Diposkan pada review

Review: Dunkirk

Category: Movies

Genre: Drama, Action

Rate: 4,5 out of 5

Pecinta karya Christopher Nolan pasti senang dengan hadirnya film ini.

Film berdasarkan kisah nyata ini mengisahkan perjuangan para tentara Inggris pada tahun 1940. Sebanyak 400 ribu tentara Inggris terjebak di pantai Dunkirk, Perancis. Inggris enggan menyerah pada Jerman. Mereka memutuskan untuk mundur dan pulang ke Inggris, namun musuh mengepung mereka dari darat, laut , dan udara. Ironisnya Dunkirk adalah pantai di ujung utara Perancis itu yang letaknya paling dekat dengan Inggris. Seperti yang beberapa kali disebut tentara Inggris di film ini, “Kita bisa melihat rumah kita dari sini”. Namun mereka tidak bisa pulang.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Christopher Nolan berhasil membuat penonton tegang dari awal sampai lima menit sebelum film berakhir. Penonton dibuat merasakan ketakutan, keputusasaan, kekecewaan, bahkan kedinginan yang dirasakan oleh para prajurit yang terjebak di Dunkirk. Eh kalau soal kedinginan apa karena saya nggak bawa jaket, ya?

-Nolan memperkenalkan banyak aktor muda baru yang aktingnya prima semua. Sebut saja Fionn Whitehead, Aneurin Barnard, Barry Keoghan, Tom Glynn-Carney, Jack Lowden, dan masih banyak lainnya.

-Ada Harry Styles juga! Iya, Harry Styles personil boyband One Direction itu. Dan tanpa disangka-sangka, aktingnya BAGUS BANGET! Untuk ukuran orang yang baru terjun ke dunia seni peran, aktingnya oke banget. Harusnya kita udah tahu sih kalau aktingnya emang ciamik, karena Christopher Nolan kan nggak sembarangan milih aktor. Apalagi di film ini dia tambah ganteng pula dengan rambut pendek nan rapinya.

-Aktor berpengalaman juga banyak ikut dalam ini. Mereka semua juga sangat apik memerankan karakter mereka. Sebut aja, Tom Hardy, Kenneth Branagh, Cillian Murphy, dan Mark Rylance. Seneng deh nontonnya!

-Scoringnya keren banget! Scoringnya sangat berperan dalam membuat ketegangan nggak putus-putus.

-Adegan mengharukannya bikin hati menclos.

-Film ini berhasil bikin saya sangat salut dengan profesi militer. Jadi militer itu nggak gampang, sodara-sodara. Emang taruhannya nyawa, fisik harus kuat, harus punya banyak skill, taktis, dan nggak boleh cengeng. I salute you, TNI! —–> filmnya bukan tentang TNI, sih. Tapi boleh dong salut ama militer negera sendiri.

-Set dan lokasinya keren abis!

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Nolan ingin menceritakan film ini dari tiga sudut pandang, yaitu udara, laut, dan darat. Sayangnya kalau kita nggak perhatikan dengan baik-baik, kita akan cenderung bingung di tengah-tengah film. Soalnya maju-mundur plotnya menurut saya kurang rapi.

-Beberapa figurannya kayak kurang berpengalaman.

-Ada beberapa penonton yang kurang suka dengan adegan akhirnya. Saya sih suka-suka aja. Menurut saya itu adalah cara Nolan agar kita berdiskusi seusai menonton filmnya. Memang Nolan selalu bikin film yang membuat kita berdiskusi, bukan?

 

Iklan
Diposkan pada review

Review: Okja

Category: Movies

Genre: Drama, Action

Rate: 5 out of 5

Film ini dibuka oleh Lucy Mirando (Tilda Swinton) mengumumkan ke media bahwa perusahaannya telah menciptakan seekor binatang dari hasil rekayasa genetik. Binatang yang ia beri nama Super Pig ini diciptakan untuk menutupi kekurangan pangan dunia. Ia pun menjelaskan bahwa saat ini sudah ada beberapa Super Pig yang disebar ke beberapa penjuru dunia untuk dibesarkan oleh peternak lokal. Dalam 10 tahun kemudian akan dipilih Super Pig terbaik yang kemudian akan dikembangbiakkan secara masal.

Sepuluh tahun pun berlalu. Seekor Super Pig yang dibesarkan oleh seorang peternak di pegunungan Korea mendapat kehormatan untuk memenangkan kompetisi Super Pig terbaik. Super Pig yang bernama Okja itu pun akan dibawa ke New York untuk diumumkan ke dunia. Sayangnya Mija (Seo-Hyun Ahn), cucu sang peternak yang telah tumbuh bersama Okja tidak terima begitu saja. Baginya Okja bukan sekadar hewan ternak, Okja adalah temannya. Ia pun nekat melawan korporasi Mirando untuk membawa pulang Okja.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Ceritanya baguuuuuus! Salut dengan ide orisinil Joon-ho Bong sebagai penulis naskah.

-Joon-ho Bong juga menyutradarai film ini dnegan ciamik. Ini film kedua dia yang saya tonton (yang pertama itu Snowpiercer ). Keduanya membuat saya terkesan. Saya selalu suka bagaimana Joon-Ho Bong membuat film yang isu/konfliknya universal. Kedua filmnya membuat kita sadar bahwa dunia ini memang multiras.

-Sangat terkesan dengan akting keseluruhan aktornya. Sebut saja Tilda Swinton yang selalu total. Paul Dano, my love, yang juga sangat keren dalam wajah sendunya. Dan kita akan terkaget-kaget bagaimana Jake Gyllenhaal seganteng itu bisa berubah jadi dokter senorak itu. Akting Seo-Hyun Ahn juga harus dapat perhatian khusus.

-Ada beberapa adegan yang bikin emosi kita campur aduk. Saya hampir nangis di adegan Okja pagar listrik. Tapi ditahan-tahan nangisnya. Malu dong udah gede, masa nangis (halah, apa sih)

-Set dan lokasinya oke.

-Efek CGInya haluuuus banget.

-Banyak pesan moral yang bikin kita lumayan mikir setelah nonton film ini.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Nggak ada, sih. Sejauh ini nggak ada yang saya nggak sukai dari film ini.

 

Ini trailernya…

 

Diposkan pada review

Review: Jailangkung (2017)

Category: Movies

Genre: Horror

Rate: 2,5 out of 5

Film ini mengisahkan kakak-beradik Angel (Hannah Al Rashid) dan Bella (Amanda Rawles) yang dikejutkan dengan kondisi ayah mereka, Ferdy (Lukman Sardi). Ferdy ditemukan tak sadar di sebuah vila privatnya. Kini ia terbaring koma di rumah sakit. Dari pilot pribadi ayahnya, Angel dan Bella baru mengetahui bahwa ayah mereka suka pergi ke vila privatnya sebulan sekali untuk menyendiri. Tidak ada yang tahu apa yang ia perbuat di sana.

Angel dan Bella kebingungan. Kata dokter secara fisik kondisi ayah mereka tidak sakit atau mengalami gangguan apapun. Bisa dikatakan kalau ia jatuh koma begitu saja. Untuk mencari tahu lebih jauh, Bella pun memutuskan untuk pergi ke vila privat ayahnya yang terletak di sebuah pulau terpencil. Bella minta Rama (Jefri Nichol) untuk menemaninya, karena Rama banyak mengerti mengerti soal ritual Jawa kuno yang dapat membuat orang tidak sadarkan diri. Sebagai kakak, Angel tidak bisa mengizinkan adiknya pergi begitu saja. Maka Angel pun memutuskan untuk ikut bersama adik terkecil mereka. Begitu mereka sampai di sana, betapa kagetnya mereka begitu mengetahui bahwa ayah mereka rajin bermain jailangkung…

 

Yang saya suka dari film ini:

-Dari semuanya, aktingnya Jefri Nichol lah yang oke.

-Banyak angle pengambilan gambar yang bagus. Mata Rizal Mantovani masih bisa dipercayalah.

-Rambutnya Amanda Rawles keren bangeeeeeeeeeeeeeet! Samponya apa, sih?

-Beberapa set dan lokasinya juga bagus.

-Hantunya serem! Nice!

-Efek darahnya juga oke.

 

Yang saya tidak suka dari film ini:

-Endingnya aneh. Ada yang nggak pas. Masa tiba-tiba begitu? Padahal tadi kan dia di sana, kok tahu-tahu udah ada di sini?

-Banyak adegan yang harus dipertanyakan.

-Ada satu adegan juga yang missed. Masa pas Skype-an layar laptopnya begitu?

-Sejujurnya tidak ada yang istimewa dari film ini. Dengan alasan itulah saya jadi menyayangkan keputusan Lukman Sardi untuk ikutan main film ini. Menurut saya film ini membuat dirinya down grade.

Diposkan pada review

Review: Calon Arang

Category: Books

Author: Pramoedya Ananta Toer

Rate: 2,5 out of 5

(Foto: Izin nyomot dari sini )

Buku dongeng ini menceritakan tentang seorang penyihir (teluh) bernama Calon Arang. Ia adalah penyihir yang sakti dan punya murid-murid yang sakti pula. Calon Arang juga punya seorang anak perempuan bernama Ratna Manggali yang cantik rupawan. Namun mengingat kesaktian ibunya dalam meneluh orang, maka tak ada lelaki yang berani memperistrikan Ratna Manggali. Hal ini membuat Calon Arang murka. Maka untuk melampiaskan kemarahannya, ia meneluh seluruh penduduk negeri. Teluhnya amat sakti, banyak manusia tak berdosa yang mati bergelimpangan karenanya. Teluh Calon Arang semakin lama semakin menyebar. Sampai pulalah kabar mengenai hal ini ke telinga baginda raja Erlangga. Ia pun mengirim pasukannya untuk menangkap Calon Arang. Sialnya, pasukan baginda raja langsung tewas di tempat karena tak mampu menghadapi kesaktian Calon Arang. Sampai akhirnya diketahui bahwa hanya ada satu empu yang mampu mengalahkan kesaktian Calon Arang, yakni Empu Baradah.

Jadi bagus nggak bukunya, Krili? Sejujurnya menurut saya jawabannya adalah tidak.

Soalnya begini….

Buku ini adalah buku dongeng yang konon ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer untuk mengisi kekosongan buku cerita anak-anak. Sayangnya banyak bagian kisah buku ini yang sama sekali nggak cocok untuk anak-anak. Salah satunya tentang bagaimana kejamnya murid-murid Calon Arang membunuh orang untuk diambil darahnya lalu dipakai untuk keramas (freak!).

Ada juga satu tokoh yang sama sekali menurut saya nggak penting dan tidak berpengaruh apapun dalam cerita ini. Yaitu, tokoh Wedawati anak perempuan Empu Baradah yang baik hati. Sumpah, fungsi dia di cerita ini nggak ada.

Plot penulisannya juga nggak rapi dan banyak hal yang dipanjang-panjangin.

Karena saya pernah baca beberapa buku karangan Pramoedya lainnya, maka saya berani bilang kalau ini adalah buku terjelek karangan beliau yang pernah saya baca. Mari kita baca buku karangan Pramoedya yang lain saja.

Diposkan pada review

Review: Clockwork Orange

Category: Movies

Genre: Drama, Crime

Rate: 3,5 out of 5

Film ini menceritakan tentang Alex (Malcom McDowell) seorang remaja psikopat. Ia dengan gengnya suka berbuat keonaran dan kekerasan yang mereka sebut sebagai ultra violence. Sampailah pada suatu hari Alex kena batunya. Ia dikhianati oleh gengnya, lalu ditangkap polisi. Selama masa penjara dia terpilih untuk menjalani sebuah program percobaan untuk menghilangkan sifat kekerasan dari seseorang. Program itu berhasil pada Alex. Kini Alex yang baru akan langsung merasa mual-mual tiap ia hendak melakukan kekerasan. Karena dianggap tidak berbahaya lagi, Alex kemudian dibebaskan dari penjara. Sayangnya saat ia mencoba menjalani kehidupan yang normal sebagai orang yang baik-baik, kehidupan malah berbalik jahat pada dirinya.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Ceritanya tidak biasa.

-Set dan propertinya bagus.

-Aktingnya Malcom McDowell oke banget.

-Salut sama Stanley Kubrick yang selalu berhasil menggambarkan keseraman tanpa banyak dialog.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Adegan kekerasannya bener-bener ultra violence. Jangan menilai ultra violence ini sebagai adegan yang banyak darah muncrat di mana-mana, ya. Film ini sama sekali tidak seperti itu. Kekerasan di film ini sangat ‘evil’ nan jahat. Kekerasan-kekerasan di film ini dilakukan secara riang oleh orang yang tidak peduli khas seorang psikopat. Saya sampai trauma. Saya jadi nggak mau nonton film Stanley Kubrick yang lainnya. Saya jadi takut.

OLEH KARENA ITU SANGAT TIDAK DISARANKAN ANAK DI BAWAH UMUR UNTUK NONTON FILM INI. YANG DEWASA AJA TRAUMA. NTAR YANG KECIL PSIKOLOGISNYA MALAH TERGANGGU LAGI.

-Film ini ceritanya mau menunjukkan Inggris di masa depan. Makanya set dan propertinya dibuat ala-ala futuristik gitu. Tapi kan film ini dibuat pada tahun 1971. Jadi gambaran masa depan mereka pun tetap terkesan retro. Paling cuma cara berpakaian gengnya Alex aja yang berhasil mempengaruhi fashionnya anak punk sedunia sampai sekarang.

-Banyak tokoh yang agak-agak nggak penting terus ngomongnya lebay.

-Beberapa dialog terkesan kaku.

-Alurnya kurang mengalir.

 

Ini trailernya…

Diposkan pada review

Review: Manchester By The Sea

Category: Movies

Genre: Drama

Rate: 3,5 out of 5

Film ini mengisahkan tentang Lee (Casey Affleck) yang hidup sendiri. Ia bekerja sebagai janitor untuk beberapa apartemen. Ia sering mendapat komplen dari bosnya karena ia tidak pernah senyum dan tidak ramah sama pelanggan, tidak peduli walau kerjaannya selalu beres.

Pada suatu hari Lee mendapat telepon yang mengabarkan kalau abangnya meninggal dunia. Maka ia pun harus pulang untuk mengurus pemakamannya. Siapa sangka kepergian abangnya membuat ia harus jadi wali dari keponakannya yang sudah beranjak remaja. Hal ini membuat Lee kembali mengenang pengalaman parit yang mengubahnya menjadi pria depresi dan hidup menyendiri.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Akting Casey Affleck oke.

-Jalan ceritanya realistis.

-Banyak adegan hening tanpa dialog namun dapat menggambarkan perasaan masing-masing tokoh.

-Penyebab kesedihan Lee cukup tak disangka.

-Banyak gambar pemandangan yang bagus.

 

Yang saya tidak suka dari film ini:

-Aktingnya Casey Affleck memang oke, sih. Tapi kayaknya nggak segitunya untuk dapat memang Oscar sebagai Best Actor.

-Porsi aktingnya Michelle Williams dikit doang. Nama doi dipajang di poster untuk kepentingan marketing tampaknya.

-Endingnya gitu doang??? Yaelaah, dasar film festival.

 

Ini trailernya…

Diposkan pada review

Review: The Invitation

Category: Movies

Genre: Thriller

Rate: 4 out 5

Film ini mengisahkan tentang Will (Logan Marshall-Green) yang diundang untuk reuni makan malam di rumah mantan istrinya. Will dan mantan istrinya, Eden (Tammy Blanchard), berpisah sejak anak mereka meninggal. Mereka satu sama lain depresi karena berduka, lalu Eden memutuskan untuk berpisah dengan Will sejak bertemu David (Michiel Huisman) di sebuah perkumpulan konseling. Eden dan David kemudian menghilang selama dua tahun ke Meksiko. Begitu mereka kembali, Eden dan David mengundang teman-teman lamanya untuk reuni di rumah lama mereka. Will menyambut undagan itu dengan datang bersama pacar barunya Kira (Emayatzy COrinealdi).

Memasuki rumah lama yang pernah Will huni bersama Eden dan mendiang anak mereka membuat emosi Will lumayan campur aduk. Namun lama-kelamaan Will merasa ada sesuatu yang aneh dengan reuni tersebut. Terutama dengan Eden dan David. Will tak habis pikir bagaimana mereka sepulang dari Meksiko bisa begitu bahagia, lapang dada, dan tak tersisa kesedihan pun dalam diri Eden dan David. Will juga semakin curiga saat David memutarkan video kegiatan perkumpulan mereka di Meksiko dengan mengunci seluruh rumah tersebut. Ada yang tidak beres….

 

Yang saya suka dari film ini:

-Aktingnya Logan Marshall-Green ciamik! Dia bisa menggambarkan kesedihan kehilangan dengan muka yang lempeng.

-Penulisan naskah film ini keren!

-Tokohnya beragam dan memperkuat cerita.

-Michiel Huisman itu ganteng banget ya….hhhh…

-Tokoh Claire diperankan dengan sangat baik oleh Marieh Delfino

-Endingnya oke dan cukup wuaw.

-Poster filmnya bagus. Poster film kan memang ada beberapa versi, ya. Tapi versi yang saya taruh di sini menurut saya keren. Hipster tapi tetap dark. Beda banget sama poster film thriller yang berdarah-darah atau seram yang malah jadi norak.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Logan Marshall-Green kalau nggak pakai kumis dan jenggot hipsternya nggak kece

-Ada satu tokoh yang tidak terjelaskan. Sebenarnya doi itu siapa, sih?

-Tokoh Eden agak ganggu. Agak kelamr-klemer minta ditampar.

-Usaha keragaman ras dalam film ini agak terkesan maksa, menurut saya. Masih dalam upaya memerangi #OscarSoWhite kah?

 

Ini tarilernya…

Diposkan pada review

Review: Lelaki Harimau

Category: Books

Author: Eka Kurniawan

Rate: 4 out of 5

 

(Foto: Ekakurniawan.com)
(Foto: Ekakurniawan.com)

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, saya mau membaca buku Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan. Maka ketika Anda berkeinginan kuat, alam akan membantu mewujudkannya. Tanpa diduga teman sayaAmelia, meminjamkan buku tersebut tanpa diminta. Hore! 

Maka saya bacalah buku tersebut. Berikut sinopsisnya…

Buku ini dibuka dengan kegemparan orang-orang desa atas pembunuhan yang dilakukan Margio. Margio, pemuda 20 tahunan, membunuh Anwar Sadat seorang seniman genit. Margio menggigit urat leher Anwar Sadat sampai putus. Ketika ditanya alasan ia membunuh Anwar Sadat, Margio hanya menjawab bahwa ada harimau dalam tubuhnya.

Cerita lalu bergulir ke tokoh-tokoh di hidupnya Margio. Masing-masing tokoh memberikan kontribusi pengetahuan tentang karakter Margio kepada pembaca. Sedangkan tokoh Margio dibiarkan ‘hening’. Namun Eka Kurniawan dengan pintarnya dapat membuat pembaca mengenal Margio, dari keresahannya, kemarahannya, sampai sisi lembut dirinya.

Yang saya suka dari buku ini adalah betapa cerdasnya Eka Kurniawan dalam memutarbalikkan jalan cerita. Ia membuka cerita dengan akhir sebuah kisah yaitu pembunuhan. Bukan dari kejadian-kejadian yang menjadi alasan Margio membunuh. Ending dari buku ini juga keren banget, banget! Ditutup oleh sebuah kalimat yang menjelaskan segalanya.

Meskipun salut saya tidak putus-putus terhadap Eka Kurniawan, namun saya tetap lebih menyukai buku Cantik Itu Luka. Menurut saya Cantik Itu Luka adalah buku yang lengkap. Tidak peduli bahwa sudah ada dua orang teman saya yang mengatakan bahwa buku Lelaki Harimau lebih bagus daripada Cantik Itu Luka. Yah, semuanya tergantung selera, bukan? Tapi  kalau saya boleh mengkritik, buku Lelaki Harimau ini lebih kental nuansa karya satsranya. Soalnya ada begitu banyak kalimat-kalimat panjang dan pasif. Sehingga pembaca, saya, kadang agak ‘lelah’ membacanya. Namun saya rasa Eka Kurniawan melakukan itu karena jika dibaca dengan suara keras, kalimat-kalimat itu dapat terdengar indah dnegan segala rima dan dramatisasinya.

Begitulah review saya. Ada saran baiknya saya baca karya Eka Kurniawan yang mana lagi setelah ini?

