Review

Review: Jane Goodall: The Hope (2020)

Category: Movies
Genre: Documenter
Rate: 3,5 out 5

(Foto: National Geographic)

Jujur, sebelum saya nonton film dokumenter ini, saya nggak tahu Jane Goodall itu siapa hahaha…
Tapi begitu saya diminta untuk review film ini, saya jadi bersyukur banget jadi tahu tentang Jane Goodall. Dan saya rasa Anda juga harus tahu tentang beliau.

Film dokumenter ini mengisahkan tentang Jane Goodall yang sudah tua. Kini umurnya 85 tahun. Namun ia masih aktif jadi pembicara dan mengurus yayasannya The Jane Goodall Institute. Usia lanjut nggak menghalangi ia untuk keiling dunia demi menyebarkan pengetahuannya. Dalam setahun ia menghabiskan sekitar 300 hari untuk berpergian ke berbagai belahan dunia. Hal ini sudah ia lakukan sejak tahun 1986.

Semua berawal dari kecintaan Jane dengan hewan simpanse. Pada tahun 80-an, Jane yang seorang antropolog pergi ke Tanzania untuk meneliti simpanse. Sepulangnya dari sana ia malah berubah menjadi aktivis pembela hewan terutama simpanse.

Ini jane Goodall waktu masih muda. Cantik, ya!
(Foto: National Geographic)

Di film ini banyak mengungkap apa saja yang Jane telah lakukan di masa lalu. Salah satunya tentang kontraversi Jane saat berkerja sama dengan perusahaan minyak Kongo untuk membangun penangkaran simpanse. Keputusan Jane itu membuat banyak aktivis lingkungan lainnya marah. Bagaimana mungkin seorang aktivis seperti Jane malah bergandeng tangan dengan perusahaan yang banyak mengeksploitasi alam?

Mengingat hal itu, Jane di masa tuanya hanya berkata, .

If you want to change their mind is no good arguing, but you got to reach the heart”

Jane Goodall

Hal yang sama ia lakukan saat mengunjungi laboratorium yang menggunakan simpanse sebagai alat percobaan. Diperlihatkan Jane hanya datang ke sana untuk ‘ngobrol’ dengan para simpanse. Jane sadar bahwa ‘menyerang’ lab itu hanya akan sia-sia. Maka yang Jane lakukan adalah kemudian memutar sebuah video untuk para pekerja laboratorium tersebut. Isinya tentang aktivitas para simpanse di Gombe, Tanzania. Di situ mereka bisa melihat bagaimana simpanse itu punya kehidupan yang menyenangkan di alam liar dan cara berinteraksinya nggak jauh berbeda dengan manusia biasa.
Itu adalah salah satu usaha Jane untuk mengubah persepsi orang. Akhirnya pada tahun 2013 laboratorium itu berhasil ditutup.

Film dokumenter ini memang banyak menjabarkan prestasi Jane. Demi kecintaannya pada simpanse, ia memberi kehidupan dan edukasi pada warga Tanzania agar lebih memelihara lamanya. Karena mereka berbagi ekosistem yang sama. Jane sadar bahwa percuma meminta manusia untuk tidak kasar pada alamnya jika kebutuhan si manusia itu sendiri tidak terpenuhi.

Dr. Jane Goodall poses for photograph with group of local villagers in Bitale, Tanzania. National Geographic’s JANE GOODALL: THE HOPE picks up where JANE (2017) left off, following Jane Goodall through three generations of advocacy work as she meets with everyone from schoolchildren in Zanzibar to Prince Harry and spreads a message of hope in a time of immense environmental change. (National Geographic/Joe Redl)

Jane di antara warga Tanzania binaannya.

Yang saya suka dari film ini:
+ Film ini menjelaskan sangat baik kontribusi seorang Jane Goodall untuk dunia. Ia telah menyentuh hati banyak orang. Bahkan sampai James Baker Menteri Luar Negeri Amerika Serikat pada masa jabatannya di 1989-1992 menitahkan seluruh kedutaan Amerika Serikat di negara yang didatangi Jane harus menyambut Jane dengan baik. Jane dijemput di bandara, di antar ke sana-kemari. Padahal Jane itu berwarga negara Inggris 😀
+ Film ini lebih banyak menceritakan prestasi Jane terhadap dunia ketimbang kehidupan pribadinya. Jadi buat kalian yang menonton film ini untuk nyari drama atau tragedi, silakan cari di film yang lain aja. Satu-satunya kehidupan pribadi Jane yang diceritakan di sini adalah tentang keakraban dengan para cucunya di Tanzania.
+ Saya menangkap pesan yang kuat tentang women empowerment di film ini. Ini bukan hanya tentang Jane yang dulu pernah hidup dengan simpanse sendirian di hutan, melainkan tentang perjalanan hidupnya menginspirasi banyak perempuan untuk tidak takut terhadap persepsi dunia dan alam liar.
+ Jane ini orangnya gigih banget, yes. Tapi caranya halus nggak pakai urat. Salut!
+ Ada banyak quote Jane yang menginspirasi banget.

Yang saya kurang suka dari film ini:
– Meskipun ini adalah dokumenter yang sangat edukatif dan pesannya bagus banget, menurut saya alurnya lambat. Juga nggak ada element of surprise di tengah-tengah film yang membuat kita tersentak untuk terus menyimak.
– Di film ini ada Pangeran Harry (yang sekarang udah bukan pangeran lagi). Ia turut jadi pembicara untuk yayasan Jane yang satunya lagi, yaitu Roots & Shoot. Yayasan yang ini khusus untuk mengajak anak-anak lebih menghargai lingkungan.
Nah dari situ saya baru tahu kalau suara ngomong Pangeran Harry ternyata seperti itu,ya (ke mana aja lo, Krili?) Dan sejujurnya kehadiran Pangeran Harry di film ini nggak signifikan, sih. Dibanding dengan segala prestasi Jane, Pangeran Harry malah terlihat hadir sebagai formalitas doang.

Film ini akan tayang di chanel National Geographic pada Hari Bumi Internasional 22 April 2020 jam 20:00 WIB.

Ini trailernya…


Comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s