Doa Untuk Beli Mobil

Waktu itu saya berdoa, “Ya Allah, pengen deh punya mobil… Mampukanlah aku dan Si Punk Rock untuk bisa beli mobil, ya Allah…”

Doa itu seringnya saya panjatkan saat sedang di motor bermacet-macetan bersama Si Punk Rock dan Kriby. Saya kasihan melihat Kriby terpapar asap knalpot dari kendaraan lain.
Doa itu saya panjatkan juga setiap Si Punk Rock meminggirkan motornya jika Kriby terjatuh tidur. Saya dan Si Punk Rock harus mengatur ulang posisi duduk kami agar Kriby tidurnya nyaman di atas motor. Tak jarang tangan saya pegal karena harus menahan Kriby dari guncangan di atas motor. Tapi nggak apa-apa, yang penting Kriby nyaman.
Doa yang sama terus saya panjatkan lebih kencang ketika turun hujan saat motoran bonceng tiga. Aduh… Kasihan Kriby…

Sepertinya naik mobil itu enak banget. Nggak akan kepanasan karena ada AC, nggak akan kehujanan karena terlindungi dengan atap dan body mobil yang tertutup. Kalau Kriby mengantuk di jalan pun, dia bisa dengan mudahnya tidur di jok mobil dengan nyaman.

Ya Allah… Mampukanlah aku dan Si Punk Rock untuk bisa beli mobil, ya Allah…

Perkara beli mobil ini tidak ada hubunganya sama sekali dengan gengsi. Saya ingat dulu Si Punk Rock pernah mengajak saya ke acara kumpul-kumpul dengan teman-teman satu SMPnya. Di perjalanan kami menuju saya naik motor, Si Punk Rock berkata, “Kayaknya nanti semua teman aku udah naik mobil, deh. Cuma kita doang yang naik motor”.

“Terus kenapa?” tanya saya.

Si Punk Rock diam saja tidak menjawab lagi.
Dan prediksi Si Punk Rock benar. Semua temannya membawa mobil, cuma kami doang yang hadir dengan naik motor. Saat itu saya merasa biasa dan sangat tidak terganggu. Karena saya tahu kami memang belum mampu beli mobil jadi buat apa memaksakan diri dengan terjerat kredit mobil.

Namun dari percakapan sebelumnya saya jadi tahu kalau Si Punk Rock yang merasa agak terganggu. Saya berusaha tidak pernah membahas lagi perkara mobil ini, biar Si Punk Rock tidak merasa nggak enakan semakin jauh. Perempuan memang punya perasaan yang halus, namun lelaki punya ego yang tidak kalah sensitif untuk terus dijaga.

Tahun berganti tahun, kini Kriby sudah besar. Sudah 7 tahun. Motor kami pun sudah di-upgrade jadi Honda PCX yang joknya lebih lebar ketimbang Honda Beat kami dulu.

Kira-kira beginilah motor Honda PCX yang kami tunggangi sekarang. Udah lengkap dengan jok boncengan buat Kriby duduk di depan. Belinya di sini
Photo by Mehmet Talha Onuk on Unsplash

Tapi sepertinya motor ini masih tidak terasa cukup karena hal-hal yang sudah saya sebut di atas.Lalu pada suatu hari, Allah SWT sepertinya mendengar doa saya. Dia memberikan kami mobil ‘trial’.
Jadi saya dan Si Punk Rock beserta Kriby memutuskan untuk pindah kontrakan. Pindahnya nggak jauh. Masih terbilang dekat jika ditempuh naik kendaraan bermotor.

Empat tahun bersarang di kontrakan lama, membuat kami jadi punya banyak barang yang harus diangkut. Kebetulan mobil keluarga yang biasa dipakai oleh adik saya, Pigong, sedang nganggur. Kami pinjamlah mobil itu untuk bantu pindahan. Saya dan Pigong bertukar kendaraan. Pigong bawa motor PCX kami, lalu mobil keluarga saya, Si Punk Rock yang bawa.

Niatan pinjam mobil hanya sekitar 4 hari, jadi diperpanjang sampai hampir dua minggu. Ternyata Pigong harus tugas ke luar kota cukup lama, sehingga mobil lebih aman kalau ada di tangan kami.

Selama hampir dua minggu membawa mobil itu, mata saya dan Si Punk Rock terbuka lebar, bahwasanya: Ya Allah…Cancel aja deh, kami nggak jadi pengen punya mobil….

Ternyata punya mobil di Jakarta itu ribet banget, gaes!

Pada awalnya, kami memang senang bisa membawa mobil ini. Tiap selesai nyicil bawa barang pindahan, kami coba makan eksplor tempat makan yang jarak lumayan jauh. Kalau naik motor ke lokasi itu, pasti melelahkan.
Kami nggak perlu khawatir Kriby kelelahan di jalan karena ia bisa tidur di jok dengan nyaman.
Tentunya kami juga nggak perlu khawatir dengan cuaca, karena mau hujan deras ataupun panas terik kami akan merasa nyaman di dalam mobil.
Saya juga merasakan kalau saya dan Si Punk Rock jadi bisa lebih menikmati obrolan di perjalanan dalam mobil. Karena nggak perlu mengeluarkan suara keras seperti saat berbincang di motor.

Naik mobil itu enak, ya!

