Review: Whiskey Tango Foxtrot (2016)

Film komedi perang ini sesuai judulnya Whiskey Tango Foxtrot alias WTF!!! Sembah sujud pada Tina Fey!

Film ini mengisahkan tentang seorang jurnalis perang dadakan Kim Baker (Tina Fey). Sebenarnya dia hanya seorang penulis naskah di sebuah stasiun televisi. Namun bosnya berkata kini stasiun televisi mereka kekurangan jurnalis buat ngepos di Afganistan, gara-gara semua jurnalis perang yang mereka punya dikirim ke Iraq. Maka Kim dikumpulkan bersama seluruh pegawai yang belum menikah dan tidak punya anak untuk diberi kesempatan mengajukan diri liputan ke Afganistan (WTF!).
Maka berangkatlah Kim ke Afganistan.
Di sana Kim tentunya mengalami culture shock, namun ia bisa bertahan berkat persahabatannya dengan para jurnalis perang lainnya. Tapi namanya jurnalis di daerah konflik, tentunya tidak semua berjalan dengan mulus.

Yang saya suka dari film ini:
+ Film ini penuh dengan dry comedy/deadpan yang bikin kita bengong mikir mau ketawa atau ga dengan ke-absurd-annya. Banyak banget adegan yang emang WTF banget!
+ Tina Fey junjunganku sangat pas memerankan sosok jurnalis Kim baker yang masih meraba-raba lapangan tapi nggak takut.
FYI tokoh Kim Baker ini benaran ada. Namanya Kim Barker, penulis buku The Taliban Shuffle: Strange Days in Afghanistan and Pakistan. Bukunya bisa dibeli di sini.
+ Margot Robbie di film ini jadi kelihatan cuantik banget. Padahal kalau di film-film lain saya ngeliat dia kayak cewek tampang tua.
+ Lumayan banyak dapat insight dan gambaran susah senangnya jadi jurnalis perang.
+ Film ini cukup bertabur bintang. Antara lain, Billy Bob Thornton, Alfred Molina, dan Martin Freeman.
+ Oiya, Martin Freeman di film ini jadi cowok yang charming banget. Sangat berbeda dengan Martin Freeman di film The Hobbit.
+ Set dan lokasinya bagus! Kayak di Afganistan beneran.

Yang saya kurang suka dari film ini:

– Banyak aktor barat yang jadi tokoh timur (Afganistan). Meski aktingnya bagus, tapi fakta mereka tidak menggunakan aktor berdarah Arab-Afganistan, ini membuktikan kalau film ini tidak disyuting di Afganistan langsung. Film ini disyuting di Santa Fe, Amerika Serikat.

Rate: 3,5 out of 5
Film ini saya tonton di Prime Video.

Ini trailernya…


Review: The Unicorn-Season 2 (2021)

Rasanya The Unicorn ini seperti serial Friends dengan tokoh yang lebih tua.

Category: Series
Genre: Comedy

Ada yang tahu serial The Unicorn sebelumnya? Kalau kalian belum tahu, sama saya juga belum pernah dengar serial ini sebelumnya. Tapi setelah tahu, ternyata serial ini berpotensi jadi serial favorit saya.

Serial yang pertama kali diproduksi pada tahun 2019 ini menceritakan tentang Wade (Walton Goggins) seorang duda ditinggal mati dengan dua orang anak. Setahun sepeninggal istrinya, Wade masih belum bisa move on tapi denial. Para sahabatnya prihatin dengan kondisi Wade. Mereka pun memaksa Wade untuk segera move on. Caranya adalah Wade HARUS segera pacaran lagi dengan wanita lain. Maka petualangan Wade dalam mencari dan berusaha mencintai pun dimulai. Tak lupa dengan campur tangan para sahabatnya yang juga mempunyai permasalahan masing-masing sehingga usaha Wade tidak mulus dengan kekonyolan mereka. Para sahabatnya antara lain: Forest (Rob Coddry) seorang pekerja kantoran yang pemikirannya suka absurd, Delia (Michaela Watkins) istri Forest yang juga seorang dokter anak dan hobi ngatur, Ben (Omar Benson Miller) yang easy going, dan istrinya Ben-Michelle (Maya Lynn Robinson) ibu empat orang anak yang dominan.

Wade yang dipaksa teman-temannya bikin akun online dating.
(Foto: Rogerebert.com)

Di season kedua The Unicorn, yang segera tayang di Fox Life pada 25 Januari 2021 ini, diceritakan Wade yang telah menemukan perempuan yang berhasil menambat hatinya. Namun sayangnya kisah cinta Wade dengan perempuan itu tidak semulus yang ia bayangkan. Karena sang tambatan hati adalah seorang janda anak satu yang mantan suaminya masih tinggal satu atap dengannya. Bagaimana Wade, anak-anak Wade, dan para sahabat Wade bisa menerima kehadiran sosok baru dalam hidup mereka ini?

