Review

Review: Generation Wealth (2018)

Ternyata keinginan kita untuk jadi horangkayah itu dibentuk, sodara-sodari….

Film dokumenter ini fokus menceritakan tentang generasi 1980an sampai sekarang yang terfokus pada kekayaan dan ketenaran. Bagaimana uang bisa merusak kehidupan seorang anak. Bagaimana uang bisa merusak moral. Bagaimana memiliki banyak uang membuat kita tidak pernah merasa cukup.
Ini semua hal-hal yang udah diketahui oleh banyak orang. Tapi tetap aja pengetahuan itu nggak membuat orang terdasar bahwa fokus pada uang itu salah.
Siapa sangka fokus generasi kita pada uang dan ketenaran itu adalah bentukan. Semua berawal dari tahun 1971, saat pemerintah Amerika Serikat menghentikan emas sebagai standar aset atau sebagai mata uang perdagangan. Hal ini dilakukan untuk menghentikan resesi keuangan Amerika Serikat pada masa itu. Namun ini jugalah awal dari konsumerisme.
Banyak orang jadi bisa meminjam uang untuk mempertahankan gaya hidup yang sebenarnya mereka nggak mampu untuk bisa sampai ke standar hidup seperti itu. Pembentukan itu datang dari televisi dan media, jauh sebelum social media itu ada. Pembentukan itu juga sampai ke universitas ternama seperti Harvard. Ketika salah satu alumninya ditanya, “Apakah Harvard mengajarkan Anda untuk menjadi orang yang baik?”. Sang alumni tertawa dan menjawab, “Tidak, kami disetel dengan baik untuk mennguasai dunia”.

Yang saya suka dari film ini:
+ Ini adalah film yang cukup menyadarkan saya bahwa semua keinginan untuk menjadi horangkayah itu bukan sekadar tuntutan hidup. Tapi DIBENTUK! Okeh, kagak mau lagi saya percaya sama iklan, social media, dan segala doktrin ‘kesempurnaan’ yang mereka hembuskan. Hush…hush….sanaaah~~ *mengusir manjah alah Syahrini*
+ Narasumber di dokumenter ini beragam. Mulai dari anak ‘korban kekayaan’ orang tua, orang korban konsumerisme dan standar kesempurnaan, horangkayah tajir mampus gila-gilaan yang sekarang jatuh ‘missqueen’, para ahli sosial dan praktisi, sampai orang-orang yang terpaksa harus mengiikuti standar hidup horangkayah biar diterima oleh sekitarnya. Narasumbernya juga datang dari berbagai negara. Ini memvalidasi kalau kehausan kita akan uang itu semuanya terbentuk dari kebijakan pemerintah masing-masing negara.
+ Dari film ini saya jadi bisa melihat kalau uang itu nggak bisa beli taste. Segala lu punya limosin yang ada kolam renang dan helikopter pad-nya itu buat apa sik? Norak.
+ Suka sama music score-nya. Bikin betah nonton.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Film ini mengangkat tema yang sangat menarik. Tapi sang penulis dan sutradara Lauren Greenfield lumayan banyak menyisipkan tentang keluarganya yang menurut saya kurang nyambung dengan maksud awal film dokumenter ini.

Rate: 3,5 out of 5
Saya nonton film ini di Prime Video.

Ini trailernya….

Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s