Diposkan pada review

Review: Fantastic Mr. Fox

Category: Movies 

Genre: Animation, Adventure

Rate: 3 out of 5

mp-mr-fox-poster

Film yang diangkat dari buku Roald Dahl ini menceritakan tentang Mr. Fox (diisi suara oleh George Clooney) seekor rubah yang suka mencuri. Sebenarnya sejak ia punya anak ia sudah pensiun dari dunia curi-mencuri. Ia memilih menjadi seorang jurnalis penulis kolom. Hidupnya nyaman dan berkecukupan. Namun ia tak bisa melawan naluri rubahnya untuk mencuri ayam dari peternakan Boggis. Diam-diam, tanpa sepengetahuan anak dan istrinya, ia suka berangkat mencuri ayam ke peternakan Boggis. Aksinya berhasil! Ia jadi ketagihan untuk mencuri. Setelah itu ia mengicar bebek di peternakan Bunce. Lagi-lagi aksinya berhasil. Mabuk dengan keberhasilan, kali ini ia bertekad hendak mencuri sari apel dari pabrik Bean. Aksinya juga berhasil! Sayangnya Franklin Bean (diisi suara oleh Michael Gambon) tidak senang ada yang mencuri dari sari apelnya. Maka ia bertekad untuk menangkap Mr. Fox dan seluruh kroni-kroninya.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Film ini digarap oleh Wes Anderson. Selayaknya seluruh karyanya, film ini juga banyak dialog ‘hening’ yang awkward dan bikin kita mikir untuk ketawa atau nggak ya?

-George Clooney pas banget bawain Mr. Fox

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Khas film Wes Anderson yang berpola

-Ada Meryl Streep yang mengisi suara istri Mr. Fox. Sayangnya dialognya dikit banget. Dan nggak perlu sekelas Meryl Streep juga untuk isi suara pelan nan lembut begitu.

-Pemain yang terlibat 4L alias Lu Lagi Lu Lagi. Abis Wes Anderson orang Taurus sih ya. Yang artinya kalau soal kerjaan agak susah percayaan ama orang

 

Ini trailernya…

Diposkan pada review

Review: Hateful Eight

Category: Movies

Genre: Drama

Rate: 4 out of 5

Film dibuka dengan Major Marquis Warren (Samuel L. Jackson) menghadang sebuah kereta kuda di tengah salju sambil menduduki gundukan mayat. Kudanya kelelahan dan tak kuat lagi menghadapi salju. Marquis Warren adalah seorang bounty hunter alias penangkap buronan untuk imbalan uang. Maka ia butuh tumpangan untuk membawa mayat-mayat penjahat tangkapannya itu dan juga untuk berlindung menghindari badai salju. Kereta yang ia hadang itu ditumpangi oleh John Ruth (Kurt Russel) yang ternyata seorang bounty hunter juga. Ia membawa buronan tangkapannya Daisy Domergue (Jennifer Jason Leigh) yang masih hidup. John Ruth jadi orang yang sangat curigaan sejak menangkap Daisy Domergue. Soalnya imbalan atas Daisy Domergue itu sebesar 10 ribu dollar.

Setelah melewati perdebatan dan negosiasi, akhirnya John Ruth mengizinkan Marquis Warren untuk naik di keretanya. Di tengah jalan, penumpang kereta mereka bertambah. Ada Chris Mannix (Walton Goggins) sherrif baru yang butuh tumpangan karena kudanya juga kelelahan tak kuat melewati tebalnya salju. Mengingat badai salju sudah sangat dekat, mereka pun singgah di sebuah pondokan toko kelontong milik Minnie. Ternyata di sana sudah ada 3 orang yang juga berteduh dari badai salju, empat dengan sang penjaga toko kelontong. Dari sekadar berteduh dan bercakap-cakap, terkuaklah masing-masing identitas dan kebencian yang mereka miliki untuk satu sama lain.

 

Yang saya suka dari film ini:

-Pemainnya oke-oke semua

-Alur ceritanya juga oke. Khas Quentin Tarantino lah.

-Sangat suka akting dan tokoh yang diperankan oleh Jennifer Jason Leigh di film ini

-Senang juga akhirnya melihat lagi akting si om Kurt Russel. Long time no see, om.

-Konfliknya dibangun dengan pelan tapi pasti

-Suka banget dengan aksen Amerika kampung si sherif. Kocak kedengerannya xD

-Film ini durasinya lama, 3 jam aja gitu. Tapi Si Punk Rock yang gampang ketiduran kalau nonton film dengan alur lambat aja berhasil melek terus sampe filmnya abis.

 

Yang saya nggak suka dari film ini:

-Beberapa adegan sadis dan disturbing. SANGAT TIDAK DIREKOMENDASIKAN UNTUK DITONTON BARENG ANAK-ANAK DIBAWAH 17 TAHUN. Mending nunggu anak-anak udah tidur dulu deh baru nonton film ini.

Channing Tatum munculnya bentaran amat. Percuma rasanya.

-Akting Tim Roth oke sih. Tapi tetap penasaran kenapa bukan Christoph Waltz yang meranin tokoh itu?

-Scoringnya agak horor. Tapi nggak masuk ama cerita. Aneh deh :-/

 

Ini trailernya…