Wade akhirnya ketemu perempuan yang berhasil bikin dia klepek-klepek
(Foto: Monkeyviral.com)

Yang saya suka dari serial ini:
+ Meski serial ini menjadikan Wade sebagai tokoh utama, namun serial ini mengangkat tema persahabatan dengan dominan. Serial ini mengingatkan saya dengan serial Friends yang menceritakan persahabatan sekelompok orang yang heterogen dengan permasalahan hidup masing-masing. Bedanya di The Unicorn para tokohnya lebih tua aja dari serial Friends. Permasalahan mereka bukan lagi di level mencari pasangan hidup. Melainkan menyeimbangkan kehidupan pekerjaan, keluarga, dan anak.
+ Permasalahan yang diangkat sangat dekat dengan kita (saya), yaitu tentang keluarga. Tentang kesibukan seorang ibu rumah tangga dalam mengurus rumah dan anak, tentang fase pertumbuhan anak dari balita sampai remaja, tentang adaptasi dengan perubahan yang ada di keluarga, sampai tentang komunikasi antar keluarga.
+ Sebagai seorang ibu yang bekerja, saya sangat ingin punya kelompok teman seperti para sahabatnya Wade ini. Apalagi makin umur kita bertambah, makin sedikit pula teman kita bukan?
+ Baju anak-anak di serial ini bagus-bagus banget. Belinya di mana tuh, bund?
+ Scoringnya bagus. Menghidupkan suasana komedi dan feel good-nya
+ Anaknya Wade, si Natalie (Makenzie Moss) cantik banget ya!
+ Itu giginya Walton Goggins kok bisa putih, rapi, bagus banget gitu ya? Dipakein whitestrips kali ya?

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Terlepas dari akting dan giginya Walton yang bagus, tapi di serial ini kita seperti dipaksa percaya bahwa dia ini ganteng banget makanya jadi idaman seluruh wanita.
Padahal pada kenyataannya, mo’on maaf banget nih ya, babang Walton nggak ganteng woi. Badannya bagus, sih. Langsing atletis gitu. Apalagi dia banyak pakai skinny jeans di serial ini. Tapi nggak ganteng. Rambutnya aneh. Padahal bisa lho rambutnya dipanjangin dikit terus ditata dengan gaya yang lebih masa kini gitu.
– Tokoh Ben dan Michelle ini sangat berdasarkan steriotipe keluarga kulit hitam. Padahal bukannya Amrik lagi gencar banget mengkampanyekan untuk mengurangi steriotipe? Correct me if I’m wrong ya di hal ini.

Rate: 4 out of 5
Season 2 serial ini bisa ditonton di Fox Life mulai 25 Januari 2021.

Ini trailernya…


Review: Sabrina (1995)

Saya merasa kalau film komedi romantis zaman dulu lebih bagus dari yang buatan era 2000-an.

Alkisah hiduplah keluarga Larrabee yang super tajir. Jauh sebelum Syahrini pamer kekayaan dan akhirnya nikah ama horangkayah beneran Reini Barack, keluarga Larrabee udah kaya nggak ketulungan. Keluarga ini punya dua orang putera, si sulung Linus (Harrison Ford) yang serius penerus bisnis keluarga dan David (Greg Kinnear) yang tampan yang hobi foya-foya.
Di atas garasi mobil keluarga LarraBee yang besar, tinggal lah seorang supir dengan puterinya bernama Sabrina (Julia Ormond). Sabrina memendam rasa pada David. Ia sering mengintip gerak-gerik David dari kejauhan. Sadar bahwa perasaan puterinya tidak akan terbalas oleh sang Tuan Muda, ayah Sabrina mengirimnya ke Paris, Perancis agar ia mencoba menjalani hidup yang baru.
Paris mengubah banyak diri Sabrina. Ia kini jadi gadis yang penuh percaya diri dan cantik memesona. Maka sepulangnya Sabrina dari Paris, wajar saja David jadi jatuh cinta. Padahal David sudah keburu tunangan dengan seorang dokter dari keluarga kaya. Jika pertunangan mereka dibatalkan, alamat merger bisnis senilai jutaan dolar antar dua keluarga itu ikut lenyap juga. Di sini lah Linus memutuskan untuk turun tangan. Linus telah memperhitungkan semuanya untuk menyelamatkan aset keluarga, namun ia tidak memperhitungkan kalau ia juga akan jatuh cinta pada Sabrina.

Yang saya suka dari film ini:
+ Kangen deh nonton film komedi romantis yang sebagus ini. Komedi romantis produksi era 90-an itu bagus-baguuuuus ceritanya. Nggak melulu tentang seks, melainkan memang tentang jatuh cinta.
+ Film ini remake dari film Sabrina 1954 yang diperankan oleh Audrey Hepburn. Saya belum nonton yang versi aslinya, tapi saya yakin lebih bagus versi yang 1995 ini. Karena film-film era Audrey Hepburn biasanya dialognya kaku.
+ Gambarnya baguuuuuuuus!
+ Keluarga Larrabee ini emang tajirnya ampun-ampunan, deh. Masa rumahnya Sabrina di atas garasi aja itu gede dan cakep banget kayak villa 0_o
+ Kulit putihnya Julia Ormond itu cantik banget. Putih porselen gitu. Atau bahasa Indonesianya putih pualam.
+ Gaunnya Sabrina pas dansa sama David itu juga baguuus banget deeeeh.
+ Komedinya tentang ‘terlalu tajir’ di film ini menghibur.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Harrison Ford kayak sengaja dibuat nggak cakep di film ini. Dan saya baru nyadar kalau hidungnya Harrison Ford itu miring.
– Julia Ormond meski cantik banget, tapi aktingnya biasa aja -_-
– Adegan ciumannya jelek. Nggak kayak orang jatuh cinta.

Rate: 5 out 5
Film ini saya tonton di Netflix. Di Prime Video kayaknya juga ada sih. Buat yang mau koleksi DVDnya, beli aja di sini.

Ini trailernya…


Review: The Invention of Lying (2009)

Ide cerita The Invention of Lying ini bagus banget.

Film ini mengisahkan tentang sebuah dunia yang tidak mengenal konsep berbohong. Semua orang berbicara jujur apa adanya. Dunia yang mereka tinggali sangat minim drama karena semua orang terbiasa menelan pil pahit kejujuran. Mereka juga tidak mengenal konsep fiksi/karangan yang merupakan turunan dari konsep berbohong. Sehingga semua film mereka harus berdasarkan sejarah.
Maka di dunia yang serba jujur ini, Mark Bellison (Ricky Gervais) harus menjalani hidup dengan getir. Karena ia bukanlah pria berwajah menarik dan tubuhnya tidak atletis. Perempuan yang ia ajak kencan, terang-terangan bilang kalau dia bukan pria yang menarik dan tidak ingin lagi berkencan dengannya. Sebagai pelengkap kesedihannya, Mark juga kena pecat dari pekerjaannya sebagai penulis naskah film karena dianggap tidak perform.
Di saat Mark terpuruk, ia tanpa sengaja menciptakan kebohongan untuk pertama kalinya di dunia. Bagaimana dunianya menerima kebohongannya?

Yang saya suka dari film ini:ss
+ Ide cerita film ini keren dan orisinil.
+ Penulisan naskahnya bagus. Ricky Gervais yang ikut nulis naskah ini membuktikan kalau dia bukan hanya sekedar komedian. Namun juga seorang penulis yang cerdas.
+ Aktingnya Ricky Gervais di film ini juga beda. Dia berhasil tampil sebagai tokoh loser yang patut dikasihani. Nggak ada satupun komentar atau senyuman ngenyek colongan yang selama ini jadi ciri khasnya.
+ Banyak pemeran pembantu yang keren-keren. Ada Tina Fey, Louis C.K., dan Jonah Hill.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Aktingnya Jennifer Garner terkesan kayak cewek sok polos yang dibuat-buat.
Rob Lowe kok aktingnya template kayak Chris Traeger di serial Park & Recreations?
– Ada beberapa tokoh yang kemunculannya nggak perlu sih. Saya jadi dapat kesan kalau film ini tuh ‘proyek ajak teman’-nya Ricky Gervais. Jadi begitu dia bikin film, semua temannya diajak main. Bantu teman gitu, biar karirnya ikut kedogkrak. Kayak Ernest Prakasa gitu lah.

Rate: 4 out of 5
Film ini saya tonton di Netflix.

Ini trailernya…

Review: The Call (2020)

Penyuka film butterfly effect pasti suka banget sama film The Call ini.

Film ini dibuka dengan Seo Yeon (Park Shin Hye) yang pulang ke rumah masa kecilnya di pedesaan. Ia pulang dengan enggan, tapi terpaksa karena ibunya sakit keras dan sedang dirawat di rumah sakit.
Diperjalanan pulang, handphone-nya Seo Yeon ketinggalan di kereta. Saat ia berusaha melacak keberadaan handphone-nya pakai telepon rumah, ia malah menerima telepon dari seorang perempuan yang meminta pertolongannya karena disiksa ibunya. Ternyata perempuan itu adalah Young Sook (Jong Seo Jun). Young Sook adalah penghuni rumahnya pada tahun 1999. Young Sook menelpon dari tahun 1999 dan diangkat oleh Seo Yeon di tahun 2018. Rupanya melalui telepon rumah itu, Seo Yeon dan Young Sook dapat berkomunikasi lintas waktu ke sesama penghuni rumah tersebut meski di zaman waktu yang berbeda.
Seo Yeon dan Young Sook akhirnya menjadi teman telepon lintas zaman. Mengetahui ayah Seo Yeon meninggal dunia karena kebakaran waktu Seo Yeon kecil, Young Sook berinisiatif untuk mengubah hal itu. Young Sook di masa lalu mencoba menyelinap dari kungkungan ibu tirinya dan berusaha mencegah kebakaran yang menelan jiwa ayah Seo Yeon pada tahun 1999.
Usaha Young Sook berhasil! Kini giliran Seo Yeon untuk membantu mengubah nasib Young Sook. Namun ketika Seo Yeon berhasil menyelamatkan nasib Young Sook, kenapa hidup Seo Yeon di masa kini malah memburuk? Apakah mengubah masa lalu adalah langkah yang tepat?

Yang saya suka dari film ini:
+ Cerita dan alur film ini bagus! Sangat mudah dipahami.
+ Aktingnya Jong Seo Jun ciamik!
+ Set dan lokasinya kereeeen! Ini orang propertinya canggih sih bisa ngubah satu rumah jadi beberapa zaman dan kondisi.
+ Alurnya lumayan nggak ketebak.
+ Banyak karakter pemeran pembantu yang dieksplor secara maksimal.
+ Efek CGI perpindahan zamannya bagus! Halus dan rapi.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Banyak adegan berantem kabur dari orang jahat yang klise. Serasa pengen komen ‘Yaelah, masih aja lu begitu…’
– Akting Park Shin Hye template cewek cantik di film horor/thriller. Tiap ketakutan atau panik terlihat cantik dan kayaknya nggak pengen kelihatan jelek.
– Kostum dan make up untuk era akhir 90-an kurang pas. Malah kayak nggak ada bedanya sama zaman sekarang.
– Itu rambutnya Young Sook ganggu parah. Makanya mukanya pada jerawatan kan jadinya. Hadeeeeuh. Gatel banget pengen balurin Mud Mask Jafra ke muka doi. Kalau butuh Jafra, kontak saya, ya!
– Di Netflix film ini dikategorikan sebagai ‘scary’. Tapi menurut saya nggak scary ah. Menagangkan sih iya. Tapi nggak menakutkan.
– Film ini banyak adegan kekerasan yang sadis, ya. Jadi jangan ditonton sama anak di bawah 15 tahun, ya.

Rate: 4 out of 5
Film ini saya tonton di Netflix

Ini trailernya…

Review: Three Identical Strangers (2018)

Kalau aja ini bukan film dokumenter, kita semua PASTI akan mengira kalau kisah Three Identical Strangers ini adalah bohong.

Film ini dibuka dengan Robert ‘Bobby’ Shafran yang sudah berumur 56 tahun menceritakan hari pertamanya masuk kuliah di tahun 1980. Di hari itu, tanpa ia sangka-sangka, semua menyambut dia dengan hangat seolah-olah ia adalah teman lama yang sudah pernah kuliah di situ. Dan semua memanggilnya dengan sebutan ‘Eddy’. Siapa sih ‘Eddy’ ini?

Sampailah salah satu mahasiswa di sana yang kenal baik dengan Eddy sadar bahwa Bobby ini adalah kembarannya Eddy. Bobby dan Eddy adalah sama-sama anak angkat yang ternyata kembar.
Singkat cerita Bobby dan Eddy akhirnya berjumpa. Pertemuan mereka jadi berita sensasional sebagai anak kembar yang berjumpa lagi sejak terpisah saat lahir. Begitu tampang Eddy dan Bobby masuk koran, teman-teman David Kellman langsung bisa melihat kalau Eddy dan Bobby itu mirip banget dengan David Kellman. Mereka yakin kalau David adalah kembaran Eddy dan Bobby juga. Benar saja, Eddy, Bobby, dan David adalah kembar tiga (triplet) yang terpisah sejak bayi!

Sejak itu triplet Eddy, Bobby, dan David jadi berita sensasional di mana-mana. Bukan hanya kaena kisah pertemuan mereka yang tidak biasa, namun juga karena mereka membawa fakta yang sangat unik. Yaitu meski telah terpisah sejak lahir dan besar di keluarga yang berbeda-beda, mereka ternyata tetap punya kesamaan bawaan seperti gerak tubuh dan selera yang sama. Mereka bertiga bahkan punya kakak perempuan yang umurnya sama.

Triplet ini jadi viral. Mereka diundang di berbagai media. Mereka samapi diundang main film sama Madonna secara pribadi. Mereka juga bikin bisnis bareng dan sukses. Mereka adalah kembar tiga yang fenomenal.

Namun pertemuan mereka ini menimbulkan tanya di diri mereka dan keluarganya. Kenapa selama ini mereka dan keluarga angkatnya tidak pernah diberitahu kalau mereka sebenarnya anak kembar tiga? Kenapa mereka dipisahkan? Saat mereka mencari tahu fakta asal-usul mereka, terkuaklah fakta yang sangat tidak disangka-sangka…

Yang saya suka dari film ini:
+ Fakta yang terkuak benar-benar tidak disangka-sangka. Kadang terlalu kebetulan itu ternyata bukan kebetulan sama sekali, sodara-sodara…
+ Pola bertuturnya sangat baik. Kita jadi bisa mengenal kehidupan ketiga keluarga dengan sangat mudah. Bahkan beberapa tokoh bisa terasa sangat dekat degan kita.
+ Film ini membuat saya paham betul kalau beberapa sifat manusia itu memang bawaan dari lahir. Namun sikap manusia bisa bisa diajarkan dan dipengaruhi oleh lingkungan. Hal ini dapat terlihat dari David Kellman yang ceria dan full of love.
+ Ternyata ikatan batin anak kembar itu beneran nyata ya gaes…
+ Senang banget dokumentasi nyata di film ini ada banyak. Jadi gambarnya beragam. Nggak melulu satu foto di-zoom dan ditayangin berulang-ulang.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Nggak ada sih. Ini dokumenter yang bagus tentang hal yang ‘too good to be true’.

Rate: 4,5 out of 5
Film ini saya tonton di Netflix.

Ini trailernya…

Review: Rebuilding Paradise (2020)

Rebuilding Paradise memberikan gambaran jelas bagaimana sedihnya kehilangan rumah dan kotamu akibat ulah manusia.

(Foto: National Geographic)

Pada 8 November 2018, ada kebakaran di hutan dekat kota Paradise, California, Amerika Serikat. Para pemadam kebakaran langsung turun tangan untuk memadamkan api. Namun mereka tidak bisa mengalahkan kekuatan angin yang membuat api menyebar cepat. Lama-lama api mulai menjalar ke pemukiman warga Paradise. Para pemadam kebakaran benar-benar tidak kuasa menahan kekuatan api, hingga akhirnya seluruh kota Paradise habis terbakar. Langit di kota Paradise merah membara karena api. Siang hari di kota Paradise seperti malam hari karena asap tebal menutupi cahaya matahari. Tidak ada lagi rumah warga, tidak ada lagi pusat kota, semua habis tinggal rangka dan abu.

Paradise, CA – Piles of debris from burned buildings close to an antique mall in Paradise, CA. (Credit: National Geographic)


Akhirnya diketahui bahwa penyebab utama kebakaran ini adalah kelalaian perusahaan listrik yang tidak memelihara tiang-tiang listrik mereka yang terpasang di hutan. Percikan listrik dari tiang-tiang itu memercikkan api yang menyebabkan kebakaran hutan.
Belakangan diketahui pula bahwa akibat kebakaran itu, air di kota Paradise kini tercemar sampai-sampai bukan hanya tidak bisa digunakan untuk minum, dipakai untuk mandi saja lambat laun bisa menyebabkan kanker.

Carly Ingersoll seorang psikolog sekolah. Ia sedang berusaha mempunyai keturunan. Namun dokter melarang dia untuk hamil karena ia menolak pindah dari Paradise pasca bencana. Ia juga sudah pernah mandi pakai air kota Paradise yang tercemar. Dokter takut kandungan kimia yang sudah masuk melalui kulitnya akan berbahaya untuk janin. (National Geographic/Sarah Soquel Morhaim)

Meski sudah diberikan rumah pengungsian, namun masih banyak warga Paradise yang menolak hengkang dari kota yang sudah hancur-lebur itu. Karena warga Paradise sangat mencintai kotanya.

Sang sutradara, Ron Howard, mengikuti perjalanan hidup dan usaha beberapa warga kota Paradise untuk bisa bangkit kembali. Ada dari sudut pandang polisi, petinggi sekolah, psikolog sekolah, mantan walikota, dan beberapa warga biasa. Ron mengkuti kisah hidup mereka berharap dapat melihat perubahan ke arah yang lebih baik.

Yang saya suka dari film ini:
+Film dokumenter ini sama sekali nggak pakai narator, tapi kita bisa paham dan ikut merasakan kesedihan para korbannya.
+Film ini mengambil segala pihak yang terlibat di kota tersebut. Bukan hanya warganya, tapi juga anggota dewan kotanya, pihak perusahaan listriknya, sampai kaum lansia yang mengerti sejarah kota tersebut.

Michelle John salah satu petinggi sekolah di Paradise. Pasca bencana ia harus mutar otak agar para muridnya tidak ketinggalan pelajaran. Ia juga tetap merayakan wisuda para murid kelas 12 di lapangan, meski ia harus membabat pohon di sekitar sekolah yang berpotensi menyebarkan abus racun di udara. (Credit: National Geographic)


+Banyak video kebakaran yang terekam. Dari situ kita bisa melihat bagaimana sebuah kota berubah jadi api neraka. Sampai aspal jalan aja kebakar. Sen cing ping!

Salah satu rumah yang terbakar di Paradise Nov. 8, 2018. (Photo by Noah Berger)


+Sepertinya Paradise ini beneran kota yang bagus dengan warga yang baik. Makanya sepanjang film ini kita akan melihat bagaimana warganya cinta banget sama kota Paradise.
+Ada pengakuan anak yang bapaknya yang udah lansia meninggal pas kebakaran itu. Sediiiiiiiih banget ngebayanginnya T_T
+Warna dan gambar film ini baguuus! Emang beda dah kalau yang sutradarain itu pemain lama di Hollywood.
+Ron Howard matanya jeli banget menggambarkan ironi kebahagiaan kecil dari warga dari kota yang hancur.

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Maaf ya, bukan maksudnya meremehkan permasalahan orang di Paradise, tapi mungkin karena saya tinggalnya di Indonesia yang rentan bencana alam kali, ya. Jadi begitu lihat rumah pengungsiannya bagus-bagus dan layak huni ada juga yang hidup sementara di mobil trailer, perasaan saya kayak ‘hmmm kalo elo-elo pada tinggal di negara gue, kalian udah nangis darah kali yak…’

Arabella Young, salah satu anak yang mengungsi di mobil trailer bersama keluarganya. (Credit: National Geographic)


-Film ini banyak tokohnya, tapi diceritakan cuma seceplok-seceplok. Akhirnya beberapa tokoh diceritakannya nggak tuntas.

Film ini bisa ditonton di channel National Geographic hari Sabtu, 14 November 2020 pukul 21:00
Rate: 4 out of 5

Ini trailernya…

Review: Walking The Yangtze With Ash Dykes (2020)

Apa jadinya kalau kita memutuskan untuk menyusuri sungai Yangtze di Tiongkok?

Ash Dykes

Kenalin nih, namanya Ash Dykes asal North Wales, Inggris. Dia adalah seorang petualang atau explorer yang sudah tiga kali menyabet gelar rekor dunia. Salah satunya adalah sebagai orang yang berhasil treking keliling Madagascar sepanjang 2,600 kilometer pada tahun 2015. Kini ia memulai petualangan barunya: treking meyusuri Sungai Yangtze di Tiongkok yang merupakan sungai terpanjang ketiga di dunia (6,600 kilometer).

Di dokumenter ini diperlihatkan persiapan awal Ash untuk menjalankan misinya. Mulai dari belajar bahasa percakapan dasar China, peralatan apa aja yang dia bawa, sampai beli kuda untuk menemani perjalanan awalnya.

Ash dengan kuda tahan banting yang ia beri nama Castor Troy. Tapi sepanjang film saya dengar namanya itu ‘kastachui’ haha

Setelah perlengkapan buat misinya udah siap, Ash pun pergi ke pegunungan Tanggula di pedataran tinggi Tibet untuk ke sumber mata air utama Sungai YangTze. Dari situlah perjalanan misi Ash menyusuri Sungai Yangtze dengan jalan kaki akan dimulai. Ash akan menelusuri sungai sampai ujung kota Shanghai dimana di situlah muara Sungai Yangtze ke lautan.

Ash pas nemuin sumber mata air utama Sungai Yangtze bersama guide dan crew yang waktu itu masih ikutan mendokumentasi perjalanannya sebelum akhirnya pada menyerah bertahap.

Serius jalan kaki? Iya serius banget dia. Dengan bawa tas ransel carrier seberat 30-an kg, dia telusurin tuh sungai. Selama perjalanan, banyak banget tantangan yang harus dia hadapi. Dari tantangan dari sesama manusia, seperti para guide-nya yang nggak ada yang betah karena kelelahan atau takut. Sampai tantangan dari alam yang banyak banget. Mulai dari binatang buas, hujan badai, longsor, dan masih banyak lainnya.

Yang saya suka dari film ini:
+ Ash Dykes ini sungguh inspirasional. Dari film ini saya bisa melihat bahwa faktor keberhasilan Ash bukan hanya soal kegigihan. Tapi juga soal bagaimana ia mempertahankan positive attitude dan positive mindset. Di film ini saya tidak melihat satupun komentar negatif atau satir dari Ash tentang apapun yang ia hadapi. Dia sempat tersesat, peralatannya dicuri, harus mutar jalan di gunung, numpang tidur dan makan di warga lokal, tapi dia jalanin dengan senang dan senyum terus. Positive mindset selalu bisa bikin kita mikir jernih buat bertahan hidup.

Dari gunung bersalju….
Sampai musim panas, Ash tetap jalan dengan tersenyum.


+ Ash menghabiskan waktu perjalanan ini sekitar satu tahun. Ia tidak melulu menyusuri di samping sungai aja, tapi juga mampir ke kota-kota yang dilewati sungai Yangtze. Di kota-kota itu Ash berusaha mempelajari dan memahami makna sungai Yangtze untuk warga di sana.
+ Film ini dibagi menjadi dua bagian (episode). Pembagian episode ini dibuat dengan proporsional. Bagian pertama lebih banyak menceritakan bagaimana Ash menjalani perjalanannya dan bertahan hidup di alam liar. Sedangkan di bagian kedua lebih banyak membahas tentang budaya dan warga yang ia singgahi.
+ Sebelum saya nonton film ini, Tiongkok tidak pernah masuk ke list negara yang ingin saya kunjungi. Tapi sekarang, setelah melihat Tiongkok yang direkam oleh Ash adalah negara yang indah banget, ya! Lembahnya bagus-bagus dan menyejukkan mata. Dan sungai Yangtzenya, meski di tiap daerah warna airnya bisa berbeda, tapi sungainya bersih nggak ada sampah. Sebagai orang Indonesia yang tinggal di Jakarta, pemandangan sungai bersih tanpa ada sampah itu memang langka.

Tuh, bagus kan?
Cakep banget masya Allah…
Kayak lembah-lembah tempat tinggalnya Kung Fu Panda kan?

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Meski kegiatan Ash mampir ke kota-kota untuk mempelajari budaya dan konservasi alam di sekitar sungai yang ia telusuri itu menarik, tapi jadi kurang memperlihatkan sisi adventurous-nya.
– Film ini agak terkesan terburu-buru untuk menceritakan perjalanan yang menghabiskan waktu satu tahun. Mungkin memang akan bosan nonton orang yang melakukan perjalanan sendirian. Tapi kalau dibuat kayak vlog harian, saya rasa akan tetap menarik untuk ditonton.
– Tidak ada keterangan waktu dan tanggal di film ini. Makanya sempat kaget begitu nonton bagian Ash ke kota Wuhan. Udah ketar-ketir aja dia ketularan Covid-19. Tapi kayaknya misi dia ini dilakukan sebelum ada virus itu merebak, sih.

Rate: 3,5 out of 5

Film ini akan tayang di channel National Geographic pada 20 (bagian 1) dan 27 Oktober (bagian 2) 2020 pukul 20:00 WIB.

Ini trailernya…

(Semua foto adalah dokumentasi dari National Geographic)

Review: The Devil All The Time (2020)

Bagaimana iman yang kebablasan justru jadi jalan masuknya syaiton.

Hmmm agak bingung menceritakan film ini karena tokohnya banyak banget. Tapi mari saya coba.

Film ini dibuka dengan menceritakan prajurit Willard Russell (Bill Skarsgård) yang baru pulang dari Perang Dunia II. Saat busnya transit, ia berkenalan dengan seorang gadis pelayan bernama Charlotte (Haley Bennett). Willard langsung jatuh cinta, tak lama mereka pun menikah dan dikaruniai seorang putera yang mereka namakan Arvin (Michael Banks Repeta). Kehidupan keluarga Willard baik-baik saja. Willard juga menanamkan nilai agama ke Arvin. Willard membangun altar gereja kecil di hutan untuk tempat keluarga mereka berdoa.


Suatu hari Charlotte jatuh sakit. Dokter mendiagnosis kalau ia terkena kanker dan tidak bisa disembuhkan. Sejak itu Willard makin rajin mengajak Arvin ke gereja di hutan untuk berdoa demi kesembuhan Charlotte. Arvin dipaksa untuk berdoa setiap hari dan sekencang-kencangnya demi ibunya. Namun saat Charlottte tidak menunjukkan tanda-tanda kesembuhan, Willard makin kehilangan akal. Ia sengaja membunuh anjing kesayangan Arvin dan mempersembahkan bangkainya ke altar gerejanya sebagai nilai tukar ‘ambil saja anjing ini, tapi jangan ambil istriku’. Tentu saja itu sia-sia. Charlotte tetap dipanggil Tuhan dan Arvin jadi tidak mau percaya lagi dengan Tuhan sejak melihat perbuatan ayahnya terhadap anjingnya. Tak perlu waktu lama akhirnya Willard juga menyusul Charlotte.

Tinggal lah Arvin kecil yang kemudian dibesarkan oleh ibunya Willard. Di sana ia tidak kurang kasih sayang karena selain neneknya, ada juga paman dan adik perempuan angkatnya yang menyayangi Arvin. Sampai Arvin dewasa (Tom Holland) ia tetap menolak untuk berdoa pada Tuhan. Maka ketika terjadi sesuatu pada keluarganya, Arvin tidak menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Ia memilih untuk melakukan tindak keadilannya sendiri.

Yang saya suka dari film ini:
+ Kisah Arvin hanyalah salah satu cerita yang ada di film ini. Ada begitu banyak tokoh lainnya yang menceritakan asal-muasal karakter. Semuanya diceritakan dengan baik, runut, mudah dimengerti, dan tuntas. Nggak ada cerita yang bolong. Kita juga ingat terus sama nama tokohnya. Padahal biasanya klo film yang tokohnya banyak, kita ingat karakternya tapi gampang lupa sama namanya.
+ Film ini bertabur bintang! Selain Tom Holland, ada Robert Pattinson, ada Mia Wasikowska, ada Jason Clarke juga. Semuanya bermain dengan optimal.
+ Tapi di antara nama-nama yang udah terkenal itu, akting Tom Holland tetap paling oke. Di film ini, dia bisa bikin kita lupa kalau dia adalah si Spiderman. Di sini kita melihat ia adalah si cowok Amerika kampung tulen. Padahal dia aslinya aktor Inggris. Canggih lah kamu, Tom!
Robert Pattinson yang aktor Inggris juga bagus sih aktingnya. Di sini ia berperan sebagai Pastor Preston yang nggak bener. Cuma aura misterius dan membunuh dia di film ini udah sering saya lihat di film Twilight yang diputar berulang kali di Trans TV. Bedanya dia di film ini nggak secakep di film Twilight aja. (Pake bedak dong biar putih dan cakep lagi kayak Edward Cullen 😛 )
+ Namun, akting yang patut diberi perhatian khusus dan diacungi jempol adalah Harry Melling yang berperan sebagai pastor Roy Laferty yang sedeng (sedeng adalah bahasa Bekasinya ‘gila’). Dan tahukah Anda bahwa Harry Melling ini adalah pemeran Dudley Dursley di film Harry Potter? Iya betul. Itu lah Harry Melling!
+Setelah dipikir-pikir, untuk film yang menceritakan kehidupan para Amerika udik ini aktornya kok banyakan non Amerika yak? Tom Holland, Robert Pattinson, Harry Melling itu orang Inggris. Mia Wasikowska orang Australia. Bill Skarsgård orang Swedia. Ya nggak apa-apa, sih. Justru salut sama akting mereka semua.
+ Film ini mampu menceritakan dengan baik bagaimana iman bisa jadi sumber kejahatan. Bagaimana iman bisa menutup logika (Willard), bagaimana iman yang kebablasan bisa jadi gila (Roy Laferty), bagaimana pencarian iman bisa jadi alasan untuk berbuat jahat (Carl Henderson yang diperankan oleh Jason Clarke), bagaimana terlalu terfokus pada iman bisa membuat manusia jadi naif (Lenora-adik angkat Arvin diperankan oleh Eliza Scanlen), bagaimana iman bisa juga jadi kedok orang untuk berbuat yang tidak bermoral (Pastor Preston).
Film ini tidak bermaksud membuat orang jadi tidak beriman, justru ia ingin mengingatkan kalau segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Beragama itu harusnya membuat Anda menjadi orang yang lebih baik, bukan malah jadi jalan masuk syaiton untuk ngebisikin hal-hal jahat. Persis seperti judul film ini: The Devil All the Time.
Pesan film ini bagus banget untuk jadi renungan.
+ Adegan kekerasan di film ini terlihat nyata banget. Warna darahnya juga bagus. Kayak asli. Sepertinya film Hollywood mulai mengadaptasi adegan kekerasan film-film Korea. Film Korea kan kalau bikin adegan kekerasan emang kayak nyata. Jadi baek-baek ya kalau nonton film Korea non drama romantis. Bisa-bisa trauma 😀
+ Set dan lokasinya oke!

