Review: The Kitchen (2019)

Cuma di The Kitchen wilayah Hell’s Kitchen dipegang sama ibu-ibu.

Film ini mengisahkan tentang tiga orang istri gangster yang di wilayah Hell’s Kitchen. Ada Kathy Brennan (Melissa McCarthy) yang keibuan dan suaminya penyayang, ada Claire (Elisabeth Moss) yang sering mengalami KDRT jadi samsak suaminya, dan ada Ruby (Tiffany Haddish) yang sering diremehkan suaminya karena ia perempuan kulit hitam.
Pada suatu hari para suami mereka tertangkap basah oleh polisi saat sedang merampok sebuah toko. Singkat cerita ketiga suami itu dijebloskan dalam penjara untuk ditahan selama beberapa tahun. Anggota gangster lainnya berjanji untuk membantu menafkahi para istri. Sayangnya uang yang diberikan terlalu sedikit. Kathy dan Ruby menghadap para gangster untuk meminta uang tambahan, eh mereka malah diremehin. Sejak saat itu mereka bertiga memutuskan untuk membentuk kelompok sendiri. Mereka meyakinkan para pengusaha kecil di lingkungan Hell’s Kitchen untuk setoran ke mereka dengan imbalan tempat usaha mereka akan aman dari gangguan apapun. Usaha mereka berhasil, tapi tentu saja para gangster tidak suka dengan tindakan mereka ini…

Yang saya suka dari film ini:
+ Melissa McCarthy itu nggak pernah fail meranin peran apapun sejauh ini. Semua orang tahu dan jadi ingat dengan Melissa berkat perannya sebagai chef baik hati, ngegemesin, namun slebor di serial Gilmore Girls. Tapi Melissa selalu berhasil keluar dari karakter apapun yang dia perankan. Sehingga semua karakter Melissa yang ia perankan rasanya nggak pernah sama. Nggak kayak Jennifer Aniston yang selalu masih ada ‘Rachel’nya di peran apapun yang ia mainkan.
+ Suka banget dengan karakter tukang pukul yang dingin yang diperankan oleh Domhnall Gleeson. Domhnall ini yang berperan jadi Bill Weasley abangnya Ron Weasley di film-film Harry Potter, lho.
+ Saya suka dengan tema feminis dan girl power dari film ini. Ada satu dialog mengesankan yang dilontarkan Kathy saat berantem dengan suaminya. Di situ diperlihatkan bagaimana insekuritas dari sebuah rumah tangga itu umumnya datang dari lelaki yang kegedean egonya.
+ Rambut dan kostumnya saya suka banget. Apalagi film ini ceritanya pas era 70-an, era fashion kesukaan saya.
+ Penulisan naskahnya bagus. Sampai banyak yang mengira kalau film ini adalah berdasarkan kisah nyata. Padahal film ini hanya adaptasi dari komik DC Vertigo

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Set dah Tiffany Haddish, akting lo jelek banget dah ah. Kayak takut banget sik keliatan muke lo jadi jelek. Sok galak lo juga jadi aneh. Serba nanggung gitu. Tiffany…Tiffany…. Jangan gitu lagi ya.
– Lu lagi Elisabeth Moss. Hadeeh 11-12 lu ye ama si Tiffany. Kalau akting temen lo jelek, ya jangan diikutin dong. Harus punya pendirian gitu jadi orang. Walau akting Elisabeth nggak sejelek Tiffany, tapi karakter Claire itu nggak pas banget buat dia. Ini maaf-maaf ya kalau ngomongin fisik, tapi di film ini dia digambarkan sebagai cewek cantik yang selalu digodain orang. Tapi…tampangnya sendiri nggak secantik itu 😦 Cantikan Tiffany kemana-mana. Elisabeth juga nggak berhasil mengeksplor karakter Claire yang dulu lemah karena jadi korban KDRT suami kemudian menjadi seorang perempuan pemberani. Transformasi nggak berasa gitu.

Rate: 3,5 out of 5
Film ini saya tonton di Netflix

Ini trailernya…

Review: Write Me A Love Song Series (2021)

Kebetulan saya diundang ke acara konferensi pers peluncuran serial Write Me A Love Song ini di CGV Grand Indonesia (24/11). Jadi di review kali ini saya juga akan memberikan sedikit laporan pandangan mata.

(Foto: Viu.com)

Serial ini menceritakan tentang seorang musisi bernama Valentino Kun atau yang biasa dipanggil Kun (Bio One). Dia sangat berusaha menancapkan namanya di industri musik, tapi sayangnya semua lagunya dapat review jelek dari netizen.
Kun punya dua orang sahabat yang selalu mendukungnya, ada Ipen (Andri Mashadi) dan Mamen alias Chelsea (Marsha Aruan). Menurut kedua orang sahabatnya, lagu-lagu Kun itu kurang ada feel-nya. Kun sering membuat lagu cinta, tapi nggak ada lagu yang bisa bikin orang baper. Mereka berkesimpulan, untuk bisa membuat lagu cita, maka Kun harus bisa jatuh cinta dulu. Sejak saat itu Kun berusaha untuk bisa jatuh cinta, semata-mata biar bisa menulis lagu cinta yang hebring.
Di tengah usahanya itu, Kun berkenalan dengan seorang cewek sesama musisi bernama Yogurt (Dinda Kirana). Kun juga dipertemukan kembali dengan cinta pertamanya waktu SMA, Vanessa (Naomi Zaskia), yang kini jadi salah satu petinggi label musik.
Akan kah Kun bisa membuat lagu cinta dan menjadi musisi terkenal?

Di konferensi pers yang saya hadiri, kami dipertontonkan dua episode pertama serial ini. Jadi ini adalah review saya untuk kedua episode itu, ya. Dan berikut pendapat saya…

Yang saya suka dari serial ini:
+ Serial ini potensial. Digarap dengan baik. Mulai dari set, lokasi, properti, dan editing warna bagus semua.
+ Alur ceritanya bagus. Nggak ada plot yang bolong, sejauh ini.
+ Pembangunan karakternya oke.
+ Suka dengan aktingnya Andri Mashadi sebagai Ipen yang baik hati tapi agak-agak kurang dikit otaknya.
+ Meski pemain serial ini rata-rata adalah jebolan sinetron dan FTV semua, tapi kita nggak akan melihat akting template khas sinetron atau FTV. Justru dari serial ini saya jadi optimis dengan para aktor/aktris jebolan sinetron ataupun FTV. Jadi kata siapa Indonesia kekurangan aktor?Industrinya aja kali tuh yang kurang inklusif, uhuk uhuk… Duh jadi batuk sayah…
+ Bio One di serial ini ganteng banget, btw!!!

Bio One di serial Write Me A Love Song
Bio One yang saya lihat langsung pada saat konferensi pers. Dia memang jauh lebih kurus dan berkulit lebih gelap karena untuk kebutuhan sebuah peran yang lagi proses produksi syuting.
Tapi saya nggak paham dengan konsep baju serta sendal bakiak Jepang yang dia pakai saat konferensi pers itu. Apa mungkin dia sedang berusaha menjadi Ezra Miller versi kearifan lokal ya?
Terlepas soal bajunya yang bikin saya jadi pengen panggil guru BP, saya optimis anak ini aktingnya akan makin banyak mewarnai industri perfilman kita. Asal dia nggak salah ambil jalan saat berhura-hura aja…

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Figurannya ya gitu deh hehehe…
– Kostum untuk tokoh Yogurt kok gitu banget, ya? Perasaan musisi cewek jaman sekarang nggak kayak Ully Sigar Rusady gitu dah (Anjay ketahuan umur gua).

Ini Ully Sigar Rusady, gaes. Beliau adalah musisi dan juga kakak kandungnya Paramitha Risady

– Serial ini bukan musikal, tapi ada banyak musiknya. (Ya iyalah, kan ceritanya tentang musisi yang mau bikin lagu.) Nah sejauh dua episode ini, lagunya belum ada yang oke dan nempel atau berpotensi jadi soundtrack gitu lah. MUNGKIN ini karena baru dua episode kali ya. Belum sampai ke cerita dimana Kun akhirnya berhasil bikin lagu yang bagus. Semoga nanti beneran ada lagu yang oke dari serial ini, ya.
Oiya, Bio One sempat membocorkan kalau akan ada konser mini setelah serial ini tayang 10 episode. Kita tunggu aja, ya.

Di konferensi pers kemarin Bio One sempat disuruh menyanyikan salah satu lagu dari serial Write Me A Love Song. Saya video-in dengan super zoom. Alhamdulillah kamera handphone saya lumayan caem meski bukan aifon.


-Nah itu tadi kan soal lagunya, ya. Beda lagi kalau soal scoring. Menurut saya di beberapa bagian scoringnya agak ganggu dan kurang jaman sekarang. Beberapa scoringnya masih sinetron banget.
“Lah tapi kan serial ini sebenarnya sinetron yang tayang di layanan streaming. Pegimane sih lu, Krili!,” ujar netizen menahan gemas melihat kecantikan Krili.
Iyak juga sih, tapi kalau menurut saya, serial yang tayang di layanan streaming itu beda sama yang tayang di TV nasional. Serial Indonesia yang tayang di layanan streaming itu kelasnya beda, karena penontonnya juga beda. Makanya disayangkan kalau scoringnya masih dimiripin ama sinetron biasa. Itu pendapat saya lho. Kalau nggak suka ama pendapat saya, ya udah bagen! #BekasiPride
-Ada beberapa dialog yang agak kaku. Tapi yang paling mengganggu saya adalah kenapa hampir di tiap dialog kayak ada jeda gitu, ya? Apakah itu disengaja buat di-insert sound effect? Tapi nggak ada sound effect-nya juga. Confused saya jadinya…

Begitulajh kira-kira review saya…
Jujur saya udah lama banget nggak nonton sinetron Indonesia, karena saya sudah hilang harapan dengan sinetron Indonesia sejak lama. Tapi nonton serial yang ditayangkan di Viu ini, saya jadi tertarik untuk download Viu. Karena ternyata serial-serial Indonesia (sinetron) yang digarap untuk ditayangkan di OTT (Over-The-Top media service alias layanan tayangan streaming) ini bagus-bagus dan punya masa depan cerah. Serial-serial ini digarap dengan gaya film. Dan alur cerita juga tidak akan dipanjang-panjangin ala Tersanjung karena menghamba rating. Ini jadi angin segar untuk saya ‘percaya’ lagi dengan serial Indonesia.

Oiya, di konferensi pers ini juga dijelaskan bahwa perusahaan pembuat gitar Indonesia, Delta Guitar, akan mendonasikan sejumlah gitar special edition Write Me A Love Song ke beberapa sekolah di Indonesia agar dapat memfasilitasi talenta-talenta muda sejak di bangku sekolah.

Delta Guitar

Rate: 3,5 out of 5
Serial ini bisa kamu tonton di aplikasi streaming Viu mulai 25 November 2021.

Ini trailernya…

Review: The Swarm (2020)

Penyuka film thriller monster/hewan, pasti suka dengan film The Swarm ini.

Alkisah hiduplah seorang single mom bernama Virgine Hebrard (Suliane Brahim). Ia hidup di perdesaan Perancis dengan dua orang anaknya yang beranjak remaja. Virgine punya peternakan belalang yang menjadi sumber penghasilan utama keluarganya. Belalang ini bisa diolah jadi tepung berprotein tinggi dan juga pakan bebek.
Namun kini usaha Virgine mengalami penurunan. Ia nggak bisa mengejar permintaan pasar karena belalangnya tidak berkembang biak sebanyak yang seharusnya. Di tengah kefrustrasiannya Virgine tanpa sengaja menemukan cara membuat belalangnya bereproduksi lebih banyak dan lebih cepat. Yaitu dengan memberi pakan darah. Dari situlah jiwa haus darah Virgine mulai muncul…

Yang saya suka dari film ini:
+ Membangun konfliknya bagus. Kita jadi paham dengan permasalahan masing-masing tokoh
+ Pemandangan pedesaan Perancis itu bagus ya. Tapi saya memang selalu suka alam pedesaaan Eropa, sih. Jadi kayaknya poin ini terlalu subyektif hahaha
+ Saya selalu suka dengan perfilman Perancis yang nggak mengedepankan perempuan cantik dan seksi untuk jadi tokoh utama yang disukai atau menghalangi si tokoh utama mendapatkan cinta. Sejauh ini penggambaran tokoh perempuan di sinema Perancis selalu beragam dan nggak mematok standar kecantikan tertentu. Hal ini membuat kisah dan penggambarannya jadi terasa nyata.
+ Scoringnya oke lah…
+Banyak pengambilan gambar belalangnya yang bagus banget. Sampai bikin saya mikir, ini belalang beneran nggak ya?

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Kurang serem sih sejujurnya. Mungkin karena saya penyuka horor hantu kali ya. Jadi thriller-thriller semacam ini terasa datar aja aja di ane.
-Ini tuh tipe-tipe film hening minim dialog khas festival sih. Jadi mungkin akan terasa bosan dan lamban.
-Endingnya gitu doang -_-

Film ini saya tonton di Netflix.
Rate: 3 out of 5

Ini trailernya…

#film #reviewfilm #reviewTheSwarm #reviewnetflix #reviewKrili #thriller #TheSwarm #filmPerancis #Krilianeh

Review: Flowers (Season 1-2016)

Beberapa episode dari serial Flowers ini sukses bikin saya sesak karena sedih.

Alkisah hiduplah keluarga Flowers. Sang ayah Maurice Flowers (Julian Barratt) adalah seorang penulis buku anak-anak. Diam-diam dia depresi dan ingin bunuh diri. Maurice punya ilustrator sekaligus asisten orang Jepang yang kelewat ceria. Namanya Shun (Will Sharpe).
Istri Maurice, Deborah (Olivia Colman) diam-diam tidak bahagia dengan pernikahannya dan butuh pengakuan bahwa keluarganya sempurna. Maurice dan Deborah punya sepasang anak kembar yang sudah dewasa: Donald (Daniel Rigby) yang terobsesi dengan mesin dan merasa dirinya adalah seorang penemu ulung dan Amy (Sophia Di Martino) seorang musisi yang diam-diam adalah seorang lesbian.

Pada suatu hari Maurice bangun dari tidurnya dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya hari itu juga. Ia pasang tali di sebuah batang pohon, lalu menggantung dirinya. Siapa sangka batang pohonnya patah. Bunuh diri Maurice gagal. Maurice mengira kalau ia berhasil menyembunyikan depresi dan usaha bunuh dirinya dari keluarganya. Sayangnya ibu Maurice yang lansia melihat itu semua. Dengan kepikunannya, ibu Maurice mencoba mereka ulang tindakan bunuh diri Maurice yang berujung ke cedera serius. Saat ibu Maurice dirawat di rumah sakit, hal-hal yang selama ini keluarga Flowers saling sembunyikan mulai terungkap.

Yang saya suka dari serial ini:
+ Serial ini adalah dark komedi yang cerdas!
+ Standing ovation buat Will Sharpe yang bukan hanya jadi aktor di serial ini. Tapi juga penulis naskah sekaligus sutradara. Ketiganya dia jalani dengan sangat baik. Aktingnya sebagai orang Jepang yang rela berbuat apapun untuk orang lain sangat sempurna! Penulisan naskah serial ini oke banget. Semua karakter mempunyai proporsi yang pas. Penyutradraannya juga bagus.
Mulai sekarang semua karya dengan nama Will Sharpe akan masuk di watchlist saya.
+ Belum lama ini saya menulis blog tentang kondisi kesehatan mental saya. Serial ini menjelaskan kondisi mental health buruk masing-masing karakter dengan cara yang lucu dan mudah dicerna. Seperti tentang kesulitan berkomunikasi dengan orang terdekat sampai frustrasi, tentang penyangkalan akan masalah diri sendiri, tentang usaha mencari perhatian, tentang duka ditinggalkan orang yang kita cintai, tentang usaha menghapus kesedihan dengan berpura-pura bahagia.
Ada beberapa adegan yang sedihnya begitu menusuk kalbu saya. Tapi saya yakin orang-orang yang tanpa kondisi kesehatan mental bermasalah pun dapat merasakan kesedihan yang ditunjukkan di serial ini.
Saya sangat menyarankan orang-orang untuk nonton serial ini untuk memahami orang depresi dan kesehatan mental.
+ Aktingnya Olivia Colman udah pasti okelah ya. Olivia selalu bisa akting mengubah emosi secara cepat.
+ Aktingnya Daniel Rigby juga berhasil banget bikin kita kesel.
+ Set dan lokasinya oke. Rumah mungil mereka yang sesak membuat saya berpikir bahwa rumah Keluarga Weasley di Harry Potter itu mungkin memang beneran ada di kehidupan nyata. Meski begitu, saya pengen banget punya rumah kaya gitu. Apalagi pondok mungil tempat Maurice menulis. Kayaknya enak banget kalau punya tempat kerja khusus kayak gitu. Tapi ya, saya emang selalu suka dengan rumah-rumah mungil di pedalaman Inggris sih.

Yang saya kurang suka dari serial ini:
-Rambutnya Deborah keliatan banget wig dan agak ganggu.
-Saya baru tahu Sophia Di Martino di serial ini. Rupanya dia salah satu aktris yang diperhitungkan karena udah masuk di geng superhero Marvel. Tapi menurut saya, aktingnya di serial ini biasa aja sih. Malah kayaknya dia banyak terbantu oleh make up untuk membangun karakternya.

Genre: Drama, komedi
Rate: 4,5 out of 5
Saya nonton serial ini di Netflix.

Ini trailernya….

Review Beauty: Logi Treatment

Sesekali review produk kecantikan (beauty) boleh ya. Ini adalah review khusus untuk yang berambut keriting.

Dan karena malas nulis, saya posting aja video-video reviewnya. Cekidot….

Transkrip:
Oke, jadi buat sobat-sobat keritingku, gw mau promo sebuah product yang bagus banget. Karena product ini bagus, maka gw mau sebarin ke teman-teman yang berambut keriting. Semoga ini membantu.

Transkrip:
Ini dia product-nya. Namanya Logi Treatment Deep Conditioning Hair Oil. Ini bisa buat macam-macam. Ntar gw fotoin ya bisa buat apa aja.
Ini tampak depan botolnya Logi Treatment
Ini tampak belakangnya
Transkrip:
Gw pake Logi ini udah kayak sebulanan gitu. Terus, gw shampo tiap dua hari sekali. Dan tiap abis shampoan, gw pake ini buat jadi… apa sih tuh namanya? Leave on!

Transkrip:
…leave on. Nah tiap abis pake ini tuh, gw ngerasa, SATU rambut gw nggak ngembang. Dan keritingnya lebih awet. Ini tuh tadi gw udah tidur siang, yah maklum…

Transkrip:
…maklum ya pengangguran. Ya gw tidur siang tuh keritingnya nggak rusak. Tetap begitu aja tuh…. Tuh…. Karena ini produknya canggih, jadi aku mau merekomendasikan buat teman-teman keriting. Semoga ini jadi penyelamat rambut singa kita

Transkrip:
Oiya lupa bilang. Jadi tadi itu review jujur ya. Gw nggak di-endorse. Apalah gw di-endorse, ya kan. Tapi gw emang mau menyebarkan si Logi ini karena memang bagus product-nya. Ditambah…

Transkrip:
…dia ini adalah product Indonesia. Jadi ini product Yogya. jadi kita harus saling membantu product Indonesia di masa pandemi dan PPKM ini. Semua orang kesulitan, yuk bantu dengan pakai product Indonesia.

Transkrip:
Terus yang gw juga suka dari si Logi ini, pas gw buka Instagramnya, itu tuh modelnya ini model-model orang Indonesia semua. Jadi nggak ada tuh modelnya yang pakai orang bule.

Transkrip:
Nah gw juga mau sekalian mau bilang makasih ya buat Logi udah menghadirkan product ini. Karena sebagai perempuan Indonesia berambut keriting, di Indonesia tuh susah banget nyari product buat rambut keriting. Yang ada kita selalu…

Transkrip:
….diarahkan untuk rambutnya dilurusin, gitu. Nggak ada tuh…shampo atau apalah perawatan rambut yang masuk di TV ya, yang memang buat rambut keriting.

Transkrip:
….tuh nggak ada. Jadi begitu Logi bikin ini tuh, gw seneng banget sih. Akhirnya ada yang mau memfasilitasi rambut keriting orang Indonesia, gitu.

Transkrip:
Makasih ya Logi. Sukses terus ya. Semoga review ini membantu. Dadaaah

Buat yang bertanya isi minyak Logi itu apa aja, ini ya ingredient-nya:
Avocado oil, Jojoba oil, Castor oil, Grapseed oil, Sweet Almond oil, Virgin Olive oil, Virgin Coconut Oil, Essential oils, Vitamin E oil, Lavender, Rosemary.
Di dalam botonya ini ada bunga lavender dan batangan rosemary beneran, lho. Jadi khasiatnya lavender dan rosemary awet ada di tiap tetes minyaknya.

Kalau mau beli Logi, silakan cek di link-link berikut ya:
Beli via Shopee
Beli via Instagram

Ingat ya, kalau punya rambut keriting tuh dirawat, bukan dilurusin. Keriting itu cantik, lho ^_^

Review: The Terror (2018)

The Terror itu nama sebuah kapal lho, ya. Tapi serial ini emang penuh dengan teror sih…

Serial ini berdasarkan kisah nyata tentang ekspedisi Kapten Franklin atau yang biasa disebut dengan Franklin’s Expedition.

Begini kisahnya…
Pada tahun 1845 Kapten Franklin (Ciaran Hinds) diutus melakukan ekspedisi laut untuk mencari jalur dagang baru lewat samudera Arktik. Jika ekspedisi ini berhasil, nama Kerajaan Inggris akan tersohor karena mencatat sejarah dunia karena telah menemukan jalur potong yang lebih cepat untuk perdagangan antara benua barat ke benua timur.
Maka berangkatlah Kapten Franklin bersama 129 orang petugas dan awak kapal. Ia memboyong dua buah kapal tercanggih pada masa itu, HMS Erebus dan HMS Terror. Seluruh kru kapal adalah orang-orang yang terlatih dan berkepala dingin. Persediaan makan mereka banyak dan aman untuk beberapa tahun ke depan. Terlebih, mereka bisa dikatakan orang-orang pertama yang menggunakan makanan kaleng yang merupakan penemuan mutakhir pada masa itu.
Tapi alam tidak bisa diprediksi. Kapal mereka tertahan di tengah laut yang membeku karena dinginnya iklim Arktik. Ini saatnya mereka harus putar otak mencari pertolongan rescue, sembari bertahan hidup menghadapi teror dari monster yang ingin memangsa mereka. Meskipun sejarah telah mencatat kalau mereka tidak akan pernah kembali lagi…

Yang saya suka dari serial ini:
+ Set dan lokasinya niat! Mereka melakukan riset agar set dan lokasinya menyerupai kapal asli Erebus dan Terror.

Dari green screen begini….
Jadi kayak kapal beneran gitu. Edan lah…

+ Aktingnya Tobias Menzies dan Jared Harris keren parah! Tobias Menzies sih yang saya suka banget. Aktingnya nggak pernah sama di serial manapun. Tapi selalu bagus! Fixed lah saya jatuh cinta sama Akang Tobi—-> panggilan saya untuk Tobias Menzies. Mulai sekarang, nama Tobias Menzies akan selalu masuk di watchlist saya.

Akang Tobi, aku padamu, kang! *kecup-kecup manja*

+ Serial ini tokohnya banyak. Tapi semua proporsinya pas.
+ Saya mendapat banyak pelajaran dari serial ini. Di antaranya adalah, tentang pentingnya anak buah mematuhi perintah atasan di militer, tentang pentingnya berkepala dingin bahkan saat terdesak sekalipun, tentang upaya bertahan hidup, tentang pentingnya percaya sama sains ketimbang hal-hal mistis, banyak lah pelajarannya….
+ Serial ini nggak perlu menggembar-gemborkan heroisme ala Hollywood. Tapi di serial ini kita bisa melihat sendiri bahwa pahlawan sejati itu bekerja dalam diam dan tidak membutuhkan penghargaan.
+ Posternya bagus! Sangat menggambarkan teror yang mencekam.

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Serial ini banyak banget mengambil fakta-fakta dari sejarah. Tapi jadi kecewa begitu perkara monster jadi mengambil peran yang cukup besar di serial ini. Padahal tanpa monster itu pun udah terasa mencekamnya. Karena sesungguhnya yang paling jahat dan kejam itu adalah manusia, bukan makhluk lain.
– Endingnya tuh kayak mau menyenangkan hati penonton. Padahal menurut sejarah endingnya tragis. Harusnya sih endingnya jadi apa adanya aja, menurut saya.

Saya nonton serial ini di Prime Video.
Rate: 4 out of 5

Ini trailernya…


Review: Nocturne (2020)

Film Nocturne menjelaskan dengan gamblang kalau terlalu sama itu justru hanya menimbulkan iri dan dengki.

Alkisah hiduplah saudari kembar Juliet (Sydney Sweeney) dan Vivian (Madison Iseman). Keduanya punya bakat musik piano. Mereka sama-sama sekolah di SMK khusus seni. Namun sayangnya jalan hidup mereka mulai berbeda. Vivian yang periang dan sudah punya pacar diterima kuliah di universitas musik ternama Julliard. Sedangkan Juliet ditolak. Tidak peduli seberapa lama Juliet mengurung dirinya untuk berlatih, ia tidak pernah bisa menyamai keterampilan Vivian dalam bermain piano.

Sampailah pada suatu hari Juliet menemukan buku catatan musik milik murid yang beberapa waktu lalu bunuh diri di sekolah tersebut. Makin Juliet mendalami buku catatan itu, secara perlahan tapi pasti hidupnya mulai berubah menjadi Vivian yang selama ini ia irikan. Ternyata buku itu adalah gerbang untuk melakukan perjanjian dengan setan.

Yang saya suka dengan film ini:
+ Akting dan raut muka Sydney Sweeney memang cocok untuk jadi anak iri dan frustasi.
+ Konflik batin dan siblings rivalry yang ditampilkan di film ini relatable banget.
+ Alur ceritanya bagus. Bagian seremnya sedikit, tapi sekalinya muncul terasa serem banget.
+ Film ini nggak perlu nunjukin sosok menyeramkan untuk bisa membuat kita merinding. Setelah nonton film ini, kayaknya saya akan agak-agak takut lihat cahaya oranye selain dari matahari.
+ Tokoh Dr. Cask yang diperankan Ivan Shaw ganteng euy!
+ Posternya bagus!
+ Berhubung ini film tentang anak sekolah musik, jadi banyak lagu klasik enak buat didengar.

Yang saya suka dari film ini:
– Muka Sydney Sweeney dan Madison Iseman nggak mirip woi buat jadi anak kembar.

Rate: 4 out of 5
Film ini saya tonton di Prime Video.

Ini trailernya…

Review: I Care A Lot (2020)

Film I Care A Lot ini ngeselin tapi bagus.

Marla Grayson (Rosamund Pike) adalah pengacara yang jahat. Dia mengincar para lansia berduit, lalu ia buat para lansia itu terlihat lemah di mata negara, sehingga mereka harus dimasukkan dalam panti jompo. Setelah itu Marla mengambil kuasa penuh atas aset sang lansia. Tidak peduli bahwa lansia itu punya sanak famili yang lebih berhak untuk mengelola asetnya, Marla berhasil membuat jaringan sindikat antar pengacara-dokter-panti jompo agar ia dapat menguasai harta si lansia secara legal.

Pada suatu hari Marla mendapat telepon dari dokter gacoannya. Sang dokter memberi Marla seorang pasien baru untuk ‘digarap’. Nama pasiennya adalah Jennifer Peterson (Dianne Wiest) seorang nenek-nenek perawan tua. Jennifer baru saja mendapat tunjangan besar karena mengambil pensiun dini. Kini sang dokter mengatakan kalau Jennifer mulai pelupa. Marla pun langsung beraksi cepat. Ia bawa bukti-bukti medis yang sudah dimodifikasi oleh sang dokter ke pengadilan, lalu ia pun sah menjadi ahli kuasa sekaligus pewaris untuk Jennifer. Ia datang ke rumah Jennifer dan langsung menyeretnya ke panti jompo rekanannya. Selesai.

Namun ternyata Jennifer bukanlah nenek-nenek sembarangan. Di luar sana ada sindikat mafia yang mencari keberadaan Jennifer sampai rela membunuh antek-antek Marla. Siapa sebenarnya nenek-nenek bernama Jennifer ini?

Yang saya suka dari film ini:
+ Ceritanya bagus dan menarik! Dari awal aja kita udah disuguhi oleh sosok orang jahat dan tamak bernama Marla. Kita digiring untuk membenci Marla tapi juga nggak berpihak sama si mafia. Endingnya pun ngeselin tapi cukup memuaskan lah.
+ Aktingnya Rosamund Pike berhasil membuat saya sebal dan muak dengan sosok Marla.
+ Baju dan gayanya Marla ciamik banget!!!!!

Saya nemu coat kuning mirip yang dipakai Marla di sini

+ Suka banget dengan unsur feminisme yang kental di film ini. Meski sosok Marla menyebalkan, tapi dia adalah perempuan kuat yang nggak takut apapun.
+ Apresiasi khusus untuk aktingnya Nicholas Logan sebagai anak buah mafia yang kebingungan. Mukanya ekspresif banget. Semua rasa takut dan cemas terbaca dari raut wajahnya doang.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Meski aktingnya Rosamund Pike bagus, tapi saya nggak menemukan perbedaan aktingnya dengan film Gone Girl. Datar-datar mukanya sama. Ego tingginya sama.
– Aktingnya Peter Dinklage yang seharusnya jadi sosok yang menyeramkan dan dihormati tapi di film ini tokohnya malah kayak komedi. Kayak, ‘ini lo maksudnya serius atau becanda sih?’.

Rate: 4,5 out of 5
Film ini saya tonton di Netflix

Ini trailernya…

Review: Whiskey Tango Foxtrot (2016)

Film komedi perang ini sesuai judulnya Whiskey Tango Foxtrot alias WTF!!! Sembah sujud pada Tina Fey!

Film ini mengisahkan tentang seorang jurnalis perang dadakan Kim Baker (Tina Fey). Sebenarnya dia hanya seorang penulis naskah di sebuah stasiun televisi. Namun bosnya berkata kini stasiun televisi mereka kekurangan jurnalis buat ngepos di Afganistan, gara-gara semua jurnalis perang yang mereka punya dikirim ke Iraq. Maka Kim dikumpulkan bersama seluruh pegawai yang belum menikah dan tidak punya anak untuk diberi kesempatan mengajukan diri liputan ke Afganistan (WTF!).
Maka berangkatlah Kim ke Afganistan.
Di sana Kim tentunya mengalami culture shock, namun ia bisa bertahan berkat persahabatannya dengan para jurnalis perang lainnya. Tapi namanya jurnalis di daerah konflik, tentunya tidak semua berjalan dengan mulus.

Yang saya suka dari film ini:
+ Film ini penuh dengan dry comedy/deadpan yang bikin kita bengong mikir mau ketawa atau ga dengan ke-absurd-annya. Banyak banget adegan yang emang WTF banget!
+ Tina Fey junjunganku sangat pas memerankan sosok jurnalis Kim baker yang masih meraba-raba lapangan tapi nggak takut.
FYI tokoh Kim Baker ini benaran ada. Namanya Kim Barker, penulis buku The Taliban Shuffle: Strange Days in Afghanistan and Pakistan. Bukunya bisa dibeli di sini.
+ Margot Robbie di film ini jadi kelihatan cuantik banget. Padahal kalau di film-film lain saya ngeliat dia kayak cewek tampang tua.
+ Lumayan banyak dapat insight dan gambaran susah senangnya jadi jurnalis perang.
+ Film ini cukup bertabur bintang. Antara lain, Billy Bob Thornton, Alfred Molina, dan Martin Freeman.
+ Oiya, Martin Freeman di film ini jadi cowok yang charming banget. Sangat berbeda dengan Martin Freeman di film The Hobbit.
+ Set dan lokasinya bagus! Kayak di Afganistan beneran.

Yang saya kurang suka dari film ini:

– Banyak aktor barat yang jadi tokoh timur (Afganistan). Meski aktingnya bagus, tapi fakta mereka tidak menggunakan aktor berdarah Arab-Afganistan, ini membuktikan kalau film ini tidak disyuting di Afganistan langsung. Film ini disyuting di Santa Fe, Amerika Serikat.

Rate: 3,5 out of 5
Film ini saya tonton di Prime Video.

Ini trailernya…


Review: The Unicorn-Season 2 (2021)

Rasanya The Unicorn ini seperti serial Friends dengan tokoh yang lebih tua.

Category: Series
Genre: Comedy

Ada yang tahu serial The Unicorn sebelumnya? Kalau kalian belum tahu, sama saya juga belum pernah dengar serial ini sebelumnya. Tapi setelah tahu, ternyata serial ini berpotensi jadi serial favorit saya.

Serial yang pertama kali diproduksi pada tahun 2019 ini menceritakan tentang Wade (Walton Goggins) seorang duda ditinggal mati dengan dua orang anak. Setahun sepeninggal istrinya, Wade masih belum bisa move on tapi denial. Para sahabatnya prihatin dengan kondisi Wade. Mereka pun memaksa Wade untuk segera move on. Caranya adalah Wade HARUS segera pacaran lagi dengan wanita lain. Maka petualangan Wade dalam mencari dan berusaha mencintai pun dimulai. Tak lupa dengan campur tangan para sahabatnya yang juga mempunyai permasalahan masing-masing sehingga usaha Wade tidak mulus dengan kekonyolan mereka. Para sahabatnya antara lain: Forest (Rob Coddry) seorang pekerja kantoran yang pemikirannya suka absurd, Delia (Michaela Watkins) istri Forest yang juga seorang dokter anak dan hobi ngatur, Ben (Omar Benson Miller) yang easy going, dan istrinya Ben-Michelle (Maya Lynn Robinson) ibu empat orang anak yang dominan.

Wade yang dipaksa teman-temannya bikin akun online dating.
(Foto: Rogerebert.com)

Di season kedua The Unicorn, yang segera tayang di Fox Life pada 25 Januari 2021 ini, diceritakan Wade yang telah menemukan perempuan yang berhasil menambat hatinya. Namun sayangnya kisah cinta Wade dengan perempuan itu tidak semulus yang ia bayangkan. Karena sang tambatan hati adalah seorang janda anak satu yang mantan suaminya masih tinggal satu atap dengannya. Bagaimana Wade, anak-anak Wade, dan para sahabat Wade bisa menerima kehadiran sosok baru dalam hidup mereka ini?

Wade akhirnya ketemu perempuan yang berhasil bikin dia klepek-klepek
(Foto: Monkeyviral.com)

Yang saya suka dari serial ini:
+ Meski serial ini menjadikan Wade sebagai tokoh utama, namun serial ini mengangkat tema persahabatan dengan dominan. Serial ini mengingatkan saya dengan serial Friends yang menceritakan persahabatan sekelompok orang yang heterogen dengan permasalahan hidup masing-masing. Bedanya di The Unicorn para tokohnya lebih tua aja dari serial Friends. Permasalahan mereka bukan lagi di level mencari pasangan hidup. Melainkan menyeimbangkan kehidupan pekerjaan, keluarga, dan anak.
+ Permasalahan yang diangkat sangat dekat dengan kita (saya), yaitu tentang keluarga. Tentang kesibukan seorang ibu rumah tangga dalam mengurus rumah dan anak, tentang fase pertumbuhan anak dari balita sampai remaja, tentang adaptasi dengan perubahan yang ada di keluarga, sampai tentang komunikasi antar keluarga.
+ Sebagai seorang ibu yang bekerja, saya sangat ingin punya kelompok teman seperti para sahabatnya Wade ini. Apalagi makin umur kita bertambah, makin sedikit pula teman kita bukan?
+ Baju anak-anak di serial ini bagus-bagus banget. Belinya di mana tuh, bund?
+ Scoringnya bagus. Menghidupkan suasana komedi dan feel good-nya
+ Anaknya Wade, si Natalie (Makenzie Moss) cantik banget ya!
+ Itu giginya Walton Goggins kok bisa putih, rapi, bagus banget gitu ya? Dipakein whitestrips kali ya?

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Terlepas dari akting dan giginya Walton yang bagus, tapi di serial ini kita seperti dipaksa percaya bahwa dia ini ganteng banget makanya jadi idaman seluruh wanita.
Padahal pada kenyataannya, mo’on maaf banget nih ya, babang Walton nggak ganteng woi. Badannya bagus, sih. Langsing atletis gitu. Apalagi dia banyak pakai skinny jeans di serial ini. Tapi nggak ganteng. Rambutnya aneh. Padahal bisa lho rambutnya dipanjangin dikit terus ditata dengan gaya yang lebih masa kini gitu.
– Tokoh Ben dan Michelle ini sangat berdasarkan steriotipe keluarga kulit hitam. Padahal bukannya Amrik lagi gencar banget mengkampanyekan untuk mengurangi steriotipe? Correct me if I’m wrong ya di hal ini.

Rate: 4 out of 5
Season 2 serial ini bisa ditonton di Fox Life mulai 25 Januari 2021.

Ini trailernya…