saya pergi jalan-jalan ke Blok M. Makan di restoran Jepang favorit, dilanjutkan dengan pijat. Eh siapa sangka abis makan, ATM saya hilang. Pijatnya pun batal.

Setelah minta surat kehilangan ke kantor polisi endebre-endebre, saya memutuskan untuk pulang saja.

Sampe rumah, saya ceritakan detil me time saya ke Si Punk Rock. Reaksi dia…
“Jadi me time kamu fail dong?”

“Ya udah nggak apa-apa.”

“Kamu pergi lagi gih. Nonton kek ato cari tempat pijat dekat sini.”

“Tapi… Masa aku pergi terus?”

“Udah pergi aja sekarang. Kalau nggak ntar kesorean. Pergi sana me time. Biar Aruna ama aku.”

Maka di sinilah saya sedang ber-creambath ria.

Kesimpulan dari kisah ini adalah: jika suamimu demam, segera masak sup ayam. Insya Allah berhadiah jalan-jalan. – at Johnny Andrean Salon Cinere Mall with Wahyu

See on Path

Diposkan pada review

Review: Manchester By The Sea

Category: Movies

Genre: Drama

Rate: 3,5 out of 5

Film ini mengisahkan tentang Lee (Casey Affleck) yang hidup sendiri. Ia bekerja sebagai janitor untuk beberapa apartemen. Ia sering mendapat komplen dari bosnya karena ia tidak pernah senyum dan tidak ramah sama pelanggan, tidak peduli walau kerjaannya selalu beres.

Pada suatu hari Lee mendapat telepon yang mengabarkan kalau abangnya meninggal dunia. Maka ia pun harus pulang untuk mengurus pemakamannya. Siapa sangka kepergian abangnya membuat ia harus jadi wali dari keponakannya yang sudah beranjak remaja. Hal ini membuat Lee kembali mengenang pengalaman parit yang mengubahnya menjadi pria depresi dan hidup menyendiri.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Akting Casey Affleck oke.

-Jalan ceritanya realistis.

-Banyak adegan hening tanpa dialog namun dapat menggambarkan perasaan masing-masing tokoh.

-Penyebab kesedihan Lee cukup tak disangka.

-Banyak gambar pemandangan yang bagus.

 

Yang saya tidak suka dari film ini:

-Aktingnya Casey Affleck memang oke, sih. Tapi kayaknya nggak segitunya untuk dapat memang Oscar sebagai Best Actor.

-Porsi aktingnya Michelle Williams dikit doang. Nama doi dipajang di poster untuk kepentingan marketing tampaknya.

-Endingnya gitu doang??? Yaelaah, dasar film festival.

 

Ini trailernya…

Diposkan pada blog

Kalau Jatuh Cinta, Dunia Serasa Milik Berdua

Tadi pulang dari jalan-jalan kami naik Uber.

Terus entah bagaimana, saya baru nyadar kalau saya dan Si Punk Rock itu nggak pernah ciuman di taksi. Dari jaman pacaran ampe sekarang nikah kami nggak pernah ciuman di taksi.

Mungkin karena kami memang dari dulu sampe sekarang adalah anak motoran kali ya. Naik taksi sih untuk acara tertentu aja.

TAPI YA, kami itu pernah makan bubur ayam di taksi premium burung perak.

Saya rasa itu adalah salah bukti nyata kami atas ungkapan ‘kalau jatuh cinta, dunia serasa milik berdua. Yang lain ngontrak’. – with Wahyu

View on Path

Diposkan pada review

Review: The Invitation

Category: Movies

Genre: Thriller

Rate: 4 out 5

Film ini mengisahkan tentang Will (Logan Marshall-Green) yang diundang untuk reuni makan malam di rumah mantan istrinya. Will dan mantan istrinya, Eden (Tammy Blanchard), berpisah sejak anak mereka meninggal. Mereka satu sama lain depresi karena berduka, lalu Eden memutuskan untuk berpisah dengan Will sejak bertemu David (Michiel Huisman) di sebuah perkumpulan konseling. Eden dan David kemudian menghilang selama dua tahun ke Meksiko. Begitu mereka kembali, Eden dan David mengundang teman-teman lamanya untuk reuni di rumah lama mereka. Will menyambut undagan itu dengan datang bersama pacar barunya Kira (Emayatzy COrinealdi).

Memasuki rumah lama yang pernah Will huni bersama Eden dan mendiang anak mereka membuat emosi Will lumayan campur aduk. Namun lama-kelamaan Will merasa ada sesuatu yang aneh dengan reuni tersebut. Terutama dengan Eden dan David. Will tak habis pikir bagaimana mereka sepulang dari Meksiko bisa begitu bahagia, lapang dada, dan tak tersisa kesedihan pun dalam diri Eden dan David. Will juga semakin curiga saat David memutarkan video kegiatan perkumpulan mereka di Meksiko dengan mengunci seluruh rumah tersebut. Ada yang tidak beres….

 

Yang saya suka dari film ini:

-Aktingnya Logan Marshall-Green ciamik! Dia bisa menggambarkan kesedihan kehilangan dengan muka yang lempeng.

-Penulisan naskah film ini keren!

-Tokohnya beragam dan memperkuat cerita.

-Michiel Huisman itu ganteng banget ya….hhhh…

-Tokoh Claire diperankan dengan sangat baik oleh Marieh Delfino

-Endingnya oke dan cukup wuaw.

-Poster filmnya bagus. Poster film kan memang ada beberapa versi, ya. Tapi versi yang saya taruh di sini menurut saya keren. Hipster tapi tetap dark. Beda banget sama poster film thriller yang berdarah-darah atau seram yang malah jadi norak.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Logan Marshall-Green kalau nggak pakai kumis dan jenggot hipsternya nggak kece

-Ada satu tokoh yang tidak terjelaskan. Sebenarnya doi itu siapa, sih?

-Tokoh Eden agak ganggu. Agak kelamr-klemer minta ditampar.

-Usaha keragaman ras dalam film ini agak terkesan maksa, menurut saya. Masih dalam upaya memerangi #OscarSoWhite kah?

 

Ini tarilernya…