Review: Nanny (2022)

Film Nanny ini salah satu film template-nya Blumhouse Television.

Film ini mengisahkan tentang Aisha (Anna Diop) seorang imigran asal Senegal yang bekerja sebagai pengasuh keluarga kaya di New York, Amerika Serikat. Anak asuhnya, Rose (Rose Decker), adalah seorang anak manis yang orang tuanya sibuk sekali. Aisha bisa melihat kalau hubungan orang tua Rose tidak baik-baik saja. Namun ia bertahan kerja bersama mereka karena Aisha butuh uangnya. Aisha yang juga seorang ibu sedang berusaha memboyong anak semata wayangnya ke New York. Aisha sudah menabung setahun demi mewujudkan hal ini. Sebuah ironi, Aisha berjuang dan menahan rindu pada anak kandungnya dengan cara bekerja mengasuh anak orang lain.
Lalu tiba-tiba Aisha mendapat mimpi buruk dan pengelihatan yang menakutkan. Apakah ini hanya mimpi atau pertanda?

Yang saya suka dari film ini:
+ Gambarnya bagus. Set dan lokasinya juga oke.
+ Kayaknya ini baru pertama kali saya nonton aktingnya Anna Diop. Lumayan mengesankan.
+ Tapi jujur saya lebih suka aktingnya Michelle Monaghan sebagai majikannya Aisha. Munculnya sebentar-sebentar, tapi beragam emosi dia munculkan.
+ Endingnya agak sedih. Ironinya lumayan bikin nyesek.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Film ini agak membosankan. Ditunggu-tungguin mana hantunya, mana tegangnya, eh ternyata gitu doang. Saya tonton film ini karena ada film ini menang Sundance Film Festival 2022 Grand Jury Prize. Yah… Emang standar film festival sih.
– Baju Aisha pas pertama kali ketemu oma pacarnya kok begitu ya? Nggak sopan woi, astagfirullaaaaah…. Mau dikira apa kamu sama keluarga pacar kalau bajunya begitu wei!
– Sepertinya film ini ingin mengedepankan budaya dan mitologi kepercayaan/hantu orang Afrika, terutama Senegal. Tapi kurang dapet. Nggak terasa kaya akan budaya. Malah hanya terasa selintas aja.
– Saya tanpa sadar ternyata penonton setia film-film produksi Blumhouse Television. Ini bukan sesuatu yang mengherankan karena saya sangat suka genre thriller-misteri-horor yang menjadi kekuatan Blumhouse Television. Tapi lama-lama film garapan Blumhouse Television jadi terasa template: pengambilan gambar agak hening minim scoring, gambar agak dark-gloomy, monster/hantunya kurang jelas falsafah dan filosofi tujuan menakut-nakutinya apa, dan si tokoh utama yang lebih lama kebingungannya ketimbang memahami maksud si hantu/monster. Gituuu aja terus. Setidaknya beberapa film Blumhouse Television yang sudah saya tonton mulai terbaca seperti itu.

Rate: 3 out of 5
Film ini saya tonton di Prime Video.

Ini trailernya…

Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: