Diposkan pada blog

Pelayanan IGD RSUD Pasar Minggu Pakai BPJS

Jadi setelah seminggu batpil dan demam, akhirnya dokter menyarankan Kriby untuk dirawat inap. Soalnya dicurigai radang paru (pneumoni) adalah biang keladinya.

Inilah saatnya kami manfaatkan si BPJS. Si dokter hanya kasih surat rujukan dan surat permohonan rawat inap. Saya telpon ke Puskesmas Kecamatan (faskes I kami), petugas yang stand by 24 jam menyarankan kami langsung ke RSUD Pasar Minggu saja. Kami pun pergi ke rumah sakit yang baru diresmikan beberapa tahun lalu oleh Ahok ini.
Kami kasih surat-suratnya ke perawat di IGD RSUD Pasar Minggu. Kriby langsung ditangani.

IGDnya luas. Ada belasan bilik rawat yang dibatasi oleh tirai hijau. Tempat tidurnya moderen. Alat-alatnya masa kini punya. Seperti alat-alat yang sering saya lihat di serial drama kedokteran bule gitu, deh.
Dalam hitungan menit, Kriby sudah dipasang alat deteksi jantung dan selang nafas. Perawat dan dokter jaganya juga cepat tanggap. Saya tanya soal kemungkinan penyakit, prediksi dirawat berapa lama, dan prosedur penanganan bisa dijawab semua oleh mereka. Dalam waktu setengah jam, Kriby sudah diinfus dan sudah diambil darahnya untuk dicek ke lab. Sayang kami dilarang mengambil gambar di ruangan ini.

Tapi saya jadi mengerti kenapa di IGD ini saya tidak melihat ada pasien yang panik atau tergopoh-gopoh. Soalnya semuanya sudah tertangani bahkan sebelum mereka bertanya.

Hikmahnya: Bayar selalu BPJS Anda tepat waktu. Anda akan membutuhkannya sewaktu-waktu. – at RSUD Pasar Minggu with Wahyu

See on Path

Diposkan pada review

Review: Lelaki Harimau

Category: Books

Author: Eka Kurniawan

Rate: 4 out of 5

 

(Foto: Ekakurniawan.com)
(Foto: Ekakurniawan.com)

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, saya mau membaca buku Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan. Maka ketika Anda berkeinginan kuat, alam akan membantu mewujudkannya. Tanpa diduga teman sayaAmelia, meminjamkan buku tersebut tanpa diminta. Hore! 

Maka saya bacalah buku tersebut. Berikut sinopsisnya…

Buku ini dibuka dengan kegemparan orang-orang desa atas pembunuhan yang dilakukan Margio. Margio, pemuda 20 tahunan, membunuh Anwar Sadat seorang seniman genit. Margio menggigit urat leher Anwar Sadat sampai putus. Ketika ditanya alasan ia membunuh Anwar Sadat, Margio hanya menjawab bahwa ada harimau dalam tubuhnya.

Cerita lalu bergulir ke tokoh-tokoh di hidupnya Margio. Masing-masing tokoh memberikan kontribusi pengetahuan tentang karakter Margio kepada pembaca. Sedangkan tokoh Margio dibiarkan ‘hening’. Namun Eka Kurniawan dengan pintarnya dapat membuat pembaca mengenal Margio, dari keresahannya, kemarahannya, sampai sisi lembut dirinya.

Yang saya suka dari buku ini adalah betapa cerdasnya Eka Kurniawan dalam memutarbalikkan jalan cerita. Ia membuka cerita dengan akhir sebuah kisah yaitu pembunuhan. Bukan dari kejadian-kejadian yang menjadi alasan Margio membunuh. Ending dari buku ini juga keren banget, banget! Ditutup oleh sebuah kalimat yang menjelaskan segalanya.

Meskipun salut saya tidak putus-putus terhadap Eka Kurniawan, namun saya tetap lebih menyukai buku Cantik Itu Luka. Menurut saya Cantik Itu Luka adalah buku yang lengkap. Tidak peduli bahwa sudah ada dua orang teman saya yang mengatakan bahwa buku Lelaki Harimau lebih bagus daripada Cantik Itu Luka. Yah, semuanya tergantung selera, bukan? Tapi  kalau saya boleh mengkritik, buku Lelaki Harimau ini lebih kental nuansa karya satsranya. Soalnya ada begitu banyak kalimat-kalimat panjang dan pasif. Sehingga pembaca, saya, kadang agak ‘lelah’ membacanya. Namun saya rasa Eka Kurniawan melakukan itu karena jika dibaca dengan suara keras, kalimat-kalimat itu dapat terdengar indah dnegan segala rima dan dramatisasinya.

Begitulah review saya. Ada saran baiknya saya baca karya Eka Kurniawan yang mana lagi setelah ini?

Diposkan pada blog

Resolusi 2017

Pada saat menjelang akhir Januari dan menghitung hari tanggal gajian seperti saat ini, baru terpikirkan resolusi 2017 saya.

Saya ingin di tahun 2017 ini menjalin kembali silaturahmi dengan orang-orang yang pernah saya kenal. Caranya? Yang paling gampang sih menyapa via medsos sih ya.

Kenapa resolusi saya begitu? Karena saya sebal dihibungi teman atau kenalan lama di saat pas butuhnya doang. Entah pas lagi kesusahan lah, butuh info kerjaan lah, nawarin bisnis ato jualan lah, dsb.
Berhubung saya sebal digituin, maka saya menolak jadi orang yang sama dengan mereka.

Oleh karena itu, mulai besok saya mau menyapa teman/kenalan lama saya via medsos. Saya ingin tahu keadaan dan kisah hidup mereka selama kami tidak bertukar kabar. Saya berharap dengan begitu akan muncul lagi keakraban seperti dulu ketika kami pernah ngobrol asyik dan pada akhirnya kami bisa menyebut satu sama lain sebagai teman.

Jadi teman-teman, jangan kaget kalau pada suatu hari saya menyapa di medsosmu ya. Saya hanya ingin bertukar kabar dan berinteraksi kembali. Tanpa embel-embel nawarin bisnis ataupun jual-beli. Saya murni ingin berinteraksi, bukan transaksi.

Halo teman, apa kabar?

mp-blog

View on Path

Diposkan pada review

Review: Fantastic Mr. Fox

Category: Movies 

Genre: Animation, Adventure

Rate: 3 out of 5

mp-mr-fox-poster

Film yang diangkat dari buku Roald Dahl ini menceritakan tentang Mr. Fox (diisi suara oleh George Clooney) seekor rubah yang suka mencuri. Sebenarnya sejak ia punya anak ia sudah pensiun dari dunia curi-mencuri. Ia memilih menjadi seorang jurnalis penulis kolom. Hidupnya nyaman dan berkecukupan. Namun ia tak bisa melawan naluri rubahnya untuk mencuri ayam dari peternakan Boggis. Diam-diam, tanpa sepengetahuan anak dan istrinya, ia suka berangkat mencuri ayam ke peternakan Boggis. Aksinya berhasil! Ia jadi ketagihan untuk mencuri. Setelah itu ia mengicar bebek di peternakan Bunce. Lagi-lagi aksinya berhasil. Mabuk dengan keberhasilan, kali ini ia bertekad hendak mencuri sari apel dari pabrik Bean. Aksinya juga berhasil! Sayangnya Franklin Bean (diisi suara oleh Michael Gambon) tidak senang ada yang mencuri dari sari apelnya. Maka ia bertekad untuk menangkap Mr. Fox dan seluruh kroni-kroninya.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Film ini digarap oleh Wes Anderson. Selayaknya seluruh karyanya, film ini juga banyak dialog ‘hening’ yang awkward dan bikin kita mikir untuk ketawa atau nggak ya?

-George Clooney pas banget bawain Mr. Fox

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Khas film Wes Anderson yang berpola

-Ada Meryl Streep yang mengisi suara istri Mr. Fox. Sayangnya dialognya dikit banget. Dan nggak perlu sekelas Meryl Streep juga untuk isi suara pelan nan lembut begitu.

-Pemain yang terlibat 4L alias Lu Lagi Lu Lagi. Abis Wes Anderson orang Taurus sih ya. Yang artinya kalau soal kerjaan agak susah percayaan ama orang

 

Ini trailernya…

Diposkan pada blog

Perempuan Yang Tak Dibenci

“Kamu itu perempuan pengatur yang tidak aku benci.
Ibuku itu suka ngatur dan aku sebel. Makanya aku dulu jarang pulang. Aku maunya, hidup aing, kumaha aing.
Tapi begitu ketemu kamu…
Aku jadi bisa melihat sisi baiknya dari mengingatkan.”

-Si Punk Rock-

😍😘 – with Wahyu

View on Path

Diposkan pada review

Review: Hateful Eight

Category: Movies

Genre: Drama

Rate: 4 out of 5

Film dibuka dengan Major Marquis Warren (Samuel L. Jackson) menghadang sebuah kereta kuda di tengah salju sambil menduduki gundukan mayat. Kudanya kelelahan dan tak kuat lagi menghadapi salju. Marquis Warren adalah seorang bounty hunter alias penangkap buronan untuk imbalan uang. Maka ia butuh tumpangan untuk membawa mayat-mayat penjahat tangkapannya itu dan juga untuk berlindung menghindari badai salju. Kereta yang ia hadang itu ditumpangi oleh John Ruth (Kurt Russel) yang ternyata seorang bounty hunter juga. Ia membawa buronan tangkapannya Daisy Domergue (Jennifer Jason Leigh) yang masih hidup. John Ruth jadi orang yang sangat curigaan sejak menangkap Daisy Domergue. Soalnya imbalan atas Daisy Domergue itu sebesar 10 ribu dollar.

Setelah melewati perdebatan dan negosiasi, akhirnya John Ruth mengizinkan Marquis Warren untuk naik di keretanya. Di tengah jalan, penumpang kereta mereka bertambah. Ada Chris Mannix (Walton Goggins) sherrif baru yang butuh tumpangan karena kudanya juga kelelahan tak kuat melewati tebalnya salju. Mengingat badai salju sudah sangat dekat, mereka pun singgah di sebuah pondokan toko kelontong milik Minnie. Ternyata di sana sudah ada 3 orang yang juga berteduh dari badai salju, empat dengan sang penjaga toko kelontong. Dari sekadar berteduh dan bercakap-cakap, terkuaklah masing-masing identitas dan kebencian yang mereka miliki untuk satu sama lain.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Pemainnya oke-oke semua

-Alur ceritanya juga oke. Khas Quentin Tarantino lah.

-Sangat suka akting dan tokoh yang diperankan oleh Jennifer Jason Leigh di film ini

-Senang juga akhirnya melihat lagi akting si om Kurt Russel. Long time no see, om.

-Konfliknya dibangun dengan pelan tapi pasti

-Suka banget dengan aksen Amerika kampung si sherif. Kocak kedengerannya xD

-Film ini durasinya lama, 3 jam aja gitu. Tapi Si Punk Rock yang gampang ketiduran kalau nonton film dengan alur lambat aja berhasil melek terus sampe filmnya abis.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Beberapa adegan sadis dan disturbing. SANGAT TIDAK DIREKOMENDASIKAN UNTUK DITONTON BARENG ANAK-ANAK DIBAWAH 17 TAHUN. Mending nunggu anak-anak udah tidur dulu deh baru nonton film ini.

Channing Tatum munculnya bentaran amat. Percuma rasanya.

-Akting Tim Roth oke sih. Tapi tetap penasaran kenapa bukan Christoph Waltz yang meranin tokoh itu?

-Scoringnya agak horor. Tapi nggak masuk ama cerita. Aneh deh :-/

 

Ini trailernya…

Diposkan pada review

Review: Airlift

Category: Movies

Genre: Drama, History

Rate: 3,5 out of 5

mp-airlift

Film berdasarkan kisah nyata ini mengisahkan tentang Ranjit Katyal (Akhsay Kumar), seorang pengusaha sukses asal India di Kuwait. Pada tahun 1990 kehidupan Ranjit tidak lagi semulus biasanya. Kuwait diserang oleh Irak. Banyak warga Kuwait yang dibunuh oleh tentara Irak. Syukurlah keluarga Ranjit selamat karena mereka bukan bangsa Kuwait. Ranjit sekeluarga pun berencana untuk pulang ke India. Namun setelah melihat supir pribadinya dibunuh di depan matanya, Ranjit jadi tak sampai hati untuk pulang sendirian ke tanah airnya. Ia ingin membawa pulang seluruh karyawannya yang juga berdarah India. Mengetahui bahwa ada seorang pengusaha India yang berusaha memulangkan seluruh karyawan Indianya, seluruh warga India di Kuwait pun ingin pulang bersamanya. Jumlah total warga India yang ingin pulang untuk menghindari perang di Kuwait saat itu ada 170 ribu jiwa. Ranjit pun harus menempuh berbagai cara untuk memulangkan seluruh bangsa India dari Kuwait. Termasuk bernegosiasi dengan pihak Irak.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Aktingnya Akhsay Kumar bagus. Ganteng lagi!

-Konflik batin para tokoh alami ditampilkan dengan baik.

-Set dan lokasi oke!

Nimrat Kaur yang berperan sebagai istrinya Ranjit cantik bangad! Apalagi rambutnya di film ini bagus banget O_o

-Film yang memberi saya penyegaran pengetahuan sejarah. Jadi tahu lagi soal Saddam Husein dan Perang Teluk

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Figurannya jelek.

-Settingnya kan tahun 90-an. Tapi baju-bajunya nggak 90-an gitu. Masa si Ranjit pake jas dan kemeja fit body di tahun 90-an. Kayaknya Akhsay Kumar ogah gantengnya menurun dengan pakai baju gombrong khas 90-an, deh.

-Film ini berdasarkan kisah nyata. Tapi nama pelaku jauh berbeda. Aslinya sang penyelamat warga India itu adalah seorang pengusaha udah tua bernama Harbajan Singh Vedi. Kayaknya memang sengaja dibedain karena film ini mau menceritakan ulang sejarah peristiwa, bukan tokohnya.

-Beberapa set dan lokasi keliahatan studionya.

Review ini juga bisa dibaca via Line @ymg2576q

Ini trailernya…

Diposkan pada review

Review: Neighbors

Category: Movies

Genre: Comedy

Rate: 3,5 out of 5

Film ini mengisahkan tentang keluarga kecilnya Mac Radner (Seth Rogen). Ia baru saja berhasil membeli rumah untuk ditempati bersama istri dan anak bayi mereka. Sayangnya kesenangan mereka tidak berlangsung lama. Soalnya rumah kosong persis di sebelah mereka akhirnya dibeli oleh penghuni baru, yakni anak-anak geng kuliahan alias fraternity boys. Yang artinya mereka akan jadi tetangga yang sangat berisik karena akan berpesta setiap hari semalam suntuk. Awalnya Mac dan istrinya, Kelly (Rose Byrne), berhasil berbicara baik-baik dengan ketua geng mereka, yaitu Teddy Sanders (Zac Efron). Mac dan Teddy kemudian berteman baik dan membuat kesepakatan kalau pada suatu hari gengnya Teddy terlalu berisik, jangan ragu untuk menegur Teddy secara langsung. Teddy berjanji untuk berusaha tidak terlalu berisik asalkan Mac tidak akan melaporkan kegaduhan di rumah mereka ke polisi. Namun apa yang terjadi? Mac akhirnya terpaksa melaporkan kegaduhan di rumah Teddy ke polisi karena Teddy tidak kunjung bisa ditelpon lantaran keasyikan berpesta. Teddy yang kesal karena Mac melanggar janjinya pun menuntut balas.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Zac Efrooooooooon! Kyaaaaa kyaaaaaaaaaa! Kamu makin tambah umur kok makin ganteng sih dek? Badanmu kok juga makin jadi aaaw aaaw >__<

-Suka dengan jalan ceritanya. Realistis tapi absurd gimana gitulah.

-Selalu suka dengan komedinya Seth Rogen.

-Semua karakter punya peran yang cukup menghidupkan film.

-Suka dengan ide menggabungkan Zac Efron dan Zac Efron KW alias Dave Franco.

-Anak bayi Mac dan Kelly lucu bangeeeet.

-Permasalahan khas pasangan yang baru punya anak juga tergambarkan dengan baik di film ini.

-Feel good movie.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Aktingnya Rose Byrne sebagai orang Australia kurang terdengar Australia. Kasennya ilang-ilangan. Padahal Rose Byrne itu memang berdarah Australia.

Review film ini juga bisa dibaca via Line @ymg2576q

Ini trailernya…

Diposkan pada review

Review: Cafe Society

Category: Movies

Genre: Drama

Rate: 3,5 out of 5

Alkisah hiduplah Phil Stern (Steve Carell) seorang pebisnis film yang sukses di Hollywood pada era 30-an. Rumahnya besar, istrinya cantik, dan para relasi sangat menghormati dirinya. Pada suatu hari ia mendapat telpon dari kakaknya yang meminta pertolongan agar Phil memperkerjakan anaknya, Bobby (Jesse Eisenberg) di kantornya. Phil yang super sibuk akhirnya mau menemui keponakannya tersebut. Meskipun saat itu ia tidak punya lowongan untuk karyawan baru, namun ia memutuskan untuk memperkerjakan Bobby untuk urusan-urusan kecil. Phil lalu meminta bantuan pada sekretarisnya, Vonnie (Kristen Stewart), untuk mengajak Bobby jalan-jalan karena ia tak punya waktu untuk mengajak keponakannya itu melihat-lihat kota. Bobby seketika jatuh cinta pada Vonnie. Vonnie pun merasakan punya ketertarikan pada Bobby namun sayang ia telah punya kekasih. Bobby tidak putus harapan meskipun ia tidak tahu bahwa kekasih yang Vonnie maksud itu adalah Phil.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Gambar dan warna filmnya baguuuus

-Baju-bajunya kereeeen.

-Ada Blake Lively dan dia sungguh menawan di film ini.

-Senang melihat sisi akting Steve Carell yang serius di film ini. Saya bahkan hampir lupa kalau ia adalah komedian.

-Cerita dan alurnya oke. Jalan ceritanya juga agak nggak ketebak.

-Endingnya gitu doang, tapi ‘cantik’.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Kristen Stewart apa dah. Nggak cocok jadi pemeran utama yang konon cantik banget sampai jadi rebutan orang. Mukanya aja capek nggak seger gitu.

-Jesse Eisenberg itu punya kelemahan, yaitu muka yang lempeng. Jadi ngerasa ada yang kurang aja dengan aktingnya di beberapa film termasuk film ini.

-Film ini garapan Woody Allen. Lagi-lagi ia berusaha memasukkan ‘dirinya’ di tokoh utama film yang ia garap. Kadang terasa dipaksakan.

Review film ini juga dapat dibaca via Line @ymg2576q

Ini trailernya…

Diposkan pada review

Review: Fantastic Beasts And Where To Find Them

Category: Movies

Genre: Adventure, Fantasy

Rate: 4 out of 5

Akhirnya kita mendengar kembali kisah dari dunia sihir kreasi J.K. Rowling. Berbeda dengan septalogi Harry Potter, film ini bersetting tahun 1926 di New York, Amerika Serikat. Alkisah Newt Scamander (Eddie Redmayne) baru saja menjejakkan kakinya di pelabuhan New York. Ia datang jauh-jauh dari Inggris membawa sebuah koper yang suka berdebam dan mengeluarkan suara mencurigakan. Newt harus ekstra hati-hati dalam membawa koper tersebut. Soalnya di dalamnya dipenuhi dengan berbagai jenis binatang sihir yang saat itu sedang dilarang oleh Kementrian Sihir. Namun Newt tidak berhasil membendung kenakalan salah satu penghuni kopernya. Seekor Niffler berhasil kabur dan membuat kekacauan di bank. Di situ koper sihir Newt tak sengaja tertukar dengan koper seorang manusia (muggle alias nomag) bernama Kowalski (Dan Fogler). Kekacauan yang dibuat sang Niffler pun membuat Tina (Katherine Waterston) seorang mantan Auror pun jadi turun tangan. Siapa sangka ulah nakal dari penghuni-penghuni koper sihirnya Newt membawa mereka ke sebuah petualangan lebih besar dan berhadapan dengan teror Gerald Grindelwald.

 

Yang saya suka dari film ini:

-FIXED UDAH SAYA MULAI SAAT INI SAYA JATUH CINTA AMA EDDIE REDMAYNE! Nih orang aktingnya bukan hanya jago, tapi mampu membuat seorang tokoh yang pemalu jadi begitu menarik. Setelah menonton film ini saya jadi punya daftar aktor yang akan saya minta peluk. Dan nama paling atas yang tertera di daftar tersebut adalah Eddie Redmayne. Setelah itu daftarnya belum tertulis nama siapa-siapa lagi. Oke, ini mungkin bukan daftar nama. Tapi keinginan tertulis aja.

-Banyak aktor dan aktris pemeran utama yang tampangnya belum terlalu familiar di mata saya, seperti Katherine Waterston, Alison Sudol, dan Fogler. Tapi aktingnya oke semua!

-Sangat suka dengan senyum tulus-malu-malu-bengong-oon gimana gitu dari Kowalski.

-Entah bagaimana dan entah apa dari film ini yang berhasil bikin saya senyum-senyum sendiri sepanjang film. Maybe it’s magic?

-Gambarnya bagus. Apalagi efek-efeknya. Keren!

Collin Farrell gagah ya.

-Endingnya…. Ternyata….. Si penjahatnya itu diperankan oleh….. Oh, I love you om! :-*

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Aktingnya Ezra Miller kok terasa kurang ya? Terasa dibuat-buat bego gitu. Nggak natural.

-Pakaian para penyihir di Amrik kok nggak ‘aneh’ sih?

Review ini bisa juga bisa dibaca via Line @ymg2576q

Ini trailernya…