Review: The Kitchen (2019)

Cuma di The Kitchen wilayah Hell’s Kitchen dipegang sama ibu-ibu.

Film ini mengisahkan tentang tiga orang istri gangster yang di wilayah Hell’s Kitchen. Ada Kathy Brennan (Melissa McCarthy) yang keibuan dan suaminya penyayang, ada Claire (Elisabeth Moss) yang sering mengalami KDRT jadi samsak suaminya, dan ada Ruby (Tiffany Haddish) yang sering diremehkan suaminya karena ia perempuan kulit hitam.
Pada suatu hari para suami mereka tertangkap basah oleh polisi saat sedang merampok sebuah toko. Singkat cerita ketiga suami itu dijebloskan dalam penjara untuk ditahan selama beberapa tahun. Anggota gangster lainnya berjanji untuk membantu menafkahi para istri. Sayangnya uang yang diberikan terlalu sedikit. Kathy dan Ruby menghadap para gangster untuk meminta uang tambahan, eh mereka malah diremehin. Sejak saat itu mereka bertiga memutuskan untuk membentuk kelompok sendiri. Mereka meyakinkan para pengusaha kecil di lingkungan Hell’s Kitchen untuk setoran ke mereka dengan imbalan tempat usaha mereka akan aman dari gangguan apapun. Usaha mereka berhasil, tapi tentu saja para gangster tidak suka dengan tindakan mereka ini…

Yang saya suka dari film ini:
+ Melissa McCarthy itu nggak pernah fail meranin peran apapun sejauh ini. Semua orang tahu dan jadi ingat dengan Melissa berkat perannya sebagai chef baik hati, ngegemesin, namun slebor di serial Gilmore Girls. Tapi Melissa selalu berhasil keluar dari karakter apapun yang dia perankan. Sehingga semua karakter Melissa yang ia perankan rasanya nggak pernah sama. Nggak kayak Jennifer Aniston yang selalu masih ada ‘Rachel’nya di peran apapun yang ia mainkan.
+ Suka banget dengan karakter tukang pukul yang dingin yang diperankan oleh Domhnall Gleeson. Domhnall ini yang berperan jadi Bill Weasley abangnya Ron Weasley di film-film Harry Potter, lho.
+ Saya suka dengan tema feminis dan girl power dari film ini. Ada satu dialog mengesankan yang dilontarkan Kathy saat berantem dengan suaminya. Di situ diperlihatkan bagaimana insekuritas dari sebuah rumah tangga itu umumnya datang dari lelaki yang kegedean egonya.
+ Rambut dan kostumnya saya suka banget. Apalagi film ini ceritanya pas era 70-an, era fashion kesukaan saya.
+ Penulisan naskahnya bagus. Sampai banyak yang mengira kalau film ini adalah berdasarkan kisah nyata. Padahal film ini hanya adaptasi dari komik DC Vertigo

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Set dah Tiffany Haddish, akting lo jelek banget dah ah. Kayak takut banget sik keliatan muke lo jadi jelek. Sok galak lo juga jadi aneh. Serba nanggung gitu. Tiffany…Tiffany…. Jangan gitu lagi ya.
– Lu lagi Elisabeth Moss. Hadeeh 11-12 lu ye ama si Tiffany. Kalau akting temen lo jelek, ya jangan diikutin dong. Harus punya pendirian gitu jadi orang. Walau akting Elisabeth nggak sejelek Tiffany, tapi karakter Claire itu nggak pas banget buat dia. Ini maaf-maaf ya kalau ngomongin fisik, tapi di film ini dia digambarkan sebagai cewek cantik yang selalu digodain orang. Tapi…tampangnya sendiri nggak secantik itu šŸ˜¦ Cantikan Tiffany kemana-mana. Elisabeth juga nggak berhasil mengeksplor karakter Claire yang dulu lemah karena jadi korban KDRT suami kemudian menjadi seorang perempuan pemberani. Transformasi nggak berasa gitu.

Rate: 3,5 out of 5
Film ini saya tonton di Netflix

Ini trailernya…

Review: Write Me A Love Song Series (2021)

Kebetulan saya diundang ke acara konferensi pers peluncuran serial Write Me A Love Song ini di CGV Grand Indonesia (24/11). Jadi di review kali ini saya juga akan memberikan sedikit laporan pandangan mata.

(Foto: Viu.com)

Serial ini menceritakan tentang seorang musisi bernama Valentino Kun atau yang biasa dipanggil Kun (Bio One). Dia sangat berusaha menancapkan namanya di industri musik, tapi sayangnya semua lagunya dapat review jelek dari netizen.
Kun punya dua orang sahabat yang selalu mendukungnya, ada Ipen (Andri Mashadi) dan Mamen alias Chelsea (Marsha Aruan). Menurut kedua orang sahabatnya, lagu-lagu Kun itu kurang ada feel-nya. Kun sering membuat lagu cinta, tapi nggak ada lagu yang bisa bikin orang baper. Mereka berkesimpulan, untuk bisa membuat lagu cita, maka Kun harus bisa jatuh cinta dulu. Sejak saat itu Kun berusaha untuk bisa jatuh cinta, semata-mata biar bisa menulis lagu cinta yang hebring.
Di tengah usahanya itu, Kun berkenalan dengan seorang cewek sesama musisi bernama Yogurt (Dinda Kirana). Kun juga dipertemukan kembali dengan cinta pertamanya waktu SMA, Vanessa (Naomi Zaskia), yang kini jadi salah satu petinggi label musik.
Akan kah Kun bisa membuat lagu cinta dan menjadi musisi terkenal?

Di konferensi pers yang saya hadiri, kami dipertontonkan dua episode pertama serial ini. Jadi ini adalah review saya untuk kedua episode itu, ya. Dan berikut pendapat saya…

Yang saya suka dari serial ini:
+ Serial ini potensial. Digarap dengan baik. Mulai dari set, lokasi, properti, dan editing warna bagus semua.
+ Alur ceritanya bagus. Nggak ada plot yang bolong, sejauh ini.
+ Pembangunan karakternya oke.
+ Suka dengan aktingnya Andri Mashadi sebagai Ipen yang baik hati tapi agak-agak kurang dikit otaknya.
+ Meski pemain serial ini rata-rata adalah jebolan sinetron dan FTV semua, tapi kita nggak akan melihat akting template khas sinetron atau FTV. Justru dari serial ini saya jadi optimis dengan para aktor/aktris jebolan sinetron ataupun FTV. Jadi kata siapa Indonesia kekurangan aktor?Industrinya aja kali tuh yang kurang inklusif, uhuk uhuk… Duh jadi batuk sayah…
+ Bio One di serial ini ganteng banget, btw!!!

Bio One di serial Write Me A Love Song
Bio One yang saya lihat langsung pada saat konferensi pers. Dia memang jauh lebih kurus dan berkulit lebih gelap karena untuk kebutuhan sebuah peran yang lagi proses produksi syuting.
Tapi saya nggak paham dengan konsep baju serta sendal bakiak Jepang yang dia pakai saat konferensi pers itu. Apa mungkin dia sedang berusaha menjadi Ezra Miller versi kearifan lokal ya?
Terlepas soal bajunya yang bikin saya jadi pengen panggil guru BP, saya optimis anak ini aktingnya akan makin banyak mewarnai industri perfilman kita. Asal dia nggak salah ambil jalan saat berhura-hura aja…

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Figurannya ya gitu deh hehehe…
– Kostum untuk tokoh Yogurt kok gitu banget, ya? Perasaan musisi cewek jaman sekarang nggak kayak Ully Sigar Rusady gitu dah (Anjay ketahuan umur gua).

Ini Ully Sigar Rusady, gaes. Beliau adalah musisi dan juga kakak kandungnya Paramitha Risady

– Serial ini bukan musikal, tapi ada banyak musiknya. (Ya iyalah, kan ceritanya tentang musisi yang mau bikin lagu.) Nah sejauh dua episode ini, lagunya belum ada yang oke dan nempel atau berpotensi jadi soundtrack gitu lah. MUNGKIN ini karena baru dua episode kali ya. Belum sampai ke cerita dimana Kun akhirnya berhasil bikin lagu yang bagus. Semoga nanti beneran ada lagu yang oke dari serial ini, ya.
Oiya, Bio One sempat membocorkan kalau akan ada konser mini setelah serial ini tayang 10 episode. Kita tunggu aja, ya.

Di konferensi pers kemarin Bio One sempat disuruh menyanyikan salah satu lagu dari serial Write Me A Love Song. Saya video-in dengan super zoom. Alhamdulillah kamera handphone saya lumayan caem meski bukan aifon.


-Nah itu tadi kan soal lagunya, ya. Beda lagi kalau soal scoring. Menurut saya di beberapa bagian scoringnya agak ganggu dan kurang jaman sekarang. Beberapa scoringnya masih sinetron banget.
“Lah tapi kan serial ini sebenarnya sinetron yang tayang di layanan streaming. Pegimane sih lu, Krili!,” ujar netizen menahan gemas melihat kecantikan Krili.
Iyak juga sih, tapi kalau menurut saya, serial yang tayang di layanan streaming itu beda sama yang tayang di TV nasional. Serial Indonesia yang tayang di layanan streaming itu kelasnya beda, karena penontonnya juga beda. Makanya disayangkan kalau scoringnya masih dimiripin ama sinetron biasa. Itu pendapat saya lho. Kalau nggak suka ama pendapat saya, ya udah bagen! #BekasiPride
-Ada beberapa dialog yang agak kaku. Tapi yang paling mengganggu saya adalah kenapa hampir di tiap dialog kayak ada jeda gitu, ya? Apakah itu disengaja buat di-insert sound effect? Tapi nggak ada sound effect-nya juga. Confused saya jadinya…

Begitulajh kira-kira review saya…
Jujur saya udah lama banget nggak nonton sinetron Indonesia, karena saya sudah hilang harapan dengan sinetron Indonesia sejak lama. Tapi nonton serial yang ditayangkan di Viu ini, saya jadi tertarik untuk download Viu. Karena ternyata serial-serial Indonesia (sinetron) yang digarap untuk ditayangkan di OTT (Over-The-Top media service alias layanan tayangan streaming) ini bagus-bagus dan punya masa depan cerah. Serial-serial ini digarap dengan gaya film. Dan alur cerita juga tidak akan dipanjang-panjangin ala Tersanjung karena menghamba rating. Ini jadi angin segar untuk saya ‘percaya’ lagi dengan serial Indonesia.

Oiya, di konferensi pers ini juga dijelaskan bahwa perusahaan pembuat gitar Indonesia, Delta Guitar, akan mendonasikan sejumlah gitar special edition Write Me A Love Song ke beberapa sekolah di Indonesia agar dapat memfasilitasi talenta-talenta muda sejak di bangku sekolah.

Delta Guitar

Rate: 3,5 out of 5
Serial ini bisa kamu tonton di aplikasi streaming Viu mulai 25 November 2021.

Ini trailernya…

Orang Kaya Belum Tentu Bahagia

Hari ini saya bertemu dengan teman lama. Sebut saja namanya Cato.

Saya mengenal Cato saat usia kami sama-sama remaja. Dia dulu saya kenal sebagai anak cowok yang pendiam dan pemalu. Tampangnya tidak jelek, tapi karena dia pendiam dan pemalu, ia dulu kurang dipandang oleh cewek-cewek di lingkungan kami.

Waktu berlalu, tahun berganti. Saya lihat dari postingan media sosial Cato dia kini sudah sukses. Dia kaya raya. Punya perusahaan sendiri. Mobil mewahnya ada lebih dari satu. Punya motor Ducati. Tergabung di sebuah klub mobil mewah. Penampilannya kini perlente. Handphonenya yang tercanggih masa kini. Jam tangannya seharga ratusan juta. Sepatunya kulit asli yang branded. Begitu juga sabuk pinggangnya.

Saya kagum dan ikut senang dengan keberhasilan Cato. FYI, saya tidak pernah iri dengan kesuksesan orang-orang pekerja keras semacam Cato. Justru saya ikut bangga akan keberhasilannya. Kayak seneng aja gitu bisa ngomong ke orang “Eh dia itu temen gw, lho”. (Padahal kontribusi gw apeeeee di hidup dia? Hahahahaha)

Singkat cerita, saya ada urusan yang berhubungan dengan bisnis milik Cato. Maka saya undang dia untuk meeting sekaligus kenalan dengan rekan kerja saya. Setelah sekian lama nggak ngobrol dengan Cato, saya jadi makin kagum dengan dia.

Soalnya di balik penampilannya yang kini perlente, ternyata Cato masih ringan tangan untuk membantu, nggak pelit berbagi ilmunya, dan tetap tidak berubah sikapnya terhadap teman lama. Ya…kan ada ya orang yang begitu terkenal atau tajir dikit, langsung shombong atau jaga jarak aja gitu. Pengennya dianggap ‘bos’ di kalangan teman-teman lamanya. Sedangkan Cato, justru titelnya sebagai ‘CEO’ dia gunakan secara maksimal untuk membantu teman.

Wah, tambah salut saya sama nih orang. Udah tajir melintir, nggak sombong pula. “Dia pasti hidupnya bahagia. Gimana ya caranya bisa setajir dia?” batin saya.

Beneran bahagia? SALAH BESAR, SODARA-SODARI!

Seusai obrolan bisnis panjang lebar, kami mulai menceritakan hal-hal yang lain. Entah bagaimana, akhirnya sampailah kami membicarakan kesulitan dari pekerjaan masing-masing. Cato lalu mengungkapkan kalau pekerjaannya ini membuat ia sering dikirimin santet.

“Serius lo, To?” tanya saya terkejut.

“Iyah!” jawabnya.

“Yang lo rasain apa emang?”

“Gw jadi orang yang blank aja gitu. Gw jadi nggak bisa kerja. Gw jadi kayak nggak paham apapun.”

Cato kemudian menjelaskan duduk awalnya ia disantet. Intinya ia ditipu oleh kenalan lamanya. Kenalan lamanya ini ingin membawa kabur uangnya. Namun sebelum ia bawa kabur, ia kirim santet dulu ke Cato agar ia nggak bisa mikir.

“Pas sadar duit gw dibawa kabur ama dia, gw tuh tetap ngerasanya ‘ya udah deh gak papa’. Gw sadar duit gw dibawa kabur ama dia, tapi gw kayak nggak mau nindak ini orang. Akhirnya ada temen gw yang bisa ‘ngelihat’ bilang kalau gw ini emang ‘dikirim sesuatu’ sama pelaku. Terus si temen gw yang bisa ‘ngelihat’ ini kirimin gw penangkalnya. Kayaknya dikirimin tengah malam tuh ama dia. Soalnya tahu-tahu gw kebangun jam 2 pagi, terus langsung kayak kebuka aja gitu mata gw. Gw kayak baru bener-bener sadar kalau duit gw dibawa kabur. Tengah malam itu juga gw baru marah dan ngamuk.”

Saya hanya bisa terdiam tidak habis percaya. “Kerjaan lo pasti susah banget ya, To”.

“Iya dis. Kerjaan kayak gw ini banyak yang nggak suka. Ada aja yang iri. Atau kalau ada yang kalah tender ama gw, dia kesel jadi ngirim yang aneh-aneh. Ada aja deh. Kata temen gw yang bisa ‘ngeliat’ itu, muka gw ini di mata dia udah banyak bekas cakarannya. Udah banyak yang berusaha ngirim ke gw”.

Saya jadi agak sedih dengar ceritanya. Soalnya pekerjaan Cato ini halal, tapi udah kerja halal pun masih ada aja orang yang nggak suka sampe segitunya.

Keinginan saya untuk menjadi horangkayah seperti Cato seketika sirna.

Saya masih hidup di rumah ngontrak. Masih belum punya mobil apalagi rumah hasil jerih payah sendiri. Kemana-mana motoran sama Si Punk Rock dan Kriby. Tapi saya punya kemewahan yang tidak dimiliki semua orang. Yaitu ketenangan hidup.

Alhamdulillah hidup saya tenang karena punya suami yang baik banget dan anak yang cantik dan menggemaskan.
Alhamdulillah kami sehat-sehat semua dan semoga akan sehat-sehat terus selamanya. AMIEN.
Alhamdulillah duit di rekening bank selalu ada, meski suka tiris dipertengahan bulan.
Alhamdulillah punya suami yang suka ngajak ketawa bareng ketika saldo rekening tinggal sekali narik lagi.
Alhamdulillah ternyata hidup saya udah cukup dengan segini doang. (Terima kasih ya Allah karena telah memberikan hamba rezeki yang bentuknya tidak melulu uang ataupun materi.)

Saya tetap salut dengan kerja keras Cato. Saya tetap kagum dengan pencapaian Cato. Tapi dari kemewahan yang ia miliki, ada stres yang mengikuti. Saya nggak yakin saya bisa mengatur stres jika saya berada di posisi Cato.

Di era media sosial seperti saat ini, kita memang akan mudah sekali termakan ‘rayuan’ kemewahan. Seolah-olah kemewahan dan kekayaan adalah tujuan hidup. Namun kalau berkaca dari cerita Cato, ternyata kemewahan yang ia dapat secara nyata dan halal aja, nggak jadi jaminan kebahagiaan.

Berkat ‘cerita seram’ Cato saya jadi sadar harus men-setting ulang tolok ukur kesuksesan hidup seseorang.

Sekian cerita saya kali ini. Semoga bermanfaat.

NB: FYI, ini kelanjutan kisah uang Cato yang dibawa kabur itu.
Jadi Cato nggak mau lapor ke pihak berwajib karena menurutnya hanya akan menghabiskan uang. Maka yang ia lakukan adalah menyebarkan perbuatan si pelaku ke seluruh orang yang berhubungan dengan si pelaku. Akhirnya si pelaku malu sendiri karena ruang geraknya kini terbatas akibat cibiran masyarakat. Si pelaku pun pindah ke Bandung untuk menghindari malu.

Tapi ada kisah bahagianya juga, lho. Kata Cato, uangnya yang dibawa kabur tidak lama kembali lagi dari rezeki yang datang entah dari mana aja. Kata Cato, ia memberikan sisa uang yang ia punya untuk membelikan hadiah mobil baru ke orang tuanya. Berkat doa orang tuanya, uang Cato yang hilang kembali lagi tanpa makan waktu lama.

Jadi tips jadi horangkayah ala Cato adalah: terus bahagiakan orang tua, terus menolong sesama. Insya Allah rezekinya mengalir nggak putus.

Review: The Swarm (2020)

Penyuka film thriller monster/hewan, pasti suka dengan film The Swarm ini.

Alkisah hiduplah seorang single mom bernama Virgine Hebrard (Suliane Brahim). Ia hidup di perdesaan Perancis dengan dua orang anaknya yang beranjak remaja. Virgine punya peternakan belalang yang menjadi sumber penghasilan utama keluarganya. Belalang ini bisa diolah jadi tepung berprotein tinggi dan juga pakan bebek.
Namun kini usaha Virgine mengalami penurunan. Ia nggak bisa mengejar permintaan pasar karena belalangnya tidak berkembang biak sebanyak yang seharusnya. Di tengah kefrustrasiannya Virgine tanpa sengaja menemukan cara membuat belalangnya bereproduksi lebih banyak dan lebih cepat. Yaitu dengan memberi pakan darah. Dari situlah jiwa haus darah Virgine mulai muncul…

Yang saya suka dari film ini:
+ Membangun konfliknya bagus. Kita jadi paham dengan permasalahan masing-masing tokoh
+ Pemandangan pedesaan Perancis itu bagus ya. Tapi saya memang selalu suka alam pedesaaan Eropa, sih. Jadi kayaknya poin ini terlalu subyektif hahaha
+ Saya selalu suka dengan perfilman Perancis yang nggak mengedepankan perempuan cantik dan seksi untuk jadi tokoh utama yang disukai atau menghalangi si tokoh utama mendapatkan cinta. Sejauh ini penggambaran tokoh perempuan di sinema Perancis selalu beragam dan nggak mematok standar kecantikan tertentu. Hal ini membuat kisah dan penggambarannya jadi terasa nyata.
+ Scoringnya oke lah…
+Banyak pengambilan gambar belalangnya yang bagus banget. Sampai bikin saya mikir, ini belalang beneran nggak ya?

Yang saya kurang suka dari film ini:
-Kurang serem sih sejujurnya. Mungkin karena saya penyuka horor hantu kali ya. Jadi thriller-thriller semacam ini terasa datar aja aja di ane.
-Ini tuh tipe-tipe film hening minim dialog khas festival sih. Jadi mungkin akan terasa bosan dan lamban.
-Endingnya gitu doang -_-

Film ini saya tonton di Netflix.
Rate: 3 out of 5

Ini trailernya…

#film #reviewfilm #reviewTheSwarm #reviewnetflix #reviewKrili #thriller #TheSwarm #filmPerancis #Krilianeh

Review: Flowers (Season 1-2016)

Beberapa episode dari serial Flowers ini sukses bikin saya sesak karena sedih.

Alkisah hiduplah keluarga Flowers. Sang ayah Maurice Flowers (Julian Barratt) adalah seorang penulis buku anak-anak. Diam-diam dia depresi dan ingin bunuh diri. Maurice punya ilustrator sekaligus asisten orang Jepang yang kelewat ceria. Namanya Shun (Will Sharpe).
Istri Maurice, Deborah (Olivia Colman) diam-diam tidak bahagia dengan pernikahannya dan butuh pengakuan bahwa keluarganya sempurna. Maurice dan Deborah punya sepasang anak kembar yang sudah dewasa: Donald (Daniel Rigby) yang terobsesi dengan mesin dan merasa dirinya adalah seorang penemu ulung dan Amy (Sophia Di Martino) seorang musisi yang diam-diam adalah seorang lesbian.

Pada suatu hari Maurice bangun dari tidurnya dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya hari itu juga. Ia pasang tali di sebuah batang pohon, lalu menggantung dirinya. Siapa sangka batang pohonnya patah. Bunuh diri Maurice gagal. Maurice mengira kalau ia berhasil menyembunyikan depresi dan usaha bunuh dirinya dari keluarganya. Sayangnya ibu Maurice yang lansia melihat itu semua. Dengan kepikunannya, ibu Maurice mencoba mereka ulang tindakan bunuh diri Maurice yang berujung ke cedera serius. Saat ibu Maurice dirawat di rumah sakit, hal-hal yang selama ini keluarga Flowers saling sembunyikan mulai terungkap.

Yang saya suka dari serial ini:
+ Serial ini adalah dark komedi yang cerdas!
+ Standing ovation buat Will Sharpe yang bukan hanya jadi aktor di serial ini. Tapi juga penulis naskah sekaligus sutradara. Ketiganya dia jalani dengan sangat baik. Aktingnya sebagai orang Jepang yang rela berbuat apapun untuk orang lain sangat sempurna! Penulisan naskah serial ini oke banget. Semua karakter mempunyai proporsi yang pas. Penyutradraannya juga bagus.
Mulai sekarang semua karya dengan nama Will Sharpe akan masuk di watchlist saya.
+ Belum lama ini saya menulis blog tentang kondisi kesehatan mental saya. Serial ini menjelaskan kondisi mental health buruk masing-masing karakter dengan cara yang lucu dan mudah dicerna. Seperti tentang kesulitan berkomunikasi dengan orang terdekat sampai frustrasi, tentang penyangkalan akan masalah diri sendiri, tentang usaha mencari perhatian, tentang duka ditinggalkan orang yang kita cintai, tentang usaha menghapus kesedihan dengan berpura-pura bahagia.
Ada beberapa adegan yang sedihnya begitu menusuk kalbu saya. Tapi saya yakin orang-orang yang tanpa kondisi kesehatan mental bermasalah pun dapat merasakan kesedihan yang ditunjukkan di serial ini.
Saya sangat menyarankan orang-orang untuk nonton serial ini untuk memahami orang depresi dan kesehatan mental.
+ Aktingnya Olivia Colman udah pasti okelah ya. Olivia selalu bisa akting mengubah emosi secara cepat.
+ Aktingnya Daniel Rigby juga berhasil banget bikin kita kesel.
+ Set dan lokasinya oke. Rumah mungil mereka yang sesak membuat saya berpikir bahwa rumah Keluarga Weasley di Harry Potter itu mungkin memang beneran ada di kehidupan nyata. Meski begitu, saya pengen banget punya rumah kaya gitu. Apalagi pondok mungil tempat Maurice menulis. Kayaknya enak banget kalau punya tempat kerja khusus kayak gitu. Tapi ya, saya emang selalu suka dengan rumah-rumah mungil di pedalaman Inggris sih.

Yang saya kurang suka dari serial ini:
-Rambutnya Deborah keliatan banget wig dan agak ganggu.
-Saya baru tahu Sophia Di Martino di serial ini. Rupanya dia salah satu aktris yang diperhitungkan karena udah masuk di geng superhero Marvel. Tapi menurut saya, aktingnya di serial ini biasa aja sih. Malah kayaknya dia banyak terbantu oleh make up untuk membangun karakternya.

Genre: Drama, komedi
Rate: 4,5 out of 5
Saya nonton serial ini di Netflix.

Ini trailernya….

Saatnya Bercerita Tentang Kesehatan Mental

Cerita nggak ya….

Bingung juga mau mulai ceritanya dari mana…

Ya udahlah, saya coba tulis aja apa yang ada di pikiran saya. Kalau terkesannya meracau nggak jelas dan jadi cerita kemana-mana, mohon maaf sebelumnya ya.

Jadi saya itu mengidap salah satu dari masalah mental. Nama masalah mentalnya apa, saya nggak tahu pasti. Soalnya saya nggak melanjutkan terapinya karena satu dan lain hal. Gejalanya adalah SELALU nggak merasa berharga, terus kejadian lama yang membuat malu (versi saya, padahal buat orang lain kayaknya biasa aja) terus-menerus keputar di otak tanpa tahu cara untuk menghentikannya. Karena kejadian memalukan/nggak nge-enakinnya muter terus di kepala, ujung-ujungnya saya merasa nggak berharga. Ditambah kita sekarang ini hidup di era media sosial yang sangat mudah membuat hidup kita ini nggak berharga karena kita nggak secantik mereka, nggak sekaya mereka, nggak sepopuler mereka-mereka yang ada di Instagram.

Pertama kali saya terapi itu pas tahun 2018 kalau nggak salah.

Eh tunggu, baiknya saya ceritakan dulu akar permasalahan saya bisa jadi kena masalah mental ini. Akar permasalahan saya adalah keluarga, terutama perlakuan dari almarhumah ibu saya. Ibu saya adalah orang yang sangat-sangat-SANGAT dominan. Maaf ya saya nggak bisa menceritakan perlakuannya secara spesifik.

Singkat cerita, perlakuan ibu saya itu membuat saya mengidap masalah mental ini. Trauma masa kecil akan berpengaruh sampai dewasa itu memang benar adanya, sodara-sodara. Saya bukti nyatanya.

Pernah ada masanya saya segitu nggak tahannya dengan perlakuan ibu, saya berharap saya segera mati. Saya sudah sering memikirkan bunuh diri, tapi saya nggak punya keberanian untuk melakukannya. Meski begitu, kalau sampai waktunya saya akan bunuh diri, saya sudah tahu metode apa yang akan saya gunakan, bagaimana setting ruangannya, sampai lagu pengiring untuk menguatkan mental saya mengakhiri nyawa. Lucu ya? Saya tuh perempuan yang nggak pernah punya konsep dream wedding, tapi saya punya konsep dream suicide šŸ˜€

Masalah mental itu saya sembunyikan bertahun-tahun. Saya tutup dengan pribadi ceria yang cenderung quirky. Sehingga orang tahunya saya adalah orang yang nggak pernah ‘susah’. Ketawa terus. Ngbanyol terus.

Sampailah saya melahirkan si Kriby. Seperti yang kalian ketahui, mengurus anak itu sangat melelahkan. Apalagi kalau kita mengurus sendiri tanpa bantuan nanny/suster. Ada masa-masa saya frustasi karena kelelahan dan akhirnya saya melampiaskan kemarahan saya ke Kriby. Tanpa sadar saya telah berubah menjadi ibu saya. Saya menjadi monster yang mewariskan luka pada anak saya. Saya tidak ingin anak saya mengalami hal yang sama. Saya harus berubah. Tapi gimana caranya?

Akhirnya saya pendam lagi, pendam lagi, pendam lagi sambil sebisanya saya mengontrol emosi dan ucapan saya ke Kriby. Sampai akhirnya pada tahun 2018 saya berhenti dari sebuah pekerjaan yang saya sangat suka pekerjaannya. Tapi bosnya gila. Bos saya kala itu perempuan yang dominan nggak jelas, insecure parah, playing victim, dan suka mempermalukan hasil kerja kami di hadapan klien. Saya jadi merasa seperti berhubungan lagi dengan sosok ibu saya versi kantoran. Tentu saja karyawannya banyak yang tidak betah. Bahkan beberapa di antara kami mengalami masalah kesehatan seperti asam lambung rajin naik karena teror dominasi yang begitu menekan. Saya sendiri selama kerja hitungan bulan sama bos gila itu, pernah beberapa kali dada kiri saya sakit mendadak kayak ditusuk dan nggak bisa membuat saya nafas. Kalau saya nafas, sakitnya akan tambah menusuk. Jadi saya harus diam selama beberapa detik sampai serangannya mereda sendiri.
Saya kira itulah yang dinamakan serangan jantung. Saya langsung menghadap dokter spesialis jantung. Kata dokter, jantung saya sehat-sehat aja. Tapi saya maksa diperiksa secara menyeluruh. Saya kemudian disuruh cek jantung yang pakai lari di treadmil. Hasil diagnosisnya tetap sama: jantung saya baik-baik aja.
Si dokter kemudian menyimpulkan kalau mungkin itu gas lambung yang naik pada saat stres dan menusuk ke arah jantung. Jadi saya harus kelola stres saya.

Di situ saya kepikiran untuk resign, karena sadar kalau si bos gila itu nggak baik untuk kesehatan mental dan fisik saya. Sempat ada keraguan karena saya butuh uangnya, tapi sampailah satu kejadian yang memang menurut saya sudah keterlaluan, saya kemudian memutuskan untuk resign. Si bos gila tentu saja setelah itu playing victim karena merasa dia adalah korban ‘pengkhianatan karyawan’nya. Saya kemudian memutuskan untuk ngeblock semua chat dan medsos si bos demi kesehatan mental saya.

Tidak sampai satu tahun kemudian saya dengar kalau perusahaan itu tutup. Saya yakin si bos pasti playing victim lagi dengan menyalahkan pandemi. Padahal semua karyawannya dan mungkin kliennya juga tahu kalau perusahaannya tutup karena kelicikan dan ketidakberesan si bos dalam mengelola usahanya. (Oiya, saya belum cerita ya kalau dia juga licik? Iya, banyak orang yang pernah kerja sama dengan si bos mengakui kalau mereka melihat kelicikan di bisnisnya).

Setelah saya resign dan tinggal di rumah, saya pikir kesehatan mental saya akan membaik. Ternyata tidak semudah itu, Ferguso. Karena setelah dari perusahaan itu, saya masih mendapat kabar-kabar yang kurang enak. Terutama saat saya tidak diundang untuk launching produk yang saya bantu garap. Bisa dikatakan 60-70% produk itu dikenal di pasaran adalah berkat andil tangan saya sendiri. Jadi begitu saya melihat di medsos kalau produk itu sudah launching tanpa saya diberitahu, saya sedihnya bukan main. Tapi tentu saja, saya pendam.

Lalu kesehatan mental saya kena dampak lagi lantaran kekhawatiran diri saya karena tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Yah… Namanya juga selama ini rumah tangga saya terbiasa dengan dua pintu penghasilan dari saya dan suami, tapi sekarang cuma ada satu pemasukan dari suami saya aja. Saya stres, padahal suami Si Punk Rock nggak pernah sekalipun memaksa saya untuk terus bekerja. Dia malah selalu mendukung apapun keputusan saya. Namun gelombang merasa tidak berguna saya datang lagi. Lama-lama gelombangnya makin besar dan makin menggulung sampai saya merasa tidak tahan lagi.

Saya memutuskan untuk ke mendaftar ke psikiater di rumah sakit dekat tempat tinggal saya. Saya ke sana diam-diam tanpa diketahui Si Punk Rock, padahal selama ini saya selalu cerita semuanya ke Si Punk Rock.
Kenapa saya tidak cerita? Karena saya malu, saya takut dia jadi menyesal menikahi istri yang bermasalah, saya takut dianggap lebay ‘yaelah gitu doang dipikirin’. Jadi lebih baik saya pendam aja sendiri.

Sesampainya saya di ruang psikiater itu, saya menghabiskan waktu sejam hanya untuk menangis sambil berusaha bercerita apa yang ada di pikiran saya. Si psikiater mengatakan kalau saya derpresi akut. Si prikiater juga menjelaskan kalau itulah penyebab saya tidak lagi mengerjakan hobi (hobi saya ngeblog, FYI. Jadi sekarang Anda tahu, kalau blog ini jarang update, maka saya sedang berada di episode kesehatan mental yang tidak baik).

Si psikiater mengatakan saya harus ikut terapi untuk beberapa kali pertemuan. Ia kemudian meresepkan saya obat penenang untuk saya minum selama seminggu. Saya keluar dari ruang psikiatri itu dengan perasaan agak lega dan siap untuk pasang tampang ceria ke hadapan dunia lagi. Sampailah saya harus bayar biaya konsul dengan psikiater itu….

HAPAH??????? 750 RIBU HANYA UNTUK NANGIS-NANGIS DOANG??????

Obatnya berapa ya kira-kira? Saya ke apotek rumah sakit, lalu…

HA???? 7 PIL DOANG HARGANYA 300-AN RIBU????? Kok jadi orang depresi itu mahal banget sih???????

Di situ gelombang pemikiran negatif saya mulai menghantam lagi. Saya nggak kuat, pertahanan saya pecah, saya akhirnya mengabari Si Punk Rock dan menceritakan semuanya. Dia terpana karena dia tidak pernah tahu kalau selama ini diam-diam pikiran saya berkecamuk segitunya. Dia kemudian menemani saya ke apotek di Blok M Square yang terkenal menjual obat-obatan dengan harga murah.

Apotek di Blok M Square itu dikelola oleh seorang bapak-bapak chinese yang ngomongnya suka nyablak. Kadang suka lucu kalau melihat tingkah beliau itu. Begitu si bapak itu membaca resep saya, dia dengan gaya nyablaknya langsung mengembalikan resep saya “Waduh, gak jual kita obat beginian!”

Mungkin waktu itu mental saya segitu down-nya, sampai-sampai perlakuan bapak apoteker itu sangat menusuk hati saya. Saya tahu dia tidak berniat buruk, cuma yang saya tangkap waktu itu adalah “Wah obat buat orang gila nih. Gak jual gw obat buat orang gila.” Jadi saya down lagi, tapi saya pendam.

Saya coba ke apotek lainnya di sekitaran Blok M Square, akhirnya ketemu apotek yang menjual obat tersebut tapi data diri saya dicatat. Soalnya itu bukan obat yang bisa dijual sembarangan karena takut disalahgunakan.

Seminggu kemudian, hari-hari saya terasa membaik berkat obat itu. Pikiran saya yang biasanya berisik dengan kritik diri sendiri yang bertubi-tubi, seketika hening. Saya ingat, waktu itu saya bisa duduk seharian di kamar meghadap jendela tanpa memikirkan apa-apa. Buat orang yang pikirannya selalu berkecamuk seperti saya, masa-masa seperti itu sungguh langka. Si Punk Rock di kantor, Kriby di sekolah, cuma ada saya di kamar dengan pemikiran yang kosong menikmati hari berlalu tanpa beban pikiran apapun.

Setelah obatnya habis, harusnya itu adalah jadwal saya menghadap si prikiater lagi. Tapi saya urungkan karena nggak kuat bayar hahahahaha. Saat itu saya tidak punya penghasilan dan saya nggak tega minta Si Punk Rock untuk membiayai pengobatan ‘otak ga beres’ saya. Biarlah uangnya dipakai untuk yang lebih penting dulu, seperti sekolah si Kriby dan biaya-biaya rumah tangga lainnya. Kesehatan mental saya sepertinya masih bisa ditunggu. Tokh, saat itu saya sudah merasa membaik.

Untuk beberapa lama kesehatan mental saya tidak terlalu mengganggu. Perasaan suka merasa tidak bergunanya suka datang dan pergi, tapi masih bisa saya tahan. Perasaan suka pengen nangis mendadak karena merasa nggak bergunanya juga masih bisa saya sembunyikan, baik dari Si Punk Rock sekalipun. Pikiran buruk yang selalu menghujat diri sendiri ini pun masih suka datang dan pergi, tapi masih bisa saya tahan. Saya jago menahanlah pokoknya.

Hodor! Hold the door! (fansnya Game Of Thrones pasti paham)

Lalu datanglah pandemi Covid The Bitch ini. Seperti sebagian besar pekerja lainnya di dunia ini, saya jadi merasakan yang namanya work from home (WFH). Oiya, saat itu saya sudah mendapat pekerjaan baru di sebuah startup. Saya jadi menghadapi rutinitas zoom meeting yang nggak putus. Di situ saya kembali merasakan kelelahan mental. Saya merasa harus menghadap lagi ke psikiater. Tapi nggak berani tatap muka ke rumah sakit takut Covid dan semacam nggak rela juga ngabisin duit 700an ribu buat nangis doang.

Untungnya ketemulah saya dengan psikolog online dari Ibunda.id. Harga konselingnya terjangkau, cuma sekitar 200 ribuan per sesi. Masih masuk akal lah. Itung-itung kayak konsul sama dokter spesialis yang harganya juga segituan.

Pas konseling di Ibunda.id itu saya mengulang nangis yang sama. Tapi kali ini sudah lebih teratur mau ngomong apa dan udah bisa mikir mau nanya apa aja sama si psikolog. Si psikolog bilang kalau saya itu punya emotional distress.

Emotional distressĀ adalah keadaan tidak menyenangkan yang dapat mengakibatkan berbagai kerugian, umumnya ditandai dengan gejala depresi dan/atau kecemasan. Terdapat beberapa variabel anti-stres yang terbukti mampu mengurangiĀ emotional distress, dua di antaranya adalahĀ self-esteemĀ danĀ locus of control.

Jurnal Universitas Tarumanegara oleh Lukas Juliyanto, P. Tommy Y. S. Suyasa

Kalau baca definisi di atas, saya merasa wajar kena emotional distress, karena self-esteem saya rendah (ingat kan kalau saya selalu merasa nggak berharga?) dan locus of control alias kendali saya terhadap situasi yang sedang saya hadapi juga rendah. Pantesaaaaan!

Si psikolog mengatakan kalau permasalahan yang saya hadapi ini bisa ‘sembuh’ kalau saya mau ikut terapi. Tapi sayangnya psikolog itu nggak bisa kasih terapi obat. Hanya psikiater yang bisa kasih saya terapi yang saya butuhkan. (FYI, psikolog dan psikiater itu beda. Psikiater itu bisa dibilang dokter di bidang kejiwaan. Sedangkan psikolog itu non dokter yang mendalami perilaku dan perasaan seseorang.)

Intinya, saya harus balik lagi ke psikiater. Tapi dompetku menjerit. Ditambah saya baru aja kena PHK Covid gelombang tiga dari kantor terakhir. Ya sudahlah, bismillah saya nggak kumat hahahaha

Kalau ditanya bagaimana kondisi saya saat ini, saya bisa jawab dengan lantang: alhamdulillah saya baik-baik saja. Saya memang belum lama ini kehilangan pekerjaan saya, tapi berada di perusahaan yang kondisinya sudah tidak sehat juga buat apa? Pengurangan-pengurangan karyawan yang mereka lakukan di gelombang-gelombang sebelumnya membuat saya jadi dapat load pekerjaan yang sudah jauh dari bidang saya. Tapi saya tetap harus mengerjakan karena SDMnya udah pada nggak ada.

Jadi begitu akhirnya kena giliran saya yang harus di-let go ama perusahaan, saya justru merasakan kelegaan yang luar biasa. Terutama lega banget karena nggak ada lagi zoom meeting yang nggak putus sampai jam 11 malam. Saya jadi bisa merasakan rumah saya memang RUMAH, bukan lagi tempat kerja. Saya jadi bisa masak lagi, padahal selama WFH setahun kemarin buat masak mie instan aja rasanya susah banget nyari waktunya. Oiya, selama WFH setahun kemarin, Kriby jadi tambah kurus, lho. Karena dia makannya nggak variatif karena terpaksa beli makanan terus. Ironis sekali, bukan? Saat ibunya ada di rumah untuk WFH, anak justru tambah kurus karena ibunya nggak punya alokasi waktu buat masak.

Dari segi keuangan yang dulu menjadi salah satu beban pikiran saya, kini alhamdulillah pekerjaan Si Punk Rock masih baik-baik saja. Karena saya lebih rajin masak, alhamdulillah keuangan kami jadi lebih tertata. Masak sendiri itu memang jauh lebih hemat, ya.

Alhamdulillah saya saat ini baik-baik saja. Alhamdulillah….
Kalau pun suatu hari penyakit mental saya kumat, saya merasa aman karena saya bisa menghadap ke Ibunda.id itu kapanpun. Meski tidak menyembuhkan secara total, tapi mengetahui bahwa ada wadah yang bersedia menolong, bagi saya itu sudah lebih dari cukup. Setelah bertahun-tahun saya memendam semuanya sendiri, punya tempat mengadu itu rasanya sangat melegakan.

Blog ini adalah salah satu bukti nyata kalau saat ini saya baik-baik saja. Sudah terlalu lama blog ini saya cuekin. Dulu ngeblog adalah salah satu wadah/hobi saya untuk relaksasi. Lalu saya hilang minat. Saya kira waktu itu saya lagi malas menulis aja, eh ternyata itu depresi hahaha.
Kini saya bertekad untuk kembali aktif untuk ngeblog. Saya akan berusaha untuk mengisi blog ini dengan berbagai review film dan tulisan-tulisan lainnya. Mudah-mudahan blog ini bisa membawa manfaat untuk banyak orang.

Oiya, saya mau mengucapkan terima kasih secara khusus pada Riani Sovana. Riani adalah teman saya, seorang penyanyi yang juga hidup dengan masalah kesehatan mental. Ada satu postingan Instagram Riani yang begitu membuka mata saya. Ini postingannya. Baca captionnya. Agak panjang emang…

Part 1
Part 2
Part 3-end

Postingan ini begitu menguatkan saya untuk berani menuliskan blog ini. Dari Riani saya jadi tahu betul kalau orang-orang yang beneran punya masalah mental tuh justru akan diam-diam aja. Karena kami tuh malu dan kami ingin hidup kami baik-baik aja. Nggak akan tuh koar-koar di social media cari perhatian kalau dia punya masalah mental lalu minta semua masalah yang dia perbuat dimaklumi. Itu mah glorifikasi bocah-bocah jaman sekarang aja biar dianggap ‘beda’ dan kenakalannya dimaklumi.

Ingat Marshanda dengan video-video aneh dulu? Ada nggak di video itu dia bilang ‘gw ini punya mental health. Maklumi gw’. Nggak ada kan? Beda banget sama beberapa influencer hits zaman now yang tiap kenakalannya dihujat, langsung bawa-bawa mental health biar dikasihani, dimaafkan lalu dimaklumi. Please deh, kalau lo beneran ada mental health, lo justru akan mati-matian meyakinkan orang kalau lo baik-baik aja. Bukan malah minta pemakluman.

Buktinya lihat aja tuh postingan Riani, postingannya nggak berbau minta dikasihani, justru ia ingin ngasih tahu ke orang kalau dia udah kuat. Karena bagi penyandang masalah kesehatan mental itu, kami ingin dilihatnya kuat, normal, dan baik-baik aja. Kami justru nggak pengen nambah-nambahin depresi dengan dikasihani.

Terima kasih ya Riani udah bikin postingan itu. Berkat postingan itu, saya jadi berani untuk posting blog ini. Saya harap blog saya yang ini bisa juga jadi menguatkan kalian di luar sana yang mempunyai masalah kesehatan mental tapi malu untuk mencari bantuan. Yuk, ke psikolog atau ke psikiater. Mengutip omongan psikolog dari Ibunda.id…

Di dunia psikologi, kami menyebut kumat itu sebagai ‘episode’. Akan ada masanya kamu selalu kedatangan episode itu. Sekarang tinggal bagaimana caranya kamu menghadapi saat episode itu datang.

Yuk, bisa yuk šŸ™‚

Foto header: Sandy Sims dari Unsplash

Baikan Yuk

Beberapa waktu yang lalu saya dan Si Punk Rock ‘berantem’. Kami tuh tipe pasangan yang berantenya diem-dieman.

Perkaranya apa? Sepele banget. Intinya sih kami lapar hahahaha…

Kami sama-sama belum makan, tapi sama-sama sibuk juga dengan pekerjaan masing-masing. Lalu kami sama-sama saling mengandalkan satu sama lain untuk menyiapkan makanan, entah itu masak ataupun beli di luar. Saya pikir, Si Punk Rock akan pergi beli makanan di luar. Si Punk Rock pikir, saya akan masak. Ya gitu deh, kurang komunikasi, tahu-tahu pecahlah Perang Bubat.

Singkat cerita, kami diem-dieman semalaman. Besok paginya juga masih diem-dieman.
Terus pas agak siang, Si Punk Rock pergi nggak pamit. Bawa motor entah ke mana.

Akhir-akhir ini memang Si Punk Rock kalau lagi sebel atau marah suka pergi mencari kegiatan di luar rumah. Sedih sih sebenarnya ditinggal pergi tanpa dipamitin. Saya kan khawatir kalau dia kenapa-kenapa di jalan. Tapi ya udahlah mau gimana… Makin bertambahnya usia pernikahan, kita harus makin banyak menoleransikan kebiasaan dan sifat pasangan.

Setengah jam kemudian Si Punk Rock balik. Saya lihat dia nenteng kopi Tuku. Oooh dia keluar beli kopi ternyata. Memang persediaan kopi suci dia udah habis sih. Yo wiss lah, yang penting dia udah pulang.

Tahu-tahu dia nyodorin ini lengkap dengan tulisannya….

“Baikan yuk”. Lengkap dengan logo ‘peace’.

Si Punk Rock beliin minuman saya, Es Cokelat Animo! Tentu saja saya langsung luluh. Saya ini perempuan mandiri yang pekerja keras, cerdas, dan tahan banting. Tapi kalau udah disogok makanan, saya manut. Simple. Nggak usah diperdebatkan lagi hal-hal prinsipil seperti ini ya.

Tapi terlepas saya disogok, berantem sama Si Punk Rock itu emang nggak enak tau. Si Punk Rock itu bukan sekadar suami, melainkan dia itu juga sahabat terbaik saya. Saya apa-apa ceritanya ke dia. Kalau nemu hal seru apa, saya pasti pengennya cerita langsung ke Si Punk Rock. Makanya kalau berantem diem-dieman sama Si Punk Rock itu rasanya nggak enak banget. Saya jadi kehilangan tempat bercerita dan mengadu.

Makasih ya Punk Rock buat sogokan dan uluran perdamaiannya. ILY

Review Beauty: Logi Treatment

Sesekali review produk kecantikan (beauty) boleh ya. Ini adalah review khusus untuk yang berambut keriting.

Dan karena malas nulis, saya posting aja video-video reviewnya. Cekidot….

Transkrip:
Oke, jadi buat sobat-sobat keritingku, gw mau promo sebuah product yang bagus banget. Karena product ini bagus, maka gw mau sebarin ke teman-teman yang berambut keriting. Semoga ini membantu.

Transkrip:
Ini dia product-nya. Namanya Logi Treatment Deep Conditioning Hair Oil. Ini bisa buat macam-macam. Ntar gw fotoin ya bisa buat apa aja.
Ini tampak depan botolnya Logi Treatment
Ini tampak belakangnya
Transkrip:
Gw pake Logi ini udah kayak sebulanan gitu. Terus, gw shampo tiap dua hari sekali. Dan tiap abis shampoan, gw pake ini buat jadi… apa sih tuh namanya? Leave on!

Transkrip:
…leave on. Nah tiap abis pake ini tuh, gw ngerasa, SATU rambut gw nggak ngembang. Dan keritingnya lebih awet. Ini tuh tadi gw udah tidur siang, yah maklum…

Transkrip:
…maklum ya pengangguran. Ya gw tidur siang tuh keritingnya nggak rusak. Tetap begitu aja tuh…. Tuh…. Karena ini produknya canggih, jadi aku mau merekomendasikan buat teman-teman keriting. Semoga ini jadi penyelamat rambut singa kita

Transkrip:
Oiya lupa bilang. Jadi tadi itu review jujur ya. Gw nggak di-endorse. Apalah gw di-endorse, ya kan. Tapi gw emang mau menyebarkan si Logi ini karena memang bagus product-nya. Ditambah…

Transkrip:
…dia ini adalah product Indonesia. Jadi ini product Yogya. jadi kita harus saling membantu product Indonesia di masa pandemi dan PPKM ini. Semua orang kesulitan, yuk bantu dengan pakai product Indonesia.

Transkrip:
Terus yang gw juga suka dari si Logi ini, pas gw buka Instagramnya, itu tuh modelnya ini model-model orang Indonesia semua. Jadi nggak ada tuh modelnya yang pakai orang bule.

Transkrip:
Nah gw juga mau sekalian mau bilang makasih ya buat Logi udah menghadirkan product ini. Karena sebagai perempuan Indonesia berambut keriting, di Indonesia tuh susah banget nyari product buat rambut keriting. Yang ada kita selalu…

Transkrip:
….diarahkan untuk rambutnya dilurusin, gitu. Nggak ada tuh…shampo atau apalah perawatan rambut yang masuk di TV ya, yang memang buat rambut keriting.

Transkrip:
….tuh nggak ada. Jadi begitu Logi bikin ini tuh, gw seneng banget sih. Akhirnya ada yang mau memfasilitasi rambut keriting orang Indonesia, gitu.

Transkrip:
Makasih ya Logi. Sukses terus ya. Semoga review ini membantu. Dadaaah

Buat yang bertanya isi minyak Logi itu apa aja, ini ya ingredient-nya:
Avocado oil, Jojoba oil, Castor oil, Grapseed oil, Sweet Almond oil, Virgin Olive oil, Virgin Coconut Oil, Essential oils, Vitamin E oil, Lavender, Rosemary.
Di dalam botonya ini ada bunga lavender dan batangan rosemary beneran, lho. Jadi khasiatnya lavender dan rosemary awet ada di tiap tetes minyaknya.

Kalau mau beli Logi, silakan cek di link-link berikut ya:
Beli via Shopee
Beli via Instagram

Ingat ya, kalau punya rambut keriting tuh dirawat, bukan dilurusin. Keriting itu cantik, lho ^_^

Review: The Terror (2018)

The Terror itu nama sebuah kapal lho, ya. Tapi serial ini emang penuh dengan teror sih…

Serial ini berdasarkan kisah nyata tentang ekspedisi Kapten Franklin atau yang biasa disebut dengan Franklin’s Expedition.

Begini kisahnya…
Pada tahun 1845 Kapten Franklin (Ciaran Hinds) diutus melakukan ekspedisi laut untuk mencari jalur dagang baru lewat samudera Arktik. Jika ekspedisi ini berhasil, nama Kerajaan Inggris akan tersohor karena mencatat sejarah dunia karena telah menemukan jalur potong yang lebih cepat untuk perdagangan antara benua barat ke benua timur.
Maka berangkatlah Kapten Franklin bersama 129 orang petugas dan awak kapal. Ia memboyong dua buah kapal tercanggih pada masa itu, HMS Erebus dan HMS Terror. Seluruh kru kapal adalah orang-orang yang terlatih dan berkepala dingin. Persediaan makan mereka banyak dan aman untuk beberapa tahun ke depan. Terlebih, mereka bisa dikatakan orang-orang pertama yang menggunakan makanan kaleng yang merupakan penemuan mutakhir pada masa itu.
Tapi alam tidak bisa diprediksi. Kapal mereka tertahan di tengah laut yang membeku karena dinginnya iklim Arktik. Ini saatnya mereka harus putar otak mencari pertolongan rescue, sembari bertahan hidup menghadapi teror dari monster yang ingin memangsa mereka. Meskipun sejarah telah mencatat kalau mereka tidak akan pernah kembali lagi…

Yang saya suka dari serial ini:
+ Set dan lokasinya niat! Mereka melakukan riset agar set dan lokasinya menyerupai kapal asli Erebus dan Terror.

Dari green screen begini….
Jadi kayak kapal beneran gitu. Edan lah…

+ Aktingnya Tobias Menzies dan Jared Harris keren parah! Tobias Menzies sih yang saya suka banget. Aktingnya nggak pernah sama di serial manapun. Tapi selalu bagus! Fixed lah saya jatuh cinta sama Akang Tobi—-> panggilan saya untuk Tobias Menzies. Mulai sekarang, nama Tobias Menzies akan selalu masuk di watchlist saya.

Akang Tobi, aku padamu, kang! *kecup-kecup manja*

+ Serial ini tokohnya banyak. Tapi semua proporsinya pas.
+ Saya mendapat banyak pelajaran dari serial ini. Di antaranya adalah, tentang pentingnya anak buah mematuhi perintah atasan di militer, tentang pentingnya berkepala dingin bahkan saat terdesak sekalipun, tentang upaya bertahan hidup, tentang pentingnya percaya sama sains ketimbang hal-hal mistis, banyak lah pelajarannya….
+ Serial ini nggak perlu menggembar-gemborkan heroisme ala Hollywood. Tapi di serial ini kita bisa melihat sendiri bahwa pahlawan sejati itu bekerja dalam diam dan tidak membutuhkan penghargaan.
+ Posternya bagus! Sangat menggambarkan teror yang mencekam.

Yang saya kurang suka dari serial ini:
– Serial ini banyak banget mengambil fakta-fakta dari sejarah. Tapi jadi kecewa begitu perkara monster jadi mengambil peran yang cukup besar di serial ini. Padahal tanpa monster itu pun udah terasa mencekamnya. Karena sesungguhnya yang paling jahat dan kejam itu adalah manusia, bukan makhluk lain.
– Endingnya tuh kayak mau menyenangkan hati penonton. Padahal menurut sejarah endingnya tragis. Harusnya sih endingnya jadi apa adanya aja, menurut saya.

Saya nonton serial ini di Prime Video.
Rate: 4 out of 5

Ini trailernya…


Review: Nocturne (2020)

Film Nocturne menjelaskan dengan gamblang kalau terlalu sama itu justru hanya menimbulkan iri dan dengki.

Alkisah hiduplah saudari kembar Juliet (Sydney Sweeney) dan Vivian (Madison Iseman). Keduanya punya bakat musik piano. Mereka sama-sama sekolah di SMK khusus seni. Namun sayangnya jalan hidup mereka mulai berbeda. Vivian yang periang dan sudah punya pacar diterima kuliah di universitas musik ternama Julliard. Sedangkan Juliet ditolak. Tidak peduli seberapa lama Juliet mengurung dirinya untuk berlatih, ia tidak pernah bisa menyamai keterampilan Vivian dalam bermain piano.

Sampailah pada suatu hari Juliet menemukan buku catatan musik milik murid yang beberapa waktu lalu bunuh diri di sekolah tersebut. Makin Juliet mendalami buku catatan itu, secara perlahan tapi pasti hidupnya mulai berubah menjadi Vivian yang selama ini ia irikan. Ternyata buku itu adalah gerbang untuk melakukan perjanjian dengan setan.

Yang saya suka dengan film ini:
+ Akting dan raut muka Sydney Sweeney memang cocok untuk jadi anak iri dan frustasi.
+ Konflik batin dan siblings rivalry yang ditampilkan di film ini relatable banget.
+ Alur ceritanya bagus. Bagian seremnya sedikit, tapi sekalinya muncul terasa serem banget.
+ Film ini nggak perlu nunjukin sosok menyeramkan untuk bisa membuat kita merinding. Setelah nonton film ini, kayaknya saya akan agak-agak takut lihat cahaya oranye selain dari matahari.
+ Tokoh Dr. Cask yang diperankan Ivan Shaw ganteng euy!
+ Posternya bagus!
+ Berhubung ini film tentang anak sekolah musik, jadi banyak lagu klasik enak buat didengar.

Yang saya suka dari film ini:
– Muka Sydney Sweeney dan Madison Iseman nggak mirip woi buat jadi anak kembar.

Rate: 4 out of 5
Film ini saya tonton di Prime Video.

Ini trailernya…