Tapi itu awal-awalnya doang…

Sampailah di hari kesekian kami mulai merasakan dampak awal naik mobil, yaitu pengeluaran jadi jauh lebih besar. Pengeluaran pertama tentunya adalah bensin. Kami yang terbiasa menghabiskan cuma sekitar 70 ribuan untuk isi full tank Pertamax di motor Honda PCX, sekarang kami harus mengeluarkan 200 ribu hanya untuk mengisi setengah tank mobil.

Yang kedua adalah parkir susah banget, cuy! Kontrakan kami yang dulu berada di pinggir jalan yang cukup ramai. Kontrakan lama kami tidak ada garasi, jadi kami harus memarkirkan mobilnya di depan rumah tetangga.
Kenapa bukan di depan rumah kontrakan kami sendiri? Tetangga di bawah kami buka usaha laundri laknat yang berantakan dan tidak bersih. Kalau kami parkir mobil di gerbang kontrakan, dia akan mencak-mencak karena menutupi usaha laundrinya. Hal ini juga yang membuat kami akhirnya memutuskan untuk hengkang dari kontrakan tersebut. Terlebih yang punya usaha laundri adalah seorang anak manja yang suka merongrong uang orang tua tapi songong banget sama tetangga. Padahal umurnya udah tua, tapi masih aja nggak bisa mandiri, huh! Eh kenapa malah jadi curhatin manusia tidak berguna itu ya? Emosik sayah. Maafkan ya pembaca yang budiman.

Kembali ke masalah parkir. Jadi di kontrakan lama, kami harus parkir di depan pagar warga. Pernah juga waktu itu diusir sama tetangga di sana karena dia nggak suka wilayahnya jadi tempat parkir.
Di kontrakan yang baru, rumah kami ada di dalam gang yang nggak muat masuk mobil. Mobil hanya bisa diparkir di depan gang. Jadi kami hanya bisa turunin barang di depan gang, lalu gotong barang-barang kami masuk ke dalam gang. Sempat kami tanya ke Bu RT di wilayah baru, apakah ada lahan parkir dekat sini yang bisa kami sewa? Jawaban beliau: Udah penuh semua di sini.
Haduh! *tepok jidat mulus karena rajin skin care-an*
Jadinya setiap malam kami inapkan mobil itu di Rumah Sakit Prikasih. Karena cuma di situ doang kami bisa parkir mobil dan diinapkan. Biaya parkirnya juga terbilang murah. Hanya Rp 35,000-an untuk menginap, dengan catatan kami menaruh mobil di sana pada jam 22:00 di hari sebelumnya. Kalau ditaruh sebelum jam segitu, bisa lebih mahal lagi argo parkirnya.

Keribetan nomor tiga kalau bawa mobil adalah susah mampir. Saya dan Si Punk Rock yang selama ini terbiasa naik motor, merasa tersiksa sekali karena satu hal ini. Contoh, waktu itu kami mau taruh laundri di dekat kontrakan baru, tapi untuk bisa minggirin mobil dan mampir sebentar ke laundri aja susah betul. Jalanannya memang tidak besar meski muat untuk dua jalur mobil. Sehingga untuk meminggirkan mobil sebentar saja, kami diklaksonin banyak orang. Sabar…. Sabar….

Itu baru perkara minggir sebentar. Belum lagi perkara mampir beli makan. Ya gimana yak, namanya juga pindahan. Semua segala panci ampe sendok dan piring masih dalam kardus. Mana bisa masak yekan? Untuk perkara beli makan ini, hadoooh…. Itu susah banget nyari lokasi parkirnya. Sering kali saya dan Si Punk Rock harus mengeluarkan uang lebih karena harus beli makanan di tempat yang lebih mahal hanya semata-mata di lokasi itu ada tempat parkirnya. Selamat tinggal nasi padang, pecel ayam, dan ketoprak kesukaan kami. Kami nggak bisa mampir ke tempat-tempat itu karena nggak ada tempat parkirnya. Padahal kalau dulu pas naik motor, parkir itu nggak pernah masuk dalam pertimbangan kami untuk dijadikan masalah. Permasalahan kami dulu hanya perkara menu apa yang akan kami beli.

Tiga faktor di atas cukup membuat kami stres. Bukan hanya perkara pengeluaran yang membengkak, tapi juga kami tidak mendapat kemudahan yang biasa kami punya saat naik motor. Dengan naik mobil, kami memang punya kenyamanan lebih, tapi tidak untuk kemudahan. Naik motor di Jakarta itu lebih sat set sat set.

Setelah lewat empat hari kami menggunakan mobil itu, kami jadi menunggu-nunggu kepulangan Pigong dari luar kota. Rasanya nggak tahan pengen segera mengembalikan mobil itu dan menaiki motor Honda PCX kami kembali.

Biarin deh untuk saat ini kami naik motor dulu. Memang rezekinya masih untuk naik motor. Kalau hari hujan dan khawatir dengan kenyamanan Kriby, ya kami masih bisa naik taksi. Atau naik Transjakarta dan angkutan umum lainnya juga nggak apa-apa.

Oleh karena itu, sekarang saya mengganti doa saya jadi begini:

Ya Allah… Mampukan lah kami untuk memiliki apapun itu secara tepat, di saat yang tepat, dan untuk alasan yang tepat. Sehingga segala rezeki yang Engkau berikan menjadi berkah dan bermanfaat. Amin

Like dan katakan amin!

Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: