Family Is A Family

(Repost dari blog lama-3 April 2008)

Tadi gw marah sama sahabat gw sendiri. Gw marah sama dia karena dia ngomong sesuatu yang nggak enak tentang salah satu anggota keluarga gw. Walaupun gw kurang akrab dengan anggota keluarga yg dimaksud, TAPI DIA TETAP KELUARGA GW!
Terlepas dari benar atau tidaknya omongan sahabat gw yg satu itu, tapi rasanya darah ini mendidih klo mendengar sesuatu yg buruk tentang keluarga gw. Gw marah ma sahabat gw karena cara dia ngasih taunya tuh kaya keluarga dia yg paling bener aja. Dan dia ngasih tahu seolah-olah anggota keluarga gw tuh sebagai pelaku, bukan korban. Padahal bisa aja kan korbannya itu adalah anggota keluarga gw, karena kita kan sama-sama nggak tau kisah yg sebenarnya kaya gimana. Perlu diketahui permasalahan ini membawa sangkut paut temannya sahabat gw itu. Jadi kelihatan banget kan betapa ketidak-objektifan pandangan sahabat gw itu! Dan  yg paling parah sahabat gw itu langsung mencap anggota keluarga gw  itu dengan sebuah kata sifat yang ga kasar tapi tetap aja konotatif.

Gw tahu di sini gw akan terlihat seperti org yg menjelek-jelekan sahabat gw sendiri. Tapi salah ga gw kalau gw berekspektasi sebagai seorang sahabat seharusnya dia memberitahu gw secara lebih halus dan membangun, bukan menuduh atau bahkan memberi label kata sifat konotatif?

Dan kalau pun tokh gw memang menjelek2an sahabat gw sendiri apakah itu salah kalau gw lebih memilih membela keluarga gw? Segimanapun jeleknya keluarga lo, mereka tetap aja keluarga lo kan?

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Gw sampai titik ini nggak pernah sedikitpun menyesalkan keputusan gw untuk marah sama sahabat, eh ralat, mantan sahabat gw itu. Karena makin ke sini gw menyadari bahwa gw mengambil keputusan yang benar. Dan nggak ada sehari pun gw merasa kehilangan karena nggak ngobrol lagi sama mantan sahabat itu. Itulah yang terjadi kepada orang yang coba-coba mengganggu keluarga gw 🙂

Ku Mohon Untuk Tetap Tinggal…

(Repost dari blog yang lama-1 April 2008)

 

Ku mohon untuk tetap tinggal
Dan jangan engkau pergi lagi

Dah beberapa hari ini potongan lagu itu terngiang terus di kepala gw. Padahal lagu Nidji yang berjudul Jangan Lupakan itu udah diputer hampir tiap hari selama kurang lebih 3 bulan ini di TV swasta kita sebagai sebuah soundtrack sinetron.

Tapi kenapa lagu itu baru muter-muter di kepala gw beberapa hari belakangan ini? Kalau gw  yang satu bulan lalu tergila-gila dengan lagu ini, gw ga bakal heran. Karena lagu sedih apapun satu bulan lalu akan gw hubung-hubungin dengan pengalaman cinta gw yg kandas di tengah jalan (baca: diputusin buat menuruti sebuah egoisme) Bahkan lagu ratapan anak tiri pun bisa gw hubung-hubungin dengan kondisi hati gw waktu itu. Padahal kejadiannya tanpa terasa udah 9 bulan yg lalu aja gituh!

Tapi gw yg sekarang beda banget dgn gw yang satu bulan yg lalu. Belum pernah gw merasa selega dan sebahagia ini setelah kejadian itu. Dan selama itu gw udah mencoba berbagai cara untuk lupa dan bahagia. Ternyata gw baru sadar klo gw melakukannya dgn cara yg salah. Cara yg benar dan bikin gw menjadi gw yang sekarang adalah hanya dgn sabar dan ikhlas. Ciyeeeeeeeeeeeeeee Fahri Ayat-Ayat Cinta banget gw yak! Ni ga ada hubungannya dgn gw segitu ngefansnya sama Fedi Nuril loh ya (wlopun emang bener gw segitu ngefans guila ma Fedi Nuril), tapi begitu gw benar-benar udah bisa ikhlas rasa dendam, marah, sedih, n ga terima yg selama ini gw tenteng kemana-mena di hati gw, bikin gw bisa jalan dengan tegap lagi. Karena otomatis punggung gw ketarik begitu beban d hati gw udah lepas semua.

Jadi kembali ke pertanyaan awal, kenapa lagu itu ga ilang-ilang dari kepala gw?????

Mungkin gw hanya ngefans sama Nidji kali ya……

 

Setelah dibaca lagi sekarang:

-Huahahahahahaha dulu ngapain yak gw ngabisin waktu sekian lama cuma buat move on dari orang (yang setelah dipikir-pikir) nggak ada manfaatnya? Haduuh… usia muda kadang membuat dunia terasa lebih berat dari yang sebenarnya 😀

Jengah Atas Ketidakdewasaan

(Repost dari blog yang lama–27 Maret 2008)

 

Kita semua pasti pernah tidak dewasa. Tapi mengherankan ketika kita melihat orang yang tidak pernah mau untuk dewasa.

Semua seolah-olah dia lah yg paling benar sehingga tidak peduli dgn dampak yg ia berikan kepada orang lain.

Menjadi dewasa kadang-kadang itu menyebalkan. Sama menyebalkannya kita kita harus bersabar menghadapi ketidakdewasaan. Namun kedewasaanlah yg melindungi kita dari mengulangi perbuatan bodoh. Seperti halnya orang tua yg selalu membimbing, mengawasi, dan menghukum kita  dari melakukan kesalahan.

Menjadi dewasa itu menyakitkan karena begitu banyak pengharapan dari mereka yg tidak dewasa untuk pemberian pengertian yg tiada tara untuknya.

Aku dulu pernah bingung memilih untuk menjadi dewasa atau tidak. Menjadi tidak dewasa terlihat begitu menyenangkan dan bahagia. Namun tokh aku akhirnya memilih untuk dewasa. Karena dengan dewasa aku tidak membuat orang lain jengah. Dengan dewasa tentu saja aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Dan dengan dewasa aku akan diberikan kesabaran dan keikhlasan yang telah dijanjikan oleh Tuhanku akan ditukarnya dengan melimpahnya pahala.

Ya Tuhan berilah aku kekuatan……

 

Setelah dibaca lagi:

-Gw itu dulu suka drama ya, hahahaha

Pindahan Blog…

Sejujujurnya, alasan saya membuka lapak blog di WordPress ini karena blog saya di website sebelumnya akan ditutup, huwaaaaaaaaaaaaaaa T____T

Kata nyang empunya website tempat saya dulu bernaung, semua blog-blog kite harus dipindahin. Kalau kaga, per Desember 2012 akan dihapus. Sediiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih T____T

Terlepas mana website penyedia blog yang lebih bagus atau tidak, tapi blog saya di website sebelumnya udah banyak banget, huwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa T____T

Mau tak mau saya harus memindahkannya satu persatu, hiks……..huwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa T___T

Doakan saya untuk diberi ketabahan yang akan dibalas dengan rezeki nomplok dan mobil Alphard ya—->emangnya undian bank!

 

-Adisti Daramutia a.k.a Krilianeh-