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Film ini banyak adegan kekerasannya. JADI JANGAN DITONTON SAMA ANAK DI BAWAH UMUR 15 TAHUN YA.
-Bill Skarsgård kayak terjebak dengan peran yang begitu-begitu aja, deh. Kalau nggak orang depresif, ya orang jahat. Mas Bill, kamu cari karakter yang lain dong. Semangat! Aku tahu kamu bisa.
-Aksen Amerika kampung Robert Pattinson dan Bill Skarsgård agak terdengar dibuat-buat, deh menurut saya…


Saya nonton film ini di Netflix
Rate: 5 out of 5

Ini trailernya…

Review: Ave Maryam (2019)

Sebel, banyak yang dipotong 😦

Film ini mengisahkan tentang Suster Maryam (Maudy Koesnaedi) yang tinggal di sebuah asrama gereja di Semarang. Tidak ada yang istimewa di hari-hari Maryam sebagai di gereja. Semuanya ia jalani dengan ikhlas untuk melayani Tuhan. Mulai dari memasak, mengurus asrama gereja, sampai memandikan suster yang sudah lansia.
Namun semuanya berubah ketika Romo Yosef (Chicco Jerikho) muncul di gereja Suster Maryam. Romo Yosef yang tampan dan pandai bermain musik membuat Suster Maryam diam-diam mengaguminya. Kekaguman Suster Maryam disambut baik oleh Romo Yosef. Sang romo pun sering mengajak Suster Maryam dalam pertemuan rahasia. Rasa yang ditawarkan oleh Romo Yosef ini asing namun dinikmati oleh Suster Maryam. Tapi bagaimana dengan sumpahnya pada Tuhan untuk mengabdikan hidupnya untuk melayani?

Yang saya suka dari film ini:
+ GAMBARNYA BAGUS WEI! Memanjakan mata banget deh ini film.
+ Posternya juga bagus
+ Ya Allah, itu Maudy Koesnaedi kok udah tua bisa tetap kece, sih? Apa rahasiamu mba? Saya bodo amat ama agamamu mba. Yang saya pengen tahu itu, skin caremu apa? Jawab! *gebrak meja biar Maudy langsung jawab*
+ Salut sama sutradara Ertanto Robby yang di negara tercatat sebagai beragama Muslim, namun bisa bikin film tentang keseharian kaum Nasrani dengan segini indahnya.
+ Chicco Jerikho dengan rambut gondrong itu adalah jaminan seksi, sodara-sodara. Jadi kalau di film ini diceritakan susternya khilaf karena kegantengan doi, YA WAJAR BANGET LAH YA~
+ Set dan propertinya baguuuus. Kaya dan penuh.
+ Aktingnya Tutie Kirana masih numero uno!
+ Ada satu dialog yang jadi favorit saya di film ini:

Jika surga belum pasti untukku, buat apa aku mengurusi nerakamu?

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Ini tuh filmnya banyak dipotong. Jadi kalau abis nonton film ini nggak paham ama ceritanya, wajar banget. Yang dipotong tuh hal-hal krusial yang menghidupkan cerita pula. Seperti tentang latar belakang keluarga Maryam yang Muslim. Sama kejadian Maryam dan Yosef di pantai. Saya tahu kalau adegan ini dipotong setelah dikasih tahu oleh beberapa teman yang beruntung bisa nonton versi fullnya. Cerita aslinya bisa juga Anda baca di Wikipedia. Tapi spoiler alert banget lho, ya.
Udah gitu adegan yang dipotongnya itu kasar pula. Jadi pas di tengah-tengah lagi nonton, kita kayak kaget, ‘lho kok berubah begitu aja adegannnya?’
– Terlepas rasa cinta saya kepada Joko Anwar sebagai sutradara, namun Joko Anwar sebagai pemain film itu nggak bagus. Masih kaku bang. Maaf ya, bang Joko. Anggap aja ini masukan ya. Jangan marah, ya *salim*
– Film ini standar festival lho, ya. Jadi minim dialog tapi gambarnya indah-indah. Mungkin bagi beberapa orang, film ini akan terasa sangat pelan dan membosankan.

Saya tonton film ini di Netflix.
Rate: 3 out of 5

Ini trailernya…